• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Autisme dan Komunikasi yang digunakan dalam terapi anak autis ADHD

Dalam hubungan sosial anak autis bisa dikatakan sangat kurang sekali, dan meraka juga membatasi dirinya untuk bersosialisasi dengan masyarakat atau dengan teman seumuruannya. Anak autis juga masih kurang dalam merespon suatu pesan atau fokus terhadap pesan yang disampaikan oleh seseorang, biasanya salah mengartikan pesan. Anak autis susah di ajak berkomunikasi karena dia memiliki kerkurangan dalam berbicara bisa dikatakan dengan gangguan pada

60

perkembangan yang kompleks yang mempengaruhi perilaku dari anak tersebut. maka anak autis agar diterapi di sekolahan khusus untuk meghilangkan gangguan autisnya untuk menjadi anak yang normal dan bisa berkomunikasi, merespon pesan, bersosialiasi dengan orang lain. Inilah peran terapis dan metode penyampaian pesan dalam terapi anak autis yang memiliki keterbatasan komunikasi. Terapis juga mempunyai metode terapi sendiri sesuai kebutuhan dan kasus anak masing-masing. Di harapkan terapis dapat mengeluarkan si anak dari dunia autis menjadi anak normal dengan metode terapis yang sesuai dengan kebutuhan anak autis.

Didalam penelitihan ini menunjukan bahwa pengertian autisme menurut informan kepada peneliti, berikut pernyataan informan kepada peneliti :

Infor man 1

“autisme itu! Gangguan pada daya pikir anak terutama pada sistem motorik anak yang menyebabkan anak kurang berkosentrasi dan hanya fokus pada satu titik saja dan mereka cenderung asik dengan dunianya sendiri maka kita harus menarik mereka kedunia yang lebih rasionil atau nyata.”

(interview: Kamis, 17 Oktober 2013 Pukul: 14.00)

Infor man 2

”gangguan apa sistem motorik, yang menyebabkan kurangnya anak berfokus, yang menyebabkan perkembangan pada kosentrasinya kurang sehingga mereka mulai asik pada dunianya sendiri.”

(interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“autisme itu adalah gangguan motorik pada yang menyenbabkan anak kurang berkonsentrasi, bersosialisasi dan kurang memahami bahasa dan cenderung untuk melakukan sesuatu harus di ulang-ualng sampai mereka memahaminya.”

(interview: Senin 21 Oktoberm2013 Pukul 14:00).

Dari pernyataan diatas dapat disimpukan dari ketiga informan bahwa autisme yaitu suatu gangguan pada daya pikir si anak terutama pada sistem motorik anak yang menyebabkna anak kurang berkonsentrasi, bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain cenderung untuk melakukan sesuatu hal sendirian bisa diartikan si anak mempunyai dunia sendiri. Anak autis juga tidak bisa memahami kata atau bahasa karena itu siterapis atau orang lain jika mau berkomunikasi dengan anak autis harus menggunakan bahasa indonesia yang singkat, tidak bertele-tele supaya anak autis bisa merespon atau mengartikan bahasa kita. Anak autis harus mendapatkan materi secara berulang-ulang, karana anak autis muda lupa disaat dia kurang berkonsentrasi dengan pesan yang di sampaikan.

Berikut ini pernyataan mengenai proses penyampaian pesan yang disampaikan oleh informan kepada peneliti :

62

“iya, dengan menggunakan peraga, dengan contoh-contoh alat peraga seperti gambar buah-buahan, huruf alfabet, alat tranfortasi selanjtnya dengan sistem pegang dan melebel sehingga anak itu tahu bentuk dari benda tersebut, seperti halnya kita menyuruh anak autis memegang benda yang kita suruh! Pegang mobil, mereka bisa memegang dan tau bentuk mobil itu gimana.”

(interview: Kamis, 17 Oktober 2013 Pukul: 14.00)

Infor man 2

“yaa, pesan itu disampaikan dengan cara tatap muka, dan anak diberi perintah atau pertanyaan apabila anak tersebut tidak merespon maka pesan yang disampaikan secara berulang-ulang sampai anak tersebut mengerti apa yang disampaikan oleh terapis dan ketika pesan tidak direspon, maka anak dibantu untuk memberi respon.”

(interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“cara penyampaian pesan singkat tidak bertele-tele atau kalimat yang digunakan tidak panjang dan mudah di ketahui, dicerna oleh anak. Jelas itu tidak terlalu cepat dan artikulasi kata benar. Konsisten itu kata yang dipakai sama dengan satu respon serta tegas agar bisa merespon apa yang diucapkan”

(interview: Senin 21 Oktober 2013 Pukul 14:00)

Dari penyataan diatas bahwa informan 1 mempunyai proses penyampaian kepada anak autis menggunakan alat peraga sebagai media penyampaian pesan. Informan 2 proses penyampaian pesan dengan cara tatap muka dan anak diberikan perintah atau pertanyaan supaya anak bisa merespon pesan yang disampaikan oleh terapis. Informan 3

proses penyampaian pesan secara singkat tidak bertele-tele supaya si anak dapat mencerna kata yang disampaikan.

Proses penyampaian pesan itu efektif apabila anak autis tersebut mau merespon serta menerima pesan. Berikut penyataan yang disampaikan informan :

Infor man 1

“bisa tetapi tidak sempurna, jika anak tersebut tidak merespon pengucapan kita berarti anak tersebut kurang mengerti dan pengucapan kita harus di lakukan secara berulang-ulang dan diharap mereka dapat menerima instruksi dari terapis.”

(interview: Kamis, 17 Oktober 2013 Pukul: 14.00)

Infor man 2

“Sejauh ini cukup efektif. Meskipun perintah atau intruksi tidak langsung direspon, namun lama-lama anak akan merespon dengan sendirinya memerlukan waktu yang agak lama untuk merespon perintah dari terapis”.

(interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“ masih belum efektif, tetapi terapis juga sering memberikan perintah kepada anak autis dan anak tersebut memberiakan respon maka terapis memberikan reward tepuk tangan atau memberikan ucapan Ok kamu pintar! Itu memerlukan waktu yang lama dan harus perintah diulang-ulang dengan menggunakan bahasa indonesia singkat dan tegas”

64

Dari pernyataan diatas bahwa penyampaian pesan yang efektif pada Infoman 1 tidak sempurna dan pesan harus diulang-ualng penyamapaianya. Pada informan 2 yaitu cukup efektif tetapi harus memerlukan waktu yang agak lama untuk anak merespon pesan yang diberikan oleh terapis, sedangkan informan 3 menyatakan bahwa si anak belum efektif dan harus mengulang-ualng pesan atau intruksi dari terapis.

Berikut ini adalah penyataan bagaimana cara terapis berkomunikasi dengn anak autis :

Infor man 1

“Dengan menggunakan komunikasi veribal dan nonverbal”

(Interview: Kamis, 17 Oktober 2013 Pukul: 14.00)

Infoman 2

“ya. Dengan cara menggunakan komunikasi verbal dan non verbal. Kalau komunikasi verbak itu seperti perintah. Jika perintah itu tidak ada respon maka naka itu akan diberiakan bantuan dengan komunikasi non verbal yaitu dengan bahasa tubuh seperti dengan menunjuk tangan kearah beda yang diminta atau mengarahkan tangan si anak kearah bendanya”

(Interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“iya dengan menggunakan komunikasi verbal dengan lisan dan komunikasi non verbal contohnya dengan tindakan/ gerakan tubuh”

Dari pernyataan diatas bahwa terapis berkomunikasi dengan anak autis yaitu dengan menggunakan komunikasi verbal(lisan) dan komunikasi non verbal(bahasa tubuh) untuk berkomunikasi dengan anak autis.

Berikut ini mengenai pernyataan tentang mengenai ciri-ciri anak autis ADHD

Infoman 1

“anak autis biasanya tidak mau di peluk, tidak ada mata, kurang adanya kosentrasi komuniaksi dan bahasanya masih kurang”

(interview: Kamis, 17 Oktober 2013 Pukul: 14.00)

Infor man 2

Kurangnya bersosialisasi dengan lingkungan tidak ada kontak mata suka nya menyendiri.

(interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“pada awalnya anak autis itu tidak mau dipeluk mereka menghindar dan tidak merespon orang sekitar serta tidak ada kontak mata, lebih cenderung menyendiri dan asik pada dunianya sendiri”

(interview: Senin 21 Oktoberm2013 Pukul 14:00).

Dari penyataan diatas informan 1 menyatakan ciri-ciri anak autis yaitu anaknya tidak mau dipeluk dan kurang adanya kosentrasi. Informan 2 menyatakan ciri-ciri anak autis kurangnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, sedangkan pada informan 3

66

anak autis yaitu tidak mau dipeluk, tidak ada perhatian dengan orang sekitar dan kontak matanya kurang sehingga kurang fokus dalam segala hal yang ada di hadapanya.

Peneliti juga mengamati Radhya dan Alwi ketika terapis sedang menberikan terapi, kemudian peneliti menanyakan kepada terapis, berikut ini pernyataan terapis kepada peneliti tentang kasus dan penanganannya.

Infor man 1

“kebetulan mereka berdua itu gangguannya sama yaitu Autis ADHD. Jadi kalau Radhya itu belum mengerti perintah dan susah dalam pengucapan kata-kata kurang sempurna. Radhya tidak mengerti arti jangan/ larangan, tidak memiliki rasa sakit dan perhatian terhadap terapis masih kurang, sesudah diterapi Radhya sudah mulai mengerti sedikit-sedikit tentang perintah, larangan dan mengenal rasa sakit tetapi terkadang juga anak ini kurang fokus sehingga tudas terapis perlu ditingkatkan lagi dalam menerapi, artikulasi juga suda mulai mengalami peningkatan dan sudah bisa diajak berkomunikasi dengan lingkungan. Tidak lupa si terapi juga harus memberkan perhatian khusus, karena anak autis senang sekali jika diperhatiakn oleh orang disekitatnya.”

“kalau Alwi, sebenarnya khusnya hampir sma dengan Radhya, tetapi Alwi lebih cenderung dengan fokus kontak matanya kurang dan cara bicaranya kurang masih menggunakan bahasa yang aneh yang membuat orang disekitarnya bingung dengan bahsanya. Terapi sesudah diterapi Alwi mengalami perubahan meskipun tidak sempurna, bisa fokus kontak matanya dan bicaranya agak lancar meskipun kadang-kadang membuat bingung yang dajak berkomunikasi.”

Infor man 2

ya, kebetulan mereka berdua itu ADHD, kedua juga hampir sama, keduanya aktif,atensinya kurang, kontak matanya kurang, masi belum mengerti perintah sebelum diterapi.

(interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“mereka berdua ADHD, awalnyamereka masuk difokuskan ke hiperaktif terlebih dahulu. Dan semua meteri tetap diberikan, namun target awal adalah mengurangi atau memperkecil hiperaktifnya selama mereka masih hiperaktif, terapi SI lebih banyak digunakan dan waktunya cenderung lebih lama. Selanjutnya ke kontak mata atau atensi terhadap lawan bicara maupun terhadap lingkungannya. Tentunya materi terapi masih tetap diberikan. Ketika kontak mata atau atensi sudah mulai ada, anak sudah mulai tenang, kepatuhan mulai terbentuk. Maka materi-materi lainya tentu akan lebih mudah masuk ke anak. Pelan-pelan anak akan merespon dan mulai mau pengikuti perintah-perintah sederhana, yang pada akhirnya materi bisa jalan.”

(interview: Senin 21 Oktober2013 Pukul 14:00).

Dari pernyataan tentang kasus anak autis dan cara penangananya, dari semua informan yaitu kasus ADHD yang cara bicaranya kurang, tidak ada kontak mata, pengucapan kata-kata belum sempurna dengan caea penanggananya yaitu dengan cara diterapi SI terapi melalui sensor sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh, gravitasi, penciuman, pengucapan, pengelihatan, dan pendengaran.

68

Berikut ini pernyataan mengenai sistem pembelajaran yang digunakan terapis kepada anak autis.

Infor man 1

“kalau ditempat terapi ini ada sistem pembelajaran one by one dengan teknik yang digunakan ada dua cara yaitu anak diterapi tidak harus duduk diam diatas kursi melaikan duduk dilantai dengan cara ini bisa membuat anak tersebut nyantai tapi pengajaran yang diberikan harus tetap tegas keas dan singkat. Karena anak autis tidak bisa menerima materi yang berat, karena adanya gangguan kosentrasi.

(interview: Kamis, 17 Oktober 2013 Pukul: 14.00)

Infor man 2

“ada one-one terapi dan transisi”

“kalau one-one terapi itu seperti belajar privat yang dimana satu anak dengan satu terapi. Sedangkan transisi itu satu kelas bisa diisi dengan 2-3 anak dengan satu terapis karena anak tersebut sudah mengalami perkembangan, ini bisa membuat si anak bersosialisai dengan teman.”

(interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“kita menggunakan sistem pengajaran One by one”

“kalau terapi one by one itu, terapis lebih cenderung atau berfokus satu anak saja.”

Jadi sistem pembelajaran yang digunakan antara terapis dengan anak autis 2 yaitu ada one by one therapy dan kelas transisi. One by one therapy adalah didalam satu kelas terdapat satu anak terapis. Sedangkan kelas transisi itu satu kelas bisa diisi dengan 2-3 anak dengan satu terapis karena anak tersebut sudah mengalami perkembangan, ini bisa membuat si anak bersosialisai dengan teman dan berfokur pada materi akademik untuk mempersiapkan si anak untuk masuk ke sekolah umum nantinya.”

Berikut ini pernyataan mengenai apa saja yang diajarkan di kelas one by one dan kelas transisi oleh informan kepada peneliti.

Infor man 3

“yang diajarkan dalam kelas one by one itu SI/OT, ST, ABA, yang dimana satu terapis satu materi dan satu anak. Misalnya saya memberikan terapi SI/OT. Materi selanjutunya materi diberikan oleh terapi yang lain”

“SI/OT itu anak diajarkan materi gerak, persepsi, imajinasi, keseimbangan, ketangkasan, tactilenya itu jika ada yang bermasalah. Tectile itu kepekaan indera perabanya. Ada kalanya anak-anak itu sensitif anak tidak mau merasakan sesasi apapun. Sehingga sia tidak merasakan sakit ketika berjatuh, terluka atau ketika ia menyakiti sirinya sendiri saat tantrum.”

“kalau yang diajarkan di ST itu anak diajarkan untuk berbicara dan berbahasa. Mayoritas anak autis mengalami hambatan komunikasi dan keterlambatan berbicara. Disini anak diajari bagaimana cara mengluarkan bunyi dari mulai vokal, kata sampai dengan membuat kalimat, menjawab pertanyaan serta melebel berbagai macam benda misalnya

70

buah-buahan, anggota tubuh, hewan-hewan, alat transportasi serta benda yang ada disekitar.

“kalau terapi ABA itu anak dipersiapkan untuk dapat menerima materi atau belajar layaknya disekolah secara akademik. disini metode LOVAAS harus benar-benar diterapkan \, jadi anak harus bisa menerima materi dengan duduj dikursi, menghadap kemeja, menerima tugas dari awal hingga selesai. Kecuali untuk anak baru masuk atau baru d terapi materi bida lebih flesibel. Jadi ABA itu anak diajarkan untuk mengerti perintah, bina diri, membaca, berhitung dan mengerjakan tugas sebagainya hingga materi akademis itu mengikuti kemampuan berkembang anak

“ kalau di kelas transisi itu anak diajarkan berbagai macam materi (OT, ST, ABA) yang cenderung ke akademis. Namun yang lebih difokuskan pada kelas ini adalah kesiapan si anak untuk belajar bersama-sama. Ada teman-teman yang lain dalam satu kelas ada persaingan, ada distraksi dan penyampaian maupun materi layaknya seperti disekolah. Jadi terapis berada didepan kelas. Tujuanya mempersiapkan anak untuk belajar disekolah atau memperbaiki respom atau perilaku anak bagi yang sudah bersekolah”

(interview: Senin 21 Oktoberm2013 Pukul 14:00)

Jadi terapi yang diberikan terapis dikelas one by one therapi adalah ST atau Speech Therapy, OT/ST atau Occupation therapy, Sensory Motorik, SI atau System Integration. Sedangkan dikelas Transisi itu anak akan diajarkan materi yang cenderung ke materi akademis.

Berikut ini adalah penyataan terapis mengenai terapi yang digunakan di Terapi cahaya indah Surabaya.

Infor man 1

“saya menggunakan terapi ABA, Terapi ST, Terapi SM dan Terapi SI. Kalau ABA sering disebut terapi untuk menterapi perilaku anak autis jadi terapi ini untuk perilaku yang tidak bisa dikendalikan menjadi normal atau terkendali, selain itu untuk mengajarkan keterampilan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh anak autis sehingga mereka bisa merespon dengan sederhana.”

“Kalau ST, itu untuk terapi wicara. Jadi terapi ini untuk melatih anak untuk pengucapan kata-kata yang benar dan melatih anak menyusun kata-kata dalam suatu kalimat sederhana.”

“Kalau SM, terapi ini tentang stimulasi motorik bisa dikatakan terapi gerak, anak autis biasanya memiliki tubuh yang kaku tidak bisa halus dengan cara mengerak-gerakan anggota tubuh anak semakin luwes contohnya: olah raga kecil mengeleng-gelengkan kepala, mengangakt tangan keatas dll.”

“Kalau SI itu Sensory Integration, terapi untuk kepekaan inderanya dia, jadi tadinya kasar menjadi halus, bisa dikatakan kurang peka dalam memperhatiakan sesuatu benda apa yang dipegang, contohnya: Radhya, awalnya dia tidak bisa merasakan sakit dengan melalui terapi SI Radhya saat ini dapat merasakan rangsangan yang dirasakan oleh panca indranya.”

72

Infor man 2

“kalau metodenya LOVAAS, sedangkan jenis terapinya itu ABA”

“Metode LOVAAS itu, terapi dengan metode penyampaian pesanya kaku tegas dengan suara keras, misalnya anak kalau belajar itu harus duduk dikursi dengan memperhatikan terapis tetapi terapis juga tidak terus-terusan belajar dikelas melainkan memberikan materi secara dinamis”

“jenis terapinya itu ST itu untuk belajar berbicara. Kalau OT itu anak diajarkan untuk melakukan pekerjaan, motorik gerak. Jadi anak bisa menukis, memakai baju sendiri. Kalau ABA itu sendiri anak untuk diajarkan untuk pahuh pada perintah, mengerti perintah dan pre akademik.”

(interview: jum’at 18 Oktober 2013 Pukul 09.00)

Infor man 3

“Metodenya Lovaas dan terapinya ABA”

“LOVAAS itu adalah salah satu metode yang digunakan oelh terapis anak autis yang cara penyampainanya secara tegas, singkat, berulang-ulang dan harus berbicara keras. Jika ABA itu jenis terapi yang digunakan lebih cenderung mengajarkan anak tersebut untuk berperilaku, bereketerapilan dan berbicara.”

(interview: Senin 21 Oktoberm2013 Pukul 14:00).

Dari penyataan diatas bahwa terapi yang digunakan oleh sekolah khusus terapi Cahaya Indah yaitu terapi ABA (terapi perilaku), ST (terapi bicara), SM (terapi gerak), SI (terapi panca indra)

4.3 Pembahasan

Dari pernyataan ketiga informan dapat kita ketahui tiga dari tiga informan menerapkan metode penyampaian pesan dalam terapi anak autis yang memiliki keterbatasan komunikasi, dengan cara menggunakan terapi-terapi yang bisa membuat anak tersebut mengkurangi gangguan autis, yang dimana gangguan autis tersebut yang dikekemukakan oleh ketiga informan adalah gangguan daya pikir/ gangguan pada sistem motorik yang menyebabkan anak tersebut kurang fokus sehingga perkembangan konsentrasi anak autis dan tidak adanya kontak mata serta kurangnya bersosialisasi dengan lingkungan yang membuat anak itu asik dengan dunianya sendiri.

Dalam terapi, informan juga menerapkan metode dan jenis terapi yang digunakan dalam menterapi anak-anak autis , metode yang digunakan adalah metode LOVAAS dimana metode Lovaas itu metode penyampaian pesanya yang sifatnya kaku, tegas dengan suara keras, sedangkan jenis-jenis terapi yang digunakan oleh informan seperti Terapi ABA(belajar dan bermain), ST(terapi berbicara), OT(terapi gerak), SI(terapi ketangkasan dan kreatifitas) dan hampir terapi digunakan oleh ketiga informan untuk menterapi anak autis dengan cara bertatap muka one by one atau berkomunikasi langsung antara terapis dan anak autis. supaya si anak merasakan adanya kedekatan secara fisik maupun secara batin dengan terapis dan anak-anak autis bisa merespon perintah/ intruksi dari terapis.

74

Pada metode penyampaian pesan kepada anak-anak autis, terapis juga menetapkan suatu metode yang dimana terapis menggunakan alat peraga, contohnya alat peraga seperti gambar buah-buahan, angka, alfabet dll. Selanjutnya terapis mengajarkan sistem pegang dan melebel suatu benda, dengan cara ini semata-mata agar anak autis tau dan dapat memegang bentuk asli dari benda itu. Proses penyampaian pesan disampaikan dengan cara tatap muka/ secara langsung dan menggunakan komunikasi verbal dan non verbal untuk berkomunkasi dengan anak autis.

Terapis juga menerapkan satu metode penyampaian pesan secara efektif dalam metode penyampaian pesan/ intruksi. Hubungan interpesonal terapis dan anak autis dapat berkembang dengan baik, karena terdapat timbal balik dari terapis ke anak autis dan sebaliknya. Terapis dapat memberikan intruksi/ materi dan anak autis memberikan respon dari pesan tersebut disini terjadi adanya metode penyampaian pesan yang efektif dimana terapis telah berhasil membuat anak autis memberikan sebuah respon yang positif dan sedikit demi sedikit, secara berulang-ulang si anak tersebut bisa berkurang gangguan autisnya bahkan bisa menjadi anak normal dan bersosialisasi dengan lingkungan seperti anak-anak yang lain bersekolah disekolahan umun untuk masa depan si anak tersebut. Karena anak autis itu minta diperhatikan dan disayang oleh orang sekitarnya.

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisa data dan pembahasan hasil penelitian didapatkan bahwa autisme dan komunikasi yang digunakan dalam terapi anak autis(metode penyampaian pesan dalam terapi anak autis yang memiliki keterbatasan komunikasi di terapi center “Cahaya Indah” Surabaya yang berorientasi pada konsep yaitu

1. Komunikasi dilakukan secara langsung atau dengan tatap muka antara terapis dan anak autis secara intensif, misal satu terapis menangani satu anak autis

2. Saling berhadapan dengan langsung, supaya terapis bisa mencari kontak mata dari anak autis sejatinya anak autis itu memuliki kelemahan pada kontak mata sehingga dapat menyebabkan kurang fokus berkosentrasi atau tidak bisa merespon perintah dari terapis.

3. Setelah ada kontak mata baru pesan/ materi itu disampaikan dengan menggunakan bahasa yang singkat, jelas lugas. Menggunakan nada yang tegas dan keras dan nada yang manis (melihat keadaan si anak terlebih dahulu.

4. Juga Menerapkan metode-metode/terapi-terapi yang selama ini sudah di pergunakan untuk menterapi anak autis contohnya terapi wicara, bermain,

76

keteramilan dan tidak hanya itu saja materi yang bersifat akademik juga ikut diajarkan untuk mempersiapkan si anak masuk ke sekolah umum. 5. Metode penyampaian pesan yang efektif itu tidak terlepas dari terapi anak

autis karena anak autis itu kadang-kadang belum bisa memahami sebuah pesan yang disampaikan oleh orang sekitarnya atau dimaknai yang salah oleh anak tersebut, maka dari itu terapis juga harus memikirkan peasan apakah yang bisa di cerna, dengan menggunakan bahasa indonesia secara verbal mau pun non verbal secara singkat saja jangan terlalu tertele-tele dan tidak boleh ada jeda, karena kalau ada jeda anak akan membikin ulah. Jika sebaliknya jika anak tersebut bisa merespon pesan atau perintah dari terapis, terapis juga memberikan reward seperti Oke kamu pintar sebagi balasan anak tersebut mengalami perubahan dan mau merespon perintah si terapis.

5.2Sar an

Saran-saran yang dapat disampaikan dalam penelitihan autisme dan komunikasi yang digunakan dalam terapi anak autis (metode penyampaian pesan dalam terapi anak autis yang memiliki keterbatasan komunikasi sebagai berikut

1. Untuk terapi center “Cahaya Indah” Surabaya, peneliti menyarankan untuk pengembangan terapi pada anak sesekali menggunakan

Dokumen terkait