• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Analisa Kualitas Jahe

Analisa kualitas jahe kering yang dilakukan berupa bau dan rasa, kadar air, kadar abu, kadar polifenol dan benda asing. Kadar air merupakan parameter yang digunakan untuk menentukan jumlah kadar air dalam suatu bahan (Mohanti dan Akbari, 2017). Sehingga berkurangnya kadar air bahan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap tekstur, cita rasa, nilai gizi bahan pangan, dan

terutama aktivitas mikroorganisme (Rayaguru dan Routray, 2012). Kadar abu merupakan parameter yang digunakan untuk menentukan mineral yang terkandung dalam suatu bahan (Abano dan Ernest, 2016).

Data hasil uji kualitas jahe kering menggunakan pengering kombinasi sistem pengeringan konvensional dan desikan dengan variasi ketebalan bahan dan kondisi panas terik seperti yang ditunjukan pada tabel. Jahe kering memiliki warna, bau dan rasa khas jahe segar dan tidak terdapat jamur pada jahe kering. Data yang diperoleh pada variasi ukuran bahan 2 mm, 4 mm dan 6 mm kadar air berkisar 9,87%, 10,75%, dan 11,87 % untuk kadar abu total berkisar 3,17% , 4,72% dan 4,83%, dan untuk kadar minyak atsiri total berkisar 1,87 mL/100gr, 2,03 mL/100gr, dan 2,16 mL/100gr. Kadar abu menyatakan kandungan mineral yang terdapat pada bahan. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kandungan minyak yang dihasilkan oleh tiap ketebalan bahan berbeda-beda dimana pada ketebalan bahan 2 mm mengandung lebih sedikit minyak dibanding ketebalan bahan 4 mm dan 6 mm. Dari penelitian yang dilakukan dapat dilihat bahwa kadar minyak atsiri yang dihasilkan menggunakan pengering kombinasi sistem pengering konvensional desikan lebih banyak dari SNI. Akan tetapi pengeringan dengan sistem konvensional masih memiliki benda asing yang terbawa, ini dikarenakan proses pengeringan dilakukan secara terbuka yang membuat benda asing seperti kotoran, debu dan pasir menempel pada bahan yang membuat hasil uji benda asing belum mencapai standard SNI.

Untuk kadar abu dan kadar air yang didapat sudah sesuai dengan SNI dimana kadar air dan kadar abu yang terkandung dalam bahan lebih kecil dari SNI.

43

Tabel 4.1 Hasil Uji Rimpang Jahe kering pada kondisi Panas Terik Dari Laboratorium Badan Standarisasi Mutu Barang Medan

Jenis Uji Satuan Hasil Uji SNI Keterangan

2 mm 4 mm 6 mm

Bau dan Rasa - Khas Jahe Khas Jahe Khas Jahe Normal/khas Memenuhi Syarat

Kadar Air. (b/b) % 9,87 10,75 11,87 12,0 Memenuhi Syarat

Kadar Minyak Atsiri mL/100gr 1,87 2,03 2,16 1,5 Memenuhi Syarat

Kadar Abu % 3,17 4,72 4,83 8,0 Memenuhi Syarat

Benda Asing % 0,10 0,11 0,10 Tidak Ada Tidak Memenuhi Syarat

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

1. Diperoleh jahe kering dengan kadar air sebagai berikut: 9,87% untuk ketabalan 2 mm, 10,75% untuk ketebaln 4 mm dan 11,87% untuk ketebalan 6 mm pada kondisi cuaca terbaik yaitu kondisi cuaca panas terik.

2. Cuaca berpengaruh terhadap laju pengeringan, diperoleh laju pengeringan tertinggi pada masing-masing kondisi cuaca sebagai berikut: 0,00956 gr/m2.jam untuk kondisi cuaca mendung, 0,01123 gr/m2.jam untuk kondisi cuaca panas biasa dan 0,0119 gr/m2.jam untuk kondisi cuaca panas terik.

3. Ukuran bahan mempengaruhi laju pengeringan, diperoleh laju pengeringan tertinggi pada ukuran bahan 2 mm 0,0119 gr/m2.jam.

4. Ukuran bahan mempengaruhi kualitas jahe kering, diperoleh kadar minyak atsiri untuk jahe kering pada kondisi cuaca panas terik dengan ketebalan 2 mm sebesar 1,87 ml/100gr, pada ketebalan 4 mm sebesar 2,03 ml/100gr dan pada ketebalan 6 mm sebesar 2,16 ml/100gr. Dari hasil analisa mutu jahe hasilnya, semakin tebal bahan baku maka kadar minyak atsirinya semakin banyak.

45 5.2 SARAN

1. Diharapkan penelitian selanjutnya untuk memperhatikan ukuran ketebalan bahan sesuai dengan variasi yang akan dilakukan.

2. Diharapkan penelitian selanjutnya untuk memperhatikan variasi kondisi cuaca agar tidak terbasahi oleh air hujan pada cuaca mendung.

3. Untuk kedepannya supaya dilakukan perbandingan konvesional-desikan dan kombinasi surya-desikan untuk dapat menentukan lama waktu pengeringan tercepat.

DAFTAR PUSTAKA

Adhit Mardita Yando dan Vita Paramita. 2017. Studi Pengaruh Suhu dan Ketebalan Irisan Terhadap Kadar Air, Laju Pengeringan dan Karakteristik Fisik Ubi Kayu dan Ubi Jalar. Semarang: Universitas Diponegoro

Hasibuan, Rosdanelli, Bambang Trisakti dan Netti Herlina. 2009. Karakteristik Alat Pengering Kombinasi Energi Surya dan Tapis Molekular Untuk Energi Surya dan Tapis Molekular Untuk Pengeringan Bunga Rosela. Perpustakaan

Universitas Indonesia.

Hasibuan, Rosdanelli. 2017. Kajian Performansi Pengering Kombinasi Konveksi-Desikan Pada Pengeringan Daun Gambir. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Hanief Sidga. 2013. Efektivitas Ekstrak Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococus Viridans. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Hortikultura. 2016. Badan Pusat Statistika Indonesia

Ika Permatasari, Laela Kharunnisa Eguenia, Suherman. 2016. Pengaruh Initial Moisture Content dan Massa Tepung pada Proses Pengeringan Tepung Tapioka Menggunakan Pengering Unggun Fluidisasi. Semarang: Universitas Diponegoro.

Ivan, A. G. Aulia, R.M. Siswo,S. 2013. Pengeringan Gabah dengan Menggunakan pengering Resirkulasi Kontinyu Tipe Konveyor Pneumatik. (on line), Vol. 2, No. 3

Kusumaningrum, dkk 2015. Kualitas Simplisia Tanaman Biofarmaka Curcuma Domestica Setelah Proses Pemanasan Pada Suhu dan Waktu Bervariasi : Universitas Diponogoro

Liani, Happy. 2016. Pengaruh Ketebalan Bahan Terhadap Kinetika Pengeringan Kentang (Solanum Tuberosum L.) Menggunakan Pengering Surya Metode Tidak Langsung (Indirect Solar Dryer) dan Penjemuran Langsung (Open Sun Drying). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Marbun, Ivo Dian. 2018. Efektivitas Jenis Desikan dan Kecepatan Udara Terhadap Penyerapan Uap Air di Udara. Medan: Universitas Sumatera UtaraMc.Cabe, Warren L. 2002.Unit Operation of Chemical Engineering.Edition 4th.Mc.

Grow Hill International Book Co : Singapore

Mitsuhiro Subota, Takuya Hanada, Satoshi Yabe, Hitoki Matsuda. 2013.

Regeneration Characteristics of Desiccant Rotor with Microwave and Hot Air Heating. Energies 2017, 10, 1335; doi:10.3390/en10091335

Misha, S., Mat, S., Ruslan,M.H., Sopian, K., 2014. Performance of a solar assisted solid desiccant dryer for kenaf core fiber drying under low solar radiation.

Solar Energy 112 (2015), 194–204.

Muhammad, Yahya. 2015. Kajian Karakteristik Pengering Fluidisasi Terintegrasi Dengan Tungku Biomassa untuk Pengeringan Padi. Institut Teknologi Padang.

Mujumdar, Arun S., Ching Lik Hii, Sachin V. Jangam, Sze Pheng Ong 2012.

Mulyani Hesti, Sri Harti Widyastuti, dan Venny Indria Ekowati. Tumbuhan Herbal Sebagai Jamu Pengobatan Tradisional Terhadap Penyakit dalam Serat Primbon Jampi Jawi Jilid 1. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Pairul, Piesta Prima Beta, Susianti, Sahrul Hamidi Nasution. Jahe (Zingiber

Officinale) Sebagai Anti Ulserogenik. Lampung: Universitas Lampung.

Pane, Yunal Maudi. 2018. Karakteristik Pengeringan Temulawak (Curcuma Zanthorriza) Menggunakan Pengering Kombinasi Surya Tapis Molekuler

Panggabean Tamaria, Arjuna Neni Triana, Ari Hayati. 2017. Kinerja Pengering Gabah Menggunakan Alat Pengering Tipe Rak Dengan Energi Surya, Biomassa, dan Kombinasi. Palembang: Universitas Sriwijaya

Rayaguru, K., Routray, W. Mathematical modeling of thin layer drying kinetics of stone apple slices. International Food Research Journal 19(4): 1503-1510. 2012 Ridhatullah, Muhammad Alfikri, Rosdanelli Hasibuan. 2019. Pengaruh Ketebalan Bahan dan Jumlah Desikan Terhadap Laju Pengeringan Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) pada Pengerngan Kombinasi Surya Desikan. Medan:

Universitas Sumatera Utara

Rukmana HR, Yudirachman HH. Budidaya & Pascapanen Tanaman Obat Unggulan.

Edisi ke-1. Editor: Maya. Yogyakarta: Lily Publisher; 2016:73-81.

Siregar Fitri. 2016. Optimasi Penggunaan Adsorben Molecular Sieve 13× pada Pengering Surya Sistem Integrasi Matahari dan Desikan. Medan: Universitas Sumatera Utara

Sekyere, C.K.K, F.K. Forson, F.W. Adam. 2016. Experimental investigation of the drying characteristics mixed mode natural convection solar crop dryer with backup heater. Kumashi Polytechnic Ghana

Setyawan B. Peluang Usaha Budidaya Jahe. Edisi ke-1. Editor: Mona. Yogyakarta:

Pustaka Baru Press; 2015:17-24.

Siti Nur Chotimah, Sunarto, dan Edwi Mahajoeno. 2011.“Producing of Biogas From Food Waste With Substrate Temperature and Variation in Anaerob Biodigester”. Jurnal Ekosains, Vol 3 (3), November 2011, hal 2.

Subagya, Annie Widya. 2018. Mempelajari Karakteristik Pengeringan Keripik Sayur. Bandar Lampung: Universitas Lampung

Suprayitno, Azridjal Azis, Rahmat Iman Mainil. Kaji Eksperimental Alat Pengering Tenaga Surya Aktif Pemanasan Langsung (Direct Solar Dryer Active) Berbentuk Jajar Genjang Tipe Kabinet. Pekanbaru: Universitas Riau

Surachman, H., Fachrudin, D., Sutopo, dan Sumarsono. M. 2008.

Pengembangan dan pengujian kinerja termal pengering lorong hibrid energi surya-biomassa terpadu. J. Sains dan Teknologi Indonesia 10:3(2008) 157-164.

Wicaksono, Arya Saka. 2018. Karakteristik Pengeringan Daun Gambir (Uncaria Gannbir Roxb) Menggunakan Pengering Kombinas Surya Desikan. Medan:

Universitas Sumatera Utara

Yustinus Suranto dan Riris Trideny Situmorang. 2018. Pengaruh Metode

Pengeringan dan Tebal Kayu Terhadap Kecepatan dan Cacat Pengeringan Kayu Tusam. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Zamzami, Muhammad Abror. 2017. Pengaruh Kecepatan Udara Terhadap Laju Pengeringan Rimpang Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) pada Pengeringan Kombinasi Surya-Tapis Molekuler

LAMPIRAN A DATA PENELITIAN

LA.1 DATA HASIL PENGERINGAN

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh dari kondisi cuaca mendung dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.1 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca Mendung dengan variasi ukuran ketebalan bahan 2 mm

t(jam) M(gr) Moisture

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca Mendung dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.2 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca Mendung dengan variasi ukuran ketebalan bahan 4 mm

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 95,44 94,82 0,00570

1 91,38 90,22 0,00508

1,5 88,52 86,98 0,00358

2 85,23 83,24 0,00411

3 81,12 78,58 0,00514

4 73,62 70,08 0,00469

5 69,67 65,60 0,00247

6 63,01 58,04 0,00416

7 60,17 54,82 0,00178

8 57,98 52,34 0,00137

9 54,67 48,58 0,00207

10 52,21 45,79 0,00154

11 40,74 32,78 0,00717

12 37,57 29,19 0,00198

13 29,34 19,85 0,00514

14 20,95 10,34 0,00524

15 15,57 4,24 0,00336

16 14,02 2,48 0,00097

17 14,02 2,48 0,00097

18 14,02 2,48 0,00097

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca Mendung dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.3 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca Mendung dengan variasi ukuran ketebalan bahan 6 mm

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 98,02 97,77 0,00248

1 93,09 94,22 0,00616

1,5 90,76 89,60 0,00291

2 89,47 88,15 0,00161

3 87,76 86,22 0,00214

4 82,42 80,21 0,00334

5 78,12 75,37 0,00269

6 71,46 67,88 0,00416

7 66,15 61,90 0,00332

8 62,55 57,85 0,00225

9 59,42 54,33 0,00225

10 57,12 51,74 0,00196

11 48,87 42,46 0,00144

12 41,79 34,49 0,00516

13 35,81 27,76 0,00443

14 26,88 17,71 0,00374

15 19,93 9,89 0,00558

16 16,55 6,08 0,00434

17 13,31 2,42 0,00211

18 13,31 2,42 0,00211

19 13,31 2,42 0,00211

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca panas Biasa dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.4 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca panas Biasa dengan variasi ukuran ketebalan bahan 2 mm

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 92,92 91,98 0,00885

1 88,32 86,78 0,00575

1,5 83,57 81,41 0,00594

2 79,12 76,37 0,00556

3 76,78 73,72 0,00293

4 64,34 59,65 0,00778

5 58,12 52,61 0,00389

6 44,77 37,50 0,00834

7 36,98 28,69 0,00478

8 30,34 21,18 0,00415

9 27,81 18,31 0,00158

10 25,23 15,39 0,00161

11 18,61 7,90 0,00414

12 14,65 3,42 0,00248

13 13,26 1,85 0,00087

14 13,26 1,85 0,00087

15 13,26 1,85 0,00087

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca panas Biasa dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.5 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca panas Biasa dengan variasi ukuran ketebalan bahan 4 mm

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 94,49 93,83 0,00689

1 89,04 87,73 0,00681

1,5 85,69 83,98 0,00419

2 80,62 78,31 0,00634

3 78,34 75,75 0,00285

4 66,89 62,94 0,00716

5 62,87 58,44 0,00251

6 47,32 41,04 0,00972

7 40,75 33,68 0,00411

8 34,04 26,17 0,00419

9 31,25 23,05 0,00174

10 29,87 21,51 0,00860

11 20,98 11,56 0,00556

12 15,67 5,61 0,00332

13 13,78 3,50 0,00118

14 12,25 1,79 0,00096

15 12,25 1,79 0,00096

16 12,25 1,79 0,00096

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca panas Biasa dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.6 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca panas Biasa dengan variasi ukuran ketebalan bahan 6 mm.

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 97,21 96,84 0,00349

1 93,32 92,45 0,00486

1,5 89,67 88,32 0,00456

2 85,54 83,65 0,00516

3 80,46 77,91 0,00635

4 70,87 67,07 0,00599

5 67,76 63,56 0,00194

6 53,12 47,01 0,00915

7 46,56 39,60 0,0041

8 40,87 33,17 0,00356

9 36,98 28,77 0,00243

10 34,63 26,11 0,00147

11 23,31 13,32 0,00708

12 19,49 9,00 0,00239

13 16,71 5,86 0,00174

14 14,91 3,83 0,00113

15 13,44 2,17 0,00092

16 13,44 2,17 0,00092

17 13,44 2,17 0,00092

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca panas Terik dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.7 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca panas Terik dengan variasi ukuran ketebalan bahan 2 mm

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 87,45 86,28 0,0156

1 81,14 79,38 0,00789

1,5 74,86 72,51 0,00785

2 60,22 56,51 0,0183

3 48,78 44,00 0,0143

4 32,34 26,03 0,01028

5 29,12 22,51 0,00201

6 25,77 18,84 0,00209

7 22,13 14.86 0,00228

8 20,21 12.76 0,0012

9 15,12 7.20 0,00318

10 13,78 5.74 0,00084

11 9,4 0,95 0,000274

12 9,4 0.95 0,000274

13 9,4 0.95 0,000274

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca panas Terik dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.8 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca panas Terik dengan variasi ukuran ketebalan bahan 4 mm

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 92,95 92,26 00881

1 87,58 86,36 0,00671

1,5 84,62 83,11 0,0037

2 79,23 77,19 0,00674

3 62,55 58,88 0,02085

4 54,81 50,39 0,00484

5 40,87 35,08 0,00871

6 28,32 21,30 0,00329

7 23,05 15,09 0,00113

8 21,24 13,53 0,00037

9 20,65 12,93 0,00151

10 18,23 10,43 0,00176

11 15,41 7,13 0,00221

12 11,87 3,25 0,00831

13 11,87 3,25 0,00831

14 11,87 3,25 0,00831

Adapun data hasil penelitian yang diperoleh kondisi cuaca panas Terik dengan variasi ukuran ketebalan bahan dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.9 Data Hasil Pengeringan Jahe pada kondisi cuaca panas Terik dengan variasi ukuran ketebalan bahan 6 mm

t(jam) M(gr) Moisture Content (%)

Laju Pengeringan (g/cm2.jam)

0 100 100 0

0,5 94,87 94,35 0,00641

1 89,34 88,27 0,00691

1,5 84,71 83,18 0,00579

2 78,54 76,39 0,00771

3 71,46 68,60 0,00885

4 62,37 58,64 0,00568

5 48,76 43,63 0,00851

6 37,12 30,83 0,00728

7 33,65 27,01 0,00217

8 29,21 22,13 0,00278

9 25,52 18,07 0,00231

10 23,14 15,45 0,00149

11 20,77 12,84 0,00148

12 15,33 6,886 0,0034

13 10,16 1,17 0,00325

14 10,16 1,17 0,00325

15 10,16 1,17 0,00325

LA.2 DATA HUMIDITAS RELATIF (RH) PADA MALAM HARI

Adapun data relatif humidity dalam desikator pada malam hari yang direkam menggunakan alat Hygrometer dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.10 Data Relative Humidity (RH) pada malam hari pada kondisi cuaca mendung

Waktu RH, (%) 2 4 6 19:00 81 83 82 20:00 79 80 80 21:00 75 78 80 22:00 68 70 77 23:00 57 60 62 24;00 45 51 55 1:00 42 46 48 2:00 38 39 43 3:00 34 37 40 4:00 32 34 34 5:00 31 27 34 6:00 30 26 30 7:00 29 25 23 8:00 28 24 22 9:00 27 23 21

Adapun data relatif humidity dalam desikator pada malam hari yang direkam menggunakan alat Hygrometer dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.11 Data Relative Humidity (RH) pada malam hari pada kondisi cuaca panas Biasa

Waktu RH, (%) 2 4 6 19:00 80 81 80 20:00 75 77 64 21:00 69 72 60 22:00 54 61 53 23:00 47 44 47 24;00 47 43 43 1:00 45 40 39 2:00 38 36 35 3:00 37 32 31 4:00 36 30 27 5:00 35 28 26 6:00 33 27 25 7:00 30 26 24 8:00 29 25 23 9:00 28 24 22

Adapun data relatif humidity dalam desikator pada malam hari yang direkam menggunakan alat Hygrometer dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel LA.12 Data Relative Humidity (RH) pada malam hari pada kondisi cuaca panas Terik

Waktu RH, (%) 2 4 6 19:00 75 80 83 20:00 69 70 75 21:00 66 68 71 22:00 60 63 64 23:00 57 59 62 24;00 53 56 59 1:00 48 50 55 2:00 45 47 49 3:00 41 42 44 4:00 35 33 36 5:00 32 31 34 6:00 29 31 33 7:00 25 27 28 8:00 25 27 25 9:00 25 27 28

LAMPIRAN B

CONTOH PERHITUNGAN

LB.1 PERHITUNGAN KADAR AIR Kadar air =

x 100%

LB.1.1 Perhitungan Kadar Air Untuk Sampel Pada Variasi Kondisi Cuaca Mendung dan ketebalan 2 mm

Berat Awal = 100 gram Berat kering = 1,214 gram

Kadar air =

x 100%

= ( )

x 100%

= 87,86%

LB.2 PERHITUNGAN MOISTURE CONTENT (MC)

Keterangan : M = Moisture Content M0 = Berat bahan awal (gr) Mk = Berat kering bahan (gr)

LB.2.1 Perhitungan Moisture Content (MC) Untuk Sampel Pada Variasi Kondisi Cuaca Mendung dan Perbandingan silika Gel 1:3

M0 = 0,100 kg Mk = 0,01032 kg

( ) ( )

= 8,68%

LB.3 PERHITUNGAN LAJU PENGERINGAN Laju Pengeringan dihitung dengan persamaan :

=

Keterangan, Dm/dt = drying rate / Laju Pengeringan (kg H2O/kg dm.dt)

= t = selang waktu (menit)

LB.3.1 Perhitungan Laju Pengeringan Untuk Sampel pada Variasi Kondisi Cuaca Mendung dan ketebalan 2 mm pada t =30 menit

t = 30 menit m1 = 100 gr m2 = 94,98gr

( ) (( ) )

= 0,0062 gr/cm2.jam

Untuk perhitungan yang lainnya analog seperti perhitungan diatas

LAMPIRAN C

DOKUMENTASI PENELITIAN

LC.1 FOTO PROSES PENGERINGAN JAHE PADA SIANG HARI

(a) (b)

(c)

Gambar LC.1 Foto Proses Pengeringan Jahe Pada Siang Hari (A) Kondisi Cuaca Mendung (B) Kondisi Cuaca Panas Biasa (C) Kondisi Cuaca Panas Terik

A

LC.2 FOTO PROSES PENGERINGAN JAHE PADA MALAM HARI MENGGUNAKAN DESIKATOR

Gambar LC.2 Foto Proses Pengeringan Jahe Pada Malam Hari Menggunakan Desikator

LC.3 FOTO JAHE SETELAH PENGERINGAN

Gambar LC.3 Foto Jahe Setelah Pengeringan

LC 4 FOTO JAHE HASIL PENGERINGAN YANG AKAN DIANALISA KE BARSITAN

Gambar LC4 Foto Hasil Pengeringan