Emesis Gravidarum
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat digunakan untuk melihat hubungan dukungan dengan emesis gravidarum di Puskesmas Bandar Khalifah Medan. Dalam menganalisa data secara bivariat, digunakan uji chi square.
Tabel 5.3.
Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan Kejadian Emesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Bandar Khalifah Medan
Tahun 2014 Kelompok Variabel Dukung Tidak didukung Total OR 95% CI P Value N % N % N % Emesis Tidak emesis 5 4 41,7 33,3 7 8 58,3 66,7 12 12 100,0 100,0 1,429 0,500 Jumlah
9 37,5 15 62,5
24 100,0Hasil analisis antara dukungan dengan emesis dapat diperoleh bahwa ada sebanyak 7 dari 12 (41,7%) ibu hamil dikelompokkan tidak didukung. Sedangkan diantara yang tidak emesis, ada 8 dari 12 (37,5%) juga pada ibu hamil di kategorikan tidak didukung. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,500 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan dukungan dengan kejadian emesis pada ibu hamil.
Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=1,429, ibu yang mempunyai dukungan sosial mempunyai peluang 1,429 kali tidak mengalami emesis dibandingkan ibu yang emesis.
B.PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini peneliti menguraikan karakteristik responden, dukungan keluarga dan emesis gravidarum serta hubungan dukungan sosial keluarga terhadap emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I.
a. Karakteristik Responden
Berdasarkan karakteristik ibu hamil trimester I, sebagian besar responden berada pada rentang umur, pendidikan, pekerjaan pada kejadian emesis gravidarum adalah sebagai berikut.
Umur dapat mengalami emesis gravidarum dimana dari penelitian ini didapatkan bahwa dengan kejadian emesis mayorita responden sebanyak 10 0rang (41,6%) pada umur 20-35 tahun. Seseorang yang memasuki usia dewasa memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman yang dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Nursalam, 2001). Demikian juga dengan kemampuan dukungan keluarga pada kejadian emesis gravidarum seperti yang terdapat dalam penelitian Mursyida (2001), yang bertujuan untuk hubungan dukungan umur dan pekerjaan ibu dengan kejadian eremesis gravidarum di RS. Muhammadiyah Kota Palembang didapatkan hasil sebagian ibu yang >30 tahun sebanyak 53 orang (94,64%). Dimana usia tersebut merupakan usia yang produktif dalam melakukan reproduksi sehingga ibu sudah siap dan matang dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi baik fisik maupun psikologis yang terjadi saat kehamilan dan persalinan termasuk perubahan fisik setelah menjalani kehamilan.
Tingkat pendidikan sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan yang yaitu SMA didapatkan dari kejadian emesis gravidarum mayoritas sebanyak 8 orang (33,3%). Menurut Notoadmodjo (2007) pendidikan mempengaruhi prose belajar, dimana semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut untuk
menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa, semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Akan tetapi perlu ditekankan bahwa bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula dan pengalaman. Pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan dan pengalaman, itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sehingga semakin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang, maka informasi yang di dapatkan semakin baik.
Berdasarkan pekerjaan diperoleh 11 orang (45,8%) tidak bekerja (IRT) pada kejadian emesis gravidarum. Demikian menurut Mursyida (2012) pada hubungan umur dan pekerjaan ibu dengan kejadian emesis gravidarum di RS. Mumhammadiyah Kota Padang 87 (43,5%) diperoleh pada tidak bekerja (IRT). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia (2008), bekerja adalah melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu penghasilan keuntungan dan pekerjaan keluarga tanpa upaya yang membantu dalam suatu usaha di keluarga, kegiatan ekonomi keluarga.
Perjalanan ketempat kerja yang mungkin terburu-buru dipagi hari tanpa waktu yang cukup untuk sarapan dapat menyebabkan mual dan muntah. Tergantung pada sifat perkerjaan seperti, aroma, zat kimia, atau lingkungan dapat menambah rasa ingin mual dan dapat menyebabkan terjadinya muntah.
b. Dukungan sosial keluarga
Dukungan sosial keluarga memberikan peran yang sangat penting dalam menentukan status kesehatan ibu khususnya dengan kejadian emesis. Oleh karena hendaknya keluarga dapat memberikan dukungan positif terhadap ibu, baik yang bersifat fisik maupun
psikologis sehingga ibu merasa lebih nyaman percaya diri dan bahagia dalam menjalani masa kehamilan.
Ibu hamil sangat memerlukan dukungan jasmaniah seperti pelayanan bantuan financial, dan memberi dukungan dalam bentuk uang atau perhatian, pada dukungan nyata merupakan paling efektif bila dihargai oleh penerima dengan tepat.
Kehamilan merupakan tantangan, titik balik dari kehidupan keluarga, dan biasanya diikuti oleh strees dan gelisah, baik itu kehamilan yang diharapkan atau tidak. Kestersediaan dukungan sosial untuk kesejahteraan psikologis ibu hamil adalah faktor penting. Jaringan sosial sering kali dipakai sebgai sumber terbesar mendapatkan nasehat kehamilan.
c. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Emesis Gravidarum
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kejadian emesis gravidarum sebanyak 9 responden (37,5%) yang tidak mengalami emesis gravidarum. Dapat disimpulkan pada kuesioner tidak ada hubungan dukungan dengan kejadian emesis gravidarum pada ibu hamil. Dimana lebih banyak ibu hamil masih kurang dukungannya dari keluarganya. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Haryati (2010), hasil penelitian yang telah mempengaruhi emesis gravidarum menunujukan bahwa tidak adanya hubungan dukungan sosial terhadap emesis gravidarum di instalasi kebidanan rumah sakit muhammadiyah kota palembang tahun (2012) sebanyak (68,3%). Dan masih diperlukan bahwa ibu hamil sangat memerlukan dukungan dari keluarga dan sekitarnya. Karena faktor fisik dan psikologinya saat hamil masih belum stabil ataupun belum bisa diterima dengan keadaan pada dirinya. Dan dapat dilakukan dengan mengarahkan pada ibu yang telah mengalami situasi yang sama untuk mendapatkan nasehat dan bantuan. Keluarga harus memberikan informasi kepada ibu hamil dengan cara verbal atau non verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan
subyek didalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau pengaruh pada tingkah laku penerimanya.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini mempunyai keterbatasan dalam pelaksanaan di lapangan
1. Penelitian ini menggunakan kelompok emesis dan tidak emesis sehingga menghubungkan antara yang mendukung dengan tidak mendukung pada ibu hamil. 2. Jumlah sampel kurang besra sehingga kurang representatif secara menyeluruh.
3. Dan lokasi penelitian jauh dari tempat tinggal peneliti sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke lokasi.
BAB 6