BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Surya Citra Televisi (SCTV)
Pada awalnya, SCTV adalah singkatan dari “Surabaya Centra Televisi” yang bermula dari Jl. Darmo Permai, Surabaya dan mengudara untuk pertama kalinya pada tanggal 24 Agustus 1990 di Surabaya, Jawa Timur, dengan jangkauan wilayah Surabaya dan sekitarnya. Siaran SCTV diterima secara terbatas untuk wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoardjo dan Lamongan) yang mengacu pada izin Departemen Penerangan No. 1415/RTF/K/IX/1989 dan SK No. 150/SP/DIR/TV/1990. Satu tahun kemudian, 1991, pancaran siaran SCTV meluas mencapai Pulau Dewata, Bali dan sekitarnya.
Pada tahun 1999 SCTV melakukan siarannya secara nasional dari Jakarta. Sementara itu, mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang kian mengarah pada konvergensi media SCTV mengembangkan potensi multimedianya dengan meluncurkan situs http://www.liputan6.com, http://www.liputanbola.com. Melalui ketiga situs tersebut, SCTV tidak lagi hanya bersentuhan dengan masyarakat Indonesia di wilayah Indonesia, melainkan juga menggapai seluruh dunia. Dalam perkembangan berikutnya, melalui induk perusahaan PT. Surya Citra Media tbk (SCM), SCTV mengembangkan potensi usahanya hingga mancanegara dan menembus batasan konsep siaran tradisional menuju konsep industri media baru.
Dalam kurun waktu perjalanannya yang panjang, berbagai prestasi diraih oleh SCTV dari dalam dan luar neger. Semua itu menjadikan SCTV kian dewasa dan matang. Untuk itu, manajemen SCTV memandang perlu menegaskan kembali identitas dirinya sebagai stasiun televisi keluarga. Maka sejak Januari 2005, SCTV mengubah logo dan slogannya menjadi lebih tegas dan dinamis, yaitu Satu Untuk Semua
Melalui 47 stasiun transmisi, SCTV mampu menjangkau 240 kota dan menggapai sekitar lebih dari 175 juta potensial pemirsa. Dinamika ini terus mendorong SCTV untuk selalu mengembangkan profesionalisme sumber daya manusia agar dapat senantiasa menyajikan layanan terbaik bagi pemirsa dan mitra bisnisnya.
SCTV telah melakukan transisi ke platform siaran dan produksi digital, yang merupakan bagian dari kebijakan untuk secara konsisten mengadopsi kecanggihan teknologi dalam meningkatkan kinerja dan efsiensi operasional. Dalam semangat yang sama, kebijakan itu telah meletakkan penekanan yang kokoh pada pembinaan kompetensi individu di seluruh aspek untuk mempertajam basis pengetahuan seraya memupuk talenta, kreativitas dan inisiatif. Inilah kunci untuk memperkuat posisi SCTV sebagai salah satu dari stasiun penyiaran terkemuka di Indonesia. Dan Perseroan tercatat di Bursa Efek Surabaya sejak Juni 2003.64
64
4.1.1 Visi dan Misi SCTV
Visi
Menjadi stasiun televisi unggulan yang memeberikan kontribusi terhadap pembangunan dan pencerdasan kehidupan bangsa.
Misi
Membangun SCTV sebagai jaringan stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia dengan :
A. Menyediakan beragam program yang kreatif, inovatif, dan berkualitas yang membangun bangsa.
B. Melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). C. Memberikan nilai tambah kepada seluruh stakeholder.65
4.1.2 Makna Logo SCTV
Makna logo SCTV adalah sebagai berikut:66
1. Logo baru menampilkan wujud SUN-Matahari (oranye) dalam bulat utuh, yang mengandung makna SCTV kini berusia matang dan dalam wujudnya yang terbaik.
2. Matahari ini menyinari teks SCTV yang melambangkan SKY-Langit (biru), mengandung makna SCTV selalu cerah, cemerlang, berwawasan, variatif, inovatif, sekaligus menghibur dalam setiap programnya.
3. Teks SCTV berkesan dinamis-modern menyiratkan kemauan untuk terus berkembang sejalan dengan selera pemirsa dan kemajuan zaman. Teks SCTV berkesinambungan mengandung makna adanya ikatan yang kuat, baik di dalam lingkungan internal SCTV maupun antara SCTV dan pemirsanya.
Sedangkan makna slogan baru SCTV mengandung multi-makna. yaitu sebagai berikut: "SATU UNTUK SEMUA"
Makna pertama :
SCTV sebagai satu-satunya stasiun televisi pilihan untuk semua kalangan dan usia.
Makna kedua :
SCTV sebagai satu-satunya stasiun televisi pilihan yang begitu inovatif menayangkan berbagai jenis program acara yang sangat beragam dan variatif. Makna lainnya :
SCTV memiliki cita-cita luhur untuk menjadi nomor satu dan satu-satunya di dalam benak pemirsanya.
4.1.3 Manajemen SCTV
Dewan Komisaris :
Bp. R. Soeyono : Komisaris Utama Bp. Eddy Sariaatmadja : Komisaris
Bp. Fofo Sariaatmadja : Komisaris Ibu Siti Hediati Hariyadi : Komisaris Bp. Budi Harianto : Komisaris
Bp. Agus Lasmono : Komisaris Independen
Direksi :
Bp. Sutanto Hartono : Direktur Utama Ibu Grace Wiranata : Direktur Keuangan
Ibu Harsiwi Achmad : Direktur Program & Produksi
4.1.4 Sarana dan Prasarana
SCTV memiliki 32 stasiun transmisi di seluruh provinsi di Indonesia, yang didukung oleh satelit Digital "Palapa". Dengan demikian, SCTV dapat menjangkau lebih dari 150 juta potensial populasi di seluruh Indonesia. Untuk mendukung siaran dan produksi program yang berkualitas, inovatif, dan kreatif, SCTV mengembangkan sarana dan prasarana siaran serta produksi yang didukung oleh peralatan digital canggih yaitu:67
1. News studio seluas 150 m2 yang dilengkapi dengan Virtual Studio yang mampu membuat set backdrop, digital imaging system
2. 3 Production Studio yang dilengkapi peralatan produksi full digital, masing-masing seluas 450m2, 500m2 dan 700m2
3. Master Control siaran yang dilengkapi dengan sistem otomatis digital berbasis Hard Disk
4. Fasilitas paska produksi:
A. 17 sistem Non Linear Editing maupun Analog B. 7 Computer Graphics
C. Suite Digital Audio Post Production dan Midi System D. 5 Studio Audio Recording
E. Digital Subtitling dan Dubbing System
F. Ruang pustaka canggih dan Cartridge System
G. Outdoor Broadcasting Van H. Mobile Uplink Van
5. Kantor Pusat dan Studio
SCTV TOWER – Senayan City Lantai 20, Jl. Asia Afrika Lot. 19 Jakarta 10270, Indonesia
Dan tiga studio lain yang beralamatkan di:
Studio PENTA - PT. SCTV
4.1.5 Target Audiens
SCTV membidik segmen pemirsa kelas menengah ke atas atau yang dikenal dalam istilah pemasaran sebagai kelompok A dan B.
4.1.6 Konsep Program SCTV
SCTV menyadari bahwa eksistensi industri televisi tidak dapat dipisahkan dari dinamika masyarakat. SCTV menangkap dan mengekspresikannya melalui berbagai program berita, feature, dan sebagainya. Serta, SCTV juga memberikan arahan kepada pemirsa untuk memilih tayangan yang sesuai. Untuk itu, dalam setiap tayangan SCTV di pojok kiri atas ada bimbingan untuk orangtua sesuai dengan ketentuan UU Penyiaran Nomor 32/2002 tentang Penyiaran yang terdiri dari BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa) dan SU (Semua Umur). Jauh sebelum ketentuan ini diberlakukan, SCTV telah secara selektif menentukan jam tayang programnya sesuai dengan karakter programnya.
Program-program di SCTV terdiri dari 8 jenis, dengan rincian sebagai berikut :68
a. Series
Program series terdiri dari Putih Abu-abu 2, Ustad Fotocopy, Si Biang Kerok Cilik, Love in Paris, Insyaallah Ada Jalan, Para Pencari Tuhan, Cookies.
b. Movie
Program movie SCTV yaitu Film Layar Lebar SCTV, Sinema.
c. Entertainment
Program entertainment di SCTV antara lain, FTV, Sinema Wajah Indonesia, Eat Bulaga Indonesia.
d. News
Program news di SCTV antara lain, Luiputan 6 Terkini, Liputan 6 Pagi, Liputan 6 siang, Liputan 6 Petang, Liputan 6 Malam, SIGI 30 Menit, SIGI Investigasi, BUSER.
e. Information/Infotainment
Program information di SCTV antara lain, WAS WAS, Halo Selebriti, Status Selebriti, Hot Shot.
f. Sport
Program sport di SCTV antara lain, AFC U-22 Asian Cup.
g. Music
Program music di SCTV antara lain, Inbox, Hip Hip Hura, Harmoni. h. Realigi
Program realigi di SCTV antara lain, Kata Ustadz Solmed, Indahnya Kebersamaan, dan Mata Air.
4.2 Gambaran Umum Program Variety Show Eat Bulaga Indonesia
Eat Bulaga Indonesia merupakan sebuah program variety show yang berasal dari salah satu PH (Production House) di Philipina yang sudah tayang selama 34 tahun, sejak tahun 1979. Kemudian program ini diadopsi oleh stasiun televisi SCTV, dan mulai tayang pada tanggal 16 Juli 2012.
Program Eat Bulaga Indonesia memiliki durasi dua jam, dimulai pada pukul 14.30 WIB, yang tayang setiap hari senin hingga sabtu. Program ini mempunyai segmen sebagai berikut:
Content (Isi Program):
1. Opening Host dari dua lokasi (indoor/outdoor), dengan membawakan
theme song Eat Bulaga Indonesia.
2. Segmen: Jagoan Karaoke 3. Segmen: That’s My Boy 4. Segmen: Indonesia Pintar 5. Segmen: Kunjungan Rumah 6. Segmen: Antrian Rejeki
7. Closing Host (indoor), dengan membawakan theme song Eat Bulaga Indonesia, dan cuplikan lokasi (outdoor) yang tengah membagikan uang (pada segmen Antrian Rejeki).
Keunikan dari program Eat Bulaga Indonesia ini, yaitu dipandu oleh 13
host yang berlokasi di indoor/outdoor, mereka adalah Uya Kuya, Farid Aja, Reza
Bukan, Andika, Narji, Rian Ibram, Rio Indrawan, Steven, Leo Consul, Christie Micel, Jenny Tan, Bianca Lizza, dan Christie Julia. Program yang bersifat menghibur ini, juga mempunyai unsur edukasi, terihat adanya segmen “Indonesia Pintar” yang mengajak “anak sekolah” untuk ikut serta di dalamnya. Selain itu, program ini lebih mendekatkan setiap segmennya dengan masyarakat sekitar.
4.3 Analisis Program Variety Show Eat Bulaga Indonesia
Dalam proses analisis ini, akan dipilih beberapa frame dari story line yang menggunakan berbagai tanda yang berkaitan dengan nilai-nilai komodifikasi dalam program “Eat Bulaga Indonesia”. Kemudian, frame yang berkaitan dengan tanda-tanda komodifikasi akan dibagi sesuai dengan yang dilakukan pada model Roland Barthes. Sedangkan, yang tidak berkaitan atau tidak mempengaruhi akan diabaikan.
Proses analisis dilakukan terlebih dahulu dengan membagi pesan yang bersifat denotatif dan konotatif. Setelah itu masing-masing pesan akan dipaparkan mengenai signifier dan signified-nya.
Melalui hasil analisis terhadap program “Eat Bulaga Indonesia” ini, dapat dilihat bagaimana tim kreatif membuat konsep pada program ini, tidak terlihat nilai-nilai komodifikasinya untuk menarik pemasang iklan, melainkan bagaimana isi atau konten dari program ini lebih bersifat menghibur.
4.3.1 Pemaknaan Denotatif dan Konotatif Tahap Pertama
Makna dan penganalisian secara teori dengan menggunakan teori Roland Barthes, akan ditampilkan dalam tabel berikut ini sesuai dengan pemaknaan denotatif dan konotatif tahap pertama.
Tabel 4.3.1.1
Shot Visual
Medium Shoot
Denotatif Konotatif
Pada segmen pembuka program, muncullah Jenny Tan (host) yang mengenakan mini dress berwarna ungu, memaknai bahwa ia adalah seorang wanita feminim, dan rompi tanpa lengan berwarna cokelat yang bercorak macan tutul, memberi kesan bahwa rompi tersebut terbuat dari kulit atau bulu hewan. Jenny juga memakai asesoris berupa jepitan rambut berbentuk tulang dan kalung berwarna putih berbentuk bulatan-bulatan kecil, terkesan dimanfaatkan olehnya sebagai hiasan untuk menambah keindahan pada dirinya. Hal tersebut menandakan
Pengambilan gambar yang terlihat
dekat terkesan ingin menampilkan sesuatu yang lebih jelas.
Apabila dikatakan Jenny adalah wanita yang hidup pada zaman batu, maka wujudnya tidak menyerupai manusia purba, karena ia memiliki wajah yang menarik. Sedangkan manusia purba memiliki wajah yang menyeramkan, karena dari bentuk rahangnya yang besar dan rambut yang menutupi wajahnya. Dan pakaian yang Jenny kenakan terbuat dari kain, sedangkan manusia purba mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan
bahwa Jenny adalah seorang wanita yang hidup pada zaman batu, dimana pakaian dan asesoris yang ia gunakan, didapatnya dari kulit dan tulang hewan. Zaman di mana Jenny tinggal adalah zaman batu tua, atau disebut dengan Paleolithikum. Karena, Jenny memanfaatkan tulang-tulang hewan sebagai asesoris.
Kemudian Jenny menggerak-gerakan kedua tangannya ke arah dadanya, dan terlihat tengah memukul dadanya. Makna yang tersirat dari gerakan tubuhnya, seperti seekor hewan, yaitu gorila. Sehingga, memberi kesan bahwa Jenny adalah seorang wanita yang hidupnya di hutan dan meniru tingkah laku hewan.
kulit hewan.
Tingkah laku yang Jenny tunjukkan, terkesan bahwa manusia purba bertingkah laku seperti seekor gorilla. Hal-hal di atas menimbulkan hegemoni, dimana pembuat isi pesan atau konten memberikan gambaran bagaimana kehidupan manusia purba pada zaman batu. Padahal pesan yang disampaikan tidak sesuai, sehingga terjadinya hiperealitas.
Pada tabel 4.3.1.1 menunjukkan aktivitas pertama dari program “Eat Bulaga Indonesia” kali ini. Terlihat Jenny Tan yang mengenakan mini dress berwarna ungu dan rompi warna cokelat dengan corak macan tutul, ditambah asesoris berupa kalung berbentuk kumpulan tulang kecil. Ia tengah menari dengan
menggerak-gerakan kedua tangannya ke arah dadanya. Makna konotasi yang terkandung dalam gambar ini, yaitu Jenny Tan adalah seorang wanita berparas cantik yang hidup pada zaman batu. Karena dapat terlihat dari asesoris yang ia gunakan dan gerakan saat ia menari.
Penggunaan asesoris berupa tulang, mempunyai arti bahwa ia hidup pada zaman batu tua atau disebut dengan Paleolithikum, di mana manusia purba saat itu masih memanfaatkan tulang-tulang hewan untuk dijadikan alat yang dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari mereka. Dapat dilihat dari konten pada episode kali ini, bahwa manusia purba seharusnya memiliki fisik atau wujud tubuh yang sedikit membungkuk, kemudian kulit berwarna kecokelatan, wajah yang dapat dikatakan kurang cantik apabila menurut manusia pada zaman sekarang, dan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan. Namun, terlihat nilai jual pada konten episode kali ini, karena adanya perubahan wujud yang seharusnya dari manusia purba yang diaplikasikan kepada para pembawa acara Eat Bulaga Indonesia. Contohnya adalah Jenny Tan, ia mempunyai paras yang cantik dan berkulit putih, dan ia juga mengenakan pakaian yang terbuat dari kain. Akan tetapi berbeda dari wujud asli manusia purba, serta apa yang mereka gunakan.
Itu semua bertujuan untuk menarik dan menghibur penonton diberbagai daerah, dengan program Eat Bulaga Indonesia melalui media televisi. Dengan memperlihatkan kebudayaan pada zaman batu, konten diubah sesuai kebutuhan. yaitu, pakaian yang dikenakan oleh Jenny. Pada kenyataannya, manusia purba di zaman batu, tidak memakai pakaian yang dikenakan oleh Jenny pada zaman
sekarang. Namun, program ini masih memberikan unsur pada zaman batu, melalui asesoris berupa tulang, dan gerakan yang ditunjukan oleh Jenny.
Tabel 4.3.1.2
Shot Visual
Group Shoot
Denotatif Konotatif
Setelah Jenny, kemudian muncullah Bianca Liza (host), dengan mengenakan baju tanpa lengan berwarna cokelat dengan motif macan tutul, terlihat terbuat dari kulit hewan, dan rok pendek berwarna merah yang tidak rata pada bagian bawahnya, terkesan bahwa ia adalah seorang wanita yang pemberani. Ditambah dengan kalung berwarna putih berbentuk kumpulan tulang, terkesan ia memanfaatkannya untuk memperindah
Pengambilan gambar secara group
shoot ini ingin memperlihatkan dengan
jelas aktifitas yang tengah dilakukan oleh sekelompok orang. Dengan menampilkan Bianca yang tengah membawa tulang berukuran besar, kemudian Farid (host) yang tengah duduk di dekat api unggun, dan beberapa dancer yang tengah menari. Pada zaman batu, manusia purba mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu atau kulit hewan, sehingga
dirinya. Sedangkan tulang berukuran besar berwarna putih yang digenggam ditangan kanannya, memberi kesan bahwa tulang tersebut berasal dari seekor hewan yang memiliki tubuh berukuran besar. Hal ini menandakan bahwa Bianca hidup pada zaman di mana hewan-hewan berukuran besar masih hidup, yaitu zaman batu. Dan tulang tersebut menjadi sebuah alat yang digunakan dalam aktifitasnya.
menyerupai baju yang dikenakan oleh Bianca, namun tidak dengan rok yang digunakan olehnya. Kemudian perkakas atau alat yang digunakan oleh manusia purba, terbuat dari batu, bukan tulang yang diperlihatkan pada gambar. Sehingga timbulah hiperealitas dan rasisme yang melekat pada benak khalayak bagaimana kondisi pada zaman batu.
Pada gambar 4.3.1.2 terlihat Bianca keluar dengan membawa tulang berukuran besar dan melihat ke arah depan dengan tatapan tajam. Pada episode kali ini, ia mengenakan baju tanpa lengan bermotif macan tutul dan rok pendek berwarna merah. Makna konotasi yang dapat dilihat, bahwa Ia adalah seorang wanita pemberani yang hidup pada zaman batu, terlihat dari tulang berukuran besar yang ia bawa, dan asesoris berupa kalung yang ia pakai.
Episode kali ini dikemas sedemikian rupa, untuk menunjang tema pada zaman batu, sehingga dapat memperlihatkan unsur kebudayaannya secara jelas.. Seperti yang terlihat pada Bianca, ia memiliki rambut hitam yang panjang, dan dibiarkannya terurai sehingga terlihat indah. Pada zaman batu, manusia purba tidak memiliki rambut indah dan terawat seperti Bianca. Yang dapat dilihat oleh
para penonton baik di studio maupun di rumah, hanya mitos mengenai tulang hewan yang berukuran besar, beserta tulang-tulang hewan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia purba. Namun, wujud manusia purba yang memiliki kulit berwarna gelap, rambut dan wajah yang tidak terurus, telah diubah menjadi manusia purba yang cantik.
Hal ini bertujuan untuk menarik dan menghibur penonton diberbagai daerah, dengan program Eat Bulaga Indonesia melalui media televisi. Dengan tema pada zaman batu, konten diubah sesuai kebutuhan. yaitu, pakaian yang dikenakan oleh Bianca. Pada kenyataannya, manusia purba di zaman batu, tidak memakai pakaian yang dikenakan oleh Bianca pada zaman sekarang. Namun, program ini masih memberikan unsur pada zaman batu, melalui asesoris berupa tulang. Karena pada zaman sekarang ini, tulang berukuran besar tersebut, dapat dikatakan tidak ada.
Tabel 4.3.1.3
Shot Visual
Group Shoot
Denotatif Konotatif
memakai kaos berwarna putih dan celana pendek berwarna biru untuk Reza, dan Hijau untuk Farid, dengan tali. Mereka tengah duduk di dekat sebuah properti berwarna oranye yang menyerupai sebuah api unggun. Api unggun memiliki makna bahwa Farid dan Reza membutuhkan sebuah api untuk penerangan di malam hari. Dan mereka tinggal di dalam hutan, atau hidup pada zaman dimana belum adanya aliran listrik. Sedangkan kegiatan yang mereka lakukan, menandakan bahwa itu merupakan sebuah aktifitas yang sering mereka lakukan bersama.
menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi. Farid dan Reza yang tengah duduk di dekat api unggun dan para juga para host yang tengah menari di sekeliling mereka. Terlihat tengah ada sebuah kegiatan, yaitu berkumpul dan menari di dekat api unggun.
Pakaian yang dikenakan oleh Farid dan Reza terbuat dari kain, sedangkan manusia purba terbuat dari kulit kayu atau kulit hewan. Kemudian penggunaan properti berupa api unggun masih terbilang wajar dan sesuai dengan fakta, karena pada zaman batu belum terdapat listrik, dan api unggun dijadikan sebagai alat penerangan.
Pada gambar 4.3.1.3 digambarkan Farid dan Reza tengah duduk di dekat api unggun, dan disekelilingnya ada beberapa host serta dancer yang tengah menari. Makna konotasi yang terlihat, yaitu mereka membutuhkan api unggun sebagai penghangat tubuh, penerangan di malam hari, dan masih menggunakan api unggun untuk acara berkumpul dan menari. Nilai jual yang dapat dilihat dari gambar ini, yaitu berupa mitos pada zaman batu, dimana pada waktu itu manusia
purba menciptakan penerangan dari api unggun, dengan mengumpulkan ranting-ranting pohon dan menghasilkan api dengan cara memutar-mutarkan ranting-ranting diantara bebatuan. Untuk menunjang tema pada episode kali ini, maka dibuatlah properti berupa api unggun.
Hal itu bertujuan untuk menarik penonton, agar penonton dapat terhibur dengan konten yang disajikan di dalam Program Eat Bulaga Indonesia. Dengan tema pada zaman batu, konten diubah sesuai kebutuhan. yaitu, pakaian yang dikenakan oleh Farid dan Reza. Pada kenyataannya, manusia purba di zaman batu, tidak memakai pakaian yang dikenakan oleh Farid dan Reza yang dikenakan pada zaman sekarang. Program ini memberikan unsur pada zaman batu melalui api unggun, yang berfungsi sebagai penerangan dan penghangat tubuh di waktu malam hari. Kebudayaan dengan menggunakan api unggun, adalah salah satu yang dijual oleh media, khususnya pada konten program Eat Bulaga Indonesia.
Tabel 4.3.14
Shot Visual
Group Shoot
Denotatif Konotatif
Christie Micel (Host) yang mengenakan mini dress berwarna biru muda terkesan bahwa ia adalah seorang wanita feminim, dan memakai asesoris berbentuk tulang berwarna putih pada rambut dan tangannya menimbulkan kesan bahwa ia mudah mendapatkan tulang-tulang tersebut pada zaman di mana ia hidup, dan menjadikannya sebagai asesorisnya, yaitu zaman batu. Dengan berlari-lari kecil dan posisi badan yang membungkuk, menimbulkan kesan bahwa sikapnya berjalan meniru dari seekor hewan, yaitu gorila. Christie juga membawa tulang berwarna putih dengan ukuran besar, kemudian terlihat digigit olehnya, memberi kesan bahwa tulang tersebut diperoleh dari hewan yang berukuran besar. Dan hewan yang berukuran besar itu hidup ketika pada zaman batu. Sehingga tersirat bahwa Christie Micel hidup pada zaman batu.
menampilkan kegiatan pada sekelompok orang. Yaitu, dengan menampilkan seorang Christie Micel yang tengah menggigit tulang berukuran besar, kemudian ada beberapa orang yang tengah menari di belakangnya.
Pakaian yang dikenakan oleh Christie Micel terbuat dari kain, berbeda dengan manusia purba yang mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan. Penggunaan asesoris berupa tulang pada rambutnya, dan tulang yang berukuran besar yang tengah digigit olehnya menimbulkan hiperealitas. Terkesan manusia purba memakan tulang tersebut, sehingga menimbulkan rasisme. Karena manusia purba memakan makanan yang sama seperti manusia pada zaman modern, disesuaikan tempat di mana mereka tinggal, seperti berburu pada manusia purba di zaman batu tua.
Pada tabel 4.3.1.4 terlihat Christie Micel yang mengenakan mini dress tanpa lengan berwarna biru muda, dengan memakai asesoris berupa jepitan rambut dan gelang berbentuk tulang. Ia tengah menggigit tulang berwarna putih yang berukuran besar, dengan membungkukkan badannya. Makna konotasi yang terkandung di dalam gambar ini, yaitu Christie adalah seorang wanita feminim yang berparas cantik. Dari ekspresi membungkukkan badannya, terkesan Christie mencontoh perilaku salah satu hewan, yaitu gorila. Sedangkan penggunaan asesoris berupa tulang, mempunyai arti bahwa ia hidup pada zaman batu tua, atau disebut dengan Paleolitikum. Di mana manusia purba pada saat itu masih memanfaatkan tulang-tulang hewan.
Dapat dilihat dari konten pada episode kali ini, bahwa manusia purba seharusnya memiliki fisik atau wujud tubuh yang sedikit membungkuk, kemudian kulit berwarna kecokelatan, wajah yang dapat dikatakan kurang cantik apabila menurut manusia pada zaman sekarang, dan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan. Namun, terlihat komoditas yang sudah melalui proses modifikasi pada konten episode kali ini, karena adanya perubahan wujud yang seharusnya dari manusia purba yang diaplikasikan kepada para pembawa acara Eat Bulaga Indonesia. Contohnya adalah Christie Micel, ia mempunyai paras yang cantik dan berkulit putih, dan ia juga mengenakan pakaian yang terbuat dari kain. Akan tetapi berbeda dari wujud asli manusia purba, dan apa yang mereka gunakan.
Hal itu bertujuan untuk menarik penonton, agar penonton dapat terhibur dengan konten yang disajikan di dalam Program Eat Bulaga Indonesia. Dengan tema pada zaman batu, konten diubah sesuai kebutuhan. yaitu, pakaian yang
dikenakan oleh Christie Micel. Pada kenyataannya, manusia purba di zaman batu, tidak memakai pakaian yang dikenakan olehnya pada zaman sekarang. Namun, program ini masih memberikan unsur pada zaman batu, melalui asesoris berupa tulang, dan gerakan yang ditunjukan oleh Christie.
Tabel 4.3.1.5
Shot Visual
Three Shoot
Denotatif Konotatif
Setelah Christie Micel, kemudian muncullah Leo Consul, Christie Julia, dan Steven (host) tengah menari-nari. Leo mengenakan baju berwarna oranye dengan motif tumpukan kain berwarna biru pada bagian depan dan celana cokelat dengan membawa batu yang berbentuk lonjong dan sambil tertawa. Dan Christie Julia mengenakan baju berwarna putih dengan rok pendek
Pengambilan gambar yang diambil secara three shoot ini memiliki makna ingin memperlihatkan secara jelas aktifitas yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
Pakaian yang dikenakan oleh Leo, Christie, dan Steven, terbuat dari kain, sedangkan pakaian manusia purba terbuat dari kulit kayu atau kulit hewan. Dan didominasi hanya beberapa warna
berwarna merah beserta asesoris berbentuk tulang pada rambutnya memberi kesan bahwa di mana ia tinggal banyak ditemukannya tulang-tulang, sehingga dapat dimanfaatkan olehnya sebagai asesoris, dengan ekspresi wajah ceria dan menjulurkan lidahnya. Sedangkan Steven, mengenakan baju berwarna hijau dan bermotif polkadot berwarna hitam dengan celana pendek hitam, dengan membawa batu berbentuk lonjong. Properti berupa batu yang mereka pakai, mengesankan bahwa batu tersebut digunakan sebagai alat dalam beraktifitas sehari-hari. Batu tersebut disebut dengan Kapak Perimbas. Kapak Perimbas merupakan kapak berwarna hitam dan berbentuk lonjong, yang terbuat dari batu. Kapak ini ada pada zaman Paleolothikum, atau zaman batu tua.
saja, yaitu cokelat muda atau tua, dan hitam. Tidak seperti pakaian yang berwarna-warni yang dikenakan oleh mereka. Mereka mempunyai wajah yang menarik, sedangkan manusia purba memiliki wajah yang terlihat menyeramkan karena rambut yang menutupi wajahnya.
Makna yang tersirat dari ekspresi mereka bertiga, bukan mempunyai arti bahwa itu merupakan sikap dari manusia purba, hal tersebut terlalu berlebihan, sehingga timbulnya hiperealitas. Mereka terlihat seperti orang yang tidak waras karena berekspresi seperti itu.
Kapak perimbas yang dijadikan properti menyerupai dengan kapak perimbas asli pada zaman batu paleolithikum, dan memiliki tekstur yang kasar.
Pada tabel 4.3.1.5 terlihat tiga host, yaitu Leo, Christie Julia, dan Steven tengah menari. Leo mengenakan kaos berwarna hijau dan celana pendek cokelat, dengan membawa kapak perimbas. Christie Julia, mengenakan baju berwarna putih dan rok merah, dengan ditambahi asesoris berbentuk tulang pada rambutnya. Sedangkan Steven, mengenakan baju berwarrna hijau dan celana pendek hitam, dengan membawa kapak perimbas. Makna konotasi yang terkandung dalam gambar ini, yaitu mereka bertiga tengah menari, dan terkesan mempunyai hubungan yang akrab. Pakaian yang mereka kenakan terlihat seperti terbuat dari kulit kayu. Untuk jepitan rambut yang dikenakan oleh Christie dan kapak yang digunakan oleh Leo dan Steven, mengesankan bahwa mereka bertiga adalah manusia purba yang hidup pada zaman batu tua, disebut dengan Paleolitikum. Karena, memanfaatkan tulang, dan adanya kapak perimbas. Kapak yang ada pada zaman batu tua.
Dapat dilihat dari konten pada episode kali ini, bahwa manusia purba memiliki fisik atau wujud tubuh yang sedikit membungkuk, kemudian kulit berwarna kecokelatan, wajah yang dapat dikatakan kurang cantik atau tampan, apabila menurut manusia pada zaman sekarang, dan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan hewan. Namun, terlihat nilai jual pada konten episode kali ini, karena adanya perubahan wujud yang seharusnya dari manusia purba yang diaplikasikan kepada para pembawa acara Eat Bulaga Indonesia. Contohnya adalah ketiga host tersebut, Akan tetapi berbeda dari wujud asli manusia purba, serta apa yang mereka gunakan.
Itu semua bertujuan untuk menarik penonton, agar penonton dapat terhibur dengan konten yang disajikan di dalam Program Eat Bulaga Indonesia. Kebudayaan pada zaman batu, diubah sesuai kebutuhan, yaitu, pakaian yang dikenakan. Pada kenyataannya, manusia purba di zaman batu, tidak memakai pakaian yang dikenakan oleh Leo, Christie dan Steven yaitu pakaian pada zaman sekarang. Namun, program ini masih memberikan unsur pada zaman batu, melalui asesoris berupa tulang, kapak perimbas, dan gerakan yang ditunjukan oleh Leo, Christie, dan Steven, seperti membungkukan badan.
Tabel 4.3.1.6
Shot Visual
Long Shoot
Denotatif Konotatif
Pada saat Opening host, semua host yang berada di-indoor terlihat berada di depan panggung, mereka berjumlah 9 orang dengan mengenakan pakaian ala manusia purba, beserta dengan asesoris yang mereka kenakan, dan properti
Pengambilan gambar yang diambil secara long shoot ini, terkesan ingin memperlihatkan seluruh host indoor beserta latar belakangnya, yaitu tulisan berupa nama program beserta lambang program Eat Bulaga Indonesia.
yang mereka bawa. Seperti jepitan berbentuk tulang, tulang berukuran besar, dan kapak perimbas.
Pakaian yang dikenakan oleh para
host terbuat dari kain dan memiliki
warna yang beragam, sedangkan pakaian manusia purba, terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan, dan hanya memiliki sedikit warna, seperti cokelat dan hitam.
Penggunaan properti tulang yang berukuran besar menimbulkan hiperealitas, karena pada zaman mereka hidup tulang hewan yang berukuran besar tersebut tidak ada. Sehingga hal ini berhasil mempengaruhi khalayak tentang adanya tulang berukuran tersebut pada zaman batu.
Pada gambar 4.3.1.6 memperlihatkan 9 (Sembilan) host ayng berada di depan panggung. Mereka mengenakan pakaian ala manusia purba, yang terlihat terbuat dari kulit hewan dan kulit kayu, serta dengan membawa properti, yaitu berupa tulang berukuran besar dan kapak perimbas. Makna konotasi yang dapat dilihat, bahwa Sembilan host tersebut, merupakan manusia purba, lebih tepatnya manusia yang hidup pada zaman batu tua. Zaman dimana manusia purba memanfaatkan tulang-tulang baik sebagai hiasan pada tubuh mereka, atau untuk
aktifitas mereka. Tulang yang berukuran besar menandakan, pada zaman batu tua masih terdapat hewan yang mempunyai tubuh berukuran besar. Sedangkan kapak perimbas, yaitu kapak yang terbuat dari batu, dan digunakan oleh manusia purba untuk aktifitas mereka.
Episode kali ini bertemakan Zaman Batu dan manusia yang hidup atau tinggal pada zaman itu disebut dengan Manusia Purba. Konsep dikemas semenarik mungkin, bertujuan untuk menghibur para penonton, baik yang di rumah maupun studio. Pakaian yang dikenakan oleh para host berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh manusia purba pada zaman mereka, karena terbuat dari kulit hewan dan kulit kayu. Namun, karena ini merupakan sebagai nilai jual dari program Eat Bulaga Indonesia, maka pakaian yang dikenakan oleh para host harus terlihat menarik. Dan mereka tetap terlihat cantik dan tampan. Berbeda dengan manusia purba pada zaman batu, dapat dikatakan mereka tidak terlihat cantik maupun tampan, tidak berkulit putih bersih dan berambut indah. Karena manusia purba memiliki kulit berwarna gelap, rambut tidak rapih dan indah, paras tidak cantik maupun tampan apabila menurut manusia pada zaman sekarang. Selain itu, untuk memberikan unsur pada zaman batu, maka terdapat properti berupa tulang besar dan kapak perimbas, ini sebagai simbol dari kehidupan pada zaman batu tua, atau disebut dengan Paleolitikum. Kebudayaan manusia purba menggunakan kapak perimbas inilah, yang dijadikan simbol pada program ini.
Tabel 4.3.1.7
Shot Visual
Medium Shoot
Denotatif Konotatif
Sesaat setelah dibukanya acara, Boss Uya Kuya datang dengan menaiki kendaraan berwarna cokelat, yang terlihat terbuat dari kayu dan ranting pohon. Kendaraan tersebut mempunyai dua roda pada bagian depan dan belakang, kemudian atapnya ditutup dengan kulit hewan, kendaraan ini disebutnya sebagai kendaraan manusia purba.
Boss Uya Kuya terlihat mengenakan baju berwarna cokelat dengan motif macan tutul, terkesan kulit hewan dijadikan pakaian oleh manusia purba, dan memakai celana berwarna hijau,
Pengambilam gambar secara medium
shoot, ingin mengesankan agar gambar
terlihat lebih dekat.
Penggunaan properti berupa kendaraan dapat dikatakan terlalu berlebihan sehingga dapat menimbulkan hiperealitas. Karena pada zaman batu tidak ditemukannya kendaraan manusia purba.
Pakaian yang dikenakan oleh Uya Kuya, menyerupai pakaian yang dikenakan oleh manusia purba, karena terbuat dari kulit hewan. Sedangkan asesoris berupa kaca mata, tidak sesuai dengan kehidupan pada zaman batu,
ditambah asesoris wig keriting pendek berwarna cokelat tua dan kacamata berbingkai hitam. Serta kalung berbentuk bulat dan berwarna putih. Hal ini memaknai bahwa Uya hidup pada zaman batu tua, Paleolitikum. Karena memanfaatkan kulit dan tulang hewan untuk dijadikan pakaian dan asesoris.
karena pada saat itu belum ditemukannya asesoris berupa kaca mata, sehingga hal ini hanya dapat dikatakan sebuah hiburan semata.
Pada tabel 4.3.1.7 terlihat Uya Kuya mengenakan baju berwarna cokelat dengan motif loreng dan celana pendek berwarna hijau. Dan memakai asesoris berupa kacamata dan wig. Uya datang dengan mengendarai kendaraan berwarna cokelat, layaknya sebuah mobil dengan memiliki dua roda, pada bagian depan dan belakang. Makna konotasi yang tersirat dari penjelasan di atas, bahwa Uya memanfaatkan kulit hewan sebagai pakaiannya. Dan wig yang ia kenakan, seperti wujud dari manusia purba, yang memiliki rambut terkesan berantakan dan tidak terurus. Sedangkan kendaran yang Uya kendarai, memberi kesan bahwa kendaraan tersebut adalah mobil, jika menurut manusia pada zaman sekarang. Namun, mobil yang Uya kendarai seperti terbuat dari kayu, dan dijalankan bukan dengan mesin, melainkan kaki pengendaranya.
Dapat dilihat dari konten yang dikemas sedemikian rupa, yang bertujuan untuk menghibur para penonton. Dan penonton dapat membayangkan bagaimana
kehidupan pada zaman batu. Konsep ini mempunyai nilai jual lebih, karena menampilkan properti berupa kendaraan pada zaman batu. Sehingga menarik minat penonoton untuk melihat program Eat Bulaga Indonesia ini. Konten diubah sesuai dengan kebutuhan, terutama dalam hal pakaian. Pakaian yang dikenakan Uya, pada zaman batu terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan, berbeda dengan apa yang dikenakan oleh Uya. Namun, ia menambahkan wig, sehingga ia terlihat seperti wujud manusia purba, yang tidak menata rambutnya dan terlihat tidak terurus.
Tabel 4.3.1.8
Shot Visual
Three Shoot
Denotatif Konotatif
Setelah Uya Kuya datang, ia memberikan Farid sebuah benda berwarna putih menyerupai selembar tisu. Farid Aja mengibas-ibaskan tisu yang dianggapnya sebagai uang zaman purba, lalu mengeluarkan korek api
Pengambilan gambar terkesan ingin memperlihatkan apa yang tengah dilakukan oleh kelompok tersebut. Aktifitas yang tengah dilakukan oleh Farid terkesan bahwa ia tengah menunjukkan, bagaimana bentuk uang
berbahan bakar gas dan membakar tisu tersebut yang berada di tangan kanannya. Kemudian, tisu terbakar dan tiba-tiba menghilang.
pada zaman batu, yang digunakan sebagai alat penukaran barang. Namun, pada kenyataannya manusia purba melakukan penukaran antara barang dengan barang atau disebut dengan barter, bukan dengan selembar tisu, dan pada saat itu tisu belum ada, sehingga menimbulkan hiperealitas pada gambar.
Pada tabel 4.3.1.8 terlihat Farid tengah mengibas-ibaskan selembar tisu berwarna putih, lalu dibakar olehnya. Makna konotasi yang tersirat pada gambar, memberi kesan, bahwa tisu berwarna putih itu merupakan ‘uang’ atau sebagai alat tukar manusia purba pada zaman batu.
Konten ini dengan menampilkan sesuatu yang lain, yaitu uang pada zaman batu. Hal ini terkesan hanya untuk menghibur penonton, dan penonton pun juga tidak mengetahui bagaimana bentuk uang pada zaman batu. Nilai jual pada gambar ini, terkesan hanya untuk menghibur penonton dengan trik sulap. Karena ketika ‘uang’ tersebut dibakar, maka langsung menghilang.
Tabel 4.3.1.9
Shot Visual
Couple Shoot
Denotatif Konotatif
Setelah uang purba telah terbakar, kemudian para host dan dancer menari. Dua dancer tengah menari ala manusia zaman purba dengan menggerakan kedua tangan ke atas ke bawah, ke kanan ke kiri namun tidak serentak, dan memukul-mukulkan dadanya. Mereka mengenakan kaos berwarna cokelat bermotif macan tutul dengan celana panjang berwarna hitam. Terkesan pakaian tersebut terbuat dari kulit hewan.
Pengambilan gambar dengan cara seperti itu, ingin lebih memperjelas aktifitas apa yang tengah dilakukan oleh kedua dancer tersebut.
Pakaian yang dikenakan menyerupai pakaian yang dikenakan oleh manusia purba, yaitu terbuat dari kulit hewan. Sedangkan gaya mereka menari, terlihat terlalu berlebihan, sehingga itu dapat dikatakan tidak mirip tingkah laku manusia purba. Dan dengan memukul-mukulkan dadanya, seperti seekor gorila.
tersirat, bahwa kedua dancer memanfaatkan kulit hewan untuk dijadikan sebagai pakaian. Sedangkan gerakan yang ditunjukan oleh keduanya, memberi kesan bahwa gerakan tersebut mirip dengan salah satu hewan, yaitu gorila. Sehingga terkesan bahwa mereka mencontoh tingkah laku hewan dalam kesehariannya.
Walaupun mereka sebagai dancer, namun mereka juga harus turut serta mendukung dengan konsep yang dibuat, salah satunya yaitu dari pakaian yang mereka kenakan. Sehingga bertujuan untuk meningkatkan program Eat Bulaga Indonesia ini.
Tabel 4.3.1.10
Shot Visual
Three Shoot
Denotatif Konotatif
Kemudian masuk pada segmen Jagoan Karaoke, dan yang bertugas menjadi host pada segmen kali ini, yaitu Jenny Tan, Bianca Liza, dan Ryan Ibram. Segmen dibuka oleh Bianca yang mengenakan kaos tanpa lengan
Pengambilan gambar seperti ini, terkesan ingin memperlihatkan secara jelas aktifitas yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
Dari gambar dapat dimaknai, bahwa pakaian yang dikenakan oleh Bianca
berwarna cokelat bermotif macan tutul dan rok pendek merah, menggunakan kalung berbentuk tulang berwarna putih, dan memegang tulang putih berukuran besar di tangan kirinya. Setelah itu Ryan yang mengenakan kaos bercorak hitam putih dengan bentuk bagian bawah bajunya yang tidak rata dan celana berwarna hitam, sambil memegang kapak perimbas. Sedangkan Jenny mengenakan mini
dress berwarna ungu dan rompi coklat
bermotif macan tutul, dengan memakai kalung putih dan jepitan berbentuk tulang.
dan Ryan terkesan terbuat dari kulit hewan, sedangkan Jenny terbuat dari Kain. Pada zaman batu, manusia purba mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu atau kulit hewan, bukan kain seperti yang dikenakan oleh Jenny. Properti berupa tulang berbentuk besar, menimbulkan hiperealitas, karena pada zaman batu tidak ada hewan yang mempunyai tulang seukuran tersebut. Itu hanya sebuauh hiburan pada gambar.
Kapak Perimbas, kapak yang dibuat pada zaman batu tua atau Paleolithikum, karena teksturnya yang masih kasar.
Pada tabel 4.3.1.10 memperlihatkan tiga host, yaitu Jenny, Bianca dan Ryan. Ryan mengenakan baju berwarna dasar putih dengan motif polkadot berwarna hitam dan celana pendek hitam. Dengan membawa batu warna hitam berbentuk lonjong. Makna konotasi yang tersirat, yaitu baju yang dikenakan oleh Ryan terkesan terbuat dari kulit hewan. Dan batu lonjong itu merupakan kapak perimbas. Kapak yang ada pada zaman batu. Sehingga, memberi kesan bahwa
Ryan hidup pada zaman batu. Manusia pada zaman batu disebut dengan manusia purba, yang memiliki wujud tidak tampan dan tidak cantik. Rambut terkesan berantakan dan kulit berwarna gelap. Berbeda dengan Ryan, ia memiliki wajah yang tampan, kulit putih, dan rambutnya terlihat rapih.
Hal ini bertujuan untuk mengemas konten dari program Eat Bulaga Indonesia ini, dengan semenarik mungkin. Dengan adanya host yang berwajah tampan, walaupun berbeda dengan wujud asli dari manusia purba. Namun, pada program ini dilengkapi dengan properti berupa kapak perimbas. Kapak perimbas adalah salah satu kebudayaan pada zaman batu, oleh karena itu bertujuan untuk mendukung konsep pada episode kali ini. Sehingga, selain dapat menghibur para penonton, juga dapat meningkatkan nilai jual pada program ini.
Tabel 4.3.1.11
Shot Visual
Three Shoot
Denotatif Konotatif
Pada segmen Jagoan Karaoke, terlihat
host dan dancer yang berada di outdoor. Andika yang mengenakan
Pengambilan gambar secara three
shoot, dimaksudkan untuk
baju panjang berlengan pendek, berwarna biru dan hijau, serta motif berwarna putih. Memberhentikan Narji dengan melambaikan tangannya, Narji yang mengenakan kaos merah dan baju panjang berlengan satu berwarna putih, dan memiliki motif berwarna hitam. Dan dibelakang Narji, ada seorang
dancer yang mengenakan baju
berwarna merah dan ungu pada bagian bawahnya, bertali satu yang diikatkan pada leher, serta celana pendek hitam, ditambahi asesoris berupa wig
berwarna cokelat muda dan membawa sebuah kapak. Mereka tengah menaiki sebuah kendaraan pada zaman purba yang terbuat dari kayu, dan terdapat daun pada bagian ataasnya. Memiliki rangka yang lebih tipis dan sedikit, kemudian rodanya berukuran bundar dan sedang.
tengah dilakukkan oleh kelompok tersebut.
Pakaian yang dikenakan oleh Andika, Narji, dan seorang dancer terbuat dari kain, sedangkan manusia purba mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu atau kulit hewan. Kendaraan yang digunakan oleh Narji terlihat seperti sebuah mobil, namun terbuat dari kayu. Dapat dilihat dari daun yang masih menempel pada rantingnya. Namun, faktanya tidak ditemukannya sejarah tentang kendaraan berupa mobil yang digunakan oleh manusia purba pada zaman batu. Hal ini menimbulkan hiperealitas pada gambar. Dimana pembuat pesan, menyamakan kondisi pada saat zaman modern, bukan zaman batu. Sehingga mempengaruh khalayak dan dianggap wajar dan benar.
Pada tabel 4.3.1.11 terlihat Andika, Narji, dan seorang dancer. Andika mengenakan baju panjang berwarna biru dan hijau, dengan motif polkadot. Narji mengenakan kaos merah dan dilapisi baju putih panjang berlengan satu. Sedangkan dancer, mengenakan baju merah dan ungu, yang talinya diikatkan pada bagian belakang lehernya, dengan celana pendek hitam dan membawa kapak. Narji dan dancer tengah menaiki kendaraan berwarna cokelat. Makna konotasi yang tersirat, yaitu pakaian yang mereka kenakan seperti terbuat dari kulit kayu, pada kenyataan itu merupakan kain. Kemudian penggunaan kapak, menunjukkan di zaman apa mereka hidup. Mereka hidup pada zaman batu, dimana manusia pada zaman itu disebut dengan manusia purba, membuat kapak mereka sendiri dan digunakan dalam aktifitas mereka sehari-hari. Sedangkan kendaraan tersebut memberi kesan, bahwa itu merupakan kendaraan manusia purba yang terbuat dari batang kayu. Karena terlihat dari tekstur dan daun yang ada pada bagian atas kendaraan tersebut. Oleh karena itu, kebudayaan inilah yang menjadi salah satu yang dijual pada program ini, untuk mendapatkan keuntungan bagi pihak-pihak terkait.
4.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil penganalisaan konten yang didapat dengan cara menganalisis gambar-gambar yang berkaitan dengan penelitian pada program
Variety Show Eat Bulaga Indonesia, dimana pada episode yang diteliti oleh
penulis, mempunyai tema pada “Zaman Batu”. Program yang diadaptasi dari program variety show, pada salah satu PH (Production House) di Philipina ini,
memiliki ciri khas, yaitu sebagai salah satu program hiburan, pada program ini juga mengusung sebagai program untuk berbagi. Selain itu, dipandu oleh 13 (tiga belas) host, memiliki lokasi penayangan, baik di indoor, maupun outdoor, dan juga memiliki segmen acara yang cukup banyak.
Variety show merupakan jenis program acara yang menggabungkan
beberapa jenis program lainnya, seperti kuis, musik, dan game. Jenis program ini, bertujuan untuk menghibur audiens, maka memiliki segmen acara yang cukup banyak, sehingga dapat menarik perhatian dan tidak monoton bagi audiens. Selain dibuat untuk kepentingan audiens, jenis program ini juga bertujuan untuk kepentingan stasiun televisi.
Daya tarik dari program variety show Eat Bulaga Indonesia, memiliki tema atau konsep acara yang berbeda pada setiap episodenya. Pada episode yang dianalisis oleh peneliti, program ini bertemakan “Zaman Batu”. Zaman batu merupakan zaman dimana tulisan belum dikenal. Masa itulah yang dikenal sebagai masa praaksara, yang mempunyai arti, pra adalah sebelum, dan aksara adalah huruf. Masa praaksara dikenal juga sebagai masa prasejarah. Manusia yang hidup pada masa ini dikenal sebagai manusia purba. Masa ini juga disebut sebagai zaman batu, karena banyak ditemukannya alat-alat yang terbuat dari batu.
Peradaban manusia purba terbagi dalam beberapa masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, serta masa perundagian. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba telah mengenal alat berburu seperti kapak perimbas, alat serpih, dan alat-alat tulang. Pada masa bercocok tanam, manusia purba telah mampu membuat
bangunan besar dari batu, berbagai alat dari batu gerabah, dan perhiasan. Pada masa perundagian, manusia purba telah mengenal kehidupan sosial, ekonomi, dan mampu menghasilkan berbagai benda dari perunggu.
Pada episode yang bertemakan zaman batu ini, memiliki daya tarik tersendiri bagi program Eat Bulaga Indonesia kali ini. Karena mempunyai konsep, bagaimana kehidupan manusia purba pada saat itu, apa saja alat-alat yang digunakan, bagaimanakah model pakaian, dan tingkah laku mereka. Dimana pada episode ini, menampilkan para host dan juga dancer, yang mengenakan busana atau atribut dan asesoris layaknya manusia purba, serta properti yang bernuansa zaman batu.
Selain didukung dengan busana dan atribut yang dikemas dengan menggunakan pendekatan pada zaman batu, atau sebagai manusia purba, para host dan dancer ini juga menggunakan simbol non verbal, seperti membungkukan badan dan memukul dada.
Eksploitasi merupakan politik pemanfaatan yang secara sewenang-wenang dilakukan oleh media terhadap suatu subjek eksploitasi dan untuk kepentingan semata. Yang menarik dalam program variety show Eat Bulaga Indonesia ini adalah eksploitasi pada konten atau isi program, dan ekspoitasi host dan dancer. Hal tersebut sebagai suatu simbol yang digambarkan pada host dan dancer, dimana mereka diminta untuk dapat mengikuti sesuai dengan tema atau konsep pada setiap episode. Contohnya pada tabel 4.1, dan tabel 4.9, Jenny Tan dan dua
mengandung simbol pada zaman batu, merupakan tanda-tanda yang dapat dikaitkan dengan berbagai makna dan ideologi dibaliknya.
Melalui analisis yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan teori Roland Barthes tentang ‘signifikansi dua tahap’, maka telah ditemukan makna denotasi dan konotasi dibalik berbagai signifier dan signified seperti yang telah dipaparkan dalam hasil penelitian. Setelah dibahas hasil penelitian dari dua tahapan, yaitu denotasi dan konotasi, maka selanjutnya dibahas dengan mengungkapkan ideologi-ideologi yang tersembunyi dibalik pesan-pesan program yang telah dianalisis.
Ideologi disebut Barthes sebagai mitos, yaitu pemaknaan tataran kedua dari pemaknaan yang telah ada sebelumnya, karena antara ideologi dengan konotasi memiliki hubungan dan juga ideologi erat kaitannya dengan kemunculan mitos. Pada program variety show Eat Bulaga Indonesia yang bertemakan ‘zaman batu’ dapat disimpulkan sebagai berikut:
Para host Eat Bulaga Indonesia beserta dancer, dalam program ini merepresentasikan identitas mereka sebagai manusia purba yang hidup pada zaman batu. Para penonton yang menonton program variety show ini, baik di studio maupun di rumah, diajak untuk mempercayai bahwa kehidupan manusia purba dahulu kala yang hidup pada zaman batu, yaitu dengan melihat apa yang disajikan pada program ini. Seperti, busana, asesoris, dan properti yang berkaitan dengan zaman batu. Ketika program hiburan dikemas dengan begitu menarik dari semua aspek, seperti konten atau isi acara dan host serta dancer yang memainkan peran sebagai manusia purba dengan penuh penghayatan, maka para penonton
pun menyukainya sehingga mereka menonton program ini, dan membuat mereka percaya tentang semua hal yang telah dikemas sedemikian rupa pada konsep yang telah disajikan. Apalagi dengan adanya para host, baik secara fisik maupun sikap mereka, ini merupakan salah satu hal yang dapat menarik penonton.
Komodifikasi merupakan suatu komoditas yang memiliki pengaruh sangat besar bagi media, karena telah dikonstruksikan isi media tersebut sesuai dengan kebutuhan. Ketika suatu program hiburan yang memiliki konsep pada zaman batu masuk ke ranah komodifikasi, maka akan terjadinya pengkonstruksian, dimana menjadi perubahan tanda, makna, citra, dan identitas yang dibuat bukanlah yang sebenarnya. Sehingga pesan yang disampaikan mengandung simbol dan citra yang bisa dimanfaatkan untuk mempertajam kesadaran penerima pesan.
Program hiburan yang bertemakan kehidupan pada zaman batu, merupakan tanda semiotis yang lebih mementingkan penanda dari pada petanda. Hal ini harus disesuaikan dengan hukum-hukum pada komoditas, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Apakah konsep yang telah dikemas, memiliki unsur kebenaran ataukah dilebih-lebihkan. Tidak heran apabila suatu program hiburan dikemas sesuai dengan kebutuhan pasar dengan menampilkan konsep, konten, dan pengisi acara yang menarik.
Para pelaku produksi dibalik tayangan Eat Bulaga Indonesia ini, dinilai dapat memperhatikan dan mengerti apa yang menjadi suatu kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dimana hal-hal yang bersifat tabu dan yang tidak mereka ketahui tentang kehidupan sebelumnya. Apalagi hal tersebut masih berhubungan dengan masyarakat Indonesia. Secara stasiun televisi memegang azas kapitalis, yaitu
tujuan utamanya adalah bisnis. Jika konsep kehidupan manusia purba pada zaman batu disukai oleh masyarakat, tentunya hal ini dapat menghasilkan profit sebanyak mungkin, agar stasiun televisi dapat bertahan pada ketatnya persaingan industri penyiaran.
Secara umum, simbol pada jenis program variety show merupakan suatu program hiburan yang dikemas dengan berbagai macam variasi, baik dalam bentuk tema, konsep acara per segmen, pengisi acara, dan audiovisual. Di Indonesia, tayangan hiburan memiliki pangsa pasar yang berarti. Salah satunya yang bertemakan tentang kehidupan pada masa lampau, apalagi tentang zaman pra sejarah. Simbol manusia purba yang hidup pada zaman batu, yaitu memiliki wujud atau secara fisik berbeda dengan manusia pada zaman sekarang atau modern, seperti bentuk tengkorak, terdapat banyak bulu atau rambut pada seluruh tubuhnya, dan cara mereka berjalan. Selain itu memiliki bahasa yang berbeda, karena pada saat mereka hidup, belum mengenal huruf. Kemudian perkakas, alat-alat yang mereka gunakan, dan pakaian, itu semua mereka dapatkan dari lingkungan mereka. Namun, pada program Eat Bulaga Indonesia, dikemas dengan baik dan semenarik mungkin, sesuai dengan kebutuhan. Hal ini merupakan menjadi suatu nilai pada program, karena menyajikan tema yang dianggap tabu oleh masyarakat, dan bagaimana dengan konsep tersebut tetap disukai dan menarik penonton. Tentunya ini merupakan salah satu tekanan dari pasar, industri penyiaran, dan program televisi yang merupakan kompetitornya.
4.5.1 Mitologi Komodifikasi Zaman Batu
Dari hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan Roland Barthes mengenai Komodifikasi Program Variety Show Eat Bulaga Indonesia, yang bertemakan Zaman Batu, terdapat perbedaan antara mitos lama dan mitos baru dari sebuah konsep yang telah dimodifikasi. Berikut ini adalah analisis peneliti mengenai mitos lama dengan mitos baru yang didapat dari tanda-tanda yang diteliti oleh peneliti:
Tabel 4.1
Mitologi Komodifikasi Zaman Batu
No. Tanda Mitos Lama Mitos Baru
1. Wujud : a. Tengkorak b. Wajah c. Rambut d. Warna Kulit e. Cara Berjalan Memiliki bentuk tengkorak dan rahang yang cukup besar. Kulit pada wajah ditumbuhi rambut yang cukup banyak, sehingga terlihat seram dan menakutkan. Sedangkan untuk rambut, hampir seluruh tubuh mereka ditutupi oleh rambut. Dan rambut di
Memiliki bentuk tengkorak dan rahang yang kecil. Wajah terlihat rapi dan menarik. Sedangkan rambut terlihat rapi, dan dibuat dengan berbagai macam model. Memiliki warna kulit yang cerah, yaitu kuning langsat. Dan cara berjalan yang tegap.
kepala terlihat panjang terurai dan terkesan tidak rapi. Kemudian, kulitnya berwarna gelap, yaitu cokelat tua. Dan cara mereka berjalan sedikit membungkuk.
2. Busana : a. Baju
b. Celana/Rok
Pakaian yang dikenakan, baik baju maupun celana atau rok, terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan. Modelnya tidak terlihat rapi, dan warnanya pun hanya didominasi oleh beberapa warna saja, seperti cokelat muda atau tua, dan hitam.
Pakaian yang dikenakan, baik baju maupun celana atau rok, terbuat dari kain. Memiliki model yang terlihat rapi dan bervariasi, baik warna maupun motif.
3. Atribut : a. Asesoris b. Perkakas
Asesoris yang dikenakan terbuat dari tulang hewan, sehingga bentuk dan warnanya pun menyerupai tulang. Sedangkan dalam kegiatan sehari-hari
Asesoris yang dikenakan terbuat dari berbagai macam jenis bahan, seperti plastik, kayu, karet, tembaga, dan lain-lain. Sedangkan untuk
menggunakan perkakas yang terbuat dari batu dan tulang.
perkakas, menggunakan bahan dari alumunium,
stanless steel, kayu, dan
sebagainya. 4. Alat Penerangan Menggunakan api unggun,
dengan cara
mengumpulkan ranting, dan menghasilkan api dengan menggesekkan ranting dan memutarnya ditengah-tengah batu yang ditempelkan.
Menggunakan aliran listrik untuk menghidupkan lampu.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Surya Citra Televisi (SCTV)
Pada awalnya, SCTV adalah singkatan dari “Surabaya Centra Televisi” yang bermula dari Jl. Darmo Permai, Surabaya dan mengudara untuk pertama kalinya pada tanggal 24 Agustus 1990 di Surabaya, Jawa Timur, dengan jangkauan wilayah Surabaya dan sekitarnya. Siaran SCTV diterima secara terbatas untuk wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoardjo dan Lamongan) yang mengacu pada izin Departemen Penerangan No. 1415/RTF/K/IX/1989 dan SK No. 150/SP/DIR/TV/1990. Satu tahun kemudian, 1991, pancaran siaran SCTV meluas mencapai Pulau Dewata, Bali dan sekitarnya.
Pada tahun 1999 SCTV melakukan siarannya secara nasional dari Jakarta. Sementara itu, mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang kian mengarah pada konvergensi media SCTV mengembangkan potensi multimedianya dengan meluncurkan situs http://www.liputan6.com, http://www.liputanbola.com. Melalui ketiga situs tersebut, SCTV tidak lagi hanya bersentuhan dengan masyarakat Indonesia di wilayah Indonesia, melainkan juga menggapai seluruh dunia. Dalam perkembangan berikutnya, melalui induk perusahaan PT. Surya Citra Media tbk (SCM), SCTV mengembangkan potensi usahanya hingga mancanegara dan menembus batasan konsep siaran tradisional menuju konsep industri media baru.
Dalam kurun waktu perjalanannya yang panjang, berbagai prestasi diraih oleh SCTV dari dalam dan luar neger. Semua itu menjadikan SCTV kian dewasa dan matang. Untuk itu, manajemen SCTV memandang perlu menegaskan kembali identitas dirinya sebagai stasiun televisi keluarga. Maka sejak Januari 2005, SCTV mengubah logo dan slogannya menjadi lebih tegas dan dinamis, yaitu Satu Untuk Semua
Melalui 47 stasiun transmisi, SCTV mampu menjangkau 240 kota dan menggapai sekitar lebih dari 175 juta potensial pemirsa. Dinamika ini terus mendorong SCTV untuk selalu mengembangkan profesionalisme sumber daya manusia agar dapat senantiasa menyajikan layanan terbaik bagi pemirsa dan mitra bisnisnya.
SCTV telah melakukan transisi ke platform siaran dan produksi digital, yang merupakan bagian dari kebijakan untuk secara konsisten mengadopsi kecanggihan teknologi dalam meningkatkan kinerja dan efsiensi operasional. Dalam semangat yang sama, kebijakan itu telah meletakkan penekanan yang kokoh pada pembinaan kompetensi individu di seluruh aspek untuk mempertajam basis pengetahuan seraya memupuk talenta, kreativitas dan inisiatif. Inilah kunci untuk memperkuat posisi SCTV sebagai salah satu dari stasiun penyiaran terkemuka di Indonesia. Dan Perseroan tercatat di Bursa Efek Surabaya sejak Juni 2003.64
64
4.1.1 Visi dan Misi SCTV
Visi
Menjadi stasiun televisi unggulan yang memeberikan kontribusi terhadap pembangunan dan pencerdasan kehidupan bangsa.
Misi
Membangun SCTV sebagai jaringan stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia dengan :
A. Menyediakan beragam program yang kreatif, inovatif, dan berkualitas yang membangun bangsa.
B. Melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). C. Memberikan nilai tambah kepada seluruh stakeholder.65
4.1.2 Makna Logo SCTV
Makna logo SCTV adalah sebagai berikut:66
1. Logo baru menampilkan wujud SUN-Matahari (oranye) dalam bulat utuh, yang mengandung makna SCTV kini berusia matang dan dalam wujudnya yang terbaik.
2. Matahari ini menyinari teks SCTV yang melambangkan SKY-Langit (biru), mengandung makna SCTV selalu cerah, cemerlang, berwawasan, variatif, inovatif, sekaligus menghibur dalam setiap programnya.
3. Teks SCTV berkesan dinamis-modern menyiratkan kemauan untuk terus berkembang sejalan dengan selera pemirsa dan kemajuan zaman. Teks SCTV berkesinambungan mengandung makna adanya ikatan yang kuat, baik di dalam lingkungan internal SCTV maupun antara SCTV dan pemirsanya.
Sedangkan makna slogan baru SCTV mengandung multi-makna. yaitu sebagai berikut: "SATU UNTUK SEMUA"
Makna pertama :
SCTV sebagai satu-satunya stasiun televisi pilihan untuk semua kalangan dan usia.
Makna kedua :
SCTV sebagai satu-satunya stasiun televisi pilihan yang begitu inovatif menayangkan berbagai jenis program acara yang sangat beragam dan variatif. Makna lainnya :
SCTV memiliki cita-cita luhur untuk menjadi nomor satu dan satu-satunya di dalam benak pemirsanya.
4.1.3 Manajemen SCTV
Dewan Komisaris :
Bp. R. Soeyono : Komisaris Utama Bp. Eddy Sariaatmadja : Komisaris
Bp. Fofo Sariaatmadja : Komisaris Ibu Siti Hediati Hariyadi : Komisaris Bp. Budi Harianto : Komisaris
Bp. Agus Lasmono : Komisaris Independen
Direksi :
Bp. Sutanto Hartono : Direktur Utama Ibu Grace Wiranata : Direktur Keuangan
Ibu Harsiwi Achmad : Direktur Program & Produksi
4.1.4 Sarana dan Prasarana
SCTV memiliki 32 stasiun transmisi di seluruh provinsi di Indonesia, yang didukung oleh satelit Digital "Palapa". Dengan demikian, SCTV dapat menjangkau lebih dari 150 juta potensial populasi di seluruh Indonesia. Untuk mendukung siaran dan produksi program yang berkualitas, inovatif, dan kreatif, SCTV mengembangkan sarana dan prasarana siaran serta produksi yang didukung oleh peralatan digital canggih yaitu:67
1. News studio seluas 150 m2 yang dilengkapi dengan Virtual Studio yang mampu membuat set backdrop, digital imaging system
2. 3 Production Studio yang dilengkapi peralatan produksi full digital, masing-masing seluas 450m2, 500m2 dan 700m2
3. Master Control siaran yang dilengkapi dengan sistem otomatis digital berbasis Hard Disk
4. Fasilitas paska produksi:
A. 17 sistem Non Linear Editing maupun Analog B. 7 Computer Graphics
C. Suite Digital Audio Post Production dan Midi System D. 5 Studio Audio Recording
E. Digital Subtitling dan Dubbing System
F. Ruang pustaka canggih dan Cartridge System
G. Outdoor Broadcasting Van H. Mobile Uplink Van
5. Kantor Pusat dan Studio
SCTV TOWER – Senayan City Lantai 20, Jl. Asia Afrika Lot. 19 Jakarta 10270, Indonesia
Dan tiga studio lain yang beralamatkan di:
Studio PENTA - PT. SCTV
4.1.5 Target Audiens
SCTV membidik segmen pemirsa kelas menengah ke atas atau yang dikenal dalam istilah pemasaran sebagai kelompok A dan B.
4.1.6 Konsep Program SCTV
SCTV menyadari bahwa eksistensi industri televisi tidak dapat dipisahkan dari dinamika masyarakat. SCTV menangkap dan mengekspresikannya melalui berbagai program berita, feature, dan sebagainya. Serta, SCTV juga memberikan arahan kepada pemirsa untuk memilih tayangan yang sesuai. Untuk itu, dalam setiap tayangan SCTV di pojok kiri atas ada bimbingan untuk orangtua sesuai dengan ketentuan UU Penyiaran Nomor 32/2002 tentang Penyiaran yang terdiri dari BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa) dan SU (Semua Umur). Jauh sebelum ketentuan ini diberlakukan, SCTV telah secara selektif menentukan jam tayang programnya sesuai dengan karakter programnya.
Program-program di SCTV terdiri dari 8 jenis, dengan rincian sebagai berikut :68
a. Series
Program series terdiri dari Putih Abu-abu 2, Ustad Fotocopy, Si Biang Kerok Cilik, Love in Paris, Insyaallah Ada Jalan, Para Pencari Tuhan, Cookies.
b. Movie
Program movie SCTV yaitu Film Layar Lebar SCTV, Sinema.
c. Entertainment
Program entertainment di SCTV antara lain, FTV, Sinema Wajah Indonesia, Eat Bulaga Indonesia.
d. News
Program news di SCTV antara lain, Luiputan 6 Terkini, Liputan 6 Pagi, Liputan 6 siang, Liputan 6 Petang, Liputan 6 Malam, SIGI 30 Menit, SIGI Investigasi, BUSER.
e. Information/Infotainment
Program information di SCTV antara lain, WAS WAS, Halo Selebriti, Status Selebriti, Hot Shot.
f. Sport
Program sport di SCTV antara lain, AFC U-22 Asian Cup.
g. Music
Program music di SCTV antara lain, Inbox, Hip Hip Hura, Harmoni. h. Realigi
Program realigi di SCTV antara lain, Kata Ustadz Solmed, Indahnya Kebersamaan, dan Mata Air.
4.2 Gambaran Umum Program Variety Show Eat Bulaga Indonesia
Eat Bulaga Indonesia merupakan sebuah program variety show yang berasal dari salah satu PH (Production House) di Philipina yang sudah tayang selama 34 tahun, sejak tahun 1979. Kemudian program ini diadopsi oleh stasiun televisi SCTV, dan mulai tayang pada tanggal 16 Juli 2012.
Program Eat Bulaga Indonesia memiliki durasi dua jam, dimulai pada pukul 14.30 WIB, yang tayang setiap hari senin hingga sabtu. Program ini mempunyai segmen sebagai berikut:
Content (Isi Program):
1. Opening Host dari dua lokasi (indoor/outdoor), dengan membawakan
theme song Eat Bulaga Indonesia.
2. Segmen: Jagoan Karaoke 3. Segmen: That’s My Boy 4. Segmen: Indonesia Pintar 5. Segmen: Kunjungan Rumah 6. Segmen: Antrian Rejeki
7. Closing Host (indoor), dengan membawakan theme song Eat Bulaga Indonesia, dan cuplikan lokasi (outdoor) yang tengah membagikan uang (pada segmen Antrian Rejeki).
Keunikan dari program Eat Bulaga Indonesia ini, yaitu dipandu oleh 13
host yang berlokasi di indoor/outdoor, mereka adalah Uya Kuya, Farid Aja, Reza
Bukan, Andika, Narji, Rian Ibram, Rio Indrawan, Steven, Leo Consul, Christie Micel, Jenny Tan, Bianca Lizza, dan Christie Julia. Program yang bersifat menghibur ini, juga mempunyai unsur edukasi, terihat adanya segmen “Indonesia Pintar” yang mengajak “anak sekolah” untuk ikut serta di dalamnya. Selain itu, program ini lebih mendekatkan setiap segmennya dengan masyarakat sekitar.
4.3 Analisis Program Variety Show Eat Bulaga Indonesia
Dalam proses analisis ini, akan dipilih beberapa frame dari story line yang menggunakan berbagai tanda yang berkaitan dengan nilai-nilai komodifikasi dalam program “Eat Bulaga Indonesia”. Kemudian, frame yang berkaitan dengan tanda-tanda komodifikasi akan dibagi sesuai dengan yang dilakukan pada model Roland Barthes. Sedangkan, yang tidak berkaitan atau tidak mempengaruhi akan diabaikan.
Proses analisis dilakukan terlebih dahulu dengan membagi pesan yang bersifat denotatif dan konotatif. Setelah itu masing-masing pesan akan dipaparkan mengenai signifier dan signified-nya.
Melalui hasil analisis terhadap program “Eat Bulaga Indonesia” ini, dapat dilihat bagaimana tim kreatif membuat konsep pada program ini, tidak terlihat nilai-nilai komodifikasinya untuk menarik pemasang iklan, melainkan bagaimana isi atau konten dari program ini lebih bersifat menghibur.
4.3.1 Pemaknaan Denotatif dan Konotatif Tahap Pertama
Makna dan penganalisian secara teori dengan menggunakan teori Roland Barthes, akan ditampilkan dalam tabel berikut ini sesuai dengan pemaknaan denotatif dan konotatif tahap pertama.