• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISA PERANCANGAN

5.2 Analisisa sistem kegiatan / program ruang

5.2.2 Analisa kelayakan proyek

Dengan bertambahnya penduduk setiap tahun, semakin meningkat pula jumlah anak penyandang autisme di Indonesia. Sementara jumlah sekolah khusus autisme yang belum memadai.

103 Tabel 5.1 Jumlah Penduduk Kota Medan tahun 2010-2017

Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah

Jiwa Jiwa

Sumber: BPS Sumatera Utara

Tabel 5.2 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur kota Medan tahun 2017

No. Kelompok umur Laki-laki

(jiwa) Perempuan

(jiwa) Jumlah

Sumber: BPS Sumatera Utara

Anak penyandang autisme yang bersekolah di sekolah khusus autisme ini ditargetkan untuk orang yang berusia 0-19 tahun. Jadi perancang membuat perhitungan potensi jumlah penyandang autisme dari umur 0-19 tahun

104 5.2.3 Analisa kebutuhan ruang

Analisis kebutuhan ruang dilakukan berdasarkan jenis kegiatan yang sudah dikelompokan maka ruang-ruang yang dibutuhkan pada sekolah khusus autisme, yakni:

Tabel 5.3 Kebutuhan Ruang Sekolah Khusus Autisme Kelompok

Kegiatan Jenis Kegiatan Kebutuhan ruang Zona Ruang Kegiatan

konsultasi dan diagnosis

pendidikan Pendaftaran

Belajar R. pendaftaran Kelas kemandirian Kelas Bahasa

Semi publik Diketahui perbandingan anak autis dengan anak normal = 1:150-200 orang (Menkes,2008 & dr. Widodo,2006).

Maka diambil rata-ratanya = 150+2002 = 175 Jadi, perbandingannya adalah 1:175 orang Diketahui: Perbandingan = 1:175 orang

Jumlah anak (umur 0-19) tahun 2017 = 798 574 jiwa

Potensi jumlah anak penyandang autisme = jumlah anak (umur 0-19) x

Sumber : olahan penulis

105 Kelas kognitif

Kelas Transisi Kelas music Kelas melukis Kegiatan terapi Terapi okupasi

Terapi sensori-integrasi

Terapi wicara Terapi perilaku Pendukung

R. terapi okupasi R. terapi sensori-integrasi

R. terapi wicara R. terapi perilaku Toilet

Semi publik

Kegiatan

pendukung Memilih makanan Memesan makanan Membayar

Memasak

Bermain di dalam Bermain di luar

Display makanan R. makan kafetaria Kasir Menyimpan barang Buang air

Kegiatan service Buang air Administrasi Istirahat bagian service

Toilet

R. Administrasi karyawan

Sumber analisa Penulis

106 5.2.4 Analisa besaran ruang

Analisis besaran ruang untuk sekolah khusus autisme berdasarkan pada buku data arsitek (Ernst Neufert). Besaran sirkulasi ditentukan oleh fungsi ruang dan seberapa banyak ruang tersebut membutuhkan pergerakan.

Sesaran sirkulasi yang dibutuhkan pada sekolah khusus autisme yakni:

- Besaran sirkulasi 20% yakni kebutuhan keleluasaan sirkulasi pada bangunan

- Besaran sirkulasi 30% yakni tuntutan untuk kenyamanan secara fisik - Besaran sirkulasi 40% yakni tuntutan untuk kenyamanan psikologis - Besaran sirkulasi 60% yakni keterkaitan dengan banyak kegiatan pada

sekolah khusus autisme

Program ruang pada sekolah khusus autisme Tabel 5.4 Area Konsultasi & Dianogsis

Pembagian Nama

ruang Luasan

107 Total 167,64

m2 Tabel 5.5 Area Pendidikan

Pembagian Nama

ruang Luasan Tabel 5.6 Area Terapi

Pembagian Nama

108 Tabel 5.7 Area pendukung

Pembagian Nama ruang Luasan unit

Tabel 5.8 Area pengelola

Pembagian Nama ruang Luasan unit

109 Tabel 5.9 Area service

Pembagian Nama

ruang Luasan

110 Area parkir

mobil 30

mobil 12,5

m2/mobil DA 375 m2 Area parkir

sepeda motor

40 motor 1,5/motor DA 60 m2

Pos satpam 9 m2 1 4 m2 AS 9 m2

Total 578,2m2

Rekapitulasi:

Area konsultasi dan diagnosis 167,64 m2

Area pendidikan 741,81 m2

Area terapi 377,5 m2

Area pendukung 590,798m2

Area pengelola 163,25 m2

Area service 578,2m2

Total luas 2619,198 m2

5.2.5 Analisa hubungan ruang

Analisis hubungan ruang ditentukan oleh kedekatan ruang berdasarkan alur kegiatan pengguna dan kegiatan pengguna. Hubungan ruang dibedakan menurut jenis kegiatan. Hubungan ruang secara makro adalah sebagai berikut:

Pembahasan ruang secara makro adalah hubungan ruang yang terdiri dari pengelompokan ruang kegiatan yakni ruang kegiatan konsultasi dan diagnosis, ruang kegiatan pendidikan, ruang terapi, ruang pendukung, ruang kegiatan pengelola dan ruang service.

111 Gbr. Hubungan ruang secara makro

5.2.6 Analisa aktivitas pengguna 1. Kegiatan diagnosis dan konsultasi

- Anak penyandang autisme

Gbr. Alur kegiatan anak penyandang autisme Menunggu

Mendaftar Diperiksa / assesmen

Tes dan diagnosis

Menunggu jemputan dan diagnosis

Area service

112 - Orang tua/ keluarga anak penyandang autisme

Gbr. Alur kegiatan orang tua anak penyandang autisme

113 2. Kegiatan pendidikan

- Anak penyandang autisme

Gbr. Alur kegiatan anak penyandang autisme - Orang tua anak penyandang autisme

Gbr. Alur kegiatan orang tua penyandang autisme - Guru

Gbr. Alur kegiatan guru

Masuk Datang

Parkir Buang air

kecil/besar

Bermain Istirahat

Belajar

kecil/besar Menjemput

Bersosialisasi dengan orang tua lainnya

Pulang

114 3. Kegiatan terapi

- Terapis

Gbr. Alur kegiatan terapis - Anak penyandang autisme

Gbr. Alur kegiatan anak penyandang autisme - Orang tua / keluarga anak penyandang autisme

Gbr. Alur kegiatan orang tua penyandang autisme

Melihat proses terapi

Bersosialisasi dengan orang tua lainnya

Menjemput

Pulang

115 4. Kegiatan Pendukung

- Pengunjung cafeteria

Gbr. Alur kegiatan pengunjung kafetaria - Pengunjung area bermain

Gbr. Alur kegiatan pengunjung 5. Kegiatan pengelola

Gbr. Alur kegiatan pengelola Masuk

administrasi Istirahat

Menerima Tamu

Bekerja Pulang

116 6. Kegiatan service

- Security

Gbr. Alur kegiatan security - Cleaning service

Gbr. Alur kegiatan cleaning service - Teknisi

Gbr. Alur kegiatan teknisi Datang

Parkir

Mengurus administrasi

Masuk

117 5.2.7 Analisa perancangan ruang luar / tapak

Analisis yang diuraikan adalah masalah site, menganalisa potensi, dan potensi zonasi, menata fungsi ruang luar seperti akses kendaraan dan jalur pejalan kaki, parkir, sirkulasi yang sudah ada, dan estetika ruang luar.

5.2.7.1 Ukuran / luasan tapak

Gambar 5.14 Luasan tapak Sumber: Olahan Penulis

Bentuk site hampir persegi. Dengan sisi terpanjang yaitu 135 m, maka otomatis orientasi bangunan menghadap sisi yang paling panjang.

5.2.7.2 Analisa visibilitas

Gambar 5.15 Analisa Visibilitas Sumber: Dokumentasi Penulis

118 Analisa: sisi utara terdapat sekumpulan pohon kelapa sawit

Sisi timur terdapat vegetasi yang berupa rumput dan pohon berbatang kecil Sisi barat terdapat rumah warga, gereja katolik santo Yosef dan sungai Babura Sisi selatan terdapat area permukiman penduduk

Tanggapan: mempertahankan pohon eksisting yang berukuran besar dalam site perancangan

5.2.7.3 Pencapaian dan sirkulasi

Pencapaian ke dalam site berjarak 500 m dari depan jalan Karya Wisata. Agar sirkulasi dalam site teratur maka harus dibuat pembagian posisi zona.

5.2.7.4 Parkir

Tidak ada parkir khusus di kawasan perancangan sekolah, sehingga harus dibuat parkiran. Untuk itu perancang menyiapkan zona parkir di depan dan samping site yang berbatasan dengan jalan.

Parkir yang dibutuhkan dalam sekolah khusus autisme ini adalah:

a. Parkir Mobil b. Parkir sepeda motor

119 5.2.7.5 Vegetasi

Gambar 5.16 Vegetasi pada Tapak Site Sumber: Olahan Pribadi

Analisa: Pada site perancangan terdapat banyak jenis pohon. Terdapat pohon lembong merah, kemiri, kapuk, pisang dan pinang.

Potensi: dapat membuat suasana site menjadi teduh karena padatnya pohon yang tumbuh dan mempertegas daerah eksterior.

Tanggapan: Dengan penataan vegetasi

a. Digunakan sebagai ciri dari pemandangan

Vegetasi dibentuk menyerupai bentuk geometri. Hal ini untuk membantu anak autis mengenali bentuk

b. Untuk mempertegas daerah kegiatan eksterior

Dapat diletakkan di sekeliling open space sehingga saat berada di luar ruangan, pengawasan dapat terus dilakukan.

c. Menghalangi pemandangan dari luar ke dalam bangunan Pohon

Mahoni

Pohon lembong merah

Pohon kemiri

Pohon pinang Pohon pisang Pohon kapuk

120 Dengan adanya pembatas pandangan dari luar site maka dapat membantu meningkatkan daya konsentrasi bagi anak.

d. Memilih pohon yang akan dipertahankan

Diantara banyak pohon, perancang berencana untuk memotong pohon pisang dan pohon pinang yang terlalu banyak jumlahnya di dalam site.

5.3 Analisa tata ruang dalam

Analisis tata ruang dalam dengan pendekatan Behavior Architecture Teori-teori Behavior Architecture menurut para ahli diantaranya:

a. Clovis Heimsath, AIA dalam bukunya yang berjudul Behavioral Architecture, Toward an Accountable Design Process dijelaskan bahwa:

“Arsitektur adalah lingkungan (enclosure) dimana orang-orang hidup tinggal.”

Sedangkan perilaku mempunyai dua arti pengertian yaitu:

1. Orang-orang yang tengah bergerak, dengan sesuatu yang dikerjakan, dengan orang-orang untuk mengobrol dan berhubungan satu sama lain.

2. Suatu kesadaran akan struktur sosial dari orang-orang, suatu gerakan bersama secara dinamik dalam waktu.

b. Donna P. Duerk dalam bukunya yang berjudul Architectural Programming

“Arsitektur perilaku merupakan suatu lingkungan dan perilaku yang tidak bisa dipisahkan secara empiris dan saling berpengaruh.

c. Garry T. More dalam bukunya yang berjudul Introduction to Architecture

121 Istilah perilaku diartikan sebagai suatu fungsi dari tuntutan-tuntutan organisme dalam dan lingkungan sosio-fisik luar.

Prinsip-prinsip Behaviour Architecture yang harus di perhatikan dalam Arsitektur perilaku menurut Carol Simon Weisten Dan Thomas G David antara lain adalah:

1. Arsitektur perilaku bertujuan untuk menciptakan lingkungan binaan yang disesuaikan dengan perilaku manusia penggunanya.

2. Arsitektur dan perilaku memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi.

3. Arsitektur perilaku selain menekankan pada aspek kenyamanan fisik, aspek psikologi juga ditekankan.

4. Arsitektur perilaku diharapkan dapat menciptakan keseimbangan yang paling baik antara perilaku manusia dan lingkungan yang dirancang.

5. Arsitektur Perilaku diharapkan mampu mengekspresikan kreatifitas dan dapat menstimulasi semangat belajar yang diharapkan perancang.

Anak penyandang autisme adalah anak yang memiliki gangguan dalam hal interaksi. Anak-anak ini memiliki perilaku yang berbeda dengan anak normal, sehingga mereka memiliki cara yang berbeda dalam memberi respon pada lingkungannya.

a. Komunikasi b. Interaksi social c. Perilaku

122 Tabel 5.10 Analisa karakteristik Arsitektur Perilaku

Karakteristik anak

autis Prinsip Arsitektur Perilaku dikaitkan pada

anak autis

Unsur Fisik Kata kunci pendekatan 2 pihak atau lebih serta untuk dan jelas, seperti bentukan anak autis tidak dapat

membayangkan sesuatu yang terlalu rumit dan bersifat abstrak. autis bisa saling berinteraksi. sirkulasi utama

Interaksi / hubungan

sosial, fleksibel dan

dinamis

123 dan cerminan diri antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. warna dasar yang menarik agar anak dapat berinteraksi dengan tanaman - Interaksi luar yang dapat menjadi

penghubung antar bangunan Perilaku kurang baik dari

Ruang yang diwadahi antara ruang yang satu dengan yang lain perubahan seperti warna dinding yang tidak mencolok karena anak autis

Perilaku yang terarah,

respon terhadap lingkungan

124

anak autis dapat diminimalisir dan rancangan

hendaknya memberikan rasa senang, aman dan nyaman

sulit menerima hal yang baru

Dari table di atas dapat diketahui bahwa kata kunci yang didapat dari Pendekatan Arsitektur Perilaku pada sekolah khusus autisme yakni:

 Komunikasi

 Interaksi

 Perilaku yang terarah

 Fleksibel dan dinamis

 Respon terhadap lingkungan

Berdasarkan kata kunci pendekatan anak autis dapat ditransformasikan ke dalam suprasemen arsitektur sebagai berikut:

Tabel 5.11 Analisa Suprasemen Arsitektural pada Pendekatan Arsitektur Perilaku

Kata kunci

Suprasemen Arsitektural Bentuk

& wujud Skala &

proporsi Material

&

tekstur

Warna Sirkulasi Organisasi ruang

125 Fleksibel dan

dinamis    

Respon terhadap lingkungan

 

5.3.1 Analisa organisasi sirkulasi horizontal dan vertikal

Sistem sirkulasi menggunakan sistem tangga dan ramp. Persyaratan perancangan tangga, yaitu:

a. Terdapat bordes sebagai area istirahat b. Lebar tangga 120 cm tiap jalur c. Lebar anak tangga 30 cm d. Tinggi anak tangga 18 cm

e. Jumlah anak tangga (termasuk bordes)= tinggi antar lantai tinggi anak tangga -1, sehingga jumlah anak tangga 400 cm/18 cm -1 adalah 21 anak tangga

f. Ketinggian handrail antara 60-80 cm g. Jarak antar tangga maksimal 50 m

Perancangan ramp memiliki persyaratan, Yakni:

a. Sudut kemiringan ramp 12 derajat b. Lebar ramp minimal 125 cm.

c. Ketinggian handrail antara 60-80 cm

Agar asap dapat terbawa angin keluar, maka sistem transportasi baik tangga maupun ramp menggunakan jenis bahan beton karena kedap api dan terbuka.

126 5.3.2 Analisa massa dan perwajahan

Analisa massa dilakukan dengan melihat beberapa referensi dari berbagai sumber. Bentuk massa bangunan sekolah khusus autisme mengambil dasar bentuk-bentuk geometris yang disesuaikan dengan penggunaan teknik desain arsitektural.

Bentuk-bentuk geometris yang mudah dikenali anak karena anak penyandang autisme adalah tipe visual learner. Selain itu bentuk bangunan harus bersifat aman dan dapat mengawasi pergerakan anak-anak.

5.3.3 Analisa sistem struktur / konstruksi

a. Pendekatan sistem struktur

Fungsi utama dari sistem struktur adalah memikul secara aman dan efektif pada bangunan, dan menyalurkannya ke tanah melalui pondasi. Jadi, fungsi struktur adalah untuk menjaga keutuhan, stabilitas, dan kekakuan bangunan.

Sekolah khusus autisme ini sebagian besar berlantai dua. Struktur yang digunakan adalah:

1. Struktur bawah

Kondisi tanah di lokasi baik dan tidak berbatu. Lokasi ini merupakan lahan yang banyak terdapat vegetasi. Pondasi yang digunakan adalah pondasi telapak (foot plate).

127 Gambar 5.17 Pondasi Footplate

Sumber: rumahklodran.blogspot.com

2. Struktur atas

Bangunan sekolah khusus autisme ini menggunakan struktur rangka sederhana. Dengan ukuran tebal dinding 15 cm, ukuran kolom disesuaikan dengan dimensi ruang.

b. Pendekatan konstruksi dan bahan

Analisa mengenai konstruksi dan bahan bangunan meliputi bahan penutup atap, plafond, dinding, lantai, pintu-jendela dan perkerasan ruang luar.

5.3.4 Analisa sistem utilitas

Analisa utilitas pada site perancangan sekolah khusus autisme adalah:

5.3.4.1 Analisa elektrikal

Sebagian besar elemen di dalam bangunan menggunakan listrik. Seperti pencahayaan buatan, pompa air, elektrikal pada reseptionis, ruang kelas, ruang terapi, ruang diagnosa, dll. Sekolah ini menggunakan listrik dari PLN yang berada dekat dengan jalan.

128 Gambar 5.18 Tiang listrik di Depan Site Perancangan

Sumber: Dokumentasi Penulis

5.3.4.2 Analisa sanitasi

a. Sistem air bersih

Sistem air bersih menggunakan air dari PDAM. Kebutuhan air dalam bangunan sekolah autis ini adalah untuk keperluan air minum, toilet, mencuci dan memasak.

Sistem pemipaan menurut cara pengaliran airnya, sekolah khusus autisme ini menggunakan sistem vertikal dengan tangki di atas (sistem gravitasi) kemudian air dialirkan menggunakan pipa ke titik-titik keran.

b. Sistem air kotor

Sistem pembuangan air kotor pada bangunan sekolah luar biasa autis menggunakan sistem pembuangan langsung. Saluran air limbah/ air kotor berada di kanan jalan yang berujung ke sungai Babura. Jadi pengaliran air kotor dari bangunan ke riot kota

129 5.3.4.3 Analisa penghawaan

Dengan memanfaatkan keunggulan dari site, kualitas daerah alam di sekitar cukup baik, untuk mencapai kenyamanan, polusi udara yang sedikit sehingga sekolah ini menggunakan sistem penghawaan alami. Hal ini dapat dicapai dengan memperbanyak bukaan pada bangunan. Di lokasi sekolah, udara berhembus dari arah barat laut ke tenggara. Dari arah bukaan utara selatan, maka udara tidak sepenuhnya masuk dalam jendela, sehingga angin dari arah barat laut-tenggara tidak langsung masuk ke ruangan.

5.3.4.4 Analisa komunikasi

Sistem komunikasi dalam bangunan menggunakan airphone, sedangkan bangunan menggunakan jaringan telepon dari Telkom Indonesia.

130 BAB VI

KONSEP PERANCANGAN

6.1 Konsep dasar

Dalam perancangan dan perencanaan sekolah khusus autisme ini, perancang mengambil konsep healing environment dan educating space dimana perilaku dari pengguna utama bangunan yaitu anak penyandang autis menjadi dasar untuk menentukan seperti apa desain dari sekolah khusus autisme. Tujuan yang ingin dicapai dari perancangan ini adalah menciptakan lingkungan sekolah yang mementingkan kenyamanan, penyembuhan dan keselamatan untuk anak-anak penyandang autisme melalui bidang pendidikan.

Tabel 6.1 Konsep dasar Karakteristik

Autisme Sifat yang

Diharapkan Analisa Kriteria

Sekolah Arsitektural Kesulitan

Bukan institusi

-Bentuk massa

131 Menghindari

kontak mata/wajah

Dapat

Berinteraksi Dibutuhkan desain yang tektur lembut (seperti karpet aatau karet) yang bersifat dinamis bukan kaku

Fleksibel dan teradaptasi, tektur lembut dalam

berlebihan Perilaku

yang terarah Perilaku yang tidak dapat berdiam diri sehingga memerlukan fasilitas yang dapat

mewadahi sifat ini

Fleksibel dan teradaptasi, digabung tidak menghasilkan ruang negatif -Penggunaan penghijauan sebagai buffer -Kombinasi satu aktivitas

Respon

Fleksibel dan teradaptasi,

132 senang ketika

ke sekolah Kesesuaian sensorik-motorik, Aman

(hijau, kuning, biru)

Sumber: Analisa penulis

6.2 Konsep perancangan ruang luar/ tapak

6.2.1 Zoning Tapak

Gambar 6.1 Konsep penzoningan dalam site Sumber: Olahan Penulis

Konsep zoning ruang luar dibuat secara terpusat. Yaitu berpusat pada tempat bermain outdoor di tengah bangunan dengan desain mengelilingi dan menyebar.

Alasan membuat konsep terpusat adalah:

a. Anak penyandang autisme yang cenderung tidak suka bersosialisasi, sehingga dibutuhkan ruang yang saling berhubungan. Space yang dibuat bersifat outdoor dan menarik perhatian agar anak berkumpul di tengah bangunan secara bersamaan dan terciptanya interaksi.

b. Anak penyandang autisme yang suka dengan sesuatu yang menarik sehingga butuh space yang memberikan pemandangan yang baik

Pendidik

133 Konsep perancangan sistem parkir kendaraan pengunjung adalah parkir kendaraan roda dua dan roda empat dipisahkan dan diletakkan diluar bangunan Fungsi ruang luar lebih dominan untuk pengolahan landscape dengan konsep terpusat. Fungsi ruang luar dibuat menyebar namun tetap terhubung satu sama lain dengan sirkulasi yang mewadahi para pengguna.

6.2.2 Konsep Sirkulasi ruang luar

Gambar 6.2 Konsep Sirkulasi Ruang Luar Sumber: Olahan Penulis

Sirkulasi dibuat dengan jelas. Dibuat dari bahan perkerasan yang aman untuk anak-anak. Pada gambar, tiap sirkulasi dibuat melengkung karena ingin membuat anak-anak banyak bergerak dan menyatu dengan alam.

6.2.3 Konsep vegetasi

Vegetasi yang digunakan dalam tapak adalah:

Tabel 6.2 Rekomendasi nama dan jenis tanaman

No. Jenis dan nama tanaman Nama Latin Keterangan I Perdu & hias

1. Nusa Indah merah Musaenda erytthrophylla Berbunga 2. Daun mangkokan Notophanaz scutelarium Berdaun unik

134 3. Bugenvil merah Bougenvillea glabra Berbunga

4. Analea Rhododendron indicum Berbunga

5. Soka daun besar Ixora javonica Berbunga

6. Bakung Crinum asiaticum Berbunga

7. Oleander Nerium oleander berbunga

8. Sikas Cycas revolata Bentuk unik

9. Alamanda Alamanda cartatica Merambat

berbunga

10. Puring Codiaeum varigatum Daun berwarna

11. Kembang merak Caesalphinia pulcherima Berbunga

12. Krisan Chrysanthemum sp Bunga warna

warni

13. Bunga kancing Gomphrena globosa Bunga warna warni

14. Hanjuang Cordylin sp Daun merah

II Ground cover

Rumput gajah mini Axonophus compressus Tekstur kasar III Tanaman aromatik

1. Melati Jasminum sp Memberi aroma

wangi

2. Tahi ayam Tagetes Erecta L Memberi aroma

wangi

3. Anggrek Orchidaceae sp Memberi aroma

wangi IV Tanaman pembatas

1. Palem ekor tupai Wodyetia bifurcata Pengarah sisi dalam pagar

135 6.3 Konsep tata ruang dalam

Konsep tata ruang dengan sistem tingkat privasi berjenjang (privacy gradient) digunakan untuk menyusun unit-unit ruang secara keseluruhan, karena sistem ini membantu anak untuk tidak langsung berinteraksi dengan orang banyak, tetapi anak dikondisikan terlebih dahulu untuk belajar berinteraksi dengan guru dan teman-temannya.

Selain itu ruang untuk anak penyandang autisme ini bersifat aman. Yang dimaksud dengan aman adalah:

Penataan ruang: meminimalkan adanya sudut-sudut dalam ruang. Jika ada sudut, maka harus tertutupi dengan material atau perletakan perabot pada sudut ruangan.

Lantai: lantai tidak boleh licin. Lantai dilapisi dari bahan seperti karpet atau matras untuk melindungi anak supaya tidak terluka saat bermain atau terjatuh.

Dinding: dilindungi dengan material matras empuk supaya anak pada saat tantrum tidak terluka saat membenturkan diri ke dinding.

a. Konsep ruang kelas

Dalam ruang kelas biasanya anak sudah dapat mulai bersosialisasi dan dalam proses berkonsentrasi yang dibutuhkan tidak terlalu banyak sehingga anak dapat melihat ke arah luar ruangan (jendela /bukaan sebaiknya cukup luas agar sirkulasi udara dan cahaya baik.

b. Konsep ruang terapi

Perancang membuat ruang pantau yang digunakan untuk melakukan pengamatan saat terapi. Agar pengamatan bisa dilakukan tanpa

136 sepengetahuan anak maka dibuat bukaan dengan dilapisi kaca film. Tekstur lantai dan dinding dilapisi tekstur lembut (karpet atau matras)

c. Konsep ruang konsultasi

Desain dibuat agar tidak menimbulkan kebosanan dan ketengangan saat menjalani pemeriksaan. Pemberian area bermain untuk mengalihkan si anak agar tidak terlalu tegang.

6.4 Konsep massa dan perwajahan

Gambar 6.3 Gubahan massa sekolah Sumber: olahan penulis

Gambar 6.4 Aksonometri gubahan massa sekolah Sumber: olahan penulis

Konsep bentukan massa yang digunakan di sekolah khusus autisme adalah bentuk-bentuk yang disukai anak yaitu bentuk geometris. Bentukan yang diambil

137 adalah bentuk segi enam. Bentuk ini dirasa paling menguntungkan karena berdasarkan penelitian para ahli matematika terhadap sarang lebah, bentuk segi enam menciptakan ruang yang paling efektif dan jika digabungkan tidak akan menghasilkan ruang negatif. Hal ini sesuai dengan kebutuhan desain yang memiliki massa banyak dan membutuhkan tatanan ruang dengan orientasi melingkar ke dalam (sosiopetal). Selain itu dapat membuat anak autis dapat berkumpul di satu titik dimana secara karakter anak autis memiliki ciri yang berbeda dari anak normal diantaranya minim kemampuan berkomunikasi, tertarik berlebihan terhadap sesuatu.

Anak penyandang autisme adalah anak yang kebanyakan visual learner, dimana anak menyukai suatu bentuk yang menarik, teratur dan pastinya tidak membuatnya merasa terdistraksi.

Menurut penelitian F.S. Breeds dan SE, Kats, kombinasi warna yang cenderung disukai ada tiga, yaitu warna kontras, warna analog dan warna monokrom. Namun, berdasarkan perilaku anak-anak, warna yang mudah dimengerti anak-anak adalah jenis warna-warna analog. Dimana warna analog terdapat tiga macam warna, yaitu:

a. Warna biru, menurut buku Marian L. David (1987:135), artinya damai, setia, lembut, konservatif.

b. Warna hijau, menurut buku Marian L. David (1987:135), artinya muda, kehangatan, persahabatan, berani.

c. Warna kuning, menurut buku Marian L. David (1987:135), artinya cerah, terang, bahagia, hangat.

138 Gambar 6.5 Warna yang digunakan pada sekolah

6.5 Konsep sistem struktur / konstruksi

Dikarenakan bangunan ini merupakan bangunan untuk anak yang memiliki karakter khusus sehingga bangunan maksimal 2 lantai. Maka sistem yang digunakan tidak terlalu rumit. Sistem struktur yang digunakan pada sekolah adalah:

a. Sub struktur

Sekolah khusus autisme merupakan bangunan berlantai rendah dengan kondisi tanah yang datar, sistem pondasi dan jenis pondasi yang digunakan adalah sistem lajur dan titik dengan jenis pondasi foot plat.

b. Super struktur

Sistem struktur yang digunakan pada sekolah khusus autisme adalah sistem rangka kaku (rigid frame) dengan penataan kolom balok secara grid.

Struktur rangka kaku merupakan struktur yang dibentuk dengan cara meletakan elemen kaku horizontal di atas elemen kaku vertikal.

Struktur rangka kaku merupakan struktur yang dibentuk dengan cara meletakan elemen kaku horizontal di atas elemen kaku vertikal.