Berdasarkan indikator fleksibilitas yang telah dibahas di bab II, pemilihan indikator ruang berdasarkan jenis ruang yang mewadahi aktivitas pengguna, yaitu:
· Ruang fix, adalah ruangan yang tidak dapat dirubah baik luasan, tinggi lantai, dan batasan ruang, fungsi ruang ini biasanya hanya satu jenis
Ruang pamer + hall
SE + R.parkir + droping area
Plaza + RTH
ME + jalur sirkulasi kendaraan Area kios, toko, stand,
perpustakaan, kafe, dll.
Ruang servis + karyawan + kantor Gbr. 5.14 Zonifikasi Vertikal
Sumber : dokumen pribadi 2013
commit to user
105
· Ruang non fix, adalah ruangan yang dapat dirubah luasan, tinggi lantai, batasan ruang, bukaan, tampilan bahkan furniture yang ada di dalam ruangan. Biasanya ruangan ini memiliki fungsi lebih dari satu.
Berikut adalah indikator fleksibilitas yang dapat diaplikasikan kedalam bangunan:
Gbr. 5.15 : indikator fleksibilitas ruang Sumber: www.ceps.eu
commit to user
106 1. Analisa bentuk ruang pamer berdasarkan aplikasi penekanan
fleksibilitas a. Segi empat
Bentuk segi empat merupakan bentuk yang stabil. Bila dibagi secara simetris dan tegak lurus bentuk pecahannya akan sama dengan bentuk dasarnaya, hanya luasannya yang berbeda. Bentuk ini paling memungkinkan memiliki sudut yang sama / tetap dengan sudut bentuk dasar pada setiap bentuk pecahannya
Selain itu bentuk segiempat mempunyai jumlah pembagi yang paling banyak dibanding bentuk lainnya. Sehingga lebih mudah untuk dirubah konfigurasinya.
Penataan perabot juga lebih mudah dan efisien tempat karena tidak banyak atau bahkan tidak ada sudut yang terbuang (semua sudut dapat terpakai).
b. Segi tiga
Bentuk segitiga merupakan bentuk yang kurang luwes. Sudut-sudut yang terbentuk (apalagi sudut tajam) sering menjadi ’dead area’
apabila tidak diolah secara benar.
Banyaknya sudut yang disfungsional membuat bentuk segitiga menjadi kurang efisien dalam sebuah ruang.
Gbr 5.16 : Analisa bentuk ruang pamer dengan bentuk dasar segi empat Sumber: dokumen pribadi 2013
commit to user
107 c. Lingkaran
Bentuk lingkaran adalah bentuk massa yang dinamis karena mempunyai pandangan ke segala arah. Namun, dalam tingkat pembagi tinggi akan membentuk sebuah sudut yang cukup tajam dan menjadi ’dead area’.
Lay out furnitur lebih susah karena bentuk furnitur harus menyesuaikan bentuk lengkung dan sudut yang ada sehingga kurang bisa mengandalkan stock dipasaran pada umumnya.
2. Fleksibilitas pada ruang pamer
Penekanan fleksibilitas yang diaplikasikan pada ruang pamer pada Pusat Buku di Surakarta ditinjau berdasarkan 3 hal, yaitu kapasitas, kualitas ruang, dan fungsi.
a. Fleksibilitas mengarah pada kapasitas ruang
Dalam hal ini fleksibitas berpengaruh terhadap besaran ruang.
Ruang dimungkinkan dapat berubah konfigurasi berdasarkan kapasitas yang akan ditampung hingga jumlah tertentu yang telah
Gbr 5.17 : Analisa bentuk ruang pamer dengan bentuk dasar segitiga Sumber: dokumen pribadi 2013
Gbr 5.18 : Analisa bentuk ruang pamer dengan bentuk dasar lingkaran Sumber: dokumen pribadi 2013
commit to user
108 ditentukan. Sehingga dimungkinkan pada satu ruang besar dapat tercipta beberapa ruang-ruang kecil sesuai dengan kebutuhan kapasitas yang akan diwadahi.
Fleksibilitas dalam hal ini sangat erat berkaitan dengan struktur bangunan baik struktur utama (rangka utama bangunan) maupun struktur pendukung (pembagi / pembatas ruang).
Berdasarkan ilustrasi di atas terdapat sebuah ruang besar yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian kecil sesuai kebutuhan
Gbr 5.19 : indikator fleksibilitas ruang mengarah pada kapasitas Sumber: www.ceps.eu
Gbr 5.20 : perubahan konfigurasi ruang pamer pada Pusat Buku di Surakarta karena perbedaan kapasitas yang diwadahi masing-masing event
Sumber : dokumen pribadi 2013
commit to user
109 kapasitas yang akan diwadahi. Pembagi ruang menggunakan dinding partisi yang ketika dibutuhkan ruang yang luas karena kapasitasnya yang besar partisi dilipat dan disimpan pada ruang penyimpanan yang telah disediakan dan ketika membutuhkan ruang yang lebih kecil karena kapasitasnya lebih sedikit partisi dapat ditarik sesuai dengan kebutuhan besaran ruang. Penggunaan partisi tersebut membentuk ruang pamer yang bersifat fleksibel atau mudah diubah konfigurasinya sesuai kapasitas yang ingin diwadahi.
b. Fleksibilitas mengarah pada kualitas ruang
Dengan penekanan fleksibilitas ini ruang dapat diatur secara desain enclosure nya. Seperti ruang dapat didesain terbuka / tertutup, terang / gelap, luas / sempit, dll.
Kualitas ruang dapat diciptakan melalui elemen dinding dan atap.
· Dinding partisi
Pemilihan penggunaan sistem dinding partisi adalah karena sifatnya yang fleksibel. Penggunaan partisi dapat di’tiada’kan dengan melipat dan meyimpan partisi.
Ketinggian partisi pun dapat di atur sesuai kebutuhan pada
Gbr. 5.21 Penggunaan sistem partisi pada ruang pamer Pusat Buku di Surakarta Sumber : dokumen pribadi 2013
commit to user
110 masing-masing acara. Sistem partisi yang fleksibel seperti di atas dapat membantu membentuk kualitas ruang yang ingin ditampilkan pada acara yang diselenggarakan.
· Atap
Selain dari dinding partisi, atap juga dapat membantu untuk mengarahkan pada penciptaan kualitas ruang. Menciptakan kesan ruang terbuka-tertutup. Teknologi retractable roof dapat diterapkan sebagai atap pada area ruang pamer.
c. Fleksibilitas mengarah pada fungsi ruang
Penekanan fleksibilitas yang mengarah pada fungsi ruang memungkinkan ruang dapat menampung beberapa kegiatan, baik yang bersifat formal maupun non formal.
Gbr. 5.22 Sistem retractable roof pada stadion Sumber : www.worldstadiums.com
Gbr. 5.23 Suasana ruang pamer dengan fungsi non formal (kiri) dan formal (kanan) Sumber : www.eventsolo.com
commit to user
111 5.2.4. Analisa Gubahan Massa
1. Bentuk dasar massa
Bentuk massa yang akan digunakan dalam perancangan Pusat Buku di Surakarta adalah bentuk massa yang dapat mendukung kegiatan yang diwadahi.
Kegiatan pada Pusat Buku di Surakarta tentunya berhubungan dengan buku dan erat kaitannya dengan membaca. Untuk mendukung kegiatan membaca tersebut diperlukan pencahayaan yang cukup.
Oleh karena itu, Pusat buku di Surakarta dirancang dengan banyak bukaan berupa jendela kaca dengan tujuan mendapatkan pencahayaan yang cukup. Waktu operasional Pusat Buku di Surakarta antara jam 08.00-21.00 WIB. Berdasarkan waktu operasional tersebut sangat dimungkinkan untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup dengan memanfaatkan cahaya matahari. Selain itu, dengan memanfaatkan cahaya matahari dapat menekan beban operasional listrik Pusat Buku di Surakarta.
Alternatif bentuk-bentuk dasar yang akan digunakan sebagai acuan dalam penentuan bentuk massa bangunan meliputi:
a. Segi empat
Gbr 5.24 : Analisa gubahan massa dengan bentuk dasar segi empat Sumber: dokumen pribadi 2013
commit to user
112 Bentuk segi empat merupakan bentuk massa yang cenderung simetri, teratur dan mendukung bentuk-bentuk geometris.
Secara struktur bentuk segi empat lebih mudah karena gridnya yang teratur. Lebih mudah dan efisien dalam lay out perabot.
Pengolahan bentuk yang kurang tepat akan membuat bentuk terkesan kaku dan monoton.
b. Segi tiga
Bentuk segitiga merupakan bentuk yang kurang luwes.
Banyaknya sudut yang disfungsional membuat bentuk segitiga menjadi kurang efisien menjadi sebuah ruang.
Sama seperti bentuk segi empat, cahaya hanya dapat masuk melalui bidang permukaan yang lansung terkena paparan cahaya matahari.
Dalam kasus bangunan bertingkat penentuan grid struktur harus benar-benar tepat sehingga menciptakan ruang yang optimal dan efisien.
Gbr 5.25 : Analisa gubahan massa dengan bentuk dasar segi tiga Sumber: dokumen pribadi 2013
commit to user
113 c. Lingkaran
Bentuk lingkaran adalah bentuk massa yang dinamis. Karena mempunyai pandangan ke segala arah bentuk ini mempunyai pengaruh visual yang kuat.
Bentuknya yang tak bersudut memberikan efek suasana ruang yang luas dan luwes.
Bentuk lingkaran dengan sudut luar yang lebar sangat memungkinkan cahaya dapat leluasa untuk masuk ke dalam ruangnya. Selain itu karena bentuk luarnya yang cembung dapat memantulkan cahaya lebih luas sesuai hukum dalam ilmu fisika dimana sifat bidang cembung menghasilkan sudut pantul yang lenih besar.
Untuk mengoptimalkan luasan ruang dan menambah nilai estetika dalam sudut pandang kerapian dapat menggunakan struktur kolom inti atau core.
Dari ketiga alternatif bentuk di atas, bentuk yang dianggap sesuai dengan perancangan Pusat Buku di Surakarta adalah bentuk segi empat. Bentuk segi empat merupakan bentuk yang netral, mudah diolah, tidak mengacu pada satu arah dan yang paling membedakan dengan bentuk yang lain bahwa bentuk segi empat adalah bentuk yang
Gbr 5.26 : Analisa gubahan massa dengan bentuk dasar lingkaran Sumber: dokumen pribadi 2013
commit to user
114 paling efisien dalam penggunaan ruang dan paling efektif ketika dihubungkan dengan penataan perabot.
2. Analisa pola tata massa Dasar pertimbangan:
· Konsep pola sirkulasi dalam tapak.
· Zonifikasi kegiatan pada tapak.
· Konsep fleksibilitas yang ditekankan terutama pada ruang pamer.
Analisa:
Terdapat beberapa klasifikasi pola tata massa yang biasa digunakan dalam mendesain bangunan, yaitu:
· Massa Tunggal
- Kelebihannya terkait dengan nilai ekonomi, yaitu pengaturan massa mudah, efisiensi penggunaan lahan, struktur mudah.
- Kekurangannya antara lain, bentuk terlalu kaku dan terkesan monoton/ membosankan.
· Massa Majemuk Pola Menyebar
- Kelebihannya antara lain, bentuk mudah dikembangkan dan tidak terkesan monoton sehingga dapat memberi daya tarik lebih bagi masyarakat.
- Pola Penyebaran massa dapat disesuaikan dengan kondisi klimatologis lingkungan.
- Kekurangannya antara lain, secara nilai ekonomi, efisiensi lahan kurang dan struktur rumit.
commit to user
115
· Massa Majemuk Pola Berkelompok
- Kelebihannya antara lain, bentuk lebih estetis dan tidak terkesan monoton sehingga dapat memberi daya tarik lebih bagi masyarakat.
- Kekurangannya yaitu struktur lebih rumit.
Hasil analisa:
Berdasarkan teori di atas yang disinkronkan dengan keadaan site terpilih yang mempunyai keterbatasan luasan maka pola tata massa yang digunakan pada Pusat Buku di Surakarta yang direncanakan adalah pola massa tunggal.
Untuk menyiasati banyaknya aktivitas yang harus diwadahi dalam Pusat Buku di Surakarta, pola massa tunggal yang terpilih akan didesain mempunyai lantai lebih dari satu (berlantai banyak) dengan pembagian zonifikasi secara vertikal.
3. Analisa tampilan fisik bangunan
Desain tampilan fisik bangunan Pusat Buku di Surakarta didasarkan pada rancangan desain yang mendukung kegiatan di Pusat buku di Surakarta terutama kegiatan membaca. Desain yang dirancang diharapkan dapat memberikan kenyamanan membaca kepada pengunjung dengan memberikan penerangan yang cukup.
Gbr. 5.27 Bangunan yang banyak menggunakan material transparan untuk memasukkan cahaya ke dalam ruang
Sumber : www.PPS.org
commit to user
116 Lokasi site Pusat Buku di Surakarta sangat dekat dengan lokasi Keraton Mangkunegaran, dimana kawasan tersebut merupakan kawasan segitiga budaya. Bermaksud tidak melupakan hal tersebut tetapi juga tidak terlalu menonjolkannya dalam desain, pada beberapa bagian dinding eksterior Pusat Buka di Surakarta dipasang ornamen tradisional.
4. Gubahan Massa
Gbr. 5.28 Ornamen adaptasi bentuk tradisional Sumber : Tabloid Asri edisi Juni 2013, design boom
Gbr. 5.29 Gubahan massa Pusat Buku di Surakarta Sumber : dokumen pribadi 2013
commit to user
117 Dari hasil analisa bentuk dasar gubahan massa, pola tata massa terpilih dan analisa tampilan fisik bangunan maka didapatkan bentuk dasar bangunan lingkaran dengan banyak bukaan dan penggunaan material transparan (kaca) serta lubang di tengah bangunan untuk mengoptimalkan masuknya cahaya ke dalam bangunan.