Dalam bab ini menguraikan dan manganalisa data yang telah
diperoleh langsung dari sumbernya yaitu untuk melihat hubungan tingkat pendidikan dengan lapangan kerja penduduk di Sumut nenurut SAKERNAS 2007.
BAB 5 : IMPLEMENTASI SISTEM
Pada bab ini berisi tentang cara memasukkan data dan menganalisis data pada program Microsoft Excel.
BAB 6 : KESIMPULAN DAN SARAN
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
dari evaluasi dan saran dari tugas akhir ini.
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pengertian-Pengertian
Lapangan pekerjaan adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/ usaha/ perusahaan/ kantor tempat seseorang bekerja.
Pekerjaan utama adalah jika seseorang hanya mempunyai satu pekerjaan, maka pekerjaan tersebut digolongkan sebagai pekerjaan utama. Bila pekerjaan yang dilakukan lebih dari satu, maka pekerjaan utama adalah pekerjaan yang dilakukannya dengan waktu terbanyak. Jika waktu yang digunakan sama, maka pekerjaan yang memberi penghasilan terbesar dianggap sebagai pekerjaan utama. Seseorang dikatakan mempunyai pekerjaan lebih dari satu apabila pekerjaan yang dilakukan berada di bawah pengelolaan yang terpisah.
Pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah tingkat pendidikan yang dicapai seseorang setelah mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi suatu tingkatan sekolah formal dengan mendapatkan tanda tamat/ ijasah.
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 2.2 Statistik non Parametrik
Metode statistik non parametrik atau sering juga disebut metode bebas sebaran adalah test yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat yang mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya. Oleh karena itu observasi-observasi independen dan variabel yang diteliti pada dasarnya memiliki kontinuitas.
Dalam kegiatan penelitian, biasanya lebih banyak digunakan analisa statistik parametrik dari pada statistik non parametrik. Statistik parametrik digunakan jika kita telah mengetahui model matematis dan distribusi populasi suatu data yang akan dianalisis. Jika kita tidak mengetahui suatu model distribusi populasi dari suatu data dan jumlah data relatif kecil atau asumsi kenormalan tidak selalu dapat dijamin penuh, maka kita harus menggunakan statistik non parametrik (statistik bebas sebaran).
Statistik non parametrik mempunyai kelebihan atau keunggulan yaitu kebanyakan prosedur parametrik memerlukan asumsi dalam jumlah yang minimal maka kemungkinan untuk beberapa prosedur non parametrik perhitungan-perhitungan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, terutama bila terpaksa dilakukan dengan manual. Jadi penggunaan prosedur-prosedur ini menghemat waktu yang diperlukan untuk perhitungan dan ini merupakan bahan pertimbangan bila hasil penyajian harus secara tersaji atau bila mesin hitung berkemampuan tinggi tidak tersedia. Dengan statistik non parametrik para peneliti dengan dasar matematik dan statistik yang kurang biasanya konsep dan metode prosedur non parametrik mudah dipahami. Prosedur-prosedur non parametrik boleh diterapkan bila data telah diukur dengan menggunakan skala pengukuran.
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
Sedangkan kelemahan dari statistik non parametrik adalah perhitungan-perhitungan yang dibutuhkan untuk kebanyakan prosedur non parametrik cepat dan sederhana, prosedur-prosedur ini kadang-kadang digunakan untuk kasus-kasus yang lebih tepat bila ditangani prosedur-prosedur non parametrik sehingga cara seperti ini sering menyebabkan pemborosan informasi. Meskipun prosedur non parametrik terkenal karena prinsip perhitungan yang sederhana, pekerjaan hitung-menghitung selalu membutuhkan banyak tenaga dan akan menimbulkan kejenuhan.
Dalam implementasi, penggunaan prosedur yang tepat merupakan tujuan dari peneliti. Beberapa parameter yang dapat digunakan sebagai dasar penggunaan statistik non parametrik :
1. Hipotesis yang diuji tidak melibatkan parameter populasi
2. Skala yang digunakan lebih lemah dari skala prosedur parametrik 3. Asumsi-asumsi parametrik tidak terpenuhi.
2.3 Uji Chi-Kuadrat
Uji Chi-kuadrat merupakan salah satu prosedur non parametrik yang dapat digunakan dalam analisis statistik yang sering digunakan dalam praktek. Teknik Chi-kuadrat (Chi-square; Chi dibaca : kai ; simbol dari huruf Yunani: χ2) ditemukan oleh Helmet pada tahun 1875, tetapi baru pada tahun 1900, pertama kali diperkenalkan kembali oleh Karl Pearson.
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
Uji Chi-kuadrat digunakan untuk menguji kebebasan antara dua sampel (variabel) yang disusun dalam tabel baris kali kolom atau menguji keselarasan dimana pengujian dilakukan untuk memeriksa ketergantungan dan homogenitas apakah data sebuah sampel yang diambil menunjang hipotesis yang menyatakan bahwa populasi asal sampel tersebut mengikuti suatu distribusi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, uji ini dapat juga disebut uji keselarasan (goodness of fit test), karena untuk menguji apakah sebuah sampel selaras dengan salah satu distribusi teoritis (seperti distribusi normal, uniform, binomial dan lainnya).
Pada kedua prosedur tersebut selalu meliputi perbandingan frekuensi yang teramati dengan frekuensi yang diharapkan bila H0 yang ditetapkan benar, karena dalam penelitian yang dilakukan data yang diperoleh tidak selamanya berupa data skala interval saja, melainkan juga data skala nominal, yaitu yang berupa perhitungan frekuensi pemunculan tertentu.
Perhitungan frekuensi pemunculan juga sering dikaitkan dengan perhitungan persentase , proporsi atau yang lain yang sejenis. Chi-kuadrat adalah teknik statistik yang dipergunakan untuk menguji probabilitas seperti itu, yang dilakukan dengan cara mempertentangkan antara frekuensi yang benar-benar terjadi, frekuensi yang diobservasi, observe frequencies (disingkat F0 atau O) dengan frekuensi yang diharapkan, expected frequencies (disingkat Fh atau E).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan Chi-kuadrat, yaitu : 1. Chi-kuadrat digunakan untuk menganalisa data yang berbentuk frekuensi.
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
2. Chi-kuadrat tidak dapat digunakan untuk menentukan besar atau kecilnya korelasi dari variabel-variabel yang dianalisa.
3. Chi-kuadrat pada dasarnya belum dapat menghasilkan kesimpulan yang
memuaskan.
4. Chi-kuadrat cocok digunakan untuk data kategorik, data diskrit atau data nominal.
Cara memberikan interpretasi terhadap Chi-kuadrat adalah dengan menentukan df (degree of freedom) atau db (derajat bebas). Setelah itu berkonsultasi tabel harga kritik Chi-kuadrat. Selanjutnya membandingkan antara harga Chi-kuadrat dari hasil perhitungan dengan harga kritik Chi-kuadrat, akhirnya mengambil kesimpulan dengan ketentuan :
1. Bila harga Chi-kuadrat (χ2) sama atau lebih besar dari tabel Chi-kuadrat maka hipotesa nol (H0) ditolak dan hipotesa alternatif (Ha) diterima.
2. Bila harga Chi-kuadrat (χ2) lebih kecil dari tabel Chi-kuadrat maka hipotesa nol (H0) diterima dan hipotesa alternatif (Ha) ditolak.
Ada beberapa persoalan yang dapat diselesaikan dengan mengambil manfaat dari Chi-kuadrat diantaranya adalah :
2.3.1 Uji Independen antara Dua Faktor
Banyak data hasil pengamatan yang dapat digolongkan ke dalam beberapa faktor, karakteristik atau atribut terdiri dari beberapa klasifikasi, kategori, golongan atau mungkin tingkatan. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap fenomena demikian
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
akan diselidiki mengenai asosiasi atau hubungan atau kaitan antara faktor-faktor itu, bisa dikatakan bahwa faktor-faktor itu bersifat independen atau bebas, tepatnya bebas statistik. Selain daripada itu akan diselidiki ada atau tidaknya pengaruh mengenai beberapa taraf atau tingkatan sesuatu faktor terhadap kejadian fenomena.
Secara umum untuk menguji independen antar dua faktor dapat dijelaskan sebagai berikut : misalkan diambil sebuah sampel acak berukuran n, dan tiap pengamatan tunggal diduga terjadi karena adanya dua macam faktor I dan II. Faktor I terbagi atas b taraf atau tingkatan dan faktor II terbagi atas k taraf. Banyak pengamatan yang terjadi karena taraf ke-i faktor ke I (i = 1,2,...,b) dan taraf ke-j faktor ke II (j = 1,2,...,k) akan dinyatakan dengan Oij. Hasilnya dapat dicatat dalam sebuah daftar kontingensi b x k. Pasangan hipotesis yang akan diuji berdasarkan data dengan memakai penyesuaian persyaratan data yang diuji sebagai berikut : Ho : Kedua faktor bebas statistik
H1 : Kedua faktor tidak bebas statistik
Tabel yang disajikan akan dianalisis untuk setiap sel yang diperlukan kemudian dibentuk tabel kontingensi. Dari tabel tersebut di atas agar dapat dicari hubungan antara faktor-faktor dengan menggunakan statistik uji Chi-kuadrat.
Pengujian eksak sukar digunakan, karena di sini hanya akan dijelaskan pengujian yang bersifat pendekatan. Untuk itu diperlukan frekuensi teoritik atau banyak gejala yang diharapkan terjadi, di sini akan dinyatakan dengan Eij.
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
Rumusnya adalah sebagai berikut : n n n Eij =( io× oj)/ Dengan: ij
E = Banyak data teoritik (banyak gejala yang diharapkan terjadi)
io
n = jumlah baris ke-i
oj
n = jumlah kolom ke-j
n = total jumlah data
Dengan demikian misalnya didapat nilai dari teoritik masing-masing data :
11 E = (n x 10 n )/ n ; 01 E = (12 n x10 n )/ n 02 21 E = (n x 20 n )/ n ; 01 E = (22 n x20 n )/ n 02 dan seterusnya... Jelas bahwa n = n + 10 n + ... + 20 n = bo n + 01 n + ... + 02 nok
Sehingga nilai statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis di atas adalah :
∑∑
= = −=
b i k j ij ij ijE
E
O
1 1 2 2( )
χ
Dengan : 2 χ = Chi-kuadratOij = Jumlah observasi untuk kasus-kasus yang dikategorikan dalam baris ke-i dan kolom ke-j
Eij = Banyak kasus yang diharapkan untuk dikategorikan dalam baris ke-i dan kolom ke-j
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
Dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Tolak H0 jika χ2hitung ≥ χ2tabel
Terima H0 jika χ2hitung < χ2tabel
Dalam taraf nyata α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) untuk distribusi Chi-Kuadrat adalah ( b-1 )( k-1), dalam hal yang lainnya kita terima hipotesis H0.
2.3.2 Koefisien Kontingensi
Kegunaan teknik koefisien kontingensi yang diberi simbol C, adalah untuk mencari atau menghitung keeratan hubungan antara dua variabel yang mempunyai gejala ordinal (kategori), paling tidak berjenis nominal.
Cara kerja atau perhitungan koefisien kontingensi sangatlah mudah jika nilai Chi-kuadrat sudah diketahui. Oleh karena itu biasanya para peneliti menghitung harga koefisien kontingensi setelah menemukan harga Chi-kuadrat. Test signifikansi yang digunakan tetap menggunakan tabel kritik Chi-kuadrat, dengan derajat kebebasan (db) sama dengan jumlah kolom dikurangi satu dikalikan dengan jumlah baris dikurangi satu (b-1)(k-1). Rumus untuk menghitung koefisien kontingensi adalah :
N C hitung hitung + = 2 2 χ χ Keterangan :
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
C = Koefisien kontigensi
χhitung2 = Hasil perhitungan Chi-Kuadrat N = Banyak data
Dari data yang dianalisis maka dapat dibentuk daftar kontingensi frekuensi yang diamati seperti tabel 2.1 di bawah ini :
Tabel 2.1 Daftar Kontingensi
FAKTOR II (K TARAF) JUMLAH 1 2 …. K F A KT O R I (B T AR AF ) 1 O11 O12 …. O1k N10 2 O12 O22 …. O2k N20 … … … … … … … … … … … … B OB1 OB2 …. OBk nB0 Jumlah N01 N02 …. n0k N
Dimana : faktor I dan faktor II adalah faktor-faktor yang membentuk daftar kontingensi dengan b baris dan k kolom. nij adalah frekuensi yang diamati.
∑
==
b i ij iE
N
1 ) ( ; i = 1,2,3,...,b∑
==
k j ij jE
N
1 ) ( ; j = 1,2,3,...,kSelain itu frekuensi yang diharapkan dari frekuensi yang diamati dapat dilihat dengan rumus :
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. n n n Eij =( io× oj)/ Dengan : ij
E : frekuensi yang diharapkan
n : jumlah data yang diamati
Dari rumus di atas dapat disusun tabel kontingensi dari frekuensi yang diharapkan seperti pada tabel 2.2 di bawah ini :
Tabel 2.2 Daftar Kontingensi dari Frekuensi yang Diharapkan
FAKTOR II (K TARAF) JUMLAH 1 2 …. K F A KT O R I (B T AR AF ) 1 E11 E12 …. E1k n10 2 E12 E22 …. E2k n20 … … … … … … … … … … … … B EB1 EB2 …. EBk nB0 Jumlah n01 n02 …. n0k N 2.4 Hipotesa
Hipotesa secara etimologis dibentuk dari dua kata yaitu, kata hypo yang berarti kurang dan thesis yang berarti pendapat. Jadi hypotesis artinya suatu kesimpulan yang masih kurang, yang masih belum sempurna. Pengertian ini kemudian diperluas dengan maksud sebagai kesimpulan yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
dengan membuktikan kebenaran hipotesa tersebut. Pembuktian ini hanya dapat dilakukan dengan menguji hipotesis dengan data di lapangan.
Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki untuk menentukan hipotesa adalah : 1. Hipotesa harus muncul dan hubungannya dengan teori serta masalah yang
diteliti.
2. Setiap hipotesis adalah kemungkinan jawaban terhadap persoalan yang diteliti. 3. Hipotesis harus dapat diuji atau terukir tersendiri untuk menetapkan hipotesis
yang besar kemungkinannya didukung oleh data empirik.
Perlu diingat, apapun syarat suatu hipotesis, yang jelas bahwa penampilan setiap hipotesis adalah bentuk statement, yaitu pernyataan tentang sifat atau keadaan hubungan dua atau lebih variabel yang akan diteliti.
Adapun jenis hipotesis yang mudah dimengerti adalah hipotesis nol (H0), hipotesis alternatif (Ha), hipotesis kerja (Hk). Tetapi yang biasa adalah H0 yang merupakan antara dua variabel x dan variabel y yang akan diteliti atau variabel independen (x) tidak mempengaruhi variabel dependen (y).
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. BAB 3
TENTANG DAERAH RISET
3.1 Sejarah Singkat Sumatera Utara
Di zaman Pemerintahan Belanda, Sumatera merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gonvernement van Sumatera, yang meliputi seluruh Sumatera, dikepalai oleh seorang Gouverneur berkedudukan di Medan. Sumatera terdiri dari daerah-daerah administrative yand dinamai keresidenan.
Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera tetap merupakan suatu kesatuan pemerintahan yaitu Provinsi Sumatera yang dikepelai oleh seorang Gubernur dan terdiri dari daerah-daerah Administratif Keresidenan yang dikepalai oleh seorang Residen.
Pada Sidang I Komite Nasional Daerah (K.N.D) Provinsi Sumatera, mengingat kesulitan-kesulitan perhubungan ditinjau dari segi pertahanan, diputuskan untuk membagi Provinsi Sumatera menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan Keresidenan Tapanuli), sun Provinsi Sumatera Tengah dan sub Provinsi Sumatera Selatan. Dalam perkembangan selanjutnya melalui Undang-undang No.10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948, Pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu :
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
1. Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidena Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.
2. Provinsi Sumatera Tengah yang meliputi Keresidenan Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.
3. Provinsi Sumatera Selatan yang meliputi Keresidenan Bengkulu,
Palembang, Lampung, dan Bangka Belitung.
Dengan mendasarkan kepada Undang-undang No.10 Tahun 1948, atas usul Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan suratnya tanggal 16 Februari 1973 No.4585/25, DPRD Tingkat I Sumatera Utara dengan keputusannya tanggal 13 Agustus No.19/K/1973 telah menetapkan bahwa hari jadi Provinsi Sumatera Utara adalah tanggal 15 April 1948 yaitu tanggal ditetapkannya Undang-undang No.10 Tahun 1948 tersebut.
Pada awal Tahun 1949 berkaitan dengan meningkatnya serangan Belanda diadakanlah reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Pada waktu itu, keadaan memerlukan suatu sistem pertahanan yang lebih kokoh dan sempurna. Oleh karena itu, perlu diputuskan alat-alat kekuatan sipil dan militer dalam tiap-tiap Daerah Militer Istimewa yang berada dalam satu tangan yaitu Gubernur Militer. Sehingga penduduk sipil dan militer berada di bawah kekuasaan satu pemerintah.
Perubahan demikian ini ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 16 Mei 1949 No.21/Pem/P.D.R.I., yang diikuti Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 17 Mei 1949 No.22/Pem/P.D.R.I. Jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan.
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
Gubernur yang bersangkutan diangkat menjadi komisaris dengan tugas-tugas memberi pengawasan dan tuntutan terhadap pemerintahan, baik sipil maupun militer. Selanjutnya dengan intruksi Dewan Pembantu dan Penasehat Wakil Perdana Menteri tanggal 15 September 1949, Sumatera Utara dibagi menjadi 2 daearah Militer Istimewa yaitu Aceh dan Tanah Karo diketuai oleh Gubernur Militer Dr. F.L. Tobing.
Selanjutnya dengan ketetapan Pemerintah Darurat R.I dalam bentuk Peraturan Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Desember 1949 No.8/Des/W.K.P.M dibentuklah Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/ Sumatera Timur. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.5 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, Peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Agustus 1949 N0.8/Des/W.K.P.M tahun 1949 tesebut dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara dengan daerah yang meliputi daerah Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Selanjutnya dengan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, pada waktu RIS, ditetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia terbagi atas beberapa daerah-daerah Provinsi, yaitu :
1. Jawa Barat 2. Jawa Tengah 3. Jawa Timur 4. Sumatera Utara 5. Sumatera Tengah 6. Sumatera Selatan 7. Kalimantan 8. Sulawesi
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
9. Maluku 10.Sunda Kecil
Pada tanggal 7 Desember 1956 diundangkanlah Undang-undang No.24 Tahun 1956 yaitu Undang-undang tentang pembentukan daerah otonom Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Pasal 1 Undang-undang No.24 Tahun 1956 ini menyebutkan :
1. Daerah Aceh yang meliputi Kabupaten-kabupaten Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh barat, Aceh selatan, Kota Besar Kutaraja, daerah-daerah tersebut dipisahkan dari lingkungan Daerah Otonom Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.5 Tahun 1950 sehingga daerah-daerah tersebut menjadi daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan nama Provinsi Aceh.
2. Provinsi Sumatera Utara tersebut dalam ayat (1) yang wilayahnya telah dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai daerah Otonom Provinsi Aceh, tetap disebut Provinsi Sumatera Utara.
Berdasarkan Undang-undang Darurat No.7 Tahun 1956, Undang-undang Darurat No.8 Tahun 1956, Undang-undang No.9 Tahun 1956, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.4 Tahun 1964, Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 17 Kabupaten/Kota. Tetapi dengan terbitnya Undang-undang No.12 Tahun 1998, tentang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Undang-undang No.4 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Padangsidimpuan, Undang-undang No.9 Tahun 2003 tentang pembentukan
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
Kabupaten Nias Selatan, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat, serta Undang-undang No.36 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Samosir dan Serdang Bedagai, dan pada Tahun 2007 dibentuk Kabupaten Batubara melalui Undang-undang No. 5 tahun 2007, kemudian pada tanggal 10 Agustus 2007 disahkan Undang-undang No.37 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Padang Lawas Utara, dengan demikian wilayah Provinsi Sumatera Utara pada Juni 2008 sudah menjadi 21 Kabupaten dan 7 Kota. Adapun Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut :
a. Wilayah Kabupaten : 1) Nias
2) Mandailing Natal (Madina) 3) Tapanuli Selatan
4) Tapanuli Utara 5) Tapanuli Tengah 6) Toba Samosir (Tobasa) 7) Labuhan Batu 8) Asahan 9) Simalungun 10) Dairi 11) Karo 12) Deli Serdang 13) Langkat 14) Nias Selatan 15) Humang Hasundutan 16) Pakpak Bharat
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
17) Samosir
18) Serdang Bedagai 19) Batubara
20) Padang Lawas Utara 21) Padang Lawas b. Wilayah Kota 1) Sibolga 2) Tanjung Balai 3) Pematang Siantar 4) Tebing Tinggi 5) Medan 6) Binjai 7) Padangsidimpuan
Seiring dengan pemberlakuan Undang-undang No.22 tentang Otonomi Daerah, maka pengaturan rumah tangga daerah telah berada pada kewenangan pemerintah Kabupaten/ Kota. Berkaitan dengan hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tanggal 31 Juli 2001 untuk membentuk Dinas-Dinas sebagai institusi teknis di dalam melaksanakan tugas dan fungsi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Adapun Dinas-Dinas tersebut adalah : Dinas Pertanian
Dinas Peternakan
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Kehutanan
Dinas Perikanan dan Kelautan Dinas Sosial
Dinas Penataan Ruang dan Pemukiman Dinas Tenaga Keja dan Transmigrasi Dinas Perhubungan
Dinas Perkebunan Dinas Pendapatan
Dinas Jalan dan Jembatan Dinas Pengairan
Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Dinas Pertambangan dan Energi
3.2 Potensi dan Masalah Pembangunan Sumatera Utara
3.2.1 Potensi Pembangunan Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara memiliki potensi daerah yang sangat potensial untuk didayagunakan untuk mengembangkan kapasitas daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara. Sebagian potensi yang ada telah
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
termanfaatkan namun masih tersedia potensi yang lebih besar untuk pembangunan ke depan.
Potensi-potensi yang dimiliki Sumatera Utara adalah : 1. Potensi Sumber Daya Alam terbaharui.
2. Potensi Produk Agribisnis Unggulan 3. Potensi Pariwisata
4. Potensi Sumber Daya Manusia
5. Potensi Modal Sosial dan Modal Spritual 6. Potensi Infrastruktur dan Energi.
Yang hanya dijelaskan pada karya tulis ini adalah Potensi Sumber Daya Manusia. Sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan. Sumber daya manusia yang dimaksud mencakup sumber daya manusia pengusaha, sumber daya manusia teknokrat (ilmuwan) dan sumber daya manusia birokrat (pengusaha).
Provinsi Sumatera Utara memiliki SDM yang potensial baik pengusaha mulai dari petani/nelayan, pedagang, pengusaha UKMK, pengusaha besar maupun SDM teknokrat (ahli-ahli) yang ada di Perguruan Tinggi. SDM Sumatera Utara memiliki karakteristik yang unik antara lain daya juang tinggi, berani, progresiv, mandiri dan terbuka, yang sangat sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Selama ini Sumatera Utara sudah terkenal sebagai ”pencetak” SDM nasional, baik sebagai pengusaha, ilmuwan maupun birokrat. Pada bidang pengusaha saat ini banyak pengusaha kelas nasional yang berasal dari Sumatera Utara. Demikian juga
Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.
SDM Ilmuwan Nasional dan SDM Birokrat Nasional banyak yang berasal dari Sumatera Utara. Sumatera Utara tercatat sebagai pengekspor SDM bermutu ke daerah lain.
3.2.2 Permasalahan Pokok Pembangunan Sumatera Utara
Saat ini masyarakat Sumatera Utara menghadapi permasalahan pokok pembangunan yang memerlukan pemecahan segera. Permasalahan pokok pembangunan yang dimaksud antara lain sebagai berikut.