• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.9 Analisis Data

4.9.2 Analisa bivariat

Analisa ini bertujuan melihat hubungan antara variabel independen (serat larut dan tidak larut) dengan variabel dependen (GDP pasien DM tipe 2). Analisis data bivariat dilakukan menggunakan software analisa statistik. Data yang didapatkan di uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Hasil uji normalitas menunjukkan data asupan serat total, serat larut, serat tidak larut serta GDP tidak normal sehingga dilakukan transformasi data menggunakan Log 10. Setelah dilakukan transformasi, data asupan serat total dan GDP menjadi normal, namun data serat larut dan tidak larut tetap tidak normal. Data serat total dan kadar GDP

42

disajikan dalam mean ± SD, dan data serat larut serta tidak larut disajikan dalam bentuk median ± SD dan persentil.

Uji statistik korelasi data menggunakan Pearson dan Spearman. Uji Pearson digunakan untuk melihat hubungan antara konsumsi serat total dengan kadar GDP responden DM tipe 2. Data dikatakan signifikan ketika nilai significant 2-tailed <0,05 (p<0,05). Sedangkan uji Spearman digunakan untuk melihat hubungan antara serat larut dan tidak larut dengan kadar GDP pasien DM tipe 2.

Data signifikan dengan nilai p<0,05.

43 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

5.1 Karakteristik Responden Penelitian

Responden pada penelitian di Puskesmas Dinoyo dan Janti awalnya sejumlah 36 responden sesuai dengan data dari puskesmas (berdasar usia, obat, dan kadar gula darah), namun setelah dilakukan pengecekan gula darah hanya 31 responden yang memiliki gula darah tidak terkontrol (≥126 mg/dl). Selanjutnya proses pengolahan data dalam penelitian ini hanya dilakukan pada 31 responden yang memiliki gula darah tidak terkendali tersebut. Hasil analisa data responden meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, edukasi, lama menderita diabetes, indeks masa tubuh (IMT) dan rasio lingkar pinggang panggul (RLPP).

Berdasarkan data tabel 5.1, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 90,3% dari total responden sementara kisaran usia responden penelitian yang terbanyak pada kisaran usia 51-60 tahun sebesar 64,5%. Pendidikan terakhir responden paling banyak adalah SD yaitu sebanyak 45,2% dimana sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT) sebesar 51,6% dari total jumlah responden. Edukasi gizi pernah diterima 64,5%

responden dan sebagian besar menderita DM tipe 2 dalam kisaran waktu 5-10 tahun sebesar 45,2%. Responden memiliki IMT terbesar dengan kategori gemuk sekali (obesitas) yaitu 48,4% dari total responden sedangkan rasio lingkar pinggang dan panggul responden paling banyak adalah obesitas yaitu 83,8%

untuk responden perempuan dan 66,7 % untuk responden laki-laki

44

Tabel 5.1 Karakteristik Responden Penelitian

Karakteristik N %

45 Lamanya Menderita DM Tipe 2 1-5 tahun

5.2 Kadar Gula Darah Puasa

Tabel 5.2 Analisa Hasil Gula Darah Puasa

Kategori N Median Min-Max

Tidak Terkendali 31 191 141-388

46

Pengambilan darah untuk tes lab diperoleh melalui pembuluh darah vena dan didapatkan hasil dari 31 responden dengan kadar gula darah tidak terkendali mempunyai nilai median 191 mg/dL serta nilai Min-Max GDP adalah 141-388 mg/dL.

5.3 Konsumsi Serat pada Responden DM Tipe 2

Asupan serat responden diperoleh dengan menggunakan metode dietary intake SQ-FFQ selama 3 bulan terakhir. Data asupan responden diolah menggunakan software Analisa Kandungan Gizi Bahan Makanan untuk mendapatkan rata-rata jumlah yang dikonsumsi dalam sehari. Gambaran distribusi asupan serat responden dapat dilihat pada tabel 5.3

Tabel 5.3 Kategori pemenuhan asupan serat sehari berdasarkan SQ-FFQ

Kategori N Median Min-Max % kurang berdasarkan rekomendasi PERKENI (2015) sebesar 90,3% dan memiliki nilai median 13 gr/hari

5.4 Asupan Serat Larut pada Responden DM Tipe 2

Asupan serat larut responden DM Tipe 2 diperoleh dengan melakukan metode dietary intake SQ-FFQ. Data kemudian diolah menggunakan software Analisa Kandungan Gizi Bahan Makanan untuk memperoleh data median asupan serat larut.

Tabel 5.4 Hasil Analisa Asupan Seral Larut Berdasarkan SQ-FFQ

47

Kategori N Median Min-Max

Asupan Serat Larut 31 0,1 0,0-2,1

Berdasarkan tabel 5.4 asupan serat larut pada 31 responden memiliki nilai median 0,1 gr/hari dan 100% responden tidak mengonsumsi serat larut sesuai anjuran yaitu 8 gr/hari (Jiang, 2012). Nilai median memiliki arti bahwa 50% data memiliki nilai paling tinggi sama dengan median sedangkan 50% data memiliki nilai paling rendah sama dengan median.

5.5 Asupan Serat Tidak Larut Responden

Asupan serat tidak larut responden diperoleh dengan menggunakan kuisioner SQ-FFQ dan kemudian data diolah menggunakan Software Analisa Kandungan Gizi Bahan Makanan untuk mendapatkan nilai median serat tidak larut.

Tabel 5.5 Analisa Hasil Asupan Serat Tidak Larut berdasarkan SQ-FFQ Kategori N Median Min-Max Asupan Serat Tidak Larut 31 0,2 0,0-9,2

Pada tabel 5.5 nilai median pada 31 responden (100%) adalah 0,2 dan 100% responden tidak memenuhi kebutuhan serat tidak larut per harinya yaitu 16 gr/hari (Jiang, 2012). Nilai median memiliki arti bahwa 50% dari data paling tinggi sama dengan nilai median dan 50% dari data paling rendah juga memiliki nilai yang sama dengan median.

5.6 Perhitungan Predicted Total Energy Expenditure (pTEE)

Perhitungan pTEE dimaksudkan untuk menilai apakah data asupan yang

48

dilaporkan responden kepada pewawancara adalah data yang mendekati asupan responden yang sebenarnya atau tidak. Metode yang digunakan dalam perhitungan skor pTEE adalah dengan membandingkan Elrep (Energy Intake Reported) dengan Energy expenditure.

pTEE= 7.377 – 0.073 x umur + 0.806 x berat badan + 0.0135 x tinggi badan – 1.363 x jenis kelamin

Keterangan: umur (tahun) ; berat badan (kg) ; tinggi badan (cm) ; jenis kelamin (1 untuk wanita, 0 untuk laki-laki)

Interpretasi hasil skor perbandingan Elrep dengan TEE adalah sebagai berikut:

Jika, Elrep < 40% dari total energy expenditure maka dianggap underreporting Elrep > 60% dari total energy expenditure maka dianggap overreporting (Mccory et al, 2016)

pTEE Jumlah (%)

Underreporting 16 51.6

Normal Repporting 15 48.4

5.7 Analisa Hubungan Asupan Serat Total, Serat Larut dan Serat tidak Larut dengan Gula Darah Puasa

Tabel 5.6.1 Hubungan Asupan Serat Total dengan Gua Darah Puasa GDP

Asupan Serat Total p = 0,59*

n = 31

*Pearson

49

Tabel 5.6.2 Hubungan Asupan Serat Larut dan Tak Larut dengan GDP GDP

Asupan Serat Larut Asupan Serat Tak Larut

p = 0,58*

p = 0,59*

n = 31

*Uji Spearman

Uji normalitas dilakukan pada data asupan serat total, serat larut, serat tak larut dan GDP sebelum melakukan uji hubungan. Hasilnya, semua data tidak terdistribusi normal dengan melihat nilai Saphiro/Wilk (p<0,05). Data kemudian ditransformasikan menggunakan Log 10 dan hasilnya data asupan serat total dan GDP menjadi normal sedangkan data asupan serat larut dan tak larut tetap tidak terdistribusi normal. Uji hubungan antara serat larut dan gdp kemudian menggunakan uji Pearson sedangkan uji hubungan serat larut dan tidak larut dengan GDP menggunakan uji Spearman.

Analisa data antara asupan serat total dan gdp menggunakan Pearson test menunjukkan bahwa hubungan antara asupan serat total dan GDP responden DM tipe 2 tidak signifikan (p>0,05) sehingga nilai korelasi (r) yang ada tidak dapat dinyatakan maknanya.

Berdasarkan uji hubungan Spearman antara serat larut dan GDP responden didapatkan bahwa hubungan antara konsumsi serat larut dan GDP tidak signifikan (p>0,05) sehingga nilai korelasi (r) antar 2 variabel tidak dapat dinyatakan maknanya. Sama dengan hasil uji hubungan antara serat tidak larut dan GDP responden dimana tidak ada hubungan yang signiifikan (p>0,05) sehingga korelasi (r) juga tidak dapat dinyatakan maknanya.

1 BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik Responden Penelitian

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. DM tipe 2 memiliki ciri khas berupa pengikatan insulin dengan reseptor di dalam tubuh yang menurun. Hal ini disebabkan oleh jumlah reseptor insulin pada membran sel berkurang sehingga terjadilah hiperglikemia (Fitri, 2014). DM tipe 2 memiliki beberapa faktor resiko seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status gizi, rasio lingkar pinggang panggul (RLPP), lama menderita penyakit dan edukasi terkait gizi.

Hasil penelitian responden DM tipe 2 di wilayah puskesmas Dinoyo dan Janti menunjukkan bahwa sebagian besar penderita DM tipe 2 berjenis kelamin perempuan (90,3%). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian dari Rohimah (2016) dimana 54% responden berjenis kelamin perempuan sedangkan penelitian dari Erniati (2012) juga menunjukkan bahwa responden DM tipe 2 yang diteliti 78% diantaranya berjenis kelamin perempuan.

Berdasarkan literatur, perempuan lebih berisiko menderita DM tipe 2 dikarenakan secara fisik perempuan cenderung memiliki peningkatan statusgizi lebih besar. Sindrom siklus bulanan membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi. Akumulasi lemak dalam tubuh inilah yang dihubungkan dengan resitensi insulin sehingga perempuan lebih berisiko menderita DM tipe 2 (Trisnawati, 2013). Usia responden perempuan yang sebagian besar di atas 45 tahun menyebabkan perubahan hormon tubuh yaitu produksi hormon estrogen yang menurun. Penurunan kadar hormon tersebut dapat meningkatkan kadar gula

2

darah sehingga resiko komplikasi terjadinya diabetes melitus menjadi lebih tinggi (Karyati, 2016). Pada penelitian Garnita (2012) ditemukan pada proporsi diabetes antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Penelitian Garnita ini didukung oleh Riskesdas. Pada dasarnya perbedaan proporsi jenis kelamin responden penelitian diabetes ini bukan merupakan variabel utama yang diperhatikan sehingga variabel jenis kelamin jarang digunakan untuk melihat hubungan dengan kadar gula darah penderita diabetes (Nur Ratna, 2008)

Usia terbanyak penderita DM pada penelitian ini adalah dalam rentang usia 51-60 tahun sebesar 64,5%. Hasil yang sama dengan penelitian Awad dan Trisnawati (2013) yang menunjukkan bahwa pada usia 51-60 tahun usia responden DM adalah yang paling banyak. Fitri (2012) juga menunjukkan bahwa usia dalam rentang tersebut merupakan usia terbanyak sementara Zahtamal (2007) menyatakan jumlah penderita diabetes dengan usia <45 tahun dibanding

>45 tahun adalah 1 berbanding 6 karena pada rentang usia 46-64 tahun inilah akan terjadi proses intoleransi glukosa dalam tubuh.

Usia erat kaitannya dengan kejadian DM karena semakin bertambahnya usia maka penurunan fungsi organ tubuh khususnya pada sel β pankreas dapat terjadi. Penurunan fungsi organ ini akan membuat kemampuan tubuh seseorang menghasilkan insulin menurun sehingga peningkatan gula darah sering terjadi (Betteng, 2014).

Pertambahan usia juga mengakibatkan seseorang akan mengalami penurunan fungsi otak sehingga daya ingat akan terbatas. Penurunan daya ingat ini akan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan perencanaan makan sehari-hari. Perencanaan makan seseorang dengan DM yang tepat yaitu tepat jenis, jumlah dan jadwal dapat membantu seseorang untuk mengontrol

3

glukosa darah dalam keadaan normal (Nurlaili dkk, 2012). Berdasarkan laporan survei sosial ekonomi pada Juli 2009, lansia yang menderita diabetes memiliki tingkat konsumsi sayur dan buah yang sangat kurang sedangkan konsumsi sumber karbohidrat dan lemak berlebih sehingga resiko kenaikan gula darah meningkat.

Usia seseorang juga mempengaruhi jenis aktifitas fisik. Penurunan aktifitas fisik pada lansia bisa disebabkan karena lansia tidak lagi bekerja atau terjadi penurunan kondisi fisik tubuh akibat proses penuaan. Aktifitas fisik dapat dikaitkan dengan jenis pekerjaan sehari-hari seseorang. Penelitian ini menunjukkan bahwa pekerjaan ibu rumah tangga pada responden DM tipe 2 lebih tinggi (51,6%). Hasil ini sejalan dengan penelitian Widya (2015) dan Rini (2016) dimana jumlah responden DM tipe 2 adalah responden yang tidak bekerja termasuk ibu rumah tangga dan pensiunan. Pada lansia perempuan, jenis aktifitas fisik yang sering dilakukan adalah memasak dan membersihkan rumah sedangkan lansia laki-laki yang tidak bekerja sebagian besar tidak melakukan aktifitas fisik di rumah. Hasil penelitian berbeda didapatkan Diani (2013) yang menggunakan responden penelitian DM yang bekerja lebih banyak dibanding responden tidak bekerja.

Responden yang bekerja pada penelitian Diani ini memiliki pekerjaan sebagai PNS dimana aktifitas fisik yang dilakukan sama terbatasnya dengan ibu rumah tangga dan pensiunan.

Aktifitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat mempengaruhi aksi insulin dalam metabolisme glukosa dan lemak dalam otot rangka. Aktifitas fisik menghasilkan adaptasi fisiologis seperti peningkatan pasokan kapiler ke otot rangka. Secara tidak langsung, aktifitas fisik dapat berperan dalam mencegah

4

resiko diabetes dengan meningkatkan massa tubuh tanpa lemak dan secara bersamaan mengurangi lemak dalam tubuh (Erniati, 2013)

Selain aktifitas fisik, faktor pemilihan makanan juga memegang peran penting dalam penatalaksanaan diabetes. Pemilihan bahan makanan yang tepat berkaitan dengan tingkat pengetahuan responden. Sebanyak 64,5% responden penelitian ini sudah pernah mendapatkan edukasi gizi terkait penatalaksaan diet diabetes. Edukasi yang dimaksud berkaitan dengan informasi mengenai keterampilan dan pengetahuan dalam pengelolaan diabetes. Informasi yang tepat dapat membantu seseorang dengan diabetes untuk mengontrol gula darah (Putri, 2013). Sama dengan penelitian Zahtamal (2007) dimana pengetahuan responden mengenai pengelolaan diabetes sudah baik dikarenakan responden sudah lama menderita diabetes. Pengetahuan berkaitan erat dengan perilaku seseorang dimana dengan pengetahuan yang baik maka seseorang akan cenderung menghindari hal-hal yang dapat meningkatkan resiko penyakit. Namun pada penelitian ini menunjukkan walaupun 64,5% responden sudah pernah mendapatkan edukasi tetapi kadar gula darahnya tetap tidak terkontrol. Faktor pendidikan dan usia dapat mempengaruhi daya terima dan ingatan responden penelitian (Edriani, 2012).

Selain faktor pengetahuan, pendidikan juga memegang peranan penting dalam pengaturan makan seseorang dengan diabetes. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pendidikan SD (45,2). Sama dengan penelitian Rohimah (2013) yang menunjukkan bahwa pendidikan responden diabetes masih rendah (58%). Kategori pendidikan rendah yaitu jumlah responden yang tidak lulus sekolah sampai berpendidikan SMP lebih banyak daripada responden yang berpendidikan SMA dan sarjana. Seseorang dengan pendidikan

5

rendah dikaitkan dengan kemampuannya dalam menerima informasi yang diberikan. Kemampuan menerima informasi yang terbatas akan berdampak pada pemilihan bahan makanan dan pola makan yang tidak tepat (Trisnawati, 2013).

Selain itu, pendidikan yang rendah dihubungkan dengan kesadaran kesehatan yang rendah sehingga dapat menyebabkan seseorang memiliki status kesehatan yang kurang baik. Dalam kaitannya dengan pasien diabetes, semakin rendah pendidikan pasien maka seseorang akan cenderung tidak mengetahui gejala-gejala penyakit yang muncul (Edriani, 2012). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Garnita (2012) dimana resiko diabetes lebih besar terdapat pada responden dengan latar belakang pendidikan sarjana/sederajat dengan odds ratio (nilai probabilitas) sebesar 5,7 kali lebih besar dibanding pada kelompok responden tidak bersekolah. Penelitian Garnita ini sama dengan hasil riset dari Riskesdas (2007) namun Garnita tidak menjelaskan lebih dalam mengenai penyebab responden dengan pendidikan yang tinggi juga memiliki resiko diabetes yang tinggi. Menurut Isworo (2008) dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang tinggi seharusnya seseorang memiliki persepsi kesehatan lebih baik.

Berhubungan dengan kesadaran mengontrol gula darah, lama responden terbanyak yang menderita diabetes dalam rentang waktu 5-10 tahun sebanyak 45,2%. Berbeda dengan hasil penelitian oleh Rini (2012) dan Widya (2015) yang menunjukkan bahwa responden penderita diabetes lebih banyak menderita penyakit dengan rentang waktu kurang dari 5 tahun (45%). Sedangkan penelitian dari Jihan (2016) menunjukkan bahwa lama menderita diabetes terbanyak dengan kisaran waktu 5-10 tahun.

Lama menderita DM dapat menjadi indikator hiperglikemia dalam waktu yang lama sehingga dapat menunjukkan bahwa responden kurang menjaga pola

6

makan, aktifitas fisik tidak teratur serta kepatuhan terhadap terapi obat yang dijalani rendah. Lama waktu menderita diabetes >5 tahun dapat menyebabkan konsumsi obat hipoglikemia oral (OHO) kurang maksimal sehingga dapat terjadi hiperglikemia yang lama-kelamaan dapat merusak berbagai organ dalam tubuh seperti mata, ginjal dan jantung. Seseorang yang sudah lama menderita diabetes akan lebih berisiko mengalami komplikasi (Putri, 2013). Komplikasi yang terjadi pada pasien DM dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat (Jihan, 2016).

Pola hidup sedentari yang dapat menyebabkan hiperglikemia juga dapat mengakibatkan status gizi berlebih pada responden. Pola makan lansia diabetes yang kurang mengonsumsi sayur dan buah sedangkan konsumsi karbohidrat dan lemak yang berlebihan dapat meningkatkan resiko obesitas lansia semakin tinggi (Rosyada, 2013). Pada penelitian ini responden memiliki status gizi gemuk sekali sebanyak 48,4%. Penelitian ini sama dengan hasil penelitian Ridwan (2013) dan Fitri (2012) dimana responden dengan jenis kelamin perempuan atau laki-laki lebih banyak mengalami status gizi obesitas. Status gizi lebih atau menuju ke obesitas ringan dapat menyebabkan penurunan kerja insulin secara tajam (Karo, 2012).

Kegemukan adalah faktor timbulnya peningkatan gula darah dimana peningkatan jumlah lemak akan menekan jumlah sel insulin yang beredar dalam tubuh. Lemak juga membuat sel-sel di pulau Langerhans menjadi kurang peka untuk menghasilkan insulin (Purwandari, 2014). Kurangnya aktifitas fisik yang dilakukan oleh lansia dapat memicu terjadinya status gizi obesitas. Penurunan fungsi muscokeletal pada lansia berupa menurunnya massa otot secara progresif, ketahanan dan koordinasi akibat dari penurunan konduksi saraf mengakibatkan aktifitas fisik yang dapat dilakukan oleh lansia terbatas (Kozier dkk, 2009).

7

Pengukuran antropometri selain IMT yang dapat digunakan sebagai indikator dini gangguan metabolik seseorang adalah pengukuran lingkar perut.

Obesitas khususnya obesitas abdominal memiliki korelasi dengan beberapa penyakit gangguan metabolisme seperti resistensi insulin. Penelitian ini memiliki responden yang sebagian besar mengalami obesitas abdominal yaitu laki-laki 66,7% dan perempuan 83,8%. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Nita (2010) bahwa responden sebagian besar memiliki obesitas abdominal (71%).

Pondagitan (2014) juga menunjukkan hasil penelitian yang sama bahwa responden laki-laki dan perempuan sebagian besar mengalami obesitas abdominal. Rasio lingkar pinggang panggul menggambarkan penimbunan lemak dalam tubuh utamanya dalam jaringan subkutan dan rongga perut (Nita, 2010).

Pengukuran rasio lingkar pinggang panggul memiliki hubungan yang lebih kuat antara obesitas abdominal dengan intoleransi gula darah dan penurunan produksi insulin dibandingkan dengan obesitas general (Yuliasih, 2009).

Obesitas abdominal lebih banyak terjadi pada orang dewasa, dimana semakin bertambah usia maka resiko terjadinya obesitas abdominal semakin tinggi. Peningkatan usia berhubungan dengan perubahan komposisi dalam tubuh, dimana terjadi penurunan pada massa bebas lemak dan peningkatan massa lemak dalam tubuh (Rahmawati, 2015). Obesitas abdominal juga lebih berisiko terhadap laki-laki. Hal ini dikarenakan proporsi distribusi lemak pada laki-laki lebih banyak terdapat pada bagian atas tubuh seperti perut, sedangkan untuk perempuan proporsi distribusi lemak lebih banyak pada bagian bawah tubuh seperti pinggang atau panggul (Pujiati, 2010)

6.2 Kadar Gula Darah Puasa

8

Hasil pemeriksaan gula darah puasa pada penelitian ini didapatkan hasil yaitu 31 responden memiliki gula darah yang tidak terkendali (≥ 126 mg/dl).

Menurut Perkeni (2011) pengkategorian diagnosa diabetes dibagi menjadi 2 yaitu terkendali jika kadar gula darah puasa <126 mg/dl dan tidak terkendali ketika gula darah puasa ≥ 126 mg/dl. Pengkategorian ini dilihat berdasarkan pemeriksaan darah melalui plasma vena. Gula darah puasa diambil setelah responden melakukan puasa minimal 8 jam dan maksimal 12 jam. Pengambilan darah dapat melalui pembuluh darah vena ataupun kapiler. Pengambilan darah melalui vena dapat menunjukkan data pemeriksan diagnosa dan memantau pengendalian DM.

Sedangkan pengambilan darah melalu kapiler hanya dapat menunjukkan pemantauan pengendalian DM (WHO, 2006).

Hiperglikemia yang berlangsung lama menunjukkan kepatuhan terhadap terapi yang dijalani rendah. Semakin lama seseorang mengalami diabetes, semakin kecil juga kepatuhan terhadap pengobatan. Kepatuhan yang rendah dipengaruhi oleh faktor lupa, efek samping obat dan kurangnya motivasi dari keluarga. Ketidakpatuhan pasien terhadap konsumsi obat dapat meningkatkan resiko komplikasi dan bertambah parahnya penyakit (Rosita, 2015)

Faktor yang menyebabkan tingginya kadar gula darah pada pasien DM tipe 2 diantaranya ketidakseimbangan hormon yang dihasilkan tubuh, kelainan genetik pada individu tertentu, pola makan yang salah, jenis kelamin, usia, aktifitas fisik dan status gizi seseorang. Kadar gula darah dalam tubuh diatur oleh 2 hormon yaitu adrenalin dan kortikosteroid. Hormon adrenalin adalah hormon yang memacu kenaikan gula darah sedangkan kortikosteroid yang menurunkan kembali gula darah. Adrenalin yang terus dipacu dapat menyebabkan insulin tidak mampu untuk mengatur gula darah tubuh (Bintanah, 2012). Faktor usia dapat

9

menyebabkan perubahan hormon pada tubuh khususnya pada responden perempuan. Perubahan terjadi pada penurunan produksi hormon estrogen dalam tubuh dimana hormon ini berfungsi untuk menjaga kadar gula darah tetap seimbang (Karyati, 2016). Faktor usia juga dapat mempengaruhi jenis aktifitas fisik yang dilakukan responden. Usia lanjut menjadi indikator tejadinya penurunan kondisi fisik sehingga aktifitas fisik yang dilakukan sangat terbatas. Aktifitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat mempengaruhi aksi insulin dalam metabolisme glukosa dan lemak dalam tubuh (Erniati, 2013). Aktifitas tubuh yang kurang dan kebiasan pola hidup sedentari lansia dengan diabetes menjadi salah satu faktor tingginya status gizi obesitas (Rosyada, 2013). Kegemukan dapat menekan jumlah sel insulin yang dihasilkan pankreas karena lemak yang banyak terdapat dalam tubuh dapat membuat sel di pankreas mengalami penurunan sensitifitas (Purwandari, 2014).

6.3 Asupan Serat Responden

Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan serat total responden masih kurang dari anjuran dengan nilai rata-rata 13,34 gr/hari. Sebanyak 90,3%

responden penelitian ini tidak mengonsumsi serat sesuai anjuran PERKENI ( 25 gr/hari). Asupan serat responden penelitian ini diperoleh dari pengolahan data yang dicatat dalam form SQ-FFQ kemudian dianalisa menggunakan software analisa kandungan bahan makanan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Dewi (2016) dan Amanina dimana responden DM mengkonsumsi serat di bawah anjuran. Sama halnya dengan penelitian Erniati (2013) bahwa asupan serat yang dikonsumsi oleh responden DM memiliki nilai rata-rata 13,64 gram yang berarti masih kurang dari anjuran. Asupan

10

serat yang tinggi seperti pada penelitian Chandalia (2003) membuktikan bahwa serat dapat mengontrol glikemik dalam tubuh. Serat yang diberikan sebesar 50 gram berasal dari sumber serat asli (sayur dan buah) bukan suplementasi ataupun makanan fortifikasi.

Pentingnya asupan serat yang sesuai rekomendasi yaitu 25 gr/hari sudah dibuktikan melalui beberapa penelitian (ADA, 2012). Serat memiliki fungsi memperlambat pengosongan lambung serta penyerapan glukosa oleh usus halus.

Dari fungsi tersebut, gula darah penderita DM dapat terkontrol (Dharma, 2012).

Selain menunda penyerapan glukosa dalam usus, serat juga dapat meningkatkan kekentalan isi usus sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan kecepatan difusi permukosa usus halus. Sebagai akibat penurunan difusi permukosa usus

Selain menunda penyerapan glukosa dalam usus, serat juga dapat meningkatkan kekentalan isi usus sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan kecepatan difusi permukosa usus halus. Sebagai akibat penurunan difusi permukosa usus