Dari data yang diperoleh selama melakukan penelitian di PT.PP London Sumatra, Tbk Medan dan telah disajikan secara menyeluruh pada bab sebelumnya, maka data yang diperoleh melalui pemberian kuesioner kepada karyawan, akan dianalisis pada bab ini.
5.1. Variabel Penelitian
5.1.1. Kompetensi Sumber Daya Manusia (Variabel X)
Kompetensi sumber daya manusia sangat bermanfaat bagi kelancaran berlangsungnya suatu pekerjaan dalam perusahaan. Dengan adanya kompetensi yang memadai maka tujuan (visi dan misi) perusahaan akan dengan mudah tercapai. Kompetensi menunjukkan keterampilan dan pengetahuan yang dicirikan oleh profesionelisme dalam bidang tertentu.
Adapun yang menjadi indikator variabel kompetensi sumber daya manusia yaitu:
1. Pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan. Pertanyaan dari indikator ini terdiri dari tujuh pertanyaan. Pengetahuan yang menyangkut pekerjaan hampir sepenuhnya dimiliki oleh karyawan PT.PP London Sumatra,Tbk Medan. Hal tersebut dapat dilihat dari jawaban responden yang mayoritas menjawab sering dan sangat sering mengetahui pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan. Walaupun masih ada yang menjawab kadang-kadang saja mengetahui pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan. Hal ini yang menyebabkan kompetensi sumber daya manusia pada kategori rendah.
2. Keterampilan individu. Dalam hal ini penulis mempertanyakan keterampilan individu yang menyangkut kemampuan karyawan dalam berkomunikasi ke atas dan ke bawah dalam bentuk lisan maupun tulisan. Pada indikator ini diajukan lima pertanyaan yang diberikan pada 50 responden. Berdasarkan jawaban responden sebagian besar responden menjawab kadang-kadang saja memiliki kemampuan untuk berkomunikasi ke atas dan ke bawah dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kompetensi dalam hal ini masih rendah. Untuk itu perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan secara optimal, sehingga mereka memiliki kecakapan dalam berkomunikasi.
3. Indikator selanjutnya adalah sikap kerja. Kompetensi sumber daya manusia bukanlah menyangkut pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Namun juga menyangkut sikap dalam bekerja. Berdasarkan jawaban responden, sikap kerja karyawan PT.PP London Sumatra, Tbk Medan dapat dikatakan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari jawaban responden yang sering memiliki kreativitas, semangat kerja yang tinggi, dan sering memiliki kemampuan perencanaan dan pengorganisasian. Namun demikian masih ada responden yang menjawab kadang-kadang saja. Hal ini dapat diatasi dengan memeberikan motivasi yang lebih kepada karyawan. Sehingga sikap kerja mereka dapat ditingkatkan lagi.
5.1.2. Kinerja Karyawan (Variabel Y)
Kinerja merupakan aspek terpenting dalam perusahaan, karena apabila karyawan memiliki kinerja yang tinggi maka sasaran perusahaan akan akan tercapai sesuai yang diharapkan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kinerja karyawan dengan
indikator sebagai berikut: kesetiaan, prestasi kerja, kedisiplinan, kreativitas, kerja sama, kacakapan dan tanggung jawab.
a. Kesetiaan
Untuk meningkatkan kinerja, hal mendasar yang perlu diperhatikan karyawan untuk memperbaiki kesetiaannya adalah apakah karyawan setuju untuk bekerja sesuai dengan intruksi atasan. Berdasarkan hasil kuesioner, sebanyak 34 orang (68%) responden menjawab setuju untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan intruksi. 19 orang (38%) menjawab cukup setuju untuk bekerja sesuai dengan intruksi. Dan sisanya 2 orang (4%) menjawab sangat setuju untuk bekerja sesuai dengan intruksi. Dengan demikian kesetian karyawan untuk bekerja sesuai intruksi cukup tinggi.
Dalam mengerjakan tugas-tugas yang bukan menjadi tugas karyawan, sebanyak sebanyak 27 orang (54%) responden menjawab cukup setuju untuk mengerjakan tugas- tugas yang bukan menjadi tugasnya. Sebanyak 17 orang (34%) menjawab setuju untuk mengerjakan tugas-tugas yang bukan menjadi tugasnya. Sebanyak 4 orang (8%) menjawab tidak setuju untuk mengerjakan tugas-tugas yang bukan menjadi tugasnya. Sedangkan sisanya 2 orang (4%) menjawab sangat tidak setuju untuk mengerjakan tugas yang bukan menjadi tugasnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemauan karyawan untuk mengerjakan tugas yang bukan menjadi tugasnya sangat rendah. Hal tersebut menunjukkan tingkat kesetiaan karyawan yang rendah.
Kesetiaan karyawan juga dapat dilihat dari kemauan karyawan untuk lebih mengutamakan kepentingan perusahaan dari pada kepentingan pribadi. Dari hasil kuesioner, maka dapat dilihat bahwa 41 orang (82%) menjawab setuju untuk mengutamakan kepentingan perusahaan dari pada kepentingan pribadi. 5 orang
responden (10%) menjawab cukup setuju untuk mengutamakan kepentingan perusahaan. Sebanyak 3 orang (6%) menjawab tidak setuju untuk mengutamakan kepentingan perusahaan daripada kepentingan pribadi. Dan sisanya 1 orang (2%) menjawab sangat tidak setuju untuk mengutamakan kepentingan perusahaan dari pada kepentingan pribadi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mayoritas karyawan lebih mengutamakan kepentingan perusahaan daripada kepentingan pribadi. Karena dengan lebih mengutamakan kepentingan perusahaan maka, tujuan ( visi misi ) perusahaan akan mudah dicapai.
Kemudian, untuk mengukur kesetiaan karyawan juga dapat dilihat dari perilaku yang ditunjukan setiap hari. Kecendrungan responden menjawab cukup setuju bahwa kesetiaan karyawan dapat dilihat dari perilaku bekerja yang ditunjukkan sehari-hari sebanyak 31orang (62%). Responden yang menjawab setuju sebanyak 17 orang (34%). Sedangkan 1 orang (2%) menjawab sangat setuju dan 1 orang (2%) lagi menjawab tidak tidak setuju bahwa kesetiaan karyawan dapat dilihat dari perilaku yang ditunjukkan sehari-hari. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa sebagian besar karyawan setuju bahwa kesetiaan karyawan dapat dilihat dari perilaku yang ditunjukan sehari-hari. Namun demikian, masih ada karyawan yang menjawab tidak setuju. Untuk itu perlu di lakukan lagi motivasi terhadap karyawan yang bersangkutan.
b. Prestasi kerja
Prestasi kerja karyawan dapat membantu meningkatkan kinerja karyawan. kecendrungan responden sebanyak 25 orang (50%) menjawab cukup setuju bahwa prestasi kerja yang baik dapat meningkatkan kinerja. Sebanyak 17 orang (34%) responden menjawab setuju bahwa prestasi kerja yang baik dapat meningkatkan kinerja.
Sedangkan sisanya 8 orang (16%) menjawab sangat setuju prestasi kerja yang baik dapat meningkatkan kinerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar karyawan setuju bahwa prestasi kerja yang baik dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Untuk mengukur prestasi kerja dapat juga dilihat dari keberhasilan karyawan dalam melaksanakan tugas. Sebanyak 26 orang (52%) menjawab kadang-kadang saja berhasil dalam melaksanakan pekerjaan. Sebanyak 23 orang (46%) menjawab sering berhasil dalam melaksakana pekerjaan. Sedangkan sisanya 1 orang (2%) menjawab sangat sering berhasil dalam melaksanakan pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan adanya kecendrungan karyawan yang kadang-kadang saja berhasil dalam melaksanakan pekerjaan disebabkan kurangnya keterampilan dan pengetahuan mereka terhadap pekerjaan mereka. Dan yang menjawab sering berhasil melaksanakan pekerjaannya dikarenakan pengalaman dan pendidikan karyawan yang cukup. Untuk itu perlu adanya pemberian pendidikan yang lebih optimal agar dapat meningkatkan keberhasilan karyawan.
c. Kedisiplinan
Kedisiplinan pegawai dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melaksanakan instruksi yang diberikan kepadanya dapat menjadi tolak ukur kinerja. Untuk mengukur kedisiplinan seorang karyawan dapat dilihat dari terselesainya suatu pekerjaan tepat waktu sesuai dengan yang diharapkan. responden yang menjawab setuju untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditetapkan sebanyak 27 orang (54%). Sebanyak 18 orang (36%) menjawab cukup setuju untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Dan sisanya 5 orang (10%) menjawab sangat setuju untuk
menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebagian besar karyawan di PT.PP Lonsum, Tbk Medan setuju untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Kemudian, disiplin mengenai jam kerja yang telah ditetapkan juga merupakan indikator kedisplinan karyawan. Sebanyak 24 orang (48%) menjawab setuju untuk masuk kerja tepat waktu. Sebanyak 18 orang menjawab cukup setuju untuk masuk kerja tepat waktu. Sabanyak 6 orang (12%) menjawab sangat setuju untuk masuk kerja tepat waktu. Dan sisanya 2 orang (4%) menjawab tidak setuju untuk masuk kerja tepat waktu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masih ada karyawan yang tidak setuju untuk masuk kerja tepat waktu. Hal tersebut dikarenakan menurut mereka peraturan tentang masuk kerja terlalu pagi untuk karyawan yang rumahnya jauh. Responden yang menjawab setuju untuk masuk kerja tepat waktu karena menurut mereka waktu yang ditentukan sudah sesuai untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
Untuk selalu masuk kerja tepat waktu hasil kuesioner sebanyak 25 orang responden (50%) menjawab cukup setuju untuk masuk kerja tepat waktu. 22 orang (44%) menjawab setuju untuk masuk kerja tepat waktu. Dan 3 orang (6%) menjawab sangat setuju untuk masuk kerja tepat waktu. Dengan demikian dapat disimpulkan sebagian besar karyawan setuju untuk masuk kerja tepat waktu.
d. Kreativitas
Kemampuan karyawan dalam mengembangkan kreativitas dan mengeluarkan potensi yang dimiliki dalam menyelesaikan pekerjaanya sehingga pekerjaanya lebih berdaya guna dan berhasil guna.
Pertanyaan yang menyangkut kreativitas yaitu mengenai ide/gagasan/inisiatif untuk meningkatkan produktifitas. sebanyak 28 orang (56%) menjawab sering memiliki kreativitas menyangkut ide, gagasan, dan inisiatif. Sebanyak 18 0rang (36%) menjawab kadang-kadang saja memiliki ide, gagasan, dan inisiatif. Dan sebanyak 2 orang (4%) menjawab sangat sering memiliki kreativitas menyangkut ide, gagasan, dan inisiatif. Sebanyak 2 orang (4%) menjawab tidak pernah memiliki kreativitas menyangkut ide, gagasan, dan inisiatif. Untuk responden yang menjawab kadang-kadang saja memiliki ide, gagasan, dan inisiatif dikarenakan sering kali ide mereka tidak diterima pimpinan karena dirasa kurang cocok. Sehingga karyawan enggan untuk mengeluarkan ide lagi. Untuk itu perlu diadakannya pelatihan lagi kepada karyawan agar muncul dari diri karyawan untuk percaya diri dalam mengemukakan ide/gagasan/inisiatif.
Kreativitas karyawan juga dapat dilihat dari dalam melaksanakan pekerjaan, terlebih dahulu membuat perencanaan yang matang. Sebanyak 24 orang (48%) setuju dalam melaksanakan kerja terlebih dahulu membuat perencanaan yang matang. Responden yang menjawab cukup setuju dalam melaksanakan kerja terlebih dahulu membuat perencanaan yang matang sebanyak 23 orang (46%). Sebanyak 3 orang (6%) responden menjawab sangat setuju untuk membuat perencanaan yang matang. Dan sisanya sebanyak 2 orang (4%) menjawab tidak setuju untuk membuat perencanaan yang matang terlebih dahulu. Dengan demikian, dapat disimpulkan tidak semua karyawan memiliki kreativitas dalam membuat perencanaan yang matang. Namun, sebagian besar karyawan memilki kreativitas.
Ide karyawan untuk mengatasi masalah dalam pekerjaan juga merupakan kreativitas. sebanyak 28 orang (56%) menjawab kadang-kadang saja memiliki ide-ide
dalam mengatasi permasalahan merupakan karyawan yang berada pada karyawan biasa dan belum memiliki pengalaman kerja yang cukup. Sebanyak 20 orang (40%) menjawab sering memiliki ide-ide dalam mengatasi masalah merupakan karyawan pada level yang cukup tinggi dan sudah berpengalaman. 1 orang (2%) menjawab sangat sering memiliki ide-ide dalam mengatasi permasalahan kerja merupakan karyawan yang berada pada level tinggi dengan pendidikan dan pengalaman yang cukup. Sedangkan sisanya 1 orang (2%) menjawab tidak pernah memiliki ide-ide dalam mengatasi permasalahan. Dengan demikian, tidak semua karyawan memililki kreativitas dalam mengatasi masalah.
e. Kerja sama
Kerja sama dapaat diukur dari kessediaan karyawan dalam berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain, sehingga hasil pekerjaanya semakin baik. Kerja sama dapat dilihat dari dalam menyelesaikan pekerjaan selalu dibantu oleh rekan sekerja.
Sebanyak 25 orang (50%) menjawab sering dalam menyelesaikan pekerjaan dibantu oleh rekan sekerja. Hal demikian dikarenakan mereka menjunjung tinggi rasa kerja sama dalam tim. Sebanyak 24 orang (48%) menjawab kadang-kadang saja di bantu oleh rekan sekerja. Hal demikian karena masih adanya karyawan yang enggan untuk bekerja sama. Sisanya 1 orang (2%) menjawab tidak pernah di bantu oleh rekan sekerja dalam menyelesaikan pekerjaan. Dengan demikian, kemauan karyawan untuk bekerja sama dengan rekan sekerja dalam menyelesaikan pekerjaan cukup tinggi.
Sebanyak 28 orang (56%) menjawab setuju bahwa dengan memiliki rasa kerja sama yang tinggi akan meningkatkan kinerja. Sebanyak 15 orang responden (30%)
menjawab cukup setuju bahwa dengan memiliki rasa kerja sama yang tinggi akan meningkatkan kinerja. Sisanya 7 orang responden (14%) menjawab sangat setuju bahwa dengan adanya kerja sama kinerja karyawan akan meningkat. Dengan demikian dapat di simpulkan sebagian besar karyawan PT.PP Lonsum Tbk memiliki rasa kerja sama yang tinggi.
f. Kecakapan
Kecakapan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan yang telah dibebankan kepadanya juga menjadi tolak ukur dalam meningkatkan kinerja. Setiap karyawan harus memiliki kecakapan terhadap pekerjaan yang telah dibebankan oleh perusahaan. Sebanyak 33 orang responden (66%) menjawab setuju bahwa setiap karyawan harus memiliki kecakapan terhadap pekerjaan yang telah di bebankan. Sebanyak 13 orang responden (26%) menjawab cukup setuju bahwa setiap karyawan harus memiliki kecakapan terhadap pekerjaan yang telah di bebankan. Sisanya 4 orang reponden (8%) menjawab sangat setuju bahwa setiap karyawan harus memiliki kecakapan terhadap pekerjaan yang telah di bebankan. Dengan demikian dapat di simpulkan sebagian besar karyawan PT.PP Lonsum Tbk memiliki kecakapan terhadap pekerjaan yang telah di bebankan.
Kecakapan pegawai merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kinerja. Sebanyak 23 orang responden (46%) menjawab setuju bahwa setiap karyawan harus memiliki kecakapan terhadap pekerjaan yang telah di bebankan oleh perusahaan. Sebanyak 21 orang responden (42%) menjawab cukup setuju bahwa setiap karyawan harus memiliki kecakapan terhadap pekerjaan yang telah di bebankan oleh perusahaan. Sisanya sebanyak 6 orang (12%) menjawab sangat setuju. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar karyawan setuju bahwa kecakapan pegawai penting dalam meningkatkan kinerja.
g. Kerja sama
Kinerja pegawai juga dapat diukur dari kesediaan karyawan dalam mempertanggungjawabkan pekerjaan dan hasil pekerjaanya. Setiap karyawan harus memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam perusahaan. Sebanyak 27 orang responden (54%) menjawab sering memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap perusahaan. Sebanyak 20 orang responden (40%) menjawab kadang-kadang saja dapat memilki tanggung jawab yang tinggi terhadap perusahaan. Sisanya sebanyak 3 orang responden (6%) menjawab sangat sering memilki tanggung jawab yang tinggi dalam perusahaan. Dengan demikian dapat di simpulkan sebagian besar karyawan PT.PP Lonsum Tbk memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam perusahaan.
Setiap karyawan juga bertanggung jawab atas fasilitas dan sarana yang diberikan instansi untuk membantu pekerjaan. Sebanyak 25 orang responden (50%) menjawab cukup setuju untuk bertanggung jawab atas fasilitas dan sarana yang diberikan instansi untuk membantu pekerjaan. Sebanyak 23 orang responden ( 46%) menjawab setuju untuk bertanggung jawab atas fasilitas dan sarana yang diberikan instansi untuk membantu pekerjaan. Dan sisanya sebanyak 2 orang responden (4%) menjawab sangat setuju untuk bertanggung jawab atas fasilitas dan sarana yang diberikan.
Karyawan juga harus bertanggung jawab penuh atas segala hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan. Sebanyak 29 orang responden (58%) menjawab cukup setuju dalam bertanggung jawab penuh atas segala hasil-hasil yang di capai perusahaaan. Sebanyak 19 orang responden (38%) menjawab setuju dalam bertanggung jawab atas
segala hasil-hasil yang di capai oleh perusahan. Sisanya sebanyak 2 orang responden (4%) menjawab sangat setuju dalam bertanggung jawab penuh atas segala hasil-hasil yang dicapai perusahaan, karena dengan tanggung jawab penuh karyawan dapat dipercaya oleh atasannya.
5.2. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Karyawan PT.PP London Sumatra, Tbk Medan
Untuk membuktikan kebenaran hipotesa, ada tidaknya pengaruh kompetensi sumber daya manusia terhadap kinerja karyawan dicari dengan rumus Product Moment dan uji determinan.
5.2.1. Perhitungan Rumus Product Moment
Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kompetensi sumber daya manusia dengan kinerja karyawan, maka digunakan rumus Product Moment untuk mencari koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut.
Rumus Koefisien korelasi variable X terhadap Variabel Y digunakan rumus
Product Moment (Sugiyono, 2005: 212):
rXY =
( )( )
( )
[
∑
∑
−∑
∑
][
∑∑
−( )∑
]
− 2 2 2 2 Y Y N X X N Y X XY N Keterangan:n : Sampel
r : Koefisien korelasi
x : Variabel bebas
y : Variabel terikat
Dari hasil perhitungan tersebut akan memperlihatkan kemungkinan- kemungkinan sebagai berikut:
d. Koefisien korelasi yang diperoleh sama dengan nol (r=0), berarti hubungan kedua variable yang diuji tidak ada.
e. Koefisien korelasi yang diperoleh positif (r=+) artinya kenaikan nilai variable yang satu diikuti variable yang lain dan kedua variable memiliki hubungan positif.
f. koefisien korelasi yang diperoleh negative (r=-) artinya kedua variabel negative dan menunjukkan meningkatnya variable yang satu diikuti menurunnya variable yang lain.
∑X =2.657 ∑Y =3.419 ∑XY =182.119 ∑X2 =141.657 ∑Y2 =235.461 =
{
2}{
2}
50(182.119) (2657.3419) 50(141.657) (2657) 50(235.461) (3419) − − −= 9.105.950 9084.283 (7082.850 7059.649)(11.773.050 11.689.561) − − − = 21.667 (23.201)(83489) = 21.667 1.937.028.289 = 0.49
Hasil perhitungan koefisien korelasi tersebut adalah 0,49. Nilai r yang diperoleh adalah positif (r=+). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel positif, hal ini berarti ada pengaruh antara kompetensi sumber daya manusia dan kinerja karyawan.
Untuk mengetahui kadar lemah kuatnya koefisien korelasi, maka diperlukan interpretasi sebagai berikut:
Tabel 42. Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199 Sangat rendah 0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 - 0,799 Kuat 0,80 - 0,1000 Sangat kuat
Berdasarkan pedoman yang diberikan di atas, maka koefisien korelasi yang ditemukan sebesar 0,49 termasuk pada kategori sedang. Artinya, terdapat hubungan yang sedang antara variabel kompetensi sumber daya manusia dengan kinerja karyawan.
Selanjutnya untuk mengetahui kebenaran dari pengaruh kompetensi sumber daya manusia di PT.PP Lonsum, Tbk Medan. Perhitungan uji t ini dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
t-hitung = 2 r 1 2 n r −− t = 0,49 51 , 0 48 t = 0,49 94,11 t = 0,49 x 9,70 t = 4,753
Dariperhitungan diatas diperoleh t hitung = 4,753 dan pada taraf signifikan α=0,05 dan dk = n-2, 50-2 = 48, diperoleh t tabel dari daftar distribusi t sebagai berikut :
02 , 2 40 05 , 0 t = = 00 , 2 60 05 , 0 t = = tabel t 48 05 , 0 t = = ttabel = 2,02 + (2,02 2,00) 40 60 40 48 − − − t tabel = 2,02 + 0,4 (0,02) = 2,02 + 0,008 = 2,028
Dengan membandingkan antara t hitung dengan t tabel, maka diperoleh t hitung > t tabel atau 4,75 > 2,028 sehingga dapat diketahui bahwa Ha diterima dan Ho ditolak
berarti terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara konpetensi sumber daya manusia terhadap kinerja karyawan.
5.2.3. Koefisien Determinasi
Untuk mencari koefisien determinasi dilakukan dengan mengkuadratkan nilai r hitung yang telah diperoleh. Nilai r hitung adalah 0,49. Dengan demikian koefisien korelasinya adalah:
D= r2 x 100% = (0,49)2 x 100% = 0, 2401 x 100% = 24,01%
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa besarnya pengaruh variabel X (kompetensi sumber daya manusia) terhadap variabel Y (kinerja karyawan) adalah sebesar 24,01%. Hal ini disebabkan kompetensi sumber daya manusia di PT.PP London Sumatra, Tbk Medan berada pada kategori sedang, maka selebihnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini yaitu:
100% - D = 100% - 24,01 = 75,99%
Ini berarti ada sebesar 75,99% kinerja karyawan yang dipengaruh oleh variabel lain di luar penelitian ini.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana yang telah diuraikan dalam Bab IV dan V, maka dapat disimpulkan:
a. Kompetensi Sumber daya manusia di PT.PP Lonsum, Tbk Medan sudah cukup terlaksana. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel rekapitulasi kompetensi sumber daya manusia (tabel 40) berada pada kategori sedang. Artinya, kompetensi sudah cukup dimiliki semua karyawan PT.PP Lonsum, Tbk Medan. Kompetensi tidak dapat dikatakan tinggi karena masih ada karyawan yang memiliki kompetensi rendah. Hal tersebut disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki serta sikap kerja yang berhubungan dengan kreativitas, motivasi, dan perencanaan dan pengorganisasian. Dengan demikian, sistem tranning di PT.PP Lonsum, Tbk Medan belum terlaksana semaksimal mungkin. Untuk itu perlu adanya peningkatan teknik-teknik terhadap program yang berhubungan dengan kompetensi karyawan.
b. Kinerja merupakan tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Kinerja juga dapat dipandang sebagai proses tentang bagaimana pekerjaan berlangsung untuk mencapai hasil kerja. Kinerja karyawan di PT.PP Lonsum, Tbk Medan. Kinerja Karyawan di PT.PP Lonsum, Tbk Medan berada pada kategori rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel rekapitulasi kinerja karyawan (tabel 41) pada kategori rendah. Artinya, kinerja karyawan sangat
perlu ditingkatkan lagi agar menjadi optimal. Kinerja karyawan dapat diperbaiki dengan meningkatkan pengetahuan, keterampilan,
Dan sikap kerja yang lebih baik serta meningkatkan kesetiaan karyawan, prestasi kerja, kedisiplinan, kreativitas, kerjasama, tanggung jawab, dan kecakapan.
c. Uji korelasi antara variabel (X) kompetensi sumber daya manusia dan variabel (Y) kinerja karyawan maka dapat disimpulkan bahwan kompetensi sumber daya manusia sangat mempengaruhi kinerja setiap karyawan. Hal demikian dapat ditunjukkan dari hasil penelitian bahwa kompetensi yang dimiliki karyawan PT.PP London Sumatra berada kategori sedang mengakibatkan kinerja karyawan yang rendah. Kemudian, dapat dikatakan demikian karena diperoleh angka koefien (r) yang lebih besar dari nilai kritik. Dan apabila dilihat dari tinggi rendahnya tingkat koefisien, maka koefisien (r) yang diperoleh, yaitu 0,46 berada pada kategori atau tingkat sedang. Dengan demikian terdapat hubungan antara kompetensi sumber daya manusia dengan kinerja karyawan. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif, artinya jika kompetensi sumber daya manusia semakin tinggi maka kinerja karyawan akan meningkat begitu juga sebaliknya apabila kompetensi sumber daya manusia rendah maka kinerjanya akan rendah. Dengan membandingkan antara t hitung dengan t tabel. Maka dapat diketahui bahwa t hitung > t tabel. Dengan demikian koefisien korelasi 0,46 itu signifikan artinya terdapat pengaruh antara kompetensi sumber daya manusia terhadap kinerja karyawan. Maka, kompetensi sumber daya manusia mempengaruhi kinerja karyawan.
6.2. Saran
Setelah melakukan penelitian dengan melakukan observasi dan menyebarkan kuesioner di lapangan kepada karyawan PT.PP London Sumatra, Tbk Medan maka peneliti memberikan beberapa saran yang mungkin berguna bagi perusahaan untuk tetap dapat bertahan mempertahankan kompetensi sumber daya manusia terhadap peningkatan kinerja karyawan. Adapun saran-sarannya adalah:
1. Penerapan program Lonsum Improvement Project (LIP) sejauh ini belum sepenuhnya terlaksana, sebab masih ada karyawan yang belum mampu mengembangkan kompetensi pada dirinya masing-masing. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden mengenai kompetensi sumber daya manusia yang masih dalam kategori sedang. Berarti belum semua karyawan memiliki kompetensi yang memadai. Untuk itu program-program penegambangan dan pelatihan karyawan perlu dimaksimalkan lagi. Pelatihan dan pengembangan itu sendiri juga harus sesuai dengan kebutuhan karyawan atau sesuai dengan kategori kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya karyawan yang bekerja pada departemen sumber daya manusia (human capital resource) harus diberikan pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia itu sendiri. Selain itu, harus dilakukan evaluasi terhadap program itu sendiri. Hal-hal yang dianggap tidak sesuai harus dihilangkan dan mengganti teknik-teknik yang dianggap tidak adanya efisien dan efektif.
2. Kinerja karyawan pada PT.PP London Sumatra Tbk Medan berdasarkan hasil