Dalam menentukan sektor basis di Kota Malang dapat diketahui melalui analisis terhadap PDRB dari Harga konstan yang melalui tahap analisis perhitungan LQ (Location Quotient). Berikut ini merupakan PDRB Kota Malang dan Jawa Timur tahun 2007 – 2011.
Table 3. PDRB Kota Malang tahun 2007 – 2011
SEKTOR TAHUN 2007 2008 2009 2010 2011 1 Pertanian 94.878,89 105.616,50 108.559,58 112.672,28 114.288,45 2 Pertambangan dan Penggalian 9.733,89 10.195,97 9.766,16 10.052,25 10.259,40 3 Industri Pengolahan 7.406.957,66 8.618.538,98 9.173.767,78 10.313.209,31 11.313.110,64 4 Listrik, Gas, dan
Air Bersih 78.591,10 84.018,44 395.172,09 429.734,86 459.478,31 5 Konstruksi 589.476,27 725.909,14 834.449,38 965.697,46 1.114.741,02
6 Perdagangan
Hotel dan Restoran 7.035.243,39 8.453.446,32 10.186.009,72 11.722.277,01 13.181.279,51 7 Pengangkutan dan Komunikasi 972.893,28 1.176.944,72 841.718,17 925.867,41 1.001.948,50 8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1.981.023,35 2.402.890,63 2.222.255,79 249.7093,95 2.753.039,81 9 Jasa-Jasa 2.463.204,09 2.814.530,04 3.393.023,91 3.826.007,36 4.278.331,36 Jumlah 20.632.001,92 24.392.090,72 27.164.722,58 30.802.611,88 34.226.477,00 Sumber: BPS Malang, 2015
Table 4. PDRB Jawa Timur tahun 2007 – 2011
SEKTOR TAHUN 2007 2008 2009 2010 2011 1 Pertanian 89.627.587,43 102.815.940,40 112.233.859,20 122.623.967,70 136.027.919.60 2 Pertambangan dan Penggalian 11.651.721,50 13.811.999,33 15.275.669,63 17.030.742,77 19.794.059,02 3 Industri Pengolahan 154.363.456,10 176.922.161,80 193.256.482,10 214.024.729,40 239.844.520,40
18 SEKTOR
TAHUN
2007 2008 2009 2010 2011
4 Listrik, Gas, dan Air Bersih
8.546.731,79 9.789.252,59 10.625.414,01 11.768.641,20 12.690.733,03 5 Konstruksi
21.100.431,35 24.142.668,27 27.552.354,80 34.993.979,71 41.295.649,14 6 Perdagangan
Hotel dan Restoran
150.733.654,30 177.014.046,60 195.184.787,50 229.404.871,60 265.238.859,60 7 Pengangkutan dan Komunikasi 28.576.726,61 32.649.780,82 37.785.346,57 42.947.758,98 50.044.951,42 8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 25.255.804,60 29.734.777,58 33.145.827,89 38.165.173,52 43.570.708,23 9 Jasa-Jasa 47.125.768,21 54.511.047,19 61.787.816,10 67.605.907,67 75.636.174,35 Jumlah 536.981.881,90 621.391.881,90 686.847.557,70 778.565.772,50 884.143.574,80
Sumber: BPS Jawa Timur, 2015
Berdasarkan PDRB Kota Malang dan Jawa Timur, maka diperoleh perhitungan nilai LQ seperti pada tabel di bawah ini dan dapat diketahui basis – non basis pada setiap sektornya (basis : LQ >1).
Table 5. Nilai LQ Kota Malang
SEKTOR NILAI LQ KETERANGAN
1 Pertanian 0,022 Non Basis
2 Pertambangan dan Penggalian 0,013 Non Basis
3 Industri Pengolahan 1,218 Basis
4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,935 Non Basis
5 Konstruksi 0.697 Non Basis
6 Perdagangan Hotel dan Restoran 1.284 Basis
7 Pengangkutan dan Komunikasi 0,517 Non Basis 8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1,632 Basis
9 Jasa-Jasa 1,461 Basis
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan hasil perhitungan nilai LQ di atas, dapat diketahui sektor basis Kota Malang yaitu industri pengolahan; perdagangan, hotel, dan restoran; keuangan, persewaan, jasa perusahaan; dan jasa-jasa. Dalam arahan kebijakan rencana pembangunan jangka
19 menengah Kota Malang, pengembangan kawasan akan difokuskan pada pengembangan sektor industri karena sebagai salah satu sektor basis yang paling mendukung.
Identifikasi Sub Sektor Unggulan Sektor Industri Pengolahan di Kota Malang
Dalam menentukan analisis sub sektor unggulan ditempuh melalui dua tahap, yaitu mencari sub sektor industri basis dan mencari sub sektor industri yang memiliki daya saing tinggi dengan tingkat pertumbuhan, serta tergolong sub sektor progresif yang didasakan atas kelompok kegiatan utama pada sektor industri pengolahan. Untuk mendapatkan sub sektor unggulan, maka dicapai dengan menggunakan perhitungan LQ (Location Quotient) dan Shift Share Proportional Shift yang didasarkan atas data PDRB Kota Malang dan PDRB Propinsi Jawa Timur pada tahun 2007-2011.
a. Analisa Basis sub sektor Industri Pengolahan
Identifikasi sub sektor basis dilakukan pada sub sektor yang ada di masing-masing sub sektor di Kota Malang. Perhitungan nilai LQ menggunakan data produksi masing-masing sub sektor Industri dari tahun 2007-2011. Perhitungan analisis LQ menggunakan perbandingan produksi indsutri setiap sub sektor di Kota Malang. Hasil perhitungan akan menunjukkan bahwa suatu sub sektor tergolong basis atau tidak pada masing-masing kecamatan, yang ditandai dengan nilai LQ>1. Hal ini berarti bahwa sub sektor industri pengolahan tersebut merupakan sub sektor basis.
Perhitungan LQ dilakukan pada 9 Sub Suktor yang terdapat di Kota Malang, yang kemudian setiap sub sektor tersebut memiliki kode tertentu. Sejak tahun 1993 industri pengolahan bukan migas dibedakan dalam 9 kelompok kegiatan utama dan disajikan menurut dua dijit kode Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI), yaitu: industri makanan, minuman dan tembakau (31); industri tekstil, barang kulit dan alas kaki (32); industri kayu dan barang dari kayu lainnya (33); industry kertas dan barang cetakan (34); industry pupuk, kimia dan barang dari karet (35); industri semen dan barang galian bukan logam (36); industri logam dasar besi dan baja (37); industri barang dari logam, mesin dan peralatannya (38); dan industry pengolahan lainnya (39). Berikut hasil perhitungan LQ tiap sub sektor dan kesimpulan perhitungan LQ berdasarkan sub sektor Industri pada Kota Malang dari tahun 2007 – 2011.
20 Table 6. Nilai LQ berdasarkan sub sektor Industri di Kota Malang pada tahun 2007 - 2011
Sub Sektor Industri
Nilai LQ 2011
Industri makanan minuman
dan tembakau (31) 2.095667558
industri tekstil, barang dan
kulit alas kaki (32) 0.566069661
industri kayu dan hasil hutan
lainnya (33) 0.192697501
industri kertas dan barang
cetakan (34) 0.084547026
industri pupuk, kimia dan
barang dari karet (35) 0.028027977
industri semen dan barang
galian bukan logam (36) 0.082392609
industri logam dasar, besi dan baja (37) -
industri alat angkutan, mesin
dan peralatannya (38) 0.015153303
industri barang lainnya(39) 0.327559676
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai LQ yang menunjukan sector basis berdasarkan sub sektor industri pada Kota Malang dari tahun 2007 – 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Table 7. Sektor basis berdasarkan sub sektor industri di Kota Malang pada tahun 2007 - 2011
Sub Suktor Industri
Nilai LQ 2011
Industri makanan minuman
dan tembakau (31) BASIS
industri tekstil, barang dan
kulit alas kaki (32) NON BASIS
industri kayu dan hasil hutan
21 Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa sub sektor industri yang menjadi sektor non basis pada Kota Malang ialah :
- industri tekstil, barang dan kulit alas kaki
- industri kayu dan hasil hutan lainnya
- industri kertas dan barang cetakan
- industri pupuk, kimia dan barang dari karet
- industri semen dan barang galian bukan logam
- industri logam dasar, besi dan baja
- industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
- industri barang lainnya
b. Analisa Komponen Pertumbuhan Wilayah
Dalam perencanaan ekonomi pada suatu wilayah, penggunaan teknik analisis shift share sangat diperlukan karena untuk perubahan struktur ekonomi suatu wilayah dalam periode tertentu. Dimana analisis ini menggunakan 3 informasi dasar yang berhubungan satu sama lain yaitu: Pertama, pertumbuhan ekonomi referensi propinsi atau nasional (KPN), yang menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadap perekonomian daerah. Kedua, pergeseran proporsional (KPP) yang menunjukkan perubahan relatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di referensi propinsi atau nasional, dan yang ketiga, pergeseran diferensial (KPPW) yang memberikan informasi dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal)
industri kertas dan barang
cetakan (34) NON BASIS
industri pupuk, kimia dan
barang dari karet (35) NON BASIS
industri semen dan barang
galian bukan logam (36) NON BASIS
industri logam dasar, besi dan
baja (37) NON BASIS
industri alat angkutan, mesin
dan peralatannya (38) NON BASIS
22 dengan perekonomian yang dijadikan referensi. Untuk detail dari perubahan struktur ekonomi di Kota Malang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
a. KPN (Komponen Pertumbuhan Nasional)
KPN adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi, kebijakan ekonomi nasional dan kebijakan lain yang mampu mempengaruhi sector perekonomian dalam suatu wilayah. Kebijakan dimaksud ialah seperti kebijakan kurs, pengendalian inflasi dan masalah pengangguran serta kebijakan dalam perpajakan. Untuk nilai KPP, KPPW, PB, dan KPN pada Kota Malang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Table 8. Nilai KPN di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI
KPP NILAI KPPW NILAI PB NILAI KPN
Industri makanan minuman dan tembakau (31) 0.902 0.628 2.177
0.647 industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) 0.750 0.749 2.145
industri kayu dan hasil hutan lainnya (33) 0.752 1.004 2.403
industri kertas dan barang cetakan (34) 1.015 0.542 2.203
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) 0.856 0.345 1.847
industri semen dan barang galian bukan logam (36) 0.932 0.316 1.895
industri logam dasar, besi dan baja (37) 0.903 - -
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya (38) 1.061 0.012 1.719
industri barang lainnya(39) 0.879 0.423 1.948 Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa semua sub sektor industri memiliki nilai KPN >0 yang berarti bahwa pertumbuhan semua sub sektor industri di Kota Malang memberikan kontribusi positif dalam penyerapan tenaga kerja di propinsi Jawa Timur. Hal tersebut dapat dilihat dari sektor industri pada Kota Malang.
Untuk sektor perindustrian, jumlah tenaga kerja yang terserap dari sektor industri tahun 2007 sebanyak 33.262. Jumlah ini meningkat dari tahun 2007 hingga tahun 2011 sehingga penyerapan tenaga kerja menjadi sebesar 38.094 orang. Untuk lebih jelasnya, perkembangan jumlah tenaga kerja yang terserap dari sektor industri selama lima tahun terakhir terlihat pada grafik berikut ini :
23 gambar 5. Penyerapan Tenaga Kerja dalam Bidang Industri di Kota Malang
Sumber: Kecamatan dalam angka Kota Malang 007-2011
b. KPP (Komponen Pertumbuhan Proposional)
KPP adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yg disebabkan oleh komposisi sektor – sektor industri di wilayah tsb, perbedaan sektor dalam permintaan produk akhir, serta perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar. Untuk nilai KPP pada Kota Malang dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 9. Nilai KPP di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI KPP
+/- KETERANGAN
Industri makanan minuman dan tembakau (31) 0.902 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) 0.750 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri kayu dan hasil hutan lainnya (33) 0.752 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri kertas dan barang cetakan (34) 1.015 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) 0.856 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri semen dan barang galian bukan logam
(36) 0.932
Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri logam dasar, besi dan baja (37) 0.903 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
(38) 1.061
Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri barang lainnya(39) 0.879 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
24 Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa semua sub sektor industri yang memiliki nilai PP >0 yang berarti bahwa Kota Malang berspesialisasi pada sub sektor industri yang secara Propinsi Jawa Timur tumbuh secara cepat. Sub sektor industri tersebut ialah :
- Industri makanan minuman dan tembakau
- industri tekstil, barang dan kulit alas kaki
- industri kayu dan hasil hutan lainnya
- industri kertas dan barang cetakan
- industri pupuk, kimia dan barang dari karet
- industri semen dan barang galian bukan logam
- industri logam dasar, besi dan baja
- industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
- industri barang lainnya
Dimana berdasarkan data produksi PDRB Kota Malang, ke-9 sub sektor industri tersebut dapat dilihat pergerakannya sebagai berikut:
gambar 6. Pertumbuhan Sub Sektor Industri Di Kota Malang
Sumber: Kecamatan dalam angka Kota Malang 2007-2011
c. KPPW (Komponen Pertumbuhan Proposional Wilayah)
KPPW merupakan perubahan dari produksi atau kesempatan kerja yang dimiliki suatu wilayah karena keunggulan komparatif yang dimiliki wilayah tersebut, dukungan lembaga, prasarana serta kebijakan dari pemerintah setempat. Untuk nilai KPPW pada Kota Malang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
25 Table 10. Nilai KPPW di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI KPPW
+/- KETERANGAN
Industri makanan minuman dan tembakau (31) 0,628 Mempunyai daya saing
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) 0,748 Mempunyai daya saing
industri kayu dan hasil hutan lainnya (33) 1,004 Mempunyai daya saing
industri kertas dan barang cetakan (34) 0,542 Mempunyai daya saing
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) 0,345 Mempunyai daya saing
industri semen dan barang galian bukan logam
(36) 0,316 Mempunyai daya saing
industri logam dasar, besi dan baja (37) - Tidak Mempunyai daya saing
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
(38) 0,012 Mempunyai daya saing
industri barang lainnya(39) 0.423 Mempunyai daya saing
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, subsector industri yang memiliki PPW > 0 berarti bahawa subsector tersebut memiliki memiliki daya saing yang baik. Semua subsector Industri PDRB Kota Malang memiliki PPW > 0 kecuali subsector industri logam dasar, besi, dan baja. Jadi subsector industri Kota Malang memiliki daya saing apabila dibandingkan subsektor industry wilayah lain dalam Provinsi Jawa Timur.
Kota Malang memiliki 8 (delapan) subsector industri yang selama periode pengamatan telah menunjukkan peningkatan dalam PDRB. Nilai PPW menunjukkan bahwa nilai diatas 0 merupakan subsector yang memiliki daya saing yang semakin tinggi dibandingkan dengan komoditas industri yang sama di tingkat perekonomian Propinsi Jawa Timur. Nilai yang negatif menunjukkan bahwa subsector tersebut merupakan subsector yang mengalami penurunan daya saing di tingkat Propinsi. Pada Kota Malang hanya subsector industri logam dasar, besi, dan baja yang tidak memiliki daya saing, sedangkan subsector lainnya memiliki daya saing dan daya saing tersebut mengalami peningkatan tiap tahunnya.
26 d. PB (Pergeseran Bersih)
Table 11. Nilai PB di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI KPPW
+/- NILAI
KPP
KPP+KPPW (PB)
KETERANGAN
Industri makanan minuman dan
tembakau (31) 0.628 0.902 1.530 Maju industri tekstil, barang dan kulit alas
kaki (32) 0.748 0.750 1.499 Maju industri kayu dan hasil hutan lainnya
(33) 1.004 0.752 1.756 Maju
industri kertas dan barang cetakan
(34) 0.542 1.015 1.556 Maju
industri pupuk, kimia dan barang dari
karet (35) 0.345 0.856 1.201 Maju industri semen dan barang galian
bukan logam (36) 0.316 0.932 1.248 Maju industri logam dasar, besi dan baja
(37) - - - Mundur
industri alat angkutan, mesin dan
peralatannya (38) 0.012 1.061 1.072 Maju
industri barang lainnya(39) 0.423 0.879 1.302 Maju Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa semua komoditas industry pada Kota Malang mengalami kemajuan karena nilai dari PB lebih dari 0.
Untuk mengetahui sub sektor industri uunggulan maka perlu dillakukan analisis dari gabungan nilai LQ dan Pergeseran Bersih (PB) pada Kota Malang yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 12. Nilai LQ dan PB Pada Kota Malang
SUB SEKTOR INDUSTRI LQ PB
Industri makanan minuman dan tembakau (31) LQ >1 PB >1
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) LQ <1 PB >1
27 industri kertas dan barang cetakan (34) LQ <1 PB >1
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) LQ <1 PB >1
industri semen dan barang galian bukan logam
(36) LQ <1 PB >1
industri logam dasar, besi dan baja (37) LQ <1 PB >1
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
(38) LQ <1 PB >1
industri barang lainnya(39) LQ <1 PB >1
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, maka dengan menggunakan teori dari tipologi klasen dalam menentukan prioritas pengembangan komoditas industry unggulan pada Kota Malang dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
28
-Sub Sektor berkembang
Sub Sektor terbelakang Sub Sektor potensial
Sub Sektor unggulan PB > 0
PB < 0
LQ <1 LQ ≥1
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki industri kayu dan hasil hutan lainnya industri kertas dan barang cetakan
industri pupuk, kimia dan barang dari karet industri semen dan barang galian bukan logam industri logam dasar, besi dan baja
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya industri barang lainnya
Industri makanan minuman dan tembakau
29 Table 13. Kriteria dalam Grafik
Semua sub sektor industri pada Kota Malang dalam kategori sektor berkembang dan merupakan sektor non basis), namun ada satu sub sektor indutri yang masuk dalam kategori unggulan yaitu Industri makanan minuman dan tembakau.
Kriteria PB > 0 PB < 0
LQ < 1
Merupakan sektor non basis dengan pertumbuhan cepat.
Merupakan komoditas non basis dengan pertumbuhan lambat. LQ ≥1 Merupakan sektor basis dengan
dan pertumbuhan cepat.
Merupakan sektor basis dengan dan pertumbuhan lambat.
30 BAB V
KONSEP PENGEMBANGAN