• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Sinetron Si Doel Anak Sekolahan"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

Awal Si Doel Anak Sekolahan ditayangkan di layar kaca pada tahun 1996 di stasiun televisi RCTI. Sambutan meriah pada sinetron budaya Betawi ini mendorong Karnos Film sebagai rumah produksi Si Doel Anak Sekolahan terus mengembangkan filmnya hingga 162 episode. Film ini di sutradari oleh Rano Karno dan dibintangi oleh artis-artis terkenal pada masa nya.

Film sinetron Si Doel Anak Sekolahan adalah salah satu sinetron yang memiliki cerita kehidupan sehari-hari sebuah keluarga Betawi asli yang dimana pada mulanya tinggal di Senayan Jakarta pusat, tetapi karena perkembangan pembangunan Jakarta mereka menjadi salah satu korban penggusuran sehingga mereka harus tinggal di Lebak Bulus Jakarta Selatan.

Doel merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Sabeni dan Ibu Amineh dimana ia lulusan suatu universitas Jakarta jurusan teknik mesin. Doel memiliki adik yang bernama Atun dan paman yang bernama Mandra. Mereka tinggal dalam satu rumah dan memiliki sebuah warung kecil usaha ibu nya.

Doel merupakan sosok pria pintar dan baik dimana selalu dibanggakan dalam keluarganya, karena Doel merupakan orang betawi asli yang berhasil memiliki pendidikan tinggi sesuai dengan cita-cita orang tuanya. Dalam kisah

(2)

percintaanya Doel diberi dua pilihan wanita yang keduanya sangat mencintai dirinya, wanita tersebut adalah Sarah dan Zaenab.

4.2. Penokohan Dalam Film Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

 Doel

Doel merupakan seorang pria asli Betawi mandiri yang tinggal bersama orang tua dan pamannya di Lebak Bulus Jakarta Selatan. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dan ia berhasil merintis pendidikannya hingga lulus sarjana. Pada mulanya Doel bekerja sebagai oprator mesin di pabrik batako milik orang tua Zaenab yang bernama Rohim, setelah beberapa lama Doel akhirnya memutuskan untuk bekerja di suatu perusahaan kontraktor.

 Sabeni

Sabeni merupakan suami dari ibu Amineh sekaligus ayah kandung dari Doel dan Atun. Sabeni merupakan pria asli Betawi yang berprofesi sebagai supir oplet miliknya. Dari luar dia nampak galak tetapi sebenarnya ia adalah seorang ayah yang penuh kasih sayang dan perhatian. Sabeni selalu menggunakan baju khas betawi yaitu atasan kaos oblong, baju koko, sabuk tebal, celana bahan atau sarung serta peci sebagai penutup kepala. Ia sering sekali memarahi Mandra adik iparnya karena ulah yang dibuat oleh Mandra.

(3)

 Amineh

Amineh merupakan istri dari bapak Sabeni dan ibu kandung dari Doel dan Atun. Amineh merupakan sosok ibu yang berhati sabar dan penuh dengan kasih sayang. Amineh memiliki warung kecil-kecilan yang berada tidak jauh di depan rumahnya. Amineh sering menggunakan baju khas Betawi yaitu baju kebaya dan selendang sebagai bawahannya.

 Atun

Atun merupakan adik kandung dari Doel, atun hanya seorang wanita berpendidikan lulusan Sekolah Menengah Pertama. Atun memiliki sifat yang polos dan baik, ia rela mengeluarkan uang untuk kursus kecantikan demi menggapai cita-citanya membuka salon di rumahnya. Sehari-hari Atun hanya dirumah membantu ibu Amineh mengurus rumah dan menjaga warung. Atun menyukai seorang pria yang bernama Karyo dimana pria tersebut tinggal di kontrakan ayahnya.

 Mandra

Mandra merupakan adik kandung dari ibu Amineh. Mandra yang sebelumnya tinggal di rumah bapaknya (ngkong tile) karena terjadi keributan kecil maka kini Mandra tinggal bersama kakanya dan keluarga Sabeni. Mandra yang tidak tamat Sekolah Dasar ini bekerja sebagai pengangguran, sehari-hari ia hanya membantu kakak iparnya Sabeni menarik oplet. Mandra yang memiliki watak keras kepala, suka

(4)

membantah, dan pemalas ini sering sekali menjaili keponakannya Atun. Karena sifatnya tersebut Mandra sering sekali menjadi biang kladi dalam keributan-keributan kecil di keluarga Sabeni, tetapi di balik itu semua Mandra merupakan sosok pria betawi asli yang baik hati.

 Karyo

Karyo merupakan pria rantau paruh baya asli jawa tengah, pria ini sebelumnya telah menikah dengan janda anak dua. Karyo yang tinggal di kontrakan Sabeni bekerja sehari-hari sebagai pedagang batik. Karyo yang sedang mengurus perceraiannya dengan istrinya kini telah jatuh hati pada anak pemiliki kontrakan yaitu Atun. Karyo yang hobinya memelihara burung kesayangannya (bejo dan badut) ini sering pula membantu mandra menjadi kenek oplet. Dalam film ini karyo sering sekali bertengkar atau menjadi lawan mainnya Mandra.

 Sarah

Sarah merupakan wanita cantik keturunan Indonesia Belanda lulusan universitas luar negri. Sarah yang sedang menyelesaikan tugas kampusnya tertarik mengangkat kebudayaan Betawi sebagai bahan studinya. Pilihan Sarah jatuh pada keluarga Doel yang merupakan keluarga asli Betawi sederhana. Seiring perjalanan waktu Sarah yang merupakan keturunan orang kaya perlahan menyukai Doel.

(5)

 Zaenap

Zaenap merupakan wanita asli Betawi yang merupakan teman mainnya Doel pada waktu masih kecil. Zaenap yang telah dijodohkan dengan Doel sebelumnya oleh bapak kandungnya merasa sedih ketika Sabeni bapak Doel tidak menyetujui perjodohannya. Zaenap yang telah menaruh hati kepada Doel kini hanya bisa pasrah ketika ibu angkatnya menentang Doel sebagai pasangan Zaenap, dan terlebih lagi ada wanita lain di kehidupan Doel yaitu Sarah.

4.3. Semiotika Dalam Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan merupakan tayangan sinetron lama yang kini di siarkan ulang di televisi berbayar yaitu MNC Drama. Sinetron ini merupakan film kebudayaan yang bertemakan kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta khusus nya kebudayaan Betawi. Sinetron ini banyak disukai berbagai kalangan dari anak-anak hingga orang tua karena sifat tayangannya yang santai dan humor.

Setting cerita dalam sinetron ini dibuat seperti kesederhanaan lingkungan masyarakat Betawi. Sinetron ini menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi dan masalah-masalah kehidupan keluarga sederhana. Si Doel dan keluarganya tinggal di perkampungan Lebak Bulus Jakarta Selatan yang memiliki kehidupan bermasyarakat yang sangat sederhana.

(6)

Tanda dan makna merupakan kata kunci yang menghubungkan antara semiotika dan komunikasi. Didalam komunikasi terdapat unsur pesan yang berbentuk tanda-tanda, dan tanda-tanda ini mempunyai struktur tertentu yang dilatar belakangi oleh keadaan sosiologi ataupun budaya di tempat komunikasi itu hidup sehingga untuk mempelajari bagaimana struktur pesan atau konteks dibalik pesan-pesan komunikasi diperlukan studi semotika.

4.4. Analisa Data

Gambar-gambar yang terekam di dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan ini memiliki tanda-tanda yang merupakan simbolisasi dari wajah budaya Betawi. Untuk memperoleh gambaran mengenai budaya Betawi dalam sinetron ini, penulis melakukan analisis terhadap 3 episode/bagian yang menggambarkan budaya betawi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum masuk ke dalam analisis, penulis juga mengamati adegan-adegan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di rumah tinggal si Doel pada sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

(7)

Gambar 2 – Gambar Suasana Tempat Tinggal Si Doel

Tempat tinggal keluarga Sabeni yang berlokasi di pinggiran Jakarta merupakan sebuah daerah yang tenang, teduh, hijau dan memiliki lahan perkarangan yang luas untuk melakukan berbagai kegiatan di depan rumahnya. Di perkarangan rumah Doel ini adalah tempat berkumpul keluarga maupun tetangganya dalam melakukan aktifitas seperti menjaga warung, memperbaiki opletnya yang rusak, dan lain sebagainya.

(8)

Kehidupan sehari-hari yang terjadi di tempat tinggal si Doel menggambarkan kesederhanaan dari keluarga tersebut. Kehidupan sehari-hari keluarga Doel ini meliputi usaha berdagang dan menarik oplet sebagai sumber mata pencaharian nya, berkumpul bersama di ruang makan untuk makan bersama dan saling bercengkrama.

4.5. Pembahasan Hasil Analisa

4.5.1. Analisa Bagian 1

Sinopsis:

Dalam bagian episode 15 Si Doel Anak Sekolahan yang bertema “Huru-Hara” menceritakan bahwa Mandra yang sebelumnya tertidur didalam oplet berusaha menyalakan mesin mobilnya, namun karena mesin mobilnya yang sudah lama tidak dirawat membuat ayah si Doel marah dan menyuruh si Doel dan Mandra memperbaiki mesin oplet tersebut. Disisi lain ibu Amineh dan Atun sedang berjaga di warung, tidak lama istri Karyo Sofia datang untuk berbelanja dan berbincang mengenai Karyo yang ingin diajak pulang ke Jawa. Mendengar berita tersebut Atun yang tertarik dengan Karyo merasa sedih dan langsung masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah Atun mencoba menghibur diri dengan menjaili bapaknya Sabeni dengan meniupkan alat musik Tanjidor ke telinga ayahnya. Diluar dugaan ternyata badan Atun yang besar telah terjepit didalam tanjidor tersebut. Sontak sekeluarga pun panik dan malu, mereka berusaha mencoba melepaskannya

(9)

dengan membawa ke tukang las, namun si Doel melarang karena berbahaya dan tidak rela alat musik kesayangannya rusak, lalu di coba pula ke puskesmas namun apadaya puskesmas pun tidak menyanggupinya, sehingga jalan keluar terakhirpun tertuju pada tukang urut tradisional, berharap-harap cemas akhirnya Atun pun dapat lepas dari Tanjidor tersebut.

Gambar 4 – Penggalan Bagian 1

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Dipagi hari yang cerah,

Sabeni yang

menggunakan peci hitam

Babeh:

“Eh lu apain lagi mobil

Rumah halaman Doel yang luas dan masih banyak pepohonan

(10)

dan menggunakan kaos sebagai dalaman dan baju koko putih sebagai luarannya terlihat sedang

marah dan

membangunkan Mandra yang sedang tertidur dan mencoba menyalakan mesin mobil di bangku supir oplet tuanya yang berwarna biru.

Selain itu terlihat dari atas halaman rumah Doel yang luas dan masih memiliki banyak pepohonan yang hijau.

gue?” Mandra:

“Mau di idupin bang” Sabeni :

“ idupin-idupin, lu ape gak tau mobil akinya soak lu maksa aja! Dasar orang gak punya

pikiran” Mandra:

“soak gemana sih bang kan kemaren habis di setrum”

Sabeni :

“Setram setrum jidat lu gua setrum. Buka tuh cup mobil, gua mau liat mesinnye”

Mandra:

“kan abang di luar, abang aja yang buka” Sabeni:

“wah ngelunjak lu, mpok lu gua suruh buka dia buka, lu mau ngelawan gue hah!”

membuat lingkungannya terasa teduh dan juga mobil opletnya masih dapat parkir di halamannya.

Penggunaan kata “lu dan gua” sering digunakan di masyarakat betawi, Baik perbincangan dengan saudara maupun orang lain.

(11)

Analisa:

Dari analisa gambar diatas bahwa suasana yang terlihat di rumah si Doel menggambarkan ketenangan dan keteduhan yang ada di lingkungan rumahnya. Perkarangan yang luas dan dikelilingin pohon - pohonan yang rimbun dan hijau sering kali dijadikan tempat untuk melakukan berbagai macam kegiatan, salah satunya seperti memperbaiki mobil oplet tuanya.

Dalam bahasa betawi, penggunaan sapaan kata “lu dan gua” sering sekali diucapkan, walaupun terdengar sangat kasar, namun hal tersebut menjadi bahasa sehari-hari masyarakat Betawi. Penggunaan kata tersebut sering sekali di ucapkan dari orang tua kepada orang yang lebih muda, namun hal tersebut tidak terjadi ketika sebaliknya, orang yang lebih muda selalu menggunakan kata panggilan yang lebih sopan kepada orang tua. Seperti contohnya adalah “mpok” yang aryinya kakak perempuan, “abang” kakak laki-laki, “babeh” bapak, “nyak” ibu, “aye” saya, dan lain sebagainya. Penggunaan bahasa betawi ini menjadi suatu ciri khas warga Jakarta yang tidak pernah habis keberadaannya, dimana sekarang pun banyak warga luar Jakarta yang menggunakan kata “lu dan gua” dalam berbicara.

(12)

Gambar 5 – Penggalan Bagian 2 PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Di pagi hari tepatnya di

halaman rumah Doel Yang masih banyak pohon, terdapat Sabeni menggunakan baju koko dan kaos dalam berwarna putih, serta bawahan sarung berwarna biru, peci hitam dan sabuk besar di pinggangnya. Ia berdiri di samping mobil oplet tuanya yang berwarna biru

Di meja makan terdapat sabeni yang sedang duduk di bangku dan Amineh berdiri tepat di sampingnya. Amineh yang memiliki konde, menggunakan baju

Sabeni:

“Gatel-gatel, emang lu aja yang kegatelan, hhaah”

Sabeni: “Lela.. la..” Amineh:

“Apaan sih bang” Sabeni:

Pakaian pria berbaju koko, dalaman kaos, celana bahan atau sarung, peci dan sabuk tebal serta pakaian wanita atasan baju daster atau kebaya dan bawahan selendang menjadi suatu ciri khas pakaian orang tua warga Betawi.

(13)

kebaya coklat dan selendang merah sebagai bawahannya tengah menyuruh Sabeni untuk tidak ribut masalah makanan.

“Nih lu liat nih, kelakuan adek lu, habis dah ludes makanan gua, ditinggalin kepala ikan doang” Amineh:

“udah deh bang, jangan ngurusin masalah makanan aje, kagak pantes. Kalau emang abang masih lapar, aye beliin nasi uduk deh rumah mpok gayo”

Analisa:

Cara berpakaian Sabeni dan Amineh di film ini sangat mencirikan orang tua Betawi, Menurut tradisi pakaian sehari-hari pria betawi ialah baju koko atau sadariah, celana batik, kain pelekat dan peci atau kopiah. Pakaian wanitanya terdiri dari kebaya panjang bagian depannya, berenda, yang sering disebut "baju encim", kain batik corak jelamprang Pekalongan, bersanggula yang bentuknya tidak begitu besar diatas tengkuk disamping tusuk konde. Pakaian tersebut sudah dianggap cukup rapih untuk melakukan pekerjaan atau bertemu dengan orang lain.

Dari segi pakaiannya terlihat bahwa orang Betawi tidak terlalu rumit dalam penggunaannya sehingga nyaman bila digunakan untuk berkegiatan sehari-hari. Walaupun untuk saat ini sudah telihat jarang digunakan oleh masyarakat Jakarta melihat perkembangan jaman, namun masih banyak pula warga asli

(14)

betawi khususnya orang tua menggunakan pakaian khas betawi ini. Pakaian ini pun sering digunakan pada acara-acara resmi seperti pemilihan Abang None dimana bertujuan untuk mempertahankan budaya betawi asli.

Gambar 6 – Penggalan Bagian 3

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Atun yang memiliki

badan yang gemuk sedang meniup terompet “tanjidor”. Terompet tersebut diarahkan ke luar

Sabeni :

“Woi.. Setan lu, bikin jantung gua mau copot, anak siapa sih lu?”

Dengan nada yang tinggi, keras dan berbahasa kasar, sabeni memarahi Atun anaknya yang telah membuat jantung nya

(15)

jendela ruang makan yang terbuat dari kayu dan tertutup setengah kain dimana Sabeni sedang tidur santai di bale teras, tepatnya depan jendela tersebut.

Atun yang berbadan besar tersebut terjepit oleh tanjidor yang besar di perutnya. Doel, Sabeni, Mandra, dan Amineh terliha sibuk dan panik membantu mengeluarkan Atun dari tanjidor tersebut, namun atun terlihat kesakitan ketika keluarganya membantu mengekuarkan alat musik tersebut

Mandra :

“Doel.. doel, terompet lu di pake noh sama si Atun, yee yee, entar juga dia kualat tuh. Biarin aja Sabeni :

“Apa-apan sih lu main-main begituan?” Atun :

“hahahaha” Sabeni:

“hahaha.. sukur rasain, ketuleh lu ma orang tua, haha makan pencarian lu”

Mandra :

“udah-udah udah bawa ke tukang las aja dah” Sabeni :

“apaan tukang las emang lu kata ini knalpot” Doel :

“ enak aja, ini warisan gua. Enak aja!” Amineh :

“kalo kagak dilas ni kagak bisa copot. Ade lu nih!”

kaget oleh alat musik tiup khas Betawi Tanjidor.

Terompet Tanjidor merupakan alat musik warisan Betawi asli yang

masih dijaga

kelestariannya. Doel yang merupakan warga keturunan betawi asli sangat menyayangi alat musik warisan orang tuanya sehingga ia tidak rela kalau tanjidornya harus rusak begitu saja.

(16)

Doel :

“Jangan nyak, entar rusak ah.”

Analisa:

Warga Betawi sangat sering berbicara dengan nada yang tinggi, keras dan dapat dibilang kurang lembut/kasar. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan mereka, terlihat dari cara bicaranya orang betawi memiliki sikap yang tegas dan disiplin dalam melakukan sesuatu. Walaupun penggunaan bahasanya yang kurang sopan, tetapi itu hanyalah ungkapan yang wajar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga banyak orang yang tidak merasa tersinggung apa bila mereka sudah tau dan terbiasa bekomunikasi dengan warga betawi. Seperti contoh di atas Atun yang dimarahi oleh Sabeni dengan kata-kata tidak baik, namun Atun tidak marah atau tersinggung dengan ucapannya. Orang yang memiliki budaya Betawi pun tidak memiliki sifat yang bertele-tele, mereka lebih suka berbicara langsung pada pokok pembicaraan, sehingga jarang ditemukan komunikasi yang banyak basa-basi dalam film ini.

Warga Betawi memiliki banyak alat musik yang menjadi ciri khas budaya Betawi salah satunya yaitu tanjidor. Doel yang sangat menyayangkan alat musik ini tidak rela bila tanjidornya harus rusak begitu saja, karena tanjidor ini merupakan alat musik warisan turun-temurun dari orang tuanya yang harus dilestarikan ke anak cucu. Dari bentuk nya yang besar, terbuat dari kuningan dan memiliki ciri genderang yang besar, alat musik ini sudah dikenal banyak warga di

(17)

luar warga Betawi. Siapa lagi kalau bukan waga betawi yang melestarikan budayanya di era globalisasi, dimana sudah sangat jarang terlihat pengrajin kesenian alat musik ini.

4.5.2. Analisa Bagian 2

Sinopsis:

Episode 16 ini bertemakan “Lagi-Lagi Huru-Hara”, dimana Mandra yang sedang sedih karena putus cinta dengan pacarnya mencari perhatian orang lain dengan cara berpura-pura sakit dan kesurupan sehingga mengundang banyak perhatian dari keluarga dan tetangganya, namun sayang usahanya sia-sia ketika kebohongannya terbongkar. Di lain hari Basuki sedang sibuk mengurusi burung kesayangannya badut dan bejo dimarahi oleh istrinya karena tidak mengurus anak-anaknya hingga burung kesayangannya terbang kabur. Sabeni yang melihat Mandra masih sakit, akhirnya ia berangkat narik oplet sendirian sedangkan Amineh membuka warung kecilnya.

Atun telah merapihkan cucianya kini tengah bersiap dan pamit berangkat kursus rias pengantin dan salon. Doel yang bekerja di pabrik batako miliki ayah Zaenab di panggil untuk memperbaiki mesinnya yang rusak, namun saat dalam perjalanan Doel bertemu dengan para pekerja yang nasibnya akan dipecat apabila ada mesin baru di pabrik itu karena merasa tenaganya tidak di butuhkan lagi, sehingga Doel pun mencoba membicarakan kepada bosnya.

(18)

Gambar 7 – Penggalan Bagian 4 PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Di malam hari Amineh

menggunakan atasan daster hijau, dan bawahan sarung berada di dapurnya. Ia membuatkan jamu telor ayam kampung dengan madu untuk Mandra yang sedang sakit batuk.

Suara adukan dalam gelas

Tradisi orang Betawi lebih cenderung menyembuhkan penyakit atau menjaga kekebalan

tubuh dengan

menggunakan jamu-jamu racikan sendiri. Racikan tersebut dibuat dari turun temurun orang tua sebelumnya.

Analisa:

Warga Betawi lebih cenderung menggunakan atau mengkonsumsi obat-obat tradisional dan alami racikan sendiri dalam menyembuhkan penyakit. Hal tersebut dianggap sudah tradisi turun temurun dalam keluarga, sehingga hal tersebut terus dilakukan sampai sekarang. Selain harganya yang lebih murah dibandingkan harus ke rumah sakit atau puskesmas, obat alami dianggap lebih

(19)

baik dan tidak mengandung bahan kimia bila dikonsumsi sendiri. Hal tersebut tercermin ketika Amineh membuatkan jamu kepada adiknya Mandra yang tengah sakit batuk dimana sebelumnya Amineh juga pernah membuatkan jamu untuk suaminya Sabeni yang sedang sakit demam.

Saat ini sudah banyak rumah sakit dan apotik yang dapat menjadi solusi dimana harus berobat dan membeli obat, namun kebiasaan meminum jamu ini tidak bisa lepas bagi warga betawi asli yang mempercayai bahwa jamu merupakan obat yang aman untuk dikonsumsi.

Gambar 8 – Penggalan Bagian 5

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Di pagi hari Atun anak

perempuan satu-satunya berada di belakang rumah menggunakan baju berwarna kuning dan celana pendek. Atun yang sedang duduk mencuci baju, dan di sampingnya terdapat sumur yang terbuka serta kendi untuk

Suara baju yang sedang di cuci

Atun sebagai anak perempuan Betawi ia lebih sering berada di rumah dan membantu

orang tuanya

membereskan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, menyapu dsb.

(20)

menyimpan air. Analisa:

Atun merupakan wanita yang belum memiliki pekerjaan dan ia sebagai anak wanita satu-satunya selalu membantu pekerjaan orang tuanya, seperti menyuci baju, menyapu, membantu ibu nya menjaga warung dan sebagainya. Posisi wanita dalam bidang pendidikan, dan pekerjaan relatif lebih rendah dibandingkan dengan wanita lainnya di Jakarta, hal tersebut dikarenakan selain keterbatasan ekonomi juga kuatnya paradigma warga betawi pada saat itu bahwa tugas wanita hanya mengurus rumah tangga atau ke dapur. Situasi ini diperberat lagi dengan adanya prinsip nikah muda yang masih dianggap penting, bahkan lebih penting dari pendidikan.

Paradigma tersebut berubah ketika jaman semakin maju seperti saat ini, warga betawi tidak melarang wanita berpendidikan dan berprestasi tinggi sehingga saat ini banyak wanita betawi yang memiliki karir yang cemerlang baik di dalam maupun luar Jakarta.

(21)

Gambar 9 – Penggalan Bagian 6 PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Suasana di malam hari di

dalam kamar, Amineh sedang sembahyang menggunakan mungkena berwarna putih, di sampingnya terdapat Sabeni yang sedang tertidur di atas ranjang.

Atun yang telah membereskan cuciannya lalu berjalan ke warung bersiap-siap dan meminta ijin kepada ibunya untuk kursus rias pengantin dan salon. Sebelum berangkat atun mengucapkan salam dan mencium tangan ibu nya. Kejadian tersebut di lihat oleh tetangganya yang tengah berbelanja di

Suara Radio Mandra (Batuk)

Atun:

“Nyak.. Atun berangkat khursus ye nyak” Amineh:

“cucian udeh rapih?” Atun:

“udeh..Atun jalan dulu” Amineh:

“iye..habis kursus

Amineh yang

sembahyang

menggambarkan jelas bahwa keluarga Doel merupakan keluarga yang taat oleh agama islam, dimana sebagian besar warga Betawi memeluk ajaran agama islam.

Ucapan salam dan mencium tangan kepada orang lebih tua selalu dilakukan oleh keluarga Doel disaat baru datang atau hendak pergi.

(22)

warung ibunya. langsung pulang, jangan ngelantur!” Atun: “iye..assalamualaikum” Amineh: “waalaikumsalam” Tetangga:

“si Atun sekolah lagi mpok?”

Amineh:

“Iye.. kursus rias penganten ama belajar salon”

Tetangga:

“wah.. hebat juga si Atun. Apa gak mahal ongkos belajar salonnya?” Amineh:

“iye, namanya juga buat kemajuan anak si, biar mahal juga gak ape-ape deh. Biar kagak ade, ya di ade-adein. Dari pade anak kagak bisa sekolah nah buntut-buntutnya jadi pengangguran deh.iya kagak?”

Tetangga:

“iya juga yah, yang

sekolah aja pada nganggur, apa lagi yang gak makan

(23)

sekolahan.”

Analisa:

Mayoritas warga Betawi memeluk agama islam dimana pada tayangan di atas Amineh sedang melakukan solat malam. Suasana rumah dimana Amineh melakukan sembahyang dikala yang lain sudah tertidur menandakan bahwa warga Betawi taat pada agama. Dalam budaya betawi, masih sangat kental memegang teguh keyakinannya, dan kebanyakan orang tua sangat menginginkan naik haji. Orang betawi juga kuat sekali menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orang tua (terutama yang beragama Islam) kepada anak-anaknya

Dalam budaya betawi, mengucapkan salam dan mencium tangan kepada yang lebih tua ketika baru datang atau hendak pergi adalah adat kebiasaan yang harus selalu dilakukan. Mengucapkan salam dan mencium tangan dalam kebudayaan Betawi memiliki nilai sopan santun yang menjunjung bahwa orang di sekitarnya mengetahui kapan mereka datang dan pergi, dan bagaimana cara menghargai dan patuh kepada orang tua dengan cara mencium tangannya.

Disisi lain Atun yang hendak pergi ingin kursus salon dan kecantikan sangat di dukung oleh ibunya Amineh, walaupun Sabeni pernah melarangnya karena wanita Betawi tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi Atun tetap menyalurkan hobi nya dan mewujudkan cita-citanya membuka salon. Menandakan bahwa warga Betawi memiliki tekad yang kuat dalam menggapai keinginannya.

(24)

Gambar 10 – Penggalan Bagian 7 PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Suasana pagi hari Sabeni

menggunakan kaos putih, peci hitam dan sarung di lehernya berada di dalam oplet tuanya yang sedang terparkir di halaman rumahnya.

Sedangkan Amineh yang

Amineh : “narik bang?” Sabeni:

“iye.. dari pada ni oplet dianggurin, kan

mendingan gue cari duit.”

Selain halaman rumahnya yang besar dipergunakan untuk parkir opletnya, halaman rumah Doel juga di gunakan untuk membuka warung kecil-kecilan ibunya.

Walaupun hasil

(25)

menggunakan kebaya kuning dan bawahan selendang batik putih tengah sibuk membuka warung kecilnya yang terdapat di halaman rumahnya juga.

Amineh:

“ati-ati bang, jangan ngebut ye bang” Sabeni:

“ape kate ngebut, jalan aje empot-empotan”

banyak, Amineh tetap membantu keuangan keluarganya dengan membuka warung. Orang tua betawi sebagian besar memilih berwirausaha sendiri dibandingkan bekerja dengan orang lain.

Analisa:

Pada gambar di atas menjelaskan bahwa orang Betawi lebih suka berwira usaha baik besar maupun kecil bisnis yang dijalankan. Seperti Amineh ibu dua anak asli betawi ini memiliki warung kecil yang diurus sendiri demi membantu keuanganan keluarga dan suami yang hanya sebagai supir oplet.

Orang tua asli betawi memiliki jiwa yang kental dalam berwirausaha. Dalam tayangan ini rasa gengsi tidak nampak dalam diri mereka, walaupun Doel anaknya telah lulus sarjana dan pada akhirnya memiliki pekerjaanya yang mapan, Amineh tetap membuka warung kecilnya.

Sama seperti Sabeni, ia lebih suka menarik mobil tuanya untuk usaha dibandingkan harus bekerja dengan orang lain. Ia tidak merasa malu dan gengsi ketika ia harus mencari nafkah menggunakan oplet tuanya.

(26)

Gambar 11 – Penggalan Bagian 8 PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Di siang hari Doel yang

menggunakan kemeja panjang biru dan celana

Doel:

“ya udah dah, entar gua

Perkampungan tempat tinggal Doel merupakan perkampungan yang

(27)

panjang biru bertemu dengan teman-teman yang bekerja di perusahan batako Rohim, mereka duduk berdiskusi di samping kolam ikan.

coba ngomong sama ncang Rohim” Pegawai 1:

“Lu mau ngomong apaan Doel? Lu mau bilang kalau gua mau ngerjain tuh mesin?”

Doel:

“Nggak, lu percaya sama gua dah, gua gak bakal nyusahin orang, dan gua juga gak mau kalau lu semua nganggur cuma gara-gara tuh mesin. Tapi gua minta lu jangan gegabah ye, entar gua ngomong sama ncang Rohim. Ayo kita ke pabrik deh”

memiliki suasana yang asri, dimana masih banyak ditanami pepohonan dan terdapat kolam ikan. Sifat Doel yang tidak bisa melihat orang susah menjadi ciri sifat orang Betawi asli.

Analisa:

Suasana yang terlihat di perkampungan daerah dimana Doel bertempat tinggal masih menggambarkan ketenangan yang ada di lingkungan sekitar. Tanah yang luas dengan dikelilingi pepohonan yang rimbun dan hijau serta kolam ikan merupakan gambaran pola perkampungan Betawi dimana warga betawi memiliki tanah atau lahan kosong sebagai harta warisannya. Namun saat ini kebanyakan dari tanah ini telah berubah menjadi bangunan-bangunan yang pandat penduduk, hanya sebagian warga betawi pinggiran Jakarta yang masih memiliki tanah leluhurnya hingga saat ini.

(28)

Dalam tayangan ini terlihat bahwa Doel yang memiliki sikap simpatik dan peduli terhadap sesama mencoba membantu teman-temannya supaya tidak dipecat oleh Rohim. Sifat Doel disini merupakan nilai positif dari budaya Betawi antara lain memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap lingkungannya, tidak pendendam, tidak suka bermusuhan dan memiliki sikap pluralisme walaupun terkadang dalam beberapa hal terlalu berlebihan dan tendensius.

4.5.3. Analisa Bagian 3

Sinopsis :

Dalam episode Si Doel Anak Sekolahan episode 17 yang bertema “Wah…Krisis” berceritakan di pagi hari yang cerah Mandra yang sedang sakit diajak narik oplet oleh Sabeni, tidak lama berselang Atun pun pamit berangkat kursus salon, tetapi sebelum ia berangkat Atun dan Amineh sempat berbicara dengan Sofia mengenai suaminya yang tidak pulang-pulang karena mencari burung kesayangannya, sedangkan Doel tengah bersiap pergi ke perusahaan batako Rohim membicarakan penawaran kontrak kerjanya.

Di hari yang sama, Sabeni bertemu dengan penumpang wanitanya yang membuat Sabeni terpikat, namun kejadian tersebut diketahui oleh Mandra sampai-sampai penumpang lain yang ingin menaiki opletnya tidak dihiraukan oleh Sabeni. Sepulang dari narik oplet mandra yang telah kehabisan suaranya ingin menceritakan kejadian tersebut, namun apa daya Mandra yang tidak dapat berbicara membuat Amineh bingung dan mengabaikannya. Karyo pulang tidak lama setelah Sabeni pulang narik opletnya, Amineh langsung memberikan kunci

(29)

kontrakannya dan menceritakan bahwa Sofia dan anak-anaknya telah pergi pulang kampung meninggalkan Karyo sendirian di kontrakan.

Dimalam harinya dan di tempat yang berbeda, Rohim berbicara dengan Zaenap di teras rumahnya, ia menginginkan Zaenap membujuk Doel untuk mau memegang perusahaannya, namun apa daya ibu Zaenap sangat melarang keras Zaenap berdekatan dengan Doel. Doel yang tengah sibuk belajar di kamarnya diganggu oleh Mandra yang ingin meminta tolong membacakan surat cinta dari kekasihnya Maysaroh, Mandra yang tidak tamat SD ini kaget ketika mengetahui isi surat tersebut bahwa kekasihnya telah mengajak bertemu pada dua hari yang lalu.

Keesokan harinya pagi yang cerah Sabeni terlihat tampil lebih rapih dan wangi dari biasanya, kecurigaan pun muncul pada diri Mandra dan Amineh, Mandra yang tau rahasia Sabeni menceritakan bahwa Sabeni tengah dekat dengan wanita lain. Semenjak mendengar informasi tersebut Amineh sangat kepikiran dan khawatir sehingga ia terlihat seperti orang bingung.

(30)

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Suasana di pagi hari

dimana terdapat tiga wanita sedang berada di halaman rumah, wanita pertama adalah amineh, terlihat menggunakan daster kuning dan bawahan selendang, wanita kedua adalah Atun memiliki rambut ikal dan panjang serta menggunakan baju bercorak bunga merah, dan yang terakhir Sofia dimana menggunakan daster berwarna biru,

mereka tengah

mengobrol di halaman rumahnya masing-masing dengan penyekat pagar bambu.

Sofia:

“Saya bakal angkutin barang-barang saya semua, saya bawa pulang ke jawa. Mendingan jauh dari dia bu, hidup tuh tentram, tenang hmmm. Saya permisi dulu ya bu” Amineh:

“iye.” Atun:

“nyak. Istrinya mas Karyo galak ye nyak.” Amineh:

“Udeh deh lu jangan ikut campur urusan orang mendingan lu berangkat sono deh, entar lu ketelatan lu di setrab sama guru lu.” Atun:

“yee.. emang Atun anak SD pake di setrab” Amineh:

“Udah deh sono berangkat deh, enyak mau siapin sarapan

Lingkungan rumah betawi tidak di sekat oleh pagar besi, melainkan hanya menggunakan pagar bambu. Sifat amineh yang tidak membahas urusan orang lain menjadi cerminan sifat orang betawi yang tidak pernah mengikut campuri urusan orang lain.

(31)

abang lu.”

Analisa:

Dari tayangan di atas terlihat bahwa lingkungan warga Betawi asli hanya menggunakan pagar bambu yang renggang sebagai penyekat rumah satu dengan yang lainnya. Hal tersebut mencerminakan bahwa warga Betawi tidak pernah tertutup untuk orang manapun yang ingin berkomunikasi atau berbaur dengan dirinya. Selain hal tersebut sikap Amineh di atas yang tidak tertarik membicarakan urusan keluarga Karyo sangat jelas bahwa orang Betawi mayoritas tidak suka ikut campur dan membicarakan orang dari belakang atau yang sering di kenal menggosip. Ia lebih suka memikirkan urusan keluarganya sendiri di banding orang lain.

(32)

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Suasana rumah Doel di

pagi dan di malam hari. Rumah yang terbuat dari bahan dasar semen, kayu dan genteng itu terlihat sangat luas. Dengan tembok depan rumah terbuat dari kayu berwarna hijau toska.

Suara kicauan burung dan suara back sound.

Orang betawi sebagian

besar memiliki

pekarangan rumah yang luas. Tanaman yang rimbun di sekitar rumah terlihat teduh dan nyaman untuk melakukan sesuatu. Rumah beratapkan genteng dan bertembok depan kayu merupakan ciri khas rumah betawi asli.

Analisa:

Dari episode ini banyak terekam gambar desain rumah asli Betawi, seperti salah satunya gambar yang diatas. Orang betawi sebagian besar memiliki halaman rumah yang luas serta pepohonan yang banyak dan rimbun. Tidak menutup kemungkinan banyak juga halaman atau lahan kosongnya digunakan untuk bercocok tanam atau berkebun, hal tersebut dikarenakan selain nantinya tanah tersebut akan diwariskan ke anak cucu, hasil dari berkebun pun dapat dinikmati keluarga.

Seperti contohnya rumah Doel, rumah yang memiliki halaman yang luas dimanfaatkan untuk membuka warung kecil-kecilan Amineh, serta sebagai tempat parkir oplet tua Sabeni. Rumah Betawi asli memiliki atap yang terbuat dari

(33)

genteng, hal tersebut membuat suasana dan udara dalam rumah terasa teduh dan nyaman. Dari segi bentuknya, rumah Betawi memiliki keunikan tersendiri, dalam desain rumah ini terdapat ornamen khas yang tidak lepas dari arsitektur Belanda.

Gambar 14 – Penggalan Bagian 11

PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Dipagi hari yang cerah

terdapat Mandra sedang duduk di bale-bale teras rumah menggunakan baju biru dan celana

Amineh:

“Abang mau narik lagi?” Sabeni:

Rumah Betawi mayoritas memiliki bale-bale di teras rumahnya. Dan juga sifat pekerja keras Sabeni yang tercermin oleh

(34)

panjang, dan terdapat Sabeni yang duduk di sebelahnya. Rumah yang terbuat dari kayu bernuansa warna hijau dan kuning ini memiliki jendela tanpa kaca yang terbuat dari kayu. Terdapat pohon-pohon kecil dalam pot ditaruh dibagian pager kayu rumahnya.

Sedangkan Doel sedang melihat keluar jendela dan menggunakan sarung serta baju kaos.

“iye” Amineh:

“Mendingan abang di rumah dulu deh,

istirahat. Suara abang tuh ilang gitu,kalau

dipaksain terus teriak-teriak cari penumpang lagi entar suara abang tambah ilang deh” Sabeni:

“Ahh suara jauh ke kopling, mankanya gua mau ajak si mandra, biar ngenekin”

Mandra:

“yah turun pangkat lagi dah gua”

Amineh:

“yah kan si Mandra belum sehat bener bang” Mandra:

“iya kepala puyeng, badan masih meriang” Sabeni:

“Meriang jangan diturutin, tibang tereak-tereak panggil

penumpang aja susah amat, gua yang nyetir lu yang kenek. Percuma mulut lu lancip kayak

orang tua Betawi menjadi tambahan nilai positif warga Betawi.

(35)

ikan julung-julung cari penumpang aja susah, ayo berangkat.”

Analisa:

Rumah Doel dimana masih memiliki tembok yang terbuat dari kayu dan bilik merupakan rumah asli betawi jaman dahulu yang belum tercemar dan dirubah menggunakan semen seperti kebanyakan rumah sekarang. Lantainya pun masih terbuat dari semen. Jendela tanpa kaca dan pintu rumah yang terbuat dari kayu selalu terbuka lebar, kain atau horden digunakan sebagai alat penutup pintu rumah, kamar ataupun jendela. Hal ini menunjukan betapa terbukanya budaya Betawi terhadap pendatang.

Diteras terdapat bale-bale yang sering dipergunakan untuk bersantai atau menerima tamu. Rumah Betawi meskipun terbuat dari bahan-bahan yang sederhana namun memiliki ornamen yang khas. Fornitur yang digunakan dalam rumah khas Betawi ialah terbuat dari kayu-kayu yang kuat seperti kayu jati. Kayu-kayu tersebut terdapat ukiran-ukiran khas budaya Betawi. Ukiran-ukiran Kayu-kayu yang sering terlihat terdapat di jendela, pintu, kusen atau lubang pintu.

Rumah seperti ini saat ini sangat jarang di temukan di ibu kota Jakarta, seiring pekembangan jaman rumah asli betawi telah berganti dengan rumah-rumah modern. Walaupun keberadaan rumah-rumah asli betawi ini dapat ditemukan, namun keaslian bentuk rumahnya sudah tidak seperti dulu.

(36)

Gambar 15 – Penggalan Bagian 12 PENANDA PETANDA Visualisasi Pesan Visual Visualisasi Pesan Verbal Dipagi hari Doel yang

sudah rapih

menggunakan kemeja coklat mudanya duduk di meja makan dan mengambil beberapa makanan yang terdapat di meja. Sedangkan Amineh terlihat menghampiri Doel yang sedang makan.

Amineh:

“Kagak ada apa-apa Doel, dihabisin babeh lu semue. Tau tuh babeh lu belakangan ini kalau makan banyak banget, enyak dadarin telor ya” Doel:

“Gak usah nyak, ini udah

Ruang makan yang sekaligus menjadi ruang keluarga adalah ciri rumah khas betawi, alat-alat makan yang masih menggunakan bahan kaleng dan besi serta lampu model lentera dan pajangan dinding kepala hewan sering terlihat di rumah ini. Kamar mandi

(37)

Disiang hari amineh terlihat bingung ingin melakukan sesuatu,

amineh yang

menggunkan kebaya biru dan sarung batik putih pergi ke kamar mandi. Sedangakan di sana

terdapat Doel

menggunakan baju merah dan celana pendek mencuci baju sendirian.

cukup ada kecap sama kerupuk kagak ngapa-ngapa”

dan tempat menyuci baju masih terdapat di luar.

Analisis:

Rumah khas Betawi memiliki ruang makan yang sekaligus sebagai ruang kumpul keluarga. Alat-alat makan serta perabotan masaknya pun masih menggunakan bahan kaleng ataupun besi. Ruangan yang dimiliki rumah ini tidak banyak, dan tidak berbelit-belit antara lain ruang tamu atau teras sebagai tempat bertemu tamu, 3 ruang tidur dan ruang makan yang sekaligus ruang kumpul keluraga. Tempat tidur yang digunakan masih terbuat dari besi dan kelambu. Lampu yang digunakan merupakan lampu jenis lentera dan pajangan dindingnya merupakan pajangan keramik atau kepala hewan.

Dalam film Doel letak kamar mandi terdapat di luar rumah, kamar mandi yang memiliki pintu seng dan bersebelahan dengan tempat menyuci ini terlihat sangat sederhana. Sumur merupakan sumber air dan kayu bakar merupakan sumber api. Walaupun Doel merupakan anak laki-laki, namun ia memiliki

(38)

tanggung jawab yang besar, sampai ia harus menyuci bajunya sendiri tanpa harus mengandalkan orang lain.

4.6. Pembahasan

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan merupakan sebuah sinetron tontonan ringan yang siapa pun dapat menikmatinya. Sinetron ini menggambarkan kegiatan sehari-hari keluarga Betawi asli dengan karakter watak masing-masing. Kebudayaan Betawi sangat tercermin dari sinetron ini, baik dari segi verbal maupun non verbalnya.

Dari tayangan di atas tepatnya pada episode 15-17, film ini mampu mengangkat budaya betawi ditengah moderesasi kota Jakarta, dengan kemasan dan bahasa yang ringan budaya Betawi dapat diterima oleh warga indonesia. Film ini menceritakan mengenai budaya Betawi dari segi rumah, pakaian, pekerjaan, dan sifatnya. Rumah Betawi memiliki pekarangan yang luas dan masih terdapat banyak pohon di sekitarnya, pekarangan ini biasanya di gunakan menjadi perkebunan, usaha atau diwarisi ke anak cucu. Penggunaan kata “Lu Gua” merupakan sapaan yang digunakan oleh orang tua kepada yang lebih muda.

Selain penggunaan kata sapaan di atas, orang Betawi sering kali berbicara keras, tinggi dan kasar, hal tersebut merupakan hal yang biasa di budayanya. Hal tersebut mencerminkan bahwa mereka tegas dan disiplin, serta tidak suka bertele-tele dalam berbicara dan bertindak. Di film ini sering dimunculkan pakaian khas betawi, terutama digunakan oleh Amineh dan Sabeni, pakaian khas wanita merupakan baju kebaya dan selendang sebagai bawahannya, sedangkan prianya

(39)

menggunakan kaos dan baju koko panjang, celana bahan, sarung, sabuk tebal serta peci.

Alat musik khas Betawi yang ditayangkan dalam sietron ini adalah teompet tanjidor. Tanjidor ini sangat dijaga keberadaannya oleh Doel anak Betawi asli, karena tanjidor ini merupakan warisan dari orang tuanya. Selain alat musik yang turun temurun, budaya Betawi pun mempunyai cara turun temurun yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Mereka biasanya membuat jamu untuk menyembuhkan penyakit ringan serta menjaga kekebalan tubuh.

Wanita Betawi cenderung tidak mementingkan pendidikan formalnya, karena mereka memiliki paradigma bahwa wanita nantinya akan menjaga rumah dan kembali ke dapur. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa tidak memiliki semangat dan keinginan yang tinggi dalam mencapai cita-citanya.

Mayoritas warga Betawi memeluk agama islam, mereka masih memegang teguh keyakinannya. Orang Betawi juga kuat sekali menjaga nilai-nilai agama yang tercermin ajaran orang tua kepada anak-anaknya. Warga Betawi memiliki sifat peduli dan jiwa sosial yang tinggi terhadap lingkungannya, tidak pendendam, tidak suka bermusuhan, dan memiliki sikap pluralisme. Mereka juga kebanyakan tidak suka membicarakan orang dari belakang seperti menggosip.

Rumah Betawi asli masih memiliki tembok yang terbuat dari kayu dan bilik, genteng sebagai atap rumah, dan semen atau ubin sebagai lantainya. Jendela tanpa kaca dan pintu rumah yang selalu terbuka lebar hanya ditutupi oleh horden menggambarkan keterbukaan warga Betawi terhadap budaya lain.

(40)

Terdapat bale-bale di teras rumah yang digunakan untuk menerima tamu atau bersantai-santai. Perabotan yang berada dalam rumah Betawi ini berbahan dasar kayu dan kaleng atau besi, hiasan didingnya berupa keramik dan kepala hewan. Rumah yang hanya memiliki 3 ruang tidur, 1 ruang makan atau ruang keluarga, serta teras atau ruang tamu ini terdapat kamar mandi yang berada di luar ruangan. Sumur menjadi sumber air, dan kayu bakar menjadi sumber apinya.

Gambar

Gambar 2 – Gambar Suasana Tempat Tinggal Si Doel
Gambar 4 – Penggalan Bagian 1
Gambar 5 – Penggalan Bagian 2  PENANDA  PETANDA Visualisasi Pesan  Visual  Visualisasi Pesan Verbal  Di  pagi  hari  tepatnya  di
Gambar 6 – Penggalan Bagian 3
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Dari tabel 4.17 bisa diketahui bahwa sebagian besar responden menggunakan karakter pemain seperti dalam sinetron Tendangan Si Madun di MNCTV yaitu sebanyak 58 %, hal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar adalah perempuan sebanyak 17 orang (58,6%), dengan kepatuhan tinggi sebanyak 15 orang sedangkan 2

Kegiatan selanjutnya yaitu kegiatan inti dimana kegiatan inti yaitu proses dimana kegiatan pembelajaran dimulai. Disini anak-anak diberi pengalaman, wawasan,

Salah satu dasar terbentuknya pecinan adalah karena faktor sosial, dimana merupakan keinginan masyarakat Tionghoa sendiri untuk hidup berkelompok karena adanya perasaan

Penelitian Keliat, dkk (2000) yang berjudul Pengaruh Model Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi (TAKS) terhadap Kemampuan Komunikasi Verbal dan Non Verbal pada

Dari hasil wawancara dan observasi dengan riset partisipan kedua menunjukan bahwa penanganan yang dilakukan keluarga terhadap pasien gangguan jiwa pasca perawatan

Pendapat yang berbeda dari P3 yaitu lebih memilih untuk melakukan pengobatan di rumah sakit atau puskesmas karena lebih pasti. Namun ada beberapa penyakit

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo dan dilakukan selama 3 hari yakni hari pertama persiapan alat dan