Zulkifli
Kepala Bidang P2EP Bappeda Aceh E-mail: [email protected]
ABSTRACT
Provinsi Aceh telah diberikan otonomi oleh Pemerintah Indonesia dalam berbagai aspek administrasi sejak tahun 1999. Dalam hal ini, pada tahun 2004 pemerintah Aceh mengesahkan diberlakukannya pembayaran zakat atas penghasilan melalui lembaga formal yang dikenal sebagai Baitulmal. Namun, pembuat kebijakan mempertimbangkan bahwa tingkat kepatuhan rendah. Untuk daerah yang dikenal sepanjang sejarah karena ketaatan kepada ajaran Islam, situasi seperti ini agak mengejutkan. Mengapa hal ini terjadi? Dan jika pemerintah bermaksud untuk menambah pendapatan dari zakat, maka strategi apa yang perlu diambil? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kepatuhan pembayaran zakat melalui Baitulmal dan pendapatannya?
Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengusulkan dan memperkirakan model kepatuhan zakat. Hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa jenis kelamin, usia, pendidikan, biaya bulanan, komitmen terhadap agama/iman, pelaksanaan hukum, akses mekanisme pembayaran, pemahaman/pengetahuan zakat, persepsi pajak, dan faktor-faktor lingkungan yang ditemukan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan pembayaran zakat. Temuan penelitian menyimpulkan bahwa dalam rangka meningkatkan tingkat kepatuhan zakat pembayaran melalui Baitulmal, pemerintah perlu memperkuat penegakan hukum;
meningkatkan kesadaran tentang kewajiban membayar zakat atas penghasilan, membangun kepercayaan dalam memastikan Baitulmal sebagai suatu institusi yang mampu melaksanakan tugas-tugasnya secara jujur dan efisien, meningkatkan jumlah counter (kantor) zakat dan memperkenalkan sistem pembayaran online, reformasi undang-undang pajak yang ada seperti pengembalian zakat akan diberikan sebagai insentif bagi mereka yang membayar zakat melalui Baitul Mal.
Kata kunci: model kepatatuhan zakat, prilaku kepatuhan, strategi
ABSTRACT
The Aceh province has been given the autonomy by the central government of Indonesia in various aspects of administration since 1999. In this regards, in 2004 the government of Aceh has legislated an enactment requiring the payment of zakat on income through a formal institution known as the Baitulmal. However, policy makers are concerned that the compliance rate is found to be low. For a region that is known throughout history for its adherence to the Islamic teachings, such a situation is rather surprising. Why is this happening?
And if the government intends to increase zakat collection, what are then the strategies that need to be taken?
What are the likely factors affecting the compliance level of zakat payment via Baitulmal and its collection?
Thus, the objective of this study is to propose and estimate a zakat compliance model. The results of the study documented that gender, age, education, monthly expenses, commitment to the religion/faith, implementation of laws, accessible payment mechanism, zakat understanding/knowledge, tax perception, and environmental factors are found to have significant relationships with the compliance level of zakat payment. The findings of the study imply that in order to increase the compliance level of zakat payment via Baitulmal, the government needs to strengthen the law enforcement; increase awareness on the obligation to pay zakat on income; build the trust in ensuring the Baitulmal as an able institution to execute her tasks honestly and efficiently; increase the number of zakat counters and to introduce online payment system; reform the existing tax law such that zakat rebates should be granted as an incentive to those who pay zakat through Baitulmal.
Keywords: zakat compliance model, compliance behavior, strategy
120 PENDAHULUAN
Zakat merupakan pembayaran yang diwajibkan oleh Islam kepada semua penganutnya yang mempunyai harta dalam berbagai bentuk sekiranya cukup syarat haul atau tempoh dan nisab atau satu jumlah minimum yang mencukupi untuk memenuhi keperluan asas selama tempoh yang dikenakan (Alhabshi, 2003). Kewajiban ini lahir karena zakat merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan kepada individu muslim oleh Allah SWT dengan maksud untuk pembersihan dan penyucian harta bagi orang yang membayarnya (QS:At-Taubah, ayat 103) dan juga untuk menolong kaum dhu’afa atau orang yang memerlukan (QS:At-Taubah, ayat 60).
Oleh itu, kedudukan zakat adalah sangat penting yaitu sama sebagaimana kedudukan shalat bagi setiap orang Mukmin. Ajaran Islam memberikan peringatan dan ancaman keras terhadap orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. Perintah pemaksaan kepada wajib zakat untuk membayarnya adalah jelas kepada jenis harta yang telah disepakati (‘iktifaq) seperti zakat ke atas hasil tanaman seperti gandum, kurma, zakat peternakan (unta, lembu dan kambing) serta zakat galian emas dan perak. Perintah zakat kepada harta yang belum disepakati (‘ikhtilaf) walaubagaimanapun terdapat sedikit perbedaan karena terdapat sebagian ulama yang mewajibkannya dan sebagian yang lain tidak sehingga kepatuhan untuk membayar zakat dari harta jenis ini masih berbeda di kalangan individu tergantung pada situasi, kefahaman individu dan lingkungannya termasuk adanya qanun dan fatwa (Hairunnizam, et al., 2007). Diantara harta dari kategori ini adalah harta yang diperoleh dari pendapatan gaji, upah, sewa, dan penghasilan profesi (jasa). Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Aceh tahun 1983, penghasilan jasa diartikan sebagai hasil atau bayaran yang diperoleh seseorang sebagai imbalan dari guna/manfaat sesuatu seperti gaji, upah, sewa, hasil profesi, tunjangan, bonus dari apa saja pekerjaan dan jasa profesional dan bukan profesional. Mengenai kewajiban zakat ini, Majelis Ulama Aceh telah mengeluarkan fatwa tentang kewajiban pembayarannya sejak tahun 1983. Namun sampai saat ini hasil pungutan zakat melalui institusi formal pungutan zakat masih rendah dibandingkan dengan potensi yang ada.
Salah satu penyebab rendahnya pungutan zakat adalah kurangnya kesadaran/kepatuhan individu pembayar zakat untuk menunaikan kewajibannya melalui institusi formal pungutan zakat (Baitulmal).
Oleh karena itu, muncul pertanyaan apakah individu yang tidak membayar zakat kepada Baitulmal tersebut bermakna mereka tidak mengeluarkan zakat atau mereka menyalurkan zakat secara langsung kepada asnaf yang ada dilingkungan tempat tinggalnya yang dapat diartikan bahwa tingkat kepatuhan mereka untuk membayar zakat melalui institusi formal seperti yang diamanatkan dalam Qanun masih rendah. Tentunya, ketidakpatuhan ini dapat dikatakan sebagai bocoran bagi penerimaan pendapatan daerah Aceh. Sehubungan dengan hal tersebut, maka faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang untuk bersedia membayar zakat melalui institusi formal. Permasalahan-permasalahan inilah yang akan dikaji dalam penelitian ini, sehingga dengan demikian akan dapat ditentukan strategi apa yang dapat ditempuh oleh Pemerintah Aceh untuk
121
meningkatkan pendapatan asli Aceh dari sumber zakat melalui Baitulmal dalam rangka mempercepat pemberantasan kemiskinan di Aceh.
PERKEMBANGAN DAN PERANAN INSTITUSI PUNGUTAN ZAKAT Zakat merupakan ibadah yang diwajibkan secara individu dalam kehidupan bermasyarakat, namun demikian zakat juga sebenarnya sebagian dari ruang lingkup tanggung jawab pemerintahan negara. Oleh karena itu dalam penulisan-penulisan Islam, walaupun zakat sering dibahas di dalam bab ibadah di samping shalat, puasa dan haji, zakat juga dibahas dalam topik-topik mengenai kenegaraan dan pemerintahan. Ini berarti bahwa zakat sebenarnya bukanlah urusan pribadi yang hanya bisa diuruskan sendiri secara individu oleh ummat Islam. Sebaliknya zakat merupakan sebagian dari sistem sosial yang perlu diuruskan oleh pemerintah. Berdasarkan hal tersebut maka pengurusan zakat adalah menjadi kewajiban pemerintah terutama dengan membentuk institusi yang teratur untuk melaksanakan tugas pemungutan dan pendistribusian zakat-zakat ini.
Bila menilik berdasarkan dalil-dalil tentang kewajiban berzakat, dapatlah dimengerti bahwa sebetulnya masalah zakat ini diurus oleh satu institusi yang legal dan mempunyai wewenang untuk itu. Dan pada dasarnya yang berhak mengurusnya adalah pemerintah melalui institusi formal yang dibentuk. Hal ini dapat dilihat dari dalil dalam Al Qur’an di antaranya dengan menggunakan perkataan “Ambillah...” (At Taubah : 103) dan hadist nabi : “ Beritahu mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan ke atas mereka zakat dari harta-harta mereka, yang akan dipungut dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir “. Perkataan “ ambillah” dan “dipungut” bermakna bahwa ada pihak tertentu yang melaksanakan kerja-kerja tersebut.
Sebagai sebuah wilayah yang mempunyai penduduk muslim mayoritas, Provinsi Aceh tentunya mempunyai potensi sumber dana zakat yang sangat besar dan strategis.
Pelaksanaan zakat di Aceh telahpun dimulai sejak kedatangan Islam di nusantara ini.
Zakat merupakan salah satu sumber dana untuk pengembangan ajaran Islam dan perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah. Sebagai contoh, Belanda terlibat dalam perang besar yang berkepanjangan melawan orang-orang Aceh yang fanatik, mereka kuat dalam melawan penjajah karena mereka memiliki sumber dana berupa hasil zakat (Yoesoef, 1985; Daud, 1991).
Namun, pengelolaan zakat pada masa itu belum mempunyai mekanisme tertentu, kaum muslimin biasanya menyalurkan zakat itu secara langsung kepada mustahik, guru, teungku/kiayi, dan masjid-masjid. Hal ini disebabkan karena kaum muslimin melaksanakan zakat hanya atas keyakinan bahwa zakat merupakan kewajiban ke atas harta yang dimiliki. Kemudian setelah munculnya organisasi-organisasi Islam pada awal abad ke 20, zakat mulai diurus oleh organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadyah, Nahdatul Ulama dan lain-lain. Hal ini disebabkan pada masa itu belum didapatkan suatu badan resmi yang dibentuk oleh pemerintah (Somad, 1996).
Selanjutnya pada pertengahan abad ke 20, mulai adanya upaya membentuk suatu badan yang berskala nasional untuk menguruskan zakat yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Agama Nomor 4 dan Nomor 5 tahun 1968 mengenai pembentukan Badan Amil Zakat dan Baitul Mal. Dan dilanjutkan dengan Perintah Presiden Republik
122 Indonesia dengan suratnya Nomor 07/PRIN/10/1968 mengenai penunjukan komite pelaksanaan seruan Presiden tentang pelaksanaan zakat. Berdasarkan peraturan inilah akhirnya didirikan Badan Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah (Andy, 1997). Pembentukan Badan Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah (BAZIS) ini tidak mengurangi atau menghancurkan aktivitas badan zakat yang telah ada di organisasi-organisasi Islam sebelumnya. Mereka masih tetap melaksanakan urusan zakat itu sebagaimana biasa karena tiada peraturan resmi yang melarangnya.
Sebelum organisasi BAZIS dibentuk, di Aceh sebenarnya pernah didirikan Badan Penertiban Harta Agama (BPHA) pada tahun 1973. BPHA memiliki tugas untuk memelihara harta-harta agama, seperti zakat, wakaf, harta Baitulmal dan harta-harta agama lainnya. Pada tahun 1976, institusi ini kemudian diubah dengan nama Badan Harta Agama (BHA) yang mempunyai cabang hingga ke tingkat pedesaan. Namun pada tahun 1993, peranan BHA ini akhirnya diganti Badan Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah (BAZIS).
Pada saat ini, keberadaan BAZIS secara nasional dikuatkan lagi dengan dikeluarkan Undang-Undang Nomor 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dan diikuti dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 581 tahun 1999 tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 tersebut. Berdasarkan Undang-Undang ini dan Undang-Undang Nomor 18 tahun 1999 tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Provinsi Aceh, maka pada tahun 2000 Pemerintahan Aceh telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Qanun) Nomor 5 tentang Pelaksanaan Syari’at Islam. Pada pasal 14 ayat (3) peraturan ini diamanatkan bahwa pengelolaan harta-harta agama dikembalikan kepada prinsip Baitulmal dan Pemerintah Aceh berkewajiban untuk menertibkan, mengumpulkan, mengelola, mengawal, dan menggunakan kekayaan Baitulmal tersebut.
Perubahan dan penyesuaian kembali BAZIS menjadi Baitulmal seperti yang dimaksud dalam Qanun tersebut mempunyai tujuan supaya institusi zakat dapat melakukan pengelolaan zakat sesuai dengan perkembangan prinsip-prinsip zakat modern.
Oleh karena itu, diharapkan nantinya Baitulmal dapat menjadi institusi keuangan negara yang diselenggarakan oleh pemerintah dan dipergunakan untuk membiayai seluruh kepentingan umat Islam. Gagasan ini pada dasarnya berkeinginan untuk mengambil prinsip-prinsip dengan fungsi-fungsi yang pernah dijalankan institusi Baitulmal pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaurrasyidin. Secara undang-undang, gagasan ini dikuatkan lagi dengan dikeluarkan Qanun Pemerintah Aceh Nomor 7 tahun 2004 mengenai pengelolaan zakat yang telah direvisi termasuk dengan Qanun Nomor 10 Tahun 2010. Qanun ini mengatur tentang zakat secara lebih komperehensif termasuk menentukan jenis-jenis harta yang dikenakan zakat diantaranya kewajiban membayar zakat pendapatan.
Dari perkembangan institusi zakat seperti yang disebutkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa pengelolaan harta agama di Indonesia telah mengalami kemajuan yang berarti yaitu dengan telah dimilikinya berbagai undang-undang dan peraturan tentang pengelolaan zakat. Dalam konteks Provinsi Aceh pula secara khusus telah memiliki beberapa undang-undang dan peraturan tersendiri berkenaan masalah zakat ini. Walaupun institusi zakat di Aceh telah memiliki sejumlah landasan yuridis legal tentang pengelolaan zakat tersebut, namun realitasnya bahwa institusi zakat belum mampu secara
123
optimal menggugah kesadaran masyarakat untuk berzakat. Dengan perkataan lain pemberlakuan undang-undang, qanun dan peraturan lainnya itu belum mampu memberdayakan (empowerment) potensi zakat yang ada dalam masyarakat. Oleh sebab itu, sejauh ini zakat yang dikumpulkan belum mampu menunjukkan peranan yang signifikan dalam memberantas kemiskinan ummat. Realitasnya sebagian besar masyarakat Aceh masih dibelenggu kemiskinan, sampai Maret 2013 tingkat kemiskinan di Aceh masih sangat tinggi dibandingkan dengan tingkat kemiskinan secara nasional yaitu sebanyak 17,60% dibanding nasional yang hanya 11,37%.
Seharusnya dengan adanya undang-undang, qanun dan peraturan mengenai zakat tersebut telah dapat memacu institusi zakat untuk berperan lebih optimal dalam memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat penerima zakat. Namun sehingga kini pengelolaan dan perberdayaan zakat di Aceh masih saja didapati masalah, hambatan, dan tantangan yang mempengaruhi kinerja institusi zakat.
POTENSI DAN PERMASALAHAN
Pembangunan yang dilaksanakan melalui rencana pembangunan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang pada prinsipnya bertujuan untuk mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara yaitu tercapainya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
Demikian juga halnya di Aceh, saat ini pembangunan diarahkan dalam rangka pencapaian visi dan misi Pemerintah Aceh periode 2012-2017 di bawah kepemimpinan dr. Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (ZIKIR) yaitu untuk mewujudkan Aceh yang bermartabat, sejahtera, berkeadilan, dan mandiri berlandaskan Undang-Undang Pemerintahan Aceh sebagai wujud MoU Helsinki.
Untuk mencapai tujuan baik secara nasional maupun daerah tersebut, berbagai program pembangunan baik yang bersifat fisik maupun yang berkaitan dengan peraturan perundangan telah dilaksanakan seperti terus menyempurnakan berbagai perundangan yang telah ada.
Disisi lain, keberhasilan pembangunan sangatlah tergantung kepada berbagai faktor antaranya kemampuan keuangan daerah terlebih lagi pada era pelaksanaan otonomi daerah saat ini. Pemerintah daerah perlu melakukan berbagai terobosan untuk mencari sumber keuangannya sendiri sesuai dengan peraturan-peraturan dan undang-undang yang ada supaya dapat memastikan bahwa pembangunan yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Dalam hal ini, Provinsi Aceh sebagai salah satu provinsi di Indonesia pada saat ini telah diberikan wewenang oleh Pemerintah Pusat untuk menjalankan roda pemerintahan secara khusus yang disebabkan oleh berbagai pertimbangan politik, ekonomi, dan sejarah melalui pemberlakuan Undang-Undang Nomor 44 tahun 1999 tentang Pelaksanaan Syariat Islam, Undang-Undang Nomor 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus dan Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Kesemua Undang-undang tersebut telah memberikan wewenang yang lebih luas kepada Pemerintah Aceh untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya termasuk memperluas komponen sumber pendapatan daerah yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan perbelanjaan pemerintahan dan pembangunan. Diantara sumber baru sebagai komponen pendapatan daerah yang diperkenankan oleh undang-undang tersebut adalah hasil pungutan zakat.
124 Provinsi Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merupakan wilayah dengan penduduk Islam yang hampir 100 persen telah menjadikan zakat sebagai salah satu komponen penerimaan daerah disamping hasil pungutan pajak.
Sehingga upaya peningkatan pungutan zakat melalui efektifitas dan efesiensi pungutan serta perluasan sumber zakat baru telah menjadi tumpuan dalam melaksanakan pembangunan daerah akhir-akhir ini. Melihat kondisi daerah pada masa ini, sumber zakat yang sangat potensial dijadikan sebagai salah satu primadona untuk meningkatkan pungutan zakat oleh institusi formal pungutan zakat adalah bersumber dari zakat pendapatan. Hal ini disebabkan karena struktur perekonomian Aceh pada saat ini telah mulai menunjukkan peralihan dari sektor pertanian kepada sektor industri dan jasa.
Peningkatan persentase kontribusi sektor industri dan jasa terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh dalam kurun waktu sepuluh tahun kebelakangan ini lebih besar bila dibandingkan dengan kontribusi sektor pertanian. Secara persentase, kontribusi sektor industri dan jasa dari tahun 2003 sampai 2012 meningkat secara rata-rata lebih dari 16 persen pertahun, sedangkan kontribusi sektor pertanian dalam kurun waktu tersebut hanya meningkat sebesar lebih kurang 8-9 persen pertahun, walaupun secara keseluruhan jumlah sumbangan sektor pertanian masih dominan bila dibandingkan dengan sumbangan sektor lainnya terhadap PDRB Aceh. Peningkatan ini adalah sangat beralasan karena jumlah penduduk Aceh yang bekerja di sektor industri dan jasa telah naik secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir ini.
Potensi yang besar tersebut ternyata masih sangat berbanding terbalik dengan jumlah pungutan yang dapat dikumpulkan oleh Baitulmal sebagai institusi formal pungutan zakat. Walaupun jumlah zakat yang dapat dikumpulkan secara keseluruhan terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya seperti yang dipublikasi dalam laporan penerimaan dan distribusi dana zakat, infaq, dan shadaqah yaitu jumlah zakat yang dapat dikumpulkan sebanyak Rp. 1,3 milyar pada tahun 2004, turun menjadi Rp. 1 milyar pada tahun 2005, dan meningkat kembali pada tahun-tahun berikutnya menjadi sebesar Rp. 1,7 milyar pada tahun 2006, Rp. 2,8 milyar pada tahun 2007, Rp. 3,7 milyar pada tahun 2008, Rp. 7 milyar pada tahun 2009 dan sebesar Rp. 9 milyar pada tahun 2010 dan terus meningkat pada tahun 2011 dan 2012. Namun kalau dilihat jumlah pungutan zakat yang disampaikan dalam laporan penerimaan dan distribusi dana zakat, infaq, dan shadaqah, ternyata pembayaran zakat pendapatan sejauh ini hanya dominan diperoleh dari pegawai negeri sipil. Itupun tidak seluruh pegawai negeri yang dikategorikan wajib zakat pendapatan membayar melalui Baitulmal dengan berbagai alasan. Sedangkan zakat jasa dari hasil pendapatan lain seperti pegawai swasta, jasa pengangkutan, penghasilan profesi dan lain sebagainya masih sangat sedikit yang dapat dikumpulkan.
Beberapa kategori penghasilan masyarakat yang termasuk ke dalam usaha-usaha di sektor jasa yang diwajibkan untuk membayar zakat pendapatan di Provinsi Aceh adalah antara lain: 1) penghasilan dari usaha profesi. Sektor profesi ini diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan kepakaran/keahlian dan menerima imbalan dari jasa yang diberikan; 2) penghasilan dari usaha yang berkaitan dengan institusi keuangan, baik perbankan maupun non perbankan. Sektor usaha ini akan menghasilkan pendapatan berupa penghasilan jasa dalam menjalankan fungsinya sebagai institusi penyaluran pinjaman; 3) penghasilan dari usaha jasa pengangkutan. Sektor ini dimaksudkan sebagai usaha pemindahan barang atau orang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Imbalan yang diterima dari aktivitas ini baik berupa upah atau ongkos
125
dimasukkan ke dalam kategori penghasilan jasa; 4) penghasilan dari usaha jasa kontruksi dan pengadaan barang. Sektor ini akan menghasilkan keuntungan dari proyek yang dibina/dibangun atau barang yang disediakan kepada pemerintah, perusahaan atau orang perseorangan lainnya; 5) penghasilan dari usaha jasa sewa menyewa. Seseorang yang menjalankan aktivitasnya dengan menyewakan sesuatu dan mendapatkan penghasilan dari usaha tersebut; 6) penghasilan dari pendapatan gaji dan upah, baik pegawai negeri, pegawai perusahaan/swasta maupun buruh.
Sebenarnya potensi zakat yang sangat besar tersebut bukan saja dalam konteks Aceh, namun secara nasional potensi zakat sebetulnya amatlah besar. Sebagai sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan dari segi kuantitaspun merupakan jumlah umat Muslim terbanyak di dunia, maka Indonesia tentunya mempunyai potensi dana zakat yang sangat besar dan strategis. Apabila dilihat secara kumulatif dari perolehan dana zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) di seluruh Indonesia pada awal tahun 1990-an, dana ZIS yang terkumpul hanya sebesar Rp. 11 milyar, namun pada tahun 2000 meningkat kepada lebih dari Rp. 250 milyar. Sebuah jumlah yang cukup signifikan untuk melaksanakan pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
Walaupun potensi zakat demikian besar, dalam realitas yang ada sekarang perolehan zakat dari sumber zakat pendapatan masih sangat sedikit yang dapat dikumpulkan.
Padahal kewajiban terhadap zakat pendapatan telah diputuskan wajib melalui fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) Aceh sejak tahun 1983. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang antaranya berhubungan dengan kesediaan dan kepatuhan masyarakat pembayar zakat untuk membayar zakat melalui institusi formal pungutan zakat (Baitulmal). Bagi Provinsi Aceh, ketidakpatuhan para muzakki untuk membayar zakat melalui Baitulmal merupakan bocoran dari penerimaan daerah karena sumber tersebut merupakan komponen dari pendapatan asli Aceh.
Secara institusi pula, Baitulmal Aceh merupakan suatu institusi resmi yang didirikan oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 18 tahun 2003 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Baitulmal Provinsi Aceh dan selanjutnya dalam Qanun No. 7 tahun 2004 disebutkan dalam pasal 15 bahwa Baitulmal mempunyai tugas antaranya melakukan pendataan muzakki, pengumpulan zakat, pendataan mustahik, dan pengagihan zakat. Selanjutnya Qanun ini direvisi dengan Qanun No. 10 tahun 2007 tentang Baitulmal.
Institusi-institusi pengelola harta agama di Provinsi Aceh memang telah berjalan selama beberapa dekade, dengan nama yang telah berganti-ganti pula, namun eksistensinya belum dapat diandalkan secara maksimal dalam mengelola harta agama (Damanhur, 2006). Oleh karena itu, Rusjdi (2003) mengatakan bahwa untuk mencapai institusi zakat yang ideal, perlu adanya penyelesaian terhadap berbagai kendala struktur, teknologi, dan psikologis supaya dapat terwujudnya tujuan yang diharapkan. Selanjutnya, menurut Marzi (2004) terdapat beberapa kendala yang telah diidentifikasi dalam menjadikan zakat sebagai sumber pendapatan asli Aceh antaranya prestasi lembaga pengelola zakat yang rendah, pemahaman masyarakat yang sempit tentang zakat dan penegakan undang-undang zakat.
Secara umum, beberapa kendala, hambatan, dan tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan perolehan zakat termasuklah kurangnya kesadaran wajib zakat untuk menunaikan kewajibannya dan masih sempitnya pandangan masyarakat terhadap konsepsi fiqh zakat. Konsepsi fiqh zakat sangat perlu dikaji ulang karena konsepsi fiqh
126 zakat yang ada belum merangkumi segala aspek yang terjadi pada zaman modern ini seperti memperhitungkan tentang dana yang berdaya maju (seperti sektor industri dan pelayanan jasa). Pemanfaatan sistem zakat yang berdaya maju atau al Mal al Mustafad termasuk di dalamnya zakat pendapatan yang berhasil akan berkisar pada tiga persoalan, yaitu; (1) kefahaman dan keyakinan terhadap konsep zakat al Mal al Mustafad ; (2) fatwa/peraturan zakat dan (3) pemerintah/baitulmal/institusi zakat (Mujaini, 2000). Bagi institusi zakat di Indonesia paling tidak ada dua permasalahan yang sampai kini masih dihadapi, yaitu krisis kepercayaan dan profesionalisme (Nirwan, 1999).
Disamping itu, secara khusus dalam pengelolaan zakat di Aceh juga terdapat beberapa permasalahan lain yang dihadapi antaranya bahwa pemahaman masyarakat tentang zakat dapat dikatakan masih sangat rendah apabila dibandingkan dengan pemahaman mereka tentang shalat, puasa, dan kewajiban syariat lainnya, konsep fikih zakat yang dipahami dan dipelajari masyarakat pada saat ini dirasakan masih agak sempit sehingga perlu diperluas supaya sesuai dengan kondisi sosiokultural dan dinamika perkembangan perekonomian serta masih adanya kelemahan dalam aspek sumber daya manusia pengelola zakat. Permasalahan-permasalahan ini tentu pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja institusi zakat dalam upayanya untuk memaksimumkan hasil pungutan zakat berdasarkan potensi yang ada. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai langkah strategis dalam rangka meminimumkan permasalahan yang ada dan disisi lain akan mampu meningkatkan pungutan zakat sebagai penerimaan daerah yang nantinya akan dapat dipergunakan untuk percepatan pemberantasan kemiskinan di Aceh.
BUKTI EMPIRIK
Fenomena hasil pungutan zakat yang rendah bila dibandingkan dengan potensi yang ada diantaranya disebabkan karena rendahnya tahap kesediaan masyarakat untuk melakukan pembayaran melalui institusi formal pungutan zakat. Masyarakat cenderung melakukan pembayaran zakat secara langsung kepada asnaf penerima seperti kebiasaan yang telah mereka lakukan pada masa sebelum adanya peraturan atau qanun yang mewajibkan masyarakat untuk membayar zakat melalui Baitulmal. Sesuai dengan Qanun Aceh, apabila masyarakat tidak membayar atau mengelak membayar zakat melalui Baitulmal maka hal ini dapat dikatakan sebagai bocoran penerimaan pendapatan daerah karena hasil pungutan zakat telah dijadikan sebagai salah satu komponen penerimaan pendapatan daerah. Oleh karena itu, seandainya pemerintah ingin meningkatkan jumlah perolehan pendapatan daerah melalui pungutan zakat, maka perlu dijalankan berbagai strategi yang efektif di masa yang akan datang. Agar dapat menentukan strategi apa yang sesuai untuk diimplementasikan maka perlu diteliti terlebih dahulu berkenaan dengan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi tingkat kesediaan atau perilaku kepatuhan masyarakat untuk membayar zakat melalui Baitulmal.
Pembahasan mengenai perilaku kesediaan atau kepatuhan masyarakat sebetulnya merupakan hal yang sangat kompleks, karena ianya menyangkut berbagai dimensi seperti dimensi ilmu ekonomi, sosiologi, dan psikologi. Oleh karena itu, adalah sesuatu yang penting dan logik apabila diandaikan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dalam ilmu-ilmu tersebut mempengaruhi secara langsung atau tidak langsung kepada perilaku kepatuhan masyarakat untuk membayar zakat melalui Baitulmal.
Sehubungan dengan itu, maka sebelum menentukan mengenai strategi pungutan zakat terlebih dahulu dalam tulisan ini akan dibahas tentang model perilaku kepatuhan