BAB V KESIMPULAN
B. Saran
Sarana pendidikan merupakan salah satu pendukung dalam mengembangkan potensi sumber daya manusia di dalam suatu wilayah. Adapun jumlah sarana pendidkan yang terdapat di Kelurahan Kampung Buyang hanya terdapat dua unit TK.
Dilihat dari hasil observasi dan pengamatan di lokasi penelitian bahwa kebutuhan untuk pembangunan sarana pendidikan di lokasi penelitian dengan jumlah penduduk sebanyak 3.819 jiwa membutuhkan dua unit SD berdasarkan standar kebutuhan pelayanan dengan ketentuan tingkat pelayanan SD untuk setiap 1.600 penduduk dengan radius pencapaian 1.000 meter.
Gambar 4.7 Visualisasi Sarana Pendidikan di Kelurahan Kampung Buyang
(Sumber: Hasil Survei Lapangan, 2020)
7) Sarana Kesehatan
92
Sarana Kesehatan ialah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Jumlah sarana kesehatan dirinci menurut jenisnya di Kelurahan Kampung Buyang terdiri dari: 1 unit Posyandu, 1 unit Puskesmas dan 1 unit tempat praktek. Kondisi tersebut belum memenuhi standar pelayanan permukiman yang berlaku dengan ketentuan sebagai berikut:
• Posyandu untuk setiap 1.250 jiwa dengan radius pencapaian 500 meter
• Balai Pengobatan untuk setiap 2.500 jiwa dengan radius pencapaian 1000 meter.
Berdasarkan standar kebutuhan pelayanan diatas, bahwa untuk memenuhi pelayanan kesehatan masyarakat perlu penambahan pembangunan sarana kesehatan sebanyak dua unit Posyandu dan satu unit Balai Pengobatan
93
Gambar 4.8 Visualisasi Sarana Kesehatan di Kelurahan Kampung Buyang
(Sumber: Hasil Survei Lapangan, 2020)
8) Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan merupakan sebuah tempat yang digunakan oleh umat beragama untuk beribadah menurut keyakinan/kepercayaan masing-masing. Jumlah sarana peribadatan di lokasi penelitian hanya terdapat satu unit Masjid.
Upaya untuk memenuhi kebutuhan rohani masyarakat maka diperlukan sarana peribadatan. Standar pelayanan permukiman untuk sarana peribadatan dengan ketentuan yaitu: lima unit Mushola/langgar untuk setiap 250 jiwa dengan radius pencapaian 100 meter.
Dilihat dari kondisi eksisting lokasi penelitian dan standar pelayanan tersebut bahwa dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan peribadatan, maka perlu penambahan bangunan 15 unit musholla.
94
Gambar 4.9 Visualisasi Sarana Peribadatan di Kelurahan Kampung Buyang
(Sumber: Hasil Survei Lapangan, 2020)
9) Proteksi Kebakaran
Dalam hal proteksi akan bahaya kebakaran di lokasi penelitian sudah memiliki penampung dan pemasok air yang memadai. Selain itu, prasarana jaringan jalan juga cukup memadai karena hampir semua kawasan dapat dijangkau oleh pemadam kebakaran.
10) Aspek Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan hidup ini erat kaitannya dengan penghasilan seseorang.
Tingkat pendapatan masyarakat di lokasi penelitian masih rendah, rendahnya pendapatan masyarakat karena kurangnya keterampilan masyarakat setempat, hal ini disebabkan oleh masyarakat Kampung Buyang dahulu bermata pencaharian sebagai nelayan sekarang bekerja sebagai buruh harian dan wirawasta.
95
Selain itu, mata pencaharian warga sekitar yang umumnya kepala keluarga bekerja sebagai buruh harian lepas atau wiraswasta, sedangkan ibu rumah tangganya berjualan di halaman rumah mereka.
96 Peta 4.3
Peta Deliniasi Kawasan Penelitian
97 c. Profil dan Karakteristik Responden
1) Kondisi Sosial
Kondisi sosial masyarakat yang dijadikan responden di Kelurahan Kampung Buyang merupakan warga RW03 dan RW04 yang bermata pencaharian buruh bangunan, wiraswasta, PNS.
Masyarakat yang menjadi responden memiliki syarat mewakili masing masing dari rumah tangga, umur 18 tahun ke atas, dan masa tinggal sudah lebih dari 5 tahun ke atas, rata-rata riwayat pendidikan masyarkat setempat tidak sekolah-SD-SMA.
2) Kondisi Ekonomi
Masyarakat setempat juga berjualan untuk memenuhi kebutuhannya.
3) Fisik hunian
Kondisi fisik hunian masyarakat setempat ialah memliki kepadatan bangunan yang tinggi dan kondisi bangunan gedungnya antara lain kondisi lantai, dinding, dan atapnya tidak layak huni (rusak).
98
Tabel 4.6 Hasil Kuesioner Penelitian
Pertanyaan Jawaban Jumlah Total Variabel
1. Menurut anda apakah permukiman anda kumuh?
A. Ya 23
100 Y
B. Cukup 64
C. Tidak 13
2. Apakah
bangunan rumah anda
menghadap jalan dengan
<1,5m ?
A. Ya
61
100 X
X1 B. Tidak
39 3. Apa saja kondisi
bangunan anda yang kurang layak?
A. Atap
58
100 X2
B. Lantai
25 C. Dinding 17 4. Apakah sumber
air yang anda gunakan?
A. PDAM 86
100 X3
B. Sumur 13
C. Tangki air
1 5. Apakah
penyediaan air minum anda sudah terpenuhi?
A. Terpenuhi 91
100 X4
B. Cukup
terpenuhi 8 C. Tidak
terpenuhi 1 6. Apakah anda
memiliki jamban sendiri?
A. Jamban
sendiri 89
100 X5
B. Jamban
tetangga 5
C. WC umum 6
7. Bagaimana kondisi jamban anda?
A. Baik 67
100 X6
B. Kurang baik 20
C. Buruk 13
8. Dimanakah anda membuang sampah?
A. Tempat sampah pribadi
56
100 X7
B. Tempat sampah Komunal/TP S
43 C. Dibuang ke
drainase/dib akar
1 9. Bagaimana
sistem
pengangkutan sampah di wilayah anda?
A. Setiap hari 6
100 X8
B. 1x
seminggu 81
C. >3x seminggu
13
99 10. Berapa rata-rata
pendapatan anda perbulan?
A. <1 juta 63
100 X9
B. 1-2 juta 24 C. >3 juta
13 11. Apa status
kepemilikan lahan anda?
A. Milik sendiri 57
100 X10
B. Sewa
43 12. Berapa jumlah
anggota keluarga dalam rumah tangga anda?
A. 1-4 38
100 X11
B. >5 62
13. Tingkat pendidikan anda?
A. SD, SMP
dan SMA 83
100 X12
B. Perguruan
Tinggi 17
14. Apa mata pencaharian anda?
A. Buruh
harian 51
100 X13
B. Wiraswasta 42
C. PNS 7
Sumber: Kuesioner dengan penduduk di Kelurahan Kampung Buyang tahun 2020
1) Pengaruh faktor bangunan terhadap kondisi permukiman kumuh
Faktor bangunan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi permukiman menjadi kumuh. Faktor bangunan tersebut terbagi stas dua, yaitu sebagai berikut:
- Bangunan rumah menghadap jalan dengan <1,5m (sesuai standar teknis).
- Kondisi bangunan yang kurang layak seperti atap, lantai, dinding
Tabel 4.7 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Jarak Bangunan Rumah menghadap Jalan dengan <1,5 meter terhadap Kondisi
Permukiman Kumuh (X1)
Y X ∑ FH X2 ∑
1/a 2/b 1 2 1 2
1/a 8 1 9 14,03 8,97 2,59 7,08 9,67
2/b 37 20 57 39,04 24,96 0,11 0,99 1,09
100
Sumber: Analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.7 diatas, dapat dilihat bahwa jarak bangunan rumah dengan jalan <1,5m berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,58 (Pengaruh sedang )
Dari hasil analisis diatas diketahui bahwa garis sempadan bangunan tersebut berpengaruh sedang terhadap permukiman menjadi kumuh karena bangunan tidak sesuai dengan standar teknis
Tabel 4.8 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Kondisi Bangunan terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X2)
Y X ∑ FH X2 ∑
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3
1/a 20 11 -8 23 13,34 5,75 3,91 0,00 4,79 36,28 41,07 2/b 34 12 18 64 37,12 16 10,88 0,00 1,00 4,66 5,66 3/c 4 2 7 13 7,54 3,25 2,21 0,00 0,48 10,38 10,86
∑ 58 25 17 100
X2 57,8
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
3/c 16 18 34 7,93 5,07 8,21 32,98 41,19
∑ 61 39 100
X2 51,95
db (3-1)(2-1) 2
X2 Tabel 3,84
Kesimpulan Berpengaruh
51,95
( 100 + 51,95)
101
Kesimpulan Berpengaruh Sumber: Analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.8 diatas, dapat dilihat bahwa faktor kondisi bangunan berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menururut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,60 (Pengaruh kuat)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa kondisi bangunan berpengaruh kuat terhadap permukiman kumuh karena pada kondisi eksisting di lokasi penelitian masih ada bangunan yang kondisi atap, lantai, dinding tidak layak (rusak).
2) Pengaruh faktor air bersih terhadap kondisi permukiman kumuh
Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi.
Sumber air yang digunakan di lokasi peneltian sebagian besar memakai PDAM dan ada juga yang memakai air sumur bor dan gali. Faktor air bersih terbagi atas dua, yaitu sebagai berikut:
- Sumber air yang digunakan - Terpenuhinya sumber air
57,8
( 100 + 57,8 )
102
Tabel 4.9 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Sumber Air bersih terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X3)
Y X
∑ FH X2
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3 ∑
1/a 22 1 0 23 19,78 2,99 0,23 0,00 1,32 0,23 1,55 2/b 55 9 0 64 55,04 8,32 0,64 0,00 0,06 0,64 0,70 3/c 9 3 1 13 11,18 1,69 0,13 0,00 1,02 5,82 6,84
∑ 86 13 1 100
X2 9,08
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
Kesimpulan Tidak Berpengaruh Sumber: Hasil analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.9 diatas, dapat dilihat bahwa sumber air tidak berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,28 (Pengaruh lemah)
Tabel 4.10 Uji Chi Kuadrat Pengaruh terpenuhinya Air Bersih terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X4)
Y X
∑ FH X2
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3 ∑
1/a 21 1 1 23 20,93 1,84 0,23 0,00 0,38 2,58 2,96 2/b 60 4 0 64 58,24 5,12 0,64 0,05 0,25 0,64 0,94 3/c 10 3 0 13 11,83 1,04 0,13 0,28 3,69 0,13 4,11
∑ 91 8 1 100
X2 8,0
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
( 100 + 9,08 ) 9,08
103
Kesimpulan Tidak Berpengaruh Sumber: Hasil analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.10 diatas, dapat dilihat bahwa terpenuhinya sumber air tidak berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menururut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,27 (Pengaruh lemah)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa faktor kondisi penyediaan air minum di lokasi penelitian berpengaruh lemah karena sumber air bersihnya sudah terpenuhi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
3) Pengaruh faktor air limbah terhadap kondisi permukiman kumuh
Sistem air limbah di lokasi penelitian sudah terpenuhi dan kondisinya cukup baik karena sebagian besar masyarakat memliliki jamban sendiri. Adapun faktor air limbah tebagi atas dua, yaitu sebagai berikut:
- Sarana dan prasarana air limbah - Kondisi air limbah
Tabel 4.11 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Pengelolaan Air limbah terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X5)
Y X ∑ FH X2 ∑
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3
1/a 22 1 0 23 20,47 1,15 1,38 0,00 0,02 1,38 1,40
8,0 ( 100 + 8,0)
104
2/b 58 2 4 64 56,96 3,2 3,84 0,00 0,45 0,01 0,46 3/c 9 2 2 13 11,57 0,65 0,78 0,00 2,80 1,91 4,71
∑ 89 5 6 100
X2 6,56
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
Kesimpulan Tidak Berpengaruh Sumber: Hasil analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.11 diatas, dapat dilihat bahwa air limbah tidak berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menururut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,24 (Pengaruh lemah)
Tabel 4.12 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Kondisi Air limbah terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X6)
Y X ∑ FH X2 ∑
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3
1/a 9 9 5 23 15,41 4,6 2,99 0,00 4,21 1,35 5,56 2/b 50 9 5 64 42,88 12,8 8,32 0,00 1,13 1,32 2,45 3/c 8 2 3 13 8,71 2,6 1,69 0,00 0,14 1,02 1,15
∑ 67 20 13 100
X2 9,16
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
Kesimpulan Tidak Berpengaruh Sumber: Hasil analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.12 diatas, dapat dilihat bahwa kondisi air limbah tidak berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menururut uji
6,56 ( 100 + 6,56)
105
chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,29 (Pengaruh lemah)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa faktor kondisi pengelolaan air limbah diukur dari ketersediaan jamban bagi masing-masing rumah tangga dilokasi penelitian berdasarkan uji kontingensi berpengaruh lemah terhadap kondisi permukiman kumuh karena masing-masing KK sudah memiliki jamban sendiri dengan kondisi yang layak.
4) Pengaruh faktor pengelolaan persampahan terhadap kondisi permukiman kumuh
Faktor pengelolaan persampahan di lokasi penelitian juga berpengaruh terhadap permukiman kumuh, sistem persampahan di Kelurahan Kampung Buyang kurang baik karena masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Faktor pengelolaan persampahan terbagi atas dua, yaitu sebagai berikut:
- Kondisi sarana persampahan
- Sistem pengangkutan persampahan
Tabel 4.13 Uji Chi Kuadrat Pengaruh sarana Persampahan terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X7)
Y X
∑ FH X2
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3 ∑
1/a 5 20 -2 23 12,88 9,89 0,23 0,00 10,33 21,62 31,96 2/b 43 19 2 64 35,84 27,52 0,64 0,00 2,64 2,89 5,53 3/c 8 4 1 13 7,28 5,59 0,13 0,00 0,45 5,82 6,27
9,16
( 100 + 9,16)
106
∑ 56 43 1 100
X2 43,75
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
Kesimpulan Berpengaruh
Berdasarkan tabel 4.13 diatas, dapat dilihat bahwa sarana persampahan berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,55 (Pengaruh sedang)
Tabel 4.14 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Sistem Persampahan terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X8)
Y X
∑ FH X2
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3 ∑
1/a 3 20 0 23 1,38 18,63 2,99 0,00 0,10 2,99 3,09 2/b 1 57 6 64 3,84 51,84 8,32 0,00 0,51 0,65 1,16 3/c 2 4 7 13 0,78 10,53 1,69 0,00 4,05 16,68 20,73
∑ 6 81 13 100
X2 24,98
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
Kesimpulan Berpengaruh Sumber: Hasil analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.14 diatas, dapat dilihat bahwa sistem persampahan berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh
43,75 ( 100 + 43,75 )
Sumber: Hasil analisis tahun 2020
107
menururut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,44 (Pengaruh sedang)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa faktor kondisi pengelolaan persampahan berpengaruh sedang terhadap kondisi permukiman kumuh karena pada lokasi penelitian masyarakat yang rumahnya tidak dapat dijangkau oleh fukuda ataupun tangkasaki langsung pada halaman rumahnya akan menumpuk sampahnya ke satu tempat, tidak adanya perbaikan konstruksi bak sampah sementara ini menyebabkan sampah yang tertumpuk menjadi berserakan di jalan.
5) Pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap kondisi permukiman kumuh
Kondisi permukiman kumuh dapat disebabkan oleh beberapa faktor, selain faktor fisik adapula faktor sosial ekonomi masyarakat yang menjadi penyebabnya, faktor sosial ekonomi yang dimaksud adalah faktor pendapatan, status kepemilikan lahan, tingkat pendidikan, mata pencaharian, dan jumlah anggota keluarga.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
24,98
( 100 + 24,98 )
108
Tabel 4.15 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Faktor Pendapatan terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X9)
Y X
∑ FH X2
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3 ∑
1/a 2 17 4 23 14,49 5,52 2,99 0,00 23,88 0,34 24,22 2/b 52 5 7 64 40,32 15,36 8,32 0,00 6,99 0,21 7,20 3/c 9 2 2 13 8,19 3,12 1,69 0,00 0,40 0,06 0,46
∑ 63 24 13 100
X2 31,87
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
Kesimpulan Berpengaruh Sumber: Hasil analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.15 diatas, dapat dilihat bahwa faktor pendapatan masyarakat berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,49 (Pengaruh sedang)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa pendapatan berpengaruh sedang terhadap kondisi permukiman kumuh karena di lokasi penelitian tingkat pendapatan masyarakat masih rendah dengan pendapatan rata-rata >2 juta/bulan, hal ini juga disebabkan oleh kurangnya keterampilan warga.
Tabel 4.16 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Faktor Status Kepemilikan Lahan terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X10)
Y X ∑ FH X2
1/a 2/b 1 2 1 2 ∑
31,87
( 100 + 31,87)
109
S u
mber: Hasil Aanalisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.16 diatas, dapat dilihat bahwa faktor status kepemilikan lahan tidak berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,05 (Pengaruh sangat lemah)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa status kepemilikan lahan berpengaruh sangat lemah terhadap kondisi permukiman kumuh di lokasi penelitian karena sebagian besar masyarakat di lokasi status lahan yang digunakan merupakan lahan legal.
Tabel 4.17 Uji Chi Kuadrat Pengaruh Faktor Jumlah Anggota Keluarga terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X11)
1/a 12 11 23 13,11 9,89 0,09 0,12 0,22
2/b 37 27 64 36,48 27,52 0,01 0,01 0,02
3/c 8 5 13 7,41 5,59 0,05 0,06 0,11
∑ 57 43 100
X2 0,35
db (3-1)(2-1) 2
X2 Tabel 3,84
Kesimpulan Tidak berpengaruh
Y X ∑ FH X2 ∑
1/a 2/b 1 2 1 2
1/a 12 11 23 8,74 14,26 1,22 0,75 1,96
2/b 21 43 64 24,32 39,68 0,45 0,28 0,73
3/c 5 8 13 4,94 8,06 0,00 0,00 0,00
∑ 38 62 100
X2 2,69
0,35 ( 100 + 0,35)
110
Sumber: Hasil Aanalisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.17 diatas, dapat dilihat bahwa faktor jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,16 (Pengaruh sangat lemah)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa jumlah anggota keluarga berpengaruh sangat lemah terhadap kondisi permukiman kumuh karena pada kondisi eksisting lokasi penelitian rata-rata jumlah anggota keluarga/rumah tangga sebanyak 3-5 jiwa hal itu sesuai satu KK terdiri atas 3-5 jiwa
Tabel 4.18 Uji Chi kuadrat Pengaruh Faktor Tingkat Pendidikan terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X12)
db (3-1)(2-1) 2
X2 Tabel 3,84
Kesimpulan Tidak Berpengaruh
Y X ∑ FH X2 ∑
1/a 2/b 1 2 1 2
1/a 17 6 23 19,09 3,91 0,23 1,12 1,35
2/b 55 9 64 53,12 10,88 0,07 0,32 0,39
3/c 11 2 13 10,79 2,21 0,00 0,02 0,02
∑ 83 17 100
X2 1,76
db (3-1)(2-1) 2
X2 Tabel 3,84
2,69
( 100 + 2,69)
111
Sumber: Hasil Analisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.18 diatas, dapat dilihat bahwa faktor tingkat Pendidikan masyarakat tidak berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
= 0,13 (Pengaruh sangat lemah)
Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui bahwa tingkat pendidikan berpengaruh sangat lemah terhadap kondisi permukiman menjadi kumuh karena rata-rata merupakan masyarakat yang melek huruf.
Tabel 4.19 Uji Chi kuadrat Pengaruh Faktor
Mata Pencaharian terhadap Kondisi Permukiman Kumuh (X13)
Y X
∑ FH X2
1/a 2/b 3/c 1 2 3 1 2 3 ∑
1/a 12 5 6 23 11,73 9,66 1,61 0,00 2,25 11,97 14,22 2/b 35 28 1 64 32,64 26,88 4,48 0,00 0,05 2,70 2,75 3/c 4 9 0 13 6,63 5,46 0,91 0,00 2,30 0,91 3,21
∑ 51 42 7 100
X2 20,17
db (3-1)(3-1) 4
X2 Tabel 9,48
Kesimpulan Berpengaruh Sumber: Hasil Aanalisis tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.19 diatas, dapat dilihat bahwa faktor mata pencaharian berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh
Kesimpulan Tidak Berpengaruh
1,76
( 100 + 1,76)
112
menurut uji chi kuadrat, selanjutnya untuk mengukur tingkat pengaruh tersebut maka dilakukan uji kontingensi dimana:
\
= 0,40 (Pengaruh sedang)
Berdasarkan hasil analisis diatas bahwa mata pencaharian berpengaruh sedang terhadap kondisi permukiman kumuh karena sebagian besar masyarakat bermata pencaharian buruh harian dan wiraswasta dengan penghasilan yang rendah.
Tabel 4.20 Pengaruh Variabel terhadap Variabel Y
No Variabel X2 Hasil C Pengaruh
1 X1 51,95 Berpengaruh 0,58 Pengaruh sedang 2 X2 57,8 Berpengaruh 0,60 Pengaruh kuat 3 X3 9,08 Tidak berpengaruh 0,28 Pengaruh lemah 4 X4 8,0 Tidak berpengaruh 0,27 Pengaruh lemah 5 X5 6,56 Tidak berpengaruh 0,24 Pengaruh lemah 6 X6 9,16 Tidak berpengaruh 0,29 Pengaruh lemah 7 X7 43,75 Berpengaruh 0,55 Pengaruh sedang 8 X8 24,98 Berpengaruh 0,44 Pengaruh sedang 9 X9 31,87 Berpengaruh 0,49 Pengaruh sedang 10 X10 0,35 Tidak berpengaruh 0,05 Pengaruh sangat
lemah
11 X11 2,69 Tidak berpengaruh 0,16 Pengaruh sangat lemah
12 X12 1,76 Tidak berpengaruh 0,13 Pengaruh sangat lemah
13 X13 20,17 Berpengaruh 0,40 Pengaruh sedang Sumber: Hasil Analisis tahun 2020
Dari hasil analisis disimpulkan bahwa faktor penyebab permukiman kampung buyang menjadi kumuh yang berpengaruh adalah (X1=bangunan tidak sesuai standar teknis), (X2=kondisi bangunan atap, lantai dan dinding tidak layak), (X7=sistem pengelolaan persampahan belum maksimal ), (X8=pengangkutan sampah belum
20,17 ( 100+20,17)
113
maksimal), (X9=rendahnya tingkat pendapatan masyarakat), dan (X13=mata pencaharian masyarakat buruh harian dan wiraswasta).
114
dan kepastian bermukim.
6. Pengembangan pelatihan masyarakat dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
7. Mensosialisasikan kepada masyarakat pentingnya jumlah penduduk/perumah tangga.
ANCAMAN/ TREATHS
(T) STRATEGI ST STRATEGI WT
1. Kepadatan bangunan semakin meningkat dan tidak teraturnya bangunan.
2. Terjadi penumpukan sampah di sembarang tempat yang akan mengakibatkan banjir.
3. Tingginya tingkat kriminalitas
4. Meningkatnya Potensi bencana Kebakaran.
1. Membangun kolaborasi stackholder terkait.
2. Membangun sistem pengawasan dan pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana permukiman.
1. Pembangunan bangunan gedung di atas dan/atau di bawah tanah, air dan/atau prasarana/sarana umum yang dibangun dengan memperhatikan
kesesuaian lokasi, dampak bangunan terhadap lingkungan, mempertimbangkan faktor keselamatan,
kenyamanan, kesehatan dan kemudahan bagi pengguna bangunan, dan memiliki perizinan.
2. Meningkatkan kualitas SDM.
3. Meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah dan stakeholdelr.
Tabel 4.22 Strategi Internal
Faktor Strategi Internal (Kekuatan) SP K SP x K Bobot
1. Terpenuhinya sumber air untuk masyarakat
setempat 8 4 32 0,22
2. Sistem pengelolaan air limbah cukup
terpenuhi dan kondisinya cukup baik 4 4 16 0,11 3. Kondisi permukaan jaringan jalan lingkungan
baik dan dapat melayani seluruh lingkungan perumahan dan permukiman
8 4 32 0,22
4. Tersedianya sarana dan prasarana proteksi
kebakaran 4 4 16 0,11
5. Status kepemilikan lahan masyarakat
setempat sebagian besar milik sendiri 4 4 16 0,11 6. Masyarakat setempat rata-rata tamatan SMA 4 4 16 0,11 7. Jumlah anggota keluarga rata-rata 2
KK/rumah tangga. 4 4 16 0,11
Total SP x FX 36 28 144 0,99
Faktor Strategi Internal (Kelemahan) SP K SP x K Bobot
1. Lantai, dinding dan atap bangunan yang
tidak layak (rusak) 4 4 16 0,25
115 2. Masih kurangnya tempat sampah untuk
skala domestik 4 4 16 0,25
3. Hilangnya sumber mata pencaharian
masyarakat 4 4 16 0,25
4. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat 4 4 16 0,25
Total SP x FX 16 16 64 1
Berdasarkan tabel diatas menyangkut faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan, dapat dilihat bahwa jumlah kekuatan lebih banyak yaitu sebanyak 7 sedangkan pada kelemahan hanya ada 4. Adapun total bobot kekuatan sebesar 0,99, sedangkan total bobot kelemahan sebesar 1.
Tabel 4.23 Strategi Eksternal
Faktor Strategi Eksternal (Peluang) SP K SP x K Bobot
1. Undang-undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Perumahan
16 4 64 0,33
2. Undang-undang Nomor 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang 16 4 64 0,33
3. Permen PU nomor 2 tahun 2016 dan Perumahan Rakyat tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan dan Permukiman Kumuh
16 4 64 0,33
Total SP x FX 48 12 192 0,99
Faktor Strategi Eksternal (Ancaman) SP K SP x K Bobot
1. Kepadatan bangunan semakin meningkat
dan tidak teraturnya bangunan. 16 4 64 0,28
2. Terjadi penumpukan sampah di sembarang
tempat yang akan mengakibatkan banjir. 16 4 64 0,28
3. Tingginya tingkat kriminalitas 12 4 48 0,21
4. Meningkatnya Potensi bencana Kebakaran 12 4 48 0,21
Total SP x FX 56 16 224 0,98
Berdasarkan tabel diatas dijelaskan bahwa strategi internal terdiri dari peluang dan ancaman. Peluang merupakan faktor dari luar yang mempengaruhi seperti kebijakan dan regulasi dari pemerintah. Adapun ancaman merupakan dampak yang akan terjadi dari adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan. Total bobot peluang sebesar 0,99, sedangkan total bobot ancaman sebesar 0,98.
Tabel 4.24 Nilai Skor IFAS
Faktor Strategi Internal
Bobot Rating
(1-4) Skor
Kekuatan (S)
1. Terpenuhinya sumber air untuk masyarakat
setempat 0,22 2 0,44
2. Sistem pengelolaan air limbah cukup 0,11 1 0,11
116 terpenuhi dan kondisinya cukup baik
3. Kondisi permukaan jaringan jalan
lingkungan baik dan dapat melayani seluruh lingkungan perumahan dan permukiman
0,22 2 0,44
4. Tersedianya sarana dan prasarana proteksi
kebakaran 0,11 1 0,11
5. Status kepemilikan lahan masyarakat
setempat sebagian besar milik sendiri 0,11 1 0,11 6. Masyarakat stempat rata-rata tamatan SMA 0,11 1 0,11 7. Jumlah anggota keluarga rata-rata 2
KK/rumah tangga. 0,11 1 0,11
Total Skor 0,99 9 1,32
Kelemahan (W) Bobot Rating
(4-1) Skor
1. Lantai, dinding dan atap bangunan yang
tidak layak (rusak) 0,25 4 1
2. Masih kurangnya tempat sampah untuk
skala domestik 0,25 4 1
3. Hilangnya sumber mata pencaharian
masyarakat 0,25 4 1
4. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat 0,25 4 1
Total Skor 1 16 4
Berdasarkan tabel diatas mengenai nilai skor IFAS yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan, maka di dapatkanlah total skor dari kekuatan dan kelemahan yang dihitung berdasarkan nilai bobot dan rating. Dari tabel diatas dapat kita lihat nilai total skor kelemahan lebih besar yaitu 4 dibandingkan dengan nilai total skor kekuatan yang besarnya hanya 1,32. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada faktor internal yang paling berpengaruh adalah kelemahan.
Tabel 4.25 Nilai Skor EFAS
Faktor Strategi Eksternal
Bobot Rating
(1-4) Skor
Peluang (O)
1. Undang-undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Perumahan
0,33 4 1,32
2. Undang-undang Nomor 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang 0,33 4 1,32
3. Permen PU nomor 2 tahun 2016 dan Perumahan Rakyat tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan dan Permukiman Kumuh
0,33 4 1,32
Total Skor 0,99 12 3,96
Ancaman (T) Bobot Rating
(4-1) Skor
1. Kepadatan bangunan semakin meningkat 0,28 1 0,28
117 dan tidak teraturnya bangunan
2. Terjadi penumpukan sampah di sembarang
tempat yang akan mengakibatkan banjir 0,28 1 0,28
3. Tingginya tingkat kriminalitas 0,21 2 0,42
4. Meningkatnya Potensi bencana Kebakaran 0,21 2 0,42
Total Skor 0,98 6 1,4
Berdasarkan tabel diatas mengenai nilai skor EFAS yang terdiri dari peluang dan ancaman, maka di dapatkanlah total skor dari peluang dan ancaman yang dihitung berdasarkan nilai bobot dan rating. Dari tabel di atas dapat kita lihat nilai total skor peluang lebih besar yaitu 3,96 dibandingkan dengan nilai total skor ancaman yang besarnya hanya 1,4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada faktor eksternal yang paling berpengaruh adalah peluang.
Kesimpulan:
• Penentuan titik kordinat X, (IFAS) hasil Kekuatan - Kelemahan
• Penentuan titik koordinat Y, (EFAS) hasil Peluang - Ancaman Koordinat X = 1,32 - 4 = -2,68
Koordinat Y = 3,96 - 1,4 = 2,56
Gambar 4.1 Kuadran SWOT
(Sumber: Hasil Analisis tahun 2020)
S KUADRAN II
WO
KUADRAN I SO
W
KUADRAN IV ST O
KUADRAN III
WT T
-2,68, 2,56
118
Posisi berada pada sumbu X = -2,68 dan sumbu Y = 2,56 jadi posisi pada kuadran II. Strategi yang digunakan dan diprioritaskan yaitu Strategi WO. Rumusan strateginya adalah memanfaatkan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. Jadi, strategi yang digunakan untuk strategi penanganan permukiman kumuh di Kelurahan Kampung Buyang adalah sebagai berikut:
1. Rehabilitasi dengan perbaikan atau penambahan komponen bangunan agar memenuhi standar konstruksi dan persyaratan teknis bangunan.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang ialah kondisi bangunan, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.
2. Sosialisasi dan peningkatan kesadaran Masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang ialah sosial ekonomi masyarakat, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.
3. Memaksimalkan potensi pembiayaan sumber dana untuk pengadaan sarana pengelolaan persampahan.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi
119
permukiman kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang ialah prasarana dan sarana pengelolaan persampahan, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.
4. Meningkatkan keterampilan masyarakat.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh kondisi permukiman menjadi kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang bukan hanya faktor fisik tetapi juga non fisik seperti:
ekonomi masyarakat, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.
120
layak dan bangunan tidak menghadap jalan yang lebarnya
>1,5
yang di butuhkan.
• Perbaikan kondisi atap
bocor dengan
memberikan dana/
material yang dibutuhkan perbaikan kondisi dinding rusak dengan memberikan
dana/material yang dibutuhkan
• Rehabilitasi bangunan Pengelola
an Persampa han
Kurangnya bak sampah dan pemilihan sampah skala lingkungan
• Menyediakan tempat sampah dengan pemilahan sampah pada skala domestik/rumah tangga
• Penyediaan TPS/ TPS 3R pada skala lingkungan
• Menyediakan
pengelolaan sampah terpadu (TPST) pada skala lingkungan
• Mengedukasi
masyarakat tentang
pewadahan dan
pemilahan domestik Mengatur sistem yang akan ditaati oeh masyarakat dalam hal pengumpulan, pengangkutan dan pengelolaan persampahan
-
✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Sosial Ekonomi
Pendapata n
Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat
Pelatihan usaha yaitu pelatihan usaha yang diaahkan untuk membuka usaha baru dan mengembangkan /penguatan usaha masyarakat urban yang selama ini sudah berjalan. Bimbingan dan pelatihan meliputi bimbingan manajemen usaha dan keterampilan kerja (vokasional) berdasarkan minat dan pertimbangan pasar.
Pada bimbingan usaha ini diberikan bantuan modal usaha, baik untuk membuka usaha baru atau
pengembangan/pengua tan usaha yang sudah ada
✓ - ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Mata pencahari an
Hilangnya sumber mata pencaharia n
masyarakat sekitar yang dulunya nelayan berubah menjadi buruh harian dan wiraswasta akibat dari berubahnya pola penggunaa n lahan Sumber: Hasil Analisis tahun 2020
Faktor yang menjadikan Kelurahan Kampung Buyang menjadi kumuh adalah faktor kondisi fisik lingkungan dan kondisi sosial ekonomi, dalam penanganannya program yang dibuat disesuaikan dengan kebutuhan