• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kombinasi Sistem Pengeringan Konvensional Dan Sistem Pengeringan

4.1.1. b Perubahan Relative Humidity (RH) Terhadap Waktu

Sistem pengering desikan berlangsung pada pukul 18:00-10:00.

Gambar 4.2 menunjukkan perubahan nilai relative humidity terhadap waktu pengeringan pada malam hari dengan perbedaan jumlah bahan-desikan (silika gel) 1:3

29

Gambar 4.2 Hubungan Kelembaban Udara Terhadap Waktu Pengeringan dengan Variasi Ukuran Bahan Menggunakan Pengeringan Desikan pada Malam Hari

Pada gambar 4.2 menunjukkan bahwa relative humidity (RH) pada setiap ukuran ketebalan bahan mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu.

Penurunan RH mulai melambat pada pukul 4.00. Penurunan RH terjadi cukup signifikan pada awal pengeringan sampai pukul 04:00, namun setelah itu penurunan Relative Humidity semakin kecil hal ini disebabkan kemampuan penyerapan uap air oleh desikan (silika gel) semakin menurun dan desikan mengalami penjenuhan.

Desikan (silika gel) mampu menurunkan Relative Humidity (RH) di dalam desikator dan begitu juga dengan kemampuan penyerapan desikan (silika gel) semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu. Menurut percobaan yang dilakukan siti, dkk (2011) dan Mitsuhiro, dkk (2013) sesuai: Penurunan Relative Humidity menunjukkan bahwa terjadi penyerapan uap air dari udara oleh desikan dan menyebabkan kemampuan penyerapan desikan menurun karena desikan mulai jenuh.

Gambar 4.2 juga menunjukkan bahwa ketebalan bahan berpengaruh terhadap perubahan Relative Humidity. Pada ketebalan bahan 2 mm Relative Humidity mampu turun dari 81% menjadi 25%, pada ketebalan bahan baku 4 mm Relative Humidity turun dari 83% menjadi 27% dan pada ketebalan bahan baku 6 mm Relative Humidity turun dari 82% menjadi 29%.

0%

19:00 20:00 21:00 22:00 23:00 24;00 1:00 2:00 3:00 4:00 5:00 6:00 7:00 8:00 9:00

Relative Humidity (%)

Waktu (Jam)

2 mm 4 mm 6 mm

0

9:00 9:30 10:00 10:30 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00 9:00 10:00 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00

Moisture Content Ternormal

Waktu (Jam)

2 mm 4 mm 6 mm 4.1.2.a Penurunan Moisture Content (MC) Terhadap Waktu Pengeringan

dengan Variasi Ukuran Bahan pada Kondisi Panas Biasa

Penelitian ini dimulai pada pukul 09.00 hingga 18.00 untuk sistem pengeringan konvensional (siang hari) dan dilanjutkan pengeringan desikan (malam hari) dimulai dari pukul 18.00 hingga 09.00. Apabila Moisture Content bahan yang dikeringkan belum mengalami kesetimbangan pada hari pertama maka akan dilanjutkan pada hari berikutnya. Gambar 4.3 menunjukkan penurunan moisture content terhadap waktu pengeringan pada hari pertama dan hari kedua menggunakan sistem pengering konvensional pada kondisi panas biasa, serta pada malam hari menggunakan sistem pengering desikan dengan perbandingan bahan baku dan desikan 1:3.

Gambar 4.3 Hubungan Moisture Content Ternormal Terhadap Waktu Pengeringan pada Kondisi Panas Biasa (siang hari) dan Rasio Bahan dengan Desikan 1:3 (malam hari) dengan Ukuran Bahan 2, 4 dan 6 mm

Gambar 4.3 menunjukkan Proses pengeringan pada cuaca panas biasa dengan variasi ketebalan bahan 2 mm, 4 mm dan 6 mm. Moisture Content mengalami penurunan yang cukup signifikan. Proses pengeringan menunjukkan penurunan Moisture Content pada awal proses pengeringan relatif cepat hal ini disebabkan karena air yang menguap adalah air bebas yang terdapat di permukaan bahan kemudian Moisture Content menurun lebih lambat hingga mencapai kesetimbangan.

31

Gambar 4.3 menunjukkan pada kondisi panas biasa pada hari pertama proses pengeringan Moisture Content mengalami penurunan dari 7,60 gr/gr (66%) menjadi 1,65 gr/gr (14,49%) untuk ketebalan bahan 2 mm, dan pada ketebalan bahan 4 mm Moisture Content mengalami penurunan dari 8,38 gr/gr (73%) menjadi 2,68 gr/gr (23,96%), untuk ketebalan 6 mm penurunan Moisture Content dari 7,68 gr/gr (67,47%) menjadi 3,02 gr/gr (26,53%). Pada hari pertama, kadar air jahe belum mencapai kesetimbangan sehingga perlu dilanjutkan dengan pengeringan desikan pada malam hari dengan cara memasukkan bahan kedalam desikator agar kandungan air bahan tidak meningkat pada malam hari. Penurunan Moisture Content untuk ketebalan bahan 2 mm dari 1,65 gr/gr (14,49%) menjadi 1,34 gr/gr (11,1, dan pada ketebalan 4 mm penurunan Moisture Content dari 2,68 gr/gr (23,96%) menjadi 2,0 gr/gr (17%), untuk ketebalan 6 mm mengalami penurunan Moisture Content dari 3,02 gr/gr (26,53%) menjadi 2,4 gr/gr (21,0%). Karena moisture content belum mencapai kesetimbangan maka pengeringan dilanjutkan dengan pengeringan konvensional pada hari kedua, untuk ketebalan bahan 2 mm Moisture Content mencapai kesetimbangan sebesar 0,14 gr/gr (1,23%), dan pada ketebalan 4 Moisture Content mencapai kesetimbangan sebesar 0,15 gr/gr (1,31%), dan pada ketebalan 6 mm Moisture Content mencapai kesetimbangan sebesar 0,16 gr/gr (1,4%). %). Pada hari ke 1 proses pengeringan berlangsung selama 9 jam dengan sistem pengeringan konvensional, kemudian dilanjutkan menggunakan sistem pengeringan desikan (malam hari) selama 15 jam dan pada hari ke 2 pengeringan dengan sistem pengeringan konvensional sampai moisture content mencapai kesetimbangan. Proses pengeringan pada hari ke 2 berlangsung selama 5 jam untuk ketebalan bahan 2 mm, kemudian 6 jam untuk ketebalan bahan 4 mm dan 7 jam untuk ketebalan bahan 6 mm.

4.1.2.b Perubahan Relative Humidity (RH) Terhadap Waktu Pengeringan dengan Rasio Bahan-Desikan 1:3 dan Variasi Ukuran Bahan

Sistem pengering desikan berlangsung pada pukul 18:00-10:00. Gambar 4.4 menunjukkan perubahan nilai relative humidity terhadap waktu pengeringan pada malam hari dengan perbedaan jumlah bahan-desikan (silika gel) 1:3.

0%

19:00 20:00 21:00 22:00 23:00 24;00 1:00 2:00 3:00 4:00 5:00 6:00 7:00 8:00 9:00

Relative Humidity (%)

Waktu (Jam)

2 mm 4 mm 6 mm

Gambar 4.4 Hubungan Kelembaban Udara Terhadap Waktu Pengeringan dengan Variasi Ukuran Bahan Menggunakan Pengeringan Desikan pada Malam Hari

Pada gambar 4.4 menunjukkan bahwa relative humidity (RH) pada setiap ukuran ketebalan bahan mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu.

Penurunan RH mulai melambat terjadi pada pukul 7.30. Penurunan RH terjadi cukup signifikan diawal pengering desikan hingga pada pukul 7:30, namun setelah itu penurunan Relative Humidity semakin kecil hal itu disebabkan kemampuan penyerapan uap air oleh desikan (silika gel) semakin menurun dan mengalami penjenuhan. Desikan (silika gel) mampu menurunkan Relative Humidity (RH) di dalam desikator dan begitu juga dengan kemampuan penyerapan desikan (silika gel) semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu.

Gambar 4.4 juga menunjukkan bahwa ketebalan bahan baku berpengaruh terhadap perubahan Relative Humidity. Pada ketebalan bahan baku 2 mm Relative Humidity mampu turun dari 80% menjadi 24%, pada ketebalan bahan baku 4 mm Relative Humidity turun dari 81% menjadi 25% dan pada ketebalan bahan baku 6 mm Relative Humidity turun dari 80% menjadi 26%.

33

9:00 9:30 10:00 10:30 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00 9:00 10:00 11:00 12:00 13:00 14:00

Moisture Content Ternormal

Waktu (Jam)

2 mm 4 mm 6 mm 4.1.3.a Penurunan Moisture Content (MC) Terhadap Waktu Pengeringan

dengan Variasi Ukuran Bahan pada Kondisi Panas Terik

Penelitian ini dimulai pada pukul 09.00 hingga 18.00 untuk sistem pengeringan konvensional (siang hari) dan dilanjutkan pengeringan desikan (malam hari) dimulai dari pukul 18.00 hingga 09.00. Apabila Moisture Content bahan yang dikeringkan belum mengalami kesetimbangan pada hari pertama maka akan dilanjutkan pada hari berikutnya. Gambar 4.5 menunjukkan penurunan Moisture Content terhadap waktu pengeringan pada hari pertama dan hari kedua menggunakan sistem pengering konvensional pada kondisi panas terik, serta pada malam hari menggunakan sistem pengering desikan dengan perbandingan bahan baku dan desikan 1:3.

Gambar 4.5 Hubungan Moisture Content Ternormal Terhadap Waktu Pengeringan pada Kondisi Panas Terik (siang hari) dan Rasio Bahan dengan Desikan 1:3 (malam hari) dengan Ukuran Bahan 2, 4 dan 6 mm

Gambar 4.5 menunjukan proses pengeringan pada kondisi panas Terik dengan variasi ketebalan 2 mm, 4 mm dan 6 mm. Moisture Content (MC) mengalami penurunan yang cukup signifikan. Proses pengeringan menunjukkan penurunan kadar air relatif lebih cepat dan dalam jumlah yang besar, dikarenakan air yang menguap adalah air yang terdapat dipermukaan bahan sehingga dapat dengan cepat menguap. Dan kadar air perlahan-lahan menurun hingga mencapai kadar air kesetimbangan. Pada hari pertama proses pengeringan kadar air jahe belum mencapai kesetimbangan sehingga perlu di lanjutkan menggunakan sistem pengering desikan

dengan cara memasukkan jahe yang dikeringkan pada siang hari kedalam desikator agar kandungan air jahe tidak meningkat pada malam hari dengan bantuan desikan.

Gambar 4.5 menunjukkan pada kondisi panas terik pada hari pertama proses pengeringan Moisture Content mengalami penurunan dari 10,72 gr/gr (94%) menjadi 0,18 gr/gr (1,49%) pada ketebalan bahan 2 mm, dan pada ketebalan 4 mm Moisture Content mengalami penurunan dari 10,22 gr/gr (89%) menjadi 1,31 gr/gr (11,5%) pada ketebalan 6 mm mengalami penurunan Moisture Content dari 10,00 gr/gr (87,86%) menjadi 2,46 gr/gr (21,61%). Kemudian dilanjutkan dengan pengeringan menggunakan desikan pada malam hari, moisture content mengalami penurunan dari 0,18 gr/gr (1,49%) menjadi 0,14 gr/gr (1,23%) pada ketebalan bahan 2 mm, dan pada ketebalan 4 mm penurunan Moisture Content dari 1,31 gr/gr (11,5%) menjadi 1,0 gr/gr (8%) dan pada ketebalan 6 mm mengalami penurunan Moisture Content dari 2,46 gr/gr (21,61%) menjadi 1,98 gr/gr (17,39%). Karena moisture content belum mencapai kesetimbangan maka pengeringan dilanjutkan menggunakan pengeringan konvensional dihari kedua, diperoleh moisture content mencapai kesetimbangan sebesar 0,10 gr/gr (1,1%) pada ukuran bahan 2 mm, pada ketebalan 4 mm Moisture Content mencapai kesetimbangan sebesar 0,33 gr/gr (2,89%), dan pada ketebalan 6 mm Moisture Content mencapai kesetimbangan sebesar 0,33 gr/gr (2,89%). Pada hari ke 1 proses pengeringan berlangsung selama 9 jam dengan sistem pengeringan konvensional, kemudian pengeringan dilakukan dengan sistem pengeringan desikan (malam hari) selama 15 jam dan dilanjutkan pengeringan pada hari ke 2 dengan sistem pengeringan konvensional sampai moisture content mencapai kesetimbangan. Proses pengeringan berlangsung selama 5 jam untuk ketebalan 6 mm, kemudian 4 jam untuk ketebalan bahan 4 mm dan 3 jam untuk ketebalan bahan 2 mm.

4.1.3.b Perubahan Relative Humidity (RH) Terhadap Waktu Pengeringan dengan Rasio Bahan-Desikan 1:3 dan Variasi Ukuran Bahan

Sistem pengering desikan berlangsung pada pukul 18:00-10:00. Gambar 4.6 menunjukkan perubahan nilai relative humidity terhadap waktu pengeringan pada malam hari dengan perbedaan jumlah bahan-desikan (silika gel) 1:3.

35

19:00 20:00 21:00 22:00 23:00 24;00 1:00 2:00 3:00 4:00 5:00 6:00 7:00 8:00 9:00

Relative Humidity (%)

Waktu (Jam)

2 mm 4 mm 6 mm

Gambar 4.6 Hubungan Kelembaban Udara Terhadap Waktu Pengeringan dengan Variasi Ukuran Bahan Menggunakan Pengeringan Desikan pada Malam Hari

Pada gambar 4.6 menunjukkan bahwa relative humidity (RH) pada setiap ukuran ketebalan bahan mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu.

Penurunan RH mulai melambat terjadi pada pukul 7.00 untuk ketebalan 2 mm dan 4 mm sedangkan pada ketebalan 6 mm Relative Humidity melambat pada pukul 8 kemudian meningkat pada jam selanjutnya. Hal ini disebabkan terbukanya desikator pada pagi hari sehingga membuat RH meningkat. Penurunan RH terjadi cukup signifikan diawal pengering kemudian penurunan Relative Humidity semakin menurun hal itu disebabkan kemampuan penyerapan uap air oleh desikan (silika gel) semakin menurun dan mengalami penjenuhan. Desikan (silika gel) mampu menurunkan Relative Humidity (RH) di dalam desikator dan begitu juga dengan kemampuan penyerapan desikan (silika gel) semakin menurun seiring dengan makin bertambahnya waktu.

Gambar 4.6 juga menunjukkan bahwa ketebalan bahan baku berpengaruh terhadap perubahan Relative Humidity. Pada ketebalan bahan baku 2 mm Relative Humidity turun dari 75% menjadi 25%, pada ketebalan bahan baku 4 mm Relative Humidity turun dari 80% menjadi 27% dan pada ketebalan bahan baku 6 mm Relative Humidity turun dari 83% menjadi 28%.

0

9:00 9:30 10:00 10:30 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00

Laju Pengeringan (gr/m2.jam)

Laju pengeringan dipengaruhi oleh kondisi cuaca, dimana kondisi cuaca mempengaruhi laju penurunan kadar air selama proses pengeringan. Semakin besar ukuran bahan menyebabkan laju pengeringan untuk mencapai setimbang lebih lama.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pengeringan jahe diperoleh hubungan laju pengeringan terhadap waktu pengeringan pada kondisi cuaca mendung seperti pada gambar 4.7.

Gambar 4.7 Hubungan Laju Pengeringan Terhadap Waktu dengan Variasi Ukuran Bahan pada Cuaca Mendung

Gambar 4.7 menunjukkan bahwa hubungan laju pengeringan terhadap waktu dengan variasi ukuran bahan mengalami fluktuasi selama proses pengeringan.

Pada kondisi cuaca mendung pada awal laju pengeringan cenderung lebih besar dikarenakan air bebas cendrung lebih mudah menguap selama periode awal pengeringan. Adapun pada tiap ketebalan membuat air bebas sulit menguap dari permukaan bahan dikarenakan air terikat yang sulit naik kepermukaan bahan sehingga membuat laju pengeringan menjadi kecil. menurut penelitian studi laju

37

pengeringan dan karakteristik fisik ubi kayu dan ubi jalar oleh Adhit dan Vita (2017) sesuai, dimana laju pengeringan akan meningkat sejalan dengan peningkatan temperatur begitu juga sebaliknya laju pengeringan akan menurun akibat menurunnya temperatur.

Laju pengeringan tertinggi pada kondisi cuaca mendung berlangsung pada jam kedua sebesar 0,00956 gr/m2.jam untuk ketebalan bahan 2 mm, 0,00889 gr/m2.jam pada ketebalan bahan 4, dan 0,00789 gr/m2.jam pada ketebalan bahan 6 mm.

4.2.2 Laju Pengeringan Jahe dengan Variasi Ukuran Bahan pada Kondisi Cuaca Panas Biasa

Laju pengeringan dipengaruhi oleh kondisi cuaca, dimana kondisi cuaca mempengaruhi laju penurunan kadar air selama proses pengeringan. Semakin besar ukuran bahan menyebabkan laju pengeringan untuk mencapai setimbang lebih lama.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pengeringan jahe diperoleh hubungan laju pengeringan terhadap waktu pengeringan pada kondisi cuaca mendung seperti pada gambar 4.8.

0

9:00 9:30 10:00 10:30 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00

Laju Pengeringan (gr/m2.jam)

Waktu (Jam)

2 mm 4 mm 6 mm

Gambar 4.8 Hubungan Laju Pengeringan Terhadap Waktu dengan Variasi Ukuran Bahan pada Panas Biasa

Gambar 4.8 menunjukkan bahwa laju pengeringan terlihat fluktuatif selama periode proses pengeringan namun cenderung terus mengalami penurunan.

Hal tersebut terjadi sebab selama proses pengeringan, selain adanya air bebas yang cenderung lebih mudah menguap selama periode awal pengeringan, ada pula air terikat yaitu air yang sulit untuk bergerak naik ke permukaan bahan selama pengeringan sehingga laju penguapan air semakin lama semakin menurun (Manuhara, 2015).

Laju pengeringan tertinggi pada kondisi cuaca panas biasa berlangsung pada jam kedua sebesar 0,01123 gr/m2.jam untuk ketebalan bahan 2 mm, 0,0099 gr/m2.jam pada ketebalan bahan 4 mm dan 0,00756 gr/m2.jam pada ketebalan bahan 6 mm.

4.2.3 Laju Pengeringan Jahe dengan Variasi Ukuran Bahan pada Kondisi Cuaca Panas Terik

Laju pengeringan dipengaruhi oleh kondisi cuaca, dimana kondisi cuaca mempengaruhi laju penurunan kadar air selama proses pengeringan. Semakin besar ukuran bahan menyebabkan laju pengeringan untuk mencapai setimbang lebih lama.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pengeringan jahe diperoleh

39

9:00 9:30 10:00 10:30 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00

Laju Pengeringan (gr/m2.jam)

Waktu (Jam)

2 mm 4 mm 6 mm hubungan laju pengeringan terhadap waktu pengeringan pada kondisi cuaca mendung seperti pada gambar 4.9.

Gambar 4.9 Hubungan Laju Pengeringan Terhadap Waktu dengan Variasi Ukuran Bahan pada Kondisi Cuaca Panas Terik

Gambar 4.9 Menunjukkan bahwa hubungan laju pengeringan terhadap waktu dengan variasi ukuran bahan mengalami fluktuasi. Penurunan laju pengeringan pada akhir proses pengeringan juga disebabkan oleh semakin sedikitnya kandungan air yang tersisa pada bahan. Pada ketebalan bahan 2 mm laju pengeringan meningkat sangat signifikan hal ini dipengaruhi oleh uap air yang menguap dari bahan adalah air bebas lebih cepat keluar dikarenakan ukuran yg lebih tipis namun pada ketebalan bahan 6 mm laju pengeringan cenderung lebih lambat hal ini dikarenakan air bebas sulit untuk keluar dikarenakan ukuran bahan yg lebih tebal sehingga menyebabkan air bebas lebih lama keluar dari bahan sehingga membuat laju pengeringan lebih lambat. Pada pengeringan sore hari terjadi penurunan laju pengeringan, hal ini dikarenakan intensitas matahari semakin berkurang.

Laju pengeringan tertinggi pada kondisi panas terik pada pukul 9:30 sebesar 0,0119 gr/cm2.jam untuk ketebalan bahan 2 mm, 0,01106 gr/cm2.jam pada ketebalan bahan 4 mm, 0,0089 gr/cm2.jam pada ketebalan bahan 6 mm.

0 4.3 KARAKTERISTIK PENGERINGAN JAHE MENGGUNAKAN

PENGERING KOMBINASI KONVENSIONAL-DESIKAN

. Berikut adalah karakteristik pengeringan pada berbagai cuaca dengan variasi ukuran bahan yang digambarkan sebagai laju pengeringan terhadap Mositure Conten. Pada proses pengeringan ini diproleh plot data laju pengeringan dengan Moisture Content seperti gambar dibawah ini.

Gambar 4.10 Karakteristik Pengeringan Jahe pada Cuaca Mendung

Gambar 4.11 Karakteristik Pengeringan Jahe pada Cuaca Panas Biasa 0

41

Gambar 4.12 Karakteristik Pengeringan Jahe pada Cuaca Panas Terik

Berdasarkan gambar 4.10, 4.11 dan 4.12 menunjukkan karakteristik pengeringan pada setiap kondisi cuaca. Terdapat 2 periode laju pengeringan yakni periode laju pengeringan meningkat dan periode laju pengeringan menurun.

Berdasarkan penelitian terdahulu terdapat 3 periode pengeringan yakni periode pengeringan meningkat, periode pengeringan menurun dan periode pengeringan konstan. Periode meningkat adalah laju pengeringan seiring berkurangnya air pada bahan, periode menurun adalah laju air yang berdifusi kepermukaan lebih kecil dari jumlah air yang menguap sedangkan periode konstan adalah laju air yang berdifusi kepermukaan adalah sebanding dengan air yang menguap (Ika. dkk, 2016). Dan hasil dari penelitian ini, hanya terdapat 2 periode laju pengeringan saja sedangkan periode laju pengeringan konstan tidak terlihat.

4.4 Analisa Kualitas Jahe

Analisa kualitas jahe kering yang dilakukan berupa bau dan rasa, kadar air, kadar abu, kadar polifenol dan benda asing. Kadar air merupakan parameter yang digunakan untuk menentukan jumlah kadar air dalam suatu bahan (Mohanti dan Akbari, 2017). Sehingga berkurangnya kadar air bahan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap tekstur, cita rasa, nilai gizi bahan pangan, dan

terutama aktivitas mikroorganisme (Rayaguru dan Routray, 2012). Kadar abu merupakan parameter yang digunakan untuk menentukan mineral yang terkandung dalam suatu bahan (Abano dan Ernest, 2016).

Data hasil uji kualitas jahe kering menggunakan pengering kombinasi sistem pengeringan konvensional dan desikan dengan variasi ketebalan bahan dan kondisi panas terik seperti yang ditunjukan pada tabel. Jahe kering memiliki warna, bau dan rasa khas jahe segar dan tidak terdapat jamur pada jahe kering. Data yang diperoleh pada variasi ukuran bahan 2 mm, 4 mm dan 6 mm kadar air berkisar 9,87%, 10,75%, dan 11,87 % untuk kadar abu total berkisar 3,17% , 4,72% dan 4,83%, dan untuk kadar minyak atsiri total berkisar 1,87 mL/100gr, 2,03 mL/100gr, dan 2,16 mL/100gr. Kadar abu menyatakan kandungan mineral yang terdapat pada bahan. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kandungan minyak yang dihasilkan oleh tiap ketebalan bahan berbeda-beda dimana pada ketebalan bahan 2 mm mengandung lebih sedikit minyak dibanding ketebalan bahan 4 mm dan 6 mm. Dari penelitian yang dilakukan dapat dilihat bahwa kadar minyak atsiri yang dihasilkan menggunakan pengering kombinasi sistem pengering konvensional desikan lebih banyak dari SNI. Akan tetapi pengeringan dengan sistem konvensional masih memiliki benda asing yang terbawa, ini dikarenakan proses pengeringan dilakukan secara terbuka yang membuat benda asing seperti kotoran, debu dan pasir menempel pada bahan yang membuat hasil uji benda asing belum mencapai standard SNI.

Untuk kadar abu dan kadar air yang didapat sudah sesuai dengan SNI dimana kadar air dan kadar abu yang terkandung dalam bahan lebih kecil dari SNI.

43

Tabel 4.1 Hasil Uji Rimpang Jahe kering pada kondisi Panas Terik Dari Laboratorium Badan Standarisasi Mutu Barang Medan

Jenis Uji Satuan Hasil Uji SNI Keterangan

2 mm 4 mm 6 mm

Bau dan Rasa - Khas Jahe Khas Jahe Khas Jahe Normal/khas Memenuhi Syarat

Kadar Air. (b/b) % 9,87 10,75 11,87 12,0 Memenuhi Syarat

Kadar Minyak Atsiri mL/100gr 1,87 2,03 2,16 1,5 Memenuhi Syarat

Kadar Abu % 3,17 4,72 4,83 8,0 Memenuhi Syarat

Benda Asing % 0,10 0,11 0,10 Tidak Ada Tidak Memenuhi Syarat

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

1. Diperoleh jahe kering dengan kadar air sebagai berikut: 9,87% untuk ketabalan 2 mm, 10,75% untuk ketebaln 4 mm dan 11,87% untuk ketebalan 6 mm pada kondisi cuaca terbaik yaitu kondisi cuaca panas terik.

2. Cuaca berpengaruh terhadap laju pengeringan, diperoleh laju pengeringan tertinggi pada masing-masing kondisi cuaca sebagai berikut: 0,00956 gr/m2.jam untuk kondisi cuaca mendung, 0,01123 gr/m2.jam untuk kondisi cuaca panas biasa dan 0,0119 gr/m2.jam untuk kondisi cuaca panas terik.

3. Ukuran bahan mempengaruhi laju pengeringan, diperoleh laju pengeringan tertinggi pada ukuran bahan 2 mm 0,0119 gr/m2.jam.

4. Ukuran bahan mempengaruhi kualitas jahe kering, diperoleh kadar minyak atsiri untuk jahe kering pada kondisi cuaca panas terik dengan ketebalan 2 mm sebesar 1,87 ml/100gr, pada ketebalan 4 mm sebesar 2,03 ml/100gr dan pada ketebalan 6 mm sebesar 2,16 ml/100gr. Dari hasil analisa mutu jahe hasilnya, semakin tebal bahan baku maka kadar minyak atsirinya semakin banyak.

45 5.2 SARAN

1. Diharapkan penelitian selanjutnya untuk memperhatikan ukuran ketebalan bahan sesuai dengan variasi yang akan dilakukan.

2. Diharapkan penelitian selanjutnya untuk memperhatikan variasi kondisi cuaca agar tidak terbasahi oleh air hujan pada cuaca mendung.

3. Untuk kedepannya supaya dilakukan perbandingan konvesional-desikan dan kombinasi surya-desikan untuk dapat menentukan lama waktu pengeringan tercepat.

DAFTAR PUSTAKA

Adhit Mardita Yando dan Vita Paramita. 2017. Studi Pengaruh Suhu dan Ketebalan Irisan Terhadap Kadar Air, Laju Pengeringan dan Karakteristik Fisik Ubi Kayu dan Ubi Jalar. Semarang: Universitas Diponegoro

Hasibuan, Rosdanelli, Bambang Trisakti dan Netti Herlina. 2009. Karakteristik Alat Pengering Kombinasi Energi Surya dan Tapis Molekular Untuk Energi Surya dan Tapis Molekular Untuk Pengeringan Bunga Rosela. Perpustakaan

Universitas Indonesia.

Hasibuan, Rosdanelli. 2017. Kajian Performansi Pengering Kombinasi Konveksi-Desikan Pada Pengeringan Daun Gambir. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Hanief Sidga. 2013. Efektivitas Ekstrak Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococus Viridans. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Hortikultura. 2016. Badan Pusat Statistika Indonesia

Ika Permatasari, Laela Kharunnisa Eguenia, Suherman. 2016. Pengaruh Initial Moisture Content dan Massa Tepung pada Proses Pengeringan Tepung Tapioka Menggunakan Pengering Unggun Fluidisasi. Semarang: Universitas Diponegoro.

Ivan, A. G. Aulia, R.M. Siswo,S. 2013. Pengeringan Gabah dengan Menggunakan pengering Resirkulasi Kontinyu Tipe Konveyor Pneumatik. (on line), Vol. 2, No. 3

Kusumaningrum, dkk 2015. Kualitas Simplisia Tanaman Biofarmaka Curcuma Domestica Setelah Proses Pemanasan Pada Suhu dan Waktu Bervariasi : Universitas Diponogoro

Liani, Happy. 2016. Pengaruh Ketebalan Bahan Terhadap Kinetika Pengeringan Kentang (Solanum Tuberosum L.) Menggunakan Pengering Surya Metode Tidak Langsung (Indirect Solar Dryer) dan Penjemuran Langsung (Open Sun Drying). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Marbun, Ivo Dian. 2018. Efektivitas Jenis Desikan dan Kecepatan Udara Terhadap Penyerapan Uap Air di Udara. Medan: Universitas Sumatera UtaraMc.Cabe, Warren L. 2002.Unit Operation of Chemical Engineering.Edition 4th.Mc.

Grow Hill International Book Co : Singapore

Mitsuhiro Subota, Takuya Hanada, Satoshi Yabe, Hitoki Matsuda. 2013.

Regeneration Characteristics of Desiccant Rotor with Microwave and Hot Air Heating. Energies 2017, 10, 1335; doi:10.3390/en10091335

Misha, S., Mat, S., Ruslan,M.H., Sopian, K., 2014. Performance of a solar assisted solid desiccant dryer for kenaf core fiber drying under low solar radiation.

Solar Energy 112 (2015), 194–204.

Muhammad, Yahya. 2015. Kajian Karakteristik Pengering Fluidisasi Terintegrasi Dengan Tungku Biomassa untuk Pengeringan Padi. Institut Teknologi Padang.

Mujumdar, Arun S., Ching Lik Hii, Sachin V. Jangam, Sze Pheng Ong 2012.

Mulyani Hesti, Sri Harti Widyastuti, dan Venny Indria Ekowati. Tumbuhan Herbal Sebagai Jamu Pengobatan Tradisional Terhadap Penyakit dalam Serat Primbon Jampi Jawi Jilid 1. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Pairul, Piesta Prima Beta, Susianti, Sahrul Hamidi Nasution. Jahe (Zingiber

Mulyani Hesti, Sri Harti Widyastuti, dan Venny Indria Ekowati. Tumbuhan Herbal Sebagai Jamu Pengobatan Tradisional Terhadap Penyakit dalam Serat Primbon Jampi Jawi Jilid 1. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Pairul, Piesta Prima Beta, Susianti, Sahrul Hamidi Nasution. Jahe (Zingiber