• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Unsur-unsur Pewarisan Pada Masyarakat Minangkabau

2. Proses Pembagian Harta dari Pandangan Masyarakat

Proses pembagian atau jalannya pembagian harta adalah bagaimana pewaris berbuat untuk meneruskan atau mengalihkan harta kekayaan yang akan ditinggalkan kepada para waris ketika pewaris itu masih hidup dan bagaimana cara warisan itu

diteruskan penguasaan dan pemakaiannya atau cara bagaimana melaksanakan pembagian warisan kepada para waris setelah pewaris wafat.110

Tabel 4

Proses Pembagian Harta

No. Proses Pewarisan Jumlah

1 Sebelum Orang Tua Meninggal Dunia (Hibah) 12

2 Setelah Orang Tua Meninggal Dunia (Pewarisan) 18

Sumber data : diolah dari data primer tahun 2015

Proses pembagian harta sebelum orang tua meninggal dunia yang dimaksud oleh 12 responden adalah proses peralihan harta orang tua kepada anak-anaknya yang berupa hibah. Proses peralihan ini melalui proses hibah, dan wasiat (lebih lanjut akan dibahas pada tabel 5). Proses pembagin harta setelah Pewaris Meninggal Dunia yang dimaksud oleh 18 responden adalah proses pembagian harta melalui musyawarah (lebih lanjut akan dibahaspada tabel 6).

Proses pembagian harta dapat dilakukan sebelum pewaris wafat atau setelah pewaris wafat. Proses pembagian harta di kala pewaris masih hidup dapat berjalan dengan cara hibah kepada anak tertentu, kepada anggota keluarga atau kepada kepala kerabat, sedangkan cara pembagian dapat berlaku pembagian di tangguhkan, pembagian dilakukan berimbang, berbanding atau menurut hukum Islam.111

Tabel 5

Proses Pembagian Harta Sebelum Orang Tua Wafat

No Proses Jumlah

1 Penerusan Pengalihan (proses hibah) 12

2 Wasiat 3

Sumber data : diolah dari data primer 2015

110Hilman Hadikusuma, Op.Cit, Hal. 95

Dilihat dari hasil penelitian proses pembagian harta sebelum pewaris meninggal dunia lebih sedikit dilakukan dari pembagian harta setelah pewaris meninggal dunia. Faktor yang mempengaruhi proses pembagian harta ini adalah dari kebiasaan di keluarga dan kebiasaan di lingkungan daerah mereka tinggal. Proses pembagian harta sebelum pewaris meninggal dunia di dalam masyarakat Minangkabau di Kelurahan Tegal Sari III Kota Medan ini berdasarkan hasil penelitian melalui proses penerusan hibah dan Wasiat.

Terdapat 12 orang responden yang telah melakukan proses penerusan atau pengalihan ini. Proses yang telah terjadi oleh 4 responden ini adalah di berikannya hibah berupa tanah dan rumah oleh orang tua sebelum orang tua meninggal dunia. Terdapat 5 orang responden yang telah melalui proses penunjukan. Prosesnya adalah ditunjukan peruntukan harta kepada ahli waris tetapi pemilik harta masih bisa menikmati peruntukan harta yang telah di tunjukan kepada ahli waris.

Terdapat 3 orang responden yang mengalami proses pembagian harta sebelum pewaris meninggal dunia. 3 orang ini menyatakan bahwa wasiat yang diberikan bukanlah wasiat tertulis tetapi wasiat lisan yang isi nya berupa permintaan dan nasehat yang di peruntukan untuk keluarga.Permintaan yang di minta adalah berupa pesan untuk tidak menjual rumah pewaris, rumah di tunjukan untuk tempat berkumpul sanak keluarga.Nasehat yang diberikan adalah nasehat kehidupan supaya hidup tentram dan tidak meninggalkan hidup yang penuh kegusaran. Seperti jangan mengambil hak orang lain karena itu akan merugikan diri sendiri di kemudian hari, dan sebagainya.

a. Sebelum Pewaris Wafat112 1) Penerusan atau pengalihan

Pada saat pewaris masih hidup biasanya pewaris telah melakukan penerusan atau pengalihan kedudukan atau jabatan adat, hak dan kewajiban dan harta kekayaan (yang dimaksud adalah hibah) kepada waris, terutama kepada anak lelaki tertua menurut garis kebapak-an, kepada anak perempuan tertua menurut garis keibuan, kepada anak tertua lelaki atau anak tertua perempuan menurut garis keibubapakan.

Cara penerusan atau pengalihan harta kekayaan dari pewaris kepada waris yang sudah seharusnya berlaku menurut hukum adat setempat, terutama terhadap kedudukan, hak dan kewajiban dan harta kekayaan yang tidak terbagi-bagi yang berlaku bagi adatnya. Pelaksanaannya menurut tata cara musyawarah adat dan mufakat kekerabatan atau kekeluargaan setempat.

Arti dari penerusan atau pengalihan harta kekayaan dikala pewaris masih hidup ialah diberikannya harta kekayaan tertentu sebagai dasar kebendaan untuk kelanjutan hidup kepada anak-anak yang akan kawin mendirikan rumah tangga baru. Misalnya pemberian atau dibuatkannya bangunan rumah dan perkarangan tertentu, bidang-bidang tanah ladang, kebun atau sawah, untuk anak –anak lelaki atau perempuan yang akan berumah tangga.

Pemberian harta kepada anak angkat atau anak tiri, anak akuan dan anak lainnya yang telah mengabdi, memberikan jasa-jasa baiknya guna kehidupan rumah tangga. Kebanyakan dilakukan sebelum pewaris wafat oleh karena pewaris takut

bahwa sianak angkat akan tersingkir dalam pembagian warisan kelak apabila pewaris wafat oleh anak-anak kandungnya. Kekhawatiran ini antara lain adalah disebabkan pengaruh Hukum Waris Islam yang tidak mengakui anak angkat sebagai waris.

2) Penunjukan

Penerusan dan pengalihan hak dan harta kekayaan yang telah dijelaskan di atas menjelaskan bahwa perpindahan penguasaan dan pemilikan atas harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris dilakukan sebelum pewaris wafat.Maka dengan perbuatan penunjukan ini pewaris memindahkan penguasaan dan pemilikan atas hak dan harta tertentu kepada ahli waris setelah pewaris wafat.

Sebelum pewaris wafat, pewaris masih berhak dan berwenang menguasai harta yang ditunjukan itu, tetapi pengurusan dan pemanfaatan, penikmatan hasil dari harta itu sudah ada pada waris dimaksud. Dikarenakan alasan terdesak pewaris masih dapat merubah penunjuka kepada orang lain. Tentu saja diperlukan adanya pembicaraan atau pemberi tahuan kepada yang bersangkutan.Jadi seseorang yang mendapat penunjukan atas harta tertentu sebelum pewaris wafat belum dapat berbuat apa-apa selain hak pakai dan menikmati.

Penunjukan tidak saja untuk barang bergerak tetapi juga untuk barang tetap seperti bidang tanah sawah atau kebun dan ladang.Disebut demikian karena pewaris penunjukan garis batas bidang tanah yang mana yang diperuntukan bagi ahli waris. Baik penerusan atau penunjukan oleh pewaris kepada ahli waris mengenai harta warisan sebelum wafatnya, tidak mesti dinyatakannya dengan terang dihadapan para

tetua adat(tua tua desa), tetapi cukup di kemukakannya dihadapan para waris dan anggota keluarga atau tetangga dekat saja.

3) Pesan atau Wasiat

Kadangkala pewaris berpesan kepada anak istrinya tentang anak dan harta kekayaannya dengan demikian maka pesan itu barulah berlaku setelah pewaris wafat, pesan atau wasiat dari pewaris kepada ahli waris ketika masih hidup itu biasanya harus diucapkannya dengan jelas dan disaksikan oleh para waris anggota keluarga, tetangga dan tua tua desa.

b. Setelah Pewaris Wafat

Tabel 6

Proses Pewarisan Setelah Orang Tua Meninggal Dunia

No Proses Jumlah

1 Musyawarah keluarga 18

2 Penguasaan Warisan a. Penguasaan Janda/Duda b. Penguasaan Anak

c. Penguasaan Anggota Keluarga

-d. Penguasaan Tua-Tua Adat

-Sumber data : Diolah dari data primer tahun 2015

Proses pembagian harta setelah pewaris meninggal dunia berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Minangkabau di Kelurahan Tegal Sari III Kota Medan dilaksanakan dengan musyawarah. Harta warisan yang ditinggalkan oleh pewaris menjadi tanggung jawab ahli waris.Hak penentuan pembagian harta warisan diserahkan kepada orang tua yang masih hidup.Jika orang tua yang meninggal adalah

bapak maka hak dimaksud beralih kepada ibu. Begitu juga sebaliknya, jika yang meninggal adalah ibu maka hak penentuan pembagian harta warisan akan beralih kepada bapak.

Pembagian harta pencaharian sepenuhnya adalah hak orang tua.Harta yang mereka peroleh dari hasil jerih payahnya.Bapak sebagai kepala keluarga bertindak sebagai pemimpin di keluarga dan ibu sebagai wakilnya.Apabila bapak yang meninggal lebih dahulu maka kepemimpinan beralih ke ibu.Peralihan ini berlaku terhadap penentuan pembagian harta warisan/ harta pencaharian.Meskipun demikian, dalam pelaksanaan pembagian harta warisan ini tetap dilakukan melalui musyawarah keluarga.

Pelaksaan pembagian harta tentu tidak sejalan sebagaimana mestinya. Masih ada orang tua yang masih hidup tetap tidak melakukan pembagian harta sampai ia meninggal. Oleh sebab itu sering terjadi sengketa pembagian harta diantara ahli waris terhadap harta yang ditinggalkan pewaris.jika sengketa tersebut terjadi, upaya penyelesaian yang ditempuh adalh dengan melakukan musyawarah keluarga. namunapabila musyawarah keluarga tetap tidak berhasil, selanjutnya baru dilimpahkan ke pengadilan.

1) Penguasaan Warisan

Setelah pewaris wafat akan selalu dipertanyakan harta kekayaan akan dibagikan kepada ahli waris atau tidak akan dibagi-bagi. Jika harta kekayaan tidak dibagi-bagi maka siapa yang akan menguasai dan memiliki harta kekayaan itu dan

jika ia dibagi-bagi maka siapa yang akan mendapat bagian dan bagaimana cara pembagian itu dilaksanakan.

Penguasaan atas harta warisan berlaku apabila harta warisan itu tidak dibagi-bagi, karena warisan itu merupakan milik bersama yang disediakan untuk kepentingan bersama para anggota keluarga pewaris, atau karena pembagiannya ditangguhkan disebabkan dengan alasan-alasan tertentu.113

Setelah pewaris wafat terhadap harta warisan yang tidak dibagi atau di tangguhkan pembagiannya itu ada kemungkinan dikuasai janda, anak, anggota keluarga lainnya atau oleh tua-tua adat kekerabatan.Barang siapa yang menjadi penguasa atas harta warisan berarti bertanggung jawab untuk menyelesaikan segala sangkut paut hutang piutang pewaris ketika hidupnya dan pengurusan para waris yang ditinggalkan guna kelangsungan hidup para waris.

a) Penguasaan Janda/Duda

Umumnya pewaris wafat meninggalkan isteri dan anak-anak maka harta warisan, terutama harta bersama suami isteri yang didapat sebagai hasil pencaharian selama perkawinan dapat dikuasai oleh janda almarhum pewaris untuk kepentingan kelanjutan hidup anak-anak dan janda yang ditinggalkan. Dilingkunngan masyarakat matrilineal janda adalah mutlak menjadi penguasa atas harta warisan yang tidak

113Hilman Hadikusuma, Op.Cit,, Hal 100

Alasan-alasan yang dimaksud adalah masih ada orang tua, terbatasnya harta peninggalan, tertentu jenis dan macamnya, pewaris tidak punya keturunan, para waris belum dewasa, belum ada pewaris

pengganti, diantara waris belum hadir, belum ada waris yang berhak, dan belum diketahuinya hutang piutang pewaris.

terbagi-bagi untuk kepentingan hidupnya dam anak-anak keturunannya yang pengelolaannya di bantu dan diawasi oleh saudara lelaki tertua si janda.

b) Penguasaan Anak

Apabila janda telah tua dan anak-anak sudah dewasa dan sudah berumah tangga maka harta warisan yang tidak terbagi-bagi dikuasai oleh anak yang berfungsi dan berperanan untuk itu.Lebih-lebih untuk harta warisan berupa tanah dimana pengaruh hak ulayat masih kuat.Di berbagai daerah yang mengakui kedudukan anak angkat, apabila tidak ada anak maka harta kekayaan yang tidak terbagi ada kemungkinan dikuasai dan diwarisi anak angkat yang sah menurut hukum adat setempat atau dapat dilihat pada kegiatan dan jasanya mengurus orang tua angkat dan harta warisan itu.

c) Penguasaan Anggota Keluarga

Apabila pewaris wafat meninggalkan anak-anak masih kecil dan tidak ada jandanya yang dapat bertanggung jawab mengurus harta warisan, maka penguasaa atas harta warisan yang tidak terbagi-bagi jatuh pada orang tua pewaris menurut susunan kekerabatan pewaris dan jika orang tua pewaris juga sudah tidak ada lahi maka penguasaannya dapat di pegang oleh saudara-saudara pewaris atau keturunannya menurut sistem keturunan dan kekerabatan pwaris dengan catatan apabila perkawinan pewaris bersifat campuran antar suku, diperhitungkan sma dengan sistem parental, jika perkawinan itu tidak berlaku menurut adat pihak suami atau pihak isteri.

Penguasaan angora keluarga tersebut tidak tak terbatas oleh karena barangsiapa yang menguasai harta warisan itu harus bertanggung jawab kepada semua anggota keluarga pewaris menurut susunan keluarga dan bentuk peekawinan pewaris.kemudian apabila para waris kelak sudah dapat berdiri sendiri atau sudah ada ahli waris pengganti maka penguasaan harta warisan itu harus diakhiri dan yang menguasainya wajib menyerahkan harta warisan dan segala tanggung jawabnya kepada waris yang berhak.

d) Penguasaan Tua-Tua Adat

Apabila harta warisan itu berupa harta pusaka tinggi, mulai dari barang-barang bernilai yang kecil-kecil seperti keris pusaka, pedang, batu-batu jimat sampai pada barang-barang besar seperti bangunan-bangunan, alat perlengkapan adat, balai adat, rumah kerabata, tanah kerabat dan sebagainya. Walaupun barang-barang itu dipegang oleh pewaris karena jabatan adatnya sesungguhnya ia berada di bawah penguasaan tua-tua adat. Jadi jika pewaris wafat maka penguasaan itu kembali pada tua-tua adat untuk kemudian ditetapkan kembali siapa waris pengganti yang akan memegangnya berdasarkan keputusan musyawarah adat.

Di Minangkabau seorang penghulu yang wafat belum tentu digantikan oleh keturunan lurus, oleh karena penghulu disana dapat saja digantikan oleh kemenakan bertali darah yang lain yang dipandang lebih cakap oleh para ninik mamak.

2) Pembagian Warisan

Hukum adat tidak menentukan kapan waktu harta warisan akan dibagi atau kapan diadakan pembagian, begitu pula siapa yang menjadi juru bagi tidakada ketentuannya. Menurut adat kebiasaan waktu pembagian setelah pewaris wafat dapat dilaksanakan setelah upacara sedekah atau seribu hari setelah pewaris wafat, oleh karena pada waktu-waktu tersebut para anggota keluarga berkumpul.

Apabila harta warisan akan dibagi maka yang menjadi juru bagi dapat ditentukan antara lain adalah :

a) Orang tua yang masih hidup (janda atau duda dari pewaris), atau b) Anak tertua lelaki atau perempuan, atau

c) Anggota kelurga tertua yang dipandang jujur adil dan bijaksana, atau

d) Anggota kerabat tetangga, pemuka masyarakat adat atau pemuka agama yang diminta, ditunjuk atau dipilih para waris untuk bertindak sebagai juru-bagi. Selain orang tua yang masih hidup, janda atau duda pewaris mereka yang menjadi juru bagi sesungguhnya bukan juru bagi yang mutlak harus diturut ketetapan pembagiannya, tetapi mereka itu hanya sebagai juru damai, sebagai pembawa acara yang memimpin pertemuan untuk mencapai kata sepakat, mereka bertugas menampung, menyalurkan dan menyimpulkan usul pendapat dari para waris sebagaimana sebaiknya harta warisan itu di bagi-bagi.

Selama pembagian warisan itu berjalan baik, rukun dan damai di antara para waris, maka tidak diperlukan adanya campur tangan dari orang luar keluarga bersangkutan.Campur tangan dan kesaksian tua-tua adat atau para pemuka

masyarakat hanya diperlukan apabila ternyata jalannya musyawarah untuk mencapai mufakat menjadi seret dan tidak lancar.

b) Cara Pembagian

Hukum adat tidak mengenal cara pembagian dengan perhitungan matematika, tetapi selalu didasarkan atas pertimbangan mengingat wujud benda dan kebutuhan waris bersangkutan. Jadi walaupun hukum waris adat mengenal asas kesamaan hak tidak berarti bahwa setiap warisan mendapat bagian warisan dalam jumlah yang sama, dengan nilai harga yang sama atau menurut banyaknya bagian yang sudah tertentu.

c) Kemungkinan Hilangnya Hak Mewaris

Ada kalanya seseorang dapat kehilangan hak mewarisi dikarenakan perbuatannya yang bertentangan dengan hukum adat. Perbuatan salah yang memungkinkan hilanngnya hak mewaris seseorang terhadap harta warisan orang tuanya atau dari pewaris lainnya adalah misalnya dikarenakan antara lain sebagai berikut :114

a) Membunuh atau berusaha menghilangkan nyawa pewaris atau anggota keluarga pewaris;

b) Melakukan penganiayaan atau berbuat merugikan kehidupan pewaris;

c) Melakukan perbuatan tidak baik, menjatuhkan nama baik pewaris atau nama kerabat pewaris karena perbuatan yang tercela.

d) Murtad dari agama atau berpindah agama dan kepercayaan dan sebagainya.

Perbuatan salah yang dimaksud dapat dibatalkan apabila ternyata sipewaris atau anggota ahli waris lainnya telah memaafkan, memberi ampunan dengan nyata 114Hilman Hadikusuma, Op.Cit,, Hal 108

dalam perkataan atau perbuatan, sebelum atau ketika warisan dilakukan pembagian.Pengampunan atas kesalahan waris yang bersalah dapat berlau atas semua harta warisan atau hanya untuk pembagian saja. Misalnya waris masih diperkenankan mewarisi harta asal, atau hanya mendapat bagian harta pencaharian yang lebih sedikit dari bagian waris lainnya

3) Pewarisan Menurut Hukum Islam

Dari hasil penelitian, 30 responden menyatakan bahwa pembagian harta warisan yang berupa harta pencaharin di bagi berdasarkan hukum Islam.

Agama Islam menggariskan maksud dan tujuan pewarisan tidak saja untuk kepentingan kehidupan individual para ahli waris tetapi juga berfungsi sosial untuk juga memperhatikan kepentingan anggota kerabat tetangga yang yatim dan miskin.Dengan adanya Surah An-Nisaa’ ayat 7 maka Islam telah menaikkan derajat kaum wanita yang sebelum agama Islam yaitu dimasa jahiliyah hanya orang lelaki yang kuat berperang saja yang mendapat warisan, sedangkan wanita dan anak-anak tidak berhak mewarisi.Begitu pula Islam tidak membenarkan berlakunya pewarisan atas dasar sumpah dimana misalnya ada dua orang telah bersumpah untuk saling mewarisi. Demikian selanjutnya Islam tidak membenarkan kedudukan anak angkat menjadi anak sebenarnya sehingga ia pula mewarisi orang tua angkatnya.115

a) Golongan Ahli Waris

Ahli waris dapat digolongkan menjadi dengan melihat dari segi kelaminnya, laki-laki atau perempuan, dan dari segi haknya atas harta warisan, ahli waris dibagi menjadi golongan dzawil furudh, ‘ashabah, dan dzawil arhaam.

Ahli waris laki-laki terdiri dari :116 a) Ayah

b) Kakek (Bapak ayah) dan seterusnya keatas dari garis laki-laki c) Anak laki-laki

d) Cucu laki-laki (anak dari laki-laki) dan seterusnya keatas dari garis laki-laki e) Saudara laki-laki kandung(seibu-seayah)

f) Saudara laki-laki seayah g) Saudara laki-laki seibu

h) Kemenakan laki-laki kandung (anak laki-laki saudara laki-laki kandung) dan seterusnya kebawah dari garis laki-laki

i) Kemenakan laki-laki seayah (anak laki-laki saudara laki-laki seayah) dan seterusnya kebawah dari garis laki-laki

j) Paman kandung (saudara laki-laki kandung ayah) dan seterusnya keatas dari garis laki-laki

k) Paman seayah (saudara laki-laki seayah ayah) dan seterusnya keatas dari garis laki-laki

l) Saudara sepupu laki-laki kandung (anak laki-laki paman kandung) dan seterusnya ke bawah dari garis laki-laki. Termasuk di dalamnya anak paman ayah, anak paman kakek dan seterusnya, dan anak keturunannya dari garis laki-laki

m) Saudara sepupu laki-laki seayah (anak laki-laki paman seayah) dan seterusnya ke bawah dari garis laki-laki. Termasuk di dalamnya anak paman ayah, anak paman kakek dan seterusnya, dan anak keturunannya dari garis laki-laki n) Suami

o) Laki-laki yang memerdekakan budak (mu’tiq). Ahli Waris Perempuan terdiri dari :

a) Ibu

b) Nenek (ibunya ibu) dan seterusnya ke atas dari garis perempuan

c) Nenek (ibunya ayah) dan seterusnya ke atas darigaris perempuan, atau berturut-turut dari garis laki-laki kemudian sampai kepada nenek, atau berutrut-turut dari garis laki-laki lalu bersambung dengan berturut-turut dari garisperempuan

d) Anak perempuan

e) Cucu perempuan (anak dari anak laki-laki) dan seterusnya kebawah dari garis laki-laki

f) Saudara perempuan kandung g) Saudara perempuan seayah h) Saudara perempuan seibu

116M. Hasballah Thaib, Ilmu Hukum Waris Islam, (Medan : Magister Kenotariatan Sekolah Pasca Sarjana USU, 2012), hal. 29

i) Istri

j) Perempuan yang memerdekakan budak (mu’tiqah).

Ahli waris dzawil furudh ialah ahli waris yang mempunyai bagian tertentu ,sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran atau sunah rasul, yaitu 2/3, 1/2, 1/3, 1.4, 1/6, 1/8.117Ahli waris yang termasuk dzawil furudh berjumlah 12 orang yaitu : suami, istri, ayah, ibu, anak perempuan, cucu perempuan (dari anak laki-laki), saudara perempuan kandung, saudara perempuan seayah, saudara laki-laki dan perempuan seibu, kakek dan nenek.118

Dalam pembagian harta warisan, dimulai dengan memberikan bagian kepada ahli waris dzawil furudh.Apabila masih ada, sisanya diberikan kepada ahli waris ‘ashabah.Apabila sudah ada ahli waris ‘ashabah, dilakukan radd atau diserahkan sisa itu kepada baitul mal.119

Ahli waris ‘ashabah ialah ahli waris yang tidak ditentukan bagiannya, tetapi akan menerima seluruh harta warisan jika tidak ada ahli waris dzawil furudh sama

117Ibid,hal. 31

Dalam Al-Quran, bagian 2/3 menjadi hak 2 orang saudara perempuan kandung atau seayah, dan dua anak perempuan.

Bagian ½ menjadi hak seorang anak perempuan, seorang saudara perempuan kandung atau seayah dan suami bila pewaris tidak meninggalkan anak yang berhak waris.

Bagian 1/3 menjadi hak ibu apabila pewaris tidak meninggalkan anak atau lebih dari seorang saudara da saudara-saudara seibu jika lebih dari seorang.

Bagian ¼ menjadi hak suami jika pewaris meninggalkan anak yang berhak waris dan istri jika pewaris tidak meninggalkan anak yang berhak waris.

Bagian 1/6 menjadi hak ayah dan ibu jika pewaris meninggalkan anak yang berhak waris, juga ibu jika pewaris meninggalkan saudara lebih dari seorang, dan seorang saudara seibu.Hadis nabi juga

menyebutkan bahwa bagian 1/5 menjadi hak cucu perempuan (dari anak laki-laki) bersama dengan seorang anak perempuan, saudara perempuan seayah bersama dengan saudara perempuan kandung, dan kakek jika pewaris meninggalkan anak yang berhak waris.

Bagian 1/8 menjadi hak istri apabila pewaris meninggalkan anak yang berhak waris.

118Ibid, hal. 32 119Ibid,hal.32

sekali. Jika ada ahli waris dzawil furudh, ia berhak atas sisanya, dan apabila tidak ada sisa sama sekali, ia tidak mendapat bagian apapun.

Ahli waris dzawal arham adalah ahli waris yang mempunyai hubungan famili dengan pewaris tetapi tidak termasuk golongan ahli waris dzawil furudh dan ‘ashabah.

b) Ketentuan Pembagian Warisan

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pembagian harta warisan menurut hukum Islam didasarkan pada Al-Quran Surah IV An-Nisaa ayat 11-12. Apabila harta warisan akan dibagi maka terlebih dahulu harus dikeluarkan dari harta warisan itu ialah :120

i) zakat dan sewa;

ii) biaya mengurus jenazah; iii) hutang-hutang pewaris;

Dokumen terkait