• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISA PERANCANGAN

5.3 Analisa tata ruang dalam

5.3.4 Analisa sistem utilitas

5.3.4.2 Analisa sanitasi

a. Sistem air bersih

Sistem air bersih menggunakan air dari PDAM. Kebutuhan air dalam bangunan sekolah autis ini adalah untuk keperluan air minum, toilet, mencuci dan memasak.

Sistem pemipaan menurut cara pengaliran airnya, sekolah khusus autisme ini menggunakan sistem vertikal dengan tangki di atas (sistem gravitasi) kemudian air dialirkan menggunakan pipa ke titik-titik keran.

b. Sistem air kotor

Sistem pembuangan air kotor pada bangunan sekolah luar biasa autis menggunakan sistem pembuangan langsung. Saluran air limbah/ air kotor berada di kanan jalan yang berujung ke sungai Babura. Jadi pengaliran air kotor dari bangunan ke riot kota

129 5.3.4.3 Analisa penghawaan

Dengan memanfaatkan keunggulan dari site, kualitas daerah alam di sekitar cukup baik, untuk mencapai kenyamanan, polusi udara yang sedikit sehingga sekolah ini menggunakan sistem penghawaan alami. Hal ini dapat dicapai dengan memperbanyak bukaan pada bangunan. Di lokasi sekolah, udara berhembus dari arah barat laut ke tenggara. Dari arah bukaan utara selatan, maka udara tidak sepenuhnya masuk dalam jendela, sehingga angin dari arah barat laut-tenggara tidak langsung masuk ke ruangan.

5.3.4.4 Analisa komunikasi

Sistem komunikasi dalam bangunan menggunakan airphone, sedangkan bangunan menggunakan jaringan telepon dari Telkom Indonesia.

130 BAB VI

KONSEP PERANCANGAN

6.1 Konsep dasar

Dalam perancangan dan perencanaan sekolah khusus autisme ini, perancang mengambil konsep healing environment dan educating space dimana perilaku dari pengguna utama bangunan yaitu anak penyandang autis menjadi dasar untuk menentukan seperti apa desain dari sekolah khusus autisme. Tujuan yang ingin dicapai dari perancangan ini adalah menciptakan lingkungan sekolah yang mementingkan kenyamanan, penyembuhan dan keselamatan untuk anak-anak penyandang autisme melalui bidang pendidikan.

Tabel 6.1 Konsep dasar Karakteristik

Autisme Sifat yang

Diharapkan Analisa Kriteria

Sekolah Arsitektural Kesulitan

Bukan institusi

-Bentuk massa

131 Menghindari

kontak mata/wajah

Dapat

Berinteraksi Dibutuhkan desain yang tektur lembut (seperti karpet aatau karet) yang bersifat dinamis bukan kaku

Fleksibel dan teradaptasi, tektur lembut dalam

berlebihan Perilaku

yang terarah Perilaku yang tidak dapat berdiam diri sehingga memerlukan fasilitas yang dapat

mewadahi sifat ini

Fleksibel dan teradaptasi, digabung tidak menghasilkan ruang negatif -Penggunaan penghijauan sebagai buffer -Kombinasi satu aktivitas

Respon

Fleksibel dan teradaptasi,

132 senang ketika

ke sekolah Kesesuaian sensorik-motorik, Aman

(hijau, kuning, biru)

Sumber: Analisa penulis

6.2 Konsep perancangan ruang luar/ tapak

6.2.1 Zoning Tapak

Gambar 6.1 Konsep penzoningan dalam site Sumber: Olahan Penulis

Konsep zoning ruang luar dibuat secara terpusat. Yaitu berpusat pada tempat bermain outdoor di tengah bangunan dengan desain mengelilingi dan menyebar.

Alasan membuat konsep terpusat adalah:

a. Anak penyandang autisme yang cenderung tidak suka bersosialisasi, sehingga dibutuhkan ruang yang saling berhubungan. Space yang dibuat bersifat outdoor dan menarik perhatian agar anak berkumpul di tengah bangunan secara bersamaan dan terciptanya interaksi.

b. Anak penyandang autisme yang suka dengan sesuatu yang menarik sehingga butuh space yang memberikan pemandangan yang baik

Pendidik

133 Konsep perancangan sistem parkir kendaraan pengunjung adalah parkir kendaraan roda dua dan roda empat dipisahkan dan diletakkan diluar bangunan Fungsi ruang luar lebih dominan untuk pengolahan landscape dengan konsep terpusat. Fungsi ruang luar dibuat menyebar namun tetap terhubung satu sama lain dengan sirkulasi yang mewadahi para pengguna.

6.2.2 Konsep Sirkulasi ruang luar

Gambar 6.2 Konsep Sirkulasi Ruang Luar Sumber: Olahan Penulis

Sirkulasi dibuat dengan jelas. Dibuat dari bahan perkerasan yang aman untuk anak-anak. Pada gambar, tiap sirkulasi dibuat melengkung karena ingin membuat anak-anak banyak bergerak dan menyatu dengan alam.

6.2.3 Konsep vegetasi

Vegetasi yang digunakan dalam tapak adalah:

Tabel 6.2 Rekomendasi nama dan jenis tanaman

No. Jenis dan nama tanaman Nama Latin Keterangan I Perdu & hias

1. Nusa Indah merah Musaenda erytthrophylla Berbunga 2. Daun mangkokan Notophanaz scutelarium Berdaun unik

134 3. Bugenvil merah Bougenvillea glabra Berbunga

4. Analea Rhododendron indicum Berbunga

5. Soka daun besar Ixora javonica Berbunga

6. Bakung Crinum asiaticum Berbunga

7. Oleander Nerium oleander berbunga

8. Sikas Cycas revolata Bentuk unik

9. Alamanda Alamanda cartatica Merambat

berbunga

10. Puring Codiaeum varigatum Daun berwarna

11. Kembang merak Caesalphinia pulcherima Berbunga

12. Krisan Chrysanthemum sp Bunga warna

warni

13. Bunga kancing Gomphrena globosa Bunga warna warni

14. Hanjuang Cordylin sp Daun merah

II Ground cover

Rumput gajah mini Axonophus compressus Tekstur kasar III Tanaman aromatik

1. Melati Jasminum sp Memberi aroma

wangi

2. Tahi ayam Tagetes Erecta L Memberi aroma

wangi

3. Anggrek Orchidaceae sp Memberi aroma

wangi IV Tanaman pembatas

1. Palem ekor tupai Wodyetia bifurcata Pengarah sisi dalam pagar

135 6.3 Konsep tata ruang dalam

Konsep tata ruang dengan sistem tingkat privasi berjenjang (privacy gradient) digunakan untuk menyusun unit-unit ruang secara keseluruhan, karena sistem ini membantu anak untuk tidak langsung berinteraksi dengan orang banyak, tetapi anak dikondisikan terlebih dahulu untuk belajar berinteraksi dengan guru dan teman-temannya.

Selain itu ruang untuk anak penyandang autisme ini bersifat aman. Yang dimaksud dengan aman adalah:

Penataan ruang: meminimalkan adanya sudut-sudut dalam ruang. Jika ada sudut, maka harus tertutupi dengan material atau perletakan perabot pada sudut ruangan.

Lantai: lantai tidak boleh licin. Lantai dilapisi dari bahan seperti karpet atau matras untuk melindungi anak supaya tidak terluka saat bermain atau terjatuh.

Dinding: dilindungi dengan material matras empuk supaya anak pada saat tantrum tidak terluka saat membenturkan diri ke dinding.

a. Konsep ruang kelas

Dalam ruang kelas biasanya anak sudah dapat mulai bersosialisasi dan dalam proses berkonsentrasi yang dibutuhkan tidak terlalu banyak sehingga anak dapat melihat ke arah luar ruangan (jendela /bukaan sebaiknya cukup luas agar sirkulasi udara dan cahaya baik.

b. Konsep ruang terapi

Perancang membuat ruang pantau yang digunakan untuk melakukan pengamatan saat terapi. Agar pengamatan bisa dilakukan tanpa

136 sepengetahuan anak maka dibuat bukaan dengan dilapisi kaca film. Tekstur lantai dan dinding dilapisi tekstur lembut (karpet atau matras)

c. Konsep ruang konsultasi

Desain dibuat agar tidak menimbulkan kebosanan dan ketengangan saat menjalani pemeriksaan. Pemberian area bermain untuk mengalihkan si anak agar tidak terlalu tegang.

6.4 Konsep massa dan perwajahan

Gambar 6.3 Gubahan massa sekolah Sumber: olahan penulis

Gambar 6.4 Aksonometri gubahan massa sekolah Sumber: olahan penulis

Konsep bentukan massa yang digunakan di sekolah khusus autisme adalah bentuk-bentuk yang disukai anak yaitu bentuk geometris. Bentukan yang diambil

137 adalah bentuk segi enam. Bentuk ini dirasa paling menguntungkan karena berdasarkan penelitian para ahli matematika terhadap sarang lebah, bentuk segi enam menciptakan ruang yang paling efektif dan jika digabungkan tidak akan menghasilkan ruang negatif. Hal ini sesuai dengan kebutuhan desain yang memiliki massa banyak dan membutuhkan tatanan ruang dengan orientasi melingkar ke dalam (sosiopetal). Selain itu dapat membuat anak autis dapat berkumpul di satu titik dimana secara karakter anak autis memiliki ciri yang berbeda dari anak normal diantaranya minim kemampuan berkomunikasi, tertarik berlebihan terhadap sesuatu.

Anak penyandang autisme adalah anak yang kebanyakan visual learner, dimana anak menyukai suatu bentuk yang menarik, teratur dan pastinya tidak membuatnya merasa terdistraksi.

Menurut penelitian F.S. Breeds dan SE, Kats, kombinasi warna yang cenderung disukai ada tiga, yaitu warna kontras, warna analog dan warna monokrom. Namun, berdasarkan perilaku anak-anak, warna yang mudah dimengerti anak-anak adalah jenis warna-warna analog. Dimana warna analog terdapat tiga macam warna, yaitu:

a. Warna biru, menurut buku Marian L. David (1987:135), artinya damai, setia, lembut, konservatif.

b. Warna hijau, menurut buku Marian L. David (1987:135), artinya muda, kehangatan, persahabatan, berani.

c. Warna kuning, menurut buku Marian L. David (1987:135), artinya cerah, terang, bahagia, hangat.

138 Gambar 6.5 Warna yang digunakan pada sekolah

6.5 Konsep sistem struktur / konstruksi

Dikarenakan bangunan ini merupakan bangunan untuk anak yang memiliki karakter khusus sehingga bangunan maksimal 2 lantai. Maka sistem yang digunakan tidak terlalu rumit. Sistem struktur yang digunakan pada sekolah adalah:

a. Sub struktur

Sekolah khusus autisme merupakan bangunan berlantai rendah dengan kondisi tanah yang datar, sistem pondasi dan jenis pondasi yang digunakan adalah sistem lajur dan titik dengan jenis pondasi foot plat.

b. Super struktur

Sistem struktur yang digunakan pada sekolah khusus autisme adalah sistem rangka kaku (rigid frame) dengan penataan kolom balok secara grid.

Struktur rangka kaku merupakan struktur yang dibentuk dengan cara meletakan elemen kaku horizontal di atas elemen kaku vertikal.

6.6 Konsep sistem utilitas

Konsep-konsep utilitas pada sekolah khusus autisme ini adalah:

139 6.6.1 Konsep elektrikal

Pada perancangan pencahayaan, memasukkan pencahayaan alami ke dalam bangunan. Memanfaatkan keuntungan pada lokasi sekolah, yaitu banyaknya vegetasi di utara site dan timur site, sehingga dapat membatasi cahaya matahari yang masuk ke bangunan. Selain cahaya alami, bangunan juga memerlukan pencahayaan buatan untuk ruang-ruang yang tidak dapat cahaya matahari yang langsung, dan untuk mengantisipasi pada saat cuaca mendung.

Sumber daya listrik utama diperoleh dari PLN dengan genset sebagai cadangan.

Gambar 6.5 Skema alur listrik Sumber: olahan penulis

6.6.2 Konsep sanitasi

Sistem plumbing atau sistem penyediaan air bersih dan pengeluaran atau pengkondisian air kotor yang dikehendaki tanpa ada gangguan atau pencemaran pada daerah yang dilalui oleh sistem plumbing.

PLN Gardu Meteran Panel MCB

Distribusi Unit

140 6.6.2.1 Sistem air bersih

Rencana perjalanan sirkulasi air bersih untuk kebutuhan sekolah:

Gambar 6.7 Skema air bersih Sumber: olahan penulis

Sumber air bersih berasal dari jaringan PDAM. Kebutuhan air bersih pada bangunan sekolah luar biasa autis ini meliputi kebutuhan air pada dapur, toilet, taman dan kolam renang.

6.6.2.2 Sistem air kotor

Air kotor dapat langsung dibuang melalui saluran pembuangan yang dialirkan melalui parit yang terdapat di pinggir jalan.

Gambar 6.8 Skema air kotor Sumer: olahan penulis 6.6.3 Konsep penghawaan

Menggunakan penghawaan alami diterapkan dengan memberi bukaan-bukaan agar aliran udara di dalam ruang tetap terpelihara. Penghawaan alami ini

PDAM Meteran Pompa Tangki air

Pompa Distribusi

Unit

Grey water

Black water

Bak Kontrol

Bak Kontrol

STP Sumur

resapan

Riol Kota

141 diterapkan pada ruang-ruang terluar yang memungkinkan untuk mendapatkan udara dengan sedikit polusi.

6.6.4 Konsep komunikasi

Sistem komunikasi dalam bangunan menggunakan airphone, sedangkan bangunan menggunakan telepon sistem PABX (mengatur pemakaian telepon oleh operator). Untuk komunikasi hotspot menggunakan teknologi jaringan komputer Wi-Fi secara nirkabel.

142 BAB VII

KESIMPULAN

Tugas akhir dengan judul Perancangan Sekolah Khusus Autisme Medan yang berlokasi di Jl. Karya Wisata, Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara. Lebih tepatnya berada di belakang SLB-A Karya Murni Medan. Sekolah khusus autisme adalah sekolah yang diperuntukan untuk anak-anak penyandang autisme.

Khususnya dapat mengetahui bagaimana cara menangani anak penyandang autisme, anak-anak ini juga bisa menjadi lebih baik dan layak mendapat pendidikan seperti anak-anak pada umumnya.

Perancangan sekolah khusus autisme Medan diharapkan dapat menjadi wadah bagi anak penyandang autisme di Medan sehingga anak penyandang autisme bisa mendapat fasilitas pendidikan, terapi dan pengobatan yang layak. Perancangan ini mencoba menjawab kebutuhan akan sekolah yang layak bagi anak penyandang autisme di Medan yang memenuhi tiga tantangan desain, yaitu bagaimana merancang atmosfir sekolah yang bersifat healing (penyembuhan), aman, dan nyaman bagi anak penyandang autisme supaya dapat berkembang dan hidup mandiri di masyarakat serta bagaimana arsitektur dapat mempengaruhi perilaku anak penyandang autisme. Dengan pengaturan fisik dan lingkungan sekolah yang memiliki atmosfir ketenangan, diyakini akan memberikan pengaruh positif atas pembentukan perilaku anak penyandang autisme.

143 DAFTAR PUSTAKA

Afrida, Lena (2009) Tinjauan Tata Atur Fisik Sekolah Khusus Terhadap Adaptasi Perilaku Anak Autis, Fakultas Teknik Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, Depok.

Autism treatment services of Saskatchewan

Badan Pusat Statistik Medan. 2017. Medan Dalam Angka

Dinas Kesehatan Kota Medan. 2013-2017 (dinkes.sumutprov.go.id)

Depdiknas. 2002. Pedoman Pelayanan Pendidikan bagi Anak Autistik.

Jakarta: Depdiknas.

International Classification of Diseases (ICD-10 tahun 1993)

Laurens,JM. 2004. Arsitektur dan Perilaku Manusia, Jakarta: Grasindo Mostafa, Magda. “An Architecture for Autism: Concepts of Design Intervention for the Autistic User.” International Journal of Architectural Research.

Volume 2 Issue 1. 189-204. March 2008.

Neufert, Ernst dan Sunarto Tjahjadi. 1997. Data Arsitek Jilid 1 edisi 33.

Jakarta: Erlangga

Peraturan Menteri Pendidikan Sosial Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2008 Tentang Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Luar Biasa (SLB)

Septia, Dyah. 2016. Pengaruh Perilaku Anak Berkebutuhan Khusus Terhadap Desain Fasilitas Pendidikan Studi Kasus: Bangunan Pendidikan Anak Autis,(online), (jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek, diakses 27 Februari 2019) Junita, Sondang, 2009, Tugas Akhir Sekolah Khusus Autis di Yogyakarta, Yogyakarta: Universitas Atmajaya Yogyakarta

144 Suryana, Agus. 2004. Terapi Autisme, Anak Berbakat dan Anak Hiperaktif.

Penerbit Progress, Jakarta.

Watson L. dan Marcus L. 1988. Diagnosis and Assessment of Preschool Children. Dalam Schopler, E. dan Mesibov,G(eds) Diagnosis and Assessment in Autism. London. Plenum Press.

https://architectureforautism.wordpress.com/treatment-centers-for-people-with-autistic-spectrum-disorders/advance-center-for-autism/ (diakses 7 Maret) https://www.citylab.com/design/2014/04/designing-buildings-children-autism/8960/ (diakses 7 Maret 2019)

https://a4le.org.au/awards/2011-awards/2011-regional-award-winners-and-commendations/western-autistic-school,-laverton-victoria (diakses 10 Maret) http://a4le.org.au/awards/awards-2013/2013-regional-award-winners-and-commendations/northern-school-for-autism (diakses 21 Maret 2019)

https://arcspace.com/feature/fawood-childrens-centre/ (diakses 21 Maret 2019)

https://all.design/posts/fawood-childrens-centre (diakses 21 Maret 2019) http://www.designshare.com/index.php/articles/classroom_autism/ (diakses 27 Maret 2019)

http://lifetranscenter.com/klinik-hipnoterapi-jenis-jenis-terapi-untuk-anak-autis/ (diakses 31 Maret 2019)

https://www.researchgate.net/figure/Elevations-of-the-Northern-School-for-Autism-Source-Hede-Architects_fig4_283099110

https://www.kajianpustaka.com/2017/10/pengertian-jenis-tingkatan-anak-autisme.html (diakses tgl 20 Maret 2019)

https://exhibition.a4le.org/2013/pdf/NorthernSchoolAutism.pdf (diakses 24 April 2019)

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR VI TA. 2018/2019 KELAS (B)

DOSEN KOORDINATOR : Dr. IMAM FAISAL PANE, ST.,MT.IPM DOSEN PEMBIMBING : Ir. RUDOLF SITORUS, MLA

JUDUL SKRIPSI : PERANCANGAN SEKOLAH KHUSUS AUTISME MEDAN

NAMA : JESSICA CHANDRA NIM : 150406024

JUDUL PROYEK :

GAMBAR : GROUND PLAN

SKALA : 1 : 500

HALAMAN

JUMLAH HALAMAN

GROUND PLAN

SKALA 500

1

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR VI TA. 2018/2019 KELAS (B)

DOSEN KOORDINATOR : Dr. IMAM FAISAL PANE, ST.,MT.IPM DOSEN PEMBIMBING : Ir. RUDOLF SITORUS, MLA

JUDUL SKRIPSI : PERANCANGAN SEKOLAH KHUSUS AUTISME MEDAN

NAMA : JESSICA CHANDRA NIM : 150406024

JUDUL PROYEK :

GAMBAR : SITE PLAN

SKALA : 1 : 500

HALAMAN

JUMLAH HALAMAN

SITE PLAN

SKALA 500

2

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR VI TA. 2018/2019 KELAS (B)

DOSEN KOORDINATOR : Dr. IMAM FAISAL PANE, ST.,MT.IPM DOSEN PEMBIMBING : Ir. RUDOLF SITORUS, MLA

JUDUL SKRIPSI : PERANCANGAN SEKOLAH KHUSUS AUTISME MEDAN

NAMA : JESSICA CHANDRA NIM : 150406024

JUDUL PROYEK :

GAMBAR : TAMPAK SITE

SKALA : 1 : 500

HALAMAN

JUMLAH HALAMAN

TAMPAK BELAKANG SITE

SKALA 500

TAMPAK KIRI SITE

SKALA 500

TAMPAK KANAN SITE

SKALA 500

3