saran untuk penerapan HACCP?
4.4. Analisa Hasil Kuesioner (Tingkat Awareness Karyawan)
Menurut sumber dari website e-World Human Resources Development (eworld-indonesia.com, 2006), self awareness (kesadaran diri) mengandung dua makna kesadaran. Tingkat pertama, seseorang itu tahu bahwa sesuatu ada Sedangkan tingkat kedua, seseorang paham betul mengenai emosi yang sedang dialaminya sehingga ia dapat membedakannya dengan perasaan serupa yang disebabkan oleh kondisi yang berbeda.
Dapat dikatakan bahwa awareness didukung adanya pengetahuan dan motivasi seseorang terhadap sesuatu, dan variabel tersebut saling terikat ( dimana seseorang tidak dapat dikatakan aware jika hanya tahu tanpa termotivasi atau termotivasi namun tidak mengetahui), sehingga:
Awareness = Pengetahuan x Motivasi
Persamaan ini juga merupakan degradasi dari teori performance oleh Vroomian (Umar, 2001, hal. 150).
Tingkat awareness dihitung dengan mengalikan jumlah total bobot tingkat pengetahuan karyawan dengan jumlah total bobot tingkat motivasi.
Perhitungan tingkat awareness dari nilai tiap pertanyaan kuesioner dapat dilihat pada Lampiran 5.
Nilai minimum awareness adalah 0 dan nilai maksimum adalah 1152.
Nilai maksimum didapat dari nilai maksimum pertanyaan kategori pengetahuan ( 8 pertanyaan x 4 adalah 32 poin) dikalikan nilai maksimum pertanyaan kategori motivasi ( 9 pertanyaan x 4 adalah 36 poin).
Tingkat Awareness dibagi menjadi 4 kategori yaitu tidak aware, kurang aware, cukup aware dan aware. Kategori tingkat awareness berdasarkan nilai kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.4. dibawah ini :
Tabel 4.4. Kategori Nilai Tingkat Awareness Karyawan
Nilai Kategori 0-287 Tidak Aware 288-575 Kurang Aware 576-863 Cukup Aware 864-1152 Aware
Hasil pengukuran tingkat awareness responden dari kuesioner dapat dilihat pada Gambar 4.36 dibawah ini:
tingkat awareness
aw are cukup aw are kurang aw are
tidak aw are
Percent
50
40
30
20
10
0
40 34
22
4
Gambar 4.36. Bar-Chart Hasil Perhitungan Tingkat Awareness Karyawan Secara keseluruhan, 49% responden sudah memiliki awareness yang baik (40%). Sedangkan prosentase sisanya (60%) masih berada dibawah nilai aware.
Nilai rata-rata awareness responden adalah 721.6 yang berada dalam kategori cukup aware. Prosentase tingkat awareness rata-rata responden adalah sebesar 62.61%.
4.4.1. Membandingkan nilai rata-rata (Compare Means)
Dengan melakukan perbandingan nilai rata-rata, kita dapat mengetahui jika terjadi perbedaan awareness yang signifikan antara tiap kategori dalam faktor. Perbandingan tingkat awareness responden menurut seksinya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.5. Perbandingan Means Awareness menurut Seksi
Tabel 4.5. Perbandingan Means Awareness menurut Seksi (sambungan)
Bulk Handling 816.00 Cukup Aware Total 721.60
Tingkat awareness rata-rata tiap seksi tidak terlalu jauh berbeda (tidak signifikan) dan berada dalam kategori cukup aware. Sehingga jenis seksi tidak menentukan tinggi rendahnya awareness responden.
Perbandingan tingkat awareness responden untuk operator dan foreman dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.6. Perbandingan Means Awareness menurut Kategori Jabatan
JABATAN Mean Kategori Operator 710.34 Cukup Aware Foreman 898.00 Aware
Total 721.60
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat awareness rata-rata foreman lebih tinggi, namun tingkat awareness rata-rata operator tidak terlalu jauh berbeda (signifikan). Sehingga jenis jabatan tidak menentukan tinggi rendahnya awareness responden.
Perbandingan tingkat awareness responden menurut tingkat pendidikan terakhir dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.7. Perbandingan nilai Awareness rata-rata menurut Kategori Pendidikan
PENDIDIKAN Mean Kategori S1 860.31 Cukup Aware
D3 868.00 Aware
D2 672.00 Cukup Aware
D1 868.00 Aware
SMU 700.07 Cukup Aware STM/SMK 704.67 Cukup Aware
SLTP .00 Tidak Aware Total 721.60
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat awareness rata-rata responden yang memiliki latar pendidikan SLTP lebih rendah dibandingkan dengan responden yang memiliki latar belakang lebih tinggi. Namun peningkatan awareness tidak berjalan searah. Sehingga latar belakang pendidikan memiliki pengaruh terhadap tingkat awareness responden, namun tidak memiliki pengaruh yang kuat.
Perbandingan tingkat awareness responden menurut kategori usia dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.8. Perbandingan nilai Awareness rata-rata menurut Kategori Usia
USIA(Tahun) Mean Kategori 20-24 709.00 Cukup Aware 25-29 768.40 Cukup Aware 30-34 699.00 Cukup Aware 35-39 784.00 Cukup Aware 40-44 591.08 Cukup Aware 45-49 766.00 Cukup Aware 50-54 666.00 Cukup Aware
Total 721.60
Dari Tabel 4.8. diatas dapat dilihat bahwa tingkat awareness rata-rata responden tiap kategori usia tidak terlalu jauh berbeda (signifikan). Sehingga usia tidak menentukan tinggi rendahnya awareness responden.
Perbandingan tingkat awareness responden menurut kategori lama kerja dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.9. Perbandingan nilai Awareness rata-rata menurut Kategori Lama Kerja
LAMA KERJA (Tahun) Mean Kategori
2-5 737.26 Cukup Aware 6-9 726.35 Cukup Aware 10-13 694.59 Cukup Aware 18-21 576.00 Cukup Aware 22-25 708.67 Cukup Aware 26-29 576.00 Cukup Aware
Total 721.60
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat awareness rata-rata responden tiap kategori lama kerja tidak terlalu jauh berbeda (signifikan). Sehingga lama kerja tidak menentukan tinggi rendahnya awareness responden. Sebenarnya terbentuk hubungan yang searah dimana semakin lama responden bekerja, tingkat awareness semakin rendah. Namun pada kategori lama kerja 22 s/d 25 tahun terjadi peningkatan nilai awareness, hal ini disebabkan pada kategori tersebut ada
Uji Chi-Square dan Uji Korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan/pengaruh faktor jenis seksi, jabatan, tingkat pendidikan, usia dan lama kerja terhadap tingkat awareness karyawan terhadap HACCP.
4.5.1. Uji Chi-Square
Uji Chi-Square ini digunakan untuk menguji apakah ada hubungan antara faktor-faktor jenis seksi, jabatan, tingkat pendidikan, usia dan lama kerja terhadap tingkat awareness responden (karyawan). Tabel data yang digunakan untuk uji chi-square dapat dilihat pada Lampiran 6 dan output komputer berupa crosstabulation, clustered bar-chart, dan output statistik SPSS dapat dilihat pada Lampiran 7.
Tabel 4.10. Nilai Tingkat Signifikansi tiap Faktor terhadap Tingkat Awareness
Variabel Asymp.Sig Variabel Asymp.Sig Seksi 0.237 Lama Kerja 0.196 Jabatan 0.424 Pernah training 0.018 Pendidikan 0.001 Periode training 0.222
Usia 0.225
Jika nilai Asymp.Sig < 0.05, maka faktor tersebut memiliki hubungan terhadap tingkat awareness. Untuk jenis seksi, karena Asymp. Sig > 0.05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara jenis seksi dengan tingkat awareness karyawan. Sehingga meskipun karyawan ditempatkan di seksi manapun tidak akan berpengaruh terhadap tingkat awareness mereka terhadap HACCP.
Untuk jenis jabatan, karena Asymp. Sig > 0.05 maka dapat dikatakan bahwa juga tidak ada hubungan antara jabatan dengan tingkat awareness responden. Sehingga jabatan operator maupun foreman atau asisten tidak mempengaruhi tingkat awareness mereka terhadap HACCP.
Sedangkan untuk faktor latar belakang pendidikan responden, karena Asymp. Sig < 0.05 maka dapat dikatakan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat awareness karyawan. Sehingga tinggi rendahnya latar belakang pendidikan seseorang mempengaruhi tinggi rendahnya awareness mereka terhadap HACCP.
Selanjutnya untuk faktor usia, karena Asymp. Sig > 0.05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat awareness karyawan. Sehingga usia karyawan tidak mempengaruhi tingkat awareness mereka terhadap HACCP.
Faktor lama kerja karyawan bekerja juga memiliki hubungan dengan tingkat awareness mereka terhadap HACCP, karena Asymp. Sig > 0.05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara lama kerja dengan tingkat awareness karyawan. Sehingga lama kerja karyawan bekerja tidak mempengaruhi tingkat awareness mereka terhadap HACCP.
Faktor training yaitu faktor pernah tidaknya mengikuti training dan periode terakhir mengikuti training training juga diuji dengan uji Chi-Square untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara faktor training dengan tingkat awareness.
Hasil output statistik (dapat dilihat pada lampiran 7) menunjukkan bahwa untuk faktor pernah tidaknya mengikuti training memiliki Asymp. Sig sebesar 0.018 < 0.05 yang berarti ada hubungan antara pernah tidaknya mengikuti training dengan tingkat awareness mereka. Sedangkan faktor periode training memiliki Asymp. Sig sebesar 0.222 > 0.05 yang berarti periode training tidak berpengaruh terhadap tingkat awareness terhadap HACCP.
4.5.2. Uji Korelasi
Uji Korelasi ini digunakan untuk mengetahui arah dan besarnya hubungan antar faktor. Output Statistik SPSS untuk uji korelasi dapat dilihat pada Lampiran 8. Koefisien Korelasi untuk tiap variabel terhadap tingkat awareness dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.11. Koefisien Korelasi tiap Faktor terhadap Tingkat Awareness
Variabel Koefisien Korelasi Variabel Koefisien Korelasi Jabatan 0.164 Lama Kerja -0.061
Dari Tabel 4.11 diatas dapat dilihat bahwa korelasi yang signifikan pada level 0.05 adalah pendidikan dan awareness adalah -0.207. Dimana semakin tinggi tingkat pendidikan (semakin kecil angka menunjukkan tingkatan pendidikan yang lebih tinggi, urutan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 9) maka akan semakin tinggi pula tingkat awareness karyawan. Namun dilihat dari nilai korelasi yang hanya 0.207 dapat dikatakan hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat awareness lemah. Demikian juga dengan faktor pernah training, signifikan namun lemah.