BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Analisa Strategi Penanganan Permukiman Kumuh
113
maksimal), (X9=rendahnya tingkat pendapatan masyarakat), dan (X13=mata pencaharian masyarakat buruh harian dan wiraswasta).
114
dan kepastian bermukim.
6. Pengembangan pelatihan masyarakat dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
7. Mensosialisasikan kepada masyarakat pentingnya jumlah penduduk/perumah tangga.
ANCAMAN/ TREATHS
(T) STRATEGI ST STRATEGI WT
1. Kepadatan bangunan semakin meningkat dan tidak teraturnya bangunan.
2. Terjadi penumpukan sampah di sembarang tempat yang akan mengakibatkan banjir.
3. Tingginya tingkat kriminalitas
4. Meningkatnya Potensi bencana Kebakaran.
1. Membangun kolaborasi stackholder terkait.
2. Membangun sistem pengawasan dan pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana permukiman.
1. Pembangunan bangunan gedung di atas dan/atau di bawah tanah, air dan/atau prasarana/sarana umum yang dibangun dengan memperhatikan
kesesuaian lokasi, dampak bangunan terhadap lingkungan, mempertimbangkan faktor keselamatan,
kenyamanan, kesehatan dan kemudahan bagi pengguna bangunan, dan memiliki perizinan.
2. Meningkatkan kualitas SDM.
3. Meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah dan stakeholdelr.
Tabel 4.22 Strategi Internal
Faktor Strategi Internal (Kekuatan) SP K SP x K Bobot
1. Terpenuhinya sumber air untuk masyarakat
setempat 8 4 32 0,22
2. Sistem pengelolaan air limbah cukup
terpenuhi dan kondisinya cukup baik 4 4 16 0,11 3. Kondisi permukaan jaringan jalan lingkungan
baik dan dapat melayani seluruh lingkungan perumahan dan permukiman
8 4 32 0,22
4. Tersedianya sarana dan prasarana proteksi
kebakaran 4 4 16 0,11
5. Status kepemilikan lahan masyarakat
setempat sebagian besar milik sendiri 4 4 16 0,11 6. Masyarakat setempat rata-rata tamatan SMA 4 4 16 0,11 7. Jumlah anggota keluarga rata-rata 2
KK/rumah tangga. 4 4 16 0,11
Total SP x FX 36 28 144 0,99
Faktor Strategi Internal (Kelemahan) SP K SP x K Bobot
1. Lantai, dinding dan atap bangunan yang
tidak layak (rusak) 4 4 16 0,25
115 2. Masih kurangnya tempat sampah untuk
skala domestik 4 4 16 0,25
3. Hilangnya sumber mata pencaharian
masyarakat 4 4 16 0,25
4. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat 4 4 16 0,25
Total SP x FX 16 16 64 1
Berdasarkan tabel diatas menyangkut faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan, dapat dilihat bahwa jumlah kekuatan lebih banyak yaitu sebanyak 7 sedangkan pada kelemahan hanya ada 4. Adapun total bobot kekuatan sebesar 0,99, sedangkan total bobot kelemahan sebesar 1.
Tabel 4.23 Strategi Eksternal
Faktor Strategi Eksternal (Peluang) SP K SP x K Bobot
1. Undang-undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Perumahan
16 4 64 0,33
2. Undang-undang Nomor 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang 16 4 64 0,33
3. Permen PU nomor 2 tahun 2016 dan Perumahan Rakyat tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan dan Permukiman Kumuh
16 4 64 0,33
Total SP x FX 48 12 192 0,99
Faktor Strategi Eksternal (Ancaman) SP K SP x K Bobot
1. Kepadatan bangunan semakin meningkat
dan tidak teraturnya bangunan. 16 4 64 0,28
2. Terjadi penumpukan sampah di sembarang
tempat yang akan mengakibatkan banjir. 16 4 64 0,28
3. Tingginya tingkat kriminalitas 12 4 48 0,21
4. Meningkatnya Potensi bencana Kebakaran 12 4 48 0,21
Total SP x FX 56 16 224 0,98
Berdasarkan tabel diatas dijelaskan bahwa strategi internal terdiri dari peluang dan ancaman. Peluang merupakan faktor dari luar yang mempengaruhi seperti kebijakan dan regulasi dari pemerintah. Adapun ancaman merupakan dampak yang akan terjadi dari adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan. Total bobot peluang sebesar 0,99, sedangkan total bobot ancaman sebesar 0,98.
Tabel 4.24 Nilai Skor IFAS
Faktor Strategi Internal
Bobot Rating
(1-4) Skor
Kekuatan (S)
1. Terpenuhinya sumber air untuk masyarakat
setempat 0,22 2 0,44
2. Sistem pengelolaan air limbah cukup 0,11 1 0,11
116 terpenuhi dan kondisinya cukup baik
3. Kondisi permukaan jaringan jalan
lingkungan baik dan dapat melayani seluruh lingkungan perumahan dan permukiman
0,22 2 0,44
4. Tersedianya sarana dan prasarana proteksi
kebakaran 0,11 1 0,11
5. Status kepemilikan lahan masyarakat
setempat sebagian besar milik sendiri 0,11 1 0,11 6. Masyarakat stempat rata-rata tamatan SMA 0,11 1 0,11 7. Jumlah anggota keluarga rata-rata 2
KK/rumah tangga. 0,11 1 0,11
Total Skor 0,99 9 1,32
Kelemahan (W) Bobot Rating
(4-1) Skor
1. Lantai, dinding dan atap bangunan yang
tidak layak (rusak) 0,25 4 1
2. Masih kurangnya tempat sampah untuk
skala domestik 0,25 4 1
3. Hilangnya sumber mata pencaharian
masyarakat 0,25 4 1
4. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat 0,25 4 1
Total Skor 1 16 4
Berdasarkan tabel diatas mengenai nilai skor IFAS yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan, maka di dapatkanlah total skor dari kekuatan dan kelemahan yang dihitung berdasarkan nilai bobot dan rating. Dari tabel diatas dapat kita lihat nilai total skor kelemahan lebih besar yaitu 4 dibandingkan dengan nilai total skor kekuatan yang besarnya hanya 1,32. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada faktor internal yang paling berpengaruh adalah kelemahan.
Tabel 4.25 Nilai Skor EFAS
Faktor Strategi Eksternal
Bobot Rating
(1-4) Skor
Peluang (O)
1. Undang-undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Perumahan
0,33 4 1,32
2. Undang-undang Nomor 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang 0,33 4 1,32
3. Permen PU nomor 2 tahun 2016 dan Perumahan Rakyat tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan dan Permukiman Kumuh
0,33 4 1,32
Total Skor 0,99 12 3,96
Ancaman (T) Bobot Rating
(4-1) Skor
1. Kepadatan bangunan semakin meningkat 0,28 1 0,28
117 dan tidak teraturnya bangunan
2. Terjadi penumpukan sampah di sembarang
tempat yang akan mengakibatkan banjir 0,28 1 0,28
3. Tingginya tingkat kriminalitas 0,21 2 0,42
4. Meningkatnya Potensi bencana Kebakaran 0,21 2 0,42
Total Skor 0,98 6 1,4
Berdasarkan tabel diatas mengenai nilai skor EFAS yang terdiri dari peluang dan ancaman, maka di dapatkanlah total skor dari peluang dan ancaman yang dihitung berdasarkan nilai bobot dan rating. Dari tabel di atas dapat kita lihat nilai total skor peluang lebih besar yaitu 3,96 dibandingkan dengan nilai total skor ancaman yang besarnya hanya 1,4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada faktor eksternal yang paling berpengaruh adalah peluang.
Kesimpulan:
• Penentuan titik kordinat X, (IFAS) hasil Kekuatan - Kelemahan
• Penentuan titik koordinat Y, (EFAS) hasil Peluang - Ancaman Koordinat X = 1,32 - 4 = -2,68
Koordinat Y = 3,96 - 1,4 = 2,56
Gambar 4.1 Kuadran SWOT
(Sumber: Hasil Analisis tahun 2020)
S KUADRAN II
WO
KUADRAN I SO
W
KUADRAN IV ST O
KUADRAN III
WT T
-2,68, 2,56
118
Posisi berada pada sumbu X = -2,68 dan sumbu Y = 2,56 jadi posisi pada kuadran II. Strategi yang digunakan dan diprioritaskan yaitu Strategi WO. Rumusan strateginya adalah memanfaatkan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. Jadi, strategi yang digunakan untuk strategi penanganan permukiman kumuh di Kelurahan Kampung Buyang adalah sebagai berikut:
1. Rehabilitasi dengan perbaikan atau penambahan komponen bangunan agar memenuhi standar konstruksi dan persyaratan teknis bangunan.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang ialah kondisi bangunan, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.
2. Sosialisasi dan peningkatan kesadaran Masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi permukiman kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang ialah sosial ekonomi masyarakat, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.
3. Memaksimalkan potensi pembiayaan sumber dana untuk pengadaan sarana pengelolaan persampahan.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi
119
permukiman kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang ialah prasarana dan sarana pengelolaan persampahan, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.
4. Meningkatkan keterampilan masyarakat.
Maksud dan tujuan dilakukan strategi diatas karena dari hasil analisis bahwa faktor yang berpengaruh kondisi permukiman menjadi kumuh pada RW03 dan RW04 di Kelurahan Kampung Buyang bukan hanya faktor fisik tetapi juga non fisik seperti:
ekonomi masyarakat, maka dirumuskan strategi diatas untuk penanganannya.