• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESA

3.1 Kerangka Konsep

Pasien Diabetes Melitus tipe 2

Konsumsi Serat

29 3.2 Penjelasan Kerangka Konsep

Glukosa darah pada penderita DM dapat dikontrol dengan konsumsi serat.

Konsumsi serat yang tinggi telah dibuktikan oleh Sidartawan memberikan efek positif terhadap glukosa darah pasien DM tipe 2. Serat merupakan bagian dari karbohidrat yang sulit dicerna. Serat terbagi menjadi 2 kelompok berdasarkan ikatan kimia, fungsi dan fisiknya yaitu serat larut dan serat tidak larut (Almatsier, 2009).

Insoluble Fiber atau dikenal sebagai Serat Tidak Larut dalam air. Serat tidak larut tidak menghasilkan gel karena sifat ketidaklarutannya dalam air. Contoh serat tidak larut adalah selulosa, hemiselulosa dan lignin. Serat tidak larut mempunyai 3 mekanisme dalam menurunkan kadar glukosa darah (Lattimer dan Haub, 2010).

Pertama, melalui sekresi GIP atau Glucose-dependent Insulintropic Polypeptide. Sekresi GIP yang meningkat diteliti karena adanya asupan serat tidak larut yang tinggi. GIP dihasilkan dari enteroendokrine sel K di duodenum terutama akibat konsumsi glukosa atau lemak. Hormon inkretin ini akan berpotensi menstimulasi sekresi glucose-dependent insulin dan meningkatkan massa sel β melalui regulasi proliferasi, neogenesis dan apoptosis sel β pankreas. GIP merupakan hormon inkretin yang akan menstimulasi pelepasan insulin yang selanjutnya akan mempengaruhi kadar glukosa darah (Hansotia dan Drucker, 2005).

Kedua, serat tidak larut dapat menurunkan nafsu makan melalui regulasi hormon inkretin GLP-1. GLP-1 (glucose-like peptide-1) dalam beberapa penelitian juga berhubungan dengan peningkatan sekresi insulin postpandrial (Hansotia dan Drucker, 2005). Penurunan nafsu makan memungkinkan terjadinya penurunan

30

asupan dari kalori dan juga menurunkan BMI pada orang yang obese. Jika asupan makan terkontrol maka kontrol kadar glukosa darah pasien DM akan tercapai (Lattimer dan Haub, 2010).

Ketiga, serat tidak larut akan mengalami fermentasi pada usus besar dimana proses ini akan menghasilkan ikatan asam lemak rantai pendek yang telah dibuktikan akan menurunkan respon glukosa darah postpandrial. Ikatan asam lemak rantai pendek dapat menurunkan total LDL kolesterol dalam tubuh. Ikatan asam lemak bebas dan penurunan total LDL Kolesterol akan mengakibatkan serum asam lemak bebas dalam tubuh menurun jumlahnya. Asam lemak bebas yang turun melalui perantara transporter Glut 4 akan berpengaruh pada kadar glukosa darah (Lattimer dan Haub, 2010).

Soluble fiber atau Serat Larut membentuk gel di dalam air. Serat larut mudah difermentasikan oleh mikroflora di usus besar. Serat larut mudah melewati proses pencernaan di usus. Contoh serat larut yaitu pektin, mukilase, β-glukan dan algal. Serat larut memiliki 2 mekanisme dalam membantu penurunan glukosa darah pada pasien DM (Lattimer dan Haub, 2010).

Pertama, serat larut dapat mengikat asam lemak sehingga dapat menurunkan total LDL kolesterol dalam darah. Penurunan total LDL Kolesterol berhubungan dengan penurunan serum asam lemak dalam tubuh (mekanisme pada serat tidak laruk) yang kemudian melalui perantara transporter Glut-4 akan menurunkan kadar glukosa darah. Penurunan total LDL kolesterol dalam tubuh juga berefek pada penurunan resiko penyakit CVD (Lattimer dan Haub, 2010).

Kedua, serat larut dapat menunda pengosongan makanan dalam lambung yang diperantarai sekresi hormon inkretin berupa GLP-1 (glucose-like peptide-1) yang telah dibuktikan dalam beberapa penelitian dapat mengatur

31

homeostatis glukosa darah. GLP-1 berakibat pada penundaan absorpsi makronutrien dalam tubuh sehingga absorpsi zat gizi terutama glukosa akan menurun. Hasilnya berupa penurunan gula darah (Hansotia dan Drucker, 2005).

. 3.3 Hipotesa

Asupan serat larut dan serat tidak larut dapat mempengaruhi kadar gula darah pada pasien DM tipe 2 yang menjalani terapi rawat jalan.

32 BAB IV

METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional yang bersifat observasional analitik kuantitatif. Cross Sectional sering disebut sabagai studi prevalensi atau survei merupakan studi yang mengukur variabel dependen (gula darah) dan variabel independen (Serat Larut dan Tidak Larut) secara bersamaan yang analisanya digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel atau karakteristik di masyarakat pada saat tertentu (Chandra, 2008).

4.2 Populasi dan Sampel 4.2.1 Populasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan target populasi seluruh pasien rawat jalan DM tipe 2 di Puskesmas Dinoyo dan Janti.

4.2.2 Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel menggunakan cara Non-Probability Sampling yaitu purposive sampling. Non-probability sampling yaitu setiap anggota populasi tidak mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel, sifatnya subyektif, tidak bias dan dapat diperkirakan besarnya. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat (Nurhayati, 2008).

33

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Responden dapat berkomunikasi dengan baik.

2. Responden menyetujui untuk dijadikan responden penelitian yang dibuktikan dengan menandatangani informed consent.

3. Responden mempunyai kadar gula darah >126 mg/dL sesuai catatan dari puskesmas.

4. Responden DM tipe 2 dengan usia 45 -65 tahun.

5. Responden mendapatkan obat metformin dan glibencamid.

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

1. Responden dengan kondisi hamil atau menyusui Kriteria dropout dalam penelitian ini adalah :

1. Responden meninggal saat dilakukan penelitian.

2. Responden sudah menyetujui mengikuti penelitian, namun menolak melanjutkan menjadi responden ketika proses penelitian berlangsung.

3. Responden memiliki kadar gula darah <126 mg/dL ketika proses pengambilan darah saat penelitian berlangsung.

Perhitungan sampel menggunakan rumus estimating a propotion with specified absolute precision. Perhitungan ini menggunakan pendekatan prevalensi penderita DM Kota Malang berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar dalam Angka Provinsi Jawa Timur tahun 2013 sebesar 2.3% sebagai berikut.

n = (𝑍

21−𝛼

2 )𝑥 𝑃 (1−𝑃) 𝑑2

= 1,962 𝑥 0,023 (1−0,023) (0,05)2

= 3,8416 𝑥 0,023 (0,977)

0,0025 + 15 % (dropout)

34

= 35 + 5

= 40 responden Keterangan

n = jumlah sampel 𝑧2 1−𝛼

2 = statistik Z (misalnya 1,96 untuk α = 0,05) P = angka prevalensi

d = delta, presisi absolut atau margin of error yang diinginkan (Chandra, 2008)

Pada saat awal penelitian telah ditetapkan pengambilan jumlah responden pada masing-masing puskesmas adalah 20 orang (sesuai dengan perhitungan sampel di atas). Pemilihan responden ini didasarkan pada catatan kunjungan pasien DM rawat jalan pada masing-masing puskesmas dengan melihat jenis obat yang dikonsumsi, usia dan kadar gula darah

4.3 Variabel Penelitian 4.3.1 Variabel Bebas

Variabel bebas penelitian ini adalah asupan serat larut dan serat tidak larut pada pasien rawat jalan DM tipe 2.

4.3.2 Variabel Terikat

Variabel terikat penelitin ini adalah Gula Darah Puasa (GDP) pada pasien rawat jalan DM tipe 2.

4.4 Waktu dan Lokasi Penelitian 4.4.1 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2016 sampai dengan bulan Februari 2017.

4.4.2 Lokasi Penelitian

35

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Dinoyo dan Janti dengan pertimbangan pasien DM tipe 2 yang berobat jalan di daerah Kota Malang tertinggi adalah di Puskesmas Dinoyo dan Puskesmas Janti (Dinas Kesehatan Kota Malang, 2014).

4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut . 1. Form SQ-FFQ

Untuk mengetahui pola (frekuensi dan jumlah) konsumsi makanan sumber serat larut dan tidak larut selama 2-3 bulan terakhir.

2. Food Picture

Sebagai alat untuk mempermudah wawancara dan proses penggalian data asupan makanan responden.

3. Kuisioner Umum

Kuisioner digunakan untuk mengumpulkan informasi umum responden.

4. Informed consent

Sebagai bukti bersedia menjadi responden dalam penelitian.

5. Software Analisa Statistik dan Analisa Kandungan Gizi Bahan Makanan Program tersebut digunakan untuk menganalisa data asupan makanan sumber Serat Larut dan Tidak Larut serta hubungan antar variabel.

6. Alat tulis menulis

Digunakan sebagai alat pencatatan hasil wawancara dan pengisian pada SQ-FFQ.

4.6 Definisi Operasional

Tabel 4.1 Definisi Operasional

36

Variabel Keterangan Metode Hasil Ukur Skala

Variabel minimal 8 jam dan maksimal 12 jam

4.7.1 Tahapan Pengumpulan Data a. Persiapan penelitian

37

1. Peneliti mengajukan perizinan kepada Dinas Kesehatan Kota Malang, Puskesmas Dinoyo dan Janti untuk melakukan penelitian sesuai peraturan yang berlaku.

2. Peneliti melakukan studi pendahuluan dengan mengunjungi Puskesmas Dinoyo dan Janti untuk memperoleh data jumlah pasien rawat jalan DM tipe 2.

3. Peneliti mengurus ethical clearance.

4. Peneliti melakukan wawancara Recall 24-hours kepada 4 responden DM tipe 2 untuk mendapatkan data bahan makanan sumber serat larut dan tidak larut yang sering dikonsumsi untuk dicantumkan dalam kolom bahan makanan form SQ-FFQ.

b. Pelaksanaan penelitian

1. Peneliti melakukan koordinasi dengan pihak puskesmas terkait jumlah, obat yang dikonsumsi serta alamat responden DM tipe 2.

2. Peneliti melakukan pemilihan responden sesuai dengan kriteria inklusi.

3. Peneliti mengajukan informed consent untuk ditandatangani sebagai surat kesediaan menjadi responden penelitian.

4. Peneliti melakukan wawancara kepada responden terkait informasi data umum

5. Peneliti melakukan pengambilan data kadar GDP responden bekerjasama dengan laboratorium Prodia Malang yang telah dipilih. Berikut prosedur pengambilan darah pada responden:

a. Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses pengambilan data.

b. Memakai sarung tangan bagi petugas.

38

c. Memastikan posisi responden nyaman dan meminta responden meluruskan tangan serta mengepalkan telapak tangannya.

d. Memasang tourniquet 7,5-10 cm di atas siku. Pada pemasangan ini diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

• Pemasangan harus pas, tidak terlalu ketat atau terlalu longgar.

• Menghindari pemasangan pada luka.

• Jika pemilihan vena melebihi 1 menit maka tourniquet sebaiknya dilepas dan tidak dilakukan pengambilan darah. Biarkan selama 2 menit dan memasang kembali tourniquet.

• Lama pemasangan tourniquet maksimal 1 menit.

• Memilih vena yang besar dan tidak bergerak.

e. Mengendurkan kembali tourniquet yang telah dipasang untuk sementara dan membersihkan area vena dengan alkohol 70% dengan arah memutar dari arah tengah ke tepi. Membiarkan alkohol kering selama 30 detik.

f. Memasang kembali tourniquet.

g. Menusukkan jarum pada vena yang telah di disinfeksi dengan posisi jarum menghadap ke atas dengan sudut 15-300.

h. Segera membuka tourniquet ketika darah mengalir dan biarkan responden membuka genggaman tangannya.

i. Mengisi tabung sesuai dengan yang ditetapkan, apabila memerlukan lebih dari 1 tabung maka perhatikan urutan penggunaan tabung.

j. Melepaskan jarum dari tusukan vena, segera tekan menggunakan kasa atau kapas kering dan jangan menekuk lengan terlebih dahulu.

39

k. Melepaskan jarum bekas pakai dari holdernya dan membuang pada wadah limbah jarum.

6. Peneliti mengambil data asupan makanan responden menggunakan form SQ-FFQ diambil dengan cara sebagai berikut:

a. Peneliti melakukan wawancara langsung kepada responden mengenai frekuensi jenis bahan makanan yang sudah tercantum dalam form beserta besar porsinya.

b. Responden diminta mengidentifikasi frekuensi asupan makan responden dan peneliti akan mengisi data pada form. Terdapat 5 kategori frekuensi yaitu harian (D), mingguan (W), bulanan (M), tahunan (Y) dan jarang atau tidak pernah (N).

c. Peneliti mengidentifikasi besar porsi yang ditunjukkan responden kemudian mencatat pada form. Terdapat 3 kategori yaitu kecil (S), sedang (M) dan besar (L).

d. Peneliti mengkonversi jumlah dan bahan makanan yang dikonsumsi ke dalam jumlah rata-rata konsumsi per hari.

e. Peneliti mengolah data dengan cara mengalikan jumlah dan frekuensi per hari dengan jumlah porsi untuk mendapatkan jumlah gram yang dikonsumsi per hari menggunakan software analisa bahan makanan.

7. Peneliti memeriksa kembali semua kelengkapan data ketika semua tahapan selesai.

8. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada responden atas kesediaan menjadi responden penelitian pada saat akhir wawancara. Peneliti kemudian memberikan bingkisan sebagai tanda terimakasih.

9. Peneliti mengolah data hasil wawancara menggunakan software analisa stastitik dan selanjutnya disimpulkan hasilnya.

40

10. Peneliti memperoleh data hasil serat larut dan tidak larut dengan cara memasukkan data bahan makanan ke software analisis gizi bahan makanan..

4.7.2 Alur Penelitian

Gambar 4.1 Alur Penelitian Screening langsung di puskesmas sesuai kriteria inklusi yaitu responden dapat berkomunikasi dengan baik, berusia 45-65 tahun, berpenghasilan di bawah UMR kota

Malang dan mengkonsumsi metformin dan glibenamid

Wawancara data asupan makan menggunakan form SQ-FFQ Pengambilan data kadar glukosa darah yaitu GDP Pengajuan informed consent kepada responden

Melakukan indepth interview untuk mendapatkan data umum responden seperti nama, usia, pendidikan, obat yang dikonsumsi, lama mnderita penyakir, dan pernah mendapat edukasi atau belum. Peneliti juga akan menggali data terkait bahan makan yang sering

dikonsumsi responden untuk dicantumkan ke form SQ-FFQ Studi Pendahuluan ke puskesmas Dinoyo dan Janti

Mengajukan Ethical Clearance

Analisa Data

Interpretasi Data

Kesimpulan Data

Perizinan ke Dinas Kesehatan Kota Malang, Puskesmas Dinoyo dan Janti

41 4.8 Pengolahan dan Penyajian Data

Data yang diperoleh diolah dengan terlebih dahulu melakukan proses editing dan coding kemudian dilanjutkan dengan tabulating. Editing merupakan pengecekan kembali mengenai kelengkapan dan kejelasan data. Coding merupakan pengklasifikasian data berdasar kode tertentu. Tabulating merupakan proses memasukkan data ke dalam kolom agar mudah dipahami. Data diolah menggunakan software analisa statistik. Data dari hasil wawancara dengan form SQ-FFQ diolah dengan program analisa kandungan gizi bahan makanan.

4.9 Analisa Data

4.9.1 Analisa Univariat

Analisa data yang menggambarkan karakteristik responden menggunakan analisa univariat meliputi usia, jenis kelamin, IMT, pendidikan terakhir, GDP, lama menderita penyakit DM, pekerjaan serta jumlah asupan serat larut dan tidak larut.

Data dihitung nilai mean, median dan standar deviasinya kemudian hasilnya dideskripsikan.

4.9.2 Analisa bivariat

Analisa ini bertujuan melihat hubungan antara variabel independen (serat larut dan tidak larut) dengan variabel dependen (GDP pasien DM tipe 2). Analisis data bivariat dilakukan menggunakan software analisa statistik. Data yang didapatkan di uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Hasil uji normalitas menunjukkan data asupan serat total, serat larut, serat tidak larut serta GDP tidak normal sehingga dilakukan transformasi data menggunakan Log 10. Setelah dilakukan transformasi, data asupan serat total dan GDP menjadi normal, namun data serat larut dan tidak larut tetap tidak normal. Data serat total dan kadar GDP

42

disajikan dalam mean ± SD, dan data serat larut serta tidak larut disajikan dalam bentuk median ± SD dan persentil.

Uji statistik korelasi data menggunakan Pearson dan Spearman. Uji Pearson digunakan untuk melihat hubungan antara konsumsi serat total dengan kadar GDP responden DM tipe 2. Data dikatakan signifikan ketika nilai significant 2-tailed <0,05 (p<0,05). Sedangkan uji Spearman digunakan untuk melihat hubungan antara serat larut dan tidak larut dengan kadar GDP pasien DM tipe 2.

Data signifikan dengan nilai p<0,05.

43 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

5.1 Karakteristik Responden Penelitian

Responden pada penelitian di Puskesmas Dinoyo dan Janti awalnya sejumlah 36 responden sesuai dengan data dari puskesmas (berdasar usia, obat, dan kadar gula darah), namun setelah dilakukan pengecekan gula darah hanya 31 responden yang memiliki gula darah tidak terkontrol (≥126 mg/dl). Selanjutnya proses pengolahan data dalam penelitian ini hanya dilakukan pada 31 responden yang memiliki gula darah tidak terkendali tersebut. Hasil analisa data responden meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, edukasi, lama menderita diabetes, indeks masa tubuh (IMT) dan rasio lingkar pinggang panggul (RLPP).

Berdasarkan data tabel 5.1, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 90,3% dari total responden sementara kisaran usia responden penelitian yang terbanyak pada kisaran usia 51-60 tahun sebesar 64,5%. Pendidikan terakhir responden paling banyak adalah SD yaitu sebanyak 45,2% dimana sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT) sebesar 51,6% dari total jumlah responden. Edukasi gizi pernah diterima 64,5%

responden dan sebagian besar menderita DM tipe 2 dalam kisaran waktu 5-10 tahun sebesar 45,2%. Responden memiliki IMT terbesar dengan kategori gemuk sekali (obesitas) yaitu 48,4% dari total responden sedangkan rasio lingkar pinggang dan panggul responden paling banyak adalah obesitas yaitu 83,8%

untuk responden perempuan dan 66,7 % untuk responden laki-laki

44

Tabel 5.1 Karakteristik Responden Penelitian

Karakteristik N %

45 Lamanya Menderita DM Tipe 2 1-5 tahun

5.2 Kadar Gula Darah Puasa

Tabel 5.2 Analisa Hasil Gula Darah Puasa

Kategori N Median Min-Max

Tidak Terkendali 31 191 141-388

46

Pengambilan darah untuk tes lab diperoleh melalui pembuluh darah vena dan didapatkan hasil dari 31 responden dengan kadar gula darah tidak terkendali mempunyai nilai median 191 mg/dL serta nilai Min-Max GDP adalah 141-388 mg/dL.

5.3 Konsumsi Serat pada Responden DM Tipe 2

Asupan serat responden diperoleh dengan menggunakan metode dietary intake SQ-FFQ selama 3 bulan terakhir. Data asupan responden diolah menggunakan software Analisa Kandungan Gizi Bahan Makanan untuk mendapatkan rata-rata jumlah yang dikonsumsi dalam sehari. Gambaran distribusi asupan serat responden dapat dilihat pada tabel 5.3

Tabel 5.3 Kategori pemenuhan asupan serat sehari berdasarkan SQ-FFQ

Kategori N Median Min-Max % kurang berdasarkan rekomendasi PERKENI (2015) sebesar 90,3% dan memiliki nilai median 13 gr/hari

5.4 Asupan Serat Larut pada Responden DM Tipe 2

Asupan serat larut responden DM Tipe 2 diperoleh dengan melakukan metode dietary intake SQ-FFQ. Data kemudian diolah menggunakan software Analisa Kandungan Gizi Bahan Makanan untuk memperoleh data median asupan serat larut.

Tabel 5.4 Hasil Analisa Asupan Seral Larut Berdasarkan SQ-FFQ

47

Kategori N Median Min-Max

Asupan Serat Larut 31 0,1 0,0-2,1

Berdasarkan tabel 5.4 asupan serat larut pada 31 responden memiliki nilai median 0,1 gr/hari dan 100% responden tidak mengonsumsi serat larut sesuai anjuran yaitu 8 gr/hari (Jiang, 2012). Nilai median memiliki arti bahwa 50% data memiliki nilai paling tinggi sama dengan median sedangkan 50% data memiliki nilai paling rendah sama dengan median.

5.5 Asupan Serat Tidak Larut Responden

Asupan serat tidak larut responden diperoleh dengan menggunakan kuisioner SQ-FFQ dan kemudian data diolah menggunakan Software Analisa Kandungan Gizi Bahan Makanan untuk mendapatkan nilai median serat tidak larut.

Tabel 5.5 Analisa Hasil Asupan Serat Tidak Larut berdasarkan SQ-FFQ Kategori N Median Min-Max Asupan Serat Tidak Larut 31 0,2 0,0-9,2

Pada tabel 5.5 nilai median pada 31 responden (100%) adalah 0,2 dan 100% responden tidak memenuhi kebutuhan serat tidak larut per harinya yaitu 16 gr/hari (Jiang, 2012). Nilai median memiliki arti bahwa 50% dari data paling tinggi sama dengan nilai median dan 50% dari data paling rendah juga memiliki nilai yang sama dengan median.

5.6 Perhitungan Predicted Total Energy Expenditure (pTEE)

Perhitungan pTEE dimaksudkan untuk menilai apakah data asupan yang

48

dilaporkan responden kepada pewawancara adalah data yang mendekati asupan responden yang sebenarnya atau tidak. Metode yang digunakan dalam perhitungan skor pTEE adalah dengan membandingkan Elrep (Energy Intake Reported) dengan Energy expenditure.

pTEE= 7.377 – 0.073 x umur + 0.806 x berat badan + 0.0135 x tinggi badan – 1.363 x jenis kelamin

Keterangan: umur (tahun) ; berat badan (kg) ; tinggi badan (cm) ; jenis kelamin (1 untuk wanita, 0 untuk laki-laki)

Interpretasi hasil skor perbandingan Elrep dengan TEE adalah sebagai berikut:

Jika, Elrep < 40% dari total energy expenditure maka dianggap underreporting Elrep > 60% dari total energy expenditure maka dianggap overreporting (Mccory et al, 2016)

pTEE Jumlah (%)

Underreporting 16 51.6

Normal Repporting 15 48.4

5.7 Analisa Hubungan Asupan Serat Total, Serat Larut dan Serat tidak Larut dengan Gula Darah Puasa

Tabel 5.6.1 Hubungan Asupan Serat Total dengan Gua Darah Puasa GDP

Asupan Serat Total p = 0,59*

n = 31

*Pearson

49

Tabel 5.6.2 Hubungan Asupan Serat Larut dan Tak Larut dengan GDP GDP

Asupan Serat Larut Asupan Serat Tak Larut

p = 0,58*

p = 0,59*

n = 31

*Uji Spearman

Uji normalitas dilakukan pada data asupan serat total, serat larut, serat tak larut dan GDP sebelum melakukan uji hubungan. Hasilnya, semua data tidak terdistribusi normal dengan melihat nilai Saphiro/Wilk (p<0,05). Data kemudian ditransformasikan menggunakan Log 10 dan hasilnya data asupan serat total dan GDP menjadi normal sedangkan data asupan serat larut dan tak larut tetap tidak terdistribusi normal. Uji hubungan antara serat larut dan gdp kemudian menggunakan uji Pearson sedangkan uji hubungan serat larut dan tidak larut dengan GDP menggunakan uji Spearman.

Analisa data antara asupan serat total dan gdp menggunakan Pearson test menunjukkan bahwa hubungan antara asupan serat total dan GDP responden DM tipe 2 tidak signifikan (p>0,05) sehingga nilai korelasi (r) yang ada tidak dapat dinyatakan maknanya.

Berdasarkan uji hubungan Spearman antara serat larut dan GDP responden didapatkan bahwa hubungan antara konsumsi serat larut dan GDP tidak signifikan (p>0,05) sehingga nilai korelasi (r) antar 2 variabel tidak dapat dinyatakan maknanya. Sama dengan hasil uji hubungan antara serat tidak larut dan GDP responden dimana tidak ada hubungan yang signiifikan (p>0,05) sehingga korelasi (r) juga tidak dapat dinyatakan maknanya.

1 BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik Responden Penelitian

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. DM tipe 2 memiliki ciri khas berupa pengikatan insulin dengan reseptor di dalam tubuh yang menurun. Hal ini disebabkan oleh jumlah reseptor insulin pada membran sel berkurang sehingga terjadilah hiperglikemia (Fitri, 2014). DM tipe 2 memiliki beberapa faktor resiko seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status gizi, rasio lingkar pinggang panggul (RLPP), lama menderita penyakit dan edukasi terkait gizi.

Hasil penelitian responden DM tipe 2 di wilayah puskesmas Dinoyo dan Janti menunjukkan bahwa sebagian besar penderita DM tipe 2 berjenis kelamin perempuan (90,3%). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian dari Rohimah (2016) dimana 54% responden berjenis kelamin perempuan sedangkan penelitian dari Erniati (2012) juga menunjukkan bahwa responden DM tipe 2 yang diteliti 78% diantaranya berjenis kelamin perempuan.

Berdasarkan literatur, perempuan lebih berisiko menderita DM tipe 2 dikarenakan secara fisik perempuan cenderung memiliki peningkatan statusgizi lebih besar. Sindrom siklus bulanan membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi. Akumulasi lemak dalam tubuh inilah yang dihubungkan dengan resitensi insulin sehingga perempuan lebih berisiko menderita DM tipe 2 (Trisnawati, 2013). Usia responden perempuan yang sebagian besar di atas 45 tahun menyebabkan perubahan hormon tubuh yaitu produksi hormon estrogen yang menurun. Penurunan kadar hormon tersebut dapat meningkatkan kadar gula

2

darah sehingga resiko komplikasi terjadinya diabetes melitus menjadi lebih tinggi (Karyati, 2016). Pada penelitian Garnita (2012) ditemukan pada proporsi diabetes antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Penelitian Garnita ini didukung oleh Riskesdas. Pada dasarnya perbedaan proporsi jenis kelamin responden penelitian diabetes ini bukan merupakan variabel utama yang diperhatikan sehingga variabel jenis kelamin jarang digunakan untuk melihat hubungan dengan kadar gula darah penderita diabetes (Nur Ratna, 2008)

Usia terbanyak penderita DM pada penelitian ini adalah dalam rentang usia

Usia terbanyak penderita DM pada penelitian ini adalah dalam rentang usia