• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Kelayakan Administrasi, Teknis dan Lingkungan

Dalam dokumen Laporan Akhir Dokumen Rekomendasi Teknis (Halaman 11-70)

Kerangka Metodologi Kajian

Gambar 1. 1. Kerangka Rekomendasi Kelayakan

Bab 2 Daftar Kebijakan Terkait

Kebijakan Pengembangan Laboratorium

1. SNI ISO/IEC 17025:2008 tentang Persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi.

Kebijakan Pengadaan Tanah

1. Undang-Undang No 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum

2. Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

3. Peraturan Presiden No 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

4. Peraturan Presiden No 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

5. Peraturan Presiden No 40 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagu Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

6. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

7. Peraturan Menteri Keuangan RI No. 13/PML.02/2013 tentang Biaya Operasional dan Biaya Pendukung Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 8. Peraturan Kepala Badan Pertanahan RI No 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis

9. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 6 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah.

Kebijakan Bangunan Gedung

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

2. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Pendataan Bangunan Gedung;

4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Izin Mendirikan Bangunan Gedung;

5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 25 Tahun 2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung;

6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26 tahun 2007 tentang Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung.

7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29 Tahun 2006 tentang Pedoman

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.

8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung.

9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26 Tahun 2008 ttg Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24 Tahun 2008 ttg Pedoman Pemeliharaan

dan Perawatan Bangunan Gedung.

12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Pemeriksaan Berkala Bangunan Gedung.

13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

Bab 3 Profil Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi

KEMENKOMINFO

Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi adalah Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika dan secara administratif dibina oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika dan secara teknis operasional dibina oleh Direktur Standardisasi Perangkat Pos dan Informatika.

Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi mengacu pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 04/PER/M.KOMINFO/03/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomimikasi dan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 20/PER/M.KOMINFO/4/2007 (sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diubah atau diganti dengan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Permenkominfo Nomor 04/PER/M.KOMINFO/03/2011). Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi menyelenggarakan fungsi :

1. penyusunan rencana dan program di lingkungan Balai Besar Pengujian; 2. pelaksanaan pelayanan administrasi pengujian alat/perangkat telekomunikasi; 3. pelaksanaan analisa evaluasi sistem mutu pelayanan dan pengujian alat/perangkat

telekomunikasi;

4. pelaksanaan pengujian dan pemeliharaan alat/perangkat telekomunikasi,

electromagnetic compatibility (EMC) dan kalibrasi;

5. pelaksanaan urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian dan rumah tangga. Balai Besar Pengujian terdiri atas :

1. Bidang Pelayanan; 2. Bidang Sarana Teknik; 3. Bagian Tata Usaha; dan

4. Kelompok Jabatan Fungsional

Peranan Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi dalam proses Pengujian alat/perangkat telekomunikasi melakukan pengujian antara lain:

1. Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Radio; 2. Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Non Radio;

3. Electromagnetic Compatibility Alat/Perangkat Telekomunikasi; 4. Pelayanan Kalibrasi Perangkat Telekomunikasi;

5. Jasa Penyewaan Alat.

Dari perkembangan jumlah alat dan perangkat telekomunikasi yang beredar di Indonesia yang semakin meningkat dan dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat, Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi secara terus menerus mengembangkan kemampuannya baik infrastruktur maupun sumber daya manusia.

Untuk menjamin mutu pengujian dan kompetensi laboratorium yang lebih baik, Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu yang mengacu pada ISO-17025:2005 dan telah memperoleh akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) LP-112-IDN sejak tahun 2001.

Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi dalam melaksanakan pengujian alat/perangkat telekomunikasi mengacu pada Spesifikasi Teknis Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Technical Specification Regulation), Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Acuan Internasional seperti ISO, ETSI, RR, ITU, IEC sehingga mampu melindungi dan menjaga kualitas alat/perangkat telekomunikasi serta menjamin bahwa alat/perangkat telekomunikasi yang digunakan atau beredar di Indonesia benar-benar sesuai dengan persyaratan teknis.

Dengan misi menjadi laboratorium pengujian bertaraf internasional, BBPPT mempunyai misi untuk :

1. Meningkatkan kualitas pengujian perangkat telekomunikasi; 2. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat; 3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia;

4. Mendukung tumbuh kembangnya industri telematika dalam negeri;

5. Meningkatkan peran serta kerjasama nasional dan internasional bidang

laboratorium;

6. Meningkatkan ruang lingkup (inovasi) layanan jasa laboratorium;

7. Mendukung penerapan standar wajib bagi perlindungan keselamatan, keamanan, dan kesehatan.

Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi dilengkap dengan sarana pendukung berupa:

1. Laboratorium Pengujian Perangkat Radio;

2. Laboratorium Pengujian Perangkat Berbasis Kabel;

3. Laboratorium Pengujian EMC;

4. Laboratorium Kalibrasi.

Jenis layanan pengujian yang dilayani oleh laboratorium-laboratorium di lingkungan BBPPT adalah:

1. Pengujian Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Radio;

2. Pengujian Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Non Radio;

3. Pengujian Electromagnetic Compatibility Alat/Perangkat Telekomunikasi;

Bab 4 Profil Kelayakan Kandidat Lahan

Kandidat Tapos 1

Aspek Administrasi

1. Hasil suvei dengan bantuan GPSMap 62 32 Channel, lokasi kandidat berada di Desa Tapos, Kecamatan Tapos, Kelurahan Tapos, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

2. Sertifikat hak milik, oleh Ibu Ivon dan 1 Kerabat dekat dengan total sertifikat 9 SHM. 3. Total luas SHM 22,723 m2.

4. Kepemilikan bersama.

5. Bukti Bayar PBB Tahun 2015 ada. Berdasarkan hasil pengkajian data sekunder yang didapatkan melalui Dinas Pendapatan Asli Daerah Kota Depok terkait bukti bayar pajak bumi dan bangunan (PBB), kandidat lahan Tapos 1 telah membayar lunas pajak tahun 2015.

6. Harga NJOP sebesar Rp. 537,000,- (m2).

Aspek Lingkungan

1. Berdasarkan rencana tata ruang kota depok, masuk dalam penetapan kawasan Perumahan Kepadatan Rendah yang artinya perlu penyesuaian dalam ijin kegiatan di lokasi. Advise Planning diperlukan.

2. Kegiatan yang serupa dengan Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi di lokasi ini adalah Balai Besar Penilitian Benih Ikan, Kementerian Pertanian. Sedangkan kegiatan industri lainnya berupa air minum SanQua, Vit, Pergudangan kendaraan roda dua Honda.

3. Permukiman yang berada disekitar kawasan merupakan permukiman kepadatan

rendah. Perkembangannya sangat terbatas. Hal ini didasari atas penetapan kawasan Tapos sebagai kawasan resapan air. Adanya kegiatan/kawasan golf terdekat merupakan bentuk kegiatan perlindungan sebagai kawasan terbuka bagi resapan air.

4. Tingkat polusi udara berdasarkan pengamatan sangat rendah, karena jauh dari Tol Jagorawi, kemudian kegiatan permukiman sekitar masih rendah dan aktifitas kegiatan jasa lainnya tidak berkembang.

5. Jaminan keamanan terdekat berupa pos polisi Tapos.

6. Fasiltias umum tersedia seperti Jaringan Jalan Kota terkoneksi langsung dengan Jalan Tol Jagorawi. Fasilitas Angkutan Umum tersedia dengan intensitas baik (tiap 15-20 menit). Tersedia Pos Tunggu (Mangkal) Taksi Blue Bird dan Taksi Express.

7. Gangguan pencemaran di sungai tidak terdapat, demikian juga halnya dengan gangguan dari kegiatan disekitar. Lahan kandidat saat ini digunakan untuk kegiatan pertanian pangan obat dan makanan.

8. Kegiatan disekitar lahan kandidat berupa pertanian sawah, pertanian pangan, TPU, Permukiman Kopasus, Industri Gudang, dan Balai Besar Benih Ikan-KEMENTAN. 9. Pada lahan kandidat tidak terdapat bangunan baik itu semi permanen maupun

permanen. Hanya pepohonan dan rerumputan.

10. Akses ke lahan sangat mudah, baik dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Karawang dengan memanfaat Jaringan Jalan Toll Jagorawi.

11. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan Raya Tapos yang direncanakan akan dilebarkan menjadi 20 m. Lebar jalan saat ini 6 meter.

12. Posisi lahan terhadap jalan simetris sepanjang +- 30 meter hingga ke tepi sungai tapos. Dalam perencanaan bangunan gedung nantinya diharapkan menyesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok agar pemanfaatan tepi sungai Tapos sebagai Sempadan Sungai tidak merubah fungsi kawasan (Sempadan) namun dilakukan penanganan berupa Lahan Parkir Tamu Balai, Taman dan Kebun Obat yang prinsipnya digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

13. Kawasan bebas dari banjir. Titik tertinggi dari muka jalan mencapai 5-7 meter. Tinggi muka lahan terhadap kawasan persawahan dibawahnya mencapai 10-20 m.

14. Ketersediaan transportasi umum ada melayani dari Depok dan ke Cibinong melintasi Jalan Raya Tapos. Tingkat kepadatan lalu lintas rendah – sedang.

15. Jaringan jalan raya tapos memadai untuk angkutan tonase sedang, namun tidak untuk tonase besar (kontainer).

Gambar 4. 1. Bukti Bayar PBB Kandidat Lahan Tapos 1

Sumber: Dispenda Kota Depok, 2015

Aspek Teknis

1. Permukiman yang berada disekitar kawasan merupakan permukiman kepadatan

rendah. Perkembangannya sangat terbatas. Hal ini didasari atas penetapan kawasan Tapos sebagai kawasan resapan air. Adanya kegiatan/kawasan golf terdekat merupakan bentuk kegiatan perlindungan sebagai kawasan terbuka bagi resapan air.

2. Tingkat polusi udara berdasarkan pengamatan sangat rendah, karena jauh dari Tol Jagorawi, kemudian kegiatan permukiman sekitar masih rendah dan aktifitas kegiatan jasa lainnya tidak berkembang.

4. Fasiltias umum tersedia seperti Jaringa Jalan Kota terkoneksi langsung dengan Jalan Tol Jagorawi. Fasilitas Angkutan Umum tersedia dengan intensitas baik (tiap 15-20 menit). Tersedia Pos Tunggu (Mangkal) Taksi Blue Bird dan Taksi Express.

5. Gangguan pencemaran di sungai tidak terdapat, demikian juga halnya dengan gangguan dari kegiatan disekitar. Lahan kandidat saat ini digunakan untuk kegiatan pertanian pangan obat dan makanan.

6. Kegiatan disekitar lahan kandidat berupa pertanian sawah, pertanian pangan, TPU, Permukiman Kopasus, Industri Gudang, dan Balai Besar Benih Ikan.

7. Pada lahan kandidat tidak terdapat bangunan baik itu semi permanen maupun permanen. Hanya hutan pepohonan dan rerumputan.

8. Akses ke lahan sangat mudah, baik dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Karawang dengan memanfaat Jaringan Jalan Toll Jagorawi.

9. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan Raya Tapos yang direncanakan akan dilebarkan menjadi 20 m. Lebar jalan saat ini 6 meter.

10. Posisi lahan terhadap jalan simetris sepanjang +- 30 meter hingga ke tepi sungai tapos. Dalam perencanaan bangunan gedung nantinya diharapkan menyesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok agar pemanfaatan tepi sungai Tapos sebagai Sempadan Sungai tidak merubah fungsi kawasan (Sempadan) namun dilakukan penanganan berupa Lahan Parkir Tamu Balai, Taman dan Kebun Obat yang prinsipnya digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

11. Kawasan bebas dari banjir. Titik tertinggi dari muka jalan mencapai 5-7 meter. Tinggi muka lahan terhadap kawasan persawahan dibawahnya mencapai 10-20 m.

12. Ketersediaan transportasi umum ada melayani dari Depok dan ke Cibinong melintasi Jalan Raya Tapos. Tingkat kepadatan lalu lintas rendah – sedang.

13. Jaringan jalan raya tapos memadai untuk angkutan tonase sedang, namun tidak untuk tonase besar (kontainer).

14. Ketersediaan jaringan energi listrik dapat dipenuhi dengan PLN Jaringan Pelayanan Jabar dan juga pemenuhan melalui penyediaan Genset. Penyediaan Trafo sangat disarankan agar kegiatan BBPPT tidak terganggu dan berjalan dengan mantab.

15. Kandidat lahan tidak dilintasi jaringan SUTET, yang artinya tidak ada gangguan elektromagnetis.

16. Ketersediaan jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Xl dan Mentari. Namun jaringan fiber optik belum melintasi kawasan.

17. Sistem jaringan air minum PDAM belum tersedia, namun dapat dipenuhi melalui jaringan non perpipaan yakni Sumur Bor dengan kedalam 15-40 meter. Berdasarkan diskusi dan pengamatan terhadap sumur warga, kualitas air tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.

18. Sistem drainase primer tersedia melalui jaringan sungai Tapos, apabila BBPPT memilih lokasi ini, sebaiknya menyiapkan jaringan di dalam lingkungan dan konektifitas ke jaringan perkotaan dan primer terdekat.

Gambar 4. 2. Arahan Pemanfaatan Lahan Sesuai RTRW Kota Depok

Gambar 4. 3. Gambar Lokasi Kandidat dari Pintu Keluar Tol Cimanggis

Gambar 4. 4. Bentuk Poligon Lahan Kandidat Tapos 1

Sumber: Olahan Citra Satelit Google Earth, 2015

Gambar 4. 5. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1)

Gambar 4. 7. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (3)

Kandidat Tapos 2

Aspek Administrasi

1. Berada di desa Desa Cimpaeun Kecamatan Tapos, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. 2. Luas lahan menurut Dispenda setempat : 10,920 m2 ++

3. SHM oleh Sugiono Djauhari, Ir.

4. Kepemilikan diketahui dimiliki oleh 1 orang.

5. PBB terhutang (yang harus dibayarkan) Rp.25,511,850,- 6. Nilai NJOP Per m2 adalah Rp. 1,862,000,-

Aspek Lingkungan

1. Konflik pemanfaatan ruang pada tidak ada, karena lahan berupa kosong, dan ditanami tumbuhan pertanian pangan.

2. Berdasarkan arahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok, ditetapkan sebagai lahan pertanian. Namun berdasarkan diskusi dengan Dinas Tata Ruang dan

Permukiman Kota Depok dimungkinkan untuk pengembangan

permukiman/perumahan sesuai dengan perkembangan disekitarnya.

3. Gangguan pencemaran tidak ada, hanya terdapat pada drainase lingkungan perkotaan yang tepat berada di depan lahan Jln. Raya Tapos yang tidak mengalir dan menyebabkan bau tidak sedap.

4. Kandidat ini berada di kawasan permukiman yang akan berpotensi padat dan terus berkembang.

5. Tidak ada bangunan liar didalam lahan kandidat.

6. Tingkat polusi udara rendah-sedang, intensitas kendaraan yang melintasi sedang-rendah.

7. Jaminan keamanan lingkungan berupa Pos Polisi dan keswadayaan masyarakat. 8. Fasilitas umum tersedia dengan baik

9. Akses ke lokasi cukup baik, dari Exit Toll Cimanggis ditempuh sekitar 7-10 menit. 10. Posisi lahan sangat simetris dengan Jalan Raya Tapos yang terpisahkan dengan drainase

perkotaan selebar 3 meter. 11. Lokasi bebas dari banjir.

12. Tingkat kepadatan lalu lintas rendah-sedang.

13. Transportasi umum tersedia dengan intensitas rendah-sedang (tiap 15-20 menit)

14. Jalur transportasi terkoneksi dengan baik ke Jaringan Jalan Tol Jagorawi dan dari Jln. Raya Tapos ke Jln Raya Bogor. Lokasi dapat diakses dengan mudah dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Karawang dan lainnya.

15. Sistem jaringan jalan lokal yakni Jl. Raya Tapos dapat dilalui oleh kendaraan tonase sedang.

Aspek Teknis

1. Ketersediaan jaringan energi listrik dapat dipenuhi dengan PLN Jaringan Pelayanan Jabar dan juga pemenuhan melalui penyediaan Genset. Penyediaan Trafo sangat disarankan agar kegiatan BBPPT tidak terganggu dan berjalan dengan mantab.

2. Kandidat lahan tidak dilintasi jaringan SUTET, yang artinya tidak ada gangguan elektromagnetis.

3. Ketersediaan jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Xl dan Mentari. Namun jaringan fiber optik belum melintasi kawasan.

4. Sistem jaringan air minum PDAM belum tersedia, namun dapat dipenuhi melalui jaringan non perpipaan yakni Sumur Bor dengan kedalam 15-20 meter. Berdasarkan diskusi dan pengamatan terhadap sumur warga, kualitas air tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.

5. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan Raya Tapos yang direncanakan akan dilebarkan menjadi 20 m. Lebar jalan saat ini 6 meter.

6. Sistem drainase primer tersedia melalui jaringan sungai Tapos, apabila BBPPT memilih lokasi ini, sebaiknya menyiapkan jaringan didalam lingkungan dan konektifitas ke jaringan perkotaan dan primer terdekat.

7. Dalam upaya mengantisipasi pencemaran debu dan potensi getaran dari jalan utama l. Raya Tapos. BBPPT dapat dapat dilakukan dengan penanam Pohon Jati Emas, Bambu dan Rumput.

Gambar 4. 8. Lokasi Kandidat Lahan Terhadap Permukiman Sekitar

Gambar 4. 9. Bentuk Poligon Lahan dan Kondisi Sekitar Lahan

Gambar 4. 10. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1)

Gambar 4. 11. Arahan Pemanfaatan Lahan Sesuai RTRW Kota Depok

Gambar 4. 12. Posisi Kandidat Lahan Terhadap Pintu Keluar Tol Cimanggis

Kandidat Tapos Cilodong

Aspek Administrasi

1. Berada di desa Desa Cilangkap Kecamatan Tapos, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. 2. Luas tanah menurut Dispenda PPB: 49,010 m2

3. SHM oleh Hendri Prastowo, Ir

4. Kepemilikan diketahui dimiliki oleh 1 orang.

5. PBB terhutang (yang harus dibayarkan) Rp.75,230,350,-

6. Harga permeter yang diterbitkan oleh instansi berjenjang belum ada. 7. Nilai NJOP Per m2 adalah Rp. 614,000,- atau total Rp. 30,092,140,000

Aspek Lingkungan

1. Konflik pemanfaatan ruang pada tidak ada, karena lahan berupa kosong, dan digunakan untuk fasilitas sosial (lapangan bola).

2. Berdasarkan arahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok, ditetapkan sebagai lahan industri.

3. Gangguan pencemaran ada, hanya terdapat pada drainase lingkungan perkotaan yang tepat berada di depan lahan Jln. Bogor yang tidak mengalir dan menyebabkan bau tidak sedap. Selain itu terdapat bangunan di sepanjang drainase tersebut yang tidak legal dan menganggu pandangan dan estetika jalan dan kota. Kumuh, Kotor dan Berbau.

4. Kandidat ini berada di sekitar kawasan permukiman yang akan berpotensi padat dan terus berkembang, dimana terdapat beberapa lahan kosong yang arahan pengembangannya adalah hunian/permukiman

5. Tidak ada bangunan liar didalam lahan kandidat.

6. Tingkat polusi udara sedang-tinggi, intensitas kendaraan yang melintasi tinggi. Truk Kontainer, Tonase sedang hingga angkutan umum. Sangat bising.

7. Jaminan keamanan lingkungan berupa Pos Polisi dan keswadayaan masyarakat. 8. Fasilitas umum tersedia dengan baik.

9. Akses ke lokasi cukup baik, dari Toll Cijago ditempuh sekitar 30-40 menit.

10. Posisi lahan sangat simetris dengan Jalan Raya Bogor yang terpisahkan dengan drainase perkotaan selebar 4 meter.

11. Lokasi bebas dari banjir

12. Tingkat kepadatan lalu lintas sedang-tinggi.

13. Transportasi umum tersedia dengan intensitas rendah-sedang (tiap 7-15 menit)

14. Jalur transportasi terkoneksi dengan baik ke Jaringan Jalan Tol Cijago dan dari Jln. Raya Bogor. Lokasi dapat diakses dengan mudah dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Karawang dan lainnya.

15. Sistem jaringan jalan lokal yakni Jl. Raya Bogor dapat dilalui oleh kendaraan tonase besar dan sedang.

Aspek Teknis

1. Ketersediaan jaringan energi listrik dapat dipenuhi dengan PLN Jaringan Pelayanan Jabar dan juga pemenuhan melalui penyediaan Genset. Penyediaan Trafo sangat disarankan agar kegiatan BBPPT tidak terganggu dan berjalan dengan mantab.

2. Kandidat lahan tidak dilintasi jaringan SUTET, yang artinya tidak ada gangguan elektromagnetis.

3. Ketersediaan jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Xl dan Mentarri. Namun jaringan fiber optik belum melintasi kawasan.

4. Sistem jaringan air minum PDAM belum tersedia, namun dapat dipenuhi melalui jaringan non perpipaan yakni Sumur Bor dengan kedalam 15-20 meter. Berdasarkan diskusi dan pengamatan terhadap sumur warga, kualitas air tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.

5. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan Raya Bogor. Lebar jalan saat ini 20 meter.

6. Sistem drainase perkotaan tersedia melalui jaringan drainase Raya Bogor, apabila BBPPT memilih lokasi ini, sebaiknya menyiapkan jaringan didalam lingkungan dan konektifitas ke jaringan perkotaan dan primer terdekat.

7. Dalam upaya mengantisipasi pencemaran debu dan potensi getaran dari jalan utama Jl. Raya Bogor. BBPPT dapat dapat dilakukan dengan penanam Pohon Jati Emas, Bambu dan Rumput.

Gambar 4. 13. Arahan Pemanfaatan Kandidat Lahan Sesuai RTRW Kota Depok

Gambar 4. 14. Letak Kandidat Lahan Terhadap Kawasan Sekitar

Gambar 4. 15. Bentuk Poligon Kandidat Lahan dan Sekitar

Gambar 4. 16. Kondisi Sekitar Kandidat Lahan Cilodong

Gambar 4. 17. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis

Kandidat Bogor 1/Karanggan

Aspek Administrasi

1. Terletak di Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

2. Total luasan seluruh lokasi kandidat 4 berdasarkan sertifikat kepemilikan lahan sekitar 19.038 Meter2.

3. Letak geografis-koordinat di x : 708119; y : 9285032. 4. Kepemilikan lahan diketahui dimiliki sebanyak 8 orang

5. Berdasarkan informasi Dispenda-PBB setempat nilai NJOP/ m2 sebesar Rp. 243,000. Jika kebutuhan pengembangan BBPP seluas 19.038 Meter2, maka total nilai NJOP di lokasi kandidat 4 mencapai Rp. 4.626.234.000,-.

6. Berdasarkan informasi dari Dispenda-PBB telah membayar lunas PBB Tahun 2015.

Aspek Lingkungan

1. Di lokasi Kandidat 4 (Desa Karanggan) tidak adanya konflik dalam pemanfaatan ruang/ lahan, karena kondisi lahan sekarang berupa lahan kosong yang ditanami tumbuhan pertanian pangan.

2. Tingkat kebisingan sedang-tinggi karena berada di tepi Toll Jagorawi dengan intensitas lintasan kendaraan yang tinggi tiap menit dan jam.

3. Tingkat getaran rendah yang disebabkan oleh pergerakan truk di Jalan Raya Kranggan

Dalam dokumen Laporan Akhir Dokumen Rekomendasi Teknis (Halaman 11-70)

Dokumen terkait