• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN LAPANGAN

KERJA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

TUGAS AKHIR

KARTIKA FEBRIANI BR.KARO

062407075

DEPARTEMEN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN LAPANGAN

KERJA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Ahli Madya

KARTIKA FEBRIANI BR.KARO

062407075

DEPARTEMEN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. PERSETUJUAN

Judul : HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN

LAPANGAN KERJA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

Kategori : TUGAS AKHIR

Nama : KARTIKA FEBRIANI BR.KARO

Nomor Induk Mahasiswa : 062407075

Progam Studi : DIPLOMA-3 STATISTIKA

Departemen : MATEMATIKA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

( FMIPA ) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Diluluskan di Medan, Mei 2009

Diketahui/Disetujui oleh

Departemen Matematika FMIPA USU Pembimbing

Ketua

Dr. Saib Suwilo, M.Sc Drs. Rachmad Sitepu, M.Si

(4)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. PERNYATAAN

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN LAPANGAN KERJA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

TUGAS AKHIR

Saya mengakui bahwa tugas akhir ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Juni 2009

(5)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. PENGHARGAAN

Puji dan syukur Penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan

karuniaNyalah sehingga Penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini tepat pada

waktunya.

Tugas akhir ini berjudul “Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Lapangan

Kerja di Provinsi Sumatera Utara”.

Pada kesempatan ini, Penulis menyampaikan ucapan terimakasih atas bantuan,

bimbingan dan nasehat-nasehat yang tidak ternilai kepada semua pihak yang telah

membantu Penulis dalam penyelesaian Tugas Akhir ini terutama kepada :

1. Bapak Dr. Edi Marlianto, M.Sc selaku Dekan Fakultas MIPA USU.

2. Bapak Dr. Sutarman, M.Sc selaku Pembantu Dekan 1 FMIPA USU.

3. Bapak Dr. Saib Suwilo, M.Sc selaku Ketua Departemen Matematika FMIPA.

4. Bapak Drs. Swarno Ariswoyo, M.Si selaku Koordinator Program Studi

Statistika D-III FMIPA.

5. Bapak Drs. Rachmad Sitepu, M.Si selaku Dosen Pembimbing penulis yang

telah banyak memberi dukungan, bimbingan serta saran dalam penulisan

Tugas Akhir ini.

6. Orang tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan dorongan dan motivasi

kepada Penulis.

7. Teman-teman yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada Penulis.

Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini masih jauh

dari sempurna. Karena itu dengan tangan terbuka Penulis menerima segala kritik dan

saran yang bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan Tugas Akhir ini.

Penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan

(6)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Akhir kata, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak

yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.

Medan, Mei 2009

Penulis,

KARTIKA FEBRIANI BR.KARO

(7)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 1.5 Metodologi Penelitian 5 1.5.1 Variabel yang diamati 7

1.5.2 Lokasi dan Waktu 7 1.5.2.1 Lokasi 7 1.5.2.2 Waktu 7 1.6 Tinjauan Pustaka 8

1.7 Sistematika Penulisan 9 BAB 2 Tinjauan Teoris 11 3.1 Sejarah singkat Sumatera Utara 22

3.2 Potensi dan masalah pembangunan Sumatera Utara 28 3.2.1 Potensi pembangunan Sumatera Utara 28 3.2.2 Permasalah pokok pembangunan Sumatera Utara 30 3.3 Visi dan Misi pembangunan Sumatera Utara 31

3.3.1 Visi 32

3.3.2 Misi 33

3.4 Fungsi Sistem pendidikan sebagai pemasok tenaga kerja terdidik 37 3.5 Beberapa Saran untuk menghasilkan tenaga kerja terdidik 37

BAB 4 Analisa dan Evaluasi

(8)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

4. 1 Hubungan Tingkat pendidikan dengan lapangan kerja 42

BAB 5 Implementasi Sistem 50

5.1 Pengenalan Microsoft Exel 50

5.2 Tipe Data dalam Microsoft Exel 53

5.3 Fungsi Statistik 54

5.4 Membuat Grafik pada Microsoft Exel 54

BAB 6 Kesimpulan dan Saran 58

6.1 Kesimpulan 58

6.2 Saran 58

(9)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Daftar Kontingensi 19

Tabel 2.2 Daftar Kontingensi Frekuensi yang Diharapkan 20

Tabel 4.1 Data Tingkat Pendidikan Penduduk Menurut Lapangan Kerja 42

Tabel 4.2 Daftar Frekuensi yang Diharapkan 46

Tabel 4.3 Penentuan Harga Chi-Kuadrat 47

(10)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1 Hubungan antar Tingkat Pendidikan dan Lapangan Kerja 43

Gambar 5.1 Mengaktifkan Microsoft Excel 51

Gambar 5.2 Tampilan Lembar Kerja Microsoft Excel 51

Gambar 5.3 Kotak Dialog Chart Wizard Step 1 of 4 55

Gambar 5.4 Kotak Dialog Chart Wizard Step 2 of 4 55

Gambar 5.5 Kotak Dialog Chart Wizard Step 3 of 4 – Chart Option 56

(11)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan upaya dapat mempercepat pengembangan potensi manusia

untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya. Jadi, pendidikan

merupakan suatu kebutuhan yang semakin penting agar generasi Indonesia bisa

bersaing dalam persaingan lokal maupun Internasional. Tetapi di Indonesia

pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu masih menjadi

masalah utama dalam sektor pendidikan, sedangkan pendidikan yang berkualitas

tentunya akan membentuk SDM yang berkualitas juga.

Dewasa ini banyak lontaran kritik terhadap sistem pendidikan yang pada

dasarnya mengatakan bahwa perluasan kesempatan belajar cenderung telah

menyebabkan bertambahnya pengangguran tenaga terdidik daripada bertambahnya

tenaga produktif yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Kritik ini tentu saja

beralasan karena data sensus penduduk memperlihatkan kecenderungan yang menarik

bahwa proporsi jumlah tenaga penganggur dari lulusan pendidikan yang lebih tinggi

ternyata lebih besar dibandingkan dengan proporsi tenaga penganggur dari lulusan

yang lebih rendah (Sensus Penduduk, 1990). Dengan kata lain, persentase jumlah

penganggur tenaga sarjana (tamatan perguruan tinggi) lebih besar dibandingkan

dengan persentase jumlah penganggur lulusan SMA atau jenjang pendidikan yang

(12)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Oleh karena itu, bagi individu yang bisa melanjutkan pendidikan ke Perguruan

Tinggi pada umumnya didasari harapan adanya peluang kerja dan pengembangan

karier yang lebih terbuka pada masa mendatang. Adanya kenyataan peluang

mendapatkan pekerjaan yang semakin sulit akibat kebijakan ekonomi politik negara

yang belum berpihak pada terbukanya lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi

rakyat menjadikan tidak adanya jaminan bagi tamatan perguruan tinggi memiliki

kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan. Kondisi ini berpotensi dalam

memunculkan kecemasan akan kesulitan lapangan pekerjaan pada mahasiswa tingkat

akhir yang bila tidak di kelola dengan baik kecemasan tersebut akan memiliki dampak

merugikan bagi kehidupan individu karena setiap orang pasti mendambakan suatu

pekerjaan, ini disebabkan karena kerja merupakan aktivitas dasar dan aktivitas sosial

yang memiliki bagian esensial dari kehidupan manusia serta memberikan isi dan

makna pada kehidupan. Dalam lapangan ilmu Psikologi bekerja merupakan salah satu

tugas masa perkembangan dewasa awal, yaitu tugas perkembangan pada individu

yang berusia 21-40 tahun.

Fenomena susahnya orang berpendidikan tinggi mendapatkan kerja di

negerinya sendiri (tentu dengan gaji yang "layak") itu bukan menjadi monopoli khas

Indonesia. Harap diingat di negara-negara padat penduduk seperti India, Pakistan,

Iran, Mesir atau China misalnya kejadian yang sama juga mereka alami. Betapa

banyak lulusan perguruan tinggi dari negara yang disebutkan di atas terpaksa bekerja

mengadu nasib di luar negeri karena di negaranya tidak ada lowongan yang memadai.

Jadi, dari permasalahan ini penulis ingin meneliti apakah masih ada hubungan antara

(13)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. “Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Lapangan Kerja di Provinsi Sumatera

Utara”.

1.2 Perumusan Masalah

Kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat ditentukan oleh tingkat pendidikannya.

Dalam dunia pasar kerja, kualitas SDM juga merupakan bahan pertimbangan utama

dalam pemenuhan lapangan pekerjaan yang tersedia.

Dari sebab itu, persoalan yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah

apakah benar anggapan atau pendapat bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang

dimiliki penduduk maka semakin mudah untuk mendapatkan suatu pekerjaan atau

tingkat pendidikan yang dimiliki tidak berpengaruh sama sekali dalam mendapatkan

suatu pekerjaaan, yang mungkin diakibatkan karena terbatasnya lapangan pekerjaan.

1.3 Batasan Masalah

Untuk mengarahkan penelitian agar tidak menyimpang dari sasaran yang dituju, maka

perlu membuat pembatasan ruang lingkup permasalahan yaitu menganalisa hubungan

tingkat pendidikan dengan lapangan kerja.

Disini tingkat pendidikan dibagi menjadi 6 bagian, yaitu :

1. Tidak/ Belum pernah sekolah

2. Tidak/ Belum tamat SD

(14)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

4. SLTP

5. SMTA

6. Akademi / PT

Dan lapangan pekerjaan utama dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :

1. Pertanian

2. Industri

3. Perdagangan

4. Jasa

1.4 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa dekat hubungan antara

tingkat pendidikan dan lapangan pekerjaan utama, untuk mengetahui seberapa besar

kontribusi yang diberikan pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :

1. Mengetahui bagaimana cara meningkatkan kompetensi pendidikan

(pengetahuan, keahlian, pengalaman) agar sesuai dengan tuntutan pekerjaan di

lapangan.

2. Untuk dapat mengambil kebijaksanaan dari ketenagakerjaan yang

(15)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 1.5 Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data

SAKERNAS 2007 untuk SUMUT yang bertujuan untuk menganalisa hubungan

tingkat pendidikan dan lapangan pekerjaan utama yaitu menggunakan analisa

Chi-Kuadrat yang diuji dengan :

Oij: jumlah observasi untuk kasus-kasus yang dikategorikan dalam baris ke-i dan

kolom ke-j.

Eij : Banyak kasus yang diharapkan untuk dikategorikan dalam baris ke-i dan kolom

ke-j

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut :

Tolak H0 jika χ2

hitung ≥ 2

χ tabel

Terima H0 jika χ2 hitung < χ2 tabel

Dalam taraf nyata α= 0.05 dan derajat kebebasan (dk) untuk distribusi Chi Kuadrat

adalah (b-1)(k-1).

Setelah mendapatkan harga Chi Kuadrat, biasanya kita menghitung harga

(16)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

menghitung keeratan hubungan antara dua variabel yang mempunyai gejala ordinal

(kategori), paling tidak berjenis nominal. Rumus yang digunakan adalah:

C =

C = Koefisien kontingensi

2

χ hitung = Hasil perhitungan Chi Kuadrat

N = Banyak data

Harga koefisien kontingensi maksimum dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Cmaks =

m m 1

Dengan m adalah harga minimum antara b dan k atau antara baris dan

kolom. Dengan membandingkan C dengan Cmaks maka keeratan hubungan variabel I

dan II ditentukan oleh persentasenya. Hubungan itu disimbolkan dengan Q dan

mempunyai nilai antar -1 dan 1. Bila harga Q mendekati 1 maka hubungan tambah

erat dan bila Q menjauhi 1 maka hubungan semakin kurang erat.

Q = ×100

maks

C C

(17)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 1.5.1 Variabel yang diamati

Variabel yang diamati dalam hubungan tingkat pendidikan dan lapangan pekerjaan

utama yaitu variabel bebas (independen variabel) adalah lapangan pekerjaan utama

sedangkan variabel terikat (dependen variabel) adalah tingkat pendidikan penduduk.

Hipotesis penelitian :

H0 = tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dan lapangan pekerjaaan utama

di Sumut.

H1 = ada hubungan antara tingkat pendidikan dan lapangan pekerjaan utama di

Sumut.

1.5.2 Lokasi dan Waktu

1.5.2.1 Lokasi

Lokasi penelitian adalah BPS Sumatera Utara Jl.Asrama No.179 Medan.

1.5.2.2 Waktu

Penelitian ini dilakukan selama 30 hari yaitu tanggal 10 Februari sampai dengan 10

(18)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 1.6 Tinjauan Pustaka

Suryadi, Ace “Analisis Kebijakan Pendidikan”

Titik singgung antar pendidikan dan pertumbuhan ekonomi ialah produktivitas tenaga

kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan, semakin tinggi

produktivitas kerja, semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi

suatu masyarakat (teori Human Capital).

Soepeno, Bambang “Statistik Terapan”

Chi kuadrat adalah teknik analisis statistik untuk mengetahui signifikansi perbedaan

antara proporsi (dan atau probabilitas) subjek atau objek penelitian yang datanya telah

dikategorikan. Dasar pijakan analisis dengan chi kuadrat adalah jumlah frekuensi yang

ada. Hal ini sesuai dengan pendapat Guilford dan Fruthter: 1978: 193) : “Chi square is

used with data in the form of frequencies or data can be readly transformed into

frequencies. This is includes proportions and probabilities”.

Mantra, Ida Bagoes “Demografi Umum”

Peningkatan pendidikan angkatan kerja dapat dilihat dari dua sisi. Pertama,

sebagaimana disebutkan oleh Gardiner, dkk (1994) ada anggapan bahwa pembahasan

yang terlalu menekankan pada tingkat pendidikan yang rendah dilakukan dalam

rangka untuk menarik investasi asing karena mutu angkatan kerja yang rendah

berkaitan dengan upah buruh yang rendah, padahal angkatan kerja yang berpendidikan

rendah mempunyai tingkat kompetisi rendah, yang terlihat dari beberapa ciri yang

(19)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 1.7 Sistematika Penulisan

Dalam tugas akhir ini disusun dengan sistematika yang terdiri dari enam bab yaitu :

BAB 1 : PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi

masalah, maksud dan tujuan, metodologi penelitian, tinjauan

pustaka dan sistematika penulisan.

BAB 2 : TINJAUAN TEORITIS

Pada bab ini berisi tentang teori-teori yang berhubungan dengan

isi dari tugas akhir.

BAB 3 : TENTANG DAERAH RISET

Pada bab ini berisi tentang daerah tempat riset yaitu Sumatera

Utara. Bagaimana sejarah singkat Sumatera Utara, Apa saja yang

menjadi potensi Sumatera Utara, Apa saja yang menjadi masalah

dalam pembangunan di Sumatera Utara.

BAB 4 : ANALISA DAN EVALUASI

Dalam bab ini menguraikan dan manganalisa data yang telah

diperoleh langsung dari sumbernya yaitu untuk melihat

hubungan tingkat pendidikan dengan lapangan kerja penduduk di

Sumut nenurut SAKERNAS 2007.

BAB 5 : IMPLEMENTASI SISTEM

Pada bab ini berisi tentang cara memasukkan data dan

menganalisis data pada program Microsoft Excel.

BAB 6 : KESIMPULAN DAN SARAN

(20)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

dari evaluasi dan saran dari tugas akhir ini.

(21)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian-Pengertian

Lapangan pekerjaan adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/ usaha/ perusahaan/ kantor

tempat seseorang bekerja.

Pekerjaan utama adalah jika seseorang hanya mempunyai satu pekerjaan, maka

pekerjaan tersebut digolongkan sebagai pekerjaan utama. Bila pekerjaan yang

dilakukan lebih dari satu, maka pekerjaan utama adalah pekerjaan yang dilakukannya

dengan waktu terbanyak. Jika waktu yang digunakan sama, maka pekerjaan yang

memberi penghasilan terbesar dianggap sebagai pekerjaan utama. Seseorang dikatakan

mempunyai pekerjaan lebih dari satu apabila pekerjaan yang dilakukan berada di

bawah pengelolaan yang terpisah.

Pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah tingkat pendidikan yang dicapai

seseorang setelah mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi suatu tingkatan sekolah

(22)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 2.2 Statistik non Parametrik

Metode statistik non parametrik atau sering juga disebut metode bebas sebaran adalah

test yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat yang mengenai

parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya. Oleh karena itu

observasi-observasi independen dan variabel yang diteliti pada dasarnya memiliki

kontinuitas.

Dalam kegiatan penelitian, biasanya lebih banyak digunakan analisa statistik

parametrik dari pada statistik non parametrik. Statistik parametrik digunakan jika kita

telah mengetahui model matematis dan distribusi populasi suatu data yang akan

dianalisis. Jika kita tidak mengetahui suatu model distribusi populasi dari suatu data

dan jumlah data relatif kecil atau asumsi kenormalan tidak selalu dapat dijamin penuh,

maka kita harus menggunakan statistik non parametrik (statistik bebas sebaran).

Statistik non parametrik mempunyai kelebihan atau keunggulan yaitu

kebanyakan prosedur parametrik memerlukan asumsi dalam jumlah yang minimal

maka kemungkinan untuk beberapa prosedur non parametrik perhitungan-perhitungan

dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, terutama bila terpaksa dilakukan dengan

manual. Jadi penggunaan prosedur-prosedur ini menghemat waktu yang diperlukan

untuk perhitungan dan ini merupakan bahan pertimbangan bila hasil penyajian harus

secara tersaji atau bila mesin hitung berkemampuan tinggi tidak tersedia. Dengan

statistik non parametrik para peneliti dengan dasar matematik dan statistik yang

kurang biasanya konsep dan metode prosedur non parametrik mudah dipahami.

Prosedur-prosedur non parametrik boleh diterapkan bila data telah diukur dengan

(23)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Sedangkan kelemahan dari statistik non parametrik adalah

perhitungan-perhitungan yang dibutuhkan untuk kebanyakan prosedur non parametrik cepat dan

sederhana, prosedur-prosedur ini kadang-kadang digunakan untuk kasus-kasus yang

lebih tepat bila ditangani prosedur-prosedur non parametrik sehingga cara seperti ini

sering menyebabkan pemborosan informasi. Meskipun prosedur non parametrik

terkenal karena prinsip perhitungan yang sederhana, pekerjaan hitung-menghitung

selalu membutuhkan banyak tenaga dan akan menimbulkan kejenuhan.

Dalam implementasi, penggunaan prosedur yang tepat merupakan tujuan dari

peneliti. Beberapa parameter yang dapat digunakan sebagai dasar penggunaan statistik

non parametrik :

1. Hipotesis yang diuji tidak melibatkan parameter populasi

2. Skala yang digunakan lebih lemah dari skala prosedur parametrik

3. Asumsi-asumsi parametrik tidak terpenuhi.

2.3 Uji Chi-Kuadrat

Uji Chi-kuadrat merupakan salah satu prosedur non parametrik yang dapat digunakan

dalam analisis statistik yang sering digunakan dalam praktek. Teknik Chi-kuadrat

(Chi-square; Chi dibaca : kai ; simbol dari huruf Yunani: χ2) ditemukan oleh Helmet

pada tahun 1875, tetapi baru pada tahun 1900, pertama kali diperkenalkan kembali

(24)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Uji Chi-kuadrat digunakan untuk menguji kebebasan antara dua sampel

(variabel) yang disusun dalam tabel baris kali kolom atau menguji keselarasan dimana

pengujian dilakukan untuk memeriksa ketergantungan dan homogenitas apakah data

sebuah sampel yang diambil menunjang hipotesis yang menyatakan bahwa populasi

asal sampel tersebut mengikuti suatu distribusi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu,

uji ini dapat juga disebut uji keselarasan (goodness of fit test), karena untuk menguji

apakah sebuah sampel selaras dengan salah satu distribusi teoritis (seperti distribusi

normal, uniform, binomial dan lainnya).

Pada kedua prosedur tersebut selalu meliputi perbandingan frekuensi yang

teramati dengan frekuensi yang diharapkan bila H0 yang ditetapkan benar, karena

dalam penelitian yang dilakukan data yang diperoleh tidak selamanya berupa data

skala interval saja, melainkan juga data skala nominal, yaitu yang berupa perhitungan

frekuensi pemunculan tertentu.

Perhitungan frekuensi pemunculan juga sering dikaitkan dengan perhitungan

persentase , proporsi atau yang lain yang sejenis. Chi-kuadrat adalah teknik statistik

yang dipergunakan untuk menguji probabilitas seperti itu, yang dilakukan dengan cara

mempertentangkan antara frekuensi yang benar-benar terjadi, frekuensi yang

diobservasi, observe frequencies (disingkat F0 atau O) dengan frekuensi yang

diharapkan, expected frequencies (disingkat Fh atau E).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan Chi-kuadrat, yaitu :

(25)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

2. Chi-kuadrat tidak dapat digunakan untuk menentukan besar atau kecilnya

korelasi dari variabel-variabel yang dianalisa.

3. Chi-kuadrat pada dasarnya belum dapat menghasilkan kesimpulan yang

memuaskan.

4. Chi-kuadrat cocok digunakan untuk data kategorik, data diskrit atau data

nominal.

Cara memberikan interpretasi terhadap Chi-kuadrat adalah dengan menentukan

df (degree of freedom) atau db (derajat bebas). Setelah itu berkonsultasi tabel harga

kritik Chi-kuadrat. Selanjutnya membandingkan antara harga Chi-kuadrat dari hasil

perhitungan dengan harga kritik Chi-kuadrat, akhirnya mengambil kesimpulan dengan

ketentuan :

1. Bila harga Chi-kuadrat (χ2) sama atau lebih besar dari tabel Chi-kuadrat

maka hipotesa nol (H0) ditolak dan hipotesa alternatif (Ha) diterima.

2. Bila harga Chi-kuadrat (χ2) lebih kecil dari tabel Chi-kuadrat maka hipotesa

nol (H0) diterima dan hipotesa alternatif (Ha) ditolak.

Ada beberapa persoalan yang dapat diselesaikan dengan mengambil manfaat

dari Chi-kuadrat diantaranya adalah :

2.3.1 Uji Independen antara Dua Faktor

Banyak data hasil pengamatan yang dapat digolongkan ke dalam beberapa faktor,

karakteristik atau atribut terdiri dari beberapa klasifikasi, kategori, golongan atau

(26)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

akan diselidiki mengenai asosiasi atau hubungan atau kaitan antara faktor-faktor

itu, bisa dikatakan bahwa faktor-faktor itu bersifat independen atau bebas,

tepatnya bebas statistik. Selain daripada itu akan diselidiki ada atau tidaknya

pengaruh mengenai beberapa taraf atau tingkatan sesuatu faktor terhadap kejadian

fenomena.

Secara umum untuk menguji independen antar dua faktor dapat dijelaskan

sebagai berikut : misalkan diambil sebuah sampel acak berukuran n, dan tiap

pengamatan tunggal diduga terjadi karena adanya dua macam faktor I dan II.

Faktor I terbagi atas b taraf atau tingkatan dan faktor II terbagi atas k taraf. Banyak

pengamatan yang terjadi karena taraf ke-i faktor ke I (i = 1,2,...,b) dan taraf ke-j

faktor ke II (j = 1,2,...,k) akan dinyatakan dengan Oij. Hasilnya dapat dicatat dalam

sebuah daftar kontingensi b x k. Pasangan hipotesis yang akan diuji berdasarkan

data dengan memakai penyesuaian persyaratan data yang diuji sebagai berikut :

Ho : Kedua faktor bebas statistik

H1 : Kedua faktor tidak bebas statistik

Tabel yang disajikan akan dianalisis untuk setiap sel yang diperlukan

kemudian dibentuk tabel kontingensi. Dari tabel tersebut di atas agar dapat dicari

hubungan antara faktor-faktor dengan menggunakan statistik uji Chi-kuadrat.

Pengujian eksak sukar digunakan, karena di sini hanya akan dijelaskan

pengujian yang bersifat pendekatan. Untuk itu diperlukan frekuensi teoritik atau

(27)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Rumusnya adalah sebagai berikut :

n

E = Banyak data teoritik (banyak gejala yang diharapkan terjadi)

io

n = jumlah baris ke-i

oj

n = jumlah kolom ke-j

n = total jumlah data

Dengan demikian misalnya didapat nilai dari teoritik masing-masing data :

11

Sehingga nilai statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis di atas adalah :

∑∑

= =

Oij = Jumlah observasi untuk kasus-kasus yang dikategorikan dalam baris

ke-i dan kolom ke-j

Eij = Banyak kasus yang diharapkan untuk dikategorikan dalam baris ke-i

(28)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut :

Tolak H0 jika χ2hitung χ2tabel

Terima H0 jika χ2hitung < χ2tabel

Dalam taraf nyata α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) untuk distribusi

Chi-Kuadrat adalah ( b-1 )( k-1), dalam hal yang lainnya kita terima hipotesis H0.

2.3.2 Koefisien Kontingensi

Kegunaan teknik koefisien kontingensi yang diberi simbol C, adalah untuk mencari

atau menghitung keeratan hubungan antara dua variabel yang mempunyai gejala

ordinal (kategori), paling tidak berjenis nominal.

Cara kerja atau perhitungan koefisien kontingensi sangatlah mudah jika nilai

Chi-kuadrat sudah diketahui. Oleh karena itu biasanya para peneliti menghitung harga

koefisien kontingensi setelah menemukan harga Chi-kuadrat. Test signifikansi yang

digunakan tetap menggunakan tabel kritik Chi-kuadrat, dengan derajat kebebasan (db)

sama dengan jumlah kolom dikurangi satu dikalikan dengan jumlah baris dikurangi

satu (b-1)(k-1). Rumus untuk menghitung koefisien kontingensi adalah :

(29)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

C = Koefisien kontigensi

χhitung2 = Hasil perhitungan Chi-Kuadrat

N = Banyak data

Dari data yang dianalisis maka dapat dibentuk daftar kontingensi frekuensi yang

diamati seperti tabel 2.1 di bawah ini :

Tabel 2.1 Daftar Kontingensi

FAKTOR II (K TARAF)

Dimana : faktor I dan faktor II adalah faktor-faktor yang membentuk daftar

kontingensi dengan b baris dan k kolom. nij adalah frekuensi yang diamati.

=

Selain itu frekuensi yang diharapkan dari frekuensi yang diamati dapat dilihat dengan

(30)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

E : frekuensi yang diharapkan

n : jumlah data yang diamati

Dari rumus di atas dapat disusun tabel kontingensi dari frekuensi yang diharapkan

seperti pada tabel 2.2 di bawah ini :

Tabel 2.2 Daftar Kontingensi dari Frekuensi yang Diharapkan

FAKTOR II (K TARAF)

Hipotesa secara etimologis dibentuk dari dua kata yaitu, kata hypo yang berarti kurang

dan thesis yang berarti pendapat. Jadi hypotesis artinya suatu kesimpulan yang masih

kurang, yang masih belum sempurna. Pengertian ini kemudian diperluas dengan

(31)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

dengan membuktikan kebenaran hipotesa tersebut. Pembuktian ini hanya dapat

dilakukan dengan menguji hipotesis dengan data di lapangan.

Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki untuk menentukan hipotesa adalah :

1. Hipotesa harus muncul dan hubungannya dengan teori serta masalah yang

diteliti.

2. Setiap hipotesis adalah kemungkinan jawaban terhadap persoalan yang diteliti.

3. Hipotesis harus dapat diuji atau terukir tersendiri untuk menetapkan hipotesis

yang besar kemungkinannya didukung oleh data empirik.

Perlu diingat, apapun syarat suatu hipotesis, yang jelas bahwa penampilan setiap

hipotesis adalah bentuk statement, yaitu pernyataan tentang sifat atau keadaan

hubungan dua atau lebih variabel yang akan diteliti.

Adapun jenis hipotesis yang mudah dimengerti adalah hipotesis nol (H0),

hipotesis alternatif (Ha), hipotesis kerja (Hk). Tetapi yang biasa adalah H0 yang

merupakan antara dua variabel x dan variabel y yang akan diteliti atau variabel

(32)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. BAB 3

TENTANG DAERAH RISET

3.1 Sejarah Singkat Sumatera Utara

Di zaman Pemerintahan Belanda, Sumatera merupakan suatu pemerintahan yang

bernama Gonvernement van Sumatera, yang meliputi seluruh Sumatera, dikepalai oleh

seorang Gouverneur berkedudukan di Medan. Sumatera terdiri dari daerah-daerah

administrative yand dinamai keresidenan.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera tetap merupakan suatu

kesatuan pemerintahan yaitu Provinsi Sumatera yang dikepelai oleh seorang Gubernur

dan terdiri dari daerah-daerah Administratif Keresidenan yang dikepalai oleh seorang

Residen.

Pada Sidang I Komite Nasional Daerah (K.N.D) Provinsi Sumatera, mengingat

kesulitan-kesulitan perhubungan ditinjau dari segi pertahanan, diputuskan untuk

membagi Provinsi Sumatera menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera

Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan

Keresidenan Tapanuli), sun Provinsi Sumatera Tengah dan sub Provinsi Sumatera

Selatan. Dalam perkembangan selanjutnya melalui Undang-undang No.10 Tahun

1948 tanggal 15 April 1948, Pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi

(33)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

1. Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidena Aceh, Sumatera Timur,

dan Tapanuli.

2. Provinsi Sumatera Tengah yang meliputi Keresidenan Sumatera Barat,

Riau, dan Jambi.

3. Provinsi Sumatera Selatan yang meliputi Keresidenan Bengkulu,

Palembang, Lampung, dan Bangka Belitung.

Dengan mendasarkan kepada Undang-undang No.10 Tahun 1948, atas usul

Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan suratnya tanggal 16

Februari 1973 No.4585/25, DPRD Tingkat I Sumatera Utara dengan keputusannya

tanggal 13 Agustus No.19/K/1973 telah menetapkan bahwa hari jadi Provinsi

Sumatera Utara adalah tanggal 15 April 1948 yaitu tanggal ditetapkannya

Undang-undang No.10 Tahun 1948 tersebut.

Pada awal Tahun 1949 berkaitan dengan meningkatnya serangan Belanda

diadakanlah reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Pada waktu itu, keadaan

memerlukan suatu sistem pertahanan yang lebih kokoh dan sempurna. Oleh karena itu,

perlu diputuskan alat-alat kekuatan sipil dan militer dalam tiap-tiap Daerah Militer

Istimewa yang berada dalam satu tangan yaitu Gubernur Militer. Sehingga penduduk

sipil dan militer berada di bawah kekuasaan satu pemerintah.

Perubahan demikian ini ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I

tanggal 16 Mei 1949 No.21/Pem/P.D.R.I., yang diikuti Keputusan Pemerintah

Darurat R.I tanggal 17 Mei 1949 No.22/Pem/P.D.R.I. Jabatan Gubernur Sumatera

(34)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Gubernur yang bersangkutan diangkat menjadi komisaris dengan tugas-tugas

memberi pengawasan dan tuntutan terhadap pemerintahan, baik sipil maupun militer.

Selanjutnya dengan intruksi Dewan Pembantu dan Penasehat Wakil Perdana Menteri

tanggal 15 September 1949, Sumatera Utara dibagi menjadi 2 daearah Militer

Istimewa yaitu Aceh dan Tanah Karo diketuai oleh Gubernur Militer Dr. F.L. Tobing.

Selanjutnya dengan ketetapan Pemerintah Darurat R.I dalam bentuk Peraturan

Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Desember 1949

No.8/Des/W.K.P.M dibentuklah Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/ Sumatera

Timur. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.5

Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, Peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti

Peraturan Pemerintah tanggal 17 Agustus 1949 N0.8/Des/W.K.P.M tahun 1949

tesebut dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara dengan daerah yang

meliputi daerah Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Selanjutnya

dengan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, pada

waktu RIS, ditetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia terbagi atas

beberapa daerah-daerah Provinsi, yaitu :

(35)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

9. Maluku

10.Sunda Kecil

Pada tanggal 7 Desember 1956 diundangkanlah Undang-undang No.24 Tahun

1956 yaitu Undang-undang tentang pembentukan daerah otonom Provinsi Aceh dan

perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Pasal 1 Undang-undang

No.24 Tahun 1956 ini menyebutkan :

1. Daerah Aceh yang meliputi Kabupaten-kabupaten Aceh Besar, Aceh Pidie,

Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh barat, Aceh selatan, Kota Besar

Kutaraja, daerah-daerah tersebut dipisahkan dari lingkungan Daerah Otonom

Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-undang No.5 Tahun 1950 sehingga daerah-daerah tersebut menjadi

daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan

nama Provinsi Aceh.

2. Provinsi Sumatera Utara tersebut dalam ayat (1) yang wilayahnya telah

dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai daerah Otonom

Provinsi Aceh, tetap disebut Provinsi Sumatera Utara.

Berdasarkan Undang-undang Darurat No.7 Tahun 1956, Undang-undang Darurat

No.8 Tahun 1956, Undang-undang No.9 Tahun 1956, Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-undang No.4 Tahun 1964, Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 17

Kabupaten/Kota. Tetapi dengan terbitnya Undang-undang No.12 Tahun 1998, tentang

pembentukan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Kabupaten Toba Samosir

(Tobasa), Undang-undang No.4 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota

(36)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Kabupaten Nias Selatan, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat, serta

Undang-undang No.36 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Samosir dan Serdang

Bedagai, dan pada Tahun 2007 dibentuk Kabupaten Batubara melalui Undang-undang

No. 5 tahun 2007, kemudian pada tanggal 10 Agustus 2007 disahkan Undang-undang

No.37 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Padang Lawas Utara, dengan

demikian wilayah Provinsi Sumatera Utara pada Juni 2008 sudah menjadi 21

Kabupaten dan 7 Kota. Adapun Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara

adalah sebagai berikut :

a. Wilayah Kabupaten :

1) Nias

2) Mandailing Natal (Madina)

3) Tapanuli Selatan

4) Tapanuli Utara

5) Tapanuli Tengah

6) Toba Samosir (Tobasa)

7) Labuhan Batu

15) Humang Hasundutan

(37)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

17) Samosir

18) Serdang Bedagai

19) Batubara

20) Padang Lawas Utara

21) Padang Lawas

b. Wilayah Kota

1) Sibolga

2) Tanjung Balai

3) Pematang Siantar

4) Tebing Tinggi

5) Medan

6) Binjai

7) Padangsidimpuan

Seiring dengan pemberlakuan Undang-undang No.22 tentang Otonomi Daerah,

maka pengaturan rumah tangga daerah telah berada pada kewenangan pemerintah

Kabupaten/ Kota. Berkaitan dengan hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah

mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tanggal 31 Juli 2001 untuk

membentuk Dinas-Dinas sebagai institusi teknis di dalam melaksanakan tugas dan

fungsi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Adapun Dinas-Dinas tersebut adalah :

Dinas Pertanian

Dinas Peternakan

(38)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Dinas Pendidikan

Dinas Kesehatan

Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Dinas Kehutanan

Dinas Perikanan dan Kelautan

Dinas Sosial

Dinas Penataan Ruang dan Pemukiman

Dinas Tenaga Keja dan Transmigrasi

Dinas Perhubungan

Dinas Perkebunan

Dinas Pendapatan

Dinas Jalan dan Jembatan

Dinas Pengairan

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Dinas Pertambangan dan Energi

3.2 Potensi dan Masalah Pembangunan Sumatera Utara

3.2.1 Potensi Pembangunan Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara memiliki potensi daerah yang sangat potensial untuk

didayagunakan untuk mengembangkan kapasitas daerah dalam meningkatkan

(39)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

termanfaatkan namun masih tersedia potensi yang lebih besar untuk pembangunan ke

depan.

Potensi-potensi yang dimiliki Sumatera Utara adalah :

1. Potensi Sumber Daya Alam terbaharui.

2. Potensi Produk Agribisnis Unggulan

3. Potensi Pariwisata

4. Potensi Sumber Daya Manusia

5. Potensi Modal Sosial dan Modal Spritual

6. Potensi Infrastruktur dan Energi.

Yang hanya dijelaskan pada karya tulis ini adalah Potensi Sumber Daya Manusia.

Sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan.

Sumber daya manusia yang dimaksud mencakup sumber daya manusia pengusaha,

sumber daya manusia teknokrat (ilmuwan) dan sumber daya manusia birokrat

(pengusaha).

Provinsi Sumatera Utara memiliki SDM yang potensial baik pengusaha mulai

dari petani/nelayan, pedagang, pengusaha UKMK, pengusaha besar maupun SDM

teknokrat (ahli-ahli) yang ada di Perguruan Tinggi. SDM Sumatera Utara memiliki

karakteristik yang unik antara lain daya juang tinggi, berani, progresiv, mandiri dan

terbuka, yang sangat sesuai dengan kebutuhan pembangunan.

Selama ini Sumatera Utara sudah terkenal sebagai ”pencetak” SDM nasional,

baik sebagai pengusaha, ilmuwan maupun birokrat. Pada bidang pengusaha saat ini

(40)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

SDM Ilmuwan Nasional dan SDM Birokrat Nasional banyak yang berasal dari

Sumatera Utara. Sumatera Utara tercatat sebagai pengekspor SDM bermutu ke daerah

lain.

3.2.2 Permasalahan Pokok Pembangunan Sumatera Utara

Saat ini masyarakat Sumatera Utara menghadapi permasalahan pokok pembangunan

yang memerlukan pemecahan segera. Permasalahan pokok pembangunan yang

dimaksud antara lain sebagai berikut.

1. Masalah Peningkatan dan Pemerataan Pendapatan Penduduk

2. Masalah Kemiskinan

3. Masalah Pengangguran

4. Masalah Kesehatan dan Sosial

5. Masalah Lingkungan Hidup

6. Masalah Pelayanan Publik

7. Masalah Pendidikan Sumber Daya Manusia

8. Masalah Ketersediaan dan Kualitas Infrasturuktur Pembangunan

9. Masalah Otonomi Daerah

10.Masalah Daya Saing dan Produk Unggulan

Yang hanya dibahas dalam karya tulis ini adalah Masalah Pendidikan Sumber

Daya Manusia. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan hal yang

(41)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Alam tidak ada gunanya bila SDM tidak mendukung. Kualitas SDM juga menjadi

faktor daya saing kedepan.

Secara jujur harus diakui bahwa mutu pendidikan di Sumatera Utara meskipun

tidak tergolong jelek, tetapi cenderung menurun dari tahun ke tahun. Bila

dibandingkan kualitas pendidikan sebelum tahun 1980-an, kualitas pendidikan di

Sumatera Utara cenderung menurun. Hal ini diindikasikan minimumnya prestasi

akademik tingkat Nasional yang pernah diraih pendidikan Sumatera Utara. Makin

banyaknya putra-putri Sumatera Utara yang memilih melanjutkan pendidikan keluar

Sumatera Utara juga indikasi betapa mutu pendidikan di Sumatera Utara sedang

mengalami penurunan setidak-tidaknya kalah dengan mutu pendidikan di Pulau Jawa.

Bagaimana memulihkan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan seluruh

jenjang pendidikan di Sumatera Utara, perlu dijadikan agenda penting dalam lima

tahun kedepan. Hal ini mencakup pembenahan sarana dan prasarana pendidikan.

Kekayaan pendidikan Sumatera Utara seperti yang pernah dialami tahun 1970-an

harus dikejar kembali.

3.3 Visi Dan Misi Pembangunan Sumatera Utara

Berdasarkan potensi yang dimiliki dan masalah pokok pembangunan serta

mempertimbangkan perubahan lingkungan strategis yang terjadi (globalisasi, otonomi

daerah, demokrasi), maka visi pembangunan provinsi Sumatera Utara dalam lima

(42)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 3.3.1 Visi

”Terwujudnya Daerah dan Masyarakat Sumatera Utara yang SUMUT

(Sejahtera, Unggul, Mandiri, Unik, Toleran)”.

Penjelasan Visi

1. Terwujudnya daerah dan masyarakat Sumatera Utara yang sejahtera, yakni

sejahtera lahir dan batin dalam aspek tingkat pendapatan (US$ 2500 perkapita

tahun 2013), bebas kemiskinan, bebas narkoba, sehat jasmani dan rohani,

aman dan tertib.

2. Terwujudnya daerah dan masyarakat Sumatera Utara yang Unggul yakni

unggul dari segi SDM, unggul layanan publik, unggul produk, unggul dalam

berdemokrasi, unggul bermasyarakat, dan unggul dalam kepatuhan hukum.

3. Terwujudnya daerah dan masyarakat Sumatera Utara yang Mandiri yakni

percaya diri, mampu mengembangkan kemampuan diri dengan prakarsa

sendiri, mampu mendayagunakan potensi daerah yang dimiliki, kreatif,

inovatif, bekerja keras, dan kerjasama serta memiliki rasa kebanggaan sebagai

orang Sumatera Utara dan sebagai bangsa Indonesia.

4. Terwujudnya daerah dan masyarakat Sumatera Utara yang Unik yakni

memiliki ciri/ karakteristik tersendiri yang berbeda dengan daerah lain dalam

hal-hal yang positip seperti dari segi adat/ budaya, unik produknya, unik

bahasa dan tutur kata, unik karakternya, unik karena Sumatera Utara berbeda

(43)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

5. Terwujudnya daerah dan masyarakat Sumatera Utara yang Toleran yakni

tenggang rasa, menghargai perbedaan pendapat, menghargai perbedaan agama,

adat-budaya, menghargai perbedaan aspirasi, menghargai perbedaan

kemampuan, peduli terhadap sesama, mengutamakan kepentingan bersama,

dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat.

3.3.2 Misi

Untuk mewujudkan visi tersebut, maka misi pembangunan provinsi Sumatera Utara

disusun sebagai berikut :

1. Menyelenggarakan pembangunan ekonomi untuk mendayagunakan potensi

daerah di bidang agribisnis/ agroindustri dan pariwisata secara berdaya

saing, berkerakyatan, berkelanjutan, untuk meningkatkan pendapatan,

memeratakan kesempatan kerja/berusaha dan pendapatan dan menghapus

kemiskinan.

Maksudnya adalah :

a. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sesuai kewenangan (UU No. 32 Tahun

2004) memfasilitasi, mempromosi, mendorong tumbuh kembangnya dunia

usaha untuk mendayagunakan potensi dan keunggulan komparatif Sumatera

Utara dalam bidang agribisnis dan pariwisata.

b. Pendayagunaan yang ada diupayakan untuk menjadikan perekonomian

Sumatera Utara berdaya saing, berkerakyatan, dan berkelanjutan.

c. Sasarannya adalah : meningkatkan pendapatan, membuka kesempatan kerja

(44)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 2. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dan masyarakat agar

memiliki kecerdasan majemuk yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan

emosional, dan kecerdasan spritual.

Maksudnya adalah :

a. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan dan memfasilitasi

terwujudnya peningkatan kualitas SDM dan masyarakat baik melalui

pendidikan formal (seluruh jenjang), training/pelatihan, dan pendidikan

informal

b. Sumber Daya Manusia yang dimaksud adalah SDM Pengusaha (mulai dari

pengusaha kecil sampai pengusaha besar), SDM Birokrat pemerintah, SDM

teknokrat/ ilmuwan, baik secara individu maupun masyarakat.

c. Kualitas SDM yang akan dituju adalah SDM yang memiliki kecerdasan

majemuk yakni kecerdasan intelektual (sesuai keahlian/ ketrampilan),

kecerdasan emosional (taat dan cerdas adat/ budaya/ hukum) dan kecerdasan

spritual (taat dan cerdas agama/ kepercayaan). Kualitas SDM yang demikian

dijadikan keunggulan dan keunikan Sumatera Utara

3. Meningkatkan kualitas aparatur pemerintahan yang taat azas tata kelola

pemerintahan (good governance) dalam rangka pelayanan publik yang

prima.

Maksudnya adalah :

a. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan upaya peningkatan

mutu penyelenggaraan pemerintahan yang taat asas dan tata kelola

(45)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

daya tanggap, profesionalisme, efisiensi dan efektifitas, transparansi,

kesetaraan, wawasan kedepan, partisipasi dan penegakan hukum.

b. Kualitas penyelenggaraan pemerintahan dimaksudkan untuk pelayanan publik

yang prima yakni cepat, mudah, murah, untuk setiap masyarakat.

4. Membangun, meningkatkan dan memelihara infrastruktur/ prasarana/

sarana daerah untuk mendukung pembangunan di segala bidang dan

memfasilitasi kegiatan masyarkat.

Maksudnya adalah :

a. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara membangun dan memfasilitasi

tersedianya infrastruktur pembangunan seperti infrastruktur jalan/ jembatan,

pelabuhan laut dan udara, terminal, energi, irigasi dan pengairan, telematika,

infrastruktur IPTEK dan infrastrukutur lainnya. Selain membangun/

memfasilitasi, pemerintah provinsi juga melakukan/ memfasilitasi

pemeliharaan infrastruktur pembangunan yang telah ada.

b. Penyediaan infrastruktur pembangunan baik kualitas maupun kuantitas

dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan ekonomi agar memiliki daya saing,

membangun keunggulan daerah Sumatera Utara dalam berinvestasi,

mengefisiensikan dan mengefektifkan distribusi barang dan jasa serta

memfasilitasi mobilisasi dan kegiatan masyarakat.

5. Membangun sistem dan kelembagaan keamanan/ ketertiban serta

penegakan hukum demi terwujudnya rasa aman, keadilan, kepastian hukum

baik berusaha maupun bermasyarakat.

(46)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

a. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bekerjasama dengan pemerintah pusat

membangun sistem dan kelembagaan keamanaan dan ketertiban dengan

meningkatkan kualitas peran TNI, POLRI dan jajarannya.

b. Selain sistem dan kelembagaan keamanan/ ketertiban yang disediakan negara,

pemerintah provinsi Sumatera Utara juga mengembangkan sistem dan

kelembagaan keamanan/ketertiban masyarakat berbasiskan budaya lokal (local

wisdom) baik pada level desa/ masyarakat maupun level perusahaan

c. Pembangunan sistem dan kelembagaan keamanan dan ketertiban masyarakat

diletakkan dalam kerangka penegakan hukum

d. Penyediaan sistem dan kelembagaan keamanan dan ketertiban dimaksudkan

untuk menciptakan rasa aman, keadilan, kepastian hukum baik dalam berusaha

maupun dalam bermasyarakat.

6. Membangun dan meningkatkan kualitas sistem dan kelembagaan politik

demi terwujudnya masyarakat dan budaya demokrasi yang bertanggung

jawab dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maksudnya adalah :

a. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sesuai kewenangannya memfasilitasi

tumbuh kembangnya kegiatan di bidang politik sebagai mekanisme penyaluran

aspirasi, kebebasan berpendapat, kebebasan berkreatifitas yang taat hukum dan

azas-azas kepatutan.

b. Pengembangan kualitas sistem dan kelembagaan politik dimaksudkan untuk

membangun masyarakat dan budaya demokrasi yang bertanggung jawab

(47)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. 3.4 Fungsi Sistem Pendidikan Sebagai Pemasok Tenaga Kerja Terdidik

Peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) memang

tidak perlu diragukan. Karena titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan

ekonomi ialah produktivitas tenaga kerja, semakin tinggi mutu pendidikan, semakin

tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat (Teori

Human Capital).

Sistem pendidikan harus mampu membuka cakrawala yang lebih luas bagi

tenaga yang dihasilkannya, khusunya dalam membuka lapangan kerja baru. Sesuai

dengan fungsi ini, sistem pendidikan harus dapat menghasilkan tenaga yang mampu

mengembangkan potensi masyarakat dalam menghasilkan barang dan jasa termasuk

cara-cara memasarkannya. Kemampuan ini amat penting dalam rangka jika ingin

memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha. Dengan demikian, tamatan atau

lulusan sistem pendidikan tidak bergantung hanya kepada lapangan kerja yang sudah

ada yang jumlahnya sangat terbatas, akan tetapi mengembangkan lahan kerja yang

masih potensial.

3.5 Beberapa Saran Untuk Menghasilkan Tenaga Kerja Terdidik

Pendekatan tenaga kerja (manpower approach) yang murni dalam perencanaan

pendidikan diakui oleh pakar ekonomi dan pakar ekonomi pendidikan sebagai suatu

yang mustahil. Keduanya mengakui sumbangan pendidikan dalam perkembangan

ekonomi seperti pendapat Schultz Denision, Krueger, Hicks, Weeler, Psacharopoulus,

(48)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

negara berkembang di mana investasi pendidikan tinggi sebagian besar merupakan

subsidi pemerintah sehingga sosial rate of return relatif rendah dibandingkan dengan

pendidikan dasar, pendekatan tenaga kerja patut memperoleh perhatian dalam

pengelolaan pendidikan tinggi kita.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal di atas adalah :

1. Proses pendidikan dengan dorongan yang sangat kuat dari sekolah dasar

menuju pendidikan tinggi perlu diferensiasi. Pendidikan ibarat aliran sungai,

apabila tidak dikendalikan akan menjadikan kekuatan banjir yang merusak.

Dam-dam perlu dibuat agar air dapat dimanfaatkan dan banjir dapat

dikendalikan. Sistem pengendalian itu antara lain diferensiasi program

pendidikan dan pelatihan kejuruan dalam berbagai bentuknya, proses evaluasi

dan seleksi yang lebih rasional, dan relevansi program yang lebih sesuai

dengan kebutuhan tenaga kerja dalam berbagai sektor pembangunan.

2. Pengarahan pekerjaan sudah dimulai sejak dini. Sejak jenjang pendidikan

dasar perlu ada pengarahan kepada motivasi cinta kerja dan informasi yang

menarik mengenai dunia kerja. Program pendidikan nonformal atau Kejar

Usaha perlu diperbanyak dan dekat dengan konsumen.

3. Sejalan dengan intervensi untuk mengubah ambisi para pemuda ke arah

pekerjaan, dikembangkan sikap self employment untuk mengisi sektor informal

yang mempunyai kesempatan kerja yang cukup luas. Di dalam kaitan ini perlu

koordinasi program pelatihan antar departemen : Dikbud, Naker, Industri,

Pertanian, agar dapat disusun program pelatihan terpadu. Program ini tentunya

(49)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

kebutuhan yang nyata. Pengelolaan program pelatihan ini haruslah diberikan

kepada daerah sesuai dengan otonomi daerah (Tingkat Dua).

4. Dengan filter-filter yang ada pada jenjang pendidikan sebelumnya, diperoleh

mahasiswa yang lebih matang. Kematangan tersebut mencakup dua aspek :

aspek intelektual, dan aspek motivasional. Mahasiswa yang matang secara

intelektual adalah juga mahasiswa yang mempunyai kemampuan intelektual.

Hal ini berarti bahwa mahasiswa pendidikan tinggi haruslah selektif, melalui

penapisan-penapisan yang objektif. Dunia kampus adalah dunia ilmu

pengetahuan dan riset yang meminta syarat-syarat yang ketat dalam hal

kemampuan intelektual.

5. Pengembangan sistem pendidikan tinggi nasional perlu direstruktusiasi.

Pestroika sistem pendidikan tinggi ini meliputi berbagai aspek, antara lain

keseimbangan program studi, peningkatan mutu, dan hubungan antara PTN

dan PTS. Seperti telah diuraikan, sistem pendidikan nasional kita sebelumnya

belum memadai memproduksi tenaga-tenaga sarjana secara kuantitatif.

Peranan PTS dalam kaitan ini adalah sangat membantu, asal outputnya

memperhitungkan program-program studi yang sangat diperlukan dalam

pembangunan nasional. Khusunya program studi ilmu sosial dan keguruan

perlu diatur agar outputnya sesuai dengan kebutuhan. Selain itu mutu

pendidikan terus ditingkatkan, antara lain dengan meningkatkan kualifikasi

tenaga dosen, sarana dan prasarana yang memadai.

Selain kematangan intelektal mahasiswa juga memerlukan kematangan

(50)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

tahu benar untuk apa ia memasukinya. Ia mengetahui bahwa baik social cost

maupun individual cost untuk memasuki lembaga pendidikan tinggi itu cukup

tinggi. Baginya, ijasah perguruan tinggi bukanlah tujuan, tapi semata-mata

sebagai simbol formal akan keberhasilannya menyelesaikan pendidikan pada

lembaga itu. Ada sinyalemen banyak mahasiswa dewasa ini yang memasuki

lembaga pendidikan tinggi hanya sekedar menghabiskan waktu atau karena

belum berhasil memperoleh pekerjaan, atau sebab-sebab entrinsik lainnya.

6. Perampingan perguruan tinggi bukan berarti menutup pintu bagi pemeratan.

Ada banyak orang yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi

untuk pengembangan pribadinya semata-mata, atau ingin secepatnya

menerapkan ilmu pengetahuannya untuk kehidupannya. Dalam hal ini

program-program nongelar atau program diploma perlu diperbanyak atau

diferensiasi. Perguruan tinggi haruslah menjadi pusat belajar berkelanjutan.

7. Pembangunan nasional kita haruslah merata di seluruh daerah nusantara. Apa

yang terjadi dewasa ini, terdapat tenaga-tenaga lulusan perguruan tinggi yang

tidak merata baik dalam hal jumlah maupun dalam kualifikasinya. Hal ini

disebabkan pendidikan tinggi kita dikelola telalu sentralistik dengan program

yang homogen. Dengan demikian, peran dan fungsi pendidikan tinggi dengan

pembangunan daerah boleh dikatakan minim atau tidak ada. Programnya

nyaris tidak punya relevansi dengan kebutuhan tenaga tingkat tinggi yang

diperlukan dalam pembangunan daerah. Yang banyak diperlukan adalah

tenaga teknik dan tenaga ahli pertanian untuk pembangunan pedesan, tetapi

(51)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. BAB 4

ANALISA DAN EVALUASI

Pendidikan angkatan kerja merupakan salah satu indikator penting untuk

menggambarkan kualitas angkatan kerja tersebut. Dengan tingkat pendidikan yang

lebih tinggi memungkinkan pekerja lebih produktif dan daya saingnya lebih tingggi

pula.

Penyerapan tenaga kerja menurut sekitar dapat mencerminkan tingkat

perkembangan suatu wilayah. Ciri perekonomian daerah maju umumnya yaitu lebih

banyak penduduk bekerja disekitar industri atau jasa dibandingkan sekitar pertanian.

Di Sumatera Utara masih didominasi pada sektor pertanian.

4.1 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Lapangan Kerja

Hubungan tingkat pendidikan dengan lapangan kerja ditunjukkan pada table 4.1 di

(52)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. Tabel 4.1 Data Tingkat Pendidikan Penduduk Menurut Lapangan Kerja

Pendidikan Lapangan Kerja Jumlah Pertanian Industri Perdagangan Jasa

Tidak/ belum pernah

Jumlah 2.419.388 386.976 955.584 657.416 4.419.364

Sumber: Sakernas 2007, BPS Sumatera Utara

Data diatas memperlihatkan penduduk menurut lapangan pekerjaan utama dan

pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Ditinjau menurut pendidikan secara umum

angkatan kerja masih didominasi tamatan pendidikan sekolah dasar. Dari seluruh

angkatan kerja yang diperoleh dari empat lapangan pekerjaan utama yaitu pertanian,

industri, perdagangan dan jasa berdasarkan tingkat pendidikannya sebanyak 1,76%

tidak tamat SD sedangkan angkatan kerja yang belum tamat SD sebanyak 10,19%,

tamat SD sebanyak 33,13%, tamat SLTP sebanyak 23,13%, tamat SMTA sebanyak

25,93% dan akademi/ PT sebanyak 5,86%.

Jika dilihat menurut lapangan pekerjaan utama masih didominasi pada sektor

pertanian yaitu sebanyak 54,75%, pada sektor industri sebanyak 8,76%, pada sektor

perdagangan sebanyak 21,62%, dan pada sektor jasa sebanyak 14,89%.

Dari data diatas, untuk tingkat pendidikan belum pernah sekolah lebih banyak

bekerja pada sektor pertanian yaitu sebanyak 69.687 jiwa, pada tingkat pendidikan

belum tamat SD lebih banyak bekerja pada sektor pertanian yaitu sebanyak 343.176

(53)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

yaitu sebanyak 1.001.809 jiwa, pada tingkat pendidikan tamatan SLTP lebih banyak

bekerja pada sektor pertanian yaitu sebanyak 590.432 jiwa, pada tingkat pendidikan

tamatan SMTA lebih banyak bekerja pada sektor pertanian yang perbedaannya sedikit

dengan sektor perdagangan yaitu sebanyak 398.708 dan 371.244 dan pada tingkat

pendidikan tamatan perguruan tinggi lebih banyak bekerja pada sektor jasa yaitu

sebanyak 187.696.

Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam gambar 4.1 dibawah ini :

0

Gambar 4.1 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Lapangan Kerja

Keterangan untuk Tingkat Pendidikan :

1 = Belum pernah sekolah

2 = Belum Tamat SD

3 = SD

4 = SLTP

5 = SMTA

(54)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan

lapangan kerja , maka kita dapat melakukan uji Chi-Kuadrat (χ2) yaitu dengan cara

mengamati jumlah frekuensi yang diharapkan dari frekuensi yang diamati yang dapat

ditentukan dengan rumus :

ij

E = (n io × n )/n oj

Dengan :

ij

E = Banyak data teoritik (banyak gejala yang diharapkan terjadi)

io

n = Jumlah baris ke-i

jo

n = Jumlah baris ke-j

n = Total jumlah data

Dapat dicari jumlah frekuensi yang diharapkan dari jumlah frekuesi yang

diamati, sebagai berikut :

(55)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

E31 = (1.463.989 × 2.419.388) / 4.419.364 = 801.463,2

E32 = (1.463.989 × 386.976) / 4.419.364 = 128.192,3

E33 = (1.463.989 × 955.584) / 4.419.364 = 316.553,3

E34 = (1.463.989 × 657.416) / 4.419.364 = 217.780,1

E41 = (1.022.364 × 2.419.388) / 4.419.364 = 559.694,8

E42 = (1.022.364× 386.976) / 4.419.364 = 89.522,0

E43 = (1.022.364× 955.584) / 4.419.364 = 221.062,3

E44 = (1.022.364× 657.416) / 4.419.364 = 152.084,9

E51 = (1.145.983 × 2.419.388) / 4.419.364 = 627.370,3

E52 = (1.145.983× 386.976) / 4.419.364 = 100.346,5

E53 = (1.145.983× 955.584) / 4.419.364 = 247.792,1

E54 = (1.145.983× 657.416) / 4.419.364 = 170.474,2

E61 = (258.947 × 2.419.388) / 4.419.364 = 141.760,9

E62 = (258.947× 386.976) / 4.419.364 = 22.674,4

E63 = (258.947× 955.584) / 4.419.364 = 55.991,2

E64 = (258.947× 657.416) / 4.419.364 = 38.520,5

Dari koefisien di atas dapat dibentuk daftar kontingensi dari daftar frekuensi yang

(56)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009. Tabel 4.2 Daftar Frekuensi yang Diharapkan

Pendidikan Lapangan Kerja Jumlah Pertanian Industri Perdagangan Jasa

Tidak/ belum

pernah sekolah 42.508,0 6.799,1 16.789,3 11.550,6 77.647

Tidak/ belum

tamat SD 246.590,8 39.441,7 97.395,8 67.005,7 450.434

SD 801.463,2 128.192,0 316.553,3 217.780,0 1.463.989

SLTP 559.694,8 89.522,0 221.062,3 152.085,0 1.022.364

SMTA 627.370,3 100.347,0 247.792,1 170.474,0 1.145.983

Akademi/ PT 141.760,9 22.674,4 55.991,2 38.520,5 258.947

Jumlah 2.419.388 386.976 955.584 657.416 4.419.364

Dari jumlah yang diamati dan jumlah frekuensi yang diharapkan dapat ditentukan

pada setiap item kejadian yang berlaku, diamati perbedaan antara nij dan Eij ada

tidaknya hubungan antara faktor I dan faktor II dan jumlah beda = 0 dengan

penggabungan tabel 4.1 dan 4.2 dapat ditentukan harga χ2 seperti yang ditunjukkan

pada tabel 4.3 di bawah ini

Tabel 4.3 Penentuan Harga Chi- Kuadrat

No Oij Eij Oij-Eij (Oij-Eij) 2

(Oij-Eij) 2

/Eij

1 69.687 42.507,97627 27.179,02 738.699.331 17.377,8993

2 343.176 246.590,8249 96.585,18 9.328.696.045 37.830,6697

3 1.001.809 801.463,156 200.345,8 40.138.457.228 50.081,4753

4 590.432 559.694,8324 30.737,17 944.773.472,9 1.688,01536

5 398.708 627.370,2547 -228.662 52.286.426.736 83.342,2151

6 15.576 141.760,9557 -126.185 15.922.643.057 112.320,37

7 1.439 6.799,061012 -5.360,06 28.730.254,06 4.225,62086

8 23.992 39.441,68156 -15.449,7 238.692.660,3 6.051,78712

9 112.216 128.192,3388 -15.976,3 255.243.402,1 1.991,09716

10 98.699 89.522,00617 9.176,994 84.217.215,8 940,743169

11 137.638 100.346,547 37.291,45 1.390.652.466 13.858,4984

(57)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

13 3.193 16.789,3459 -13.596,3 184.860.621,8 11.010,5911

14 59.067 97.395,80706 -38.328,8 1.469.097.450 15.083,7854

15 244.131 316.553,3467 -72.422,3 5.244.996.305 16.569,0755

16 235.266 221.062,2797 14.203,72 201.745.670,9 912,619155

17 371.244 247.791,9943 123.452 15.240.397.713 61.504,8027

18 42.683 55.991,22635 -13.308,2 177.108.888,6 3.163,1543

19 3.328 11.550,61682 -8.222,62 67.611.427,37 5.853,49063

20 24.199 67.005,68646 -42.806,7 1.832.412.406 27.347,1179

21 105.833 217.780,1585 -111.947 12.532.166.298 57.545,0325

22 97.967 152,084,8818 -54.117,9 2.928.745.127 19.257,3061

23 238.393 170.474,204 67.918,8 4.612.962.855 27.059,5946

24 187.696 38.520,45248 149.175,5 22.253.343.978 577.702,04

Jumlah 1.156.851,55

Dari tabel 4.3 diperoleh :

2

Dengan hipotesa sebagai berikut :

H0 : tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan lapangan kerja.

H1 : ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan lapangan kerja.

Dan harga χ2 yang terdapat di dalam tabel dengan derajat kebebasan (dk)

dari masalah yang diteliti adalah :

(58)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Jadi, H0 ditolak maka H1 diterima, artinya ada hubungan antara tingkat pendidikan

dengan lapangan kerja.

Selanjutnya untuk mengetahui seberapa dekat hubungan antara tingkat

pendidikan dengan lapangan kerja ditentukan koefisien kintingensi C (derajat

hubungan) sebagai berikut :

N

Untuk menentukan derajat asosiasi antara tingkat pendidikan dengan lapangan

kerja maka harga C diatas dibandingkan dengan C maksimum, yaitu :

Cmaks=

m m 1

Dengan m = harga minimum antara b dan k yakni minimum antara banyak

baris dan banyak kolom. Dalam penelitian ini banyak baris = 6 dan banyak kolom = 4,

jadi minimumnya adalah 2, sehingga :

(59)

Kartika Febriani Br. Karo : Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Lapangan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara, 2009.

Cmaks= 0,71

Langkah selanjutnya adalah membandingkan harga C dengan Cmaks sehingga

diperoleh :

Q = ×100%

maks

C C

Q = 100%

71 . 0

46 , 0

×

Q = 64,79%

Berdasarkan ketentuan Davis (1971) nilai Q berada antara 0,50 dan 0,69, maka

dapat diketahui bahwa derajat hubungan antara tingkat pendidikan dengan lapangan

Gambar

Tabel 4.3 Penentuan Harga Chi-Kuadrat                                                               47         53
Gambar 4.1 Hubungan antar Tingkat Pendidikan dan Lapangan Kerja Gambar 5.1 Mengaktifkan Microsoft Excel  Gambar 5.6 Chart Wizard – Step 4 of 4 – Chart Location Gambar 5.4 Kotak Dialog Chart Wizard Step 2 of 4  Gambar 5.5 Kotak Dialog Chart Wizard Step 3 of 4 – Chart Option     Gambar 5.2 Tampilan Lembar Kerja Microsoft Excel   Gambar 5.3 Kotak Dialog Chart Wizard Step 1 of 4
Tabel 2.1 Daftar Kontingensi
Tabel 2.2 Daftar Kontingensi dari Frekuensi yang Diharapkan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam bab ini menguraikan dan menganalisa data yang telah diperoleh langsung dari sumbernya yaitu untuk melihat hubungan tingkat pendidikan dengan

Johannes Hutabarat : Peranan Museum Sumatera Utara Dalam Menghimpun Koleksi Bahan Pustaka Buku Yang Ada di Sumatera Utara, 2003... Johannes Hutabarat : Peranan Museum Sumatera

Susilawanto : Analisis Pemasaran Pupuk Di Sumatera Utara (Studi Kasus : Kabupaten Karo Dan...,2006... ANALISIS PEMASARAN PUPUK 01 SUMATERA UTARA (Studi Kasus : Kabupaten Karo

ANALISIS PEMASARAN EKSPOR KENTANG DI SUMATERA UTARA : SUATU STUD1 KASUS DI KECAMATAN TIGA PANAX, KABUPATEN TANAW KARO, PROPINSI SUMATERA UTARA (dibawah bim-

repository.unhas.ac.id (Diakses tanggal 20 Oktober 2015). Universitas

Universitas Sumatera Utara... Universitas

di Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Humbang Hasundutan, Samosir, Karo. dan

Proses pembuatan informasi tentang budaya suku Karo di Sumatera