• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL PENELITIAN

4.4. Jenis dan Deskripsi Serangga Tanah

Kelompok famili formicidae ini terdiri atas keluarga semut-semut yang banyak ditemukan di permukaan tanah. Banyaknya individu yang diperoleh disebabkan karena jenis ini merupakan jenis yang hidup secara berkoloni. Dengan hidup secara berkoloni peluang individu dalam kelompok untuk mempertahankan hidup semakin meningkat.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh sebanyak 53 ekor serangga dari famili Formacidae, masing-masing 7 dan 46 ekor pada areal pertanaman kopi TM

dan TBM. Spesies yang ditemukan adalah D. thoracicus (Semut hitam), F. pallidefulva (Semut api), dan A. gracilipes (Semut kuning). Serangga pada

famili ini memiliki ciri-ciri ukuran tubuh 1 cm, berwarna hitam, mempunyai 1 pasang antena, bentuk kepalanya oval, mata oval dan terletak agak kesamping dengan tipe mulut menggigit, tungkai 3 pasang, tidak memiliki sayap, bentuk

panjang, ruas metasoma kedua mengandung satu punuk (bungkul) dan abdomen oval.

Fauna ini berperan sebagai predator yang memakan insecta kecil dan juga nectar. Ditemukanya famili formacidae disebabkan faktor lingkungan yang sesuai dengan kehidupan serangga ini. Faktor lingkungan tersebut bisa jadi faktor biotik dan abiotiknya. Faktor biotik bisa berupa ketersediaannya jumlah makanan yang

ada pada lahan perkebunan dan kurangnya musuh alami dari serangga tersebut.

F. pallidefulva telah menguasai hampir seluruh bagian tanah di Bumi. Hanya di beberapa tempat seperti di Islandia, Greenland dan Hawai, mereka tidak menguasai daerah tesebut. Di saat jumlah mereka bertambah, mereka dapat membetuk sekitar 15 - 20% jumlah biomassa hewan-hewan besar.

Semut D. thoracicus biasanya keluar dari sarangnya pada waktu pagi dan sore hari ketika suhu tidak terlalu panas. Akan tetapi pada siang hari ketika suhu udara panas, semut akan bersembunyi pada tempat-tempat yang terlindungi dari sengatan sinar matahari secara langsung seperti di dalam sarang, di balik dedaunan, di tanah, dan lain-lain. F. pallidefulva mampu mengindera lingkungannya yang kompleks untuk mencari makanan dan kemudian kembali ke sarangnya dengan meninggalkan zat feromon pada jalur-jalur yang mereka lalui.

Adapun klasifikasi serangga yang ditemukan pada famili formacidae adalah berikut.

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta

Ordo : Hymoneptera Famili : Formicidae

Spesies : Dolichoderus thoracicus, Formica pallidefulva, Anoplolepis gracilipes

(a) (b) (c) Gambar 1. a. Dolichoderus thoracicus, b. Formica pallidefulva

c. Anoplolepis gracilipes

2. Famili Scarabaeidae

Serangga pada famili ini yang ditemukan dilokasi pengamatan adalah Megasoma vogti (Kumbang tanduk). Megasoma vogti memiliki ciri-ciri bertubuh 1,51 cm, berwarna hitam, mempunyai 3 pasang kaki dibagian thoraks, dan pada bagian tubuhnya terdapat bulu-bulu. Tipe mulut penggigit. Larva ini dikenal dengan nama lundi, bertubuh silinder dengan bentuk melengkung atau menyerupai huruf C. Famili ini apabila sudah diganggu habitatnya maka dia akan berpindah tempat. Terganggu habitatnya karena aktifitas manusia di lahan perkebunan. M. vogti di hutan dapat berfungsi sebagai pendegradasi materi organik yang berupa tinja satwa liar terutama mamalia, dan kadang-kadang burung dan reptil. M. vogti ini juga banyak digunakan sebagai bioindikator stabilnya ekosistem karena tersebar luas diberbagai ekosistem, spesiesnya

beragam, muda dicuplik memiliki peran penting secara ekologis. M. vogti berperan dalam penguraian kotoran hewan sehingga terlibat dalam siklus hara dan penyebaran biji pada tumbuh-tumbuhan yang terbawa melalui kotoran. Dengan demikian, M. vogti merupakan bagian yang penting dalam ekosistem untuk mempertahankan keseimbangan alam dan rantai makanan.

Adapun klasifikasi serangga dari famili scarabaeidae yang ditemukan adalah berikut.

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Coleoptera Famili : Scarabaeidae Genus : Megasoma Spesies : Megasoma vogti

Gambar 2. Megasoma vogti

3. Famili Gryllidae

Serangga dari famili ini yang ditemukan adalah Gryllus bimaculatus (Jangkrik). Jangkrik dapat ditemukan di bawah batu-batuan, kayu-kayu lapuk, dinding-dinding tepi sungai dan di semak-semak belukar serta ada yang hidup pada lubang-lubang di tanah. Jangkrik dapat ditemui di hampir seluruh Indonesia

dan hidup dengan baik pada daerah yang bersuhu antara 20-32°C dan kelembaban sekitar 65-80%, bertanah gembur/berpasir dan memiliki persediaan tumbuhan semak belukar. Jangkrik hidup bergerombol dan bersembunyi dalam lipatan-lipatan daun kering atau bongkahan tanah.

Gryllus vernalis aktif dimalam hari untuk mencari makan. Gryllus bimaculatus ini juga suka mengeluarkan suara dimalam hari. Gryllus ini termasuk herbivora pemakan tumbuhan dan hewan lainnya atau disebut omnivora dengan memakan bahan organik, termasuk bahan tanaman membusuk, dan jamur. Jumlah spesiesnya hanya 26% dari seluruh spesies serangga yang ada. Fauna-fauna pemakan tumbuhan yang hidup dengan memakan gulma dapat bermanfaat dalam pengendalian gulma. Beberapa spesies serangga seperti ini telah digunakan dalam pengendalian gulma secara hayati.

Adapun klasifikasi serangga dari famili Gryllidae yang ditemukan adalah berikut.

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Orthoptera Famili : Gryllidae Genus : Gryllus

Spesies : Gryllus bimaculatus

Gambar 3. Gryllus bimaculatus

4. Famili Blattidae

Serangga dari famili ini yang ditemukan adalah Blattela spp. (kecoa).

Adapun ciri-ciri spesies ini mempunyai panjang tubuh 27-35 mm atau lebih, spesies dengan tubuh berwarna cokelat kemerahan, dengan sayap-sayap yang berkembang dengan baik. Bentuk tubuh pipih, oval, bagian kepala tersembunyi di bawah pronotum. Bagian sayap licin dan nampak keras, tidak berambut dan berduri. Pada induk biasanya menyatukan 30-40 butir telur dalam kantung yang kuat, kantung tersebut akan dibawa kemana-mana sebelum menemukan tempat persembunyian. Di dalam ekosistem peranan fauna ini adalah sebagai penghancur seresah-seresah dan biasanya aktif pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi ditempat yang gelap.

Adapun klasifikasi serangga dari famili Blattidae yang ditemukan adalah berikut.

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Orthoptera Famili : Blattidae

Genus : Blattela Spesies : Blattela spp.

Gambar 4. Blattela spp.

5. Famili Drosophilidae

Famili Drosophilidae merupakan lalat buah. Spesies ini memiliki ciri-ciri yaitu warna tubuh kuning kemerahan, ukuran tubuh 3 mm, mempunyai bulu - bulu dekat mulut, mata majemuk, besar. Antena pendek, torak 3 ruas, 3 pasang kaki, 4 ruas pada masing–masing kaki, tarsus 5 ruas, terdapat 1 pasang sayap membraneus, sayap belakang mereduksi (halter), abdomen terbagi menjadi 6 ruas, cembung, dengan warna abdomen bagian ventral berwarna putih sedangkan dorsal lorek–lorek (hitam–putih).

Adapun klasifikasi serangga dari famili yang ditemukan adalah berikut.

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Diptera

Famili : Drosophillidae

Genus : Bactrocera

Spesies : Bactrocera dorsalis

Gambar 5. Bactrocera dorsalis

Dari sini dapat dilihat bahwa dengan adanya interaksi

tanaman-herbivora-predator melalui food web memungkinkan mekanisme top-down maupun bottom-up dalam mengontrol populasi dan serangan serangga herbivora pada

tanaman budidaya.

4.5 Analisa Tanah

Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah tekstur tanah, sifat fisika (suhu, kelembaban, curah hujan) dan sifat kimia (pH, , C-Organik, C/N rasio, kandungan K).

Tekstur Tanah

Menurut Sutanto (2002), tekstur tanah merupakan perbandingan fraksi pasir, debu dan liat. Penentuan jenis tekstur tanah ditentukan dengan menggunakan segitiga teksur menurut USDA. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa pada areal pertanaman kopi TM bulan Mei 2018 diperoleh persentase debu 22,63%, liat 33,95% dan pasir 43,42% yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung liat berpasir. Sedangkan pada areal pertanaman kopi TM bulan Desember 2018 diperoleh persentase debu

37,25%, liat 26,08% dan pasir 36,67% yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung berliat.

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa pada areal pertanaman kopi TBM bulan Mei 2018 diperoleh persentase debu 24,12%, liat 37,91% dan pasir 37,97% yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung berliat. Sedangkan pada areal pertanaman kopi TBM bulan Desember 2019 diperoleh persentase debu 52,38%, liat 0,02% dan pasir 47,61%

yang menunjukkan bahwa tanah ini memiliki tekstur lempung berdebu. Menurut Balitbang Pertanian (2017) secara umum, untuk tanaman kopi robusta, arabika maupun liberika membutuhkan tanah dengan tekstur berlempung (loamy) dengan struktur tanah lapisan atas remah.

Tabel 7. Parameter Fisika

No Parameter Abiotik Mei 2018 Desember 2018

1 Suhu (0C) 26,00 25,09

2 Kelembaban (%) 84 79

3 Curah Hujan (mm) 170 281.1

Menurut Permana (2015) faktor suhu, kelembaban dan curah hujan memiliki pengaruh besar terhadap rapatnya penutupan tanah oleh daun tanaman, menyebabkan penyerapan sinar matahri yang dapat ditembus hingga randah menjadi rendah. Menurut Swibawa, et al. (2006) bahwa rapatnya penutupan permukaan tanah oleh tanaman menyebabkan kelembaban udara dan tanah semakin tinggi. Menurut Odum (1993) dalam Permana (2015), temperatur atau suhu memberikan efek membatasi pertumbuhan organisme apabila keadaan ekstrim tinggi atau rendah, kelembaban tingi lebih baik bagi hewan tanah dari

pada kelembaban rendah. Jumar (2000) menambahkan bahwa serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana serangga dapat hidup.

Berdasarkan data parameter fisika, suhu di lokasi penelitian telah sesuai dengan kondisi pertumbuhan kopi sipirok. Menurut Balitbang Pertanian (2017) kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan kopi robusta, arabika dan liberika yaitu masing-masing berkisar 21 – 24; 15 – 25 dan 21 – 30°C. Curah hujan yang dibutuhkan kopi Robusta dan Arabika sama yaitu berkisar 1.250 – 2.500 mm/tahun sedangkan untuk kopi Liberika nilainya lebih tinggi yaitu berkisar 1.250 – 3.500 mm/tahun. lokasi TM memiliki pH sangat masam dan lokasi TBM memiliki pH masam. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (1995) dalam Khusnia (2017) bahwa pH tanah memiliki nilai terendah dibawah pH 4,5 bersifat sangat asam, antara pH 4,5 – 5,5 bersifat asam, pH 6,6-7,5 bersifat netral dan pH<7,5 bersifat alkalis.

Menurut Balitbang Pertanian (2017) kondisi keasaman (pH) yang sesuai untuk areal pertanaman kopi adalah pH 5,5 – 6,5. Atau oleh karena itu lokasi baik TM maupun TBM belum memenuhi kesesuaian kondisi tanah untuk kopi robusta.

Surya et al. (2017) menyatakan bahwa pH tanah pada pemberian pupuk organik memiliki rata-rata lebih tinggi dibanding dengan pemberian anorganik.

Artinya tekstur tanah klei mempunyai koloid tanah yang dapat melakukan kapasitas tukar kation yang tinggi. tanah yang banyak mengandung kation dapat berdisiosiasi menimbulkan reaksi yang lebih masam. Pada pemberian pupuk organik terdapatnya masukan bahan organik, sebaliknya pada pupuk anorganik tidak adanya masukan bahan organik. Bahan organik mempengaruhi besar kecilnya daya serap tanah akan air. Semakin banyak air dalam tanah maka semakin banyak reaksi pelepasan ion H+ sehingga tanah menjadi lebih masam.

Hasil analisis kandungan C-Organik tanah pada bulan Mei 2018 menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada TM dan pada bulan Desember 2018 menunjukkan hasil sebaliknya. C-Organik tanah pada areal pertanaman kopi TM baik pada bulan Mei 2018 maupun Desember 2018 termasuk pada kategori tinggi.

Sedangkan, kandungan C-Organik pada areal pertanaman kopi TBM termasuk pada kategori rendah pada bulan Mei 2018 dan termasuk pada kategori sangat tinggi pada bulan Desember 2018. Hal ini karena setelah pengambilan data petani melakukan pemberian pupuk kompos ke tanamannya, dan kemungkinan kompos belum matang atau belum terdekomposisi sempurna pada saat pengambilan sampel selanjutnya. Menurut Supriyadi (2008) dalam Nurrohman et al.(2018) kandungan bahan organik (C-organik) dalam tanah mencerminkan kualitas tanah, di mana kandungan bahan organik dikatakan sangat rendah apabila <2%, dan rendah apabila >2%, kandungan bahan organik yang berkisar 2-10% memiliki peranan yang sangat penting. Menurut Anwar (2009), menyatakan bahwa proses dekomposisi merupakan lepasnya ikatan-ikatan karbon yang kompleks menjadi ikatan yang sederhana akibat penggunaan unsur C oleh organisme untuk mendapatkan energi melalui proses respirasi dan biosintesis melepaskan CO2,

sehingga bahan organik yang telah mengalami proses dekomposisi akan mempunyai kadar C lebih rendah dibanding dengan kadar C bahan segar.

Menurut Balitbang Pertanian (2017) nisbah C dan N (C/N) yang sesuai untuk areal pertanaman kopi adalah 10-12. Oleh karena itu pada areal pertanaman kopi sipirok belum memenuhi kesesuaian lahan pertanaman kopi kecuali pada areal TBM (Desember 2018).

Menurut Syukur dan Indah. (2006) bahwa pemberian pupuk organik ke dalam tanah baik berupa kompos maupun pupuk kandang menyebabkan peningkatan kadar C-organik tanah.

Pendekomposisian bahan organik terhadap tanah bergantung pada laju proses pendekomposisiannya. Salah satu faktor bahan organik yang mempengaruhi pendekomposisian adalah nisbah carbon-nitrogen (C/N). Hanafiah (2007) menyatakan bahwa nisbah C/N merupakan indikator proses mineralisasi-im-mobilisasi N oleh mikroba dekomposer bahan organik. Apabila nisbah C/N lebih kecil dari 20 menunjukkan terjadinya mineralisasi N, apabila lebih besar dari 30 berarti terjadi immobilisasi N, sedangkan jika diantara 20-30 mineralisasi seimbang dengan immobilisasi. Menurut Hardjowigeno (1995) dalam Khusnia (2017) bahwa nisbah C/N termasuk sedang, jika memiliki nilai C/N 11-15.

Sehingga dapat diketahui bahwa nilai nisbah C/N pada penelitian ini tergolong rendah kecuali pada bulan Januari 2019 areal pertanaman kopi TBM yang memiliki nilai nisbah C/N sedang.

Adapun hubungan bahan organik tanah dengan serangga tanah yaitu bahan organik tanah sangat menentukan kepadatan populasi organisme tanah salah satunya

adalah serangga tanah di mana semakin tinggi kandungan organik tanah maka semakin beranekaragaman pada suatu ekosistem (Suin, 2012).

Komposisi dan jenis serasah daun menentukan jenis fauna tanah yang terdapat di daerah tersebut dan banyaknya serasah menentukan kepadatan serangga tanah tersebut. Material bahan organik merupakan sisa tumbuhan dan hewan organisme tanah, baik yang telah terdekomposisi maupun yang sedang terdekomposisi (Nurrohman et al, 2018).

Dari data yang didapat jumlah serangga lebih banyak terperangkap pada TBM dari pada TM hal ini dikarenakan dari survey yang dilakukan lewat wawancara dengan petani bahwa mereka tidak intensif melakukan penyemprotan atau pengendalian hama jika tanaman belum menghasilkan. Sehingga jumlah hama pada TM lebih sedikit. Pada TM dimusim hujan C/N lebih tinggi yaitu 9,88 dibandingkan pada musim kemarau 8,69. Begitu juga dengan TBM nilai C/N lebih tinggi pada musim penghujan. Hal ini kemungkinan karena adanya pemupukan yang dilakukan petani sebelum menjelang musim penghujan.

C-organik berperan sebagai sumber energi untuk serangga tanah yang menyebabkan aktivitas dan populasi meningkat sehingga dapat berperan dalam proses humifikasi dan mineralisasi atau pelepasan hara, sehingga keberadaan serangga tanah sebagai perombak bahan organik sangat menentukan ketersediaan hara dalam menyuburkan tanah. Semakin tinggi kandungan bahan organik dalam tanah maka tanah tersebut akan semakin subur begitu juga sebaliknya.

Dokumen terkait