• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKONOMI DAN PEMBANGUNAN Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EKONOMI DAN PEMBANGUNAN Jurnal"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

Akhmad Baihaqi, dkk

Evaluasi Pembiayaan Modal Kerja Koperasi dengan Mekanisme Kemitraan Koperasi – Bank (Studi Kasus Koperasi Petani Kakao – Bank Syariah Mandiri)

Diana Sapha A.H dan Edwin Faris Bassam

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan Terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Aceh

Romano dan T. Saiful Bahri

Mengelola Daerah Surplus dan Daerah Defisit Beras di Provinsi Aceh

Muhammad Insa Ansari

Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Bentuk Legislasi di Kabupaten Aceh Besar

Zulkifli

Strategi Meningkatkan Pendapatan Aceh dari Sumber Zakat: Suatu Bukti Empirik

Suriani dan Yefrizal

Analisis Valuasi Ekonomi Wisata Alam Pantai Lampuuk dengan Pendekatan Travel Cost Method

Nur Aidar dan Eri Munandar

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Sawah di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar

VOLOME: 4 NOMOR: 2 ISSN: 0852 9124: NOVMEBER 2013

PEMERINTAH ACEH

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH 2013

EKONOMI DAN PEMBANGUNAN

Jurnal

VOLUME: 4 – NOMOR: 2 – November 2013 ISSN: 0852 - 9124

(2)
(3)

[Bappeda Aceh]

[ISSN: 0852-9124]

[Vol. 4 No.2,Nov 2013]

[0651-29713] | [0651-21440] | [[email protected]]

Jurnal

Ekonomi dan Pembangunan

Akhmad Baihaqi, dkk

Evaluasi Pembiayaan Modal Kerja Koperasi dengan Mekanisme Kemitraan Koperasi – Bank (Studi Kasus Koperasi Petani Kakao – Bank Syariah Mandiri) (Cost Evaluation of Coperation Capital Work Wife Partnership Mechanism of Coperation – Bank (Case Study of Cocoa Farmer Coperation – Syariah Mandiri Bank))

Diana Sapha A.H dan Edwin Faris Bassam

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Aceh

(The Effect of Education Sector Government Expenditure on The Poverty in Aceh) Romano dan T. Saiful Bahri

Mengelola Daerah Surplus dan Daerah Defisit Beras di Provinsi Aceh (Management of Rice Surplus and Deficit in the Province of Aceh) Muhammad Insa Ansari

Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Bentuk Legislasi di Kabupaten Aceh Besar (Local Government Policy in the Form of Legislation in Aceh Besar District) Zulkifli

Strategi Meningkatkan Pendapatan Aceh dari Sumber Zakat: Suatu Bukti Empirik (Strategy to Increase Aceh’s Revenues from Zakat Sources: an Empirical Evidence) Suriani dan Yefrizal

Analisis Valuasi Ekonomi Wisata Alam Pantai Lampuuk dengan Pendekatan Travel Cost Method

(Analysis of Economic Valuation for Pantai Lampuuk Tourism with Travel Cost Method Approach)

Nur Aidar dan Eri Munandar

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Sawah di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar

(Factor Saffecting land convertion in paddy Fields at Darul imarah District Aceh Besar)

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) ACEH 2013

(4)
(5)

i

JURNAL EKONOMI PEMBANGUNAN terbit dua kali setahun pada bulan Juli dan November yang berisi tulisan hasil penelitian dan kajian analisis kritis di bidang Ekonomi Pembangunan :

Pembina : Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh

Pengarah : Mahruzal, SE

Penanggung Jawab : Ir. Alamsyah, MM

Dewan Redaksi : Prof. Dr. Drh. Tongku Nizwan Siregar, MP Prof. Dr. Ir. Hasanuddin, MP

Dr. Ir. Ema Alemina, MP drh. T. Armansyah,TR, M.Kes Pimpinan Redaksi : Ramzi, M.Si

Staf Redaksi : Bulman Rahmad

Cut Soraya Iskandar Sri Hastuti Supriatna Zaiyadi

Alamat Redaksi

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh Bidang Penelitian, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan

Subbidang Penelitian dan Pengembangan Jl. Tgk. H. M. Daud Beureueh No. 26 Banda Aceh

Telepon: (0651) 21440, 29713 Website: www.bappeda.acehprov.go.id

Email: [email protected]

(6)
(7)

ii

Syukur Alhamdulillah Kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Ridha-Nya sehingga Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Volume 4 Nomor 2 Edisi November Tahun 2013 dapat diterbitkan. Salawat dan Salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah menanamkan risalah kepada ilmuwan masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.

Penerbitan jurnal ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan dan memajukan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan informasi bagi stakeholder yang berkaitan dengan Ekonomi dan Pembangunan di berbagai sektor.

Terbitan Volume 4 Nomor 2 Tahun 2013 ini tim redaksi telah berupaya meningkatkan kualitasnya dengan melakukan perbaikan-perbaikan secara signifikan dalam hal penambahan dewan pakar, format penulisan yang lebih konsisten, judul jurnal yang lebih mudah dimengerti.

Setiap Volume berisi tujuh artikel, dan pada edisi ini yang dimuat adalah: 1) Evaluasi Pembiayaan Modal Kerja Koperasi dengan Mekanisme Kemitraan Koperasi – Bank (Studi Kasus Koperasi Petani Kakao – Bank Syariah Mandiri); 2) Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Aceh; 3) Mengelola Daerah Surplus dan Daerah Defisit Beras di Provinsi Aceh; 4) Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Bentuk Legislasi di Kabupaten Aceh Besar; 5) Strategi Meningkatkan Pendapatan Aceh dari Sumber Zakat: Suatu Bukti Empirik; 6) Analisis Valuasi Ekonomi Wisata Alam Pantai Lampuuk dengan Pendekatan Travel Cost Method; dan 7) Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Sawah di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar.

Akhirnya ucapan terima kasih kepada para penyunting ahli dan reviewer yang telah bersedia memberikan masukan demi penyempurnaan jurnal ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para penulis yang telah dimuat tulisannya. Harapan kami semoga tulisan-tulisan ilmiah yang disajikan akan memberikan tambahan pengetahuan kepada semua pembaca. Selain itu, kami juga mengundang semua pihak untuk dapat mengirimkan tulisan ilmiah untuk terbitan selanjutnya. Redaksi juga mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak dalam upaya untuk meningkatkan kualitas jurnal ini.

Redaksi

(8)
(9)

iii

DAFTAR ISI

Evaluasi Pembiayaan Modal Kerja Koperasi dengan Mekanisme Kemitraan Koperasi – Bank (Studi Kasus Koperasi Petani Kakao – Bank Syariah Mandiri)

Akhmad Baihaqi, dkk ... 72 Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan terhadap Jumlah

Penduduk Miskin di Aceh

Diana Sapha A.H dan Edwin Faris Bassam ... 79 Mengelola Daerah Surplus dan Daerah Defisit Beras di Provinsi Aceh

Romano dan T. Saiful Bahri ... 100 Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Bentuk Legislasi di Kabupaten Aceh

Besar

Muhammad Insa Ansari ... 111 Strategi Meningkatkan Pendapatan Aceh dari Sumber Zakat: Suatu Bukti

Empirik

Zulkifli ... 119 Analisis Valuasi Ekonomi Wisata Alam Pantai Lampuuk dengan Pendekatan

Travel Cost Method

Suriani dan Yefrizal ... 142 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Sawah di Kecamatan

Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar

Nur Aidar dan Eri Munandar ... 152

(10)
(11)

ISSN: 0852 -9124 Vol. 4, No.2, Nov 2013

72

EVALUASI PEMBIAYAAN MODAL KERJA KOPERASI DENGAN MEKANISME KEMITRAAN KOPERASI –

BANK (STUDI KASUS KOPERASI PETANI KAKAO – BANK SYARIAH MANDIRI)

Cost Evaluation of Coperation Capital Work Wife Partnership Mechanism of Coperation – Bank (Case Study of Cocoa

Farmer Coperation – Syariah Mandiri Bank)

Akhmad Baihaqi1, Ahmad Humam Hamid1, Yusya Abubakar1, dan Ashabul Anhar1

1Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian bertujuan mengidentifikasi kendala yang timbul dalam pelaksanaan pembiayaan dan memberikan alternatif strategi untuk mengoptimalkan pengelolaan pembiayaan modal kerja koperasi. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan sampel pengelola koperasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan lemahnya transparansi dan akuntabilitas berdampak terhadap proses pembiayaan. Strategi untuk mengoptimalkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dilakukan dengan tahapan proses: (1) Forum Group Discussion (FGD) untuk memberikan peta sosial koperasi dalam hal karakter, pengetahuan dan pola kerja, (2) Pelatihan simulasi operasi bisnis untuk meningkatkan kompetensi tata laksana usaha, (3) Pelatihan berbasis studi kasus untuk menjawab kendala yang timbul dari kegiatan usaha.

Kata kunci: koperasi, modal kerja

ABSTRACT

The research aims to identify constraints the implementation of financing and provide alternative strategies to optimize of working capital financing facilities. The study uses a survey method, sample are cooperative management. Data analysis using quantitative data and analyzed descriptively.The results showed are weak of transparency and accountability that impact to financing process. Strategies to optimize the human resources process conducted by: (1) FGD, to provide of cooperatives social maps in character, knowledge and work patterns, (2) business operation simulation training to improve the competence of business administration, (3) case study-based training to respond business activities issues of working capital.

Keywords: cooperative, working capital

PENDAHULUAN

Kakao (Theobroma cacao) merupakan salah satu komoditi perkebunan rakyat yang dapat diandalkan untuk dikembangkan selain kopi. Upaya pengembangan dan memperkuat ekonomi sektor pertanian subsektor perkebunan telah dilakukan Pemerintah Provinsi Aceh melalui program Economic Development Financing Facility (EDFF).

(12)

73

Progam yang bertujuan mengembangkan ekonomi petani dari perkebunan kakao ini masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Petani kakao di wilayah Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur umumnya masih tergolong miskin karena rendahnya pendapatan yang mereka peroleh dari tanaman kakao tersebut yaitu rata-rata 5,5 juta rupiah per ha per tahun (Actionaid Australia-Keumang, 2010 dan Actionaid Australia-Keumang, 2012). Beberapa kendala yang dihadapi dalam meningkatkan ekonomi petani adalah ketersediaan dan akses permodalan sehingga petani tidak dapat bersaing untuk mendapatkan nilai tambah harga dengan kuantitas produksi yang dimuliki. Salah satu upaya untuk memperkuat basis usaha kakao rakyat adalah dengan mengembangkan suatu pola pembiayaan modal kerja bagi organisasi (koperasi) petani kakao. Dengan dukungan dana dari Multi Donor Fund (MDF), Action Aid Australia bersama Yayasan Keumang mengembangkan suatu pola kerjasama antara koperasi primer dan koperasi sekunder dengan lembaga keuangan di 3 kabupaten, yaitu Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur untuk meningkatkan rantai nilai kakao bagi petani. Langkah untuk meningkatkan nilai tambah harga melalui kuantitas produksi, memperkuat kelembagaan koperasi dan modal kerja, dengan peranan kelembagaan dapat diciptakan daya tawar yang lebih baik dalam perdagangan komoditi kakao tersebut. Bantuan modal kerja diberikan kepada petani kakao melalui 9 unit koperasi primer, empat unit di Kabupaten Pidie, tiga unit di Kabupaten Aceh Utara, dan dua unit di Kabupaten Aceh Timur yang beranggotakan petani kakao di tiga kabupaten dengan jumlah anggota 4.500 petani. Untuk mendukung peningkatan rantai nilai pemasaran koperasi-koperasi primer membentuk 1 (satu) unit wadah bersama yaitu koperasi sekunder.Kucuran dana modal kerja diperuntukkan bagi unit usaha koperasi dalam tahap I ini untuk mendukung aktivitas jual beli biji kakao yaitu sebesar 3 milyar rupiah yang dimulai pada 14 Februari 2012-16 Agustus 2012 (6 bulan).

Masing-masing pembagian dana yaitu 200 juta rupiah untuk koperasi primer dan 1,2 milyar bagi koperasi sekunder dan ditempatkan di bank sebagai jaminan usaha (Colateral). Besarnya dukungan modal kerja koperasi sekunder bertujuan mendukung likuiditas modal kerja koperasi sekunder. Tantangan yang dihadapi oleh usaha yang baru mulai berjalan adalah kemampuan sumber daya manusia untuk mengelola keungan dan bisnis kakao. Daya saing usaha koperasi dengan para pesaing adalah tersedianya modal, pengetahuan, tanggung jawab, dan karakter sosial masyarakat turut mendukung daya ungkit koperasi untuk mencapai kesuksesan. Untuk mencapai kemandirian koperasi perlu pula dilakukan peningkatan keahlian dan monitoring yang berbasiskan kebutuhan pengelola dan anggota.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei terhadap 9 sembilan unit koperasi primer dan 1 (Satu) unit koperasi sekunder yang tersebar di Kabupaten Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner terhadap kinerja operasional koperasi dalam pengelolaan modal kerja, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai pihak yang terlibat di dalam program pembiayaan dan studi literatur lainnya. Sebaran koperasi dan lokasi penelitian disajikan pada Tabel 1.

(13)

74 Tabel 1. Lokasi dan sebaran sampel penelitian.

Lokasi Unit Kerja Koperasi

Kabupaten Pidie

Kecamatan Padang Tiji Meuguna

Kecamatan Mila, Keumala dan Sakti Beuratana

Kecamatan Tangse, Mane dan Geumpang TMG

Kecamatan Glumpang Tiga APKO

Kecamatan Glumpang Tiga Pusat Koperasi Kakao Aceh

Kabupaten Aceh Utara

Kecamatan Langkahan Ingin Maju

Kecamatan Pirak Timur, Paya Bakong, dan Grudong Pase Aneuk Ban Keumang

Kecamatan Cot Girek Pertanian CocoA

Kabupaten Aceh Timur

Kecamatan Peunaron Aceh Berkat

Kecamatan Peudawa dan Rantau Pereulak Aceh Mekar

Pengumpulan data primer pada survai ini dilaksanakan melalui kombinasi antara: 1) pengamatan lapangan (observation), diskusi terfokus (focus group discussion/FGD) dengan semua stakeholder, dan wawancara dengan responden (petani) dalam bentuk kuesioner.

Analisis data diperoleh dari hasil wawancara dengan sejumlah responden. Data yang diperoleh ditabulasi kemudian dilakukan analisis secara kuantitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Pendekatan kuantitatif deskriftif akan diperoleh hasil “pemaknaan dan penjelasan” terhadap berbagai kondisi dan fakta serta informasi yang diperoleh terkait petani kakao di lokasi penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN Skema Pembiayaan

Upaya untuk meminimalkan ketimpangan bagi petani kakao dilakukan dengan membentuk lembaga formal petani melalui pembentukan koperasi. ActionAid dan Yayasan Keumang sebagai pelaksana program membentuk tujuh koperasi primer dan meningkatkan kapasitas kelembagaan dua koperasi primer, serta satu unit koperasi sekunder sebagai induk koperasi-koperasi primer. Koperasi ini merupakan salah satu langkah meningkatkan produktivitas kelembagaan sosial yang menunjang.

Modal kerja yang disediakan oleh Multi Donor Fund (MDF) tersebut berfungsi sebagai jaminan atas pinjaman yang diambil oleh koperasi untuk membeli kakao dari petani anggotanya. Program ini MDF dalam pelaksanaannya menyediakan dana modal kerja, namun modal kerjanya tidak diberikan langsung kepada koperasi. Modal kerja ditempatkan di dalam rekening investasi terikat pada Bank Syariah Mandiri (BSM) dalam mekanisme pembiayaan syariah ini sebagai jaminan pinjaman koperasi, selanjutnya koperasi akan melakukan pinjaman ke BSM yang didukung oleh modal kerja (jaminan).

Mekanisme pembiayaan Modal Kerja tersebut diatur oleh sistem perbankan syariah.

Kerjasama pembiayaan yang dilakukan oleh koperasi-koperasi dengan lembaga keuangan (Bank Syariah Mandiri) sebesar 3 milyar rupiah (Rp 200.000.00 untuk 9 koperasi primer dan Rp 1.200.000.000,- bagi koperasi sekunder) sebagai jaminan.

Realisasi pembiayaan yang dijalankan kepada koperasi petani kakao pada tahap pertama adalah sebesar Rp 50.000.000,- untuk sembilan unit koperasi primer atau total Rp

(14)

75

450.000.000 dan Rp 600.000.000,- bagi satu unit koperasi sekunder. Alokasi kebutuhan modal kerja koperasi sekunder lebih besar sebagai upaya untuk menyokong aktivitas pembelian dari sembilan unit koperasi primer. Aktivitas operasional modal kerja koperasi tersebut dijelaskan pada Gambar 1.

Pelaksanaan dari kesepakatan pembiayaan antara koperasi dan Bank Syariah Mandiri dengan jelas mengatur sistem bagi hasil bagi debitur dan kreditur tersebut, yaitu; (a) modal kerja dipergunakan koperasi untuk membiayai modal usaha jual-beli biji kakao yang dilaksanakan oleh koperasi primer dan koperasi sekunder; (b) nilai bagi-hasil atas penyaluran pembiayaan investasi terikat kepada Koperasi sebagai pemilik dana adalah 4% per tahun; (c) nilai bagi-hasil yang diperoleh BSM atas pengelolaan investasi terikat adalah 2% per-tahun, yakni biaya administrasi ditanggung oleh BSM; (d) Nilai bonus yang diperoleh Koperasi dari Rekening Giro Syariah Mandiri adalah 0,8% flat p.a.; (e) Nilai bagi-hasil yang diperoleh Koperasi dari Rekening Tabungan Syariah Mandiri adalah 3,4% flat p.a. (f) Nilai bagi-hasil yang diperoleh dari deposito Rekening Investasi Terikat Syariah Mandiri adalah 4% flat p.a., (g) Jangka waktu untuk peminjaman tahap pertama dibatasi sampai dengan 6 (enam) bulan (Baihaqi et al., 2012).

Implementasi Pembiayaan dan Tantangan Koperasi

Kebersamaan koperasi didukung dengan tersedianya unit kerjasama yang akan mendorong usaha koperasi. Kerjasama yang dibentuk oleh koperasi-koperasi primer adalah membentuk “Pusat Koperasi Kakao Aceh” sebagai koperasi sekunder pemersatu kerjasama. (Meyer, 1994 dalam Krisnamurthi, 1998) menjelaskan “koperasi sekunder atau organisasi pemusatan bertujuan untuk mengembangkan bisnis koperasi primer, guna mewujudkan peran sebagai pengimbang dalam ekonomi pasar kapitalistik. Koperasi sekunder mengutamakan penerapan prinsip-prinsip bisnis sehubungan dengan lingkungan bisnis yang dihadapi, dan disisi lain tetap dikelola secara demokratis.

Implementasi pembiayaan bagi koperasi-koperasi dilapangan menunjukkan adanya Petani

Eksportir Pembelian Koperasi

Primer

Pembelian Penjualan Gudang/

Proses

Koperasi Sekunder Penjualan

Penbelian Gudang/

Proses

Modal wareh ousing

apital aktivitas

Kakao Gambar 1. Diagram aktivitas usaha koperasi primer dan koperasi sekunder

(15)

76 kelemahan yang umum terjadi ketika suatu usaha kecil menengah mulai beraktivitas, yaitu transparansi dan akuntabilitas keuangan dari sisi internal koperasi dan penyediaan dana cicilan pengembalian kredit kepada bank disisi eksternal koperasi. Lemahnya transparansi dan akuntabilitas keuangan ini disebabkan lemahnya kemampuan sumber daya manusia, akibat yang ditimbulkan adalah kerugian pada kegiatan awal pembelian terutama oleh koperasi-koperasi primer. Aktualisasi kinerja keuangan koperasi dalam periode awal pembiayaan dijelaskan melalui keuntungan dan kerugian disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Aktualisasi operasional pembelian dan penjualan koperasi primer dalam pembiayaan modal kerja

Dapat dijelaskan bahwa kegiatan jual beli yang dilakukan oleh sepuluh koperasi dalam masa pembiayaan yaitu, terdapat dua koperasi yang memperoleh keuntungan lebih dari 8 juta rupiah yaitu Pusat Koperasi Kakao Aceh dan Meuguna, dua koperasi memperoleh keuntungan lebih dari 1 juta rupiah yaitu APKO dan Ingin Maju, tiga koperasi membukukan keuntungan di bawah 1 juta rupiah yaitu TMG, Aceh Mekar dan Aceh Berkat, sementara itu tiga koperasi mengalami kerugian yaitu Beuratana, Cocoa dan Aneuk Ban Keumang.

Untuk menanggulangi kelemahan koperasi tersebut langkah perbaikan yang dilakukan adalah melakukan monitoring dan pendampingan bagi koperasi-koperasi. Kegiatan monitoring di lapangan membantu koperasi dalam memperbaiki kinerja keuangan sekaligus manajerial para pengelola koperasi. Secara nyata kondisi yang dialami pengelola koperasi tersebut dapat dijelaskan bahwa, walaupun telah diberikan pelatihan dibidang manajemen dan keuangan mereka belum memiliki pengalaman dalam aktivitas usaha. Melalui pendampingan pengelola koperasi dibekali kembali pengetahuan keuangan dan manajemen yang sesuai dengan kondisi lapangan yang terjadi. Kondisi lapangan tersebut antra lain: (1) modal yang dicairkan dipegang tidak hanya oleh bendahara; (2) tidak taat dan jelas pencatatan pembukuan; (3) modal tunai terlalu lama dipegang bukan oleh bendahara; (4) pengelola meminjam modal kerja untuk kepentingan

(16)

77

pribadi; (5) penaksiran harga beli tidak sesuai dengan acuan harga yang disepakati dan;

(6) fluktuasi harga pasar kakao.

Setelah dilakukan monitoring dan pelatihan pendampingan bagi keporasi, perbaikan tata kelola manajerial pengelola koperasi mampu meningkatkan kinerja operasional terutama transparansi dan akuntabilitas keuangan. Capaian kondisi tersebut mampu mendorong kemandirian koperasi dalam pengelolaan pembiayaan perbankan. Hasil capaian penggunaan modal kerja walaupun tidak signifikan memberikan keuntungan maksimal, koperasi-koperasi telah mampu membukukan saldo bersih positif pada tahap pertama pembiayaan antara koperasi dan Bank Syariah Mandiri. Kinerja keuangan koperasi dijelaskan berdasarkan jumlah saldo pada akhir tutup buku periode pertama pembiayaan seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Kinerja operasional keuangan koperasi setelah monitoring dan pendampingan Model pelatihan yang dilakukan untuk memperbaiki kinerja operasional koperasi dilakukan dalam tiga tahapan, dan di lapangan berdasarkan spesisik kendala yaitu: (1) FGD kepada pengelola (pengurus, pengawas dan manager), hasil kegiatan akan memberikan peta sosial koperasi dalam hal karakter, pengetahuan dan pola kerja. Kondisi tersebut untuk menyatukan keberagaman, “Keberagaman dan perbedaan terjadi karena fitrah manusia yang selalu ingin menunjukkan dan mempertahankan eksistensi dirinya (Sumadi T. dan Japar M., 1998 dalam Supardi, 2009); (2) Pelatihan simulasi operasi bisnis diberikan kepada manajer selaku pengelola unit usaha, selain untuk menigkatkan kompetensi tata laksana jual beli serta pengelola mampu menjalankan usaha sesuai dengan Prosedur Standar Operasional unit bisnis koperasi; (3) Pelatihan berbasis studi kasus untuk menjawab tantangan yang timbul dari kegiatan usaha, pelaksanaan pelatihan diberikan kepada pengelola keuangan untuk meningkatkan kompetensi bagi masing- masing koperasi sehingga dapat menguasai teknik pemecahan masalah yang diperlukan.

Pelatihan berbasis kompetensi difokuskan pada kinerja aktual, dengan pendekatan kompetensi peserta pelatihan diharapkan tidak sekedar tahu, tetapi juga dapat melakukan sesuatu yang harus dikerjakan (Magkuprawira, 2009).

Kendala ketepatan waktu dalam penyediaan dana cicilan pengembalian kredit kepada bank merupakan kelemahan bagi usaha bisnis yang baru berjalan, di samping masih minimnya pengalaman usaha. Mengacu kepada aspek-aspek tersebut, penerapan sistem cicilan kredit disesuaikan dengan kepentingan koperasi, kondisi ini didasari bahwa modal kerja yang terus berputar dalam aktivitas jual beli. Sehingga Model pembayaran cicilan

(17)

78 dilakukan dengan pola: (1) cicilan bagi hasil dibayarkan setiap bulan selama masa pembiayaan; (2) cicilan kredit dibayarkan sekaligus pada periode akhir pembiayaan.

Untuk meningkatkan aktiva koperasi, dilakukan penerapan pengendalian biaya operasional. Pengendalian biaya merupakan masalah penting dalam mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas bagi usaha, unsur tenaga kerja dan operasional merupakan sumber yang paling dominan dalam biaya. Untuk mengurangi biaya tersebut perlu dilakukan evaluasi biaya tenaga kerja dan overhead (Horne dan Wachowicz, 2009).

KESIMPULAN

Lemahnya kemampuan sumber daya manusia yang disebabkan beragamnya tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh para pengurus koperasi, sehingga tidak terciptanya kesamaan misi organisasi dan lemahnya transparansi pengelolaan keuangan mengakibatkan tidak tertata dengan baiknya pengelolaan pembukuan. Rendahnya akuntabilitas berakibat tidak terlaksananya standar prosedur kerja yang telah ditetapkan.

PUSTAKA

ActionAid Australia dan Keumang, 2010. Baseline Survei Sosial Ekonomi Petani Kakao di Kabupaten Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur. Banda Aceh.

ActionAid Australia dan Keumang, 2012. Enline Survei Sosial Ekonomi Petani Kakao di Kabupaten Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur. Banda Aceh.

Baihaqi, A., A. Anhar. A., Y., P. Safrizal, dan. Rudy. 2012. Standar Prosedur Operasi Untuk Pembiayaan Bagi Modal Kerja Koperasi Kakao. ActionAid Australia-Keumang. Banda Aceh.

Horne, J., C., Van and M., J, Jr. 2009. Fundamentals of Fiancial Manajemen, Buku 1 Ed 12. Salemba Empat.

Jakarta.

Supardi, 2009. Filsafat, Ilmu dan Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

(18)

79

PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH SEKTOR PENDIDIKAN TERHADAP JUMLAH

PENDUDUK MISKIN DI ACEH

The Effect of Education Sector Government Expenditure on The Poverty in Aceh

Diana Sapha A.H1 dan Edwin Faris Bassam1

1Staf Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.

Email: [email protected] dan [email protected]

ABSTRAK

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah sektor pendidikan terhadap kemiskinan kabupaten/kota di Aceh. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari tahun 2008 sampai dengan 2010. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan data panel. Untuk mengestimasi parameter model penelitian ini menggunakan pendekatan Fixed Effect Metode (FEM). Metode ini secara sederhana menggabungkan (pooled) seluruh data series dan cross section. Hasil perhitungan untuk melihat hubungan antara pengeluaran pemerintah sektor pendidikan terhadap kemiskinan jika pemerintah menambah pengeluaran pemerintah, maka tingkat kemiskinan akan meningkat, jadi pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan belum mampu menurunkan tingkat kemiskinan di Aceh. Hendaknya pengeluaran pemerintah harus dipastikan efisiensi dan efektivitas penggunaannya sampai pada sasaran terutama masyarakat yang kurang mampu.

Kata kunci : pengeluaran pemerintah, pendidikan dan kemiskinan

ABSTRACT

The purpose of this research was to determine the effect of the education sector government expenditureon poverty districts/cities in Aceh. The data was used in this study is a secondary data from 2008 to 2010. This study used quantitative research methods using panel data. To estimate the parameters of our model using Fixed Effect approach method (FEM). This method simply combines (pooled) the entire data series and cross section.

Calculation results for the relationship between government spending on education sector to the poverty in Aceh if the government increases government spending, poverty levels will increase, so the government spending in the education sector has not been able to reduce the level of poverty in Aceh. Hopefully government spending must be ensured the efficiency and effectiveness of its use until the targeted specially the poor.

Keywords : government expenditure, education and poverty

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

Pembangunan merupakan syarat mutlak bagi kelangsungan hidup suatu negara.

Menciptakan pembangunan yang berkesinambungan adalah hal penting yang harus dilakukan oleh sebuah negara dengan tujuan untuk menciptakan kondisi bagi masyarakat untuk dapat menikmati lingkungan yang menunjang bagi hidup sehat, umur panjang dan menjalankan kehidupan yang produktif. Dalam era globalisasi ini peranan pemerintah untuk

(19)

80 melakukan pembangunan ekonomi merupakan kunci untuk menuju masyarakat yang lebih makmur, karena itu peranan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia harus benar-benar aktif dan positif.

Suatu kegiatan ekonomi akan optimal jika terdapat aktifitas pemerintah di dalamnya.

Pemerintah dapat menjadi pelaku kegiatan ekonomi yang memacu produksi dan konsumsi. Pihak swasta biasanya mengalokasikan sumber daya yang dimiliki melalui mekanisme pasar, jika sistem pasar benar-benar efisien di dalam mengalokasikan sumber daya, maka peranan pemerintah terbatas, salah satunya ketika terjadi kegagalan dalam private market (Samuelson dan Nordhaus, 2005).

Pemerintah akan masuk dan menyelesaikan permasalahan kegagalan pasar jika pihak swasta dan individu-individu tidak bersedia memperbaiki keadaan dan mengeluarkan biaya. Pemerintah dapat melalukan dua jenis kebijakan yaitu kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Kebijakan moneter merupakan kebijakan pemerintah dalam mempengaruhi tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar. Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah melalui pengeluaran pemerintah. Pengeluaran pemerintah mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pemerintah melalui instrumen kebijakan dapat menyelamatkan keadaan ketika perekonomian mengalami kelesuan akibat adanya resesi ekonomi.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengembangan SDM (Todaro, 2006). Disejumlah negara sedang berkembang pendidikan telah mengambil bagian terbesar dari anggaran pemerintahnya. Usaha-usaha untuk menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi pendidikan sekolah dasar telah menjadi prioritas dasar dari setiap pembangunan di negara-negara tersebut, namun kendati kerugian-kerugian yang secara kuantitatif mengesankan untuk tingkat pendaftaran sekolah dasar (SD), tingkat melek huruf tetap sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara maju.

Tujuan pembangunan dibidang pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pendidikan maka diharapkan SDM di negara dan di daerah tersebut meningkat, namun pembangunan sangat dipengaruhi oleh aspek pengelolaan, baik di tingkat makro maupun mikro. Sistem pengelolaan yang efisien lebih menjamin terlaksananya program-program dan tercapainya pembangunan pendidikan secara efektif dan efisien maka sistem ini perlu terus diperbaiki dan disempurnakan.

Faktor lain (Susanti dkk, 1995:111) yang juga tidak kalah pentingnya adalah dana yang dikeluarkan pemerintah untuk pembangunan pendidikan ini. Seiring dengan adanya pendapatan perkapita, kemampuan masyarakat untuk membiayai pendidikan menjadi lebih tinggi, sehingga permintaan akan jenjang pendidikan akan meningkat dan waktu sekolah pun akan menjadi lebih lama. Pendidikan bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas menurut Todaro (2006) tingkat pendidikan secara umum dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, yang hampir seluruh jasa dan fasilitas pendidikan disediakan oleh pemerintah yang berarti sisi penawaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan dapat dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah sektor pendidikan.

(20)

81

Sumber: DJPK, Depkeu 2011, Diolah

Gambar 1.1. Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan Daerah per Kabupaten/Kota Tahun 2007 – 2010

Berdasarkan Gambar 1.1 selama tahun 2007 hingga 2010 proporsi pengeluaran pemerintah atas pendidikan berubah-ubah di setiap kabupaten/kota. Pada kabupaten/kota seperti Bener Meriah, Subusalam, Pidie Jaya, Nagan Raya, Singkil, dan Pidie data untuk tahun 2007 belum tersedia. Kabupaten/kota yang proporsi pengeluaran pemerintah terendah tahun 2007 adalah Kabupaten Simeuleu sebesar Rp. 27,9 milliar dan tertinggi adalah Kabupaten Aceh Utara dengan Rp. 268,1 milliar. Sementara untuk tahun 2008 untuk terendah tetap Kabupaten Simeuleu dengan Rp. 27,9 milliar dan untuk yang tertinggi masih tetap Kabupaten Aceh Utara dengan Rp. 373,4 milliar Untuk tahun 2009- 2010 proporsi pengeluaran pemerintah terendah yaitu Kota Subussalam dengan Rp. 47,2 milliar pada tahun 2009 dan Rp. 46,1 milliar pada tahun 2010. Dan tahun 2009-2010 yang tertinggi tetap Kabupaten Aceh Utara dengan Rp.344 milliar pada tahun 2009 dan pada tahun 2010 sebesar Rp. 288,8 milliar dapat dilihat pada gambar 1 pada tahun 2007- 2010 Kabupaten Aceh Utara masih dengan posisi yang tertinggi pada proporsi pengeluaran pemerintah sektor pendidikan Aceh (DJPK, 2011).

Sumber daya manusia sangatlah penting untuk negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia umumnya dan Aceh khususnya. Ini di karenakan negara yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas akan membangun bangsanya dan daerahnya untuk menjadi suatu negara dan daerah yang maju yang memiliki penduduk yang cerdas dan cakap dalam membangun daerahnya. Maka sumber daya manusia sangat perlu di tingkatkan untuk mendapatkan cita-cita daerah itu sendiri.

(21)

82 Selain itu kemiskinan merupakan salah satu masalah penting yang dihadapi pemerintah yang mempengaruhi pembangunan manusia di Aceh. Tingkat kemiskinan yang tinggi membuat individu tidak mempunyai alokasi dana dalam rangka memenuhi kebutuhan dasarnya salah satunya yang berhubungan dengan proses pembangunan manusia. Masalah kemiskinan merupakan hal penting yang perlu ditangani pemerintah daerah Aceh.

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00

2008 2009 2010

Sumber: BPS 2011, Diolah

Gambar 1.2. Jumlah Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota 2008-2010 (dalam ribuan jiwa) Menurut Gambar 1.2 jumlah penduduk miskin Di Aceh yang terbesar adalah di daerah Kabupaten Aceh Utara sangatlah tinggi apabila dibandingkan dengan daerah di kabupaten/kota pada tahun 2008 dengan jumlah penduduk 135,7 ribu jiwa dan semakin menurun dengan jumlah penduduk 124,40 ribu jiwa tahun 2010. Lalu penduduk miskin terendah terdapat pada Kota Sabang jumlah penduduk miskin 7,14 ribu jiwa dan menurun pada tahun 2010 sebesar 6,60 ribu jiwa. Dalam kurun waktu antara tahun 2008 sampai 2010 tingkat kemiskinan Aceh cenderung turun pada tahun berikutnya (BPS, 2011).

Berdasarkan latar belakang di atas menarik untuk dibahas mengenai pengaruh pengeluaran pemerintah sektor pendidikan terhadap pengaruh kemiskinan pada periode tahun 2008-2010.

Perumusan Masalah

Pengeluaran pemerintah memiliki hubungan yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi, terutama jenis pengeluaran pemerintah yang menyangkut pencapaian kesejahteraan masyarakat. Pengeluaran tersebut adalah pengeluaran atas pendidikan. Sektor tersebut merupakan sektor yang sangat penting bagi proses pembangunan. Pendidikan merupakan

(22)

83

upaya dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas dalam memberikan kontribusi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga dengan meningkatnya SDM maka akan mengurangi kemiskinan. Dengan demikian yang menjadi permasalahan adalah bagaimana pengaruh pengeluaran pemerintah sektor pendidikan terhadap kemiskinan di Aceh.

Tujuan Penelitian

Penulisan ini mempunyai tujuan untuk mengetahui Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan Terhadap Kemiskinan di Aceh. Kegunaan Penelitian: a) Melihat pengaruh pengeluaran pemerintah atas sektor pendidikan terhadap kemiskinan di Aceh sehingga bisa menjadi masukan dalam perumusan kebijakan penganggaran; b) Hasil penelitian ini diharapkan sebagai tambahan informasi bagi pembaca tentang kebijakan belanja publik oleh pemerintah.

Kerangka Teoritis dan Konsepsi Pengertian Pengeluaran Pemerintah

Menurut kamus lengkap ekonomi (Pass dan Lowes, 1994:268-269) pengeluaran pemerintah (government expenditure) adalah pengeluaran dan investasi (investment) dari pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan barang-barang sosial (social goods) dan jasa-jasa (kesehatan, pendidikan, pertahanan/keamanan, jalan raya, dan lain sebagainya), memasarkan barang dan jasa (batu bara, jasa pos, dan lain sebagainya) dan biaya sosial untuk pengangguran, pensiunan, dan lain sebagainya (transfer payment) dalam model arus sirkulasi pendapatan (circular flow of income payment), transfer payment tidak dimasukkan dalam pengeluaran pemerintah karena pengeluaran ini tidak produktif yang hanya berupa pemindahan penerimaan pajak dari suatu rumah tangga ke rumah tangga lainnya.

Dalam rangka mencapai kondisi masyarakat yang sejahtera pemerintah menjalankan berbagai macam program pembangunan ekonomi, aktivitas pemerintah dalam melakukan pembangunan membutuhkan dana yang cukup besar, pengeluaran pemerintah mencerminkan kombinasi produk yang dihasilkan untuk menyediakan barang publik dan pelayanan kepada masyarakat yang memuat pilihan atas keputusan yang dibuat oleh pemerintah. Dalam kebijakan fiskal dikenal ada beberapa kebijakan anggaran yaitu anggaran berimbang, anggaran surplus, dan anggaran defisit. Menurut Mangkoesoebroto (dalam Abdul Aziz, 2010) anggaran surplus digunakan jika pemerintah ingin mengatasi masalah inflasi. Sedangkan anggaran defisit digunakan jika pemerintah ingin mengatasi masalah pengangguran dan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Jika pemerintah merencanakan peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi angka pengangguran maka pemerintah dapat meningkatkan pengeluarannya.

Teori Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah. Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan kebijakan tersebut (Guritno, 1993). Dasar teori pengeluaran pemerintah adalah identitas keseimbangan pendapatan nasional (Y= C+I+G+(X-M)) dimana Y mengambarkan pendapatan nasional sekaligus penawaran agregat, permintaan agregat digambarkan pada persamaan C+I+G+(X-M) dimana G merupakan pengeluran pemerintah yang merupakan bentuk dari campur tangan pemerintah dalam perekonomian.

Kenaikan atau penurunan pengeluaran pemerintah akan menaikkan atau menurunkan pendapatan nasional. Pemerintah tidak cukup hanya meraih tujuan akhir dari setiap kebijaksanaan pengeluarannya, tetapi juga harus memperhitungkan sasaran antara yang

(23)

84 akan menikmati atau terkena kebijaksanaan tersebut. Pemerintah pun perlu menghindari agar peningkatan perannya dalam perekonomian tidak justru melemahkan kegiatan swasta (Dumairy, 1997).

Pemerintah sebagai pemegang peran penting dalam setiap hajat hidup masyarakat Indonesia perlu melakukan kajian yang mendalam dalam setiap kebijakannya agar setiap output yang dihasilkan dan diharapkan dapat tepat sasaran dan memberikan pengaruh nyata terhadap masyarakat. Kebijakan yang tidak tepat sasaran melalui kebijakan alokasi dana tiap sektor yang menyangkut kebutuhan masyarakat luas seharusnya perlu diberikan porsi lebih dalam alokasi anggaran pemerintah, kebijakan pemerintah menyangkut sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial adalah beberapa contoh diantaranya yang perlu diberikan perhatian lebih, hal ini dikarenakan pada sector-sektor tersebutlah masyarakat dapat merasakan secara langsung dampak dari kebijakan pemerintah yang diambil.

Beberapa alasan yang dapat dikemukakan adalah bahwa sector-sektor tersebut dapat menjadi acuan dan gambaran dari pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang dimaksud disini bukanlah pertumbuhan ekonomi secara statistik saja, namun pertumbuhan ekonomi yang juga memberikan kontribusi langsung terhadap masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di Indonesia selama ini tidak menyentuh secara langsung ke lapisan masyarakat golongan ekonomi lemah, karena pertumbuhan ekonomi yang secara statistik diungkapkan oleh pemerintah tidak mencerminkan gambaran secara langsung kondisi sosial dalam masyarakat. Ditengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu dalam angka positif terdapat tingkat pengangguran yang tidak berkurang secara signifikan demikian pula pada sektor yang menyangkut kebutuhan publik lainnya seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial yang masih belum memadai, hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi hanya dipacu oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Klasifikasi Pengeluaran Pemerintah

Menurut Suparmoko (1994) pengeluaran pemerintah dapat dinilai dari berbagai segi sehingga dapat dibedakan menjadi empat klasifikasi sebagai berikut: a) pengeluaran pemerintah merupakan investasi untuk menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi di masa yang akan datang; b) pengeluaran pemeritah langsung memberikan kesejahteraan bagi masyarakat; c) pengeluaran pemerintah merupakan pengeluaran yang akan datang;

d) pengeluaran pemerintah merupakan sarana penyedia kesempatan kerja yang lebih banyak dan penyebaran daya beli yang lebih luas.

Oleh karena itu pengeluran pemerintah dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yaitu sebagai berikut :a) pengeluaran yang self liquiditing sebagian atau seluruhnya, artinya pengeluaran pemerintah mendapatkan pembayaran kembali dari masyarakat yang menerima jasa atau barang yang bersangkutan. Contohnya, pengeluaran untuk jasa negara pengeluaran untuk jasa-jasa perusahaan pemerintah atau untuk proyek–proyek produktif barang ekspor; b) pengeluaran yang reproduktif, artinya mewujudkan keuntungan- keuntungan ekonomis bagi masyarakat, dengan naiknya tingkat penghasilan dan sasaran pajak yang lain pada akhirnya akan meningkatkan penerimaan pemerintah. Misalnya, pemerintah menetapkan pajak progresif sehingga timbul redistribusi pendapatan untuk pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat; c) pengeluaran yang tidak self liquiditing maupun yang tidak produktif, yaitu pengeluaran yang langsung menambah kegembiraan

(24)

85

dan kesejahteraan masyarakat. Misalnya, untuk bidang rekreasi, objek-objek pariwisata dan sebagainya. Sehingga hal ini dapat juga menaikkan penghasilan dalam kaitannya jasa-jasa tadi; d) pengeluaran yang secara langsung tidak produktif dan merupakan pemborosan, misalnya untuk pembiayaan pertahanan atau perang meskipun pada saat pengeluaran terjadi penghasilan yang menerimanya akan naik; e) pengeluaran yang merupakan penghematan di masa yang akan datang. Misalnya pengeluaran untuk anak- anak yatim piatu. Jika hal ini tidak dijalankan sekarang, kebutuhan-kebutuhan pemeliharaan bagi mereka di masa yang akan datang pasti akan lebih besar.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pengeluaran pemerintah Indonesia secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yaitu pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin pada dasarnya berunsurkan pos-pos pengeluaran untuk membiayai pelaksanaan roda pemerintahan sehari-hari meliputi belanja pegawai, belanja barang: berbagai macam subsidi (subsidi daerah dan subsidi harga barang); angsuran dan utang pemerintah; serta jumlah pengeluran lain. Sedangkan pengeluaran pembangunan maksudnya adalah pengeluaran yang bersifat menambah modal masyarakat dalam bentuk prasarana fisik, yang dibedakan atas pembangunan yang dibiayai dengan dana rupiah dan bantuan proyek. Pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan mempunyai batasan yang tidak jelas. Sebagai contoh, berbagai macam upah dan gaji tambahan yang menurut logika awam termasuk pengeluaran rutin oleh pemerintah digolongkan sebagai pengeluaran pembangunan.

Pengeluaran pemerintah juga dapat dibedakan menurut berbagai macam klasifikasi sebagai berikut: (1) pembedaan antara Pengeluaran atau Belanja Rutin dan Pengeluaran atau Belanja Pembangunan: a) belanja rutin adalah belanja untuk pemeliharaan atau penyelenggaraan pemrintah sehari-hari. Belanja rutin terdiri atas Belanja Pegawai, yaitu untuk pembayaran gaji atau upah pegawai termasuk gaji pokok dengan segala macam tunjangan. Belanja barang yaitu untuk pembelian barang-barang yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintah sehari-hari. Belanja pemeliharaan yaitu pengeluaran untuk memelihara agar milik atau kekayaan pemerintah tetap terpelihara secara baik. Belanja perjalanan yaitu untuk perjalanan kepentingan penyelenggaraan pemerintahan; b) belanja pembangunan adalah pengeluaran untuk pembangunan baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik spiritual. (2) pembedaan antara current account atau current expenditure dengan capital expenditure atau capital account; a) Current expenditure atau current budget (anggaran rutin), yaitu anggaran untuk penyelenggaraan pemerintah sehari-hari, termasuk belanja pegawai dan belanja barang serta belanja pemeliharaan; b) Capital expenditure atau capital budget (belanja pembangunan), yaitu rencana untuk pembelian capital (tetap). (3) pembedaan Obligatory Expenditure dengan Optional Expenditure antara Real Expenditure dengan Transfer Expenditure dan antara Liquidated Expenditure dengan Cash Expenditure; a) Obligatory Expenditure atau pengeluaran wajib adalah pengeluaran yang bersifat wajib harus dilakukan agar efektifitas pelaksanaan pemerintah dapat terselenggara sebaik-baiknya; b) Optional Expenditure atau pengeluaran opsional adalah pengeluaran yang dilakukan pada saat tiba-tiba dibutuhkan; c) Real Expenditure atau pengeluaran nyata adalah pengeluaran untuk membeli barang dan jasa; d) Liquidated Expenditure adalah pengeluaran sebagaimana

(25)

86 yang sudah diajukan dan disetujui oleh DPR. Semula dalam RAPBN setelah mendapat pengesahan menjadi APBN; e) Transfer Expenditure adalah pengeluaran yang tidak ada kaitannya dengan mendapatkan barang dan jasa, jadi tidak ada direct quid pro quo; f) Cash Expenditure adalah pengeluaran yang telah sungguh-sungguh dilaksanakan berupa pembayaranpembayaran konkrit.

Alokasi Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan

Secara filosofis pelayanan sektor pendidikan merupakan salah satu alasan dan tujuan dibentuknya negara, dengan demikian negara sebagai pemegang mandat dari rakyat bertanggungjawab untuk menyelenggarakan pelayanan pendidikan sebagai usaha pemenuhan hak-hak dasar rakyat. Dalam hal ini, posisi negara adalah sebagai pelayan rakyat (public servant) dan pemberi layanan. Sementara rakyat memiliki hak atas pelayanan sektor pendidikan negara karena sudah memenuhi kewajibannya sebagai warga negara, seperti membayar pajak (langsung maupun tidak langsung) dan terlibat dalam pengawasan dan partisipasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 negara ini menegaskan bahwa salah satu tujuan didirikan negara Indonesia adalah mencerdaskan seluruh rakyat. Cara yang digunakan untuk mencapainya dengan memanfaatkan institusi pendidikan seperti sekolah atau perguruan tinggi. Melalui institusi tersebut negara diberi kewajiban untuk membuka akses bagi semua anggota masyarakat agar memperoleh layanan pendidikan bermutu.

Sadar akan kewajiban tersebut, negara menaruh perhatian khusus untuk bidang pendidikan. Hal ini terlihat dalam konstitusi negara RI pasal 31 UUD 1945; UU No 20 tahun 2003 Tentang Sisdiknas (pasal 49 ayat 4) yang menyatakan alokasi anggaran pendidikan minimal sebesar 20 % dari APBN/APBD. Bahkan, pada pasal 182 ayat 3 UU No 11 Tentang Pemerintahan Aceh, alokasi dana pendidikan paling sedikit 30 % dari APBA.

Keterkaitan antara UUPA dengan Kebijakan-kebijakan lain sebagaiman tersebut tercermin dalam UUPA pasal 215, pendidikan yang diselenggarakan di Aceh merupakan satu kesatuan dengan sistem pendidikan nasional serta disesuaikan dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada butir pertama dari Pasal 217 disebutkan pula bahwa penduduk Aceh yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Terkait dengan disahkannya UU-PA, kemudian memiliki konsekuensi hukum terhadap perubahan dan penyempurnaan qanun tentang penyelenggaraan pendidikan di Provinsi Aceh yang sebelumnya telah dituangkan dalam Qanun No 23 Tahun 2002 Pemerintah dan pemerintah daerah diwajibkan memberi layanan dan kemudahan, serta menjamin pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa ada diskriminasi.

Karenanya, pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. Kedua aturan tersebut dengan jelas menerangkan bahwa mutu dan bebas biaya dalam pelayanan pendidikan menjadi satu bagian. Artinya, selain harus membiayai seluruh kegiatan operasional pendidikan, pemerintahpun bertanggungjawab dalam peningkatan mutu guru, ketersediaan buku ajar, serta peralatan dan perlengkapan belajar mengajar.

Upaya pemerintah dalam membangun dunia pendidikan tergambar pada program wajib belajar yang harus tuntas tahun 2008, program bantuan operasional sekolah (BOS),

(26)

87

program perbaikan saran sekolah yang rusak dan lain-lain. Namun usaha tersebut belum dapat memberi angin segar bagi dunia pendidikan. Ini terlihat dari informasi media tentang penyimpangan dana pendidikan.

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah atas Pendidikan

Teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang saat ini didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan atau disebut juga investment in human capital. Hal ini berarti peningkatan kemampuan masyarakat menjadi suatu tumpuan yang paling efisien dalam melakukan pembangunan di suatu wilayah. Asumsi yang digunakan dalam teori human capital adalah bahwa pendidikan formal merupakan faktor yang dominan untuk menghasilkan masyarakat berproduktivitas tinggi. Teori human capital dapat diaplikasikan dengan syarat adanya sumber teknologi tinggi secara efisien dan adanya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada.

Teori ini percaya bahwa investasi dalam hal pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat.

Investasi dalam hal pendidikan mutlak dibutuhkan maka pemerintah harus dapat membangun suatu sarana dan sistem pendidikan yang baik. Alokasi anggaran pengeluaran pemerintah terhadap pendidikan merupakan wujud nyata dari investasi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Pengeluaran pembangunan pada sektor pembangunan dapat dialokasikan untuk penyediaan infrastruktur pendidikan dan menyelenggarakan pelayanan pendidikan kepada seluruh penduduk Indonesia secara merata. Anggaran pendidikan sebesar 20 persen merupakan wujud realisasi pemerintah untuk meningkatkan pendidikan.

Menurut E.Setiawan (2006) implikasi dari pembangunan dalam pendidikan adalah kehidupan manusia akan semakin berkualitas. Dalam kaitannya dengan perekonomian secara umum (nasional) semakin tinggi kualitas hidup suatu bangsa, semakin tinggi tingkat pertumbuhan dan kesejahteraan bangsa tersebut. Semakin tinggi kualitas hidup/investasi sumber daya manusia yang kualitas tinggi akan berimplikasi juga terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi nasional.

Kemiskinan

Kemiskinan menurut Mudrajad Kuncoro (2000) adalah ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Permasalahan standar hidup yang rendah berkaitan pula dengan jumlah pendapatan yang sedikit (kemiskinan), perumahan yang kurang layak, kesehatan dan pelayanan kesehatan yang buruk, tingkat pendidikan masyarakat yang rendah sehingga berakibat pada rendahnya sumber daya manusia dan banyaknya pengangguran. Tingkat standar hidup dalam suatu negara bisa diukur dari beberapa indikator antara lain Gross National Product (GNP) per capita, pertumbuhan relatif nasional dan pendapatan per kapita, distribusi pendapatan nasional, tingkat kemiskinan, dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Menurut Todaro (2000), besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan (poverty line). Konsep yang mengacu kepada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolut, sedangkan konsep yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif.

Kemiskinan absolut adalah derajat kemiskinan di bawah, yaitu kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat terpenuhi. Ini adalah suatu ukuran tetap (tidak berubah) di dalam bentuk suatu kebutuhan kalori minimum ditambah komponen-

(27)

88 komponen non makanan yang juga sangat diperlukan untuk survive. Sedangkan kemiskinan relative adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam distribusi pendapatan, biasanya dapat didefinisikan di dalam kaitannya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud. Mengutip pendapat Nurske, Jhingan (2000) dan Mudrajad Kuncoro (2003) menyatakan bahwa negara/ daerah yang tingkat kemiskinannya tinggi, umumnya terjerat ke dalam apa yang disebut lingkaran kemiskinan (vicious circle).

Nurske menjelaskan bahwa lingkaran kemiskinan mengandung arti deretan melingkar kekuatan-kekuatan yang satu sama lain berinteraksi sedemikian rupa sehingga menempatkan suatu negara daerah yang tingkat kemiskinannya tinggi tetap berada dalam keadaan terbelakang. Menurut Nurske kemiskinan adalah sebab sekaligus akibat.

Pengentasan kemiskinan yang terkenal di banyak negara berkembang sekarang secara eksplisit mengintegrasikan insentif untuk pengembangan modal manusia berupa kesehatan dan pendidikan di antara keluarga-keluarga berpendapatan rendah.

Hubungan antara Pendidikan dan Kemiskinan

Ada dua alasan ekonomi mendasar yang memaksa kita percaya bahwa sistem pendidikan di banyak negara berkembang pada dasar tidak memperhatikan aspek pemerataan (equality), dalam arti anak-anak dari keluarga miskin tidak dibantu sedikit pun untuk meningkatkan kesempatannya yang sangat terbatas itu dalam memperoleh dan menyelesaikan program pendidikan pada segala tingkatan, apalagi jika kesempatan mereka itu dibandingkan dengan kesempatan anak dari keluarga-keluarga kaya (Todaro):

(1) biaya-biaya individual untuk menempuh sekolah dasar (terutama bila dipandang dari biaya oportunitis tenaga kerja seorang anak dari keluarga miskin) secara relatif jauh lebih tinggi bagi anak-anak orang miskin daripada biaya-biaya yang harus dipikul oleh anak- anak dari keluarga kaya; (2) manfaat yang diharapkan dari pendidikan sekolah dasar bagi anak-anak dari keluarga miskin justru lebih rendah. Dengan demikian, adanya biaya yang lebih tinggi yang dibarengi dengan manfaat yang lebih rendah menunjukkan “tingkat pengembalian” (rate of returns) investasi pendidikan seorang anak dari keluarga miskin begitu terbatas, sehingga kemungkinan besar ia akan mengalami putus sekolah pada awal tahun pendidikannya.

Selanjutnya, mari kita lihat lagi alasan-alasan yang menyebabkan biaya-biaya tersebut relatif tinggi, sedangkan manfaatnya justru lebih rendah bagi anak-anak dari keluarga miskin. Tingginya biaya oportunitas tenaga kerja yang harus ditanggung keluarga miskin jika anaknya bersekolah. Program wajib belajar yang menyediakan bangku secara cuma- cuma memang tidak membebankan biaya moneter atau pungutan uang. Akan tetapi, bagi keluarga-keluarga miskin pendidikan tidak pernah cuma-cuma. Anak-anak yang telah mencapai usia sekolah dasar umumnya diperlukan tenaganya di lahan pertanian keluarga, atau sekedar membantu menjajakan dagangan. Jika waktu yang sediannya digunakan untuk bekerja (sehingga menghasilkan sejumlah pemasukan bagi keluarga digunakan untuk bersekolah, maka pihak keluarga tentu saja menanggung kerugian yang kita kenal dengan istilah biaya oportunitas (opportunity cost). Kerugian itu muncul karena keluarga yang bersangkutan harus kehilangan input tenaga kerja berharga yang sangat diperlukannya; jika fungsi yang sedianya dijalankan sang anak itu penting, maka keluarga tadi terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk memperkerjakan orang lain guna mengantikan si anak. Biaya ini diluar biaya atau pengeluaran yang nyata seperti uang sekolah, ongkos transport, ongkos pembuatan baju seragam, dan sebagainya. Biaya oportunitas ini tidak masalah bagi keluarga yang berpendapatan lebih tinggi yang

(28)

89

kebanyakan tinggal di daerah perkotaan, Karena mereka memang sama sekali tidak mengharapkan bantuan tenaga si anak.

Sebagai biaya oportunitas yang lebih tinggi, kehadiran dan prestasi sekolah cenderung lebih rendah bagi anak-anak keluarga miskin bila dibandingkan dengan keluarga yang berpendapatan lebih tinggi. Dengan demikian, walaupun di banyak negara berkembang mudah dijumpai adanya pendidikan sekolah dasar yang bebas biaya, namun anak-anak dari keluarga miskin, terutama anak-anak dari daerah pedesaan, jarang yang melanjutkan pendidikan mereka hingga tamat. Pada akhirnya, jika pembenahan nasib anak-anak miskin tersebut tidak segera dilakukan, akan tercipta suatu sistem pendidikan yang seleksi dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan lebih lanjut hanya didasari pada tinggi-rendahnya tingkat pendapatan keluarga.

Ketimpangan sistem pendidikan di negara-negara tersebut lebih mencolok pada pendidikan tingkat universitas, yang sebagian atau seluruh biayanya (termasuk uang saku para mahasiswa) disubsidi oleh pemerintah. Mengingat sebagian besar mahasiswa universitas berasal dari golongan berpendapatan tinggi (karena telah diseleksi sewaktu di tingkat sekolah lanjutan), pendidikan universitas yang biaya-biayanya seringkali disubsidi dengan menggunakan uang pajak yang bersumber dari masyarakat luas itu pada akhirnya justru hanya akan dinikmati oleh mereka yang berasal dari keluarga yang relatif makmur. Dengan demikian, akan tercipta suatu proses yang sangat ironis serta menyedihkan, yakni “transfer payment” dari golongan miskin kepada golongan kaya yang berlangsung melalui program pendidikan tinggi yang gratis.

Investasi publik di bidang pendidikan akan memberikan kesempatan pendidikan yang lebih merata kepada masyarakat sehingga sumber daya manusia (SDM) handal semakin bertambah. Meningkatnya pendidikan akan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan produktivitas tenaga kerja, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian diharapkan kondisi ini akan memajukan perekonomian masyarakat dengan bertambahnya kesempatan kerjaserta berkurangnya kemiskinan (Widodo dkk, 2011)

Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian mengenai pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun internasional telah banyak dilakukan, antara lain:

Tabel 1. Penelitian Sebelumnya

Nama dan Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Analisis Pengaruh Sektor

Publik di Kabupaten/Kota Pada Provinsi Jawa Tengah Terhadap Pengentasan Kemiskinan Melalui Peningkatan Pembangunan Manusia.

Ari Widodo, 2010

Moderated Regression Analysis (MRA) dan analisis Jalur (Path Analysis) menganalisis IPM dalam kaitannya dengan hubungan antar pengeluaran sektor publik terhadap kemiskinan pada pemerintah

Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

IPM berperan sebagai variabel pure moderating dan juga sebagai variabel intervening dalam kaitannya dengan hubungan antara pengeluaran pemerintah sektor publik tidak berpengaruh langsung terhadap IPM maupun kemiskinan.

Pengeluaran pemerintah sektor publik tidak bisa berdiri sendiri sebagai variabel independen dalam mempengaruhi kemiskinan.

(29)

90 Nama dan Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

Peranan Pengeluaran Pemerintah Dalam Pertumbuhan Ekonomi di Era Orde Baru dan Era Reformasi.

Budi Indrawati, 2007

Model Keynes yaitu persamaan identitas atau disebut identitas pos pendapatan nasional (national income accounts identity

Dengan naiknya PDB maka pertumbuhan ekonomi meningkat, mengindikasikan bahwa naiknya kegiatan ekonomi nasional berarti meningkatnya kegiatan program- program pemerintah seperti dibidang tenaga kerja yaitu menambah lapangan pekerjaan, bidang kesehatan, pendidikan SDM dan lainnya.

Dampak Investasi Pendidikan Terhadap Perekonomian Dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Dan Kota Di Jawa Tengah.

Niken Sulistyowati, 2010

Model sistem persamaan simultan (simultaneous equaction model) dan metode pendugaan model menggunakan Two Stage Least Squares (2SLS).

Peningkatan investasi pendidikan menyebabkan pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan penurunan ketimpangan pendapatan (tidak terjadi trade off antara pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan pendapatan).

Implikasinya: Strategi

pembangunan yang

mengedepankan peningkatan kualitas SDM dapat dijadikan sebagai salah satu strategi dalam model pembangunan daerah di Indonesia.

Faktor-Faktor Penentu Tingkat Kemiskinan Regional Di Indonesia.

Samsubar Saleh, 2002

model estimasi

dengan menggunakan data cross section

sedangkan model (2) merupakan model estimasi dengan menggunakan data panel

Berdasarkan hasil-hasil empirik dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan per propinsi di Indonesia adalah indeks pembangunan manusia (terdiri dari pendapatan perkapita, angka harapan hidup, rata-rata bersekolah), investasi fisik pemerintah daerah, tingkat kesenjangan pendapatan, tingkat partisipasi ekonomi dan politik perempuan, populasi penduduk tanpa akses terhadp fasilitas kesehatan, populasi penduduk tanpa akses terhadap air bersih, dan krisis ekonomi.

Dampak Investasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium. Rasidin K.

Sitepu dan Bonar M.

Sinaga, 2005

metode ad-hoc, yaitu solusi dari suatu pendekatan merupakan input bagi pendekatan lainnya, namun secara keseluruhan pendekatan ini menggunakan model CGE

Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan dapat menurunkan poverty incidence, poverty depth dan poverty severity kecuali untuk rumahtangga bukan pertanian golongan atas di desa, bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota.

(30)

91

Kerangka Pemikiran

Permasalahan besar yang dihadapi di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh terkait tingginya angka kemiskinan. Salah satu hal yang biasa dilakukan pemerintah saat ini dengan melakukan investasi pada sektor publik. Investasi sektor publik tersebut bisa di- proxy dari pengeluaran pemerintah. Di antara sektor publik yang bermanfaat bagi pengurangan kemiskinan adalah sektor pendidikan. Pendidikan merupakan elemen terpenting dalam memberantas kemiskinan. Seseorang yang memperoleh pendidikan akan memperoleh kesempatan yang lebih baik dan bisa memperbaiki standar hidupnya.

Pengaruh pendidikan tidak hanya mempengaruhi kemampuan individu untuk mendapatkan tingkat upah maupun pendapatan yang tinggi, tetapi juga terhadap perilaku dan pengambilan keputusan, yang akan meningkatkan kemungkinan sukses dalam menjangkau kebutuhan pokok, bahkan pendidikan akan membuat seseorang terhindar dari kondisi miskin (Zuluaga,1990). Berdasarkan uraian tersebut maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah:

Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan kerangka teoritis serta memperhatikan situasi dan kondisi pertumbuhan ekonomi yang mulai berkembang di Aceh maka penulis merumuskan hipotesis yaitu pengeluaran pemerintah sektor pendidikan berpengaruh negatif terhadap kemiskinan di Provinsi Aceh.

METODE PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang ekonomi Sumber Daya Manusia di Aceh.

Penelitian ini membahas tentang pengeluaran pemerintah sektor pendidikan terhadap kemiskinan di Aceh.

Sumber dan Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari buku-buku, literatur, internet, catatan-catatan, serta sumber lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.

Adapun data yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain:a) data pengeluaran pemerintah sektor pendidikan tahun 2008- 2010 menurut kabupaten/kota Provinsi Aceh;

dan b) jumlah penduduk miskin tahun 2008-2010 menurut kabupaten/kota Provinsi Aceh.

Data ini merupakan kumpulan informasi mengenai ke dua variabel penelitian di 23 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh dan dalam kurun waktu tiga tahunan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data panel mengingat ketersediaan data secara series yang pendek sehingga proses pengolahan data time series tidak dapat dilakukan berkaitan

Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan

Kemiskinan

(31)

92 dengan persyaratan jumlah data yang minim. Selain itu untuk menghindari bentuk data dengan jumlah unit cross section yang terbatas pula sehingga sulit untuk dilakukan proses pengolahan data cross section untuk mendapatkan perilaku yang hendak diteliti maka dapat diatasi dengan penggunaan data panel (pooled data) agar diperoleh hasil estimasi yang lebih baik dengan terjadinya peningkatan jumlah observasi yang berimplikasi terhadap peningkatan derajat kebebasan selain itu hal ini juga dapat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah pengamatan. Kurun waktu tahun 2008-2010 serta data kerat lintang (cross section data) yang meliputi 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh.

Model Analisis

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan data panel. Model ekonometrik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier sederhana. Analisis ini merupakan suatu metode yang digunakan untuk menganalisis hubangan antar variabel yang dapat diekspresikan dalam bentuk persamaan yang menghubungkan variabel bebas dan variabel terikat menurut Gujarati (dalam Firmansyah, 2009). Dalam model data panel persamaan model dengan menggunakan data cross-section dapat ditulis sebagai berikut:

Yi = β0 + β1 Xi + εi ; i = 1, 2, ..., N dimana N adalah banyaknya data cross-section

Sedangkan persamaan model dengan time-series adalah:

Yt = β0 + β1 Xt + εt; t = 1, 2, ..., T dimana T adalah banyaknya data time-series

Mengingat data panel merupakan gabungan dari time-series dan cross-section, maka model dapat ditulis dengan :

Yit = β0 + β1 Xit + εit i = 1, 2, ..., N ; t = 1, 2, ..., T dimana:

N = banyaknya observasi T = banyaknya waktu

N × T = banyaknya data panel

Untuk mengestimasi parameter model penelitian ini menggunakan pendekatan Fixed Effect Metode (FEM). Metode ini secara sederhana menggabungkan (pooled) seluruh data series dan cross section. Metode ini mengasumsikan bahwa koefisien regresi (slope) tetap antar perusahaan dan antar waktu, namun intersepnya berbeda antar perusahaan namun sama antar waktu (time invariant).

Estimasi Model Regresi Dengan Panel Data

Penelitian mengenai pengaruh tingkat kemiskinan, pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Aceh, menggunakan data time-series selama 3 (tiga) tahun terakhir yang diwakili data tahunan dari 2008-2010 dan data cross-section sebanyak 23 data mewakili kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Kombinasi atau pooling menghasilkan 69 observasi dengan fungsi persamaan data panelnya dapat dituliskan sebagai berikut:

POVit= α0 + α1GOVSPNDitit

dimana:

POV = Penduduk miskin kabupaten/kota Provinsi Aceh

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan kuesioner yang dikumpulkan dan diolah penulis, maka hasil yang diberikan oleh responden terhadap variabel kualitas sistem informasi akuntansi sebagai

Kami akan memberikan manfaat sesuai dengan presentase seperti yang tertera dalam tabel manfaat atas peristiwa kecelakaan yang menyebabkan tertanggung mengalami ketidakmampuan

Selanjutnya adalah kasus pelanggaran administrasi pemilu legislatif yang diselesaikan dengan cara ajudikasi, yaitu diputuskan melalui sidang Panwaslih, terdapat 1

informasi dan data statistik perikanan serta menyelenggarakan pengumpulan, pengolahan, analisis, penyimpanan, penyajian, dan penyebaran data potensi, sarana dan

Model Chamberlin ini dalam pasar oligopoli menyatakan bahwa, suatu keseimbangan yang stabil akan terjadi jika dalam pasar tersebut sepakat hanya memakai satu harga. Hal ini

dimaksudkan agar kaum perempuan yang terjerumus ke dalam tindakan tersebut tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Salah satu program pemberdayaan perempuan yang

Laporan Akhir ini merupakan penyempurnaan dari Laporan Antara yang merupaka satu rangkaian kegiatan dalam Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan

Melihat fenomena perilaku konsumtif pada remaja maka mendorong untuk dilakukannya penelitian tentang bagaimana cara mereduksi perilaku konsumtif pada remaja melalui teknik