BAB I PENDAHULUAN
B. Unsur-unsur Pewarisan Pada Masyarakat Minangkabau
3) Anak Angkat
Menurut Undang-undang anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga orangtua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.76 Anak angkat masuk ke dalam kehidupan rumah tangga orang tua yang mengangkatnya sebagai
anggota rumah tangganya, akan tetapi ia tidak berkedudukan sebagai anak kandung dengan fungsi untuk meneruskan turunan bapak angkatnya.
Istilah pengangkatan anak berkembang di Indonesia sebagai terjemahan dari bahasa Inggris “adoption”, mengangkat seorang anak yang berarti “ mengangkat anak orang lain untuk dijadikan sebagai anak sendiri dan mempunyai hak yang sama dengan anak kandung”.77Anak yang diadopsi disebut anak angkat, peristiwa hukumnya disebut “pengangkatan anak”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah pengangkatan anak disebut juga “adopsi” yang berarti pengambilan (pengangkatan) anak orang lain secara sah menjadi anak sendiri.78
Dalam ajaran Islam, istilah adopsi ini disebut tabanni79yang sama dengan pengertian adopsi dimana anak yang diadopsi diperlakukan persis sama dengan anak kandung.80Secara etimologi kata tabanni berarti mengambil anak. Istilah tabanni yang berarti seseorang mengangkat anak orang lain sebagai anak, dan berlakulah terhadap anak tersebut seluruh ketentuan hukum yang berlaku atas anak kandung orang tua angkat, pengertian demikian memiliki pengertian yang identik degan istilah adopsi.81
Dari segi perkembangan hukum nasional, rumusan pengertian pengangkatan anak secara formal berlaku bagi seluruh pengangkatan anak di Indonesia tanpa
77Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, Jakarta, Kencana, 2008, hal 19.
78Departemen Pendidian dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia¸hal. 7
79
Muderis Zaint, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Segi Hukum, Jakarta, Sinar Grafika, 2006 hal. 53
80Habiburahman, ha 152
membedakan domestic adoption atau inter-country adoption dituangkan dalam PP Pengangkatan Anak,82 yang diadakan dalam rangka melaksanakan UU Perlindungan Anak.
Ketentuan pasal 1 butir 2 PP Pengangkatan Anak mendefinisikan bahwa pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.83Pengertian pengangkatan anak juga ditemukan dalam penjelasan pasal 47 ayat 1 UU No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kedudukan. UU Administrasi Kedudukan memberikan pengertian bahwa yang dimaksud pengangkatan anak adalah perbuatan hukum untuk mengalihkan hak atas anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungn keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.84
Terdapat beberapa peraturan yang terkait dengan pengangkatan anak seperti UU Kesejahteraan, UU No. 3 Tahun 2006 tidak memberikan pengertian anak angkat maupun pengangkatan anak.UU Kesejahteraan Anak hanya memberikan uraian yang berkaitan dengan tujuan dari pengangkatan anak yaitu pengangkatan anak menurut adat dan kebiasaan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan kesejahteraan
82Pandika, hal. 105
83
Indonesia, Peraturan Pemerintah Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, PP No. 54 Tahun 2007, LN.No. 123 Tahun 2007, TLN. No. 4768, Pasal 1 butir 2
84Indonesia, Undang-Undang Tentang Administrasi Kependudukan, UU No. 23 Tahun 2006, LN.No. 129 Tahun 2006, TLN. No. 4674, Pasal 47 butir 1
anak.dalam penjelasan pasal 12 UU Kesejahteraan Anak memberikan penjelasan mengenai akibat hukum pengangkatan anak yang tidak memutuskan hubungan darah antara anak angkat dengan orang tua kandungnya.
Sedangkan pengertian anak angkat menurut Ketentuan Kompilasi Hukum Islam di muat dalam pasal 171 huruf h yang menyatakan bahwa anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan beralih tanggung jawabnya dari orang tua kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan. Baik UU Administrasi Kependudukan, PP Pengangkatan Anak, UU Perlindungan Anak dan KHI mengkaitkan pengangkatan anak dengan pengalihan tanggung jawab dari orang tua kandung kepada orang tua angkat dengan suatu putusan atau penetapan pengadilan. Putusan ataupun penetapan pengadilan memiliki arti penting sebagai pintu terakhit yang memberikan legitimasi dalam pengangkatan anak.Tidak satupun dari ketentuan-ketentuan tersebut yang bersifat memutuskan hubungan darah antara anak angkat dengan orang tua kandungnya, namun tidak satupun juga dari ketentuan-ketentuan tersebut mengatur mengenai kedudukan anak angkat dalam keluarga angkatnya yang berujung pada hak pewarisan.
b. Janda dan Duda
Posisi janda di dalam harta peninggalan, hukum adat bertitik tolak dari asa bahwa wanita sebagai orang asing tidak berhak mewaris, namun selaku istri turut memiliki harta yang diperoleh selama karena dan untuk ikatan perkawinan (harta
bersama).85Di dalam rumah tangga setelah suami meningga, istri mempunyai kedudukan yang khusus.Jika syarat bagi ahli waris itu dilihat berdasarkan tali kekeluargaan atas persamaan darah atau keturunan, maka sudah jelas sekali bahwa seorang janda it tidak mungkin merupakan ahli waris dari suaminya.Tetapi dalam suatu perkawinan hubungan lahir dan batin antara suami dan saudara sekandungnya.Hal ini yang menyebabkan seorang janda itu dirasa adil apabila dalam warisan diberi kedudukan yang istimewa serta pantas di samping kedudukan anak-anak sepeninggal warisan.
Disamping itu pada semua wilayah ia berhak atas nafkah seumur hidup dari harta peninggalan suaminya, kecuali di wilayah yang tidak memerlukan aturan demikian itu berhubung dengan tatasusuan sanak yang matrilineal. Di Bali, janda juga berhak mengurus harta tersebut, selama si anak laki-laki belum disahkan sebagai pengganti ayahnya di depan jenazah almarhum, menurut kenyataannya, si janda di tempat-tempat lain sering juga mempunyai hak serupa.86
Jadi janda tidak menerima bagian dari harta yang diwariskan oleh suaminya selaku ahli waris.Namun bila perlu dapat tetap menikmati hasil harta tersebut (sebagai harta tak terbagi) seumur hidupnya, atau menerima sebagian dari harta tersebut sebagai nafkah sekaligus.87
Kedudukan duda di dalam sidat kekeluarga masing-masing berbeda.Pada sifat kekeluargaan patrilineal ditegaskan bahwa duda mendapat bagian dari harta warisan
85
Iman Sudiyat, Hukum Adat Sketsa Asas, Liberty, Yogyakarta, 1981Hal.165
86Ibid, Hal.165 87Ibid, Hal.166
istrinya.88 Di daerah dengan sifat kekeluargaan matrilineal, suami pada hakikatnya tidak masuk keluarga istri.Akibat daripada keadaan ini adalah bahwa suami pada hakikatnya tidak berhak menerima apa-apa dari harta warisan istrinya.89
Dalam terjemahan QS.An. Nisa ayat 12 “…dan bagimu (suami istri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak.Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah di penuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutangmu”.Duda karena kematian istri mendapat serperdua harta peninggalan istrinya kalau istri tidak meninggalkan anak mendapat seperempat harta peninggalan justru kalau istri meninggalkan anak.Pelaksanaan pembagian harta warisan tersebut setelah dibayarkannya wasiat dan atau hitang pewaris sesuai dengan pasal 179 KHI.
Janda karena kematian suami mendapat seperempat harta peninggalan suaminya kalau suami tidak meninggalkan anak, mendapat seperdelapan harta peninggalan suaminya kalau sumi meninggalkan anak.Pelaksanaan pembagian apabila telah selesai dibayarkannya wasiat dan atau hutang pewaris.
c. Para Waris/Ahli Waris Lainnya
88Korn V.E. dalam Soerojo Wignjodipoero, Op.Cit, hal. 193
Ahli waris menurut masyarakat Minangkabau selain dari anak dan janda duda adalah sebagai berikut :