Dokumen
Rekomendasi
Teknis Kelayakan
Lahan Untuk
Pengembangan
Laboratorium
BBPPT
T i a r P a n d a p o t a n P u r b a d a n
Tiar Pandapotan Purba, ST,
IAP
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas anugeraNya laporan akhir Dokumen
Rekomendasi Teknis Kelayakan Lahan Untuk Pengembangan Laboratorium Balai Besar
Pengujian Perangkat Telekomunikasi (BBPPT) dapat diselesaikan dengan baik.
Didalam laporan ini, berdasarkan hasil pengkajian melalui penyusunan kriteria, sub
kriteria, indikator dan parameter serta penilaian yang dilandasi dengan dukungan
dokumen dari dinas teknis terkait dan survei lapangan yang dilakukan maka kelayakan
kandidat yang memiliki total skor tinggi adalah Kandidat Tapos 1. Dibandingkan dengan
kandidat lainnya, kandidat Tapos 1 memiliki kelayakan yang baik pada aspek administrasi
dan lingkungan. Sehingga layak disebut sebagai lokasi paling layak diantara kandidat
lainnya.
Para penentu kebijakan di Balai Besar PPT Kemenkominfo dapat membaca pada substansi
profil kandidat, skor penilaian serta matrik persandingan antar kandidat yang akan
memudahkan para penentu kebijakan untuk menetapkan lokasi pembangunan gedung
sarana dan prasarana Balai Besar PPT Kemenkominfo yang baru.
Tim Narasumber ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut
berperan serta dalam upaya melengkapi berbagai dokumen hingga laporan ini dapat
dimasukkan ke pejabat Balai Besar sebagai laporan akhir dan kelengkapan administrasi.
Demikian juga halnya dengan Pemerintah Kabupaten Bogor dan Kota Depok yang turut
memberikan saran dalam pekerjaan ini.
Semoga bermanfaat
Jakarta, 11 September 2015
Daftar Isi
Ruang Lingkup Kajian ... 2
Sistematika Laporan ... 4
Kerangka Metodologi Kajian ... 6
Bab 2 Daftar Kebijakan Terkait ... 1
Kebijakan Pengembangan Laboratorium ... 1
Kebijakan Pengadaan Tanah ... 1
Kebijakan Bangunan Gedung ... 2
Bab 3 Profil Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi – KEMENKOMINFO ... 1
Bab 4 Profil Kelayakan Kandidat Lahan ... 4
Kandidat Tapos 1 ... 4
Kandidat Tapos Cilodong ... 22
Aspek Administrasi ... 22
Aspek Lingkungan ... 22
Aspek Teknis ... 23
Aspek Administrasi ... 29
Aspek Lingkungan ... 29
Aspek Teknis ... 30
Bab 5 Analisa Kelayakan Administrasi, Teknis dan Lingkungan... 1
Kelayakan Administrasi ... 1
Kelayakan Lingkungan ... 2
Kelayakan Teknis ... 7
Matrik Indikator dan Parameter ... 10
Kesimpulan Akhir ... 14
Penetapan Lokasi ... 14
Tree Plan ... 16
Daftar Tabel
Tabel 5. 1. Indikator dan Skor Kelayakan Administrasi ... 1
Tabel 5. 2. Skor Kelayakan Administrasi ... 2
Tabel 5. 3 Indikator dan Skor Kelayakan Lingkungan ... 3
Tabel 5. 4. Skor Kelayakan Lingkungan ... 4
Tabel 5. 5. Indikator dan Skor Kelayakan Teknis ... 7
Tabel 5. 6. Skor Kelayakan Teknis ... 9
Tabel 5. 7. Matrik Pengkajian Aspek/Kriteria Administrasi ... 11
Tabel 5. 8. Matrik Pengkajian Aspek/Kriteria Lingkungan... 11
Tabel 5. 9. Matrik Pengkajian Aspek/Kriteria Teknis ... 13
Tabel 5. 10. Skor Penetapan ... 14
Daftar Gambar
Gambar 4. 1. Bukti Bayar PBB Kandidat Lahan Tapos 1 ... 6Gambar 4. 2. Arahan Pemanfaatan Lahan Sesuai RTRW Kota Depok ... 9
Gambar 4. 3. Gambar Lokasi Kandidat dari Pintu Keluar Tol Cimanggis ... 10
Gambar 4. 4. Bentuk Poligon Lahan Kandidat Tapos 1 ... 11
Gambar 4. 5. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1) ... 12
Gambar 4. 6. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (2) ... 13
Gambar 4. 7. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (3) ... 14
Gambar 4. 8. Lokasi Kandidat Lahan Terhadap Permukiman Sekitar ... 17
Gambar 4. 9. Bentuk Poligon Lahan dan Kondisi Sekitar Lahan ... 18
Gambar 4. 10. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1) ... 19
Gambar 4. 11. Arahan Pemanfaatan Lahan Sesuai RTRW Kota Depok ... 20
Gambar 4. 12. Posisi Kandidat Lahan Terhadap Pintu Keluar Tol Cimanggis ... 21
Gambar 4. 15. Bentuk Poligon Kandidat Lahan dan Sekitar ... 26
Gambar 4. 16. Kondisi Sekitar Kandidat Lahan Cilodong ... 27
Gambar 4. 17. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis ... 28
Gambar 4. 18. Arahan Pemanfaatan Kandidat Lahan Sesuai RTRW Kab. Bogor... 31
Gambar 4. 19. Bentuk Poligon Lahan dan Kondisi Sekitar ... 32
Gambar 4. 20. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1) ... 33
Gambar 4. 21. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (2) ... 34
Bab 1 Pendahuluan
Latar Belakang
Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi sebagai lembaga laboratorium pengujian
perangkat telekomunikasi milik pemerintah, setiap tahunnya berupaya optimal untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat khususnya pemohon pengujian perangkat
antara lain dengan memberikan kenyamanan fasilitas laboratorium pengujian perangkat
telekomunikasi sesuai dengan standar panduan mutu ISO/IEC 17025:2008.
Dalam rangka memberikan peningkatan kualitas standar kualitas, mutu layanan pengujian,
BBPPT akan melakukan pengembangan laboratorium pengujian. Pengembangan
laboratorium ini diawali dengan pelaksanaan pengadaan lahan yang sesuai dengan
kebutuhan yang menunjang sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh laboratorium
perangkat telekomunikasi. Pada proses pengadaan lahan ini diperlukan dokumen berupa
data yang menunjang kriteria penilaian kelayakan pemilihan lahan. Untuk itu perlu
dilaksanakan kegiatan Survey Kelayakan Lahan yang dilakukan oleh pihak independen
dalam memberikan data-data yang menunjang penilaian kriteria yang dimaksud.
Tujuan
Tersusunnya dokumen rekomendasi kelayakan lingkungan dan teknis sebagai salah satu
dasar penetapan lokasi pembangunan BBPPT yang baru.
Sasaran
Adapun beberapa saran yang harus diupayakan oleh tim narasumber meliputi:
1. Disusunnya indikator dan parameter penilaian kelayakan administrasi, lingkungan dan
teknis;
3. Dilaksanakannya pembahasan hasil survei dan draf pengkajian aspek administrasi,
lingkungan dan teknis di tingkat Balai Besar Perangkat Pengujian Telekomunikasi;
4. Dilaksanakannya pembahasan akhir dalam rangka penetapan lokasi pembangunan Balai
Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi
Ruang Lingkup Kajian
1. Melaksanakan pelaksanaan survei, analisa, menyusun rekomendasi penentuan lahan
dan survey kelayakan lokasi untuk keperluan pembangunan sarana dan prasarana
gedung BBPPT tahun berjalan;
2. Melaksanakan verifikasi dan validasi data untuk aspek – aspek tersebut di atas, disertai
bukti data dukung otentik dari instansi yang berwenang untuk:
a) Aspek Administrasi,
i. Data Dukung Keabsahan/Legalitas Status Tanah :
i. Sertifikat (SHM/AJB/HGB, dll)
ii. Kepemilikan (perorangan/bersama/yayasan/pemerintah)
iii. Bukti Pembayaran PBB 3 (tiga) tahun terakhir (dari Dispenda
setempat)
3. Harga tanah per meter persegi di lokasi tersebut yang diterbitkan oleh instansi yang
berwenang secara berjenjang (Kelurahan/Desa, Kecamatan, dan BPN)
4. Harga tanah dan luas tanah sesuai dengan yang telah ditetapkan, dan dibuktikan
menggunakan tiga masukan yaitu harga yang ditawarkan, harga NJOP dan harga
pasaran di tempat
b) Aspek Lingkungan :
1. Tidak ada konflik pemanfaatan lahan
2. Tidak terdapat gangguan pencemaran lingkungan,
3. Melalui data sekunder di Dinas Lingkungan setempat mendapatkan
tingkat Polusi Udara.
4. Tidak berada dalam lingkungan padat penduduk
5. Terhindar dari kewajiban pembebasan lahan liar
6. Adanya jaminan keamanan lingkungan dan tersedianya fasilitas umum.
7. Memiliki keuntungan lokasi (location advantage) akses yang mudah di
jangkau
8. Posisi Strategis Lahan secara simetris berhadapan dengan akses jalan
9. Bebas dari Banjir
10. Tingkat kepadatan lalu lintas
11. Meninjau ketersediaan prasarana transportasi umum.
12. Wilayah terkoneksi dengan jaringan jalur transportasi yang baik dan
mudah
13. Sistem jaringan jalan lokal yang memadai untuk lalu lintas kendaraan
tonase sedang
c) Aspek Teknis
1. Kapasitas daya dari PLN untuk lokasi tersebut dengan penjelasan berapa
yang sudah digunakan dan berapa Ketersediaan Catu Daya yang dapat
digunakan. Informasi didapatkan dengan wawancara dengan petugas
PLN.
3. Kondisi tanah lebih tinggi dari jalan raya
4. Memiliki Sistem drainase yang baik
5. Tidak berada pada rencana pelebaran jalan. Dibuktikan dengan salinan
Master Plan tata kota wilayah sekitar lokasi dari Pemda setempat.
6. Lingkungan sekitar memiliki seminimal mungkin gangguan/radiasi
elektroknik/sutet. (Tidak dilalui jalur sutet).
7. Ketersediaan Sumber Air Tanah dan PDAM.
8. Ketersediaan jaringan telekomunikasi dan Serat Optik dari minimal 3
operator telekomunikasi. Peta Jaringan dapat diperoleh di Direktorat
Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi
dan Informatika.
9. Ketersediaan listrik PLN. Apabila tidak dapat diperoleh dari PLN dapat
membangun Catu Daya sendiri menggunakan Energi Surya atau Biomasa
untuk kebutuhan BBPPT.
10. Ketersediaan Jaringan Utilitas
5. Menyusun rekomendasi pemilihan terhadap kandidat lokasi yang disampaikan sebagai
acuan dalam penetapan lokasi oleh Kepala BBPPT.
6. Pengambilan dokumen-dokumen resmi yang membutuhkan biaya pengambilan
dokumen tersebut.
7. Dalam hal melaksanakan pekerjaannya dibutuhkan sarana dan prasarana yaitu antara
lain biaya perjalanan dinas survey, rapat – rapat koordinasi dan rapat finalisasi
penyusunan rekomendasi dan penetapan lokasi lahan dan kebutuhan lain akan menjadi
beban BBPPT.
Sistematika Laporan
1. Bab 1 Pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang, tujuan dan sasaran
kegiatan serta lingkup pelaksanaan kegiatan.
2. Bab 2 Daftar kebijakan terkait yang erat hubungannya dengan kegiatan ini.
3. Bab 3 Profil Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi-Kemenkominfo.
4. Bab 4 Profil Kelayakan Kandidat Lahan
5. Bab 5 Analisa Kelayakan Administrasi, Teknis dan Lingkungan
Kerangka Metodologi Kajian
Gambar 1. 1. Kerangka Rekomendasi Kelayakan
Bab 2 Daftar Kebijakan Terkait
Kebijakan Pengembangan Laboratorium
1. SNI ISO/IEC 17025:2008 tentang Persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian
dan laboratorium kalibrasi.
Kebijakan Pengadaan Tanah
1. Undang-Undang No 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum
2. Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
3. Peraturan Presiden No 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden
Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum
4. Peraturan Presiden No 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
5. Peraturan Presiden No 40 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden
Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagu Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum.
6. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007
tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
7. Peraturan Menteri Keuangan RI No. 13/PML.02/2013 tentang Biaya Operasional dan
Biaya Pendukung Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
8. Peraturan Kepala Badan Pertanahan RI No 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis
9. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 6
Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5
Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah.
Kebijakan Bangunan Gedung
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pedoman
Teknis Pendataan Bangunan Gedung;
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24 Tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Izin Mendirikan Bangunan Gedung;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 25 Tahun 2007 tentang Pedoman
Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung;
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26 tahun 2007 tentang Pedoman Tim Ahli
Bangunan Gedung.
7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29 Tahun 2006 tentang Pedoman
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis
Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung.
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.
10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26 Tahun 2008 ttg Persyaratan Teknis
Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24 Tahun 2008 ttg Pedoman Pemeliharaan
dan Perawatan Bangunan Gedung.
12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Teknis
Pemeriksaan Berkala Bangunan Gedung.
13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Bab 3 Profil Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi
–
KEMENKOMINFO
Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi adalah Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya dan
Perangkat Pos dan Informatika dan secara administratif dibina oleh Sekretaris Direktorat
Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika dan secara teknis operasional
dibina oleh Direktur Standardisasi Perangkat Pos dan Informatika.
Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi mengacu
pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 04/PER/M.KOMINFO/03/2011
tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomimikasi dan
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 20/PER/M.KOMINFO/4/2007
(sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diubah atau diganti dengan peraturan
pelaksanaan yang baru berdasarkan Permenkominfo Nomor 04/PER/M.KOMINFO/03/2011).
Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi
menyelenggarakan fungsi :
1. penyusunan rencana dan program di lingkungan Balai Besar Pengujian;
2. pelaksanaan pelayanan administrasi pengujian alat/perangkat telekomunikasi;
3. pelaksanaan analisa evaluasi sistem mutu pelayanan dan pengujian alat/perangkat
telekomunikasi;
4. pelaksanaan pengujian dan pemeliharaan alat/perangkat telekomunikasi,
electromagnetic compatibility (EMC) dan kalibrasi;
5. pelaksanaan urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian dan rumah tangga.
Balai Besar Pengujian terdiri atas :
1. Bidang Pelayanan;
2. Bidang Sarana Teknik;
4. Kelompok Jabatan Fungsional
Peranan Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi dalam proses Pengujian
alat/perangkat telekomunikasi melakukan pengujian antara lain:
1. Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Radio;
2. Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Non Radio;
3. Electromagnetic Compatibility Alat/Perangkat Telekomunikasi;
4. Pelayanan Kalibrasi Perangkat Telekomunikasi;
5. Jasa Penyewaan Alat.
Dari perkembangan jumlah alat dan perangkat telekomunikasi yang beredar di
Indonesia yang semakin meningkat dan dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat, Balai
Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi secara terus menerus mengembangkan
kemampuannya baik infrastruktur maupun sumber daya manusia.
Untuk menjamin mutu pengujian dan kompetensi laboratorium yang lebih baik,
Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi telah menerapkan Sistem Manajemen
Mutu yang mengacu pada ISO-17025:2005 dan telah memperoleh akreditasi dari Komite
Akreditasi Nasional (KAN) LP-112-IDN sejak tahun 2001.
Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi dalam melaksanakan pengujian
alat/perangkat telekomunikasi mengacu pada Spesifikasi Teknis Direktorat Jenderal Pos dan
Telekomunikasi (Technical Specification Regulation), Standar Nasional Indonesia (SNI) dan
Acuan Internasional seperti ISO, ETSI, RR, ITU, IEC sehingga mampu melindungi dan
menjaga kualitas alat/perangkat telekomunikasi serta menjamin bahwa alat/perangkat
telekomunikasi yang digunakan atau beredar di Indonesia benar-benar sesuai dengan
persyaratan teknis.
Dengan misi menjadi laboratorium pengujian bertaraf internasional, BBPPT
mempunyai misi untuk :
1. Meningkatkan kualitas pengujian perangkat telekomunikasi;
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat;
4. Mendukung tumbuh kembangnya industri telematika dalam negeri;
5. Meningkatkan peran serta kerjasama nasional dan internasional bidang
laboratorium;
6. Meningkatkan ruang lingkup (inovasi) layanan jasa laboratorium;
7. Mendukung penerapan standar wajib bagi perlindungan keselamatan, keamanan,
dan kesehatan.
Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, Balai Besar Pengujian Perangkat
Telekomunikasi dilengkap dengan sarana pendukung berupa:
1. Laboratorium Pengujian Perangkat Radio;
2. Laboratorium Pengujian Perangkat Berbasis Kabel;
3. Laboratorium Pengujian EMC;
4. Laboratorium Kalibrasi.
Jenis layanan pengujian yang dilayani oleh laboratorium-laboratorium di lingkungan
BBPPT adalah:
1. Pengujian Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Radio;
2. Pengujian Alat/Perangkat Telekomunikasi Berbasis Non Radio;
3. Pengujian Electromagnetic Compatibility Alat/Perangkat Telekomunikasi;
Bab 4 Profil Kelayakan Kandidat Lahan
Kandidat Tapos 1
Aspek Administrasi
1. Hasil suvei dengan bantuan GPSMap 62 32 Channel, lokasi kandidat berada di Desa
Tapos, Kecamatan Tapos, Kelurahan Tapos, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.
2. Sertifikat hak milik, oleh Ibu Ivon dan 1 Kerabat dekat dengan total sertifikat 9 SHM.
3. Total luas SHM 22,723 m2.
4. Kepemilikan bersama.
5. Bukti Bayar PBB Tahun 2015 ada. Berdasarkan hasil pengkajian data sekunder yang
didapatkan melalui Dinas Pendapatan Asli Daerah Kota Depok terkait bukti bayar pajak
bumi dan bangunan (PBB), kandidat lahan Tapos 1 telah membayar lunas pajak tahun
2015.
6. Harga NJOP sebesar Rp. 537,000,- (m2).
Aspek Lingkungan
1. Berdasarkan rencana tata ruang kota depok, masuk dalam penetapan kawasan
Perumahan Kepadatan Rendah yang artinya perlu penyesuaian dalam ijin kegiatan di
lokasi. Advise Planning diperlukan.
2. Kegiatan yang serupa dengan Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi di lokasi
ini adalah Balai Besar Penilitian Benih Ikan, Kementerian Pertanian. Sedangkan kegiatan
industri lainnya berupa air minum SanQua, Vit, Pergudangan kendaraan roda dua
Honda.
3. Permukiman yang berada disekitar kawasan merupakan permukiman kepadatan
rendah. Perkembangannya sangat terbatas. Hal ini didasari atas penetapan kawasan
Tapos sebagai kawasan resapan air. Adanya kegiatan/kawasan golf terdekat merupakan
4. Tingkat polusi udara berdasarkan pengamatan sangat rendah, karena jauh dari Tol
Jagorawi, kemudian kegiatan permukiman sekitar masih rendah dan aktifitas kegiatan
jasa lainnya tidak berkembang.
5. Jaminan keamanan terdekat berupa pos polisi Tapos.
6. Fasiltias umum tersedia seperti Jaringan Jalan Kota terkoneksi langsung dengan Jalan
Tol Jagorawi. Fasilitas Angkutan Umum tersedia dengan intensitas baik (tiap 15-20
menit). Tersedia Pos Tunggu (Mangkal) Taksi Blue Bird dan Taksi Express.
7. Gangguan pencemaran di sungai tidak terdapat, demikian juga halnya dengan
gangguan dari kegiatan disekitar. Lahan kandidat saat ini digunakan untuk kegiatan
pertanian pangan obat dan makanan.
8. Kegiatan disekitar lahan kandidat berupa pertanian sawah, pertanian pangan, TPU,
Permukiman Kopasus, Industri Gudang, dan Balai Besar Benih Ikan-KEMENTAN.
9. Pada lahan kandidat tidak terdapat bangunan baik itu semi permanen maupun
permanen. Hanya pepohonan dan rerumputan.
10. Akses ke lahan sangat mudah, baik dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi,
Karawang dengan memanfaat Jaringan Jalan Toll Jagorawi.
11. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan
Raya Tapos yang direncanakan akan dilebarkan menjadi 20 m. Lebar jalan saat ini 6
meter.
12. Posisi lahan terhadap jalan simetris sepanjang +- 30 meter hingga ke tepi sungai tapos.
Dalam perencanaan bangunan gedung nantinya diharapkan menyesuaikan dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok agar pemanfaatan tepi sungai Tapos sebagai
Sempadan Sungai tidak merubah fungsi kawasan (Sempadan) namun dilakukan
penanganan berupa Lahan Parkir Tamu Balai, Taman dan Kebun Obat yang prinsipnya
digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).
13. Kawasan bebas dari banjir. Titik tertinggi dari muka jalan mencapai 5-7 meter. Tinggi
muka lahan terhadap kawasan persawahan dibawahnya mencapai 10-20 m.
14. Ketersediaan transportasi umum ada melayani dari Depok dan ke Cibinong melintasi Jalan Raya Tapos. Tingkat kepadatan lalu lintas rendah – sedang.
15. Jaringan jalan raya tapos memadai untuk angkutan tonase sedang, namun tidak untuk
Gambar 4. 1. Bukti Bayar PBB Kandidat Lahan Tapos 1
Sumber: Dispenda Kota Depok, 2015
Aspek Teknis
1. Permukiman yang berada disekitar kawasan merupakan permukiman kepadatan
rendah. Perkembangannya sangat terbatas. Hal ini didasari atas penetapan kawasan
Tapos sebagai kawasan resapan air. Adanya kegiatan/kawasan golf terdekat merupakan
bentuk kegiatan perlindungan sebagai kawasan terbuka bagi resapan air.
2. Tingkat polusi udara berdasarkan pengamatan sangat rendah, karena jauh dari Tol
Jagorawi, kemudian kegiatan permukiman sekitar masih rendah dan aktifitas kegiatan
jasa lainnya tidak berkembang.
4. Fasiltias umum tersedia seperti Jaringa Jalan Kota terkoneksi langsung dengan Jalan Tol
Jagorawi. Fasilitas Angkutan Umum tersedia dengan intensitas baik (tiap 15-20 menit).
Tersedia Pos Tunggu (Mangkal) Taksi Blue Bird dan Taksi Express.
5. Gangguan pencemaran di sungai tidak terdapat, demikian juga halnya dengan
gangguan dari kegiatan disekitar. Lahan kandidat saat ini digunakan untuk kegiatan
pertanian pangan obat dan makanan.
6. Kegiatan disekitar lahan kandidat berupa pertanian sawah, pertanian pangan, TPU,
Permukiman Kopasus, Industri Gudang, dan Balai Besar Benih Ikan.
7. Pada lahan kandidat tidak terdapat bangunan baik itu semi permanen maupun
permanen. Hanya hutan pepohonan dan rerumputan.
8. Akses ke lahan sangat mudah, baik dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi,
Karawang dengan memanfaat Jaringan Jalan Toll Jagorawi.
9. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan
Raya Tapos yang direncanakan akan dilebarkan menjadi 20 m. Lebar jalan saat ini 6
meter.
10. Posisi lahan terhadap jalan simetris sepanjang +- 30 meter hingga ke tepi sungai tapos.
Dalam perencanaan bangunan gedung nantinya diharapkan menyesuaikan dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok agar pemanfaatan tepi sungai Tapos sebagai
Sempadan Sungai tidak merubah fungsi kawasan (Sempadan) namun dilakukan
penanganan berupa Lahan Parkir Tamu Balai, Taman dan Kebun Obat yang prinsipnya
digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).
11. Kawasan bebas dari banjir. Titik tertinggi dari muka jalan mencapai 5-7 meter. Tinggi
muka lahan terhadap kawasan persawahan dibawahnya mencapai 10-20 m.
12. Ketersediaan transportasi umum ada melayani dari Depok dan ke Cibinong melintasi Jalan Raya Tapos. Tingkat kepadatan lalu lintas rendah – sedang.
13. Jaringan jalan raya tapos memadai untuk angkutan tonase sedang, namun tidak untuk
tonase besar (kontainer).
14. Ketersediaan jaringan energi listrik dapat dipenuhi dengan PLN Jaringan Pelayanan
Jabar dan juga pemenuhan melalui penyediaan Genset. Penyediaan Trafo sangat
15. Kandidat lahan tidak dilintasi jaringan SUTET, yang artinya tidak ada gangguan
elektromagnetis.
16. Ketersediaan jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Xl dan Mentari. Namun
jaringan fiber optik belum melintasi kawasan.
17. Sistem jaringan air minum PDAM belum tersedia, namun dapat dipenuhi melalui
jaringan non perpipaan yakni Sumur Bor dengan kedalam 15-40 meter. Berdasarkan
diskusi dan pengamatan terhadap sumur warga, kualitas air tidak berbau, tidak
berwarna dan tidak berasa.
18. Sistem drainase primer tersedia melalui jaringan sungai Tapos, apabila BBPPT memilih
lokasi ini, sebaiknya menyiapkan jaringan di dalam lingkungan dan konektifitas ke
Gambar 4. 2. Arahan Pemanfaatan Lahan Sesuai RTRW Kota Depok
Gambar 4. 3. Gambar Lokasi Kandidat dari Pintu Keluar Tol Cimanggis
Gambar 4. 4. Bentuk Poligon Lahan Kandidat Tapos 1
Sumber: Olahan Citra Satelit Google Earth, 2015
Gambar 4. 5. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1)
Gambar 4. 7. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (3)
Kandidat Tapos 2
Aspek Administrasi
1. Berada di desa Desa Cimpaeun Kecamatan Tapos, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.
2. Luas lahan menurut Dispenda setempat : 10,920 m2 ++
3. SHM oleh Sugiono Djauhari, Ir.
4. Kepemilikan diketahui dimiliki oleh 1 orang.
5. PBB terhutang (yang harus dibayarkan) Rp.25,511,850,-
6. Nilai NJOP Per m2 adalah Rp. 1,862,000,-
Aspek Lingkungan
1. Konflik pemanfaatan ruang pada tidak ada, karena lahan berupa kosong, dan ditanami
tumbuhan pertanian pangan.
2. Berdasarkan arahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok, ditetapkan sebagai
lahan pertanian. Namun berdasarkan diskusi dengan Dinas Tata Ruang dan
Permukiman Kota Depok dimungkinkan untuk pengembangan
permukiman/perumahan sesuai dengan perkembangan disekitarnya.
3. Gangguan pencemaran tidak ada, hanya terdapat pada drainase lingkungan perkotaan
yang tepat berada di depan lahan Jln. Raya Tapos yang tidak mengalir dan
menyebabkan bau tidak sedap.
4. Kandidat ini berada di kawasan permukiman yang akan berpotensi padat dan terus
berkembang.
5. Tidak ada bangunan liar didalam lahan kandidat.
6. Tingkat polusi udara rendah-sedang, intensitas kendaraan yang melintasi
sedang-rendah.
7. Jaminan keamanan lingkungan berupa Pos Polisi dan keswadayaan masyarakat.
8. Fasilitas umum tersedia dengan baik
9. Akses ke lokasi cukup baik, dari Exit Toll Cimanggis ditempuh sekitar 7-10 menit.
10. Posisi lahan sangat simetris dengan Jalan Raya Tapos yang terpisahkan dengan drainase
perkotaan selebar 3 meter.
12. Tingkat kepadatan lalu lintas rendah-sedang.
13. Transportasi umum tersedia dengan intensitas rendah-sedang (tiap 15-20 menit)
14. Jalur transportasi terkoneksi dengan baik ke Jaringan Jalan Tol Jagorawi dan dari Jln.
Raya Tapos ke Jln Raya Bogor. Lokasi dapat diakses dengan mudah dari Jakarta, Bogor,
Tangerang, Bekasi, Karawang dan lainnya.
15. Sistem jaringan jalan lokal yakni Jl. Raya Tapos dapat dilalui oleh kendaraan tonase
sedang.
Aspek Teknis
1. Ketersediaan jaringan energi listrik dapat dipenuhi dengan PLN Jaringan Pelayanan
Jabar dan juga pemenuhan melalui penyediaan Genset. Penyediaan Trafo sangat
disarankan agar kegiatan BBPPT tidak terganggu dan berjalan dengan mantab.
2. Kandidat lahan tidak dilintasi jaringan SUTET, yang artinya tidak ada gangguan
elektromagnetis.
3. Ketersediaan jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Xl dan Mentari. Namun
jaringan fiber optik belum melintasi kawasan.
4. Sistem jaringan air minum PDAM belum tersedia, namun dapat dipenuhi melalui
jaringan non perpipaan yakni Sumur Bor dengan kedalam 15-20 meter. Berdasarkan
diskusi dan pengamatan terhadap sumur warga, kualitas air tidak berbau, tidak
berwarna dan tidak berasa.
5. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan
Raya Tapos yang direncanakan akan dilebarkan menjadi 20 m. Lebar jalan saat ini 6
meter.
6. Sistem drainase primer tersedia melalui jaringan sungai Tapos, apabila BBPPT memilih
lokasi ini, sebaiknya menyiapkan jaringan didalam lingkungan dan konektifitas ke
jaringan perkotaan dan primer terdekat.
7. Dalam upaya mengantisipasi pencemaran debu dan potensi getaran dari jalan utama l.
Raya Tapos. BBPPT dapat dapat dilakukan dengan penanam Pohon Jati Emas, Bambu
Gambar 4. 8. Lokasi Kandidat Lahan Terhadap Permukiman Sekitar
Gambar 4. 9. Bentuk Poligon Lahan dan Kondisi Sekitar Lahan
Gambar 4. 10. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1)
Gambar 4. 11. Arahan Pemanfaatan Lahan Sesuai RTRW Kota Depok
Gambar 4. 12. Posisi Kandidat Lahan Terhadap Pintu Keluar Tol Cimanggis
Kandidat Tapos Cilodong
Aspek Administrasi
1. Berada di desa Desa Cilangkap Kecamatan Tapos, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.
2. Luas tanah menurut Dispenda PPB: 49,010 m2
3. SHM oleh Hendri Prastowo, Ir
4. Kepemilikan diketahui dimiliki oleh 1 orang.
5. PBB terhutang (yang harus dibayarkan) Rp.75,230,350,-
6. Harga permeter yang diterbitkan oleh instansi berjenjang belum ada.
7. Nilai NJOP Per m2 adalah Rp. 614,000,- atau total Rp. 30,092,140,000
Aspek Lingkungan
1. Konflik pemanfaatan ruang pada tidak ada, karena lahan berupa kosong, dan digunakan
untuk fasilitas sosial (lapangan bola).
2. Berdasarkan arahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok, ditetapkan sebagai
lahan industri.
3. Gangguan pencemaran ada, hanya terdapat pada drainase lingkungan perkotaan yang
tepat berada di depan lahan Jln. Bogor yang tidak mengalir dan menyebabkan bau tidak
sedap. Selain itu terdapat bangunan di sepanjang drainase tersebut yang tidak legal dan
menganggu pandangan dan estetika jalan dan kota. Kumuh, Kotor dan Berbau.
4. Kandidat ini berada di sekitar kawasan permukiman yang akan berpotensi padat dan
terus berkembang, dimana terdapat beberapa lahan kosong yang arahan
pengembangannya adalah hunian/permukiman
5. Tidak ada bangunan liar didalam lahan kandidat.
6. Tingkat polusi udara sedang-tinggi, intensitas kendaraan yang melintasi tinggi. Truk
Kontainer, Tonase sedang hingga angkutan umum. Sangat bising.
7. Jaminan keamanan lingkungan berupa Pos Polisi dan keswadayaan masyarakat.
8. Fasilitas umum tersedia dengan baik.
9. Akses ke lokasi cukup baik, dari Toll Cijago ditempuh sekitar 30-40 menit.
10. Posisi lahan sangat simetris dengan Jalan Raya Bogor yang terpisahkan dengan drainase
11. Lokasi bebas dari banjir
12. Tingkat kepadatan lalu lintas sedang-tinggi.
13. Transportasi umum tersedia dengan intensitas rendah-sedang (tiap 7-15 menit)
14. Jalur transportasi terkoneksi dengan baik ke Jaringan Jalan Tol Cijago dan dari Jln. Raya
Bogor. Lokasi dapat diakses dengan mudah dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi,
Karawang dan lainnya.
15. Sistem jaringan jalan lokal yakni Jl. Raya Bogor dapat dilalui oleh kendaraan tonase
besar dan sedang.
Aspek Teknis
1. Ketersediaan jaringan energi listrik dapat dipenuhi dengan PLN Jaringan Pelayanan
Jabar dan juga pemenuhan melalui penyediaan Genset. Penyediaan Trafo sangat
disarankan agar kegiatan BBPPT tidak terganggu dan berjalan dengan mantab.
2. Kandidat lahan tidak dilintasi jaringan SUTET, yang artinya tidak ada gangguan
elektromagnetis.
3. Ketersediaan jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Xl dan Mentarri. Namun
jaringan fiber optik belum melintasi kawasan.
4. Sistem jaringan air minum PDAM belum tersedia, namun dapat dipenuhi melalui
jaringan non perpipaan yakni Sumur Bor dengan kedalam 15-20 meter. Berdasarkan
diskusi dan pengamatan terhadap sumur warga, kualitas air tidak berbau, tidak
berwarna dan tidak berasa.
5. Posisi lahan strategis karena berada pada lintasan Jaringan Jalan Kota Depok yakni Jalan
Raya Bogor. Lebar jalan saat ini 20 meter.
6. Sistem drainase perkotaan tersedia melalui jaringan drainase Raya Bogor, apabila BBPPT
memilih lokasi ini, sebaiknya menyiapkan jaringan didalam lingkungan dan konektifitas
ke jaringan perkotaan dan primer terdekat.
7. Dalam upaya mengantisipasi pencemaran debu dan potensi getaran dari jalan utama Jl.
Raya Bogor. BBPPT dapat dapat dilakukan dengan penanam Pohon Jati Emas, Bambu
Gambar 4. 13. Arahan Pemanfaatan Kandidat Lahan Sesuai RTRW Kota Depok
Gambar 4. 14. Letak Kandidat Lahan Terhadap Kawasan Sekitar
Gambar 4. 15. Bentuk Poligon Kandidat Lahan dan Sekitar
Gambar 4. 16. Kondisi Sekitar Kandidat Lahan Cilodong
Gambar 4. 17. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis
Kandidat Bogor 1/Karanggan
Aspek Administrasi
1. Terletak di Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
2. Total luasan seluruh lokasi kandidat 4 berdasarkan sertifikat kepemilikan lahan sekitar
19.038 Meter2.
3. Letak geografis-koordinat di x : 708119; y : 9285032.
4. Kepemilikan lahan diketahui dimiliki sebanyak 8 orang
5. Berdasarkan informasi Dispenda-PBB setempat nilai NJOP/ m2 sebesar Rp. 243,000. Jika
kebutuhan pengembangan BBPP seluas 19.038 Meter2, maka total nilai NJOP di lokasi
kandidat 4 mencapai Rp. 4.626.234.000,-.
6. Berdasarkan informasi dari Dispenda-PBB telah membayar lunas PBB Tahun 2015.
Aspek Lingkungan
1. Di lokasi Kandidat 4 (Desa Karanggan) tidak adanya konflik dalam pemanfaatan ruang/
lahan, karena kondisi lahan sekarang berupa lahan kosong yang ditanami tumbuhan
pertanian pangan.
2. Tingkat kebisingan sedang-tinggi karena berada di tepi Toll Jagorawi dengan intensitas
lintasan kendaraan yang tinggi tiap menit dan jam.
3. Tingkat getaran rendah yang disebabkan oleh pergerakan truk di Jalan Raya Kranggan
(Akses Utama).
4. Berdasarkan arahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor Pasal 46,
menyatakan bahwa kecamatan Gunung Sindur termasuk kedalam kawasan
permukiman perkotaan kepadatan tinggi (Pp 1) diarahkan untuk permukiman/ hunian
padat, dan pengembangan bangunan vertikal (rumah susun), kegiatan perdagangan dan
jasa skala regional, serta industri non-polutan yang berorientasi pasar.
5. Gangguan pencemaran tidak ada, hanya terdapat pada drainase lingkungan perkotaan
yang tepat berada di depan lahan yang tidak mengalir, hal ini dikarenakan jaringan
drainase yang terputus.
6. Kandidat ini terdapat bangunan warung dan klaim kepemilikan lahan yang berada di
7. Tingkat polusi udara tinggi, intensitas kendaraan yang melintasi cukup ramai, hal ini
terlihat dari kegiatan di sekitar lokasi banyaknya didirikan industri skala sedang.
8. Jaminan keamanan lingkungan berupa : Jarak ke Polsek Citeureup (2,73 km) dan jarak
ke PolRes Kota/ Kab 10,3 Km.
9. Fasilitas umum tersedia dengan baik.
10. Akses ke lokasi sangat baik, dari Exit Toll Cimanggis ditempuh kurang dari 5 menit. 0,9
km dari pintu tol Karanggan.
11. Lokasi bebas dari banjir
12. Tingkat kepadatan lalu lintas sedang.
13. Transportasi umum tersedia dengan intensitas sedang - tinggi (tiap 5 - 10 menit).
14. Jalur transportasi terkoneksi dengan baik ke Jaringan Jalan Tol Jagorawi, karena lokasi
tidak jauh dari keluar pintu tol Karanggan.
Aspek Teknis
1. Ketersediaan jaringan energi listrik dapat dipenuhi dengan PLN Jaringan Pelayanan
Jabar dan juga pemenuhan melalui penyediaan Genset. Penyediaan Trafo sangat
disarankan agar kegiatan BBPPT tidak terganggu dan berjalan dengan mantab.
2. Kandidat lahan tidak dilintasi jaringan SUTET, yang artinya tidak ada gangguan
elektromagnetis.
3. Ketersediaan jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Xl dan Mentarri. Namun
jaringan fiber optik belum melintasi kawasan.
4. Sistem jaringan air minum PDAM belum tersedia, namun dapat dipenuhi melalui
jaringan non perpipaan yakni Sumur Bor dengan kedalam 15-20 meter. Berdasarkan
diskusi dan pengamatan terhadap sumur warga, kualitas air tidak berbau, tidak
berwarna dan tidak berasa. Hasil wawancara ketika musim kemarau, lokasi kandidat ini
tidak mengalami kemarau yang berkepanjangan.
5. Getaran di lokasi kandidat 4 cukup di rasakan, hal ini karena lokasi yang berdekatan
dengan jalan tol.
6. Dalam upaya mengantisipasi pencemaran debu dan potensi getaran dilakukan dengan
Gambar 4. 18. Arahan Pemanfaatan Kandidat Lahan Sesuai RTRW Kab. Bogor
Gambar 4. 19. Bentuk Poligon Lahan dan Kondisi Sekitar
Gambar 4. 20. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (1)
Gambar 4. 21. Dokumentasi Kelayakan Lingkungan dan Teknis (2)
Bab 5 Analisa Kelayakan Administrasi, Teknis dan Lingkungan
Kelayakan Administrasi
Kelayakan administrasi merupakan aspek pertama yang di nilai terhadap (4) empat
kandidat lokasi pengembangan baru Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi
(BBPPT) Kemenkominfo-RI. Dari aspek ini di turunkan lagi menjadi 3 sub kriteria penting
yang dinilai agar skor pemilihan kandidat lokasi menjadi semakin mengkerucut dan final.
Tiga (3) sub kriteria tersebut meliputi:
1. Pemilik lahan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
2. Luas lahan kandidat kurang lebih 2 hektar dengan kepemilikan minimum, agar
potensi kegagalan pengadaan lahan tidak besar, dan
3. Adanya sertifikat hak milik (SHM) yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional
setempat.
Pemberian skor kepada tiap indikator dilakukan dengan parameter penilaian sebagai
berikut:
Tabel 5. 1. Indikator dan Skor Kelayakan Administrasi
No Sub Kriteria Indikator Nilai Skor
1 Membayar Pajak Bumi dan Bangunan Taat dan Lunas 3
Taat Belum Lunas 1
Berdasarkan pengkajian terhadap keempat (4) kandidat diperoleh data dan fakta dimana
keempat kandidat memiliki sertifikat hak milik (SHM) dan terdaftar di Dinas Pendapatan
Daerah Kota Depok dan Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Bogor. Luas lahan keempat
(4) kandidat mencapai 2 hektar dengan jumlah kepemilikan yang berbeda-beda dimana
berdasarkan sub kriteria dan indikator skor tersebut nilai kelayakan administrasi dari
keempat kandidat sebagai berikut:
Tabel 5. 2. Skor Kelayakan Administrasi No Sub Kriteria Skor Kandidat
Tapos 1 Tapos 2 Cilodong Bogor 1
Dari hasil penilaian diatas, terlihat bahwa dari aspek kelayakan administrasi keunggulan
lokasi dimiliki oleh Tapos 1, Tapos 2, dan Cilodong. Sedangkan kandidat Bogor 1 kurang
unggul.
Kelayakan Lingkungan
Menurut Badan Standar Nasional Indonesia, kondisi akomodasi dan lingkungan
sebuah laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi kondisi lingkungan dan kondisi
akomodasi harus mampu terfasilitasi dengan baik sehingga dapat menunjukkan kebenaran
kerja pengujian dan/atau kalibrasi, oleh karena sumber energy, kondisi penerangan dan
lingkungan menjadi aspek penting.
Berdasarkan kerangka acuan kerja yang dipersyaratkan dalam pekerjaan ini
beberapa sub kriteria penting yang harus dinilai meliputi:
1. Tidak ada konflik pemanfaatan lahan yang didukung dengan Rencana Tata Ruang
Kota/Kabupaten setempat.
2. Tidak terdapat gangguan pencemaran lingkungan. Seperti limbah industri, limbah
rumah tangga dan lainnya.
3. Tingkat polusi udara.
4. Tidak berada dalam lingkungan padat permukiman penduduk.
6. Adanya jaminan keamanan lingkungan.
7. Tersedianya fasilitas umum
8. Memiliki keuntungan lokasi berupa kemudahan akses.
9. Posisi persil/petak lahan yang bersimetris dengan akses jalan.
10. Bebas dari bencana banjir.
11. Tingkat kepadatan lalu lintas yang tidak mengganggu aktifitas laboratorium.
12. Ketersediaan prasarana transportasi umum.
13. Lokasi terkoneksi dengan jaringan jalur transportasi yang baik dan mudah (sistem
jaringan jalan tidak terputus)
14. Sistem jaringan jalan lokal memadai untuk lalu lintas kendaraan tonase sedang.
Dari ke empat belas (14) sub kriteria tersebut disusun indikator-indikator skor penilaian
agar memudahkan tim narasumber memberikan nilai tiap sub kriteria yang dimiliki tiap
kandidat. Berikut adalah tabel indikator dan skor yang disusun dan disepakati bersama.
Tabel 5. 3 Indikator dan Skor Kelayakan Lingkungan
No Sub Kriteria Indikator Nilai Skor
1
Tidak ada konflik pemanfaatan lahan yang didukung dengan Rencana Tata lingkungan. Seperti limbah industri, limbah rumah tangga dan lainnya.
Rendah 3
Sedang 2
Tinggi 1
3 Tingkat polusi udara
Rendah 3
Sedang 2
Tinggi 1
4
Tidak berada dalam lingkungan padat permukiman penduduk.
Rendah 3
Sedang 2
Tinggi 1
5
No Sub Kriteria Indikator Nilai Skor
6
Adanya jaminan keamanan
lingkungan.
Ada, tidak terjangkau (Jauh) 3
Ada, terjangkau 2
Belum ada 1
7 Tersedianya fasilitas umum
Ada dan lengkap 3
Ada namun tidak lengkap 2
Belum ada 1
8
Memiliki keuntungan lokasi berupa kemudahan akses.
Tinggi 3
Sedang 2
Rendah 1
9
Posisi persil/petak lahan yang
bersimetris dengan akses jalan.
Tingkat kepadatan lalu lintas yang
tidak mengganggu aktifitas
laboratorium.
Rendah 3
Sedang 2
Tinggi/Padat 1
12
Ketersediaan prasarana transportasi umum.
Tersedia 3
Tidak tersedia 1
13
Lokasi terkoneksi dengan jaringan jalur transportasi yang baik dan mudah (sistem jaringan jalan tidak terputus)
Terkoneksi dan mudah 3
Terkoneksi tidak mudah 2
Tidak terkoneksi dan tidak
mudah 1
14
Sistem jaringan jalan lokal memadai untuk lalu lintas kendaraan tonase sedang.
Memadai 3
Kurang memadai 2
Tidak memadai 1
Sumber: Tim Narasumber, 2015
Berdasarkan pengkajian dari lapangan, kajian dokumen dari dinas terkait seperti Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Depok dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor serta
beberapa dokumentasi pengamatan di empat (4) kandidat dihasilkan nilai skor dari
masing-masing sub kriteria sebagai berikut:
Tabel 5. 4. Skor Kelayakan Lingkungan No Sub Kriteria Skor Kandidat
Tapos 1 Tapos 2 Cilodong Bogor 1
1 Tidak ada konflik pemanfaatan lahan yang
didukung dengan Rencana Tata Ruang
No Sub Kriteria Skor Kandidat
Tapos 1 Tapos 2 Cilodong Bogor 1
Kota/Kabupaten setempat.
2
Tidak terdapat gangguan pencemaran
lingkungan. Seperti limbah industri, limbah rumah tangga dan lainnya.
3 1 1 3
3 Tingkat polusi udara 3 2 1 1
4
Tidak berada dalam lingkungan padat
permukiman penduduk. 3 1 3 1
Memiliki keuntungan lokasi berupa
kemudahan akses. 3 3 2 3
9
Posisi persil/petak lahan yang bersimetris
dengan akses jalan. 2 2 2 2
Lokasi terkoneksi dengan jaringan jalur transportasi yang baik dan mudah (sistem jaringan jalan tidak terputus)
3 3 3 3
14
Sistem jaringan jalan lokal memadai untuk lalu
lintas kendaraan tonase sedang. 3 3 3 3
Total Skor 40 33 33 33
Sumber: Tim Narasumber, 2015
Berdasarkan pengkajian mendalam, terutama terkait tekanan lingkungan pada tiap
dan Tingkat Kepadatan Lalu Lintas Yang Tidak Mengganggu Aktifitas Laboratorium merupakan
hal penting yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi BBPPT. Pengkajian terhadap
Kandidat Tapos 1, pengembangan permukiman baru akan terus terjadi, tingkat konversi
kawasan pertanian/perkebunan di Tapos sangat tinggi. Namun lokasi ini ditopang kebaikan
dengan arahan pengendalian kawasan permukiman dengan koefisien dasar bangunan
(KDB) yang rendah serta pemertahanan eksistensi kawasan wisata Padang Golf Tapos yang
memliki luasan besar dan mampu menekan tingkat kebisingan, debu dan serapan air hujan
yang baik.
Berbeda dengan Kandidat Tapos 2 yang walaupun sekarang belum berkembang kegiatan
permukimannya namun pergerakan kegiatan sudah merubah fungsi-fungsi ruang pertanian
di sekitar lokasi kandidat Tapos 2. Dipastikan lima (5) hingga sepuluh (10) tahun
mendatang akan memiliki tingkat kepadatan dan gangguan yang sama seperti lokasi BBPPT
Kemenkominfo sekarang yang berada di Jalan Bintara Raya Bekasi. Kandidat ini tepat
berada di tengah permukiman dan akan terus berkembang.
Kandidat tiga (3) Cilodong, memiliki tekanan yang besar karena berada pada kawasan
industri berat seperti industri peralatan pertanian, plastik dan lainnya. Kendaraan tonase
besar kontainer melintasi di Jalan Raya Bogor tepat berada di depan kandidat. Tingkat
kebisingan lokasi sangat kuat terdengar jika narasumber berdiri di tengah lokasi. Selain itu
persoalan bangunan liar yang berada di sepanjang drainase perkotaan di depan lokasi
kandidat menjadi persoalan penting terutama lingkungan.
Sedangkan kandidat keempat (4) Bogor 1 atau yang dikenal dengan Karanggan, berada
pada penetapan kawasan permukiman kepadatan tinggi. Pada Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Bogor, kawasan ini merupakan campuran antara kegiatan industri
besar seperti asemblying PT Toyota, Industri Minuman, Industri Pupuk, Industri Alat Berat
dan lainnya. Permukiman berkarakter perumahan kelas bawah terlihat menyebar berupa
bangunan kos-kos an buruh di sekitar kandidat.
Dari hasil penilaian diatas, terlihat bahwa dari aspek lingkungan keunggulan lokasi dimiliki
skor 34 dengan nominasi kedua dan kandidat Tapos 2 dan Bogor 1 unggul dengan posisi
ketiga.
Kelayakan Teknis
Sub kriteria untuk aspek dan/atau kriteria kelayakan teknis terdiri atas 9 sub kriteria
penilaian dengan masing-masing indikator yang telah disusun dan sesuai dengan
persyaratan dari BSN yang tertuang didalam SNI ISO/IEC 17025:2008 tentang Persyaratan
Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium Kalibrasi. Beberapa sub
kriteria yang dinilai meliputi:
1. Kapasitas daya listrik di kawasan.
2. Kondisi tanah lebih tinggi dari jalan raya/akses.
3. Sistem drainase.
4. Rencana pengembangan jalan/Tidak berada pada rencana pelebaran jalan.
5. Tidak dilalui jalur SUTET, yang mengakibatkan gangguan elektromagnetis.
6. Ketersediaan sumber air (permukaan dan atau PDAM)
7. Ketersediaan jaringan telekomunikasi dan atau jaringan serat optik 3 operator.
8. Ketersediaan energi listrik
Sub kriteria tersebut merupakan persyaratan penting bagi laboratorium
BBPPT-Kemenkominfo dalam menjalankan tugas dan fungsi guna memberikan pelayanan yang
terbaik kepada masyarakat di Indonesia.
Sama halnya dengan kriteria kelayakan administrasi dan lingkungan, maka sub kriteria
aspek/kriteria teknis disusun indikator dan nilai skornya sesuai dengan pola data yang ada
dari masing-masing kandidat yang terseleksi.
Tabel 5. 5. Indikator dan Skor Kelayakan Teknis
No Sub Kriteria Indikator Nilai Skor
1 Kapasitas daya listrik di kawasan.
Sangat Cukup 3
Cukup 2
Tidak Cukup 1
2 Kondisi tanah lebih tinggi dari jalan raya/akses.
Tinggi 3
Sama tinggi 2
No Sub Kriteria Indikator Nilai Skor
4 Rencana pengembangan jalan/Tidak berada
pada rencana pelebaran jalan.
Tidak ada rencana 3
Ada rencana 2
5 Tidak dilalui jalur SUTET, yang mengakibatkan
gangguan elektromagnetis.
7 Ketersediaan jaringan telekomunikasi dan atau jaringan serat optik 3 operator.
3 operator
8 Ketersediaan energi listrik
PLN dan
Permukiman Kota Depok serta berdasarkan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah
masing-masing kota dan kabupaten terdapat beberapa ruas jalan yang akan dikembangkan dan
ditingkatkan seperti Jalan Raya Tapos. Sedangkan ketersediaan energi yang bersumber dari
penyedia Perusahaan Listrik Negara Wilayah Jawa Barat kecukupan energi untuk wilayah
Kota Depok dan Kabupaten Bogor cukup dan tersedia melalui jaringan distribusi seperti
Gardu Induk dan Jaringan Transmisi yang telah melayani kegiatan industri di sekitar
kandidat termasuk perumahan yang tersebar di penyangga industri.
Pengujian terhadap ketersediaan operator telekomunikasi, tim narasumber melakukan uji
sederhana melalui pengecekan kekuatan sinyal pada perangkat telekomunikasi pribadi
berupa ponsel dan minitab dengan operator Telkomsel, Indosat dan Xl dan hasil pengujian
di empat (4) kandidat belum terlayani. Hal ini dipastikan dari rencana pengembangan
jaringan serat optik yang ada di Indonesia, baru mencapai pusat kota besar.
Untuk sub kriteria air bersih/air minum, berdasarkan hasil pengujian di lapangan terhadap
ke empat (4) kandidat masih dilayani dengan air permukaan dengan kualitas baik, tidak
berbau dan tidak berwarna. Percakapan dengan warga sekitar menyatakan bahwa tidak
pernah ada permasalahan kekurangan air. Namun pada bulan agustus tahun 2015 ini daya
isap mesin sumur bor berkinerja lebih karena adanya musim kemarau. Tingkat kedalaman
sumur bor antara 10-40 meter.
Menarik namun perlu dipertimbangkan bahwa terdapat pabrik/industri low labour di Desa
Tapos yakni berupa Gudang Penyimpanan Kendaraan Roda Dua Merk Honda, Pabrik Air
Minum Vit dan SanQua serta ada kegiatan Balai Besar Benih Ikan dari Kementerian
Pertanian yang berada pada sekitar Kandidat Tapos 1 dan Tapos 2.
Dari berbagai pengkajian di lapangan dan dokumen pemerintah daerah tersebut, maka
dihasilkan penilaian tiap sub kriteria sebagai berikut:
Tabel 5. 6. Skor Kelayakan Teknis No Sub Kriteria
4 Rencana pengembangan jalan/Tidak
berada pada rencana pelebaran jalan. 2 2 2 2
5 Tidak dilalui jalur SUTET, yang
mengakibatkan gangguan elektromagnetis. 3 3 3 3
6 Ketersediaan sumber air (permukaan dan
atau PDAM) 1 1 1 1
7 Ketersediaan jaringan telekomunikasi dan
atau jaringan serat optik 3 operator. 3 3 3 3
8 Ketersediaan energi listrik 3 3 3 3
Total Skor 21 21 21 21
Berdasarkan hasil penilaian terhadap 8 sub kriteria diatas, terlihat bahwa Kandidat Tapos 1
dan Bogor 1 (Karanggan) tidak memiliki keunggulan karena memiliki kelemahan kriteria
dan indikator terutama pada adanya rencana pengembangan jaringan jalan yang
mengakibatkan harus dibebaskannya beberapa meter tanah. Sedangkan Kandidat Bogor 1
(Karanggan) terdapat kelemahan pada sub kriteria kondisi tanah yang berada dibawah
jalan, yang artinya dalam perencanaannnya perlu membuat desain drainase lingkungan
tersendiri.
Matrik Indikator dan Parameter
Untuk memudahkan dalam penilaian tiap aspek/kriteria, sub kriteria dan indikator yang
telah disusun maka tim narasumber membuat matrik kondisi eksisting berdasarkan
pengkajian dari dokumen yang ada dan pengamatan dan pengukuran di lapangan. Lebih
Tabel 5. 7. Matrik Pengkajian Aspek/Kriteria Administrasi
Aspek Administrasi Lokasi 1 Lokasi 2 Lokasi 3 Lokasi 4
Tapos 1 Tapos 2 Cilodong Bogor 1/Karanggan
Membayar Pajak Bumi dan Bangunan Lunas Terhutang Rp. 25 juta Terhutang Rp. 75jt Terhutang
Lahan seluas +- 2 ha dengan kepemilikan minimum tidak banyak SHM untuk meminimumkan kegagalan pengadaan lahan.
2 Orang, 9 Sertifikat 1 Orang 1 Orang 8 Orang, 11 Sertifikat
Ada SHM yang diterbitkan oleh BPN/ATR. ada ada ada ada
Sumber: Tim Narasumber, 2015
Tabel 5. 8. Matrik Pengkajian Aspek/Kriteria Lingkungan
Aspek Lingkungan Lokasi 1 Lokasi 2 Lokasi 3 Lokasi 4
Tapos 1 Tapos 2 Cilodong Bogor 1/Karanggan
Kesesuai dengan
Perlu advice planning dari Bappeda/Tarukim Kota terkait
sudah inkrah (berkekuatan hukum tetap dan pasti). Berdasarkan wawancara dengan petugas Dispenda, Sdr Hendri Prastowo
menguasai fisik lahan.
Tidak ada
Tidak terdapat gangguan pencemaran lingkungan
Tidak ada, kawasan sekitar adalah pertanian pangan, sawah. Intensitas bangunan gedung gudang, assembling motor berjarak jauh. Aktivitas terdekat adalah balai benih ikan dan industri.
Drainase perkotaan yang tepat berada di lokasi tercemar sedang. Kegiatan jasa terdekat adalah POM Bensin yang berada tepat di depan lokasi
Drainase perkotaan yang tepat berada di lokasi tercemar berat dan banyak bangunan semi permanen berada ditepi drainase tersebut.
Tidak ada
Tingkat polusi udara Rendah Sedang Tinggi Tinggi
Tidak berada dalam
lingkungan padat
penduduk
Berada di luar penetapan kawasan permukiman.
Berada di penetapan kawasan permukiman kepadatan sedang
Berada di luar penetapan kawasan permukiman.
Berada di penetapan kawasan permukiman kepadatan tinggi
Terhindar dari
kewajiban pembebasan lahan liar (bangunan liar)
Bebas Bebas Bebas Ada, warung dan klaim
kepemilikan lahan di gerbang pintu masuk.
Adanya jaminan
keamanan lingkungan
Jarak ke Polsek Cimanggis (5,31 Km) Jarak ke PolResKota/Kab (10,7 Km)
Jarak ke Polsek Cimanggis (8,66 Km) Jarak ke PolResKota/Kab (12,9 Km)
Jarak ke Polsek Cimanggis (4,5 Km) Jarak ke PolResKota/Kab (8,8 Km)
Jarak ke Polsek Citeureup (2,73 Km)
Aspek Lingkungan Lokasi 1 Lokasi 2 Lokasi 3 Lokasi 4
Jaringan drainase primer tepat berada di tepi lahan yakni sungai kecil, mengalir.
Jaringan penerangan umum jalan tidak tersedia
Jaringan listrik tersedia
TPA terintegrasi dengan sistem perkotaan, namun perlu disiapkan TPS Khusus di dalam lokasi lahan
Tersedia jalan kota, yakni Jln. Raya Tapos
Jaringan drainase sekunder tepat berada di depan lahan yakni drainase lingkungan kawasan, tidak mengalir namun cukup lebar, berbau dan banyak sampah.
Jaringan penerangan umum jalan tersedia
Jaringan listrik tersedia
TPA terintegrasi dengan sistem perkotaan, namun perlu disiapkan TPS Khusus di dalam lokasi lahan
Tersedia jalan kota, yakni Jln. Raya Bogor
Jaringan drainase sekunder tepat berada di depan lahan yakni drainase lingkungan kawasan, tidak mengalir namun cukup lebar, berbau dan banyak sampah dan bangunan semi permanen.
Jaringan penerangan umum jalan tidak tersedia
Jaringan listrik tersedia
TPA terintegrasi dengan sistem perkotaan, namun perlu disiapkan TPS Khusus di dalam lokasi lahan
Tersedia jalan kota, yakni Jln. Raya Tapos
Jaringan drainase primer tepat berada di tepi lahan masuk ke dalam sistem jaringan drainase jalan tol Jagorawi.
Jaringan penerangan umum jalan tidak tersedia
Jaringan listrik tersedia
TPA terintegrasi dengan sistem perkotaan, namun perlu disiapkan TPS Khusus di dalam lokasi lahan Memiliki keuntungan
lokasi (location
advantage) akses yang mudah di jangkau
Jarak ke Jalan Tol Jagorawi (3 Km) Jarak ke Jalan Tol Jagorawi (3,81 Km) Jarak ke Jalan Tol Jagorawi (7,15 Km) Jarak ke Jalan Tol Jagorawi (0,9 Km)
Posisi Strategis Lahan
secara simetris
berhadapan dengan akses jalan
Simetris, sebagian Simetris memanjang, dibatasi drainase lingkungan lebar 3 m
Simetris memanjang, dibatasi drainase lingkungan lebar 6 m
Simetris, sebagian
Bebas dari Banjir Bebas banjir Bebas banjir Bebas banjir Bebas banjir
Tingkat kepadatan lalu lintas
Rendah Sedang Tinggi Sedang
Ketersediaan prasarana transportasi umum
Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia
Wilayah terkoneksi dengan jaringan jalur transportasi yang baik dan mudah
Ya Ya Ya Ya
Sistem jaringan jalan lokal yang memadai untuk lalu lintas kendaraan tonase sedang
Ya Ya Ya Ya
Tabel 5. 9. Matrik Pengkajian Aspek/Kriteria Teknis
Aspek Teknis Lokasi 1 Lokasi 2 Lokasi 3 Lokasi 4
Tapos 1 Tapos 2 Cilodong Bogor 1/Karanggan
Kapasitas daya catu listrik PLN dan Genset PLN dan Genset PLN dan Genset PLN dan Genset
Kondisi wilayah/tanah simetris
Simetris, sebagian Simetris memanjang, dibatasi drainase lingkungan lebar 3 m
Simetris memanjang, dibatasi drainase lingkungan lebar 6 m
Simetris, sebagian
Kondisi tanah lebih tinggi dari jalan raya
Ya Ya Ya Tidak, namun lebih tinggi dari Jalan Tol Jagorawi
Sistem drainase yang baik Baik Buruk Buruk Baik
Tidak berada pada rencana pelebaran jalan
20 m 20 m (harus menutupi drainase
lingkungan yang ada)
Tidak, jikapun ada rencana harus menutupi jaringan drainase perkotaan lebar 6 m.
Menurut Rencana Jaringan jalan di dalam RTRW Kabupaten Bogor Th. 2005-2025, lokasi di Kranggan tidak masuk ke dalam rencana pelebaran jalan. Ada GSJ 15meter
Tida kdilalui jalur SUTET (gangguan
radiasi/elektromagnetik)
Tidak Tidak Tidak Tidak
Ketersediaan Sumber Air Tanah dan PDAM
Air Tanah Air Tanah Air Tanah Air Tanah
Ketersediaan jaringan
telekomunikasi dan serat optik 3 operator
Frekuensi Sinyal Telkomsel, Xl dan Mentari sangat baik. Dapat berkomunikasi antar pengguna. Untuk jaringan serta optik di Depok di Jl. Lenteng Agung Timur dan Jl. Margonda Raya
Frekuensi Sinyal Telkomsel, Xl dan Mentari sangat baik. Dapat berkomunikasi antar pengguna. Untuk jaringan serta optik di Depok di Jl. Lenteng Agung Timur dan Jl. Margonda Raya
Frekuensi Sinyal Telkomsel, Xl dan Mentari sangat baik. Dapat berkomunikasi antar pengguna. Untuk jaringan serta optik di Depok di Jl. Lenteng Agung Timur dan Jl. Margonda Raya
Frekuensi Sinyal Telkomsel, Xl dan Mentari sangat baik. Dapat berkomunikasi antar pengguna. Untuk jaringan serta optik di Depok di 1. Jl. Bangbarung ( ISAT Narasoma ); 2. Jl. Pajajaran; 3. Jl. Baranang Siang; 4. Jl. Oto Iskandar; 5. Jl. Juanda; 6. Jl. Dewi Sartika; 7. Jl. Raya Bogor KM. 33
Ketersediaan energi listrik Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia
Ketersediaan jaringan utilitas
Drainase tersedia Telekomunikasi tersedia Jaringan jalan tersedia
Air bersih (non perpipaan) tersedia Jaringan listrik tersedia
Drainase tersedia Telekomunikasi tersedia Jaringan jalan tersedia
Air bersih (non perpipaan) tersedia Jaringan listrik tersedia
Drainase tersedia Telekomunikasi tersedia Jaringan jalan tersedia
Air bersih (non perpipaan) tersedia Jaringan listrik tersedia
Drainase tersedia Telekomunikasi tersedia Jaringan jalan tersedia
Air bersih (non perpipaan) tersedia Jaringan listrik tersedia
Kesimpulan Akhir
Penetapan Lokasi
Mendasari kerangka acuan kerja dan pengkajian terhadap dokumen dan pengamatan di
lapangan, ketiga (3) aspek yang telah dikaji dihasilkan bahwa kandidat Tapos 1 menjadi
urutan no satu (1), Cilodong menjadi urutan no dua (2), kandidat Tapos 2 menjadi urutan
nomor tiga (3) dan terakhir urutan keempat (4) Kandidat Bogor 1/Karanggan.
Tabel 5. 10. Skor Penetapan No Aspek/Kriteria ∑ Sub Kriteria
Skor
Namun jika pertanyaannya adalah bagaimana tekanan lingkungan disekitar lokasi kandidat
dimasa 5-10 mendatang ?, agar BBPPT Kemenkominfo tidak memindahkan permasalahan
yang ada ke tempat yang lain maka BBPPT harus mempertimbangkan daya dukung dari
kegiatan yang dapat menekan timbulnya aktifitas yang mengganggu kegiatan didalam
bangunan gedung BBPPT nantinya. Semisal lahan terbuka hijau, permukiman kepada
rendah, area perlindungan air, ruang terbuka hijau dan lainnya. Kegiatan-kegiatan dengan
fungsi ruang tersebut akan membantu bangunan gedung BBPPT untuk tetap dapat
menjalankan fasilitas pengujian/kalibrasinya tanpa gangguan dan akhirnya memenuhi
persyaratan standar yang telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan
International Organization for Standardization (ISO).
Kriteria dan/atau aspek lain perlu dipertimbangkan oleh BBPPT Kemenkominfo semisal
seberapa jauh pemilik lahan secara sadar dan mau membantu pemerintah untuk melepas
tanahnya dengan ganti untung/ganti rugi sehingga si pemilik lahan dapat dikategorikan
Didalam pemilihan lokasi ini, aspek dan/atau kriteria yang disusun sebenarnya sudah
cukup baik namun penyimpulan akhir dari kegiatan ini tidak serta merta menjadi tolak
ukur keberhasilan BBPPT Kemenkominfo dalam memilih lokasi, tahapan lanjutan pasca
penetapan lokasi kandidat terpilih dengan urutan pemilihan yang bijak perlu dilakukan.
Hal ini perlu diperhatikan karena kepemilikan lahan didalam Undang-Undang No 2 Tahun
2002 tentang pengadaan tanah bagi kepentingan umum kemudian Undang-Undang No 2
Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum Peraturan Presiden No 36
Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan
Umum; Peraturan Presiden No 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden
Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum; Peraturan Presiden No 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum; Peraturan Presiden No
40 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagu Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 TAHUN 2007
tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum; dan Peraturan Kepala Badan
Pertanahan RI No 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah
mengakui hak-hak kepemilikan pribadi dan makna ganti rugi yang terkandung didalam
kebijakan pengadaan tanah menjadi preseden buruk dalam proses pembebasan tanah di
Indonesia.
Untuk itu diperlukan pendekatan khusus dan pribadi tanpa adanya kerugian yang
mengakibatkan gagalnya proses pembebasan/pengadaan lahan yang telah ditetapkan.
Mengacu kepada Peraturan Menteri BPN/Agraria No. 6 Tahun 2015 tentang Perubahan atas
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk teknis
Pelaksanaan Pengadaan Tanah yang didalamnya menimbang pasal 111 ayat (2) Peraturan