III. METODE PENELITIAN
3.4. Pelaksanaan Penelitian
3.4.5. Analisa Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yaitu dengan melakukan pengambilan sampel serangga pada pertanaman kopi menghasilkan dan belum menghasilkan. Serangga yang diperoleh pada setiap penangkapan dikumpulkan dan diidentifikasi dan dianalisis dengan rumus berikut:
Kerapatan Mutlak (KM) suatu jenis serangga
Kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak (Suin, 1997).
Kerapatan Relatif (KR) suatu jenis serangga KR= KM x 100%
∑ KM
KR = Jumlah individu suatu jenis dalam setiap penangkapan x 100%
Total individu dalam setiap penangkapan
Frekuansi Mutlak (FM) suatu jenis serangga
Frekuensi mutlak menunjukkan jumlah kesering hadiran suatu serangga tertentu yang ditemukan pada habitat tiap pengamatan yang dinyatakan secara mutlak.
Frekuensi Relatif (FR) suatu jenis serangga
Frekuensi relative menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut (Suin, 1997).
FR= FM x 100%
∑ FM
FR = Nilai FM suatu jenis serangga setiap penangkap x 100%
Total semua jenis serangga setiap penangkapan
Indeks Keanekaragaman
Keanekaragaman spesies merupakan ciri tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologinya. Keanekaragaman spesies dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas. Keanekaragaman spesies juga dapat digunakan untuk mengukur stabilitas komunitas, yaitu kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponen-komponennya (Soegianto, 1994 dalam Indriyanto, 2006).
Untuk mengetahui keanekaragaman jenis dihitung dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (Odum, 1993), dengan rumus sebagai berikut:
H’= -∑ Pi ln (Pi), dimana Pi = (ni/N) Keterangan:
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner ni = Jumlah individu jenis ke-i
N = Jumlah individu seluruh jenis
Kriteria nilai indeks keanekaragaman Shannon – Wiener (H’) adalah sebagai berikut:
H’ < 1 : keanekaragaman rendah 1<H’≤ 3 : keanekaragaman sedang H’ >3 : keanekaragaman tinggi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Serangga Tanah yang Ditemukan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di areal perkebunan kopi di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara pada dua kelompok tanaman, yakni kebun kopi yang belum menghasilkan (TBM) dan kebun kopi yang sudah menghasilkan (TM) masing-masing pada musim Kemarau (Mei 2018) dan musim hujan (Desember 2018) dengan menggunakan perangkap jebak (pitfall trap) diperoleh serangga tanah sebanyak 169 ekor serangga yang
berasal dari filum Arthropoda kelas insekta. Menurut Jumar (2000) sebanyak 80 % dari 750.000 jumlah spesies yang telah diketahui merupakan anggota dari
filum Arthropoda dan sekitar 75% diantaranya adalah serangga (insekta).
Jenis serangga yang ditemukan di lokasi penelitian terdiri dari 3 ordo dengan 4 famili pada areal TBM, yakni Hymenoptera pada famili Formicidae, Orthoptera pada famili Gryllidae dan Blattidae, dan Diptera pada famili Drosophilidae. Dan pada areal TM ditemukan sebanyak 3 ordo dengan 4 famili, yakni Hymenoptera pada famili Formicidae, Orthoptera pada famili Gryllidae, dan Coleoptera pada famili Scarabaeidae.
Serangga tanah yang paling banyak ditemui di lapangan berasal dari Ordo Hymenoptera pada famili Formicidae. Serangga tanah famili Formicidae yang paling banyak ditemui adalah Anoplolepis gracilipes (semut kuning), Dolichoderus thoracicus (semut hitam) dan Formica pallidefulva (semut api).
D. thoracicus berperan sebagai predator yang memakan insecta kecil dan juga nectar. Menurut Hasyimuddin et al. (2017) D. thoracicus merupakan kelompok
hewan terestrial paling dominan di daerah tropik. D. thoracicus berperan penting dalam ekosistem terestrial sebagai predator, scavenger, herbivora, detritivora, dan granivora, serta memiliki peranan yang unik dalam interaksinya dengan tumbuhan atau serangga lain.
D.thoracicus merupakan salah satu hewan permukaan tanah yang berperan penting dalam proses pembentukan tanah. Serangga ini mampu menghancurkan serasah atau materi organik yaitu dengan cara memakannya. D.thoracicus memainkan peran penting dalam ekosistem, dominasi mereka di habitat semi-kering memiliki efek regulasi pada serangga lain (Hasymuddin et al., 2017).
F. pallidefulva berperan sebagai predator yang memangsa serangga kecil.
Sebagai Predator semut ini dapat mengganggu, menghalangi atau memangsa berbagai jenis hama seperti kepik hijau, ulat pemakan daun, dan serangga-serangga pemakan buah. Populasinya yang tinggi dapat mengurangi permasalahan hama tungau, pengerek daun dan penyakit greening pada areal perkebunan. Semut ini memiliki cara hidup yang khas yaitu merajut daun-daun pada pohon untuk membuat sarang (Hasymuddin et al., 2017).
Jenis serangga yang paling sedikit ditemukan berasal dari Ordo Coleoptera famili Scarabaeidae. Serangga yang ditemukan adalah Megasoma vogti (kumbang tanduk). Jenis serangga ini mudah di temukan di sekitar pupuk organik limbah ternak (kotoran ternak) pada areal tanaman kopi. Serangga ini berperan sebagai serangga dekomposer tinja.
Banyaknya jumlah spesies maupun individu yang ditemukan disebabkan karena serangga-serangga tanah bersifat mobile, sehingga bila kondisi lingkungan
hewan secara aktif akan berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan yang lain, apabila terjadi perubahan lingkungan sementara misalnya hujan. Dengan berpindah dari lingkungan yang berubah, hewan akan dapat tinggal pada rentangan kondisi lingkungan yang optimum bagi mereka. Seperti kondisi tanah (fisika-kimia-biologi), seperti keragaman jenis tumbuhan penutup tanah, suhu, kelembaban tanah, dan ketersediaan unsur hara (Hasymuddin et al., 2017).
Adapun faktor lain yang mempengaruhi perkembangbiakan dan tingkat produktivitas dari setiap jenis serangga tanah tidak sama masanya dan hal ini juga
dapat menyebabkan adanya jenis yang mendominasi di lingkungan tersebut ( Usman, 2017).
Pada waktu masa reproduktif maka jumlah individu dalam populasi tersebut meningkat, sedangkan pada waktu tidak reproduktif maka jumlahnya mengalami penurunan. Sejalan dengan pengaruh pertumbuhan populasi dan masa reproduksi yang berbeda, adanya kompetisi dan pemangsaan yang terjadi antar spesies juga berpengaruh terhadap pengurangan dan pertambahan jenis maupun jumlah penyusun komunitas yang akhirnya juga menyebabkan adanya suatu jenis yang mendominasi pada komunitas tersebut. Berikut hasil identifikasi serangga pada areal perkebunan kopi di Kecamatan Sipirok.
Tabel 1. Klasifikasi Serangga Tanah yang Ditemukan Pada Musim Kemarau di Areal
Dolichoderus thoracicus Semut hitam 7 46 Formica pallidefulva Semut api 5 8 Anoplolepis gracilipes Semut kuning 11 22
2 Orthoptera Gryllidae Gryllus bimaculatus Jangkrik 14 14
Blattidae Blattela spp. Kecoa - 1
3 Diptera Drosophilidae Bactrocera dorsalis Lalat buah 6 1
Pada musim kemarau diperoleh total 135 ekor serangga tanah yang berasal dari 3 ordo dan 4 famili. Jenis serangga yang paling banyak ditemui adalah famili Formicidae dengan total 99 ekor serangga dan jenis yang paling sedikit berasal dari famili Blattidae hanya 1 ekor serangga, yakni Blattela spp. Sedangkan pada musim hujan diperoleh sebanyak 34 ekor serangga tanah yang juga berasal dari 3 ordo dan 4 famili. Jenis yang paling sedikit adalah famili Scarabaeidae dengan spesies Megasoma vogti yang berjumlah 2 ekor serangga
Tabel 2. Klasifikasi Serangga Tanah yang Ditemukan Pada Musim Penghujan di Areal Perkebunan Kopi Kec. Sipirok
No Ordo Nama Famili Spesies Nama Indonesia Lokasi TM TBM
1 Hymenoptera Formicidae
Dolichoderus thoracicus Semut hitam 2 9
Formica pallidefulva Semut api 1 2
Anoplolepis gracilipes Semut kuning 4 3
2 Coleoptera Scarabaeidae Megasoma vogti Kumbang gajah - 2
3 Orthoptera Gryllidae Gryllus bimaculatus Jangkrik 4 2
Blattidae Blattela spp. Kecoa 3 2
4.2. Indeks Keanekaragaman Serangga Tanah
Keanekaragaman jenis ditunjukkan oleh banyaknya jenis organisme yang membentuk komunitas di kawasan tertentu. Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman yang tinggi jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis begitu juga sebaliknya (Odum, 1993). Hal tersebut dikuatkan oleh Sugiyarto (2005) bahwa suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi
jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis dengan kelimpahan yang sama atau hampir sama.
Tabel 3. Indeks Shannon Wiener (H’) Serangga Tanah Musim Kemarau
Spesies Lokasi Pi H' = -∑ Pi ln (Pi)
Berdasarkan nilai indeks keanekaragaman (H’) pada Tabel 3, diketahui bahwa indeks keanekaragaman (H’) pada TM dan TBM pada musim kemarau tergolong sedang. Hal ini disebabkan jenis tanaman yang diusahakan secara monokultur dalam areal yang sangat luas dengan adanya penggunaan pestisida.
Hal ini sesuai dengan BP2TP (2009) yang menyatakan bahwa suatau spesies hama mengkolonisasi daerah geografis yang baru tanpa diikuti oleh perkembangan musuh alami, musuh alami terbunuh oleh aplikasi pestisida atau habitat yang ditempati oleh hama dan musuh alami dimodifikasi sehingga sangat sesuai untuk hama.
Tabel 4. Indeks Shannon Wiener (H’) Serangga Tanah Musim Penghujan
Spesies
Berdasarkan nilai indeks keanekaragaman (H’) pada Tabel 4, diketahui bahwa indeks keanekaragaman (H’) pada TM dan TBM pada musim penghujan
tergolong sedang. Habeda (2013) menyatakan bahwa keanekaragaman serangga dipengaruhi oleh faktor kualitas dan kuantitas makanan, antara lain banyaknya tanaman inang yang cocok, kerapatan tanaman inang, umur tanaman inang dan komposisi tegakan.
4.3 Nilai Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif
Menurut Michael (1995) kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak. Hasil perhitungan nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif terdapat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif Musim Kemarau
Spesies TM TBM
KM KR (%) KM KR (%)
Dolichoderus thoracicus 7 16.28 46 50
Formica pallidefulva 5 11.63 8 8.70
Anoplolepis gracilipes 11 25.59 22 23.91
Gryllus bimaculatus 14 32.55 14 15.21
Blattela spp. - - 1 1.09
Bactrocera dorsalis 6 13.95 1 1.09
Jumlah 43 100.00 92 100.00
Berdasarkan data pada Tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi musim kemarau pada lahan kopi TM terdapat pada famili Gryllidae yang didominasi spesies Gryllus bimaculatus (jangkrik) dengan nilai KM sebesar 14 dan KR sebesar 32.55%, sedangkan nilai terendah terdapat pada famili Blattidae yakni spesies Formica pallidefulva dengan nilai KM 5 dan KR sebesar 11,63%.
Sedangkan pada pengamatan areal pertanaman kopi TBM diketahui nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi pada lahan kopi TBM terdapat
pada famili Formicidae yang didominasi spesies Dolichoderus thoracicus (semut hitam) dengan nilai KM sebesar 46 dan KR sebesar 50%, sedangkan nilai terendah terdapat pada famili Blattidae yakni spesies Blattela spp. (Kecoa) dan famili Drosophilidae yakni spesies Bactrocera dorsalis dengan nilai KM dan KR masing-masing sebesar 1 dan 1.09%.
Tabel 6. Nilai Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif Musim Penghujan
No Spesies TM TBM pengamatan areal pertanaman kopi TBM diketahui nilai kerapatan mutlak dan
kerapatan relatif tertinggi pada lahan kopi TBM terdapat pada spesies D. thoracicus (semut hitam) dengan nilai KM sebesar 9 dan KR sebesar 45%.
Menurut Suin (2012) apabila ditemukan kerapatan sejenis hewan disuatu daerah sangat berlimpah, hal ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan biotik (produsen, konsumen, dan dekomposer) dan abiotik (fisika-kimia tanah, seperti suhu, kelembaban, pH, kandungan organik, dan lain sebagainya) pada daerah tersebut sangat mendukung kelangsungan kehidupan hewan tersebut. Begitu juga sebaliknya, apabila tidak ditemukan satupun spesies hewan pada suatu daerah,
sementara pada daerah sekitarnya terlihat berlimpah. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan di daerah itu tidak mendukung serta menghambat kelangsungan hidup hewan tersebut.
Hanafiah et al (2010) menjelaskan bahwa kepadatan biota tanah pada suatu areal tergantung pada aktivitas masing-masing golongannya, yang sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu: 1) Cuaca, terutama curah hujan dan kelembaban. 2) Kondisi/sifat tanah terutama kemasaman (pH), kelembaban, suhu dan ketersediaan unsur hara. 3) Tipe vegetasi penutup lahan seperti rumput-rumputan.
4.4 Jenis dan Deskripsi Serangga Tanah 1. Famili Formacidae
Kelompok famili formicidae ini terdiri atas keluarga semut-semut yang banyak ditemukan di permukaan tanah. Banyaknya individu yang diperoleh disebabkan karena jenis ini merupakan jenis yang hidup secara berkoloni. Dengan hidup secara berkoloni peluang individu dalam kelompok untuk mempertahankan hidup semakin meningkat.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh sebanyak 53 ekor serangga dari famili Formacidae, masing-masing 7 dan 46 ekor pada areal pertanaman kopi TM
dan TBM. Spesies yang ditemukan adalah D. thoracicus (Semut hitam), F. pallidefulva (Semut api), dan A. gracilipes (Semut kuning). Serangga pada
famili ini memiliki ciri-ciri ukuran tubuh 1 cm, berwarna hitam, mempunyai 1 pasang antena, bentuk kepalanya oval, mata oval dan terletak agak kesamping dengan tipe mulut menggigit, tungkai 3 pasang, tidak memiliki sayap, bentuk
panjang, ruas metasoma kedua mengandung satu punuk (bungkul) dan abdomen oval.
Fauna ini berperan sebagai predator yang memakan insecta kecil dan juga nectar. Ditemukanya famili formacidae disebabkan faktor lingkungan yang sesuai dengan kehidupan serangga ini. Faktor lingkungan tersebut bisa jadi faktor biotik dan abiotiknya. Faktor biotik bisa berupa ketersediaannya jumlah makanan yang
ada pada lahan perkebunan dan kurangnya musuh alami dari serangga tersebut.
F. pallidefulva telah menguasai hampir seluruh bagian tanah di Bumi. Hanya di beberapa tempat seperti di Islandia, Greenland dan Hawai, mereka tidak menguasai daerah tesebut. Di saat jumlah mereka bertambah, mereka dapat membetuk sekitar 15 - 20% jumlah biomassa hewan-hewan besar.
Semut D. thoracicus biasanya keluar dari sarangnya pada waktu pagi dan sore hari ketika suhu tidak terlalu panas. Akan tetapi pada siang hari ketika suhu udara panas, semut akan bersembunyi pada tempat-tempat yang terlindungi dari sengatan sinar matahari secara langsung seperti di dalam sarang, di balik dedaunan, di tanah, dan lain-lain. F. pallidefulva mampu mengindera lingkungannya yang kompleks untuk mencari makanan dan kemudian kembali ke sarangnya dengan meninggalkan zat feromon pada jalur-jalur yang mereka lalui.
Adapun klasifikasi serangga yang ditemukan pada famili formacidae adalah berikut.
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta
Ordo : Hymoneptera Famili : Formicidae
Spesies : Dolichoderus thoracicus, Formica pallidefulva, Anoplolepis gracilipes
(a) (b) (c) Gambar 1. a. Dolichoderus thoracicus, b. Formica pallidefulva
c. Anoplolepis gracilipes
2. Famili Scarabaeidae
Serangga pada famili ini yang ditemukan dilokasi pengamatan adalah Megasoma vogti (Kumbang tanduk). Megasoma vogti memiliki ciri-ciri bertubuh 1,51 cm, berwarna hitam, mempunyai 3 pasang kaki dibagian thoraks, dan pada bagian tubuhnya terdapat bulu-bulu. Tipe mulut penggigit. Larva ini dikenal dengan nama lundi, bertubuh silinder dengan bentuk melengkung atau menyerupai huruf C. Famili ini apabila sudah diganggu habitatnya maka dia akan berpindah tempat. Terganggu habitatnya karena aktifitas manusia di lahan perkebunan. M. vogti di hutan dapat berfungsi sebagai pendegradasi materi organik yang berupa tinja satwa liar terutama mamalia, dan kadang-kadang burung dan reptil. M. vogti ini juga banyak digunakan sebagai bioindikator stabilnya ekosistem karena tersebar luas diberbagai ekosistem, spesiesnya
beragam, muda dicuplik memiliki peran penting secara ekologis. M. vogti berperan dalam penguraian kotoran hewan sehingga terlibat dalam siklus hara dan penyebaran biji pada tumbuh-tumbuhan yang terbawa melalui kotoran. Dengan demikian, M. vogti merupakan bagian yang penting dalam ekosistem untuk mempertahankan keseimbangan alam dan rantai makanan.
Adapun klasifikasi serangga dari famili scarabaeidae yang ditemukan adalah berikut.
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Coleoptera Famili : Scarabaeidae Genus : Megasoma Spesies : Megasoma vogti
Gambar 2. Megasoma vogti
3. Famili Gryllidae
Serangga dari famili ini yang ditemukan adalah Gryllus bimaculatus (Jangkrik). Jangkrik dapat ditemukan di bawah batu-batuan, kayu-kayu lapuk, dinding-dinding tepi sungai dan di semak-semak belukar serta ada yang hidup pada lubang-lubang di tanah. Jangkrik dapat ditemui di hampir seluruh Indonesia
dan hidup dengan baik pada daerah yang bersuhu antara 20-32°C dan kelembaban sekitar 65-80%, bertanah gembur/berpasir dan memiliki persediaan tumbuhan semak belukar. Jangkrik hidup bergerombol dan bersembunyi dalam lipatan-lipatan daun kering atau bongkahan tanah.
Gryllus vernalis aktif dimalam hari untuk mencari makan. Gryllus bimaculatus ini juga suka mengeluarkan suara dimalam hari. Gryllus ini termasuk herbivora pemakan tumbuhan dan hewan lainnya atau disebut omnivora dengan memakan bahan organik, termasuk bahan tanaman membusuk, dan jamur. Jumlah spesiesnya hanya 26% dari seluruh spesies serangga yang ada. Fauna-fauna pemakan tumbuhan yang hidup dengan memakan gulma dapat bermanfaat dalam pengendalian gulma. Beberapa spesies serangga seperti ini telah digunakan dalam pengendalian gulma secara hayati.
Adapun klasifikasi serangga dari famili Gryllidae yang ditemukan adalah berikut.
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Orthoptera Famili : Gryllidae Genus : Gryllus
Spesies : Gryllus bimaculatus
Gambar 3. Gryllus bimaculatus
4. Famili Blattidae
Serangga dari famili ini yang ditemukan adalah Blattela spp. (kecoa).
Adapun ciri-ciri spesies ini mempunyai panjang tubuh 27-35 mm atau lebih, spesies dengan tubuh berwarna cokelat kemerahan, dengan sayap-sayap yang berkembang dengan baik. Bentuk tubuh pipih, oval, bagian kepala tersembunyi di bawah pronotum. Bagian sayap licin dan nampak keras, tidak berambut dan berduri. Pada induk biasanya menyatukan 30-40 butir telur dalam kantung yang kuat, kantung tersebut akan dibawa kemana-mana sebelum menemukan tempat persembunyian. Di dalam ekosistem peranan fauna ini adalah sebagai penghancur seresah-seresah dan biasanya aktif pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi ditempat yang gelap.
Adapun klasifikasi serangga dari famili Blattidae yang ditemukan adalah berikut.
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Orthoptera Famili : Blattidae
Genus : Blattela Spesies : Blattela spp.
Gambar 4. Blattela spp.
5. Famili Drosophilidae
Famili Drosophilidae merupakan lalat buah. Spesies ini memiliki ciri-ciri yaitu warna tubuh kuning kemerahan, ukuran tubuh 3 mm, mempunyai bulu - bulu dekat mulut, mata majemuk, besar. Antena pendek, torak 3 ruas, 3 pasang kaki, 4 ruas pada masing–masing kaki, tarsus 5 ruas, terdapat 1 pasang sayap membraneus, sayap belakang mereduksi (halter), abdomen terbagi menjadi 6 ruas, cembung, dengan warna abdomen bagian ventral berwarna putih sedangkan dorsal lorek–lorek (hitam–putih).
Adapun klasifikasi serangga dari famili yang ditemukan adalah berikut.
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Diptera
Famili : Drosophillidae
Genus : Bactrocera
Spesies : Bactrocera dorsalis
Gambar 5. Bactrocera dorsalis
Dari sini dapat dilihat bahwa dengan adanya interaksi
tanaman-herbivora-predator melalui food web memungkinkan mekanisme top-down maupun bottom-up dalam mengontrol populasi dan serangan serangga herbivora pada
tanaman budidaya.
4.5 Analisa Tanah
Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah tekstur tanah, sifat fisika (suhu, kelembaban, curah hujan) dan sifat kimia (pH, , C-Organik, C/N rasio, kandungan K).
Tekstur Tanah
Menurut Sutanto (2002), tekstur tanah merupakan perbandingan fraksi pasir, debu dan liat. Penentuan jenis tekstur tanah ditentukan dengan menggunakan segitiga teksur menurut USDA. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa pada areal pertanaman kopi TM bulan Mei 2018 diperoleh persentase debu 22,63%, liat 33,95% dan pasir 43,42% yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung liat berpasir. Sedangkan pada areal pertanaman kopi TM bulan Desember 2018 diperoleh persentase debu
37,25%, liat 26,08% dan pasir 36,67% yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung berliat.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa pada areal pertanaman kopi TBM bulan Mei 2018 diperoleh persentase debu 24,12%, liat 37,91% dan pasir 37,97% yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung berliat. Sedangkan pada areal pertanaman kopi TBM bulan Desember 2019 diperoleh persentase debu 52,38%, liat 0,02% dan pasir 47,61%
yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung berdebu. Menurut Balitbang Pertanian (2017) secara umum, untuk tanaman kopi robusta, arabika maupun liberika membutuhkan tanah dengan tekstur berlempung (loamy) dengan struktur tanah lapisan atas remah.
Tabel 7. Parameter Fisika
No Parameter Abiotik Mei 2018 Desember 2018
1 Suhu (0C) 26,00 25,09
2 Kelembaban (%) 84 79
3 Curah Hujan (mm) 170 281.1
Menurut Permana (2015) faktor suhu, kelembaban dan curah hujan memiliki pengaruh besar terhadap rapatnya penutupan tanah oleh daun tanaman, menyebabkan penyerapan sinar matahri yang dapat ditembus hingga randah menjadi rendah. Menurut Swibawa, et al. (2006) bahwa rapatnya penutupan permukaan tanah oleh tanaman menyebabkan kelembaban udara dan tanah semakin tinggi. Menurut Odum (1993) dalam Permana (2015), temperatur atau suhu memberikan efek membatasi pertumbuhan organisme apabila keadaan ekstrim tinggi atau rendah, kelembaban tingi lebih baik bagi hewan tanah dari
pada kelembaban rendah. Jumar (2000) menambahkan bahwa serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana serangga dapat hidup.
Berdasarkan data parameter fisika, suhu di lokasi penelitian telah sesuai dengan kondisi pertumbuhan kopi sipirok. Menurut Balitbang Pertanian (2017) kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan kopi robusta, arabika dan liberika yaitu masing-masing berkisar 21 – 24; 15 – 25 dan 21 – 30°C. Curah hujan yang dibutuhkan kopi Robusta dan Arabika sama yaitu berkisar 1.250 – 2.500 mm/tahun sedangkan untuk kopi Liberika nilainya lebih tinggi yaitu berkisar 1.250 – 3.500 mm/tahun. lokasi TM memiliki pH sangat masam dan lokasi TBM memiliki pH masam. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (1995) dalam Khusnia (2017) bahwa pH tanah memiliki nilai terendah dibawah pH 4,5 bersifat sangat asam, antara pH 4,5 – 5,5 bersifat asam, pH 6,6-7,5 bersifat netral dan pH<7,5 bersifat alkalis.
Menurut Balitbang Pertanian (2017) kondisi keasaman (pH) yang sesuai untuk areal pertanaman kopi adalah pH 5,5 – 6,5. Atau oleh karena itu lokasi baik TM maupun TBM belum memenuhi kesesuaian kondisi tanah untuk kopi robusta.
Surya et al. (2017) menyatakan bahwa pH tanah pada pemberian pupuk organik memiliki rata-rata lebih tinggi dibanding dengan pemberian anorganik.
Artinya tekstur tanah klei mempunyai koloid tanah yang dapat melakukan kapasitas tukar kation yang tinggi. tanah yang banyak mengandung kation dapat berdisiosiasi menimbulkan reaksi yang lebih masam. Pada pemberian pupuk organik terdapatnya masukan bahan organik, sebaliknya pada pupuk anorganik tidak adanya masukan bahan organik. Bahan organik mempengaruhi besar kecilnya daya serap tanah akan air. Semakin banyak air dalam tanah maka semakin banyak reaksi pelepasan ion H+ sehingga tanah menjadi lebih masam.
Hasil analisis kandungan C-Organik tanah pada bulan Mei 2018 menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada TM dan pada bulan Desember 2018 menunjukkan hasil sebaliknya. C-Organik tanah pada areal pertanaman kopi TM baik pada bulan Mei 2018 maupun Desember 2018 termasuk pada kategori tinggi.
Sedangkan, kandungan C-Organik pada areal pertanaman kopi TBM termasuk pada kategori rendah pada bulan Mei 2018 dan termasuk pada kategori sangat tinggi pada bulan Desember 2018. Hal ini karena setelah pengambilan data petani melakukan pemberian pupuk kompos ke tanamannya, dan kemungkinan kompos belum matang atau belum terdekomposisi sempurna pada saat pengambilan sampel selanjutnya. Menurut Supriyadi (2008) dalam Nurrohman et al.(2018) kandungan bahan organik (C-organik) dalam tanah mencerminkan kualitas tanah, di mana kandungan bahan organik dikatakan sangat rendah apabila <2%, dan
Sedangkan, kandungan C-Organik pada areal pertanaman kopi TBM termasuk pada kategori rendah pada bulan Mei 2018 dan termasuk pada kategori sangat tinggi pada bulan Desember 2018. Hal ini karena setelah pengambilan data petani melakukan pemberian pupuk kompos ke tanamannya, dan kemungkinan kompos belum matang atau belum terdekomposisi sempurna pada saat pengambilan sampel selanjutnya. Menurut Supriyadi (2008) dalam Nurrohman et al.(2018) kandungan bahan organik (C-organik) dalam tanah mencerminkan kualitas tanah, di mana kandungan bahan organik dikatakan sangat rendah apabila <2%, dan