• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suku Bangsa Kota Surabaya

4.2. Penyajian data

4.2.1 Identitas Responden

Narasumber 1 (Arab)

Nama : Anisah Aljufri

Usia : 47 tahun

Alamat : Khm Mansyur 179, Surabaya

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Narasumber 1 merupakan salah satu narasumber yang sesuai dengan target informan yang ditentukan, beliau lahir pada tahun 1965 yang artinya telah berumur lebih dari 35 tahun dan beliau sudah tinggal selama 40 tahun dikawasan ampel yang artinya sebelum tahun 1998.

Sebagai keturunan arab beliau menyadari adanya perbedaan suku dikawasan ampel, diantaranya adalah Arab, Tionghoa, Madura, Jawa, bahkan Banjarmasin.

Narasumber 2 (Cina)

Nama : Noersana

Usia : 67 tahun

Alamat : Ampel Lonceng 60, Surabaya

Pekerjaan : Pedagang (toko)

Narasumber 2 merupakan salah satu narasumber yang sesuai dengan target informan yang ditentukan, beliau lahir pada tahun 1946 yang artinya telah

berumur lebih dari 35 tahun dan beliau sudah tinggal selama kurang lebih 60 tahun dikawasan ampel yang artinya sebelum tahun 1998.

Sebagai keturunan Cina (Tionghoa) beliau menyadari adanya perbedaan suku dikawasan ampel, diantaranya adalah Arab, Tionghoa, Madura dan Jawa.

Narasumber 3

Nama : Djuwariyah (Jawa)

Usia : 52 tahun

Alamat : Kalimas Madya 1/42

Pekerjaan : Pedagang (toko)

Narasumber 3 merupakan salah satu narasumber yang sesuai dengan target informan yang ditentukan, beliau lahir pada tahun 1960 yang artinya telah berumur lebih dari 35 tahun dan beliau sudah tinggal selama 25 tahun dikawasan ampel yang artinya sebelum tahun 1998.

Sebagai keturunan Jawa beliau menyadari adanya perbedaan suku dikawasan ampel, diantaranya adalah Arab, Tionghoa, Madura, Jawa.

Narasumber 4

Nama : H. Sokim (Madura)

Usia : 57 tahun

Alamat : Kalimas Hilir 1/1 , Surabaya

Pekerjaan : pedagang (Optik rumahan)

Narasumber 4 merupakan salah satu narasumber yang sesuai dengan target informan yang ditentukan, beliau lahir pada tahun 1955 yang artinya telah berumur lebih dari 35 tahun dan beliau sudah tinggal selama kurang lebih 35 tahun dikawasan ampel yang artinya sebelum tahun 1998.

Sebagai keturunan Madura beliau menyadari adanya perbedaan suku dikawasan ampel, diantaranya adalah Arab, Jawa, Madura dan sebagian kecil Cina (Tionghoa)

Narasumber 5

Nama : Hasan Widjaya (jawa-cina)

Usia : -- tahun

Alamat : Khm mansyur ---, Surabaya

Pekerjaan : pedagang (toko)

Narasumber 5 merupakan salah satu narasumber yang sesuai dengan target informan yang ditentukan, beliau lahir pada tahun ---- yang artinya telah berumur lebih dari 35 tahun dan beliau sudah tinggal sejak lahir dikawasan ampel yang artinya sebelum tahun 1998.

Meski beliau mengaku keturunan Jawa murni namun 2 narasumber lain yang ternyata sudah kenal lama dengan beliau mengungkapkan bahwa bapak hasan widjaya adalah keturunan campuran Jawa dan Cina dan Sebagai keturunan campuran beliau menyadari adanya perbedaan suku dikawasan ampel, diantaranya adalah Jawa, Madura, Cina, Arab.

Narasumber 6

Nama : Muhammad bajuber (arab-madura)

Usia : 55 tahun

Alamat : Kalimas Madya 1/19-21, Surabaya

Pekerjaan : Wiraswasta (garmen)

Narasumber 6 merupakan salah satu narasumber yang sesuai dengan target informan yang ditentukan, beliau lahir pada tahun 1957 yang artinya telah berumur lebih dari 35 tahun dan beliau sudah tinggal selama 55 tahun dikawasan ampel yang artinya sebelum tahun 1998.

Sebagai keturunan campuran Arab - Madura beliau menyadari adanya perbedaan suku dikawasan ampel, diantaranya adalah Madura, Jawa, Arab, Cina, India.

4.3 Analisa Data

Menurut Gudykunst dan Kim terdapat empat hal yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya, yaitu cultural (budaya), sosiocultural, psikocultural, dan faktor eksternal lingkungan.

4.3.1 Cultural

Gudykunst dan Kim berpendapat, pengaruh budaya dalam model itu meliputi faktor-faktor yang menjelaskan kemiripan dan perbedaan budaya, misalnya pandangan dunia (agama), bahasa, juga sikap terhadap manusia.

Narasumber satu yang merupakan keturunan Arab merasa nyaman dengan kebiasaan masing-masing suku seperti suku jawa yang tata cara hidupnya hampir sama , Cina yang memiliki kesibukan masing-masing meski jarang berinteraksi namun tidak mengganggu dan bisa saling bertoleransi, interaksi narasumber dengan orang dari suku tionghoa hanya sebatas bisnis. kecuali kebiasaan suku Madura pendatang yang tidak memiliki tempat, mereka menempel seenaknya didepan rumah orang dan hal ini cukup mengganggu, namun bagi Orang-orang madura lainnya yang sudah memiliki KTP dan tinggal di tempat yang tetap dan benar beliau tidak ada masalah.Untuk penanganan masalahnya beliau lebih memilih untuk mengalah.

Untuk penggunaan bahasa, cukup terlihat bahasa Indonesia dan bahasa

Jawa khas Ampel yang digunakan oleh narasumber seperti kata “kita orang ‘(kita)”,ndak ada (tidak ada), nyampeken (menyampaikan),dan lain-lain.

Menurut narasumber satu pengetahuan masyarakat Ampel akan agama adalah penyebab kerukunan sampai saat ini, Islam mengajarkan kita untuk rukun dan menghargai siapapun dan berasarkan hasil wawancara, narasmber kita adalah orang yang masih memikirkan orang lain meski dia terganggu, hal ini dibuktikan dengan narasumber kita masih mempertanyakan dimanakah pedagang kaki lima akan ditempatkan?

Menurut narasumber dua yang merupakan keturunan tionghoa, beliau juga merasa nyaman dengan kebiasaan masing-masing suku dikawasan Ampel baginya semua suku sama baik, beliau juga tidak memiliki keluhan terhadap suku lainnya. Narasumber 2 memilih tidak memeluk sebuah agama namun dia memiliki anak yang memeluk agama kristen protestan dan katholik, bagi beliau seseorang bebas memilih agama, beliau juga mengaku dulu dekat dengan beberapa orang arab yang saat ini sudah meninggal, orang-orang arab tersebut mengajak narasumber kita memeluk agama islam, namun narasumber kira menjawab dengan gurauan “ndak ah, repot” beliau juga menggunakan kata ganti suku arab yang sering digunakan oleh suku arab untuk menyebut dirinya sendiri yaitu “jammaah”.

Untuk penggunaan bahasa peneliti juga menemukan bahasa yang hampir sama dengan narasumber 1 yaitu gabungan bahasa Indonesia dan Bahasa jawa khas Ampel seperti “ndak ada” (tidak ada), “laine, apane, banyak’e” (lainnya, apanya, banyaknya-bahasa Indonesia yan diberi Imbuhan jawa).

Narasumber tiga yang merupakan keturunan Jawa juga merasa nyaman dengan kebiasaan masing-masing suku khususnya tinggal berdampingan dengan suku arab. Untuk penggunaan bahasa juga cukup terlihat bahasa Indonesia dan

bahasa Jawa khas Ampel yang digunakan oleh narasumber seperti kata “,ndak ada “ (tidak ada), “laine”,dll

Menurut narasumber tiga selalu ingat pada Tuhan YME adalah cara untuk menghindari konflik, hal ini dibuktikan dengan jawaban yang diberikan atas pertanyaan peneliti mengenai bagaimana cara narasumber mencegah konflik, yaitu dengan “istighfar yang banyak”

narasumber empat juga merasa nyaman tinggal dikawasan Ampel, baginya setiap suku memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, narasumber juga mengaku tidak punya keluhan terhadap suku lainnya. Untuk penggunaan bahasa, cukup terlihat bahasa Indonesia dan bahasa Jawa khas Ampel serta penggunaan bahasa serta logat madura yang digunakan oleh narasumber seperti kata “ndak ada” (tidak ada),”medit” (pelit),”cerek”(pelit),dll. Peneliti sempat tidak mengerti dengan istilah yang disampaikan narasumber (noise), namun naraumber bisa menjelaskannya.

Narasumber lima yang merupakan keturunan campuran Jawa dan Cina juga merasa nyaman dengan keragaman suku yang tinggal didaerah Ampel, namun beliau mengeluhkan keberadaan orang madura dan jawa yang berjualan kaki lima didepan tokonya karena sering membuat kegaduhan dan rusuh. Untuk penanganan masalahnya beliau memilih untuk mengusir orang tersebut dari dekat rumahnya. Untuk penggunaan bahasa, sedikit terlihat bahasa Indonesia dan bahasa Jawa khas Ampel yang digunakan oleh narasumber sisanya adalah bahasa Indonesia dan bahasa jawa pada umumnya.

Narasumber pada awalnya ragu untuk menyebutkan agamanya namun setelah peneliti meyakinkan keterbukaan sikap barulah beliau mengatakan beragama kristen protestan. Beberapa acara agama yang dilakukan dikediaman narasumber dilakukan di belakang rumahnya, agar tidak menyebabkan salah paham antar umat beragama, meskipun menurut beliau masyarakat sekitar juga tidak bermasalah atau tidak ada yang terganggu.

Narasumber enam yang merupakan keturunan campuran Arab dan Madura juga merasa nyaman dengan kebiasaan masing-masing suku seperti suku arab yang berpegang pada aturan agamanya, Suku madura yang mengikuti hal serupa, Suku jawa yang lebih menerapkan adat istiadat dan sopan santun, sedangkan menurut beliau hanya terjadi sedikit interaksi dengan suku tionghoa karena suku tionghoa lebih fokus bekerja, menurut pemaparan beliau dahulu pada masa masih anak-anak beliau sering bermain dengan turunan tionghoa namun sejak usia 14 tahun, anak-anak keturunan tionghoa dikawasan Ampel lebih memilih untuk beraktifitas diluar kawasan Ampel meski mereka masih bertempat tinggal didaerah Ampel. Beliau mengaku pernah beberapa kali terjadi konflik yang melibatkan oknum antar suku namun tidak sampai meluas karena jika terjadi konflik maka penanganan atau pemecahan masalahnya bisa dilakukan dengan empat cara yaitu melalui orang tua, Masyarakat, bantuan tokoh, hingga polisi untuk mendamaikan. Untuk penggunaan bahasa, cukup terlihat bahasa Indonesia dan bahasa Jawa khas Ampel yang digunakan oleh narasumber seperti kata “kita orang ‘(kita)”,ndak ada (tidak ada), kebanyaen (kebanyakan),dan lain-lain.

Menurut narasumber enam fondasi masyarakat Ampel adalah agama sehingga tidak ada yang namanya perbedaan, hak-hak individu adalah sama dimata agama, Islam memang telah mengajarkan kita sebuah aturan mana yang benar dan mana yang salah, dan bagi yang beragama lain beliau yakin setiap agama pasti mengajarkan kebaikan.

Hampir seluruh narasumber menganggap semua suku yang tinggal di

Ampel adalah orang yang baik, suku tidak bisa menjadi tolak ukur karakter atau sifat seseorang namun dua orang narasumber menyatakan bermasalah dengan suku madura pendatang dengan alasan yang berbeda, narasumber satu merasa terganggu karena penggunaan tempat yang sembarangan atau menumpang didepan rumah orang lain dan narasumber lima memiliki prasangka terhadap suku madura yang dianggap suka memfitnah. Narasumber empat yang merupakan orang Madura mempunyai pandangannya yang cukup unik yakni sebagian orang arab itu pelit dan juga terdapat prasangka kepada sebagian orang dari suku jawa yang jikalau marah bisa menyantet (ilmu hitam)

Khusus pandangan terhadap suku Cina (tionghoa) seluruh narasumber kecuali suku tionghoa itu sendiri menyatakan bahwa keturunan tionghoa yang tinggal di Ampel adalah orang yang baik namun mereka tidak terlalu dekat secara hubungan sosial dengan suku cina, interaksi yang terjadi hanya seputar bisnis. Mayoritas narasumber menyatakan tidak memiliki keluhan sama sekali, hanya narasumber 1 dan narasumber 5 yang memiliki keluhan, seperti yang peneliti jelaskan di poin sebelumnya narasumber satu memiiki masalah dengan sebagian suku madura yang membuka warung didepan rumah atau gudang

dikawasan Ampel dan untuk penenganan masalahnya narasumber satu lebih memilih untuk diam dan mengalah sedangkan narasumber 5 memilih mengusir pedagang kaki lima tersebut.

Hampir seluruh narasumber menyatakan tidak pernah terjadi konflik antar suku yang melibatkan dirinya, kecuali narasumber lima yang beberapa kali mengalami konflik pribadi yang melibatkan orang dari suku yang berbeda dan sebagai penanganan masalahnya narasumber lima memilih untuk melaporkan je atasan orang yang berangkutan atau mengusir orang yang bermasalah tersebut.

Narasumber enam mengaku pernah menyaksikan beberapa konflik individu yang meibatkan oknum antar suku dan menurut beliau mekanisme penangananya dapat dilkukan dengan empat cara yakni melalui orang tua, Masyarakat, bantuan tokoh, hingga polisi untuk mendamaikan

Empat narasumber memilih untuk memeluk agama Islam dan menurut mereka kerukunan yang terjalin dikawasan Ampel dikarenakan tingkat pengetahuan agama Islam yang cukut tinggi dimengerti dan ditaati oleh masyarakat Ampel, menurut mereka Islam telah mengajarkan bagaimana hidup berdampingan, hubungan saling menghargai dan sebagai panutan mana yang salah dan mana yang benar, sebagai agama mayoritas tentunya cukup mempengaruhi persamaaan persepsi anggotanya.

Dua narasumber memilih agama lain narasumber 2 (tionghoa) memilih tidak memeluk agama, namun beliau sangat terbuka dengan kebebasan beragama karena didalam keluarga intinya terdapat pemeluk agama kristen dan katholik. Narasumber 5 (jawa-cina) memilih memeluk agama kristen protestan, beliau

sangat menjaga agar pilihannya dan acara agamanya tidak mengganggu tetangga sekitar yang memeluk agama mayoritas.

Beberapa narasumber setuju bahwa semua agama pasti mengajarkan kebaikan sehingga siapapun yang berpegang teguh pada agama pastilah orang yang baik.

Seluruh narasumber mengaku memperlakukan dan berkomunikasi dengan siapapun dengan cara yang sama, peneliti juga menemukan adanya kesamaan bahasa yang digunakan oleh seluruh narasumber yaitu gabungan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia khas Ampel seperti : “kita orang” nyampekken”,laine”,dll.

Kesamaan bahasa membuat minimnya hambatan atau gangguan komunikasi yang terjadi (noise), memang ditemukan juga adanya sedikit percampuran bahasa arab namun hal ini dimengerti oleh anggota suku yang lain.

4.3.2 Sosiokultural

Sosiokultural adalah pengaruh yang menyangkut proses penataan sosial. keanggotaan dalam kelompok sosial (kelompok budaya sendiri maupun kelompok antarbudaya), konsep diri, ekspektasi peran, dan defenisi mengenai hubungan antarpribadi juga akan mempengaruhi bagaimana cara seseorang mempersepsi pesan.

Narasumber satu mengakui ada sandi atau penyebutan khusus yang dilakukan Suku Arab untuk menyebut suku lainnya, pada awalnya peneliti mengira ada rasisme disini namun ternyata sandi atau kode tersebut hanyalah bahasa arab dari suku tersebut seperti ahwal untuk suku jawa yang ternyata

bermakna awal atau pertama, maksudnya adalah suku pertama yang mendiami pulau jawa.

Narasumber satu mengaku tidak memiliki kelompok khusus yang berisi orang dari satu suku saja karena didalam kelompoknya baik arisan maupun pengajian juga memiliki anggora dari suku yang lain maupun campuran sehinggga pandangan akan suku yang lain bervariasi namun mengarah pada pandangan yang positif, meski tidak menutup kemungkinan masih hada hal negatif namun tidak pernah dipermasalahkan.

Narasumber dua mengaku tidak memiliki kelompok khusus yang berisi orang dari satu suku saja karena didalam kelompoknya (kelompok Olahraga) juga memiliki anggora dari suku yang lain maupun campuran dan pandangan kelompoknya tentang suku yang lain baik-baik saja, namun narasumber kita mengerti dengan detail siapa saja dan dimana saja warga turunan tionghoa yang tinggal dikawasan Ampel.

Narasumber tiga mengaku memiliki beberapa kelompok baik yang berisi orang dari satu suku saja maupun kelompok yang berangotakan suku campuran. Beliau mengakui adanya pandangan negatif beberapa oknum dalam kelompoknya terhadap suku lainnya namun beliau memilih untuk menghindari oknum tersebut.

Narasumber empat mengaku memiliki kelompok khusus yang beranggotakan hanya suku madura yaitu kelompok otok-otok atau semacam arisan menurut narasumber, menurut beliau pandangan kelompoknya juga baik terhadap suku yang lain, meski pada saat wawancara beliau juga menunjukkan adanya prasangka terhadap suku yang lain dan dibenarkan oleh dua orang teman

beliau yang juga merupakan keturunan suku Madura, hal ini akan peneliti bahas pada poin psikocultural.

Narasumber lima sedikit bermasalah pada awalnya untuk menyebutkan

kelompoknya meskipun itu adalah kelompok agama, namun pada pertanyaan poin cultural beliau menyatakan bahwa ada beberapa acara agama yang dilakukan dirumahnya dan itu mengundang banyak suku tionghoa, peneliti berasumsi bahwa beliau tidak terlalu dekat dengan kelompok tersebut sehingga filter sosiocultural tidah terlalu berdampak bagi narasumber.

Senada dengan pemaparan narasumber 1, beliau (narasumber 6) mengakui ada sandi atau penyebutan khusus yang dilakukan Suku Arab untuk menyebut suku lainnya, namun hal ini tidak bermakna negatif hanya penyebutan saja, atau bahasa arab dari karakter orang tersebut. Narasumber kita mengaku tidak memiliki kelompok khusus yang berisi orang dari satu suku saja karena didalam kelompoknya baik kelompok pengajian maupun teman sekolah masa kecil juga memiliki anggora dari suku yang lain maupun suku campuran sehinggga pandangan anggota kelompok tersebut berbeda-beda terhadap tiap suku, bagi beliau sesuatu yang dianggap orang lain benar bisa aja salah menurut persepsinya.

Peneliti menemukan hanya masyarakat dari suku Arab saja yang membuat kode atau sandi penyebutan namun hal itu tidak bermakna negatif sama sekali hanya bahasa arab dari karakter atau ciri orang tersebut seperti ahwal untuk suku jawa yang berarti awal atau pertama yakni suku yang pertama mendiami pulau

jawa, atau jammaah untuk orang arab berarti bersama-sama,dll. Penggunaan bahasa khusus juga dimengerti oleh suku lain yang tinggal dikawasan ampel.

Mayoritas narasumber mengaku tidak memiliki kelompok yang berisi satu suku saja, karena anggota kelompoknya adalah gabungan dari masing-masing suku meski juga diakui ada suku tertentu yang jumlahnya dominan. Sebagian narasumber ada yang memiliki kelompok dengan satu suku saja namun mereka tidak tahu pasti bagaimana pandangan masing-masing anggota kelompoknya, memang diakui ada stereotip maupun pranangka yang dibahas oknum didalam kelompoknya, namun itu hanya bagian kecil saja sehingga tidak pernah ditanggapi, sejauh ini mayoritas anggota kelompok narasumber menanggapi positif perbedaan suku dan budaya yang ada.

4.3.3 Psikocultural,

Psikocutural mencakup proses penataan pribadi (personal dan sikap (misalnya etnosentrisme dan prasangka) terhadap kelompok lain. Stereotip dan sikap menciptakan pengharapan mengenai bagaimana orang lain akan berperilaku. Pengharapan itu pada akhirnya mempengaruhi cara kita menafsirkan rangsangan yang datang dan prediksi yang dibuat mengenai perilaku orang lain

Pada narasumber satu memang terlihat adanya prasangka dalam skala

yang kecil terhadap suku yang lainnya seperti Suku Madura dengan keras dan Cina yang memiliki kata pengganti bermakna negatif untuk suku Arab, namun hal ini tidak menjadi perhatian besar karena bagi narasumber masih ada suku Madura yang lebih sopan dan tidak mengganggu, begitu pula dengan karakter suku Cina

yang tidak pernah mengganggu meski mereka tinggal di satu tempat tanpa memiliki interaksi sosial yang dekat, meski berasal dari keturunan suku Arab namun narasumber kita merasa sudah menjadi orang Indonesia seutuhnya. Peneliti tidak menemukan adanya stereotip rasisme, maupun etnosentrisme. Berikut

narasumber 2 merasa sangat nyaman tinggal dikawasan Ampel sehingga beliau tidak pernah berniat untuk pindah. Peneliti tidak menemukan adanya stereotip, prasangka, rasisme, maupun etnosentrisme.

narasumber 3 merasa sangat nyaman tinggal dikawasan Ampel sehingga beliau tidak pernah berniat untuk pindah. Peneliti tidak menemukan adanya stereotip, prasangka, rasisme, maupun etnosentrisme pada diri narasumber, cara menjawab dan jawaban narasumber menunjukkan bahwa narasumber adalah orang yang religius dan penyabar.

Pada narasumber empat terlihat adanya stereotip seperti masyarakat dari suku arab itu “medit atau cerek” yang artinya pelit meski dikatakan setelahnya hanya sebagian yang seperti itu , terlihat pula prasangka terhadap sebagian suku Jawa yang dikatakan bisa “nyantet” kalau marah. namun hal ini tidak menjadi perhatian besar karena bagi narasumber masih ada suku arab dan jawa yang baik, sedangkan dengan keturunan tionghoa narasumber mengaku hanya berinteraksi sebatas bisnis. Peneliti menemukan adanya stereotip,dan prasangka meski dalam skala yang kecil.

Pada narasumber lima juga terlihat adanya prasangka terhadap suku Madura yang menurut beliau suka memfitnah namun peneliti tidak menemukan adanya stereotip, rasisme, maupun etnosentrisme. Berikut kutipan Jawaban beliau: Peneliti tidak menemukan adanya stereotip, Prasangka rasisme, maupun etnosentrisme pada narasumber enam , menurut beliau persepsi masing-masing masyarakat Ampel bukan dari sukunya tapi dari agama karena mayoritas memeluk Islam.

Seluruh narasumber mengaku aman dan nyaman tinggal dikawasan Ampel Surabaya, alasan mereka merasa nyaman juga senada yakni mereka sudah meraa cocok dengan lingkungannya dan mayoritas warga menurut mereka baik dan bisa saling menghargai, semua narasumber juga menyatakan ingin terus tinggal dikawasan Ampel hal ini menunjukkan tingginya tingkat kenyamanan mereka. bahkan narasumber 5 yang sering memiliki masalah pun merasa nyaman tinggal dikawasan Ampel

Seluruh narasumber mengaku tidak memiliki pandangan buruk terhadap suku lainnya namun penuturan sebagian narasumber tentang karakter masing-masing suku menunjukkan adanya stereotip dan prasangka meski dalam tingkatan yang rendah. narasumber empat memberikan stereotip bahwa sebagian suku arab itu pelit dan memiliki prasangka bahwa sebagian suku jawa kalau marah suka bermain ilmu hitam (anehnya meski narasumber empat mengaku pandangan kelompoknya positif pada poin sosiocultural namun keterangan ini dibenarkan oleh dua rekan satu suku narasumber yang pada saat wawancara ada disebelahnya). Narasumber lima juga memiliki prasangka bahwa suku madura

mempunyai kebiasaan suka menfitnah. Peneliti tidak menemukan adanya rasisme maupun etnosentrisme dari keterangan narasumber.

4.3.4 Lingkungan

Faktor terakhir yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya adalah faktor lingkungan. Lingkungan disini adalah lokasi dan waktu terjadinya proses komunikasi, tidak dapat kita pungkiri bahwa lokasi dan waktu yang berbeda akan mempengaruhi kenyamanan seseorang sehingga orang tersebu akan mempersepsi suatu hal secara berbeda pula.

Bagi narasumber satu tinggal di daerah religi tentunya membuat sebagian besar masyarakatnya mampu mengerti dan menghargai orang lain sesuai tuntunan agama, dan kebutuhan ekonomi dalam hal ini kegiatan saling membutuhkan membuat mereka melakukan kerjasama setiap harinya, kedua faktor ini yang menyebabkan kerukunan di kawasan Ampel tetap terjaga.

Bagi narasumber dua tinggal berdampingan dengan suku Arab yang dia sebut “jammaah” membuat beliau merasa nyaman karena mengingatkan beliau pada bantuan yang diberikan orang-orang “jammaah” untuk mengamankan rumah dan barang dagangannya saat tragedi mei 1998 dan kebutuhan ekonomi dalam hal ini kegiatan saling membutuhkan membuat mereka melakukan kerjasama setiap harinya, kedua faktor ini yang menyebabkan kerukunan di kawasan Ampel tetap terjaga.

Bagi narasumber tiga tinggal di daerah Ampel memliki sebuah keuntungan yaitu masyarakatnya beratu, tidak ada namanya perbedaan suku

Dokumen terkait