• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa dan Pembahasan

Dalam dokumen 4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 25-28)

4.3.1 Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai

Untuk melihat apakah perhitungan Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan perusahaan sudah benar atau belum ada beberapa hal yang harus dilihat:

• Harga Jual Eceran (HJE): untuk perhitungan Harga Jual Eceran yang dilakukan perusahaan sudah benar. Bukti penghitungan yang dilakukan perusahaan sudah benar bisa dilihat pada tabel 4.1 pada kolom HJE. Dasar Hukum untuk HJE adalah KMK 62/02 tentang Penerapan tarif Cukai dan Harga Dasar Hasil Tembakau.

• Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai untuk pita cukai pada bulan Juni 2003 sudah benar. Buktinya bisa dilihat pada tabel 4.1 pada kolom PPN dibayarkan bahwa penghitungan perusahaan sudah benar. Dasar hukum untuk tarif PPN adalah Kepmen No.62/KMK.03/2002 mengenai “Dasar Penghitungan Pemungutan, dan Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Hasil Tembakau sebesar tarif efektif 8,4% sementara dasar hukum untuk penghitungan PPN adalah KMK 62/02.

• Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai untuk Pajak Masukan di SPT Masa PPN sudah benar. Buktinya bisa dilihat pada tabel 4.2 yakni angka-angka untuk penghitungan Pajak Masukan yang bisa dikreditkan sesuai dengan angka-angka yang tertera pada SPT Masa PPN bulan Juni 2003.

• Dalam hal penghitungan untuk kompensasi PPN perusahaan juga telah melakukan perhitungannya dengan benar. Buktinya bisa dilihat pada halaman 75 SSCP. Dasar Hukumnya adalah Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-103/PJ/2002 Pasal 3 ayat (4) mengenai Kompensasi Kelebihan Pembayaran Pajak Masukan pada Masa Pajak Sebelumnya dikatakan bahwa untuk menetapkan jumlah PPN yang dibayar, Pengusaha Pabrik Tembakau dapat memperhitungkan kelebihan Pajak Masukan yang diperhitungkan di SPT Masa PPN dari Masa Pajak sebelumnya sebelum masa dilakukan penebusan pita cukai.

Berdasarkan point-point yang ada di atas dapat dikatakan bahwa perhitungan Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan perusahaan adalah benar.

4.3.2 Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai

Untuk melihat apakah penyetoran Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan perusahaan sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku atau belum maka ada 2 hal yang harus dilakukan, yakni:

• Pengisian penghitungan yang dilakukan perusahaan pada bulan Juni 2003 di lembar SSCP sudah benar. Hal ini bisa dilihat pada halaman 74-76.

• Perusahaan melakukan penyetoran pada tanggal 19 Juni 2003 (sementara tanggal pemesanannya adalah tanggal 20 Maret 2003), di sini bisa dilihat bahwa perusahaan telah menyetorkan pajaknya tepat waktu, bisa dilihat pada halaman 74 SSCP pada bagian tanggal penyetoran. Berdasarkan Tatalaksana dan Prosedur Pengenaan Cukai atas Barang Kena Cukai dikatakan bahwa

“Pengusaha Pabrik/ importir BKC diberikan penundaan pembayaran selama-lamanya 3 bulan sejak tanggal pendaftaran CK-1”.

Berdasarkan kedua point yang ada di atas maka dapat dikatakan bahwa penyetoran yang dilakukan perusahaan adalah benar.

4.3.3 Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai

Untuk melihat apakah pelaporan PPN yang telah dilakukan oleh perusahaan telah benar atau tidak maka yang harus dilakukan adalah:

• Pengisian SPT Masa PPN yang dilakukan oleh perusahaan telah benar dan telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dasar Hukumnya adalah Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-42/PJ.5/1995 yang menyatakan bahwa untuk penghitungan jumlah PPN digunakan Formulir 1195. Bukti pengisian SPT Masa PPN Juni yang telah dilakukan oleh perusahaan bisa dilihat pada halaman 63-73.

• Perusahaan melaporkan PPN-nya tapat waktu yakni pada tanggal 18 Juli 2003. Berdasarkan KMK 563/03 dikatakan bahwa “Bendahara Pemerintah (Pusat dan Daerah) baik propinsi maupun kabupaten atau kota yang melakukan pembayaran melalui kantor bendaharawan kas Negara wajib melaporkan PPN dan PPnBM yang dipungut dan disetor ke Kantor Pelayanan Pajak dan kantor bendaharawan dan kas Negara setempat paling lambat 20 hari setelah berakhirnya bulan dilakukan pembayaran tagihan

Berdasarkan point yang ada di atas maka perusahaan telah melakukan pelaporannya dengan benar dan tepat waktu.

4.3.4 Penghitungan Cukai Tembakau

Untuk melihat apakah perhitungan cukai yang dilakukan perusahaan sudah benar maka prosedur yang dilakukan untuk mengecek perhitungan cukai tembakau hampir sama dengan perhitungan untuk PPN, yakni:

• Perhitungan HJE-nya sudah benar sebagaimana perhitungan HJE pada PPN di atas

• Penghitungan Cukai untuk pita cukai pada bulan Juni 2003 sudah benar.

Buktinya bisa dilihat pada tabel 4.4 pada kolom cukai dibayar. Dasar Hukum untuk tarif cukai adalah Kepmen 89/KMK.05/2000 pasal 5 ayat 1 yang menyatakan bahwa “Tarif cukai masing-masing jenis hasil tembakau yang dibuat di dalam negeri ditetapkan berdasarkan golongan Pengusaha Pabrik dan Batasan HJE”. Sementara untuk penghitungan cukai dasar hukumnya adalah Kepmen 89/KMK.05/2000 pasal 2 ayat I yang menyatakan bahwa “Penghitungan cukai hasil tembakau yang harus dilunasi dilakukan berdasarkan hasil perkalian tarif cukai sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 dengan Harga Dasar.

Berdasarkan point yang ada di atas maka dapat dikatakan bahwa penghitungan cukai tembakau perusahaan benar adanya

4.3.5 Penyetoran Cukai Tembakau

Berdasarkan KMK 62/02 dikatakan bahwa “Dalam hal pembayaran cukai hasil tembakau lebih awal dari saat jatuh tempo baik sebagian maupun seluruhnya, bersamaan pula dilunasi jumnlah Pajak Pertambahan Nilai yang sebanding dengan cukai yang dibayar. Berdasarkan peraturan tersebut maka untuk melihat apakah penyetoran cukai tembakau yang dilakukan oleh perusahaan sudah benar atau belum prosedurnya sama dengan prosedur untuk penyetoran PPN di atas, yakni :

• Pengisian penghitungan yang dilakukan perusahaan pada bulan Juni 2003 di lembar SSCP sudah benar. Hal ini bisa dilihat pada halaman 74-76.

• Perusahaan melakukan penyetoran pada tanggal 19 Juni 2003 (sementara tanggal pemesanannya adalah tanggal 20 Maret 2003), di sini bisa dilihat bahwa perusahaan telah menyetorkan pajaknya tepat waktu, bisa dilihat pada halaman 74 SSCP pada bagian tanggal penyetoran. Berdasarkan Tatalaksana dan Prosedur Pengenaan Cukai atas Barang Kena Cukai dikatakan bahwa

“Pengusaha Pabrik/ importir BKC diberikan penundaan pembayaran selama-lamanya 3 bulan sejak tanggal pendaftaran CK-1”.

Berdasarkan kedua point yang ada di atas maka dapat dikatakan bahwa penyetoran yang dilakukan perusahaan adalah benar.

4.3.6 Pelaporan Cukai Tembakau

Perusahaan telah melaporkan cukainya tepat waktu yakni pada tanggal 18 Juli 2003. Berdasarkan KMK 563/03 dikatakan bahwa “Bendahara Pemerintah (Pusat dan Daerah) baik propinsi maupun kabupaten atau kota yang melakukan pembayaran melalui kantor bendaharawan kas Negara wajib melaporkan PPN dan PPnBM yang dipungut dan disetor ke Kantor Pelayanan Pajak dan kantor bendaharawan dan kas Negara setempat paling lambat 20 hari setelah berakhirnya bulan dilakukan pembayaran tagihan”.

Dalam dokumen 4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 25-28)

Dokumen terkait