PENYELESAIAN PERKARA NOMOR 416/PDT.G/1995/PA.SMD DI PENGADILAN AGAMA SUMEDANG
C. ANALISA PENULIS
62
Menganalisa putusan Pengadilan Agama Sumedang tentang pembatalan perkawinan akibat poligami tanpa izin pengadilan agama dan persetujuan isteri, pada dasarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa dalam Undang-Undang tersebut tidak mengatur sanksi bagi pelaku poligami, undang-undang ini hanya mengatur pembatalan perkawinan apabila suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama dan tanpa persetujuan isteri atau isteri-isterinya.
Sosialisasi mengenai pasal-pasal peraturan pembatalan perkawinan harus lebih ditingkatkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak isteri korban poligami tidak faham tentang adanya undang-undang yang melindungi hak mereka. Apabila isteri tersebut mengetahui adanya peraturan pembatan perkawinan, maka diharapkan isteri akan lebih berani menuntut atau mempertahankan haknya karena hak dan kedudukannya dilindungi undang-undang. Dengan adanya pemahaman tersebut, maka diharapkan angka perceraian akibat poligami liar (tanpa izin) bisa diperkecil karena isteri yang sah akan lebih memilih mengajukan permohonan pembatalan perkawinan poligami suaminya dari pada mengajukan gugatan cerai. Hal ini juga diharapkan akan dapat meredam hasrat suami untuk poligami sehingga perkawinan di bawah tangan akibat poligami bisa dicegah atau diminimalisir jumlahnya.
Adapun analisa penulis tentang pembatalan perkawinan pengadilan agama sumedang dengan perkara nomor 416/Pdt.G/1995/PA. Smd. adalah sebagai berikut:
1. Dasar hukum yang dijadikan landasan pertimbangan hakim dalam mengabulkan gugatan penggugat adalah pasal 24 Undang-Undang Perkawinan yang menyatakan “barang siapa karena perkawinan masih terikat dirinya dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar masih adanya perkawinan dapat mengajukan pembatalan perkawinan yang baru, dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 3 ayat (2) dan pasal 4 undang-undang ini”.
Pasal 71 poin (a) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa: “Suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila: (a) Seorang suami melakukan poligami tanpa izin pengadilan agama”.
Berdasarkan dua pasal di atas, jelas bahwa isteri mempunyai kewenangan untuk mengajukan pembatalan perkawinan poligami suaminya. selain itu, bila suami melakukan poligami tanpa seizin dan sepengetahuan isteri, maka isteri yang sah mempunyai hak untuk mengajukan permohonan pembatalan poligami suaminya (pasal 24 Undang-Undang Perkawinan). Adapun pengajuan gugatan pembatalan perkawinan diajukan kepada Pengadilan Agama yang berwenang sesuai dengan pasal 38 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Jo pasal 74 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan: “Permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat berlangsungnya perkawinan atau tempat tinggal suami isteri, suami atau isteri”.
Untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama bisa langsung secara pribadi atau bisa juga oleh kuasanya. Berlakunya putusan pembatalan suatu
64
perkawinan dimulai sejak putusan pengadilan agama mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan (pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan).
2. Tergugat I telah melanggar peraturan perundang-udangan yang berlaku yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang pemberlakuan undang-undang perkawinan yang mengatur tentang beristeri lebih dari seorang. Hal ini yang menjadi bahan pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara ini dan menyatakan batal perkawinan antara tergugat I dengan tergugat II. Persyaratan untuk berpoligami sendiri adalah adanya surat izin beristeri lebih dari seorang dari Pengadilan Agama dan selanjutnya disampaikan kepada Kantor Urusan Agama tempat suami melangsungkan akad nikah. Kantor Urusan Agama tidak akan menikahkan apabila surat izin ini tidak ada karena hal ini di atur dalam pasal 44 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan BAB VIII mengenai beristeri lebih dari seorang yang menyatakan “Pegawai pencatat dilarang untuk mencatatkan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan Agama.”
Dengan berpijak pada rumusan pasal di atas, sangatlah jelas bahwa Kantor Urusan Agama dilarang menikahkan seorang suami yang berpoligami tanpa izin pengadilan. Andaikan lolos (berpoligami tanpa izin-pen), kemungkinan
besar si suami telah memanipulasi statusnya dengan bantuan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.1
Selain pelanggaran terhadap undang-undang perkawinan tentang ketentuan beristeri lebih dari seorang, perkawinan antara tergugat I dengan tergugat II yaitu pada saat perkawinan mereka dilangsungkan, tergugat I mengaku sebagai perjaka dengan surat keterangan dari Desa Cileuleuy. Hal ini juga melanggar pasal 279 dan 280 KUHP. Hal ini sudah di atur sesuai dengan kompetensi hukumnya yaitu sanksi pidana yang akan menjeratnya dan hukumannya cukup berat yaitu 5 (lima) tahun penjara sebagaimana diatur dalam KUHP pasal 279 dan pasal 280.
Pasal 279 KUHP menyatakan bahwa :
1) Diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun:
1. Barang siapa mengadakan perkawinan padahal mengetahui bahwa
perkawinan atau perkawinan-perkawinan yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk itu;
2. Barang siapa mengadakan perkawinan padahal mengetahui bahwa
perkawinan atau perkawinan-perkawinan pihak lain menjadi penghalang untuk itu;
2) Jika yang melakukan perbuatan berdasarkan ayat (1) butir 1
menyembunyikan kepada pihak lain bahwa perkawinan yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.
1
Eman Sulaeman, Hakim Pengadilana Agama Sumedang, Wawancara Pribadi, Sumedang, 8 Maret 2010.
66
3) Pencabutan hak berdasarkan pasal 35 nomor 1 sampai 5 dapat
dinyatakan.
Pasal 280 menyatakan bahwa:
“Barang siapa mengadakan perkawinan, padahal sengaja tidak memberitahu kepada pihak lain bahwa ada penghalang yang sah, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun, apabila kemudian berdasarkan pengahalang tersebut, perkawinan lalu dinyatakan tidak sah”.2
Dengan adanya fakta dalam uraian pasal-pasal di atas sangatlah jelas bahwa penggugat mempunyai hak untuk mengajukan permohonan pembatalan perkawinan poligami suaminya, karena tergugat I tidak meminta izin pengadilan agama terlebih dahulu dan tanpa persetujuan isteri untuk dapat melangsungkan perkawinan dengan tergugat II. Di samping itu, penggugat juga tidak mempunyai cacat seperti yang menjadi syarat dalam pasal 4 ayat (2).
3. Dalam pelaksanaan persidangan, tergugat I dan tergugat II menyatakan mengakui dan membenarkan dalil-dalil yang diajukan penggugat dengan tidak sedikitpun bantahan. Berdasarkan hal tersebut, maka Pengadilan Agama Sumedang mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan tersebut yaitu dengan membatalkan perkawinan antara tergugat I dan tergugat II yang telah dilangsungkan di Kantor Urusan Agama Wado dengan Akta Nikah Nomor 595/44/I/1995.
Jika kita merujuk pada Kompilasi Hukum Islam, ada dua istilah pembatalan perkawinan yaitu perkawinan batal demi hukum dan perkawinan dapat
dibatalkan. Faktor-faktor perkawinan yang batal demi hukum dapat kita
lihat di dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 70 jo Pasal 8 Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan dan faktor-faktor perkawinan yang dapat dibatalkan terdapat di dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 71 dan 72 yang diantaranya karena suami melakukan poligami tanpa izin pengadilan agama dan persetujuan isteri.
Dalam hal kawin yang batal demi hukum, maka dalam hal ini perkawinan tersebut mutlak harus dibatalkan. Tetapi untuk perkawinan yang sifatnya
dapat dibatalkan, maka perkawinan tersebut boleh dibatalkan dan boleh
juga dilanjutkan dengan cara memperbaharui perkawinannya yang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
Asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang peradilan agama telah dapat dilaksanakan. Namun dalam Putusan Nomor 416/Pdt.G/1995/PA. Smd. perkara pembatalan perkawinan tercatat dikepaniteraan Pengadilan Agama Sumedang tanggal 13 Maret 1995 dan pemeriksaan persidangan pertama dilaksanakan pada tanggal 17 April 1995, seolah-olah ada penyimpangan dari pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang peradilan agama yang menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan oleh majelis selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari.
68
Dalam hal ini ketua mempertimbangkan tentang kepatutan dalam pemanggilan, sehubungan salah satu dari para pihak yaitu tergugat I dan III yang tinggal di luar wilayah hukum Pengadilan Agama Sumedang, dengan berpedoman kepada pasal 122 HIR yang menyatakan:
“Ketika menentukan hari persidangan ketua menimbang jarak antara tempat kediaman atau tempat tinggal kedua belah pihak dari tempat Pengadilan Negeri bersidang dan kecuali dalam hal perlu benar perkara itu dengan segera diperiksa, dan hal itu disebutkan dalam surat perintah, maka tempat antara hasil pemanggilan kedua belah pihak dari hari persidangan tidak boleh kurang dari tiga hari kerja”
Dan dalam pasal 29 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 dinyatakan: “Dalam menetapkan waktu mengadakan sidang pemeriksaan gugatan perceraian perlu diperhatikan tenggang waktu pemanggilan dan diterimanya panggilan tersebut oleh penggugat maupun tergugat atau pihak kuasa mereka.”3
Perkara pembatalan perkawinan Nomor 416/Pdt.G/1995/PA. Smd. dapat diselesaikan dalam jangka waktu lima bulan lima hari, jangka waktu tersebut relatif cukup cepat, mengingat jarak pemanggilan tergugat III yang berada di luar wilayah hukum Pengadilan Agama Sumedang. Sedangkan biaya perkara ditetapkan sebesar Rp. 140.500 (seratus empat puluh ribu
lima ratus rupiah) suatu jumlah yang cukup terjangkau oleh pihak yang
berperkara.
4. Dengan berpedoman pada pembahasan di atas, maka putusan Pengadilan Agama Sumedang Nomor 416/Pdt.G/1995/PA.Smd. telah sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam dengan tetap
3 Eman Sulaeman, Hakim Pengadilana Agama Sumedang, Wawancara Pribadi, Sumedang, 8 Maret 2010.
berpegang teguh pada asas keadilan dan kemaslahatan bagi para pencari keadilan. Dengan demikian, maka aturan hukum mengenai pembatalan perkawinan poligami yang terdapat dalam Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam adalah untuk menjamin kepastian hukum yang berkeadilan dan responsif terhadap perempuan karena melindungi hak-hak isteri, menjaga kehormatan dan kedudukan isteri dalam hukum.
Oleh karena itu, putusan pembatalan perkawinan yang diputus di Pengadilan Agama Sumedang dengan perkara nomor : 416/Pdt.G/1995/PA.Smd. telah sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, karena perkawinan antara tergugat I dengan tergugat II adalah cacat hukum.
BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab yang terdahulu, penulis mencoba mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Aturan hukum mengenai beristeri lebih dari seorang sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan serta dalam Kompilasi Hukum Islam.
2. Hakim Pengadilan Agama Sumedang membatalkan perkawinan tersebut karena perkawinan yang dilakukan oleh tergugat I dan tergugat II melanggar aturan hukum yang berlaku yaitu undang-undang perkawinan pasal 3, pasal 4, pasal 5 dan pasal 56 serta Kompilasi Hukum Islam pasal 71 yang pada intinya adalah seorang suami apabila hendak menikah lagi (poligami) harus mendapat izin dari pengadilan agama dan pengadilan agama akan mengeluarkan izin tersebut apabila telah terpenuhinya syarat-syarat untuk melakukan poligami.
3. Landasan pertimbangan hakim dalam memutus perkara ini adalah karena adanya pelanggaran terhadap undang-undang yang berlaku. Sedangkan tentang pemeriksaan kasus ini baru dimulai setelah 30 hari, hakim berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan undang-undang perkawinan pasal 29 ayat 2 dan pasal 122 HIR yang membahas tentang penetapan waktu persidangan yang harus menimbang jarak antara tempat kediaman atau tempat tinggal kedua belah pihak dalam menetapkan waktu mengadakan sidang.
4. Pengadilan yang merupakan tempat mencari keadilan tentunya akan berusaha memberikan putusan yang seadil-adilnya. Oleh karena itu, dengan adanya putusan ini diharapkan tidak ada yang merasa menang dan kalah atau merasa diuntungkan dan dirugikan karena pengadilan akan memutus suatu perkara sesuai dengan fakta yang ada pada persidangan dan bukti-bukti kuat yang menjadi dasar argumentasi para pihak. Dengan demikian diharapkan para pihak dapat menerima putusan ini dengan sadar dan lapang dada.
5. Putusan Pengadilan Agama Sumedang dengan Nomor 416/Pdt.G/1995/PA. Smd. telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam dengan menjamin keadilan dan kemaslahatan bagi para pencari keadilan.
B. SARAN
1. Perlu adanya penyuluhan hukum terhadap lapisan masyarakat oleh instansi terkait tentang Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu dengan melibatkan ulama atau tokoh masyarakat setempat dalam pengajian agar lebih efektif dan efisien.
2. Pemerintah hendaknya memasukan muatan hukum tentang perkawinan segabai upaya sosialisasi secara dini kepada siswa Aliyah. Sehingga tidak terjadi pelanggaran terhadap aturan hukum tersebut.
3. Kantor Urusan Agama hendaklah lebih teliti dalam memeriksa data kedua calon mempelai sehingga kesempatan bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam memanipulasi data status bisa diminimalisir.