• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sinopsis :

Dalam episode Si Doel Anak Sekolahan episode 17 yang bertema “Wah…Krisis” berceritakan di pagi hari yang cerah Mandra yang sedang sakit diajak narik oplet oleh Sabeni, tidak lama berselang Atun pun pamit berangkat kursus salon, tetapi sebelum ia berangkat Atun dan Amineh sempat berbicara dengan Sofia mengenai suaminya yang tidak pulang-pulang karena mencari burung kesayangannya, sedangkan Doel tengah bersiap pergi ke perusahaan batako Rohim membicarakan penawaran kontrak kerjanya.

Di hari yang sama, Sabeni bertemu dengan penumpang wanitanya yang membuat Sabeni terpikat, namun kejadian tersebut diketahui oleh Mandra sampai-sampai penumpang lain yang ingin menaiki opletnya tidak dihiraukan oleh Sabeni. Sepulang dari narik oplet mandra yang telah kehabisan suaranya ingin menceritakan kejadian tersebut, namun apa daya Mandra yang tidak dapat berbicara membuat Amineh bingung dan mengabaikannya. Karyo pulang tidak lama setelah Sabeni pulang narik opletnya, Amineh langsung memberikan kunci

kontrakannya dan menceritakan bahwa Sofia dan anak-anaknya telah pergi pulang kampung meninggalkan Karyo sendirian di kontrakan.

Dimalam harinya dan di tempat yang berbeda, Rohim berbicara dengan Zaenap di teras rumahnya, ia menginginkan Zaenap membujuk Doel untuk mau memegang perusahaannya, namun apa daya ibu Zaenap sangat melarang keras Zaenap berdekatan dengan Doel. Doel yang tengah sibuk belajar di kamarnya diganggu oleh Mandra yang ingin meminta tolong membacakan surat cinta dari kekasihnya Maysaroh, Mandra yang tidak tamat SD ini kaget ketika mengetahui isi surat tersebut bahwa kekasihnya telah mengajak bertemu pada dua hari yang lalu.

Keesokan harinya pagi yang cerah Sabeni terlihat tampil lebih rapih dan wangi dari biasanya, kecurigaan pun muncul pada diri Mandra dan Amineh, Mandra yang tau rahasia Sabeni menceritakan bahwa Sabeni tengah dekat dengan wanita lain. Semenjak mendengar informasi tersebut Amineh sangat kepikiran dan khawatir sehingga ia terlihat seperti orang bingung.

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Suasana di pagi hari

dimana terdapat tiga wanita sedang berada di halaman rumah, wanita pertama adalah amineh, terlihat menggunakan daster kuning dan bawahan selendang, wanita kedua adalah Atun memiliki rambut ikal dan panjang serta menggunakan baju bercorak bunga merah, dan yang terakhir Sofia dimana menggunakan daster berwarna biru,

mereka tengah

mengobrol di halaman rumahnya masing-masing dengan penyekat pagar bambu.

Sofia:

“Saya bakal angkutin barang-barang saya semua, saya bawa pulang ke jawa. Mendingan jauh dari dia bu, hidup tuh tentram, tenang hmmm. Saya permisi dulu ya bu” Amineh:

“iye.” Atun:

“nyak. Istrinya mas Karyo galak ye nyak.” Amineh:

“Udeh deh lu jangan ikut campur urusan orang mendingan lu berangkat sono deh, entar lu ketelatan lu di setrab sama guru lu.” Atun:

“yee.. emang Atun anak SD pake di setrab” Amineh:

“Udah deh sono berangkat deh, enyak mau siapin sarapan

Lingkungan rumah betawi tidak di sekat oleh pagar besi, melainkan hanya menggunakan pagar bambu. Sifat amineh yang tidak membahas urusan orang lain menjadi cerminan sifat orang betawi yang tidak pernah mengikut campuri urusan orang lain.

abang lu.”

Analisa:

Dari tayangan di atas terlihat bahwa lingkungan warga Betawi asli hanya menggunakan pagar bambu yang renggang sebagai penyekat rumah satu dengan yang lainnya. Hal tersebut mencerminakan bahwa warga Betawi tidak pernah tertutup untuk orang manapun yang ingin berkomunikasi atau berbaur dengan dirinya. Selain hal tersebut sikap Amineh di atas yang tidak tertarik membicarakan urusan keluarga Karyo sangat jelas bahwa orang Betawi mayoritas tidak suka ikut campur dan membicarakan orang dari belakang atau yang sering di kenal menggosip. Ia lebih suka memikirkan urusan keluarganya sendiri di banding orang lain.

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Suasana rumah Doel di

pagi dan di malam hari. Rumah yang terbuat dari bahan dasar semen, kayu dan genteng itu terlihat sangat luas. Dengan tembok depan rumah terbuat dari kayu berwarna hijau toska.

Suara kicauan burung dan suara back sound.

Orang betawi sebagian

besar memiliki

pekarangan rumah yang luas. Tanaman yang rimbun di sekitar rumah terlihat teduh dan nyaman untuk melakukan sesuatu. Rumah beratapkan genteng dan bertembok depan kayu merupakan ciri khas rumah betawi asli.

Analisa:

Dari episode ini banyak terekam gambar desain rumah asli Betawi, seperti salah satunya gambar yang diatas. Orang betawi sebagian besar memiliki halaman rumah yang luas serta pepohonan yang banyak dan rimbun. Tidak menutup kemungkinan banyak juga halaman atau lahan kosongnya digunakan untuk bercocok tanam atau berkebun, hal tersebut dikarenakan selain nantinya tanah tersebut akan diwariskan ke anak cucu, hasil dari berkebun pun dapat dinikmati keluarga.

Seperti contohnya rumah Doel, rumah yang memiliki halaman yang luas dimanfaatkan untuk membuka warung kecil-kecilan Amineh, serta sebagai tempat parkir oplet tua Sabeni. Rumah Betawi asli memiliki atap yang terbuat dari

genteng, hal tersebut membuat suasana dan udara dalam rumah terasa teduh dan nyaman. Dari segi bentuknya, rumah Betawi memiliki keunikan tersendiri, dalam desain rumah ini terdapat ornamen khas yang tidak lepas dari arsitektur Belanda.

Gambar 14 – Penggalan Bagian 11

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Dipagi hari yang cerah

terdapat Mandra sedang duduk di bale-bale teras rumah menggunakan baju biru dan celana

Amineh:

“Abang mau narik lagi?” Sabeni:

Rumah Betawi mayoritas memiliki bale-bale di teras rumahnya. Dan juga sifat pekerja keras Sabeni yang tercermin oleh

panjang, dan terdapat Sabeni yang duduk di sebelahnya. Rumah yang terbuat dari kayu bernuansa warna hijau dan kuning ini memiliki jendela tanpa kaca yang terbuat dari kayu. Terdapat pohon-pohon kecil dalam pot ditaruh dibagian pager kayu rumahnya.

Sedangkan Doel sedang melihat keluar jendela dan menggunakan sarung serta baju kaos.

“iye” Amineh:

“Mendingan abang di rumah dulu deh,

istirahat. Suara abang tuh ilang gitu,kalau

dipaksain terus teriak-teriak cari penumpang lagi entar suara abang tambah ilang deh” Sabeni:

“Ahh suara jauh ke kopling, mankanya gua mau ajak si mandra, biar ngenekin”

Mandra:

“yah turun pangkat lagi dah gua”

Amineh:

“yah kan si Mandra belum sehat bener bang” Mandra:

“iya kepala puyeng, badan masih meriang” Sabeni:

“Meriang jangan diturutin, tibang tereak-tereak panggil

penumpang aja susah amat, gua yang nyetir lu yang kenek. Percuma mulut lu lancip kayak

orang tua Betawi menjadi tambahan nilai positif warga Betawi.

ikan julung-julung cari penumpang aja susah, ayo berangkat.”

Analisa:

Rumah Doel dimana masih memiliki tembok yang terbuat dari kayu dan bilik merupakan rumah asli betawi jaman dahulu yang belum tercemar dan dirubah menggunakan semen seperti kebanyakan rumah sekarang. Lantainya pun masih terbuat dari semen. Jendela tanpa kaca dan pintu rumah yang terbuat dari kayu selalu terbuka lebar, kain atau horden digunakan sebagai alat penutup pintu rumah, kamar ataupun jendela. Hal ini menunjukan betapa terbukanya budaya Betawi terhadap pendatang.

Diteras terdapat bale-bale yang sering dipergunakan untuk bersantai atau menerima tamu. Rumah Betawi meskipun terbuat dari bahan-bahan yang sederhana namun memiliki ornamen yang khas. Fornitur yang digunakan dalam rumah khas Betawi ialah terbuat dari kayu-kayu yang kuat seperti kayu jati. Kayu-kayu tersebut terdapat ukiran-ukiran khas budaya Betawi. Ukiran-ukiran Kayu-kayu yang sering terlihat terdapat di jendela, pintu, kusen atau lubang pintu.

Rumah seperti ini saat ini sangat jarang di temukan di ibu kota Jakarta, seiring pekembangan jaman rumah asli betawi telah berganti dengan rumah-rumah modern. Walaupun keberadaan rumah-rumah asli betawi ini dapat ditemukan, namun keaslian bentuk rumahnya sudah tidak seperti dulu.

Gambar 15 – Penggalan Bagian 12 PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Dipagi hari Doel yang

sudah rapih

menggunakan kemeja coklat mudanya duduk di meja makan dan mengambil beberapa makanan yang terdapat di meja. Sedangkan Amineh terlihat menghampiri Doel yang sedang makan.

Amineh:

“Kagak ada apa-apa Doel, dihabisin babeh lu semue. Tau tuh babeh lu belakangan ini kalau makan banyak banget, enyak dadarin telor ya” Doel:

“Gak usah nyak, ini udah

Ruang makan yang sekaligus menjadi ruang keluarga adalah ciri rumah khas betawi, alat-alat makan yang masih menggunakan bahan kaleng dan besi serta lampu model lentera dan pajangan dinding kepala hewan sering terlihat di rumah ini. Kamar mandi

Disiang hari amineh terlihat bingung ingin melakukan sesuatu,

amineh yang

menggunkan kebaya biru dan sarung batik putih pergi ke kamar mandi. Sedangakan di sana

terdapat Doel

menggunakan baju merah dan celana pendek mencuci baju sendirian.

cukup ada kecap sama kerupuk kagak ngapa-ngapa”

dan tempat menyuci baju masih terdapat di luar.

Analisis:

Rumah khas Betawi memiliki ruang makan yang sekaligus sebagai ruang kumpul keluarga. Alat-alat makan serta perabotan masaknya pun masih menggunakan bahan kaleng ataupun besi. Ruangan yang dimiliki rumah ini tidak banyak, dan tidak berbelit-belit antara lain ruang tamu atau teras sebagai tempat bertemu tamu, 3 ruang tidur dan ruang makan yang sekaligus ruang kumpul keluraga. Tempat tidur yang digunakan masih terbuat dari besi dan kelambu. Lampu yang digunakan merupakan lampu jenis lentera dan pajangan dindingnya merupakan pajangan keramik atau kepala hewan.

Dalam film Doel letak kamar mandi terdapat di luar rumah, kamar mandi yang memiliki pintu seng dan bersebelahan dengan tempat menyuci ini terlihat sangat sederhana. Sumur merupakan sumber air dan kayu bakar merupakan sumber api. Walaupun Doel merupakan anak laki-laki, namun ia memiliki

tanggung jawab yang besar, sampai ia harus menyuci bajunya sendiri tanpa harus mengandalkan orang lain.

4.6. Pembahasan

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan merupakan sebuah sinetron tontonan ringan yang siapa pun dapat menikmatinya. Sinetron ini menggambarkan kegiatan sehari-hari keluarga Betawi asli dengan karakter watak masing-masing. Kebudayaan Betawi sangat tercermin dari sinetron ini, baik dari segi verbal maupun non verbalnya.

Dari tayangan di atas tepatnya pada episode 15-17, film ini mampu mengangkat budaya betawi ditengah moderesasi kota Jakarta, dengan kemasan dan bahasa yang ringan budaya Betawi dapat diterima oleh warga indonesia. Film ini menceritakan mengenai budaya Betawi dari segi rumah, pakaian, pekerjaan, dan sifatnya. Rumah Betawi memiliki pekarangan yang luas dan masih terdapat banyak pohon di sekitarnya, pekarangan ini biasanya di gunakan menjadi perkebunan, usaha atau diwarisi ke anak cucu. Penggunaan kata “Lu Gua” merupakan sapaan yang digunakan oleh orang tua kepada yang lebih muda.

Selain penggunaan kata sapaan di atas, orang Betawi sering kali berbicara keras, tinggi dan kasar, hal tersebut merupakan hal yang biasa di budayanya. Hal tersebut mencerminkan bahwa mereka tegas dan disiplin, serta tidak suka bertele-tele dalam berbicara dan bertindak. Di film ini sering dimunculkan pakaian khas betawi, terutama digunakan oleh Amineh dan Sabeni, pakaian khas wanita merupakan baju kebaya dan selendang sebagai bawahannya, sedangkan prianya

menggunakan kaos dan baju koko panjang, celana bahan, sarung, sabuk tebal serta peci.

Alat musik khas Betawi yang ditayangkan dalam sietron ini adalah teompet tanjidor. Tanjidor ini sangat dijaga keberadaannya oleh Doel anak Betawi asli, karena tanjidor ini merupakan warisan dari orang tuanya. Selain alat musik yang turun temurun, budaya Betawi pun mempunyai cara turun temurun yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Mereka biasanya membuat jamu untuk menyembuhkan penyakit ringan serta menjaga kekebalan tubuh.

Wanita Betawi cenderung tidak mementingkan pendidikan formalnya, karena mereka memiliki paradigma bahwa wanita nantinya akan menjaga rumah dan kembali ke dapur. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa tidak memiliki semangat dan keinginan yang tinggi dalam mencapai cita-citanya.

Mayoritas warga Betawi memeluk agama islam, mereka masih memegang teguh keyakinannya. Orang Betawi juga kuat sekali menjaga nilai-nilai agama yang tercermin ajaran orang tua kepada anak-anaknya. Warga Betawi memiliki sifat peduli dan jiwa sosial yang tinggi terhadap lingkungannya, tidak pendendam, tidak suka bermusuhan, dan memiliki sikap pluralisme. Mereka juga kebanyakan tidak suka membicarakan orang dari belakang seperti menggosip.

Rumah Betawi asli masih memiliki tembok yang terbuat dari kayu dan bilik, genteng sebagai atap rumah, dan semen atau ubin sebagai lantainya. Jendela tanpa kaca dan pintu rumah yang selalu terbuka lebar hanya ditutupi oleh horden menggambarkan keterbukaan warga Betawi terhadap budaya lain.

Terdapat bale-bale di teras rumah yang digunakan untuk menerima tamu atau bersantai-santai. Perabotan yang berada dalam rumah Betawi ini berbahan dasar kayu dan kaleng atau besi, hiasan didingnya berupa keramik dan kepala hewan. Rumah yang hanya memiliki 3 ruang tidur, 1 ruang makan atau ruang keluarga, serta teras atau ruang tamu ini terdapat kamar mandi yang berada di luar ruangan. Sumur menjadi sumber air, dan kayu bakar menjadi sumber apinya.

Dokumen terkait