Analisis Pengembangan Ekonomi
Wilayah Kota Malang dengan
Pendekatan Pengembangan Ekonomi
Lokal
Ekonomi Wilayah
–
Evaluasi IV
Oleh :
1. Rofiqoh Etika Amalin (3612100003) 2. Rizqia Mintarsih (3612100010) 3. Dinar Fitriasari (3612100015) 4. Vidya Trisandini Azzizi (3612100028)
i KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper yang membahas tentang
faktor-faktor penentuan lokaso perumahan dengan judul “Analisis Pengembangan Ekonomi Wilayah Kota Malang dengan Pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal” dengan lancar.
Selama proses penulisan penulis banyak mendapatkan bantuan dari pihak-pihak lain sehingga paper ini dapat terselesaikan dengan optimal. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian paper ini yaitu:
1. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg. dan Vely Kukinul Siswanto, ST, MT, MSc selaku dosen mata kuliah ekonomi wilayah.
2. Orang tua yang selalu memberikan motivasi,
3. Teman-teman yang telah banyak membantu kelancaran penyusunan paper ini.
Sekian, semoga paper ini dapat bermanfaat secara luas. Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Surabaya, Mei 2015
ii
1.4 Sistematika Penulisan ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Industri ... 3
2.2 Analisis Location Quotient ... 5
2.3 Shift-Share Analisis ... 6
2.4 Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) ... 7
2.5 One Village One Product (OVOP) ... 9
2.6 Kebijakan ... 12
BAB III GAMBARAN UMUM ... 14
BAB IV ANALISA... 17
Identifikasi Sektor Basis di Kota Malang... 17
Identifikasi Sub Sektor Unggulan Sektor Industri Pengolahan di Kota Malang ... 19
a. Analisa Basis sub sektor Industri Pengolahan ... 19
b. Analisa Komponen Pertumbuhan Wilayah ... 21
BAB V KONSEP PENGEMBANGAN... 30
5.1. Pengembangan Ekonomi Lokal ... 30
5.2. Konsep One Village One Product ... 33
BAB VI PENUTUP ... 34
5.1 Kesimpulan ... 34
5.2 Rekomendasi ... 34
5.3 Lesson Learned ... 34
iii DAFTAR TABEL
Table 1. Keunggulan dan Kelemahan Analisis LQ ... 6
Table 2. Keunggulan dan Kelemahan Analisis Shift-Shrare ... 7
Table 3. PDRB Kota Malang tahun 2007 – 2011 ... 17
Table 4. PDRB Jawa Timur tahun 2007 – 2011 ... 17
Table 5. Nilai LQ Kota Malang ... 18
Table 6. Nilai LQ berdasarkan sub sektor Industri di Kota Malang pada tahun 2007 - 2011 ... 20
Table 7. Sektor basis berdasarkan sub sektor industri di Kota Malang pada tahun 2007 - 2011 ... 20
Table 8. Nilai KPN di Kota Malang ... 22
Table 9. Nilai KPP di Kota Malang ... 23
Table 10. Nilai KPPW di Kota Malang ... 25
Table 11. Nilai PB di Kota Malang ... 26
Table 12. Nilai LQ dan PB Pada Kota Malang ... 26
Table 13. Kriteria dalam Grafik... 29
DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Peta Lokasi Kota Malang ... 14
Gambar 2. Pembagian administratif Kota Malang ... 14
Gambar 3. Peta Kota Malang ... 15
Gambar 4. Jumlah Industri Kota Malang 2010 – 2013 ... 16
gambar 5. Penyerapan Tenaga Kerja dalam Bidang Industri di Kota Malang ... 23
gambar 6. Pertumbuhan Sub Sektor Industri Di Kota Malang ... 24
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekonomi wilayah adalah merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang pengaruh aspek ruang kedalam analisis ekonomi dengan focus pembahasan pada tingkat wilayah (provinsi dan kabupaten). Penelitian ekonomi wilayah terdapat pertimbangan-pertimbangan mengenai kondisi dan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang tersedia disetiap wilayah ekonomi. Ekonomi wilayah itu sendiri diteliti dengan tujuan untuk membuka lapangan kerja baru, peningkatan ekonomi, menstabilkan harga, menjaga kelestarian lingkungan hidup, meratakan pembangunan wilayah, menentukan sektor unggulan, mensinergikan antar sektor, dan untuk memenuhi kebutuhan pangan. (Marisya, 2012) Pada intinya ekonomi wilayah ini diteliti untuk membantu dalam pengembangan wilayah.
Pengembangan Ekonomi Wilayah di Indonesia dilakukan dengan menggunakan konsep Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). Konsep ini berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan peran elemen-elemen endogenous development (pertumbuhan baru) dalam kehidupan sosial ekonomi lokal dan dengan melihat keterkaitan dan integrasinya dari berbagai aspek secara fungsional dan spasial. Konsep PEL ini didasari dengan pengembangan wirausaha lokal. Sehingga lebih menekankan pada pengembangan kewirausahaan lokal dan juga menganggap bahwa pengembangan wilayah ditentukan oleh tumbuh kembangnya wiraswasta lokal.
Dengan demikian pengembangan ekonomi tiap daerah memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing. Dengan demikian diperlukan adanya penelitrian mengenai sektor unggulan yang dimiliki suatu wilayah untuk membantu memudahkan dalam pengembangan wilayah.
1.2 Rumusan Masalah
Penulisan makalah ini didasari dengan perumusan masalah sebagai berikut: 1. Sektor apakah yang menjadi basis danunggulan di Kota Malang?
2 3. Bagaimana strategi yang tepat untuk membangun Kota Malang dengan basis sektor
unggulan tersebut? 1.3 Tujuan
Dengan rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, maka tujuan dalam penulisan makalah ini yakni :
1. Untuk mengidentifikasi sektor unggulan Kota Malang.
2. Untuk mengidentifikasi besarnya kontribusi sektor ungggulan tersebut terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah Kota Malang.
3. Untuk mengidentifikasi strategi kebijakan yang tepat dalam membangun Kota Malang dengan basis sektor unggulan.
1.4 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ini dilengkapi dengan sistematika penulisan untuk memudahkan pembaca dalam memahami makalah ini. Adapun sistematika penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan merupakan bab pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sistematika penulisan makalah.
Bab II Tinjauan Pustaka bab yang berisi penjelasan tentang pengembangan kawasan berbasis penanganan resiko bencana.
Bab III Gambaran Umum merupakan bagian bab yang menjelaskan lebih rinci gambaran dari kasus yang dibahas pada makalah ini.
Bab IV Analisis adalah bagian dari makalah yang akan membahas mengenai analisis yang untuk mengidentifikasi maslah tersebut.
Bab V Konsep Penanganan dimana pada bab ini membahas tentang kriteria penanganan yang akan ditawarkan untuk masalah yang dibahas. Penanganan ini disusun dengan melihat hasil dari analisis kasus.
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri
Industri Pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi/setengah jadi, dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekatkepada pemakai akhir. Termasuk dalam kegiatan ini adalah jasa industri/makloon dan pekerjaan perakitan (assembling).
Jasa industri adalah kegiatan industri yang melayani keperluan pihak lain. Pada kegiatan ini bahan baku disediakan oleh pihak lain sedangkan pihak pengolah hanya melakukan pengolahannya dengan mendapat imbalan sejumlah uang atau barang sebagai balas jasa (upah makloon), misalnya perusahaan penggilingan padi yang melakukan kegiatan menggiling padi/gabah petani dengan balas jasa tertentu.
Perusahaan atau usaha industri adalah suatu unit (kesatuan) usaha yang melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa, terletak pada suatu bangunan atau lokasi tertentu, dan mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada seorang atau lebih yang bertanggung jawab atas usaha tersebut. Perusahaan Industri Pengolahan dibagi dalam 4 golongan yaitu :
Industri Besar (banyaknya tenaga kerja 100 orang atau lebih) Industri Sedang (banyaknya tenaga kerja 20-99 orang) Industri Kecil (banyaknya tenaga kerja 5-19 orang)
Industri Rumah Tangga (banyaknya tenaga kerja 1-4 orang) a. Klasifikasi Industri
Klasifikasi industri yang digunakan dalam survei industri pengolahan adalah klasifikasi yang berdasar kepadaInternational Standard Industrial Classification of all Economic Activities (ISIC) revisi 4 , yang telah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dengan nama Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) tahun 2009.
4 Kode baku lapangan usaha suatu perusahaan industri ditentukan berdasarkan produksi utamanya, yaitu jenis komoditi yang dihasilkan dengan nilai paling besar. Apabila suatu perusahaan industri menghasilkan 2 jenis komoditi atau lebih dengan nilai yang sama maka produksi utama adalah komoditi yang dihasilkan dengan kuantitas terbesar.
6. Kulit, barang dari kulit dan alas kaki
7. Kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya
8. Kertas dan barang dari kertas
9. Pencetakan dan reproduksi media rekaman
10. Produk dari batu bara dan pengilangan minyak bumi 11. Bahan kimia dan barang dari bahan kimia
12. Farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional 13. Karet, barang dari karet dan plastik
14. Barang galian bukan logam 15. Logam dasar
16. Barang logam, bukan mesin dan peralatannya 17. Komputer, barang elektronik dan dan optik 18. Peralatan listrik
19. Mesin dan perlengkapan ytdl
20. Kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer 21. Alat angkutan lainnya
22. Furnitur
23. Pengolahan lainnya
5 2.2 Analisis Location Quotient
Analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat spesialisasi sektor-sektor ekonomi di suatu daerah atau sektor-sektor-sektor-sektor apa saja yang merupakan sektor-sektor basis atau leading sektor. Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang menjadi acuan. Satuan yang digunakan sebagai ukuran untuk menghasilkan koefisien LQ tersebut nantinya dapat berupa jumlah tenaga kerja per-sektor ekonomi, jumlah produksi atau satuan lain yang dapat digunakan sebagai kriteria. Teknik analisis ini belum bisa memberikan kesimpulan akhir dari sektor-sektor yang teridentifikasi sebagai sektor strategis. Namun untuk tahap pertama sudah cukup memberi gambaran akan kemampuan suatu daerah dalam sektor yang teridentifikasi. Rumus LQ yang digunakan untuk membandingkan kemampuan sektor-sektor dari daerah tersebut adalah (Warpani, 1984:68) :
Dimana :
Si = Jumlah buruh sektor kegiatan ekonomi i di daerah yang diselidiki S = Jumlah buruh seluruh sektor kegiatan ekonomi di daerah yang diselidiki Ni = Jumlah sektor kegiatan ekonomi i di daerah acuan yang lebih luas, di mana
daerah yang di selidiki menjadi bagiannya
N = Jumlah seluruh buruh di daerah acuan yang lebih luas
Dari perhitungan Location Quotient (LQ) suatu sektor, kriteria umum yang dihasilkan adalah :
1. Jika LQ > 1, disebut sektor basis, yaitu sektor yang tingkat spesialisasinya lebih tinggi dari pada tingkat wilayah acuan
2. Jika LQ < 1, disebut sektor non-basis, yaitu sektor yang tingkat spesialisasinya lebih rendah dari pada tingkat wilayah acuan
6 Table 1. Keunggulan dan Kelemahan Analisis LQ
Keunggulan dan Kelemahan Analisis LQ
Keunggulan Kelemahan
mudah dan cepat
Nilai hasil perhitungannya bias LQ mempertimbangkan ekspor langsung dan
tidak langsung
Biayanya murah dan dapat diterapkan pada
data historik untuk mengetahui trend.
2.3 Shift-Share Analisis
Metoda ini digunakan untuk mengetahui kinerja perekonomian daerah, pergeseran struktur, posisi relatif sektor-sektor ekonomi dan identifikasi sektor unggulan daerah dalam kaitannya dengan perekonomian wilayah acuan (wilayah yang lebih luas) dalam dua atau lebih kurun waktu. Analisis ini bertolak pada asumsi bahwa pertumbuhan sektor daerah sama dengan pada tingkat wilayah acuan, membagi perubahan atau pertumbuhan kinerja ekonomi daerah (lokal) dalam tiga komponen :
a. Komponen Pertumbuhan Wilayah Acuan (KPW), yaitu mengukur kinerja perubahan ekonomi pada perekonomian acuan. Hal ini diartikan bahwa daerah yang bersangkutan tumbuh karena dipengaruhi oleh kebijakan wilayah acuan secara umum.
b. Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP), yaitu mengukur perbedaan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi acuan dengan pertumbuhan agregat. Apabila komponen ini pada salah satu sektor wilayah acuan bernilai positif, berarti sektor tersebut berkembang dalam perekonomian acuan. Sebaliknya jika negatif, sektor tersebut menurun kinerjanya.
7 Dengan demikian apabila perubahan atau pertumbuhan kinerja ekonomi kota
adalah PEK, maka persamaannya dapat diformulasikan sebagai berikut (Ma’rif, 2000:3):
Pergeseran Netto (PN) dihitung dengan rumus :
Table 2. Keunggulan dan Kelemahan Analisis Shift-Shrare
Keunggulan dan Kelemahan Analisis Shift-Share
Kekurangan Kelemahan
Digunakan untuk memperileh gambaran rinci mengenai pergeseran struktur ekonomi
Asumsi yang digunakan bahwa sektor-sektor ekonomi acuan tumbuh dengan tingkat yang sama, Menggambarkan posisi relatif masing-masing
sektor perekonomian daerah terhadap wilayah acuan
Pergeseran posisi sektor dianggap linier. Menggambarkan sektor-sektor unggulan yang
dapat dipacu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
Menggambarkan sektor yang posisinya relatif lemah, namun dianggap strategis untuk dipacu (pertimbangan penyerapan tenaga kerja)
2.4 Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL)
PEL merupakan proses kemitraan antara pemerintah daerah dengan para
stakeholders termasuk sektor swasta dalam mengelola SDA dan SDM maupun
kelembagaan secara lebih baik melalui pola kemitraan dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi daerah dan menciptakan pekerjaan baru.
PEL adalah suatu proses dimana kemitraan yang mapan antara pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan pengusaha (swasta) mengelola sumber daya yang ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan merangsang pertumbuhan ekonomi pada suatu wilayah tertentu dnegan menekankan pada kontrol lokal, optimasi potensi SDM, kelembagaan, dan sumber daya fisik (Helming, 2003).
8 dan keuntunggulan kompetitif dalam konteks global, dengan tujuan akhir menciptakan lapangan pekerjaan yang layak dan merangsang pertumbuhan kegiatan ekonomi.
Adapun tujuan PEL adalah sebagai berikut.
Sebagai upaya percepatan pengembangan ekonomi lokal dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat lokal, dan organisasi masyarakat madani dalam suatu proses yang partisipatif.
Terbangun dan berkembangnya kemitraan dan aliansi strategis dalam upaya percepatan pengembangan ekonomi lokal diantara stakeholder secara sinergis.
Terbangunnya sarana dan prasarana ekonomi yang mendukung upaya percepatan pengembangan ekonomi lokal.
Terwujudnya pengembangan dan pertumbuhan UKM secara ekonomis dan berkelanjutan.
Terwujudnya peningkatan PAD dan PDRB.
Terwujudnya peningkatan pendapatan masyarakat, berkurangnya pengangguran, menurunnya tingkat kemiskinan.
Terwujudnya peningkatan pemerataan antar kelompok masyarakat, antar sektor dan antar wilayah.
Terciptanya ketahanan dan kemandirian ekonomi masyarakat lokal.
9 Langkah-langkah pelaksanaan PEL ada beberapa tahap, di antaranya adalah
sebagai berikut.
2.5 One Village One Product (OVOP)
Ada beberapa pengertian dari konsep OVOP ini yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Pendekatan pengembangan Potensi daerah di satu wilayah unuk menghasilkan satu produk kelas global yang unik khas daerah dengan memanfatkan sumber daya lokal. Satu desa sebagaimana dimaksud dapat dperluas menjadi kecamatan, kabupaten/kota, maupun kesatuan wilayah lainnya sesuai dengan potensi dan skala usaha secara ekonomis.
10 Konsep pengembangan wilayah berbasis ekonomi yang mengarahkan setiap desa dalam suatu wilayah untuk memproduksi satu komoditas unggulan yang kemudian dipasarkan pada skala yang lebih luas.
Tujuan dari penggunaan konsep OVOP untuk pengembangan produk unggulan daerah adalah sebagai berikut:
1. Untuk menggali dan mempromosikan produk inovatif dan kreatif lokal, dari sumber daya, yang bersifat unik khas daerah, bernilai tambah tinggi, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, memiliki image dan daya saing yang tinggi.
2. Mengembangkan produk unggulan daerah yang memiliki potensi pemasaran lokal maupun internasional.
3. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk, agar dapat bersaing dengan produk dari luar negeri (impor).
Kriteria produk yang digunakan untuk penerapan konsep OVOP dapat dijabarkan menjadi :
1. Produk unggulan daerah dan/atau produk kompetensi inti daerah. 2. Unik khas budaya dan keaslian lokal.
3. Berpotensi pasar domestik dan ekspor. 4. Bermutu dan berpenampilan baik.
5. Diproduksi secara kontinyu dan konsisten.
a. Prinsip Wilayah dalam Melaksanakan Konsep OVOP
Konsep OVOP dalam pelaksanaannya mempunyai tiga prinsip yang harus dimilki oleh daerah-daerah maupun negara yang akan menerapkan konsep tersebut untuk mengembangkan produk-produk unggulan lokal yang dimiliki oleh daerah maupun negaranya. Prinsip tersebut diantaranya :
1. Pikiran secara Global, Kegiatan secara Lokal.
11 usaha ini, komoditas lokal baru bisa mendapat penilaian dunia dan dapat dipasarkan dipasar secara global.
2. Usaha Mandiri dengan Inisiatif dan Kreativitas.
Pada umumnya, suatu gerakan yang dicanangkan dari tingkat atas sulit dijalankan dan berkelanjutan. Jika memakai uang atau dana swadaya, terpaksa usaha tersebut harus bersungguh-sungguh dalam pelaksanaannya. Apa yang akan dilaksanakan oleh daerah masing-masing diserahkan kepada daerah-daerah tersebut. Penerapan OVOP pada umumnya berdasarkan inisiatif masyarakat lokal, oleh sebab itu banyak yang tidak berhasil. Namun yang penting adalah keinginan yang berdasarkan inisiatif masyarakat.
“Satu desa satu produk” merupakan sebuah istilah. Namun secara implementasi satu
desa diperkenankan menghasilkan tiga produk, ataupun dapat pula dua desa satu produk. Sedangkan fungsi pemerintah, hanya berfungsi sebagai pembantu secara tidak langsung atau sebagai fasilitator.
3. Perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Suatu daerah yang berhasil akan selalu mempunyai “local leader” yang bagus. Jika daerah ingin membuat sesuatu yang bagus dalam skala besar atau nasional, dapat memanfaatkan penanaman modal besar dari luar daerah. Namun, ada pula daerah yang tidak mengikuti cara ini. Daerah tersebut, berusaha memperhatikan sekaligus meningkatkan keaslian dan kekhasan lokal. Masyarakat bergerak dengan inisiatif dan kreativitas mereka sendiri, dengan pertanggungjawaban sendiri. Dengan cara ini, OVOP dapat berjalan dan berkelanjutan. Pemodal besar berkepentingan untuk mencapai hasil dengan cepat, namun mereka juga akan cepat lari jika tidak berhasil. Anda harus berpikir siapa yang bertanggungjawab terhadap pembangunan daerah setempat.
12 2.6 Kebijakan
Secara garis besar, strategi pembangunan daerah Kota Malang difokuskan pada empat hal seperti diagramdi bawah ini.
Ditinjau dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Kota Malang tahun 2013 – 2018, rumusan isu strategis pembangunan Kota Malang adalah sebagai berikut.
1. Adanya berbagai dampak dinamika perkembangan kota menuju “Kota Metropolis” 2. Pengelolaan kependudukan yang berkualitas dan tingginya arus urbanisasi
3. Masih tingginya angka kemiskinan 4. Masih tingginya angka pengangguran
5. Pelaksanaan good governant dan reformasi birokrasi yang belum optimal 6. Kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun
7. Belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang 8. Globalisasi yang menuntut kualitas SDM yang handal 9. Peran perempuan yang belum optimal dalam pembangunan 10. Derajat kesehatan masyarakat yang belum optimal
13 14. Sarana transportasi dan manajemen transportasi yang belum memadai
15. Peningkatan kualitas prasarana, sarana, dan utilitas perumahan dan kawasan permukiman kota
16. Peningkatan kualitas pendidikan
17. Peningkatan ketenteraman dan ketertiban 18. Penguatan ketahanan pangan
14 BAB III
GAMBARAN UMUM
Kota Malang adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota yang berpenduduk 857.891 jiwa ini (2014) berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Luas wilayah kota Malang adalah 110,06 km2. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Bersama dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu, Kota Malang merupakan bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya.
Kota Malang yang terletak pada ketinggian antara 440 - 667 meter diatas permukaan air laut, merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya yang berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Malang secara astronomis terletak 112,06° - 112,07° Bujur Timur dan 7,06° - 8,02° Lintang Selatan, dengan
batas wilayah sebagai berikut :
Utara : Kecamatan Singosari dan Kec. Karangploso Kabupaten Malang
Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
Barat : Kecamatan Wagir dan Gambar 1. Peta Lokasi Kota Malang
Sumber : Wikipedia – Kota Malang
Gambar 2. Pembagian administratif Kota Malang
15 Kecamatan Dau Kabupaten Malang
Kota Malang secara administratif terbagi menjadi lima kecamatan, di antaranya Kecamatan Kedungkandang, Kecamatan Sukun, Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing, dan Kecamatan Lowokwaru.
Gambar 3. Peta Kota Malang
Sumber : RTRW Kota Malang 2010 – 2030
Pada Kota Malang bagian selatan merupakan dataran tinggi yang cukup luas dan cocok untuk industri. Untuk bagian utara merupakan dataran tinggi yang subur dan cocok untuk pertanian. Kota Malang bagian timur merupakan dataran tinggi dengan keadaan kurang subur, sedangkan bagian barat merupakan dataran tinggi yang amat luas menjadi daerah pendidikan.
16 Gambar 4. Jumlah Industri Kota Malang 2010 – 2013
17 BAB IV
ANALISA Identifikasi Sektor Basis di Kota Malang
Dalam menentukan sektor basis di Kota Malang dapat diketahui melalui analisis terhadap PDRB dari Harga konstan yang melalui tahap analisis perhitungan LQ (Location Quotient). Berikut ini merupakan PDRB Kota Malang dan Jawa Timur tahun 2007 – 2011.
Table 3. PDRB Kota Malang tahun 2007 – 2011
SEKTOR
TAHUN
2007 2008 2009 2010 2011
1 Pertanian 94.878,89 105.616,50 108.559,58 112.672,28 114.288,45
2 Pertambangan dan
Penggalian 9.733,89 10.195,97 9.766,16 10.052,25 10.259,40
3 Industri
Pengolahan 7.406.957,66 8.618.538,98 9.173.767,78 10.313.209,31 11.313.110,64
4 Listrik, Gas, dan
Air Bersih 78.591,10 84.018,44 395.172,09 429.734,86 459.478,31
5 Konstruksi 589.476,27 725.909,14 834.449,38 965.697,46 1.114.741,02
6 Perdagangan
Hotel dan Restoran 7.035.243,39 8.453.446,32 10.186.009,72 11.722.277,01 13.181.279,51
7 Pengangkutan dan
Komunikasi 972.893,28 1.176.944,72 841.718,17 925.867,41 1.001.948,50
8
Keuangan,
Persewaan, dan
Jasa Perusahaan
1.981.023,35 2.402.890,63 2.222.255,79 249.7093,95 2.753.039,81
9 Jasa-Jasa 2.463.204,09 2.814.530,04 3.393.023,91 3.826.007,36 4.278.331,36
Jumlah 20.632.001,92 24.392.090,72 27.164.722,58 30.802.611,88 34.226.477,00
Sumber: BPS Malang, 2015
89.627.587,43 102.815.940,40 112.233.859,20 122.623.967,70 136.027.919.60
2 Pertambangan dan Penggalian
11.651.721,50 13.811.999,33 15.275.669,63 17.030.742,77 19.794.059,02
3 Industri Pengolahan
18
8.546.731,79 9.789.252,59 10.625.414,01 11.768.641,20 12.690.733,03
5 Konstruksi
21.100.431,35 24.142.668,27 27.552.354,80 34.993.979,71 41.295.649,14
6 Perdagangan Hotel dan Restoran
150.733.654,30 177.014.046,60 195.184.787,50 229.404.871,60 265.238.859,60
7 Pengangkutan dan Komunikasi
28.576.726,61 32.649.780,82 37.785.346,57 42.947.758,98 50.044.951,42
8
Keuangan,
Persewaan, dan
Jasa Perusahaan 25.255.804,60 29.734.777,58 33.145.827,89 38.165.173,52 43.570.708,23
9 Jasa-Jasa
47.125.768,21 54.511.047,19 61.787.816,10 67.605.907,67 75.636.174,35
Jumlah
536.981.881,90 621.391.881,90 686.847.557,70 778.565.772,50 884.143.574,80
Sumber: BPS Jawa Timur, 2015
Berdasarkan PDRB Kota Malang dan Jawa Timur, maka diperoleh perhitungan nilai LQ seperti pada tabel di bawah ini dan dapat diketahui basis – non basis pada setiap sektornya (basis : LQ >1).
Table 5. Nilai LQ Kota Malang
SEKTOR NILAI LQ KETERANGAN
1 Pertanian 0,022 Non Basis
2 Pertambangan dan Penggalian 0,013 Non Basis
3 Industri Pengolahan 1,218 Basis
4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,935 Non Basis
5 Konstruksi 0.697 Non Basis
6 Perdagangan Hotel dan Restoran 1.284 Basis
7 Pengangkutan dan Komunikasi 0,517 Non Basis
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1,632 Basis
9 Jasa-Jasa 1,461 Basis
Sumber: Hasil Analisis, 2015
19 menengah Kota Malang, pengembangan kawasan akan difokuskan pada pengembangan sektor industri karena sebagai salah satu sektor basis yang paling mendukung.
Identifikasi Sub Sektor Unggulan Sektor Industri Pengolahan di Kota Malang
Dalam menentukan analisis sub sektor unggulan ditempuh melalui dua tahap, yaitu mencari sub sektor industri basis dan mencari sub sektor industri yang memiliki daya saing tinggi dengan tingkat pertumbuhan, serta tergolong sub sektor progresif yang didasakan atas kelompok kegiatan utama pada sektor industri pengolahan. Untuk mendapatkan sub sektor unggulan, maka dicapai dengan menggunakan perhitungan LQ (Location Quotient) dan Shift Share Proportional Shift yang didasarkan atas data PDRB Kota Malang dan PDRB Propinsi Jawa Timur pada tahun 2007-2011.
a. Analisa Basis sub sektor Industri Pengolahan
Identifikasi sub sektor basis dilakukan pada sub sektor yang ada di masing-masing sub sektor di Kota Malang. Perhitungan nilai LQ menggunakan data produksi masing-masing sub sektor Industri dari tahun 2007-2011. Perhitungan analisis LQ menggunakan perbandingan produksi indsutri setiap sub sektor di Kota Malang. Hasil perhitungan akan menunjukkan bahwa suatu sub sektor tergolong basis atau tidak pada masing-masing kecamatan, yang ditandai dengan nilai LQ>1. Hal ini berarti bahwa sub sektor industri pengolahan tersebut merupakan sub sektor basis.
20 Table 6. Nilai LQ berdasarkan sub sektor Industri di Kota Malang pada tahun 2007 - 2011
Sub Sektor Industri
Nilai LQ
2011
Industri makanan minuman
dan tembakau (31) 2.095667558
industri tekstil, barang dan
kulit alas kaki (32) 0.566069661
industri kayu dan hasil hutan
lainnya (33) 0.192697501
industri kertas dan barang
cetakan (34) 0.084547026
industri pupuk, kimia dan
barang dari karet (35) 0.028027977
industri semen dan barang
galian bukan logam (36) 0.082392609
industri logam dasar, besi dan baja (37) -
industri alat angkutan, mesin
dan peralatannya (38) 0.015153303
industri barang lainnya(39) 0.327559676
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai LQ yang menunjukan sector basis berdasarkan sub sektor industri pada Kota Malang dari tahun 2007 – 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Table 7. Sektor basis berdasarkan sub sektor industri di Kota Malang pada tahun 2007 - 2011
Sub Suktor Industri
Nilai LQ
2011
Industri makanan minuman
dan tembakau (31) BASIS
industri tekstil, barang dan
kulit alas kaki (32) NON BASIS
industri kayu dan hasil hutan
21 Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa sub sektor industri yang menjadi sektor non basis pada Kota Malang ialah :
- industri tekstil, barang dan kulit alas kaki
- industri kayu dan hasil hutan lainnya
- industri kertas dan barang cetakan
- industri pupuk, kimia dan barang dari karet
- industri semen dan barang galian bukan logam
- industri logam dasar, besi dan baja
- industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
- industri barang lainnya
b. Analisa Komponen Pertumbuhan Wilayah
Dalam perencanaan ekonomi pada suatu wilayah, penggunaan teknik analisis shift share sangat diperlukan karena untuk perubahan struktur ekonomi suatu wilayah dalam periode tertentu. Dimana analisis ini menggunakan 3 informasi dasar yang berhubungan satu sama lain yaitu: Pertama, pertumbuhan ekonomi referensi propinsi atau nasional (KPN), yang menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadap perekonomian daerah. Kedua, pergeseran proporsional (KPP) yang menunjukkan perubahan relatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di referensi propinsi atau nasional, dan yang ketiga, pergeseran diferensial (KPPW) yang memberikan informasi dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal)
industri kertas dan barang
cetakan (34) NON BASIS
industri pupuk, kimia dan
barang dari karet (35) NON BASIS
industri semen dan barang
galian bukan logam (36) NON BASIS
industri logam dasar, besi dan
baja (37) NON BASIS
industri alat angkutan, mesin
dan peralatannya (38) NON BASIS
22 dengan perekonomian yang dijadikan referensi. Untuk detail dari perubahan struktur ekonomi di Kota Malang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
a. KPN (Komponen Pertumbuhan Nasional)
KPN adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi, kebijakan ekonomi nasional dan kebijakan lain yang mampu mempengaruhi sector perekonomian dalam suatu wilayah. Kebijakan dimaksud ialah seperti kebijakan kurs, pengendalian inflasi dan masalah pengangguran serta kebijakan dalam perpajakan. Untuk nilai KPP, KPPW, PB, dan KPN pada Kota Malang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Table 8. Nilai KPN di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI
Industri makanan minuman dan tembakau (31) 0.902 0.628 2.177
0.647 industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) 0.750 0.749 2.145
industri kayu dan hasil hutan lainnya (33) 0.752 1.004 2.403
industri kertas dan barang cetakan (34) 1.015 0.542 2.203
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) 0.856 0.345 1.847
industri semen dan barang galian bukan logam (36) 0.932 0.316 1.895
industri logam dasar, besi dan baja (37) 0.903 - -
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya (38) 1.061 0.012 1.719
industri barang lainnya(39) 0.879 0.423 1.948
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa semua sub sektor industri memiliki nilai KPN >0 yang berarti bahwa pertumbuhan semua sub sektor industri di Kota Malang memberikan kontribusi positif dalam penyerapan tenaga kerja di propinsi Jawa Timur. Hal tersebut dapat dilihat dari sektor industri pada Kota Malang.
23 gambar 5. Penyerapan Tenaga Kerja dalam Bidang Industri di Kota Malang
Sumber: Kecamatan dalam angka Kota Malang 007-2011
b. KPP (Komponen Pertumbuhan Proposional)
KPP adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yg disebabkan oleh komposisi sektor – sektor industri di wilayah tsb, perbedaan sektor dalam permintaan produk akhir, serta perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar. Untuk nilai KPP pada Kota Malang dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 9. Nilai KPP di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI KPP
+/- KETERANGAN
Industri makanan minuman dan tembakau (31) 0.902 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) 0.750 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri kayu dan hasil hutan lainnya (33) 0.752 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri kertas dan barang cetakan (34) 1.015 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) 0.856 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri semen dan barang galian bukan logam
(36) 0.932
Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri logam dasar, besi dan baja (37) 0.903 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
(38) 1.061
Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
industri barang lainnya(39) 0.879 Spesialisasi dalam sub sektor industri yang secara regional tumbuh cepat
24 Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa semua sub sektor industri yang memiliki nilai PP >0 yang berarti bahwa Kota Malang berspesialisasi pada sub sektor industri yang secara Propinsi Jawa Timur tumbuh secara cepat. Sub sektor industri tersebut ialah :
- Industri makanan minuman dan tembakau
- industri tekstil, barang dan kulit alas kaki
- industri kayu dan hasil hutan lainnya
- industri kertas dan barang cetakan
- industri pupuk, kimia dan barang dari karet
- industri semen dan barang galian bukan logam
- industri logam dasar, besi dan baja
- industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
- industri barang lainnya
Dimana berdasarkan data produksi PDRB Kota Malang, ke-9 sub sektor industri tersebut dapat dilihat pergerakannya sebagai berikut:
gambar 6. Pertumbuhan Sub Sektor Industri Di Kota Malang
Sumber: Kecamatan dalam angka Kota Malang 2007-2011
c. KPPW (Komponen Pertumbuhan Proposional Wilayah)
25 Table 10. Nilai KPPW di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI KPPW
+/- KETERANGAN
Industri makanan minuman dan tembakau (31) 0,628 Mempunyai daya saing
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) 0,748 Mempunyai daya saing
industri kayu dan hasil hutan lainnya (33) 1,004 Mempunyai daya saing
industri kertas dan barang cetakan (34) 0,542 Mempunyai daya saing
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) 0,345 Mempunyai daya saing
industri semen dan barang galian bukan logam
(36) 0,316 Mempunyai daya saing
industri logam dasar, besi dan baja (37) - Tidak Mempunyai daya saing
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
(38) 0,012 Mempunyai daya saing
industri barang lainnya(39) 0.423 Mempunyai daya saing
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, subsector industri yang memiliki PPW > 0 berarti bahawa subsector tersebut memiliki memiliki daya saing yang baik. Semua subsector Industri PDRB Kota Malang memiliki PPW > 0 kecuali subsector industri logam dasar, besi, dan baja. Jadi subsector industri Kota Malang memiliki daya saing apabila dibandingkan subsektor industry wilayah lain dalam Provinsi Jawa Timur.
26 d. PB (Pergeseran Bersih)
Table 11. Nilai PB di Kota Malang
KOMODITAS INDUSTRI NILAI KPPW
+/- NILAI
industri tekstil, barang dan kulit alas
kaki (32) 0.748 0.750 1.499 Maju industri kayu dan hasil hutan lainnya
(33) 1.004 0.752 1.756 Maju
industri kertas dan barang cetakan
(34) 0.542 1.015 1.556 Maju
industri pupuk, kimia dan barang dari
karet (35) 0.345 0.856 1.201 Maju
industri semen dan barang galian
bukan logam (36) 0.316 0.932 1.248 Maju
industri logam dasar, besi dan baja
(37) - - - Mundur
industri alat angkutan, mesin dan
peralatannya (38) 0.012 1.061 1.072 Maju
industri barang lainnya(39) 0.423 0.879 1.302 Maju
Sumber: Hasil Analisis, 2015
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa semua komoditas industry pada Kota Malang mengalami kemajuan karena nilai dari PB lebih dari 0.
Untuk mengetahui sub sektor industri uunggulan maka perlu dillakukan analisis dari gabungan nilai LQ dan Pergeseran Bersih (PB) pada Kota Malang yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 12. Nilai LQ dan PB Pada Kota Malang
SUB SEKTOR INDUSTRI LQ PB
Industri makanan minuman dan tembakau (31) LQ >1 PB >1
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki (32) LQ <1 PB >1
27 industri kertas dan barang cetakan (34) LQ <1 PB >1
industri pupuk, kimia dan barang dari karet (35) LQ <1 PB >1
industri semen dan barang galian bukan logam
(36) LQ <1 PB >1
industri logam dasar, besi dan baja (37) LQ <1 PB >1
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
(38) LQ <1 PB >1
industri barang lainnya(39) LQ <1 PB >1
Sumber: Hasil Analisis, 2015
28
-Sub Sektor berkembang
Sub Sektor terbelakang Sub Sektor potensial
Sub Sektor unggulan PB > 0
PB < 0
LQ <1 LQ ≥1
industri tekstil, barang dan kulit alas kaki industri kayu dan hasil hutan lainnya industri kertas dan barang cetakan
industri pupuk, kimia dan barang dari karet industri semen dan barang galian bukan logam industri logam dasar, besi dan baja
industri alat angkutan, mesin dan peralatannya industri barang lainnya
Industri makanan minuman dan tembakau
29 Table 13. Kriteria dalam Grafik
Semua sub sektor industri pada Kota Malang dalam kategori sektor berkembang dan merupakan sektor non basis), namun ada satu sub sektor indutri yang masuk dalam kategori unggulan yaitu Industri makanan minuman dan tembakau.
Kriteria PB > 0 PB < 0
LQ < 1
Merupakan sektor non basis dengan pertumbuhan cepat.
Merupakan komoditas non basis dengan pertumbuhan lambat.
LQ ≥1 Merupakan sektor basis dengan dan pertumbuhan cepat.
30 BAB V
KONSEP PENGEMBANGAN 5.1. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pendekatan pengembangan ekonomi lokal merupakan suatu proses dimana kemitraan yang mapan antara pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan pengusaha (swasta) mengelola sumber daya yang ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan merangsang pertumbuhan ekonomi pada suatu wilayah tertentu dengan menekankan pada kontrol lokal, optimasi potensi SDM, kelembagaan, dan sumber daya fisik (Helming dalam Hutagalung, 2010). Poin penting dari konsep ini adalah pengorganisasian dan transformasi potensi lokal menjadi penggerak pembangunan lokal. Tumbuh kembangnya wirausaha lokal diibutuhkan dan menjadi penentu dengan ditopang oleh kelembagaan meliputi pemerintah daerah, institusi pendidikan, pengusaha lokal, dan masyarakat.
Terdapat beberapa indikator pelaksanaan PEL, yakni:
• Tumbuhnya entrepreneurship lokal
• Pertumbuhan perusahaan lokal
• Perkembangan perusahaan lokal ke luar wilayah
• Perekonomian wilayah bertumpu pada kegiatan lokal
Penyusunan strategi pelaksanaan pengembangan ekonomi lokal di Kota Malang didasarkan pada analisis SWOT, yaitu analisis yang mencermati kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan tantangan atau ancaman (threats) secara bersama-sama. SWOT sendiri merupakan analisis mengenai hal-hal pokok yang ada di lingkungan yang diasumsikan berpegaruh terhadap apa yang terjadi dan yang akan terjadi. Lingkungan itu sendiri mencakup dua lingkungan pokok, yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal (Humphrey, 2005). Adapun faktor-faktor yang diidentifikasi sebagai SWOT adalah:
1. Strength
a. Adanya arahan dari pemerintah Kota Malang memprioritaskan pembangunan industri dan UMKM
31 c. Terdapat instansi yang menunjang kegiatan ekonomi
d. Terdapat diversifikasi produk hasil industri, terutama dalam industri makanan dan minuman
2. Weakness
a. Minimnya penggunaan teknologi dalam pengembangan industri
b. Belum terdapat kebijakan insentif untuk menarik investor dalam penarikan modal
c. Belum ada sistem informasi untuk memenuhi kebutuhan industri d. Tenaga kerja di sektor industri kurang berkualitas
3. Opportunity
a. Adanya peluang peningkatan SDM pengelola industri Kota Malang b. Terbukanya peluang ekspor melalui pasar bebas
c. Terdapat banyak permintaan terhadap hasil produksi d. Memiliki branding yang dikenal oleh masyarakat umum
4. Threat
a. Terdapatnya industri asing yang berteknologi dan bermodal tinggi pada industri sejenis
b. Harga bahan baku yang tidak stabil c. Selera konsumen yang terus berubah
d. Pembinaan secara parsial dan tidak terintegrasi antara pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi
32 STRENGTH
1. Adanya arahan dari pemerintah Kota Malang memprioritaskan pembangunan industri dan UMKM 2. Sumber daya manusia yang jumlahnya melimpah 3. Terdapat instansi yang menunjang kegiatan
ekonomi
4. Terdapat diversifikasi produk hasil industri, terutama dalam industri makanan dan minuman
WEAKNESS
1.Minimnya penggunaan teknologi dalam pengembangan industri
2.Belum terdapat kebijakan insentif untuk menarik investor dalam penarikan modal
3.Belum ada sistem informasi untuk memenuhi kebutuhan industri
4.Tenaga kerja di sektor industri kurang berkualitas
OPPORTUNITY
1. Adanya peluang peningkatan SDM pengelola industri Kota Malang
2. Terbukanya peluang ekspor melalui pasar bebas
3. Terdapat banyak permintaan terhadap hasil produksi
4. Memiliki branding yang dikenal oleh masyarakat umum
S1-O1: Mengadakan pelatihan bagi tenaga kerja dari pemerintah guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produk industri
S1-O2: Membuat arahan yang digunakan untuk mengelola kegiatan industri
S2-O3: Memberdayakan SDM yang ada dengan harga murah untuk memenuhi permintaan produk S3-O3: Memanfaatkan kemudahan-kemudahan dari instansi terkait (koperasi, dsb.) untuk meningkatkan distribusi dan memenuhi permintaan produk
W1-O1: Mengadakan pelatihan khusus di bidang teknologi guna meningkatkan jumlah tenaga terlatih
W3-O2: Pengadaan sistem informasi yang terintegrasi guna memperluas radius pelayanan produk industri
W2-O2: Pengadaan insentif dari pemerintah guna menarik insentif dari luar negeri
W4-O4: Memberikan pelatihan kepada tenaga kerja untuk tenaga pemasaran
THREAT
1. Terdapatnya industri asing yang berteknologi dan bermodal tinggi pada industri sejenis
2. Harga bahan baku yang tidak stabil 3. Selera konsumen yang terus berubah 4. Pembinaan secara parsial dan tidak
terintegrasi antara pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi
S4-T1: Meningkatkan daya saing dengan menggunakan keragaman produk industri
S4-T3: Peningkatan kreativitas produsen guna memenuhi kebutuhan konsumen yang terus berubah
S1-T4: Pencerdasan terhadap semua stakeholder yang berhubungan dalam pengembangan ekonomi lokal
S1-T2: Adanya subsidi dari pemerintah terkait pengadaan bahan baku industri
W4-T4: Mengadakan pelatihan yang terintegrasi guna meningkatkan kualitas tenaga kerja di sektor industri
W3-T3: Melakukan pembaruan informasi mengenai trend permintaan dari minat yang sedang marak W2-T1: Pengadaan kebijakan insentif untuk mempermudah penanaman modal sehingga daya saing juga meningkat
33 5.2. Konsep One Village One Product
OVOP (One Village One Product) adalah upaya memberi nilai tambah atas produk unggulan satu desa atau wilayah tertentu yang mengandung local content berbasis
budaya. Gerakan “One Village, One Product” telah menarik perhatian dari daerah di mana mereka berpenghasilan rendah tidak dapat menarik industri teknologi tinggi, dan juga dari orang-orang yang bekerja pada proyek-proyek pengentasan kemiskinan. Gerakan ini merekomendasikan penduduk setempat untuk menggunakan sumber daya lokal untuk menghasilkan tinggi nilai tambah produk, dan membawa hasil yang mereka buat ke pasar.
Berikut ini adalah Prinsip OVOP : 1. Lokal tapi global
2. Kemandirian dan kreativitas
3. Pengembangan sumber daya manusia
Berikut adalah strategi pelaksanaan program OVOP :
1. Kolaborasi antara penanam modal (pemerintah dan swasta) serta masyarakat 2. Memanfaatkan hasil local berskala global sebagai keunikan suatu daerah 3. Perbaikan mutu dan penampilan produk
4. Promosi dan publikasi dalan skala regional maupun global
34 BAB VI
PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. Di Kota Malang semua sub sektor industri masuk dalam kategori sektor berkembang dan merupakan sektor non basis, namun ada satu sub sektor indutri yang masuk dalam kategori unggulan dan merupakan sektor basis yaitu Industri makanan minuman dan tembakau. 2. Berdasarkan perkembangan industri, aka ada strategi dengan menggunakan pelaksanaan
program OVOP, yaitu sebagai berikut :
a. Kolaborasi antara penanam modal (pemerintah dan swasta) serta masyarakat b. Memanfaatkan hasil local berskala global sebagai keunikan suatu daerah c. Perbaikan mutu dan penampilan produk
d. Promosi dan publikasi dalan skala regional maupun global
e. Koperasi dan UKM menghasilkan produk berkualitas untuk memnuhi permintaan pasar
5.2 Rekomendasi
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini dapat diberikan rekomendasi terhadap wilayah studi, yaitu antara lain:
1. Meningkatkan jaringan informasi untuk selalu memperbarui berita terbaru 2. Meningkatkan SDM dan
3. Meningkatkan daya saing yang dimiliki oleh Kota Malang 5.3Lesson Learned
1. Berdasarkan analisis komparasi LQ dan Shift Share diketahui terdapat beberapa sub sektor unggulan sektor pertanian di setiap wilayah berbeda.
35 DAFTAR PUSTAKA
Budiharsono, Sugeng, Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan, Pradnya Paramita, Jakarta, 2001.
Ma’rif, Samsul, Ekonomi Wilayah dan Kota, Ekonomika dalam Perencanaan Identifikasi Sektor
Strategis, Diktat Kuliah PWK UNDIP Semarang, 2002.
Nawanir, Hanif (2003), Studi Pengembangan Ekonomi dan Keruangan Kota Sawahlunto Pascatambang, Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro (2003)
Warpani, Suwardjoko, Analisis Kota dan Daerah, ITB Bandung, 1984.