• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.5 Analisa Data

4.5.1 Analisa dan Perhitungan Rasio Keuangan

Beban pajak penghasilan (33,699) -1,161,119 -1,410,495

LABA BERSIH 3,044,107 3,384,648 4,164,304

Pendapatan/Beban komprehensif lain - - - setelah pajak

Total Pendapatan Komprehensif Tahun Berjalan - 3,384,648 4,164,304 Laba/Total pendapatan komprehensif yang dapat

Diatribusikan kepada :

Pemilik entitas induk - 3,386,970 4,163,369

Kepentingan non pengendali - (2,322) 935

3,384,648 4,164,304

LABA PER SAHAM DASAR 399 444 546

(dinyatakan dalam nilai Rupiah per saham) Sumber: Bursa Efek Indonesia Laporan Tahunan 2009, 2010 dan 2011

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat total penjualan yang telah dihasilkan oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk setiap tahunnya. Selain itu juga terdapat jumlah laba kotor, laba bersih sebelum pajak serta laba bersih yang telah dicapai oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk dari tahun 2009 sampai dengan 2011.

4.5 Analisa Data

4.5.1 Analisa dan Perhitungan Rasio Keuangan

Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik Analisis Rasio dan metode Time Series Analysis. Analisis rasio dilakukan terhadap data laporan keuangan PT. Unilever Indonesia, Tbk berupa neraca dan laporan laba rugi yang berguna untuk melihat kinerja keuangan perusahaan. Sedangkan metode Time Series Analysis digunakan untuk menilai dan membandingkan laporan

keuangan perusahaan dari tahun ke tahun, sehingga dapat dievaluasi dengan mudah perkembangan angka-angka laporan keuangan perusahaan setiap tahunnya.

Analisis rasio laporan keuangan meliputi rasio likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas (profitabiitas). Hasil perhitungan dari analisis rasio-rasio tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Rasio Likuiditas.

Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendek (Short Time Debt) yang harus segera dipenuhi. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan utang lancar.

a. Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio lancar (Current Ratio) merupakan alat ukur likuiditas yang diperoleh dengan membagi aktiva lancar dengan hutang lancar. Rasio lancar juga merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya karena rasio ini menunjukkan sejauhmana aktiva lancar dapat menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Perhitungan rasio lancar PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus :

�����������= ������������

Tahun 2009 = 3.601.711 3.589.188 �100% = 100,39% Tahun 2010 = 3.748.130 4.402.940 �100% = 85,13% Tahun 2011 = 4.444.219 6.474.594 �100% = 68,67% Tabel 4.3

Perhitungan Rasio Lancar (Current Ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Rasio Lancar

2009 3.601.711 3.589.188 100,39%

2010 3.748.130 4.402.940 85,13%

2011 4.446.219 6.474.594 68,67%

Sumber: Neraca PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis

Berdasarkan tabel 4.3 hasil perhitungan rasio lancar (current ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui rasio lancar pada tahun 2009 sebesar 100,39%. Hal ini berarti aktiva lancar dapat menjamin seluruh hutang lancar yaitu sebesar 100,39%.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio lancar mengalami penurunan sebesar 15,26% menjadi 85,13%. Hal ini berarti aktiva lancar mampu menjamin hutang lancar sebesar 85,13%.

b. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio Cepat (Quick Ratio) Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang likuid. Semakin besar rasio ini maka akan semakin baik.

Perhitungan rasio cepat PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus : ����������= ������������ − ���������� ������������ 100% Tahun 2009 = 3.601.711−1.340.036 3.589.188 �100% = 63% Tahun 2010 = 3.748.130−1.574.060 4.402.940 �100% = 49,38% Tahun 2011 = 4.446.219−1.812.821 6.474.594 �100% = 40,67% Tabel 4.4

Perhitungan Rasio Cepat (Quick Ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Persediaan Rasio Cepat

2009 3.601.711 3.589.188 1.340.036 63%

2010 3.748.130 4.402.940 1.574.060 49,38%

2011 4.446.219 6.474.594 1.812.821 40,67%

Sumber: Neraca PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis

Berdasarkan tabel 4.4 hasil perhitungan rasio cepat (quick ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui rasio cepat pada tahun 2009 sebesar 63% hal ini berarti aktiva lancar dapat menjamin hutang lancar sebesar 63%.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio cepat mengalami penurunan sebanyak 13,62% menjadi 49,38% hal ini berarti aktiva lancar dapat menjamin hutang lancar sebesar 49,38%. Selanjutnya pada tahun 2011 rasio cepat kembali mengalami penurunan sebanyak 8,71% menjadi 40,67% hal ini berarti aktiva lancar dapat menjamin hutang lancar sebesar 40,67%.

Jadi dari hasil perhitungan rasio cepat PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 dapat disimpulkan bahwa penurunan rasio cepat dari tahun ke tahun disebabkan karena jumlah hutang lancar mengalami peningkatan yang cukup tinggi, sedangkan aktiva lancarnya juga mengalami peningkatan namun dalam skala kecil sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap kenaikan rasio lancar.

c. Rasio Kas (Cash Ratio)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek (hutang lancar) dengan kas yang tersedia dan yang tersimpan di bank.

Perhitungan rasio kas PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus : ��������= ��� ������������ 100% Tahun 2009 = 858.322 3.589.188 �100% = 23,91% Tahun 2010 = 317.759 4.402.940 �100% = 7,22% Tahun 2011 = 336.143 6.474.594 �100% = 5,2% Tabel 4.5

Perhitungan Rasio Kas (Cash Ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Tahu

n Kas Hutang Lancar Rasio Kas

2010 317.759 4.402.940 7,22%

2011 336.143 6.474.594 5,2%

Sumber: Neraca PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis

Berdasarkan tabel 4.5 hasil perhitungan rasio kas (cash ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui rasio kas pada tahun 2009 sebesar 23,91%. Hal ini berarti setiap Rp. 1 hutang lancar dapat dijamin dengan Rp. 0,23 dari kas yang dimiliki perusahaan.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio kas mengalami penurunan sebanyak 16,69% menjadi 7,22%. Hal ini berarti setiap Rp. 1 hutang lancar dapat dijamin dengan Rp. 0,07 dari kas yang dimiliki perusahaan.

Selanjutnya pada tahun 2011 rasio kas kembali mengalami penurunan sebanyak 2,02% menjadi 5,2%. Hal ini berarti setiap Rp. 1 hutang lancar dapat dijamin dengan Rp. 0,05 dari kas yang dimiliki perusahaan.

Jadi dari hasil perhitungan rasio kas PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 dapat disimpulkan bahwa penurunan rasio kas dari tahun ke tahun disebabkan oleh jumlah kas perusahaan yang tersedia tidak cukup untuk menutupi seluruh hutang lancarnya. Hal ini juga terlihat dari nilai rasio kas yang berada dibawah 100% sehingga menunjukkan nilai rasio kas yang kurang baik.

2. Rasio Solvabilitas

Rasio ini digunakan untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajiban apabila perusahaan

tersebut dilikuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan utang jangka panjang.

a. Rasio Hutang terhadap Modal atau Ekuitas (Total Debt to Equity Ratio) Rasio ini menunjukkan sejauh mana kemampuan modal sendiri atau modal pemilik dapat memenuhi seluruh kewajibannya ataupun utang-utang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini maka akan semakin baik. Rasio ini juga disebut rasio leverage, untuk keamanan pihak luar rasio terbaik adalah jika jumlah modal sendiri lebih besar daripada jumlah utang atau minimal sama besar.

Perhitungan rasio hutang terhadap modal atau ekuitas PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus:

��������������ℎ���������= ����������� ���������� 100% Tahun 2009 = 3.776.415 3.702.819� 100% = 101,10% Tahun 2010 = 4.652.409 4.048.853� 100% = 114,9% Tahun 2011 = 6.801.375 3.680.937� 100% = 184,7% Tabel 4.6

Perhitungan Rasio Hutang terhadap Modal (Total Debt to Equity Ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Tahun Total Hutang Total Modal Rasio Hutang terhadap Modal

2009 3.776.415 3.702.819 101,10%

2010 4.652.409 4.048.853 114,9%

2011 6.801.375 3.680.937 184,7%

Berdasarkan tabel 4.6 hasil perhitungan rasio hutang terhadap modal (Total Debt to Equity Ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui rasio hutang terhadap modal pada tahun 2009 sebesar 101,10%. Dan sebesar Rp. 1,01 dari setiap 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Hal ini berarti 101% modal perusahaan didanai oleh hutang dari pihak luar.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio hutang terhadap modal mengalami peningkatan menjadi sebanyak 13,8% menjadi 114,9%, dan sebesar Rp. 1,14 dari setiap 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Hal ini berarti 114% modal perusahaan didanai oleh hutang dari pihak luar.

Selanjutnya pada tahun 2011 rasio hutang terhadap modal kembali mengalami peningkatan yang cukup pesat yaitu sebanyak 69,8% menjadi 184,7%. Dan sebesar Rp. 1,84 dari setiap 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Hal ini berarti 184% modal perusahaan didanai oleh hutang dari pihak luar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil perhitungan rasio hutang terhadap modal PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 secara menyeluruh mengalami penurunan setiap tahunnya. Hal ini berarti bahwa perusahaan memiliki jumlah hutang terlalu besar dan modal yang dimiliki perusahaan terlalu kecil sehingga modal perusahaan tidak dapat menutupi hutang dari pihak luar. Sehingga seluruh pendanaan hanya berasal dari hutang tanpa adanya pendanaan yang berasal dari modal pemegang saham.

Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dengan jumlah seluruh aktiva yang diketahui.Rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva. Untuk lebih aman porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil.

Perhitungan rasio hutang terhadap total aset PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus:

��������������ℎ�������������=����������� ����������� � 100% Tahun 2009 =3.776.415 7.484.990� 100% = 50,45% Tahun 2010 =4.652.409 8.701.262� 100% = 53,45% Tahun 2011 = 6.801.375 10.482.312� 100% = 64,88% Tabel 4.7

Perhitungan Rasio Hutang terhadap Total Aset (Total Debt to Total Asset Ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Tahun Total Hutang Total Aktiva Rasio Hutang terhadap Aset

2009 3.776.415 7.484.990 50,45%

2010 4.652.409 8.701.262 53,45%

2011 6.801.375 10.482.312 64,88%

Sumber: Neraca PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis

Berdasarkan tabel 4.7 hasil perhitungan rasio hutang terhadap aset (Total Debt to Total Asset Ratio) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui rasio hutang terhadap aset pada tahun 2009 sebesar 50,45% dan sebesar Rp. 0,50 dari setiap 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Hal ini berarti 50% dari seluruh aset (aktiva) perusahaan didanai dari hutang dan sisa 50% pendanaan berasal dari modal pemegang saham.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio hutang terhadap aset mengalami peningkatan sebanyak 3% menjadi 53,45%. Dan sebesar Rp. 0,53 dari setiap 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Hal ini berarti 53% dari seluruh aset (aktiva) perusahaan didanai dari hutang dan sisa 47% pendanaan berasal dari modal pemegang saham.

Selanjutnya pada tahun 2011 rasio hutang terhadap aset kembali mengalami peningkatan sebanyak 11,43% menjadi 64,88%. Dan sebesar 0,64 dari setiap 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Hal ini berarti 64% dari seluruh aset (aktiva) perusahaan didanai dari hutang dan sisa 36% pendanaan berasal dari modal pemegang saham.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil perhitungan rasio hutang terhadap aset PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 secara menyeluruh mengalami penurunan setiap tahunnya. Hal ini berarti bahwa kinerja perusahaan mengalami penurunan, dilihat dari semakin meningkatnya porsi hutang dalam pendanaan aktiva.

3. Rasio Rentabilitas (Profitabilitas)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal dan lain sebagainya.

Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini maka akan semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba cukup tinggi.

Perhitungan rasio margin laba bersih PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus:

���������������ℎ= ���������ℎ ��������������ℎ 100% Tahun 2009 = 3.044.107 18.246.872 �100% = 16,68% Tahun 2010 = 3.384.648 19.690.239 �100% = 17,19% Tahun 2011 = 4.164.304 23.469.218 �100% = 17,74% Tabel 4.8

Perhitungan Rasio Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Tahun Laba Bersih

Penjualan Bersih Margin Laba Bersih 2009 3.044.107 18.246.872 16,68% 2010 3.384.648 19.690.239 17,19% 2011 4.164.304 23.469.218 17,74%

Sumber: Laporan laba rugi PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis Berdasarkan tabel 4.8 hasil perhitungan rasio margin laba bersih (net profit margin) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui margin laba bersih pada tahun 2009 sebesar 16,68% hal ini berarti setiap 1,00 penjualan, perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebesar 0,167. Laba bersih pada tahun ini merupakan laba bersih yang paling rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sesudahnya, hal ini disebabkan oleh hasil penjualan yang masih rendah.

Sedangkan pada tahun 2010 margin laba bersih mengalami peningkatan sebanyak 0,51% menjadi 17,19% hal ini berarti setiap 1,00 penjualan, perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebesar 0,172.

Selanjutnya pada tahun 2011 margin laba bersih kembali mengalami peningkatan sebanyak 0,25% menjadi 17,74% hal ini berarti setiap 1,00 penjualan terdapat keuntungan bersih sebesar 0,177.

Jadi dapat disimpulkan bahwa dari hasil perhitungan rasio margin laba bersih (net profit margin) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 mampu mendapat laba bersih sebesar 16,68%, 17,19% dan 17,74% sehingga secara menyeluruh rasio margin laba bersih mengalami peningkatan setiap tahunnya, peningkatan tersebut disebabkan karena meningkatnya laba bersih dan volume penjualan selama tiga tahun berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan telah bekerja secara baik dan efisien dengan telah dicapainya peningkatan laba bersih dari tahun 2009-2011.

b. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Rasio ini menggambarkan persentase laba kotor yang dapat dicapai dari setiap penjualan setelah perusahaan menghasilkan produk.

Perhitungan rasio margin laba kotor PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus:

��������������� = ���������

��������������ℎ 100%

Tahun 2009 = 9.041.741

Tahun 2010 = 10.204.965

19.690.239 �100% = 51,82% Tahun 2011 = 12.006.413

23.469.218 �100% = 51,16% Tabel 4.9

Perhitungan Rasio Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Sumber: Laporan laba rugi PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis

Berdasarkan tabel 4.9 hasil perhitungan rasio margin laba kotor (gross profit margin) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui margin laba kotor pada tahun 2009 sebesar 49,55% hal ini berarti setiap 1,00 penjualan, perusahaan mampu menghasilkan laba kotor sebesar 0,49.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio margin laba kotor mengalami peningkatan sebanyak 2,27% menjadi 51,82% hal ini berarti setiap 1,00 penjualan, perusahaan mampu menghasilkan laba kotor sebesar 0,518. Kenaikan rasio margin laba kotor ini disebabkan oleh meningkatnya laba kotor dan penjualan bersih.

Selanjutnya pada tahun 2011 rasio margin laba kotor mengalami penurunan sebanyak 0,66% menjadi 51,16% hal ini berarti setiap 1,00 penjualan, perusahaan mampu menghasilkan laba kotor sebesar 0,511.

Tahun Laba Kotor

Penjualan Bersih Margin Laba Kotor 2009 9.041.741 18.246.872 49,55% 2010 10.204.965 19.690.239 51,82% 2011 12.006.413 23.469.218 51,16%

Jadi dapat disimpulkan bahwa dari hasil perhitungan rasio margin laba kotor (gross profit margin) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 mampu mendapat laba kotor sebesar 49,45%, 51,82% dan 51,16% sehingga dapat dilihat terjadi peningkatan perolehan laba kotor dari tahun 2009 ke tahun 2010. Walaupun pada tahun 2011 perolehan keuntungan atau laba kotor mengalami penurunan, namun tidak terlalu besar yaitu sekitar 0,66%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan sudah cukup baik dengan adanya peningkatan keuntungan atau laba kotor dari tahun 2009 ke tahun 2010.

c. Return on Asset (ROA)

Rasio ini menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Semakin besar rasio ini akan semakin baik. Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba.

Perhitungan rasio Return on Asset (ROA) PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus:

������������� = ���������ℎ������������ ����������� 100% Tahun 2009 = 4.248.590 7.484.990 �100% = 56,76% Tahun 2010 = 4.545.767 8.701.262 �100% = 52,24% Tahun 2011 = 5.574.799 10.482.312 �100% = 53,18% Tabel 4.10

Perhitungan Rasio Return on Asset (ROA) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Sebelum Pajak (ROA)

2009 4.248.590 7.484.990 56,76%

2010 4.545.767 8.701.262 52,24%

2011 5.574.799 10.482.312 53,18%

Sumber: Laporan laba rugi PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis

Berdasarkan tabel 4.10 hasil perhitungan rasio return on asset (ROA) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui rasio return on asset pada tahun 2009 sebesar 56,76% hal ini berarti untuk setiap 1 aktiva yang dimiliki perusahaan, dapat menghasilkan keuntungan sebesar 0,57.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio return on asset mengalami penurunan sebanyak 4,52% menjadi 52,24% hal ini berarti untuk setiap 1 aktiva yang dimiliki perusahaan, dapat menghasilkan keuntungan sebesar 0,52. Selanjutnya pada tahun 2011 rasio return on asset mengalami peningkatan sebanyak 0,94% menjadi 53,18% hal ini berarti untuk setiap 1 aktiva yang dimiliki perusahaan, dapat menghasilkan keuntungan sebesar 0,53.

Jadi dapat disimpulkan bahwa dari hasil perhitungan rasio return on asset (ROA) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 mampu mendapatkan return on asset sebesar 56,76%, 52,24% dan 53,18%. Return on asset pada tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami penurunan sebanyak 4,52%, penurunan ini disebabkan karena adanya salah satu nilai aktiva yang menurun. Namun pada tahun 2011 Return on asset kembali mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan telah memperbaiki kinerjanya dengan meningkatkan seluruh nilai aktiva yang ada dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat memperoleh tingkat kembalian yang lebih tinggi atas aktiva yang diinvestasikan.

d. Return on Equity (ROE)

Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik (ekuitas). Semakin besar rasio maka akan semakin bagus.

Perhitungan rasio Return on Equity (ROE) PT. Unilever Indonesia, Tbk dapat dihitung dengan rumus:

��������������= ���������ℎ ���������� (������) �100% Tahun 2009 = 3.044.107 3.702.819 �100% = 82,21% Tahun 2010 = 3.384.648 4.048.853 �100% = 83,6% Tahun 2011 = 4.164.304 3.680.937 �100% = 113,13% Tabel 4.11

Perhitungan Rasio Return on Equity (ROE) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011

Tahun Laba Bersih Total Modal Return On Equity (ROE)

2009 3.044.107 3.702.819 82,21%

2010 3.384.648 4.048.853 83,6%

2011 4.164.304 3.680.937 113,13%

Sumber: Laporan laba rugi PT. Unilever Indonesia, Tbk dan diolah oleh penulis

Berdasarkan tabel 4.11 hasil perhitungan rasio return on equity (ROE) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 diatas dapat diketahui return on equity pada tahun 2009 sebesar 82,21% hal ini berarti setiap penggunaan modal sendiri sebesar 1,00 dapat menghasilkan keuntungan sebesar 0,82.

Sedangkan pada tahun 2010 rasio return on equity mengalami peningkatan sebanyak 1,39% menjadi 83,6% hal ini berarti setiap penggunaan modal sendiri sebesar 1,00 dapat menghasilkan keuntungan sebesar 0,83.

Selanjutnya pada tahun 2011 rasio return on equity mengalami peningkatan yang cukup tinggi dan signifikan sebanyak 29,53% menjadi 113,13% hal ini berarti setiap penggunaan modal sendiri sebesar 1,00 dapat menghasilkan keuntungan sebesar 1,13.

Jadi dapat disimpulkan bahwa dari hasil perhitungan rasio return on equity (ROE) PT. Unilever Indonesia, Tbk Tahun 2009-2011 mampu mendapatkan return on equity sebesar 82,21%, 83,6% dan 113,13%. Hal ini berarti return on equity mengalami peningkatan dari tahun ke tahun serta secara otomatis peningkatan return on equity tersebut menunjukkan bahwa kinerja perusahaan sudah sangat baik dalam mengelola modal secara efektif serta mampu memberikan jaminan tingkat pengembalian modal yang lebih besar kepada pemegang saham.

4.5.2 Hasil Analisa Penilaian Kinerja Keuangan PT. Unilever Indonesia, Tbk

Dokumen terkait