• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Aspek Sosial (Peran Serta Masyarakat)

Peta 3. 1 Analisa Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Kota Mojokerto

B. Tarif Jasa Pelayanan/Retribusi Pengelolaan Sampah

3.4.5. Analisa Aspek Sosial (Peran Serta Masyarakat)

Meliputi pendataan terhadap bentuk partisipasi masyarakat, Materi dan metode pembinaan masyarakat di bidang kebersihan/ penyuluhan, Pelaksanaan program penyuluhan, Evaluasi serta pemeliharaan kondisi.

Pengelolaan persampahan merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah daerah, sektor bisnis, sektor pendidikan, dan masyarakat luas. Selama ini masyarakat sudah ikut serta dalam pengelolaan sampah antara lain dengan:

- Membuang sampah ke tempat penampungan sementara - Menimbun sampah dipekarangan sendiri

- Membakar sampah

Namun masih ada sebagian masyarakat yang membuang sampah ke sungai dan membiarkannya berserakan. Membuang sampah ke sungai dapat menimbulkan sumbatan aliran air sehingga dapat menyebabkan banjir. Sampah yang berserakan dapat merusak keindahan lingkungan dan timbunan sampah dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

Namun peran serta masyarakat dalam pembayaran retribusi masih sangat kurang. Dikarenakan retribusi tidak dikenakan pada permukiman, maka masyarakat yang berada di permukiman sendiri harus membayar sendiri tenaga untuk mengambil sampah pada masing-masing rumah untuk kemudian dibuang ke tempat penampungan sementara. Sedangkan pada instansi yang dikenakan tarif retribusi sendiri masih terdapat keengganan untuk membayar, sehingga penerimaan retribusi masih sangat minim, padahal retribusi inilah yang digunakan untuk menyediakan pelayanan persampahan.

Tabel 3. 17 Program Penyuluhan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Mojokerto

No Uraian

Kegiatan Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013

1 Bentuk partisipasi masyarakat 1. Kerja bakti 2. Penanaman pohon dihalaman

3. Penyediaan pot bunga secara swadaya 4. Lomba kebersihan lingkungan 1. Kerja bakti 2. Penanaman pohon dihalaman 3. Penyediaan pot bunga secara swadaya 1. Kerja bakti 2. Penanaman pohon dihalaman 3. Penyediaan pot bunga secara swadaya 4. Lomba kebersihan lingkungan 2 Materi dan Metode Sosialisasi terkait program kebersihan dan

1. Pelatihan pembuatan komposter

1. Penyuluhan ke

No Kegiatan Uraian Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 pembinaan

masyarakat

keindahan lingkungan sekolah serta lingkungan RW se Kota Mojokerto

2. Pembinaan pedagang kaki lima terkait

dengan teknik pengelolaan sampah di kantor satpol pp 3. Pendampingan pembuatan bank sampah di Kelurahan Pulorejo 4. Pemberian materi pada acara sosialisasi pembentukan Bank Sampah di KLH penyelenggaraan kebersihan dan keindahan 2. Sosialisasi kegiatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan 3 Pelaksanaan program penyuluhan

Peningkatan peran serta

masyarakat dalam

pengelolaan persampahan  Sosialisasi

 Pembuatan neon box  Pembuatan stiker  Lomba kebersihan

tingkat sekolah

Peningkatan peran serta

masyarakat dalam

pengelolaan persampahan

 Pembuatan alat komposter

 Pembuatan neon box  Pembuatan stiker  Pelatihan pembuatan

kompos

Peningkatan peran serta

masyarakat dalam pengelolaan persampahan  Sosialisasi  Penyuluhan ke kelurahan  Lomba kebersihan lingkungan 4 Evaluasi dan pemeliharaan 1. Masih minimnya anggaran untuk kegiatan penyuluhan 2. Besar anggaran Rp. 94.997.500,- 1. Masih minimnya anggaran untuk kegiatan penyuluhan sehingga pembuatan komposter untuk di bagikan ke masyarakat masih belum merata 2. Pembentukan Bank Sampah sebagai amanat undang-undang belum terealisasi 3. Besar anggaran untuk kegiatan penyuluhan Rp. 99.928.050,- 1. Masih minimnya anggaran untuk kegiatan penyuluhan sehingga pembuatan komposter untuk di bagikan ke masyarakat masih belum merata 2. Pembentukan Bank Sampah sebagai amanat undang-undang belum terealisasi

3. Besar anggaran untuk kegiatan penyuluhan Rp. 100.000.000,- Sumber : DKP, 2013

4.1. KONSEP UMUM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

Konsep merupakan gambaran secara umum dari arahan atau rencana pengelolaan persampahan Kota Mojokerto. Konsep rencana pengelolaan sampah perlu dibuat dengan tujuan untuk mengembangkan suatu sistem pengelolaan sampah yang modern, dapat diandalkan dan efisien dengan teknologi yang ramah lingkungan. Dalam sistem tersebut harus dapat melayani seluruh penduduk, meningkatkan standar kesehatan masyarakat dan memberikan peluang bagi masyarakat dan pihak swasta untuk berpartisipasi aktif. Pendekatan yang digunakan dalam konsep rencana pengelolaan sampah ini adalah meningkatkan sistem pengelolaan sampah yang dapat memenuhi tuntutan dalam paradigma baru pengelolaan sampah . Untuk itu perlu dilakukan usaha untuk mengubah cara pandang Sampah Dari Bencana Menjadi Berkah . Hal ini penting karena pada hakikatnya pada timbunan sampah itu kadang-kadang masih mengandung komponen-komponen yang sangat bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi namun karena tercampur secara acak maka nilai ekonominya hilang dan bahkan sebaliknya malah menimbulkan bencana yang dapat membahayakan lingkungan hidup.

Pada dasarnya pola pembuangan sampah yang dilakukan dengan sistem TPA (tempat pembuangan akhir) sudah tidak relevan lagi dengan lahan kota yang semakin sempit dan pertambahan penduduk yang pesat, sebab bila hal ini terus dipertahankan akan membuat kota dikepung lautan sampah sebagai akibat kerakusan pola ini terhadap lahan dan volume sampah yang terus bertambah. Pembuangan yang dilakukan dengan pembuangan sampah secara terbuka dan di tempat terbuka juga berakibat meningkatnya intensitas pencemaran. Selain itu yang paling dirugikan dan selama ini tidak dirasakan oleh masyarakat adalah telah dikeluarkannya miliaran rupiah untuk membuat dan mengelola TPA.

KONSEP

Penanganan model pengelolaan sampah perkotaan secara menyeluruh adalah meliputi:

1. Menghapus Model TPA

Penghapusan model TPA pada jangka panjang karena dalam banyak hal pengelolaan TPA (tempat pembuangan sampah) masih sangat buruk mulai dari penanganan air sampah (leachet) sampai penanganan bau yang sangat buruk.

 Cara penyelesaian yang ideal dalam penanganan sampah di perkotaan adalah dengan cara membuang sampah sekaligus memanfaatkannya sehingga selain membersihkan lingkungan, juga menghasilkan kegunaan baru. Program ini biasa dikenal dengan program 4R ( Hal ini secara ekonomi akan mengurangi biaya penanganannya (Murthado dan Said, 1987).

 Solusi dalam mengatasi masalah sampah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi terhadap semua program pengelolaan sampah yang dimulai pada skala kawasan (tingkat kecamatan), kemudian dilanjutkan pada skala yang lebih luas lagi.

2. Partisipasi masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan aspek yang terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu. Cohen dan Uphof (1977) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat dalam suatu proses pembangunan terbagi atas 4 tahap, yaitu :

a) Partisipasi pada tahap perencanaan, b) Partisipasi pada tahap pelaksanaan,

c) Partisipasi pada tahap pemanfaatan hasil-hasil pembangunan dan d) Partisipasi dalam tahap pengawasan dan monitoring.

Masyarakat senantiasa ikut berpartisipasi terhadap proses-proses pembangunan bila terdapat faktor-faktor yang mendukung, antara lain : kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran, kebutuhan sarana dan prasarana,

model relatif aplikatif dan dapat bernilai ekonomis. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah. Model ini akan dapat memangkas rantai transportasi yang panjang dan beban APBD yang berat. Selain itu masyarakat secara bersama diikutsertakan dalam pengelolaan yang akan memancing proses serta hasil yang jauh lebih optimal daripada cara yang diterapkan saat ini.

Pola pengelolaan sampah terpadu secara konseptual dapat digambarkan seperti skema pada gambar 4.1 berikut.

Gambar 4. 1 Skema Konseptual Pengelolaan Sampah Secara Terpadu

Operasional pengelolaan sampah secara terpadu seperti yang tergambar pada diagram diatas antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut:

1. Pengomposan, yang dapat berupa :

(a) Pengomposan sampah skala rumah tangga (1 kk dan 10 kk). Prinsip kerja pengomposan skala rumah tangga adalah pengomposan sampah dapur secara aerobik dengan bantuan bakteri yang ada dalam sampah dan tanah. (b) Pengomposan skala lingkungan. Prinsip kerjanya adalah pengolahan sampah

rumah tangga skala lingkungan (± 3500 orang) atau sampah organik pasar dengan penumpukan sampah di atas permukaan tanah dengan bantuan mikroorganisme yang ada dalam sampah.

Sumber Timbulan Sampah (Terjadi pemilahan/source reduction Pengumpulan (ada pemilahan) Pengangkutan Pemilahan

Bahan Daur Ulang

Sanitary Landfill (SLF) dan Insinerator

Komposting Konsumen

Pembuatan Produk Lain (misal : Batako) Industri Daur Ulang

2. Daur ulang sampah. Sampah organik (kertas) dan sampah anorganik (plastik, kaca, logam dan lain-lain) dapat didaur ulang oleh para pemulung atau kelompok masyarakat.

3. Incinerator (pembakaran sampah) Incenerator adalah sistem pembakaran sampah yang bersumber dari pabrik, rumah sakit, kantor maupun lingkungan permukiman.

4. Pemakaian kembali sampah. Dengan memanfaatkan kembali kaleng/botol bekas menjadi wadah baru yang bermanfaat dan mengembangkan model isi ulang seperti minyak, shampoo, cairan pembersih dll.

Kegiatan yang mutlak harus dilakukan terlebih dahulu adalah proses pemilahan sampah. Pemilahan sampah merupakan kunci sukses dan hal mendasar yang harus dilakukan sebelum menggunakan teknologi pengolahan sampah. Jika proses pemilahan sampah dilakukan secara benar, maka teknologi apapun yang akan digunakan dan diterapkan dalam pengolahan sampah selanjutnya akan berhasil dilakukan. Secara garis besar, proses pemilahan sampah dimulai dari pembuangan sampah rumah rumah tangga pada tong sampah yang terpisah antara sampah kering dan sampah basah, sistem pengangkutan ke transfer depo/ Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) dengan menggunakan gerobak yang terpisah/tersekat antara sampah kering dan basah, dengan waktu pengangkutan sampah kering dan basah secara bergiliran, serta tersedianya TPS yang terpisah atau tersekat untuk sampah kering dan basah.

4.2. ARAHAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN KOTA MOJOKERTO 4.2.1. Arahan Aspek Teknis Operasional

4.2.1.1. Sistem Pewadahan

Paradigma baru penanganan sampah berdasarkan arahan UU pengelolaan persampahan yaitu tidak ada sampah yang dibuang melainkan diolah. Untuk mendukung paradigma ini proses awal yang harus dilakukan yaitu dengan melakukan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Pewadahan yang dimaksud dalam hal ini yaitu sistem pewadahan dari sumber sampah.

2. Melakukan peningkatan Sistem pewadahan sampah yaitu dengan meningkatkan pola pewadahan serta jenis pewadahan.

3. Teknik pengambilan/pengumpulan sampah juga dibedakan antara pengambilan sampah basah dan sampah kering. Teknik pengambilan juga dilakukan pemisahan antara sampah basah dan sampah kering yaitu dengan melakukan penyekatan pada gerobak pengumpulan sampah. Perbandingan penyekatan juga dapat menggunakan perbandingan 70:30.

4. Pemilahan jenis sampah ini kemudian dilanjutkan sampai pada tempat penampungan sementara sampah (TPS). Dalam hal ini diupayakan sistem kontainer yang berbeda pada tiap TPS untuk memisahkan antara sampah basah dan sampah kering. Hal ini dapat mempermudah proses pengolahan samah selanjutnya sehingga sesuai dengan kaidah konsep tual pengelolaan samph terpadu.

4.2.1.2. Sistem Pengumpulan

Hasil analisa menunjukkan Proses pengumpulan sampah di Kota Mojokertomenggunakan tata cara pengumpulan individual tidak langsung. Proses pengumpulan ini dilakukan dari sumber sampah menuju TPS yang dalam pengelolaannya dibagi menjadi 2 bagian, yaitu yang dikelola oleh warga (pantasih) dan dikelola oleh dinas kebersihan dan pertamanan (pasukan kuning).

Pasukan kuning hanya bekerja sebagai penyapu jalan, sedangkan yang bertugas dalam pengumpulan sampah di daerah permukiman dilakukan oleh pantasih. jam kerja bagi pasukan kuning dan pantasih dalam melakukan tugasnya sehari-hari yaitu :

o Shift I mulai jam 04.30-09.00 WIB o Shift II pada jam 13.00-16.00 WIB

Manajemen pengumpulan sampah dipermukiman Kota Mojokerto dapat diarahkan melalui Jam kerja dari petugas pengumpul sampah (Pasukan Kuning dan Pantasih) dengan gerobak disesuaikan dengan jadwal pengangkutan sampah oleh truk yang mengangkut sampah ke TPA sehingga tidak ada sampah yang tidak terangkut ke TPA sehingga tidak terjadi penimbunan sampah di TPS yang akhirnya berdampak pada kualitas estetika lingkungan yang buruk dan menimbulakan pencemaran dan sumber penyakit. Sedangkan penanganan sampah di jalan dapat dilakukan dengan beberapa langkah:

1. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar membuang sampah di tempat sampah

2. Melakukan peningkatan pola pengumpulan, pelaksanaan pengumpulan, peningkatan pola perencanaan operasioanl pengumpulan

3. Pemasangan /menyediakan bak sampah anti hilang di tepi jalan. 4. Peningkatan covering area penanganan sampah jalan.

4.2.1.3. Sistem Penampungan Sementara

Manajemen sistem pembuangan sementara diarahkan pada: 1. Pengadaan sarana TPS bagi daerah yang belum terdapat TPS

2. Melakukan pengelohan sampah di TPS yaitu dengan komposting untuk mengurangi volume sampah di TPS.

Proses pengolahan sampah (Komposting) ini merupakan sistem lanjutan dari sistem pengolahan sampah skala lingkungan/Rumah tangga. Untuk sampah organik yang tidak terolah di sumber sampah akan di kelola di TPS, dengan hal ini dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Sistem pengolahan sampah skala TPS dapat dilakukan dengan mengadakan kerja sama dengan pihak swasta dalam pengelolaannya.

3. Untuk mendukung program pengelolaan sampah skala TPS juga perlu dilakukan pemisahan jenis penampungan sampah di TPS. Sebagai arahan manajemen sistem penampungan sampah di TPS disediakan 2 jenis kontainer untuk penampungan sampah organik dan anorganik. Dengan hal ini sampah organik yang ada dapat di kelola di TPS melalui proses komposting sedangkan sampah anorganik dapat di buang ke TPA atau dijual ke pabrik daur ulang sesuai dengan jenis sampahnya.

Selain proses pengolahan sampah di TPS yang juga perlu diperhatikan yaitu design lokasi dan bentuk TPS. Hasil survey menunjukkan banyak warga yang mengeluh dengan keberadaan TPS di sekitar rumah mereka, dan dari hasil analisa lokasi TPS juga terdapat beberapa TPS yang keberadaannya tidak sesuai dengan standar lokasi TPA,

1. Sedekat mungkin dekat dengan sumber sampah. Dimana untuk pengumpulan secara manual jarak maksimum adalah 1000 meter.

2. Access road. TPS dekat dengan jalan raya, sehingga memudahkan dalam pengangkutan sampah ke TPA.

3. Gangguan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya harus seminimal mungkin. Untuk mengurangi efek bau dapat digunakan

4. Kontruksi dan operasi semurah mungkin, akan tetapi mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan.

5. Pertimbangan daur ulang, recovery, reuse dan lain-lain.

6. Perlu dilakukan analisa yang akurat, apabila ada beberapa lokasi yang potensial. Disamping hal-hal diatas perlu juga dipkirkan :

1. Biaya pengangkutan.

2. Pemilihan lokasi berdasarkan kendala-kendala operasional. 3. Tidak dekat dengan sumber air.

4. Tidak mencemari air permukaan. 5. Kepadatan daerah yang dipilih rendah. 6. Masih ada lahan yang kosong.

Mengantisipasi kondisi yang tidak memiliki lahan ideal untuk penempatan lokasi TPS, peletakan lokasi TPS agar tidak menggangu masyarakat sekitar dapat disiasati dengan mendasain lokasi TPS, antara lain:

1. Lokasi TPS didesin menarik dengan menambahkan unsur vegetasi sebagai penambah estetika (mebuat taman disekitr TPS)

2. Menyemprotkan cairan yang dapat mengurangi efek bau pada sampah yang tertimbun di TPS.

4.2.1.4. Sistem Pengangkutan

Keterbatasan armada sering menimbulkan dampak pada proses pengangkutan. Agar tidak terus berlanjut, maka arahan penanganannya adalah pengadaan armada dengan memperhitungkan volume sampah untuk mengetahui kebutuhan armada serta mempertimbangkan biaya operasional.

Dari hasil analisa sistem pengangkutan sampah manajemen yang dilakukan sebagai wujud arahan sistem manajemen pengangkutan yaitu menggunakan sistem pengangkutan dengan metode Haulet container system (HCS) adalah sistem pengumpulan sampah yang wadah pengumpulannya dapat dipindah-pindah dan ikut dibawa ke tempat pembuangan akhir. Sistem ini menggunakan sitem kontainer tetap. Yaitu Untuk sistem kontainer tetap, kendaraan pengangkut keluar dari pool (DKP) langsung menuju ke TPS kemudian membawa kontainer yang berisi sampah menuju TPA. Dari TPA, kendaraan truk dengan kontainer kosong menuju kontainer yang berisi sampah di TPS berikutnya sampai dengan ritasi yang terakhir. Sedangkan arahan untuk sistem pengangkutan adalah dengan melakukan peningkatan pola pengangkutan serta peningkatan peralatan angkut.

Gambar 4.2 Sistem Containner Tetap

4.2.1.5. Tempat Pembuangan Akhir

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan,

Selama ini masih banyak persepsi keliru tentang TPA yang lebih sering dianggap hanya merupakan tempat pembuangan sampah. Dalam manajemen pengelolaan sampah Kota Mojokerto TPA akan diarahkan sebagai tempat pemrosesan akhir sampah (TPA). Hal ini disesuaikan dengan arahan pengelolaan sampah menurut UU no.18 tahun 2008 yang menjadikan TPA bukan sebagai tempat pembuangan akhir melainkan sebagai tempat pemrosesan akhir smpah.

Arahan penanganan pada sistem pembuangan akhir adalah;

1. Mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, baik dengan reduksi sampah sitem komposting incenerator maupun kegiatan pemulung.

2. Sampah yang sudah menumpuk di TPA segera dikurangi dengan mengolah/memusnahkan. Misalnya untuk sampah organik dapat digunakan sebagai makanan ternak atau komposting dan sampah anorganik diolah dengan 3R dan pembakaran dengan incinerator.

3. Peningkatan fasilitas dan peralatan di TPA

4. Meningkatkan kualitas SDM untuk operasional pengolahan sampah di TPA dengan memberikan pelatihan dan sosialisi pada SDM.

Arahan pengelolaan sampah berdasarkan UU terbaru pengelolaan sampah (UU No. 18 tahun 2008) yaitu mengubah budaya membuang sampah yang digantikan dengan budaya mengolah sampah yang dimulai dari sumber sampah (skala rumah tangga) yang kemudian dilanjutkan pada skala yang lebih luas (Skala kawasan). Namun tidak semua sampah dapat diolah dari sumber sampah maupun di TPS. Sisa sampah yang tidak terolah di TPS kemudian dijanjutkan ke TPA sebagai lokasi pengolahan akhir sampah. Sebagai upaya manajemen pengelolaan TPA, sitem yang digunakan dapat diarahkan berupa:

1. Pengolahan dengan cara sanitary landfill, yaitu sebuah sitem pengolahan sampah sebagai wujud penyempurnaan dari sitem contlol landfill. Sanitari lendfill ini yaitu program pengelolaan sampah dengan sistem penimbunan smpah secara sehat dimana sampah dibuang ditempat yang rendah atau parit yang digali untuk menampung sampah, lalu sampah di timbun dengan tanah yang dilakukan lapis demi lapis sedemikian rupa sehingga sampah tidak berada di alam terbuka (Tchobanoglous, Theisen, dan Vigil, 1993). Hal ini untuk mencegah timbulnya bau dan menghindari tempat bersarangnya binatang.

2. Penggunaan Incinerator dalam pengolahan sampah. Untuk sampah kering yang sekirnya tidak dapat dukelola dengan sitem sanitari landfill dapat menggunakan sistem incinerator. Cara kerja sistem ini yaitu dengan melakukan pembakaran pada jenis sampah dengan menggunakan teknologi pembakaran.

Dokumen terkait