BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.8. Analisa Keterwakilan Perempuan dalam Partai Politik
Partai Politik sebagai suatu lembaga penting yang mengaktifkan, memobilisasi masyarakat, mewakili kepentingan tertentu dan melakukan perkaderan yang kemudian melahirkan pemimpin telah menjadi suatu keharusan. Partai politik mempunyai fungsi yang sangat penting untuk rekrutmen kandidat serta mengemban pula fungsi pendidikan politik bagi masyarakat, terutama bagi kader-kadernya. Fungsi-fungsi partai politik dalam negara demokrasi adalah melaksanakan fungsi sosialisasi politik, rekrutmen politik, partisipasi politik, pemandu kepentingan, kontrol politik dan sebagainya. Untuk itu faktor masuknya perempuan menjadi calon anggota legislatif banyak ditentukan dari basis mana mereka berasal dan bagaimana mereka dididik. Apalagi jika ditelaah kembali begitu banyak persoalan perempuan di Indonesia yang belum terselesaikan, sebut saja kasus trafficking, pelecehan seksual, KDRT dan lain sebagainya. Hal ini membuat perempuan Indonesia tergerak hatinya untuk terjun ke ranah politik, dimulai dengan bergabung dengan salah satu partai yang kemudian memiliki harapan untuk bisa menjabat sebagai pengambil kebijakan di pemerintahan yang mampu mengatasi permasalah perempuan yang ada di Indonesia.
Menurut Robert K. Merton, menyatakan ada empat fungsi partai politik, sebagai berikut43
a. Partai politik bisa digunakan sebagai saluran untuk menampung kelompok/individu yang secara sosial tertekan. Terutama bagi mereka yang tidak puas dengan struktur
:
43
Rachmad K. Dwi Susilo, 20 Tokoh Sosiologi Modern (Biografi para Peletak Sosiologi Modern)
sosial yang terlegitimasi. Dengan kata lain, partai politik bisa digunakan untuk saluran kekecewaan dan ketidakpuasan
b. Dalam konteks bisnis, khususnya yang berlaku untuk bisnis besar, bos politik dan partai politik menyediakan hak-hak istimewa politik yang membawa imbalan politik secara nyata. Para pebisnis selalu mencari kesepakatan politik yang dapat menjamin situasi stabil demi memaksimalkan keuntungan.
c. Partai politik dan mesin politik menyediakan prospek dan karier untuk orang-orang yang disosialisasikan dalam kondisi miskin dengan latar belakang yang kurang menguntungkan.
d. Partai politik dan mesin politik menyediakan perlindungan, baik bisnis yang legal (sah) maupun bisnis yang tidak legal (tidak sah). Menjamurnya bisnis-bisnis gelap tidak lepas dari ”backing” orang-orang politik.
Partai politik merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembentukan kekuasaan negara. Partai politik yang juga merupakan sebuah lembaga/birokrasi politik sesungguhnya hanya bentuk legitimasi bagi yang banyak uang untuk menjadi elite lain. Kalau sudah bosan menjadi elite ekonomi, akan meloncat sebagai elite politik. Selain itu partai politik juga sering digunakan sebagai batu loncatan untuk mengamankan kepentingan masing-masing dengan tidak mempedulikan kepentingan lebih besar. Yang pada akhirnya, demi ambisi individu, kepentingan besar menjadi dikorbankan.
Jadi, tidak semua yang berlaku pada lembaga/birokrasi politik (partai politik) bermanfaat (fungsional) bagi masyarakat. Robert K. Merton menyatakan ada beberapa watak yang dimiliki oleh sebuah lembaga (birokrasi)44
44
Rachmad K. Dwi Susilo, op.cit., hal. 200.
a. Birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal b. Ia meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas
c. Kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi d. Jabatan-Jabatan dalam organisasi diintegrasikan ke dalam keseluruhan struktur
birokrasi
e. Status-status dalam birokrasi tersusun ke dalam susunan yang bersifat hierarkis f. Berbagai kewajiban serta hak-hak dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang
terbatas serta terperinci
g. Otoritas pada jabatan, bukan pada orang
h. Hubungan-hubungan antara orang-orang dibatasi secara formal
Pendapat dari Robert K. Merton tersebut teraplikasi pada Partai Keadilan Sejahtera khususnya di DPW PKS Provinsi Sumatera Utara. Sebagai sebuah lembaga/birokrasi politik DPW PKS Provinsi Sumatera Utara memiliki struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, terbukti dengan adanya struktur kepengurusan dan AD/ART PKS yang memiliki batasan-batasan yang jelas bagi anggota maupun kadernya dalam beraktivitas, dan juga adanya hal tersebut tersusun dalam status hierarkis, seperti yang diutarakan oleh Ibu Siti Aminah
”Di PKS sendiri kami mempunyai aturan atau AD/ART, segala aktivitas yang kami lakukan di atur disana, mulai dari syarat-syarat untuk menjadi anggota sampai kepada undang-undang untuk kader perempuan di PKS, dan untuk jabatan sendiri meskipun di DPW mempunyai stuktur kepengurusan yaitu dengan adanya ketua umum tetap saja Dewan Syuro yang berada di pusat menjadi pemegang kekuasaan organisasi terkuat di PKS”
Sumber : Wawancara Desember 2009
Permasalahan keterwakilan perempuan dalam struktur kepengurusan partai politik untuk PKS sendiri, berdasarkan hasil dari wawancara beberapa informan menyebutkan saat ini sudah melebihi 30 % dari jumlah seluruh kepengurusan yang ada.
Bahkan untuk posisi atau jabatan-jabatan strategis sekarang sudah banyak ditempati oleh kader perempuan PKS. Selain ketua umum, sekretaris umum dan bendahara umum, dalam struktur kepengurusan PKS juga terdiri atas beberapa bidang, diantaranya bidang kewanitaan. Bidang kewanitaan merupakan salah satu bidang dari partai yang memiliki fungsi sebagai forum untuk mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi perempuan maupun anak-anak. Pembuatan program kerja yang ada di PKS diserahkan kepada masing-masing bidang, begitu juga dengan bidang kewanitaan, dan selanjutnya dirapatkan dalam rapat presidium partai. Pada umumnya pengurus yang berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan partai mengetahui program kerja bidang lain, karena setiap bidang salin terkait.
Keterlibatan perempuan dalam implementasi program kerja partai dapat dikatakan sebagai keikutsertaan perempuan secara aktif dalam kegiatan partai. Keterlibatan kader-kader perempuan di PKS yang terbanyak yaitu di Taklim rutin kader (pengajian) yang pada awalnya dibentuk dari kelompok-kelompok kecil yang dilaksanakan oleh masing-masing kepengurusan baik yang berada pada tingkat wilayah, dan juga pengajian ini dilakukan dalam skala besar yaitu pengajian bersama dalam tujuan perekrutan kader-kader baru. Selain itu keterlibatan kader perempuan dalam implementasi kegiatan partai adalah kegiatan-kegiatan yang amal yang selama ini banyak dilakukan PKS, misalnya bakti sosial dalam rangka menaggulangi bencana alam dengan memberikan bantuan yaitu moril dan materi. Pada dasarnya perempuan PKS banyak terlibat pada program-program yang bersifat sosial dan menyangkut permasalahan anak dan perempuan misalnya tentang kesehatan anak, dengan dibuatnya suatu kegiatan yaitu unit pos pelayanan terpadu yang dilakukan secara berkala.
Pada dasarnya perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama di partai, dari keanggotaan PKS dapat dilihat bahwa anggota perempuan di PKS
sangat banyak. Hal ini menandakan bahwa munculnya kesadaran perempuan dalam meningkatkan partisipasi perempuan di partai politik ditandai dengan adanya peluang yang besar terhadap perempuan di partai politik.
Dalam AD/ART PKS berisi tentang pandangan-pandangan umum dan khusus mengenai partai dalam menjalankan kegiatan partai. Hasil wawancara yang dilakukan dengan ketua bidang kewanitaan DPW PKS yaitu Ibu Nur Azizah, menyatakan bahwa pada dasarnya tidak ada aturan secara khusus mengenai pasal khusus tentang perempuan. PKS dalam memandang setiap manusia adalah sama tanpa adanya unsur-unsur yang bias jender. Dalam Partai Keadilan Sejahtera laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dan berkembang atau tidaknya tergantung pada individu itu sendiri.
Partai politik memiliki peranan yang sangat besar dalam meningkatkan keterwakilan perempuan di legislatif. Namun, data yang didapat dari KPU sendiri yang dihasilkan dari Pemilu 2004. Untuk kursi DPR RI hanya 61 kursi dari 550 kursi yang tersedia atau hanya berkisar 11%, dan dari 16 partai politik yang berhasil mendapatkan kursi di DPR RI hanya 9 partai politik yang mempunyai wakil perempuan. (lihat tabel 4.7)
Tabel 4.7
Perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Berdasarkan Partai Politik pada Pemilu 2004
Partai Politik Perempuan (%) Laki-Laki (%) Total
Partai Golkar 18 14 109 86 128 PDI-Perjuangan 12 11 97 89 109 PPP 3 5,17 55 94,82 58 Partai Demokrat 6 10,52 51 89,47 57 PKB 7 13,46 45 86,53 52 PAN 7 13,46 45 86,53 52 PKS 3 6,66 42 93,33 45 PBR 2 15,38 11 84,61 13 PDS 3 25 9 75 12 PBB 0 0 11 100 11 PPDK 0 0 5 100 5 PKPB 0 0 2 100 2 Partai Pelopor 0 0 2 100 2
PKPI 0 0 1 100 1
PNBK 0 0 1 100 1
PNI Marhaenisme 0 0 1 100 1
Total 61 11 489 89 550
Sumber : Divisi Perempuan dan Pemilu CETRO, 2004
Berdasarkan data diatas, untuk jumlah keterwakilan perempuan di legislatif melalui partai politik masih menunjukkan angka yang cukup rendah. Hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab partai politik khususnya perempuan itu sendiri untuk meningkatkan angka tersebut sehingga bisa mensejajarkan dengan jumlah laki-laki, tentunya dengan tidak melupakan kualitas dari perempuan itu sendiri.
Masalah pemberdayaan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan perlu diperhatikan sebelum membicarakan kesetaraan perempuan dengan kaum laki-laki dari sisi sebagai keadilan dan kesamaan dalam berkarya. Dalam pandangan Partai Keadilan Sejahtera, kaum perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang terbingkai dalam pemikiran berikut :
1. Kaum perempuan merupakan mitra hidup kaum laki-laki yang harus bekerja sama secara harmonis dan saling mengokohkan.
2. Kerjasama antar jenis harus ditujukan dalam kerangka menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dalam arti yang seluas-luasnya.
3. Kerjasama itu harus berada di atas landasan ketaqwaan yang diindikasikan dengan penunaian hak ubudiyah kepada Allah SWT, maupun hak muamalah kepada manusia.
Berangkat dari filosofi tersebut, maka menjadi sebuah konsekuensi logis bagi Partai Keadilan Sejahtera untuk memperjuangkan kaum perempuan Indonesia agar dapat memiliki semua kualifikasi untuk mengoptimalkan tanggung jawabnya sebagai individu,
anggota keluarga, masyarakat maupun warga negara. Kualifikasi yang dimaksudkan adalah bertaqwa, sejahtera, cerdas, berdaya dan berbudaya.
Permasalahan kaum perempuan Indonesia saat ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari krisis multidimensi yang berakar dari akumulasi krisis moralitas. Krisis ini telah memporakporandakan tatanan kemasyarakatan yang ada dan melahirkan.
4.9.Analisa Isu Jender pada Tingkat Keterwakilan Perempuan di Pemerintahan