PENGARUH AMBIGUITAS PERAN
TERHADAP KINERJA PUSTAKAWAN
UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi
Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan
Oleh :
Ana Faridatunniswah A2D309011
PROGRAM STUDI S1 ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
ii
Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Ana Faridatunniswah NIM : A2D309011
Jurusan : S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Dengan sesungguhnya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul ”Pengaruh Ambiguitas Peran Terhadap Kinerja Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang” adalah benar-benar merupakan karya saya sendiri, bukanlah hasil plagiat baik sebagian maupun seluruhnya dari karya ilmiah orang lain, dan semua kutipan yang ada di dalam skripsi ini telah saya sebutkan sumber aslinya berdasarkan tata cara penulisan kutipan yang lazim pada karya ilmiah.
Semarang, Agustus 2013 Yang Menyatakan
iii
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu” (Al Baqarah: 185)
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan
baginya kemudahan dalam urusannya” (Ath Thalaaq:4)
Ku Persembahkan karya ini untuk
Ibu dan Bapakku
Mas Martono
Kakak Tata, Mas Ral dan Dek Ndin
iv
skripsi pada:
Hari : Jum’at Tanggal : 19 Juli 2013
Pembimbing I Pembimbing II
Wiji Suwarno, S. Pd.I, S.IPI, M.Hum Yuli Rohmiyati, S.Sos, M.Si.
v
Ketua
Drs. Ari Setyadi, M.S. NIP. 195809091984031002
Anggota I
Heriyanto, S.Sos., M.IM. NIP. 197704082010121001
Anggota II
Wiji Suwarno, S.Pd.I, S.IPI, M.Hum. NIP.197307142005011002
Anggota III
vi
Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat, hidayah dan karunia serta ridho-Nya, akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program strata satu (S1) Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang dengan judul Pengaruh Ambiguitas peran terhadap Kinerja Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang.
Dalam penyusunan skripsi ini berbagai hambatan dan kesulitan telah banyak penulis alami serta bukan semata-mata hasil jerih payah penulis sendiri, namun juga berkat bantuan, dorongan, semangat dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan lancar. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Agus Maladi Irianto, MA., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Budaya;
vii
4. Dra. Sriati, selaku Ketua Jurusan S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, yang telah memberi kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini;
5. Wiji Suwarno, S.Pd.I, S.IPI, M.Hum dan Yuli Rohmiyati, S.Sos, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah dengan sabar dan berkenan meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan yang bermanfaat demi perbaikan dan kebaikan dalam penyusunan skripsi ini, serta memberikan kemudahan-kemudahan dalam penyusunan skripsi ini; 6. Desy Ery Dhani, S.Sos., selaku dosen wali yang selalu memberikan
bimbingan, saran dan arahan-arahan yang bermanfaat bagi penulis;
7. Heriyanto, S.Sos., M.IM., selaku dosen penguji yang telah memberikan koreksi dan saran dalam penulisan skripsi ini;
8. Seluruh dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama mengikuti kuliah;
9. Rektor Universitas Diponegoro yang memberikan ijin untuk melanjutkan studi dan bantuan dana;
viii
12. Bapak, Ibu dan Kakak-kakakku yang senantiasa mendo’akan dan memberikan dukungan dalam penyelesaian skipsi ini;
13. Teman-teman pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro, terima kasih atas bantuan dan motivasinya;
14. Teman-teman bagian sirkulasi UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro, terima kasih atas pengertian dan dukungannya;
15. Teman-teman S1 Ilmu Perpustakaan angkatan 2009, terima kasih atas motivasinya sehingga penulis berusaha untuk menyelesaikan skripsi ini; 16. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak
dapat penulis sebut satu persatu, terima kasih atas semua dukungannya; Dengan segala keterbatasan kemampuan serta kekurangan dalam pengetahuan yang penulis miliki, penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik perbaikan yang sifatnya membangun dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca dan bermanfaat bagi penelitian selanjutnya pada bidang yang sama.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
ix
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
PRAKATA ... vi
1.3. Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 4
1.5. Tempat dan Waktu Penelitian ... 5
1.6. Batasan Istilah ... 5
1.7. Kerangka Pikir ... 5
1.8. Hipotesis ... 7
BAB. II. TINJAUAN LITERATUR 2.1. Ambiguitas Peran ... 8
2.2. Kinerja ... 9
2.3. Pustakawan ... 14
2.4. Penelitian Terdahulu ... 14
BAB. III. METODE DAN TEKNIK PENELITIAN 3.1. Metode dan Jenis Penelitian ... 17
3.2. Variabel Penelitian ... 18
3.3. Definisi Operasional Variabel ... 18
3.4. Populasi dan Sampel ... 19
3.5. Jenis dan Sumber Data ... 21
3.6. Metode Pengumpulan Data ... 21
x
DIPONEGORO SEMARANG
4.1. Sejarah Singkat... 29
4.2. Visi dan Misi ... 31
4.3. Struktur Organisasi ... 31
4.4. Kepegawaian ... 34
4.5. Koleksi ... 37
4.6. Jenis-jenis Layanan ... 39
4.7. Kerjasama ... 42
BAB. V PENGARUH AMBIGUITAS PERAN TERHADAP KINERJA PUSTAKAWAN UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 5.1. Deskripsi Variabel Penelitian. ... 44
5.1.1Ambiguitas Peran...44
5.1.2Kinerja Pustakawan...55
5.2. Uji Validitas dan Realibilitas ... 63
5.3. Analisis Regresi Linear Sederhana ... 65
5.4. Pengujian Hipotesis ... 67
5.5. Keterbatasan Penelitian ... 67
BAB VI PENUTUP 6.1. Simpulan ... 69
6.2. Saran ... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 72
xi
Tabel 2. Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro
Berdasarkan Jabatan Tahun 2012... 20
Tabel 3. Pegawai UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Tahun 2012 ... 34
Tabel 4. Pustakawan Berdasarkan Jenis Kelamin ... 34
Tabel 5. Pustakawan Berdasarkan Tingkat pendidikan ... 35
Tabel 6. Pustakawan Berdasarkan Golongan ... 36
Tabel 7 Pustakawan Berdasarkan Jabatan. ... 36
Tabel 8. Pustakawan Berdasarkan Lama Bekerja ... 37
Tabel 9. Koleksi UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Tahun 2012 ... 39
Tabel 10. Ketidakjelasan sasaran kerja ... 44
Tabel 11. Ketidakjelasan mengenai apa saja yang menjadi tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan ... 46
Tabel 12. Ketidakjelasan mengenai wewenang yang dimiliki dalam melaksanakan pekerjaan ... 47
Tabel 13. Tidak ada job description yang jelas... 48
Tabel 14. Tidak ada prosedur kerja (SOP) sebagai pedoman kerja ... 49
Tabel 15. Merasa kesulitan dalam pengambilan keputusan untuk penyelesaian pekerjaan ... 50
Tabel 16. Kehilangan arah dalam bekerja ... 50
Tabel 17. Ketidakjelasan tentang apa yang diharapkan orang lain (pimpinan dan rekan kerja) ... 51
Tabel 18. Tidak ada penghargaan atas keberhasilan kerja yang telah dicapai .... 52
Tabel 19. Tugas rutin yang dilakukan pustakawan tidak bisa dipakai untuk kenaikan pangkat dan jabatan ... 53
Tabel 20. Tidak tahu bagaimana pimpinan mengevaluasi atau menilai kerja pustakawan ... 54
Tabel 21. Memiliki pengetahuan dalam melaksanakan tugas ... 55
Tabel 22. Mengutamakan ketelitian dalam bekerja ... 56
Tabel 23. Memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien dalam bekerja ... 57
Tabel 24. Bekerja sesuai target yang telah ditentukan ... 58
Tabel 25. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu ... 58
Tabel 26. Hadir tepat waktu dalam bekerja ... 59
Tabel 27. Tidak pernah membolos dalam bekerja ... 60
Tabel 28. Bersedia membantu rekan kerja dalam menyelesaikan pekerjaan ... 61
Tabel 29. Menggangap dirinya bagian dari tim/kelompok ... 62
xii
xiii
adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh ambiguitas peran terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai, jenis data kuantitatif, analisis statistik deskriptif. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik sampling
non probability sampling dengan teknik sampling jenuh, dengan jumlah sampel (n) sebesar 21 pustakawan. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pengukuran variabel yang digunakan adalah skala Likert. Teknik pengolahan data dan analisis data mengunakan analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Untuk mengetahui pengaruh ambiguitas peran terhadap kinerja pustakawan menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana. Adapun untuk pengujian hipotesis menggunkan uji t pada tingkat kepercayaan α = 1%. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 19. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis H0 diterima berarti H1 ditolak. Hal ini bisa dilihat dari uji hipotesis yang dilakukan dengan uji T, yaitu dengan membandingkan t-hitung dan t-tabel dengan α = 1 %. Hasilnya adalah Thitung =1.725 lebih kecil dari Ttabel = 2.539. Maka simpulannya adalah ambiguitas peran tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro.
Kata kunci : Ambiguitas Peran, Kinerja Pustakawan, UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tugas seorang pustakawan merupakan tugas yang tidak mudah dan banyak tantangan, biasanya penilaian terhadap baik buruknya perpustakaan dilihat dari bagaimana cara pustakawan memberikan pelayanan kepada pemustakanya. Ketika pelayanan yang diberikan oleh pustakawan tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pemustaka, maka akan terjadi suatu kesenjangan. Misal pihak pemustaka mengharapkan pelayanan yang ramah, cepat, tepat dan buku yang dicari tersedia, namun dari pihak pustakawan mengalami hambatan psikologi yang tidak stabil sehingga mengakibatkan emosi yang labil. Hal ini dapat menimbulkan penilaian bahwa pustakawan tidak professional, tidak ramah, dan lain sebagainya.
Pustakawan yang mengalami ambiguitas peran akan lambat dalam mengambil keputusan yang harus ia lakukan, hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap kinerja mereka. Jika kinerja pustakawan kurang baik maka layanan yang akan diberikan kepada pemustaka tidak akan bisa maksimal atau tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pemustaka.
UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro merupakan perpustakaan pusat, dimana pemustakanya terdiri dari semua civitas akademika yang ada di Universitas Diponegoro dan juga pemustaka dari perguruan lain. Untuk dapat melayani pemustaka yang jumlahnya tidak sedikit ini dibutuhkan petugas atau pustakawan yang cekatan, handal dan terampil. Namun, hal ini tidak akan terwujud jika pustakawannya mengalami ambiguitas peran sehingga mempengaruhi kinerja mereka.
Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi sekarang ini, UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro mengubah beberapa jenis layanan, Peralihan ini tanpa disertai dengan job description yang baru yang sesuai dengan layanan tersebut, akibatnya pustakawan bagian ini mengalami ketidakjelasan tugas karena tidak ada arahan mengenai apa yang harus mereka lakukan dengan tugas baru ini. Di samping itu, dalam menjalankan kegiatan sehari-hari tidak semua bagian ada prosedur kerja (SOP) secara tertulis sebagai pedoman kerja, sehingga mengakibatkan pustakawan bekerja atau menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan pengetahuannya masing-masing tanpa ada standar yang jelas.
agar pustakawan tidak jenuh. Tetapi penempatan pustakawan ini kadang tidak sesuai dengan pangkat dan jabatan pustakawan yang bersangkutan sehingga mereka akan kesulitan mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan pangkatnya.
Berdasarkan data statistik UPT perpustakaan tahun 2012 bahwa 76% (16 orang) merupakan pustakawan tingkat ahli dan 24% (5 orang) adalah pustakawan tingkat terampil, hal ini tentunya membuat pustakawan kesulitan dalam mengumpulkan angka kredit karena sebagian besar tugas rutin sehari-hari yang mereka lakukan merupakan kegiatan pustakawan tingkat terampil. Apalagi bagi pustakawan tingkat ahli yang ditugaskan dibagian sirkulasi, waktu mereka telah habis untuk melakukan kegiatan rutin, sehingga untuk melakukan kegiatan sesuai dengan pangkat dan golongan mereka akan terasa sulit.
Penempatan yang tidak sesuai dengan pangkat dan jabatan pustakawan ini juga menyebabkan pustakawan enggan dan bekerja sekedarnya saja, yang penting pekerjaan atau tugas rutin sehari-hari bisa berjalan tanpa ada keinginan untuk melakukan hal-hal kreatif diluar tugas rutin sehari-hari yang sesuai dengan pangkat dan jabatannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka secara terperinci masalah yang akan diteliti adalah
1. Bagaimana ambiguitas peran yang dialami oleh pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro?
2. Bagaimana kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro?
3. Bagaimana pengaruh ambiguitas peran terhadap kinerja pustakawan
UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh ambiguitas peran terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang.
1.4 Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Dapat digunakan sebagai pedoman dalam meningkatkan kinerja pustakawan di UPT perpustakaan Universitas Diponegoro
c. Menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.5 Tempat dan Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada 1 Maret - 10 Mei 2013, bertempat di UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro yang beralamat di Jalan Prof. Soedarto, SH Tembalang Semarang.
1.6 Batasan Istilah
Agar bahasan dalam penelitian ini tidak terlalu luas, peneliti membatasi istilah dari variabel yang diteliti, sebagai berikut:
a. Ambiguitas peran dalam penelitian ini adalah ketidakjelasan peran yang dialami oleh pustakawan berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas dari pekerjaannya.
b. Kinerja Pustakawan adalah hasil kerja yang dihasilkan oleh pustakawan, dilihat dari aspek kualitas, kuantitas, waktu kerja dan kerjasama untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh organisasi.
1.7 Kerangka berpikir
mengambil keputusan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, sehingga pekerjaan yang seharusnya dapat cepat diselesaikan akan tertunda-tunda dan ini akan mempengaruhi kinerja pustakawan.
Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Feedback
Gambar 1 Kerangka Berpikir Ambiguitas peran:
• ketidakjelasan dari sasaran-sasaran kerja
• kesamaran tentang tanggung jawab
• ketidakjelasan tentang prosedur kerja
• kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain
• kurang adanya balikan atau ketidakpastian tentang unjuk kerja pekerjaan.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survai.
Ambiguitas peran berpengaruh terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro
1.8 Hipotesis penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir diatas, dapat ditarik kesimpulan yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Hipotesis ialah pernyataan atau jawaban sementara terhadap rumusan penelitian yang dikemukakan ( Usman, 2008: 38 ). Adapun hipotesis penelitian ini adalah
H0 = Ambiguitas peran tidak berpengaruh terhadap kinerja pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro
8
BAB II
TINJAUAN LITERATUR
Sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan maka perlu adanya teori sebagai analisis permasalahan yang ada. Penelitian ini berkaitan dengan ambiguitas peran yang mempengaruhi kinerja pustakawan.
2.1 Ambiguitas Peran
Siguaw (1993) mengatakan bahwa ambiguitas peran terjadi akibat
job description yang tidak ditulis atau dijelaskan dengan rinci serta tidak adanya standar kerja yang jelas, sehingga ukuran kinerja karyawan yang baik dipersepsikan secara kabur oleh karyawan. Menurut Sumrall & Sebastianelli dalam (Catharina:2001) menyatakan bahwa penyebab lain munculnya ambiguitas peran adalah komunikasi yang buruk antara karyawan dengan atasan atau dengan rekan kerjanya, kurangnya pengawasan (supervisi) dari pihak manajemen dan program pelatihan yang buruk. Ambiguitas peran muncul ketika ada harapan dari pihak lain (misal, rekan kerja, atasan, pelanggan) yang dipersepsikan tidak jelas (singh dalam Catharina:2001).
Ambiguitas peran menurut Luthan ( 2006:473) terjadi ketika individu tidak memperoleh kejelasan mengenai tugas-tugas dari pekerjaannya atau lebih umum dikatakan “tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan”. Job description
adanya pengalaman memberikan kontribusi terhadap ambiguitas peran. Sedangkan Robbins (2008:372) menyatakan bahwa ambiguitas peran tercipta manakala ekspektasi peran tidak dipahami secara jelas dan karyawan tidak yakin apa yang harus ia lakukan. Ambiguitas peran dirasakan seseorang jika ia tidak memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau merealisasikan harapan-harapan yang berkaitan dengan peran tertentu.
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya ambiguitas peran menurut Everly dan Giordano ( dalam Munandar, 2001) :
a. Ketidakjelasan dari sasaran-sasaran kerja b. Kesamaran tentang tanggung jawab c. Ketidakjelasan tentang prosedur kerja
d. Kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain
e. Kurang adanya balikan, atau ketidakpastian tentang unjuk kerja pekerjaan. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ambiguitas peran adalah ketidakjelasan peran seseorang dalam organisasi yang disebabkan oleh tidak adanya arahan yang jelas dari pihak manajemen.
2.2 Kinerja
bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan moral maupun etika (Prawirosentono dalam Sutrisno, 2010:170). Sutrisno (2010:172) menyimpulkan kinerja karyawan adalah hasil kerja karyawan dilihat pada aspek kualitas, kuantitas, waktu kerja dan kerja sama untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh organisasi.
Sedangkan menurut Nawawi (2006:64-65) kinerja merupakan gabungan dari tiga faktor yang terdiri dari: (a) pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab dalam bekerja. Faktor ini mencakup jenis dan jenjang pendidikan serta pelatihan yang pernah diikuti di bidangnya, (b) pengalaman, yang tidak sekedar berarti jumlah waktu atau lamanya bekerja, tetapi berkenaan juga dengan substansi yang dikerjakan yang jika dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama akan meningkatkan kemampuan dalam mengerjakan suatu bidang tertentu, (c) kepribadian, berupa kondisi di dalam diri seseorang dalam menghadapi bidang kerjanya, seperti minat, bakat, kemampuan bekerjasama/keterbukaan, ketekunan, kejujuran, motivasi kerja dan sikap terhadap pekerjaan.
Miner dalam Sutrisno (2010:172-173) menyatakan aspek dari kinerja ada empat, yaitu:
1. kualitas yang dihasilkan, menerangkan tentang jumlah kesalahan, waktu, dan ketepatan dalam melakukan tugas
3. waktu kerja, menerangkan akan berapa jumlah absen, keterlambatan, serta masa kerja yang telah dijalani individu pegawai tersebut
4. kerja sama, menerangkan akan bagaimana individu membantu atau menghambat usaha dari teman sekerjanya.
Sedangkan indikator kinerja menurut Nawawi (2006:67) adalah: 1. kuantitas hasil kerja yang dicapai
2. kualitas hasil kerja yang dicapai
3. jangka waktu mencapai hasil kerja tersebut
4. kehadiran dan kegiatan selama hadir di tempat kerja 5. kemampuan bekerjasama
Bernardin dan Russel dalam Sutrisno (2010:179-180) mengajukan enam kinerja primer yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja, yaitu:
1. Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
2. Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan. misalnya jumlah rupiah, unit, dan siklus kegiatan yang dilakukan.
3. Timeliness, merupakan sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki, dengan memerhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan orang lain.
5. Need for supervision, merupakan tingkat sejauh mana seorang pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisi untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan.
6. Interpersonal impact, merupakan tingkat sejauh mana pegawai memelihara harga diri, nama baik, dan kerjasama di antara rekan kerja dan bawahan.
Satibi (2011) menyatakan ada beberapa parameter yang jelas untuk mengungkap dan memetakan esensi peningkatan kinerja pustakawan yaitu:
a. Produktif. Seorang pustakawan yang berkinerja tinggi memiliki produktifitas kerja yang tinggi, artinya ia mampu menghasilkan pekerjaan, baik secara kualitas maupun kuantitas sesuai dengan program kerja yang telah dicanangkan. Apakah menyangkut pekerjaan yang bersifat administrasi, teknis maupun manajerial.
b. Berinisiatif. Hal ini mencerminkan bahwa seorang pustakawan yang berkinerja tinggi harus memiliki inisiatif dalam menyampaikan ide-ide cerdas terkait dengan penataan, pengembangan, penyempurnaan bahkan perubahan-perubahan yang mungkin bisa dilakukan.. Dengan kata lain, ia bersikap proaktif dalam memperjuangkan peningkatan kinerja perpustakaan secara kelembagaan.
d. Disiplin. Seorang pustakawan yang berkinerja tinggi akan tercermin pula dari sikapnya yang disiplin. disiplin yang dimaksud tidak hanya terkait dengan persoalan kehadiran dalam bekerja, tetapi juga disiplin dalam melaksanakan pekerjaan, membuat laporan serta mengevakuasi hasil pekerjaan yang telah dilakukan.
e. Mampu bekerjasama secara efektif. Pustakawan yang berkinerja tinggi dapat dilihat dari kemampuannya dalam melakukan kerjasama dengan pihak lain, baik secara internal maupun eksternal.
f. Responsif. Responsif yang dimaksud merupakan kemampuan seorang pustakawan dalam menangkap berbagai kebutuhan pihak lain yang dilayani (pemustaka), baik secara internal maupun eksternal. Dengan kata lain, seorang pustakawan yang berkinerja tinggi akan tercermin dari sejauhmana ia mampu memberikan respon yang positif terhadap berbagai keluhan, kepentingan dan kebutuhan pihak lain yang dilayani.
g. Akuntabel. Hal ini mengandung makna bahwa seorang pustakawan yang berkinerja tinggi akan mampu menyelaraskan antara program yang telah dicanangkan dengan kebutuhan pihak lain yang dilayani serta pertanggungjawaban yang dilaporkan.
2.3 Pustakawan
Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007, Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Pustakawan adalah seorang tenaga kerja bidang perpustakaan yang telah memiliki pendidikan ilmu perpustakaan, baik melalui pelatihan, kursus, seminar, maupun dengan kegiatan sekolah formal. Pustakawan ini orang yang bertanggung jawab terhadap gerak maju roda perpustakaan. Maka di wilayah Pegawai Negeri Sipil (PNS), pustakawan termasuk kedalam jabatan fungsional. Secara umum, kata pustakawan merujuk pada kelompok atau perorangan dengan karya atau profesi di bidang dokumentasi, informasi dan perpustakaan. (Sudarsono, 2006)
2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu sangat penting sebagai dasar pijakan dalam rangka penyusunan penelitian ini. Kegunaannya untuk mengetahui hasil yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu.
karyawan bagian call center dan hasil dari penelitian ini adalah konflik peran pengaruhnya positif terhadap kinerja karyawan dan ambiguitas peran pengaruhnya negatif terhadap kinerja karyawan, selain itu faktor demografi juga mempengaruhi konflik peran dan ambiguitas peran serta kinerja karyawan.
Penelitian lainnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Ardhimas Linggar Wisesa (2012) dengan judul “Pengaruh exercised responsibility, pengalaman, otonomi, dan ambiguitas peran terhadap kinerja auditor di Semarang, penelitian ini dilakukan pada kantor akuntan publik di kota Semarang, sampel berjumlah 70 responden. Hasil analisis menggunakan regresi dapat diketahui bahwa variabel exercised responsibility, pengalaman, dan otonomi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor, dan variabel ambiguitas peran berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor. Sedangkan hasil analisis menggunakan uji t menunjukkan bahwa exercised responsibility, pengalaman, otonomi, dan ambiguitas peran berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor.
Hal yang membedakan antara penelitian ini dengan dua penelitian diatas adalah dalam analisis data penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Florence Catharina (2001) dianalisis dengan analisa kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif untuk menjelaskan mengenai kaitan antara aspek demografis responden ( usia, masa kerja, jenis kelamin, pendidikan dan status perkawinan ) dengan penilaian dan persepsi responden terhadap tingkat konflik dan ambiguitas peran yang dialaminya serta kinerja yang telah dihasilkan
menggunakan Crosstab, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan
berganda. Chi-Square test dan koefisien kontingensi untuk melihat keeratan hubungan antara aspek demografis responden (usia, masa kerja, jenis kelamin, pendidikan dan status perkawinan) dengan konflik dan ambiguitas peran serta kinerjanya. Kemudian untuk mengetahui pengaruh antara konflik dan ambiguitas peran terhadap kinerja menggunakan analisis regresi berganda.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Ardhimas Linggar Wisesa (2012) menggunakan analisis statistik deskiptif untuk memberikan deskripsi mengenai exercised responsibility, pengalaman, otonomi, ambiguitas peran dan kinerja yang dilihat dari angka rata-rata (mean), nilai tengah (median), kisaran teoritis, kisaran aktual, dan standar deviasi.
Adapun penelitian ini analisa datanya menggunakan analisis deskriptif persentase dan analisis regresi linear sederhana, analisis deskriptif persentase digunakan untuk mengetahui tingkat ambiguitas peran yang dialami oleh pustakawan dan kinerja yang telah dihasilkan, dan untuk mengetahui pengaruh ambiguitas peran terhadap kinerja pustakawan menggunakan analisis regresi linear sederhana.
17
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Metode dan Jenis Penelitian
Metode ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis (Usman dan Akbar, 2008: 41).
Penelitian dapat dibagi menurut bidang, tempat, pemakaian, tujuan, waktu, jenis, metode, logika, dan filsafat. Jenis penelitian dibagi menjadi penelitian historis, penelitian deskriptif, penelitian perkembangan, penelitian kasus dan penelitian lapangan, penelitian korelasi, penelitian kausal komperatif, penelitian eksperimental sungguhan, penelitian eksperimen semu, penelitian tindakan (Usman dan Akbar, 2008: 3-6).
3.2 Variabel penelitian
Variabel penelitian adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap dalam suatu kegiatan penelitian, yang menunjukkan variasi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif ( Arikunto, 2006: 10). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya adalah ambiguitas peran, sedangkan variabel terikatnya adalah kinerja pustakawan.
3.3 Definisi Operasional Variabel
Suatu konsep yang digambarkan dalam definisi konsep tentu saja tidak akan dapat diobservasi atau diukur gejalanya di lapangan. Untuk dapat diobservasi atau diukur, maka suatu konsep harus didefinisikan secara operasional.
Definisi operasional variabel berisikan indikator-indikator dari suatu variabel, yang memungkinkan peneliti mengumpulkan data yang relevan untuk variabel tersebut. Dalam penelitian ini definisi operasional variabel adalah sebagai berikut:
1. Ambiguitas peran sebagai variabel bebas (X)
Indikator dari variabel ambiguitas peran meliputi: ketidakjelasan sasaran kerja, kesamaran tanggung jawab, ketidakjelasan prosedur kerja, kesamaran apa yang diharapkan orang lain dan ketidakpastian atau kurang adanya balikan dari unjuk kerja.
pernyataan-pernyataan yang diberikan dalam skala 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan 5 (sangat setuju).
2. Kinerja pustakawan (Y)
Adapun indikator dari kinerja dapat diukur melalui: kuantitas, kualitas, waktu kerja, dan kemampuan bekerjasama.
Variabel kinerja pustakawan diukur dengan menggunakan 5 poin skala Likert dari tingkat 1 (sangat tidak setuju) hingga 5 (sangat setuju). Masing-masing indikator dijabarkan ke dalam beberapa pertanyaan yang dituliskan dalam kuesioner
3.4 Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2008: 80), populasi ialah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik simpulan.
Populasi dalam penelitian ini adalah pustakawan di UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro.
Tabel 1: Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Berdasarkan golongan Tahun 2012
No Golongan Jumlah Persentase
1 IV 4 19.1%
2 III 17 80.9%
3 II - -
4 I - -
Jumlah 21 100%
Tabel 2: Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Berdasarkan Jabatan Tahun 2012
No Jabatan Jumlah Persentase
1 Pustakawan Pelaksana Lanjutan 1 5%
2 Pustakawan Penyelia 4 19%
3 Pustakawan Pertama 5 24%
4 Pustakawan Muda 7 33%
5 Pustakawan Madya 4 19%
Total 21 100%
Sumber : Data Tata Usaha UPT Perpustakaan UNDIP tahun 2012
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2008 : 81), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil dari populasi harus representatif.
Berdasarkan populasi tersebut maka penentuan sampel yang
representatif dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik sampling non- probability sampling dengan teknik sampling jenuh. Teknik sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, hal ini dilakukan bila jumlah populasi kecil kurang dari 30 orang (Sugiyono, 2008: 85).
3.5 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli, tidak melalui perantara. Data primer yang digunakan berupa data subyek (self report data) yang berupa opini dan karakteristik dari responden. Data primer dalam penelitian ini berupa:
1. Karakteristik responden yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir dan lama bekerja.
2. Opini atau tanggapan responden atas ambiguitas peran dan kinerja pustakawan.
Sumber data adalah semua pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Metode angket (Kuesioner)
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya, dapat diberikan secara langsung atau melalui pos atau internet. Jenis angket ada dua, yaitu tertutup dan terbuka. Kuesioner yang digunakan dalam hal ini adalah kuesioner tertutup yakni kuesioner yang sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih dan menjawab secara langsung.(Sugiyono, 2008: 142).
Kuesioner ini ditujukan kepada pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro untuk mengetahui persepsi responden (pustakawan) tentang ambiguitas peran dan kinerja pustakawan.
2. Metode wawancara
Wawancara ialah tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung berguna untuk mendapatkan data dari tangan pertama (primer), pelengkap teknik pengumpulan lainnya, menguji hasil pengumpulan data lainnya (Usman dan Akbar, 2008: 55).
3.7 Teknik Pengolahan Data
Proses pengolahan data yang dilakukan adalah :
1. Edit, yaitu kegiatan memeriksa dan meneliti kembali data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan wawancara, untuk mengetahui apakah data yang ada sudah cukup dan lengkap ataukah perlu ada pembetulan.
2. Koding, yaitu kegiatan melakukan klasifikasi data dari jawaban responden dengan memberikan kode/simbol serta skor menurut kriteria yang ada. Jawaban setiap item instrumen tersebut menggunakan skala Likert dalam bentuk pilihan. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2001: 73-74). Untuk setiap item pernyataan diberi skor satu sampai dengan lima dari hasil yang terendah sampai yang tertinggi.
3. Tabulasi, yaitu kegiatan melakukan pengolahan data ke dalam bentuk tabel dengan memproses hitung frekuensi dari masing-masing kategori, baik secara manual maupun dengan bantuan komputer.
3.8 Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
1. Uji Validitas
mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud (Arikunto, 2006:168).
Untuk menguji validitas instrumen dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengadakan uji coba kepada beberapa responden.
b. Mengelompokkan item-item dari jawaban ke dalam butir dan jumlah skor total yang diperoleh dari masing-masing responden.
c. Dari skor yang diperoleh kemudian dibuat tabel perhitungan validitas.
d. Mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment.
e. Mengkonsultasikan hasil tersebut ke dalam tabel kritik r Product Moment
dengan kaidah keputusan yaitu apabila r hitung > r tabel maka instrumen dikatakan valid dan layak digunakan dalam pengambilan data. Sebaliknya apabila r hitung < r tabel maka instrumen dikatakan tidak valid dan tidak layak digunakan untuk pengambilan data.
mempunyai validitas yang tinggi pula. Syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah jika r = 0.3, jadi jika korelasi antara butir dengan skor total kurang dari 0.3 maka butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan keterandalan suatu alat ukur. Tujuan dari dilakukan uji reliabilitas adalah agar instrumen yang digunakan yaitu kuesioner dapat dipercaya (reliable). Pengujian reliabilitas pada penelitian ini menggunakan
internal consistency, yaitu mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Internal consistency diukur dengan menggunakan koefisien Cronbach alpha. Jika koefisiensi alpha lebih besar daripada 0.60 maka dinyatakan bahwa instrumen pengukuran yang digunakan dalam penelitian adalah handal.
3.9 Metode Analisis Data
1. Analisis Statistik Deskriptif
Metode ini digunakan untuk mengkaji variabel yang ada pada penelitian yaitu: Pengaruh Ambiguitas Peran terhadap Kinerja Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang.
Analisis statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah persentase, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Membuat tabel distribusi jawaban angket variabel X dan Y.
b. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan.
c. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden. d. Memasukkan skor tersebut ke dalam rumus:
DP = ×100%
2. Analisis Regresi Linear Sederhana
dengan menggunakan persamaan regresi linear sederhana dengan rumus sebagai berikut:
Y = a + bx Keterangan:
Y : Variabel kinerja pustakawan b : Koefisien regresi b
X : Variabel ambiguitas peran a : Koefisien regresi a (Idrus, 2009:178)
Dalam melakukan analisis regresi linear sederhana penulis menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS versi 19.
3. Pengujian Hipotesis
Dalam penelitian ini pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t (ttest) untuk melihat sejauhmana pengaruh (positif/negatif) variabel bebas (X= Ambiguitas Peran) terhadap variabel terikat (Y= Kinerja Pustakawan)
Pengujian hipotesis dapat dinyatakan sebagai berikut :
H0:ρ= 0, berarti variabel bebas (X) tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (Y) H1:ρ≠0, berarti variabel bebas (X) berpengaruh negatif terhadap variabel terikat (Y)
Jika:
29
BAB IV
GAMBARAN UMUM UPT PERPUSTAKAAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
4.1 Sejarah Singkat
Perpustakaan Universitas Diponegoro sudah dirintis sejak didirikannya Universitas Semarang (tahun 1957) yang akhirnya menjadi Universitas Diponegoro (1960). Pada awalnya Perpustakaan Universitas Diponegoro berdiri dengan menempati ruangan di salah satu kampus Universitas Diponegoro di Jl. MT Haryono, Semarang dengan jumlah koleksi sekitar 500 eksemplar terutama bidang hukum. Pada tahun 1962, Perpustakaan Universitas Diponegoro pindah ke kampus Pleburan dan menempati satu ruangan di Fakultas Hukum.
Pada tahun 1970, Perpustakaan dipindahkan di ruang yang agak memadai dengan luas kurang lebih 200 m2 yang terdiri dari tiga ruang. Tahun 1979, merupakan sejarah baru bagi Perpustakaan Universitas Diponegoro karena menempati gedung baru berlantai tiga dengan luas kurang lebih 3.000 m2, yang peresmiannya dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Joesoep.
Prof. Soedarto, SH Tembalang Semarang dengan luas + 6.125 m² yang terdiri dari lima lantai, meliputi:
Lantai I, digunakan untuk ruang kepala UPT Perpustakaan, ruang Kepala Tata Usaha, ruang sidang kecil, ruang administrasi, ruang pengadaan, ruang pengolahan koleksi, Sampoerna Corner, Pojok BNI dan Nation Building Corner (NBC).
Lantai II, digunakan untuk ruang pelayanan sirkulasi (pelayanan peminjaman).
Lantai III, digunakan untuk ruang pelayanan reserve book (buku tandon) dan karya ilmiah.
Lantai IV, untuk pelayanan serial dan referensi.
Lantai V, merupakan ruang pertemuan dengan kapasitas 250 orang.
Sejak berdirinya hingga sekarang UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro secara berturut-turut dipimpin oleh :
1. Kadarsih Tirto Oetomo, tahun 1960-1961
2. Anak Agung Gede Raka, tahun 1961-1963
3. Prof. Slamet Rahardjo, MA, tahun 1963-1983
4. Kadarsih Tirto Oetomo, tahun 1983-1984
5. Drs. Goenardo Pringgo Atmodjo, tahun 1984-1990
6. Ny. E.R.S. Yunus, SH, tahun 1990-1994
8. Dra Ari Widjayanti, MM, tahun 2000 - 2012
9. Dra. Wahyu Praptini, tahun 2012 - sekarang
4.2 Visi dan Misi
Visi :
Menjadi pusat layanan sumber pembelajaran dan riset berbasis teknologi informasi.
Misi :
1.Menyediakan informasi ilmiah guna mendukung proses pembelajaran dan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat
2.Menyediakan akses informasi tanpa batas ruang dan waktu 3.Meningkatkan kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan
4.3 Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi UPT Perpustakaan UNDIP adalah sebagai berikut :
Gambar 2 Bagan Struktur Organisasi UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro
Adapun tugas-tugasnya adalah :
1. Kepala UPT Perpustakaan bertugas sebagai pimpinan tertinggi di lingkungan Perpustakaan, memimpin seluruh kegiatan yang ada dan dilaksanakan oleh UPT Perpustakaan dalam rangka memberikan pelayanan yang optimal kepada pengguna sesuai dengan tugas dan fungsinya.
keuangan, perlengkapan dan rumah tangga, dan pengelolaan data.
3. Bidang Pengadaan Bahan Pustaka , bertugas menyiapkan data untuk pengadaan koleksi bahan pustaka yang dalam pelaksanaannya meliputi seleksi dan pengadaan, inventarisasi, dan pemeliharaan bahan pustaka.
4. Bidang Pengolahan Bahan Pustaka bertugas mengolah bahan pustaka khususnya buku dari awal hingga siap disajikan dan disebarluaskan. Dalam pelaksanaan kegiatan meliputi klasifikasi, katalogisasi, dan penyelesaian. 5. Bidang Pelayanan Perpustakaan bertugas memberikan pelayanan koleksi
bahan pustaka khususnya buku yang meliputi pelayanan sirkulasi, pelayanan buku tandon/deposit, dan pelayanan referensi.
6. Bidang Pelayanan Dokumentasi dan Informasi bertugas memberikan pelayanan dokumentasi dan informasi kepada pengguna yang membutuhkan. Dalam pelaksanaan kegiatan meliputi :pelayanan serial, pelayanan koleksi khusus, dan pelayanan dokumentasi dan bahan AV.
7. Bidang Kerjasama dan Publikasi Perpustakaan bertugas melaksanakan kegiatan publikasi dan kerjasama perpustakaan.
8. Layanan Perpustakaan Fakultas/Lembaga merupakan pelayanan perpustakaan di Fakultas maupun lembaga yang ada di lingkungan Universitas Diponegoro. 9. Badan Pembina/Pengembangan Perpustakaan bertugas membina perpustakaan
demi perkembangan lebih lanjut.
4.4 Kepegawaian
Jumlah pegawai yang bekerja di UPT perpustakaan Undip, ada 35 orang, yang dapat dikelompokkan dalam :
Tabel 3: Pegawai UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro Tahun 2012 Status kepegawaian Jumlah Persentase (%)
Administrasi 12 34.3 Pustakawan 21 60
Honorer 1 2.9
Tenaga BLU 1 2.9
Total 35 100
Sumber:TU UPT Perpustakaan Undip, 2012
Adapun rincian pustakawan UPT Perpustakaan Universitas adalah berikut :
1. Pustakawan Berdasarkan Jenis Kelamin
Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro terdiri dari 10 pria dan 11 wanita, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4: Pustakawan Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin Jumlah Persentase (%)
Pria 10 47.6
Wanita 11 52.4
Total 21 100
2. Pustakawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro sebagian besar mempunyai latar belakang pendidika strata 1, baik dibidang perpustakaan maupun bidang lain yang disertai dengan diklat perpustakaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5: Pustakawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jumlah Persentase (%) SMA 2 9.5 D2/D3 3 14.3
S1 13 61.9
S2 3 14.3
Total 21 100 Sumber : TU UPT Perpustakaan Undip, 2012
3. Pustakawan Berdasarkan Golongan
Tabel 6: Pustakawan Berdasarkan Golongan
Golongan Jumlah Persentase (%)
III/a 1 4.8
Sumber : TU UPT Perpustakaan Undip, 2012
4. Pustakawan berdasarkan Jabatan
Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro sebagian besar merupakan pustakawan tingkat ahli sebanyak 16 orang dan pustakawan tingkat trampil 5 orang, adapun rinciannya dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 7: Pustakawan Berdasarkan Jabatan
Jabatan Jumlah Persentase (%)
Pustakawan Madya 4 19
Pustakawan Muda 7 33
Pustakawan Pertama 5 24
Pustakawan Penyelia 4 19
Pustakawan Pelaksana Lanjutan 1 5
Total 21 100
5. Pustakawan berdasarkan Lama Bekerja
Rata - rata pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro telah bekerja lebih dari 10 tahun, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 8: Pustakawan Berdasarkan Lama Bekerja
Lama Bekerja Jumlah Persentase (%)
10 - 20 11 52.4
21 - 30 8 38.1
> 30 2 9.5
Total 21 100
Sumber : TU UPT Perpustakaan Undip, 2012
4.5 Koleksi
Koleksi-koleksi yang dimiliki UPT Perpustakaan tentang ilmu-ilmu sosial, teknik, kedokteran, kesehatan, peternakan, kesusasteraan dan kelautan yang berupa buku-buku, majalah/jurnal, surat kabar, karya ilmiah hasil penelitian, tesis dan disertasi, serta e-book dan e-journal. Jenis-jenis koleksi yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan Undip yaitu :
1. Koleksi Peminjaman.
tersusun dalam rak menurut urutan sandi bukunya, berdasarkan sistematika klasifikasi DDC.
2. Koleksi Tandon (Reserve Book).
Koleksi tandon, tersimpan secara terbuka di lantai III. Buku yang tersimpan
dalam koleksi ini merupakan koleksi simpanan dari seluruh judul yang
dipunyai oleh UPT Perpustakaan yang masing-masing satu eksemplar. Koleksi
ini tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang, melainkan hanya dibaca
di tempat atau difotokopi.
3. Koleksi Rujukan.
Koleksi rujukan tersimpan secara terbuka seperti koleksi lainnya dan terletak
di lantai IV. Koleksi ini juga tidak dipinjamkan, tetapi hanya dibaca di tempat
atau difotokopi. Koleksi meliputi kamus, ensiklopedi, atlas, direktori,
perundang-undangan, terbitan pemerintah dan buku lain yang sejenis, yang
hanya diperlukan sebagai bahan rujukan.
4. Koleksi Karya IImiah.
Koleksi Karya IImiah (KI) ini merupakan koleksi terbuka yang berisi tentang karya ilmiah dosen baik berupa artikel, hasil penelitian. Koleksi yang terletak di lantai 3 ini hanya dapat dibaca di tempat. Sedangkan untuk koleksi tugas akhir mahasiswa (tesis dan disertasi) telah di upload ke dalam repository
Adapun jumlah koleksi yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan sampai
akhir Desember 2012 adalah sebagai berikut :
Tabel 9: Koleksi UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro tahun 2012
Jenis Judul Eksemplar
Buku cetak 49418 124224
e-book 7352 7352
Jurnal 964 964
e-journal 2774 2774
Majalah 7 7
Surat kabar 6 6
Sumber : TU UPT Perpustakaan Undip, 2012
4.6 Jenis-Jenis Layanan
Jenis layanan yang diberikan kepada pemustaka di UPT Perpustakaan adalah:
1. Layanan Sirkulasi, yaitu layanan yang diberikan kepada pemustaka untuk dapat meminjam koleksi perpustakaan.
2. Layanan Referensi, yaitu layanan yang diberikan kepada pemustaka perpustakaan yang memerlukan bantuan penelusuran informasi dalam berbagai subjek dari berbagai sumber ataupun memberikan bahan rujukan pada koleksi lain sesuai dengan bidang/informasi yang dibutuhkan.
catalogue/OPAC), yaitu layanan mandiri kepada pemustaka perpustakaan berupa penyediaan komputer penelusuran katalog koleksi perpustakaan. Setiap lantai disediakan komputer OPAC untuk menelusuri koleksi perpustakaan.
4. Layanan Koleksi Khusus, yaitu layanan yang diberikan kepada pemustaka untuk membaca di tempat atau memfotokopi sebagian koleksi Referensi, Karya Ilmiah, Koleksi Tandon dan Serial.
5. Layanan Sampoerna Corner, yaitu layanan yang disediakan perpustakaan atas kerja sama dengan PT HM Sampoerna Tbk, berupa ruang baca ber AC, buku-buku terutama bidang kewirausahaan, TV channel, CD/DVD, komputer untuk mengakses internet.
6. Layanan Pojok BNI, yaitu layanan yang disediakan perpustakaan atas kerja sama dengan Bank BNI, berupa ruang baca ber AC, buku-buku, TV dan ditambah komputer untuk mengakses internet.
7. Layanan NBC (Nation Building Corner) yaitu layanan yang disediakan perpustakaan atas kerja sama dengan Yayasan Nurani Dunia, berupa ruang baca ber AC, buku-buku perjuangan dan TV.
8. Layanan Fotokopi. Penyediaan layanan fotokopi yang terletak di lantai IV gedung UPT Perpustakaan Undip.
10. Layanan Penyebaran Informasi, yaitu layanan yang memberikan informasi kepustakaan yang baru terbit dan terseleksi kepada perorangan/sekelompok orang atau lembaga dalam bentuk :
a. Penerbitan dan penyebaran Buletin Informasi Khusus (BIK), adalah terbitan UPT Perpustakaan yang berisi daftar isi majalah/jurnal koleksi Perpustakaan yang dikemas dalam bentuk buletin dalam bidang tertentu.
b. Penerbitan dan Penyebaran Bibliografi dan Indeks, yaitu penerbitan dan penyebaran karya ilmiah dosen serta koleksi UPT Perpustakaan dalam bidang-bidang tertentu yang berbentuk kumpulan bibliografi. c. Berita Pengolahan Buku, yaitu penerbitan dan penyebaran berita
tambahan koleksi UPT Perpustakaan
d. Warta Perpustakaan Undip, yaitu penerbitan dan penyebaran WARTA PERPUSTAKAAN, berbentuk majalah sebagai wadah kreatifitas para pustakawan serta forum tanya jawab tentang dunia perpustakaan. e. Berita buku baru (display), yaitu pemberian informasi adanya
4.7 Kerjasama
UPT Perpustakaan Undip menjalin kerjasama dengan perpustakaan lain ataupun lembaga-lembaga yang terkait, antara lain:
1. Anggota FKP2T (Forum Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi) yaitu kerjasama dalam pemanfaatan fasilitas bersama bagi perpustakaan perguruan tinggi negeri se-Jawa.
2. Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi Semarang dan sekitarnya (JASAPUSPERTI) yang sampai dengan tahun 2012 sudah beranggotakan
69 perpustakaan perguruan tinggi negeri dan swasta yang berada di Semarang, Ungaran, Salatiga, Kudus, Tegal, Pekalongan, Klaten, Surakarta, Sukoharjo, dan Purwokerto.
3. Kerjasama dengan PERPUSNAS Propinsi Jawa Tengah dalam bidang Diklat/Pelatihan dan pengiriman staf pengajar.
4. Kerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Undip dalam pengiriman staf
pengajar untuk program D3 Perpustakaan, D3 Kearsipan, dan S1 Perpustakaan.
5. Kerjasama dengan UPT Perpustakaan Unika Soegijapranata dalam pengiriman staf pengajar untuk pelatihan.
6. Kerjasama dengan PDII/LIPI dalam pemilikan dan penelusuran informasi dari jurnal-jurnal luar negeri yang pada perkembangan selanjutnya Undip diharapkan menjadi agen PDII/LIPI wilayah Jawa Tengah.
goes to campus.
8. Kerjasama dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero), PT BNI menyediakan fasilitas untuk mendukung pengembangan layanan yang ada di UPT Perpustakaan Undip.
9. Kerjasama dengan Regional Information Outlet (RIO) World Bank. UPT Perpustakaan Undip beserta 16 Perpustakaan Perguruan Tinggi lain di Indonesia telah ditunjuk sebagai Regional Information Outlet (RIO) World Bank, yang merupakan bagian dari Indonesia Development Information Service (IDIS), yaitu suatu divisi Bank Dunia di Jakarta. UPT Perpustakaan melalui proyek RIO secara berkala mendapatkan seluruh produk baik cetak maupun noncetak yang diproduksi oleh World Bank.
44
BAB V
PENGARUH AMBIGUITAS PERAN
TERHADAP KINERJA PUSTAKAWAN
UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITS DIPONEGORO
SEMARANG
5.1 Deskripsi Variabel Penelitian
Deskripsi variabel penelitian bermaksud untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data kuesioner dari variabel yang diteliti. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:
5.1.1 Ambiguitas Peran
Berikut adalah hasil pengolahan data 21 responden melalui kuesioner mengenai ambiguitas peran yang dialami oleh pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro.
5.1.1.1 Ketidakjelasan Mengenai Sasaran Kerja Tabel 10: Ketidakjelasan sasaran kerja
No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 Sangat tidak setuju 5 23.8
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 21 responden, sebanyak 13 orang ( 61.9%) menyatakan bahwa tidak setuju dengan penyataan adanya ketidakjelasan sasaran kerja. Hal ini disebabkan karena pada tiap-tiap bagian atau unit kerja di UPT Perpustakaan mempunyai sasaran kerja yang jelas. Dimulai dari bagian pengadaan sasaran kerjanya adalah tersedianya bahan pustaka untuk dijadikan sebagai koleksi UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro, sasaran kerja bagian pengolahan yaitu buku dengan subyek sama akan terkumpul menjadi satu sehingga memudahkan temu balik informasi, bagian sirkulasi sasaran kerjanya adalah peminjaman dan pengembalian bahan pustaka dan sebagainya.
5.1.1.2Ketidakjelasan Mengenai Tanggungjawab dan Wewenang dalam Pelaksanaan Pekerjaan
Tabel 11: Ketidakjelasan mengenai apa saja yang menjadi tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan
No Kategori Frekuensi Persentase(%) 1 Sangat tidak setuju 5 23.8
2 Tidak setuju 12 57.1
3 Ragu-ragu 1 4.8
4 Setuju 2 9.5
5 Sangat setuju 1 4.8
Total 21 100
Sumber: kuesioner nomor 2
Dari tabel 11 di atas nampak bahwa 12 dari 21 responden (57.1 %) menjawab tidak setuju, ini berarti bahwa sebagian besar pustakawan merasa mengetahui apa saja yang menjadi tanggungjawabnya dalam melaksanakan pekerjaan. Berdasarkan tabel 8 seluruh pustakawan UPT Perpustakaan telah bekerja lebih dari 10 tahun, ini merupakan salah satu faktor pustakawan telah mengetahui apa saja yang menjadi tanggungjawabnya dalam bekerja pada masing-masing bidang.
Tabel 12: Ketidakjelasan mengenai wewenang yang dimiliki dalam melaksanakan pekerjaan
No Kategori Frekuensi Persentase(%)
1 Sangat tidak setuju 2 9.5
Sumber kuesioner nomor 3
Pada tabel 12 terlihat bahwa 9 orang ( 42.9%) dari 21 responden menyatakan tidak setuju dengan pernyataan bahwa terdapat kesamaran mengenai wewenang yang mereka miliki dalam melaksanakan pekerjaan, 2 orang (9.5%) menjawab sangat tidak setuju, 5 orang (23.8%) menyatakan ragu-ragu dan 5 orang
(23.8%) menjawab setuju. Hal ini dapat diartikan bahwa Pustakawan UPT Perpustakaan mengetahui wewenang yang dimilikinya dalam melaksanakan
tugas mereka.
Jawaban ini sesuai dengan hasil wawancara dengan seorang pustakawan muda pada tanggal 6 Mei 2013 “Sasaran, tujuan, tanggung jawab sangat erat hubungannya dengan kewenangan, sebatas kewenangan itu berkaitan dengan tanggung jawab yang diberikan kepada kita, maka harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan”.
Sedangkan seorang pustakawan madya berpendapat bahwa “Setiap pegawai (pustakawan) seharusnya sudah mempunyai job description
melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksi yang menjadi jenjang jabatannya”. Jadi pustakawan seharusnya sudah memahami dan mengetahui apa saja yang menjadi tanggung jawab yang diberikan kepadanya sehingga dapat mengetahui apa saja yang menjadi kewenangannya dalam melaksanakan tugas.
5.1.1.3Ketidakjelasan Prosedur Pekerjaan
Tabel 13: Tidak ada job description yang jelas
No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 Sangat tidak setuju 2 9.5 Sumber: kuesioner nomor 4
Dari tabel 13 dapat dilihat sebanyak 14 orang (66.7%) dari 21 responden tidak setuju jika dalam bekerja, tidak ada job description yang jelas. Hal ini disebabkan karena pada masing-masing bidang telah ada deskripsi kerja yang jelas dan untuk masing-masing pustakawan telah diberikan rincian tentang apa yang menjadi tugas mereka. Biasanya pada waktu pihak manajemen mengadakan rotasi atau menempatkan seorang pustakawan pada bagian tertentu maka dalam surat tugas tersebut sudah disertai dengan apa saja yang menjadi tugas pustakawan tersebut. Hal ini senada dengan pendapat seorang pustakawan muda pada waktu wawancara yang dilakukan pada tanggal 6 Mei 2013, yang menyatakan bahwa “Pustakawan yang melaksanakan tugas di perpustakaan, sudah memiliki
Tabel 14: Tidak ada prosedur kerja (SOP) sebagai pedoman kerja
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 2 9.5
2 Tidak setuju 11 52.4
3 Ragu-ragu 3 14.3
4 Setuju 4 19.0
5 Sangat setuju 1 4.8
Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 5
Tabel 15: Merasa kesulitan dalam pengambilan keputusan untuk penyelesaian pekerjaan
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 1 4.8
Sumber: kuesioner nomor 6
Berdasarkan tabel 15 di atas nampak bahwa 15 orang dari 21 responden (71.4%) menyatakan tidak setuju dengan pernyataan bahwa mereka kesulitan dalam pengambilan keputusan untuk menyelesaikan pekerjaan. Hasil kuesioner ini didukung dengan wawancara terhadap seorang pustakawan muda yang menyatakan bahwa “ Apabila ada kesulitan, saya selalu sharing/berdiskusi dengan sesama pustakawan sehingga memperoleh penyelesaian” , sedangkan seorang pustakawan madya berpendapat bahwa “ Tidak ada kesulitan apabila dilaksanakan sesuai prosedur”
Tabel 16: Kehilangan arah dalam bekerja
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
Pada tabel 16 di atas dapat dilihat bahwa 14 orang (66.7%) dari 21 responden memberikan respon tidak setuju pada pernyataan bahwa dalam bekerja pustakawan merasa kehilangan arah. Berdasarkan wawancara dengan pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013 menyatakan bahwa ” Asalkan kita berfikir positif, lillahita’allah insyaAllah kita bisa menjalani tugas dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik”
5.1.1.4Ketidakjelasan Tentang Apa yang Diharapkan Orang Lain (Pimpinan dan Rekan Kerja)
Tabel 17: Ketidakjelasan tentang apa yang diharapkan orang lain (pimpinan dan rekan kerja)
No Kategori Frekuensi Persentase
(%)
Sumber: kuesioner nomor 8
menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada kita dengan baik, demikian juga rekan kerja kita tentunya menginginkan kita bisa bekerja sama dalam team work”
5.1.1.5Ketidakpastian Atau Kurang Adanya Balikan Dari Unjuk Kerja
Tabel 18: Tidak ada penghargaan atas keberhasilan kerja yang telah dicapai No Kategori Frekuensi Persentase
(%)
1 Sangat tidak setuju 1 4.8
2 Tidak setuju 10 47.6
3 Ragu-ragu 4 19.0
4 Setuju 5 23.8
5 Sangat setuju 1 4.8
Total 21 100
Sumber: kuesioner nomor 9
Hasil wawancara dengan seorang pustakawan muda dan pustakawan madya menyatakan hal senada bahwa “ Reward memang penting tapi bagi saya menyelesaikan tugas dengan baik jauh lebih penting karena bila kita bekerja dengan baik, orang juga akan menilai kita dengan baik, penghargaan moral lebih penting daripada penghargaan materi”. Sikap seperti inilah yang membuat pustakawan tidak terlalu memikirkan balikan mengenai unjuk kerja yang telah dilakukan.
Tabel 19: Tugas rutin yang dilakukan pustakawan tidak bisa dipakai untuk kenaikan pangkat dan jabatannya
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 2 9.5 Sumber: kuesioner nomor 10
untuk mengumpulkan angka kredit dari kegiatan peminjaman dan pengembalian saja, pustakawan bagian ini akan melakukan kajian atau penelitian yang berhubungan dengan kegiatan sirkulasi sehingga akan terpenuhi angka kredit yang dibutuhkan untuk kenaikan pangkat dan jabatannya. Begitu juga dengan bagian yang lain.
Hal ini senada dengan hasil wawancara dengan seorang pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013 “ Kadang memang dilema, seorang pustakawan adalah pekerja mandiri untuk itu pustakawan harus mempunyai motivasi yang tinggi untuk menggali angkat kredit agar bisa memenuhi angka kredit minimal yang dipersyaratkan “
Tabel 20: Tidak tahu bagaimana pimpinan mengevaluasi atau menilai kerja pustakawan
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 0 0 Sumber: kuesioner nomor 11
seorang pustakawan muda yang menjawab setuju, dia menyatakan bahwa “ laporan evaluasi dan apa yang dievaluasi dari kerja tidak pernah diperlihatkan, evaluasi kinerja seperti TPK ( Tunjangan peningkatan kinerja) tidak pernah dipublikasikan”. Sedangkan wawancara dengan seorang pustakawan madya yang menyatakan tidak setuju sebagai berikut “ Saya tidak pernah memikirkan hal tersebut, yang penting saya sudah melaksanakan tugas dengan baik”.
5.1.2 Kinerja Pustakawan
Berikut ini adalah pengolahan data 21 responten mengenai kinerja yang dihasilkan oleh pustakawan
5.1.2.1Kualitas
Tabel 21: Memiliki pengetahuan dalam melaksanakan tugas
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 0 0
2 Tidak setuju 1 4.8
3 Ragu-ragu 3 14.3
4 Setuju 15 71.4
5 Sangat setuju 2 9.5
Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 1
diselenggarakan oleh UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro sendiri maupun oleh unit dan instansi yang lain.
Berdasarkan wawancara dengan pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013 menyatakan “ya pastinya saya mempunyai pengetahuan yang cukup dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab saya, sebagian besar pustakawan yang ada di UPT Perpustakaan telah mendapatkan pengetahuan tentang perpustakaan melalui pendidikan formal maupun diklat-diklat perpustakaan”
Tabel 22: Mengutamakan ketelitian dalam bekerja
No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 Sangat tidak setuju 0 0 Sumber: kuesioner nomor 3
database sehingga koleksi dapat terkelompok dalam subyek tertentu sehingga memudahkan untuk temu kembali. Begitu juga bagian sirkulasi, pustakawan harus teliti pada waktu melayani peminjaman maupun pengembalian koleksi dan lain sebagainya.
Hasil wawancara dengan seorang pustakawan pertama pada tanggal 6 Mei 2013 “ ketelitian sangat diperlukan dalam bekerja, kalau kita teliti maka akan mengurangi kesalahan sehingga tidak akan banyak terjadi masalah dikemudian hari”
5.1.2.2Kuantitas
Tabel 23: Memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien dalam bekerja
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 0 0
Sumber: kuesioner nomor 2
Tabel 24: Bekerja sesuai target yang telah ditentukan
No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 Sangat tidak setuju 0 0 Sumber: kuesioner nomor 5
Pada tabel 24 di atas dapat dilihat bahwa 16 orang (76.2 %) dari 21 responden menjawab setuju mampu memenuhi target yang telah ditentukan. Berdasarkan wawancara dengan pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013 menyatakan “ Ya, minimal target terpenuhinya angka kredit yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat sesuai dengan waktu minimal yang dipersyaratkan”. Biasanya pustakawan bekerja untuk mencapai target angka kredit untuk kenaikan pangkat, sehingga sebisa mungkin dapat menghasilkan atau menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang telah ditargetkan.
5.1.2.3Waktu Kerja
Tabel 25: Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 0 0
Dari tabel 25 di atas menunjukkan bahwa 85.7% pustakawan (18 orang dari 21 responden) menyatakan menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu, sehingga tidak ada pekerjaan yang ditunda-tunda. Berdasarkan pernyataan seorang pustakawan pertama pada wawancara yang dilakukan pada tanggal 6 Mei 2013 yaitu ”Tentu, dalam melaksanakan pekerjaan jangan sampai ditunta - tunda selain untuk mengurangi beban kita, juga akan memperlancar pekerjaan atau tugas bidang lain. Seperti di bagian sirkulasi ini, buku - buku yang telah dikembalikan oleh mahasiswa, kami langsung mencari kartunya dan segera ditata kembali ke rak agar dapat dipinjam oleh mahasiswa yang membutuhkannya”
Tabel 26: Hadir tepat waktu dalam bekerja
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 0 0 Sumber: kuesioner nomor 6
“ Saya selalu berusaha hadir sebelum jam kerja sehingga bisa mulai kerja tepat waktu, karena kedisiplinan sangat berpengaruh terhadap penilaian kinerja”
Tabel 27: Tidak pernah membolos dalam bekerja
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 0 0
2 Tidak setuju 2 9.5
3 Ragu-ragu 3 14.3
4 Setuju 14 66.7
5 Sangat setuju 2 9.5
Total 21 100 Sumber: kuesioner nomor 7
Dari tabel 27 di atas nampak bahwa 66.7% (14 orang dari 21 responden)
5.1.2.4Kemampuan Bekerjasama
Tabel 28: Bersedia membantu rekan kerja dalam menyelesaikan pekerjaan
No Kategori Nilai Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 1 0 0
2 Tidak setuju 2 0 0
3 Ragu-ragu 3 1 4.8
4 Setuju 4 14 66.7
5 Sangat setuju 5 6 28.6
Total 21 100
Sumber: kuesioner nomor 8
Tabel 29: Menggangap dirinya bagian dari tim/kelompok
No Kategori Nilai Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 1 0 0
Sumber: kuesioner nomor 9
Tabel 29 di atas nampak bahwa 13 orang (61.9%) dari 21 responden menggangap dirinya bagian dari tim atau kelompok. Jika setiap individu merasa bagian dari suatu kelompok maka di antara pustakawan akan terjalin rasa saling menghormati dan menghargai sehingga tercipta suasana kerja yang kondusif dan tentunya akan mempengaruhi kinerja mereka. Berdasarkan wawancara dengan seorang pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013, “ Setuju, karena kita tidak bisa hidup sendiri”
Tabel 30: Berusaha bekerja dalam tim/kelompok
No Kategori Nilai Frekuensi Persentase (%)
1 Sangat tidak setuju 1 0 0
Pada tabel 30 di atas 14 orang (66.7%) dari 21 responden berusaha bekerja dalam tim/kelompok. Hal ini disebabkan karena sebagian besar kegiatan di UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro merupakan kerja tim, maka pustakawan harus mampu bekerja dalam tim/kelompok agar pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan seorang pustakawan madya pada tanggal 6 Mei 2013, “ Bekerja dalam tim memungkinkan kita menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, tepat dan efisien sehingga hasilnya juga baik”
5.2 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas instrumen pengukuran dimaksudkan untuk mengetahui ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid, valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk melihat sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan metode internal consistency, yakni metode untuk melihat sejauh mana konsistensi tanggapan responden terhadap item-item pertanyaan dalam suatu instrumen penelitian. Untuk mengukur konsistensi tanggapan responden menggunakan koefisien alfa Cronbach. Hasil lengkap disajikan pada lampiran C dan ringkasannya ditampilkan dalam tabel 31 dibawah ini.
Tabel 31: Hasil pengujian Validitas dan Reliabilitas Keterangan Item
Pertanyaan
Koefisien Alpha Corrected Item-Total Correlation
Berdasarkan tabel 31 di atas nampak bahwa pada variabel ambiguitas peran mempunyai koefisien alpha sebesar 0.943 atau diatas 0.60, sehingga instrument pengukuran untuk variabel ambiguitas peran dinyatakan handal (reliabel). Pada bagian corrected item-total correlation terlihat bahwa masing-masing indikator ambiguitas peran mempunyai koefisien korelasi di atas 0.30. dimana indikator terendah (Q10) koefisien korelasinya sebesar 0.531 dan indikator tertinggi (Q8) koefisien korelasi sebesar 0.873, sehingga indikator-indikator variabel ambiguitas peran dinyatakan valid.
Untuk variabel kinerja pustakawan mempunyai koefisien alpha sebesar 0.776 atau diatas 0.60, sehingga instrumen pengukuran untuk variabel kinerja pustakawan dinyatakan handal (reliabel). Pada bagian corrected item-total
correlation terlihat bahwa masing-masing indikator kinerja pustakawan mempunyai koefisien korelasi di atas 0.30. dimana indikator terendah (Q5) koefisien korelasinya sebesar 0.380 dan indikator tertinggi (Q10) koefisien korelasi sebesar 0.587, sehingga indikator-indikator variabel kinerja pustakawan dinyatakan valid.
5.3 Analisis Regresi Linear Sederhana