• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ambiguitas Peran

Dalam dokumen Ana F Skripsi full (Halaman 57-68)

4.7. Kerjasama

5.1.1 Ambiguitas Peran

Berikut adalah hasil pengolahan data 21 responden melalui kuesioner mengenai ambiguitas peran yang dialami oleh pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro.

5.1.1.1 Ketidakjelasan Mengenai Sasaran Kerja Tabel 10: Ketidakjelasan sasaran kerja

No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 Sangat tidak setuju 5 23.8

2 Tidak setuju 13 61.9

3 Ragu-ragu 1 4.8

4 Setuju 1 4.8

5 Sangat setuju 1 4.8

Total 21 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 21 responden, sebanyak 13 orang ( 61.9%) menyatakan bahwa tidak setuju dengan penyataan adanya ketidakjelasan sasaran kerja. Hal ini disebabkan karena pada tiap-tiap bagian atau unit kerja di UPT Perpustakaan mempunyai sasaran kerja yang jelas. Dimulai dari bagian pengadaan sasaran kerjanya adalah tersedianya bahan pustaka untuk dijadikan sebagai koleksi UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro, sasaran kerja bagian pengolahan yaitu buku dengan subyek sama akan terkumpul menjadi satu sehingga memudahkan temu balik informasi, bagian sirkulasi sasaran kerjanya adalah peminjaman dan pengembalian bahan pustaka dan sebagainya.

Pernyataan ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan seorang pustakawan madya dan pustakawan muda pada tanggal 6 Mei 2013 menyatakan bahwa “pustakawan bekerja berdasarkan jenjang jabatan yang sudah diatur dalam KEPMENPAN No. 132/2002, disamping itu perpustakaan juga mempunyai organisasi yang membagi tugas seorang pustakawan berdasarkan tupoksinya sehingga sasaran dan tujuannya sudah terprogram, tinggal teknis penyelesaian tugas sehari-hari, kita sendiri yang menentukan”

5.1.1.2Ketidakjelasan Mengenai Tanggungjawab dan Wewenang dalam Pelaksanaan Pekerjaan

Tabel 11: Ketidakjelasan mengenai apa saja yang menjadi tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan

No Kategori Frekuensi Persentase(%) 1 Sangat tidak setuju 5 23.8

2 Tidak setuju 12 57.1

3 Ragu-ragu 1 4.8

4 Setuju 2 9.5

5 Sangat setuju 1 4.8

Total 21 100

Sumber: kuesioner nomor 2

Dari tabel 11 di atas nampak bahwa 12 dari 21 responden (57.1 %) menjawab tidak setuju, ini berarti bahwa sebagian besar pustakawan merasa mengetahui apa saja yang menjadi tanggungjawabnya dalam melaksanakan pekerjaan. Berdasarkan tabel 8 seluruh pustakawan UPT Perpustakaan telah bekerja lebih dari 10 tahun, ini merupakan salah satu faktor pustakawan telah mengetahui apa saja yang menjadi tanggungjawabnya dalam bekerja pada masing-masing bidang.

Jawaban ini sesuai dengan hasil wawancara dengan seorang pustakawan muda pada tanggal 6 Mei 2013 “ Sebagai pustakawan, kita mesti memahami tanggung jawab pekerjaan, sebab dengan begitu arah kegiatan dalam tiap-tiap tahap pekerjaan dapat kita kuasai dengan baik”

Tabel 12: Ketidakjelasan mengenai wewenang yang dimiliki dalam melaksanakan pekerjaan

No Kategori Frekuensi Persentase(%)

1 Sangat tidak setuju 2 9.5

2 Tidak setuju 9 42.9

3 Ragu-ragu 5 23.8

4 Setuju 5 23.8

5 Sangat setuju 0 0

Total 21 100

Sumber kuesioner nomor 3

Pada tabel 12 terlihat bahwa 9 orang ( 42.9%) dari 21 responden menyatakan tidak setuju dengan pernyataan bahwa terdapat kesamaran mengenai wewenang yang mereka miliki dalam melaksanakan pekerjaan, 2 orang (9.5%) menjawab sangat tidak setuju, 5 orang (23.8%) menyatakan ragu-ragu dan 5 orang

(23.8%) menjawab setuju. Hal ini dapat diartikan bahwa Pustakawan UPT Perpustakaan mengetahui wewenang yang dimilikinya dalam melaksanakan

tugas mereka.

Jawaban ini sesuai dengan hasil wawancara dengan seorang pustakawan muda pada tanggal 6 Mei 2013 “Sasaran, tujuan, tanggung jawab sangat erat hubungannya dengan kewenangan, sebatas kewenangan itu berkaitan dengan tanggung jawab yang diberikan kepada kita, maka harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan”.

Sedangkan seorang pustakawan madya berpendapat bahwa “Setiap pegawai (pustakawan) seharusnya sudah mempunyai job description

sesuai dimana di tempatkan, apakah di bagian pengadaan, pengolahan dan seterusnya, sehingga kewenangan yang dimiliki oleh seorang pustakawan adalah

melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksi yang menjadi jenjang jabatannya”. Jadi pustakawan seharusnya sudah memahami dan mengetahui apa saja yang menjadi tanggung jawab yang diberikan kepadanya sehingga dapat mengetahui apa saja yang menjadi kewenangannya dalam melaksanakan tugas.

5.1.1.3Ketidakjelasan Prosedur Pekerjaan

Tabel 13: Tidak ada job description yang jelas

No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 Sangat tidak setuju 2 9.5

2 Tidak setuju 14 66.7

3 Ragu-ragu 2 9.5

4 Setuju 1 4.8

5 Sangat setuju 2 9.5

Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 4

Dari tabel 13 dapat dilihat sebanyak 14 orang (66.7%) dari 21 responden tidak setuju jika dalam bekerja, tidak ada job description yang jelas. Hal ini disebabkan karena pada masing-masing bidang telah ada deskripsi kerja yang jelas dan untuk masing-masing pustakawan telah diberikan rincian tentang apa yang menjadi tugas mereka. Biasanya pada waktu pihak manajemen mengadakan rotasi atau menempatkan seorang pustakawan pada bagian tertentu maka dalam surat tugas tersebut sudah disertai dengan apa saja yang menjadi tugas pustakawan tersebut. Hal ini senada dengan pendapat seorang pustakawan muda pada waktu wawancara yang dilakukan pada tanggal 6 Mei 2013, yang menyatakan bahwa “Pustakawan yang melaksanakan tugas di perpustakaan, sudah memiliki

Tabel 14: Tidak ada prosedur kerja (SOP) sebagai pedoman kerja

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat tidak setuju 2 9.5

2 Tidak setuju 11 52.4

3 Ragu-ragu 3 14.3

4 Setuju 4 19.0

5 Sangat setuju 1 4.8

Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 5

Nampak pada tabel 14 bahwa 11 orang (52.4%) dari 21 responden menyatakan tidak setuju jika dalam menjalankan tugas rutin, tidak ada prosedur kerja (SOP) sebagai pedoman kerja. 4 orang (19.0%) menyatakan setuju dan 3 orang (14.3%) ragu-ragu. Ini berarti masih ada pustakawan yang merasa tidak mengetahui prosedur kerja yang dapat dijadikan sebagai pedoman kerja. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara terhadap pustakawan muda dan pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013, mereka mengatakan bahwa “ Sebenarnya prosedur kerja sudah ada hanya saja kurang sosialisasi atau tidak disosialisasikan kepada seluruh pustakawan sehingga mereka tidak memahaminya”

Tabel 15: Merasa kesulitan dalam pengambilan keputusan untuk penyelesaian pekerjaan

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat tidak setuju 1 4.8

2 Tidak setuju 15 71.4

3 Ragu-ragu 1 4.8

4 Setuju 3 14.3

5 Sangat setuju 1 4.8

Total 21 100

Sumber: kuesioner nomor 6

Berdasarkan tabel 15 di atas nampak bahwa 15 orang dari 21 responden (71.4%) menyatakan tidak setuju dengan pernyataan bahwa mereka kesulitan dalam pengambilan keputusan untuk menyelesaikan pekerjaan. Hasil kuesioner ini didukung dengan wawancara terhadap seorang pustakawan muda yang menyatakan bahwa “ Apabila ada kesulitan, saya selalu sharing/berdiskusi dengan sesama pustakawan sehingga memperoleh penyelesaian” , sedangkan seorang pustakawan madya berpendapat bahwa “ Tidak ada kesulitan apabila dilaksanakan sesuai prosedur”

Tabel 16: Kehilangan arah dalam bekerja

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat tidak setuju 3 14.3

2 Tidak setuju 14 66.7

3 Ragu-ragu 2 9.5

4 Setuju 2 9.5

5 Sangat setuju 0 0

Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 7

Pada tabel 16 di atas dapat dilihat bahwa 14 orang (66.7%) dari 21 responden memberikan respon tidak setuju pada pernyataan bahwa dalam bekerja pustakawan merasa kehilangan arah. Berdasarkan wawancara dengan pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013 menyatakan bahwa ” Asalkan kita berfikir positif, lillahita’allah insyaAllah kita bisa menjalani tugas dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik”

5.1.1.4Ketidakjelasan Tentang Apa yang Diharapkan Orang Lain (Pimpinan dan Rekan Kerja)

Tabel 17: Ketidakjelasan tentang apa yang diharapkan orang lain (pimpinan dan rekan kerja)

No Kategori Frekuensi Persentase

(%)

1 Sangat tidak setuju 3 14.3

2 Tidak setuju 12 57.1

3 Ragu-ragu 3 14.3

4 Setuju 1 4.8

5 Sangat setuju 2 9.5

Total 21 100

Sumber: kuesioner nomor 8

Berdasarkan tabel 17 di atas, 12 orang (57.1%) dari 21 responden memberikan jawaban tidak setuju mengenai kesamaran tentang apa yang diharapkan orang lain (pimpinan dan rekan kerja) terhadap dirinya. Merujuk pendapat seorang pustakawan yang diperoleh dari wawancara pada tanggal 6 Mei 2013 mengatakan bahwa “ Setiap pimpinan selalu berharap kita dapat

menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada kita dengan baik, demikian juga rekan kerja kita tentunya menginginkan kita bisa bekerja sama dalam team work

5.1.1.5Ketidakpastian Atau Kurang Adanya Balikan Dari Unjuk Kerja

Tabel 18: Tidak ada penghargaan atas keberhasilan kerja yang telah dicapai No Kategori Frekuensi Persentase

(%)

1 Sangat tidak setuju 1 4.8

2 Tidak setuju 10 47.6

3 Ragu-ragu 4 19.0

4 Setuju 5 23.8

5 Sangat setuju 1 4.8

Total 21 100

Sumber: kuesioner nomor 9

Pada tabel 18 di atas dapat dilihat bahwa 10 orang (47.6%) dari 21 responden menyatakan bahwa tidak setuju dengan pernyataan bahwa hasil kerja mereka tidak dihargai dan 5 orang (23.8%) menyatakan setuju. Hal ini dikarenakan dalam juknis penetapan angka kredit jabatan pustakawan, setiap butir kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan akan memperoleh peghargaan berupa nilai (angka kredit), meskipun setiap kegiatan telah ada nilainya tapi pada kenyataannya tidak semua kegiatan yang telah dilakukan oleh pustakawan sesuai dengan jabatan fungsionalnya. Sehingga seakan-akan pustakawan merasa tidak ada penghargaan terhadap hasil kerja mereka. Selain itu, penghargaan tidak hanya berupa materi saja tetapi bisa berupa penghargaan moral.

Hasil wawancara dengan seorang pustakawan muda dan pustakawan madya menyatakan hal senada bahwa “ Reward memang penting tapi bagi saya menyelesaikan tugas dengan baik jauh lebih penting karena bila kita bekerja dengan baik, orang juga akan menilai kita dengan baik, penghargaan moral lebih penting daripada penghargaan materi”. Sikap seperti inilah yang membuat pustakawan tidak terlalu memikirkan balikan mengenai unjuk kerja yang telah dilakukan.

Tabel 19: Tugas rutin yang dilakukan pustakawan tidak bisa dipakai untuk kenaikan pangkat dan jabatannya

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat tidak setuju 2 9.5

2 Tidak setuju 11 52.4

3 Ragu-ragu 4 19.0

4 Setuju 3 14.3

5 Sangat setuju 1 4.8

Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 10

Dari tabel 19 nampak bahwa 11 orang (52.4%) dari 21 responden merasa tidak setuju jika tugas rutin yang dilakukan pustakawan tidak bisa dipakai untuk kenaikan pangkat dan jabatannya. Sebagian besar pustakawan UPT Perpustakaan (76%) adalah pustakawan tingkat ahli, sedangkan sebagian besar tugas rutin yang dilakukan setiap hari merupakan tugas pustakawan tingkat trampil, maka dalam rangka memenuhi angka kredit untuk kenaikan pangkatnya pustakawan melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan jabatan fungsionalnya. Misalnya pustakawan tingkat ahli yang ditugaskan di bagian sirkulasi tentunya sangat sulit

untuk mengumpulkan angka kredit dari kegiatan peminjaman dan pengembalian saja, pustakawan bagian ini akan melakukan kajian atau penelitian yang berhubungan dengan kegiatan sirkulasi sehingga akan terpenuhi angka kredit yang dibutuhkan untuk kenaikan pangkat dan jabatannya. Begitu juga dengan bagian yang lain.

Hal ini senada dengan hasil wawancara dengan seorang pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013 “ Kadang memang dilema, seorang pustakawan adalah pekerja mandiri untuk itu pustakawan harus mempunyai motivasi yang tinggi untuk menggali angkat kredit agar bisa memenuhi angka kredit minimal yang dipersyaratkan “

Tabel 20: Tidak tahu bagaimana pimpinan mengevaluasi atau menilai kerja pustakawan

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat tidak setuju 0 0

2 Tidak setuju 6 28.6

3 Ragu-ragu 4 19.0

4 Setuju 10 47.6

5 Sangat setuju 1 4.8

Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 11

Pada tabel 20 diatas nampak bahwa 10 orang (47%) dari 21 responden menyatakan setuju jika mereka tidak mengetahui bagaimana pimpinan mengevaluasi atau menilai kerja mereka dan 6 orang (28.6%) menyatakan tidak setuju. Berikut wawancara yang dilakukan pada tanggal 6 Mei 2013 dengan

seorang pustakawan muda yang menjawab setuju, dia menyatakan bahwa “ laporan evaluasi dan apa yang dievaluasi dari kerja tidak pernah diperlihatkan, evaluasi kinerja seperti TPK ( Tunjangan peningkatan kinerja) tidak pernah dipublikasikan”. Sedangkan wawancara dengan seorang pustakawan madya yang menyatakan tidak setuju sebagai berikut “ Saya tidak pernah memikirkan hal tersebut, yang penting saya sudah melaksanakan tugas dengan baik”.

Dalam dokumen Ana F Skripsi full (Halaman 57-68)

Dokumen terkait