• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA

4.3 Analisa aspek lingkungan

4.3.4 Tata ruang luar

4.3.4.4 Analisa peredam kebisingan

Gambar 4.22 Analisa Tingkat Kebisingan Lingkungan Tapak

Keterangan :

1. Noise tertinggi berasal dari arah selatan yaitu dari Jalan Inspeksi Kalimalang

2. Noise sedang berasal dari arah Utara dan barat yaitu dari PT. KAO Indonesia dan Pemukiman warga

3. Noise Terendah berasal dari arah sebelah timur yaiut dari lahan persawahan Noise Tinggi

Noise Sedang

Noise Rendah

119 5.1 Konsep Bentuk Bangunan Kampus

Konsep Bangunan Gedung baru Pelita Bangsa terinspirasi dari salah satu konsep bangunan di Kampus National University of Singapore, yang mengutamakan stuktur kotak dan bermaterial concrete, sebagai material utama.

Gambar 5.1 National University of Singapore

Penyesuaian tranformasi bentuk tidak signifikan, hanya menyesuaikan dengan kondisi tapak dan ketersedian material yang relevan untuk daerah Cikarang.

5.1.1 Konsep Green Teknologi

Green architecture yaitu pendekatan perencanaan arsitektur yang berusahameminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada

kesehatan manusia dan lingkungan. Konsep green architecture ini memiliki beberapa manfaat diantaranyabangunan lebih tahan lama, hemat energi, perawatan bangunan lebih minimal, lebihnyaman ditinggali, serta lebih sehat bagi penghuni. Konsep green architecture memberi kontribusi pada masalah lingkungan khususnya pemanasan global. Apalagi bangunan adalah penghasil terbesar lebih dari 30% emisi global karbon dioksida sebagai salah satu penyebab pemanasan global. Selain karna adanya pemanasan global, penciptaan atau inovasi energi yang terbarukan juga menjadi latar belakang timbulnya konsep green architecture. Sampai pada akhirnya timbul konsep Green Building. Gedung Hemat Energi atau dikenal dengan sebutan green building terus digalakkan pembangunannya sebagai salah satu langkah antisipasi terhadap perubahan iklim global.

Dengan konsep hemat energi yang tepat, konsumsi energi suatu gedung dapat diturunkan hingga 50%, dengan hanya menambah investasi sebesar 5% saat pembangunannya. ”Dengan hanya menambah 5% dari biaya pembangunan gedung biasa, konsumsi energi gedung dapat diturunkan hingga 50%.” Green Building dibangun dengan perencanaan energi modern. Selain dari sisi desain yang dipertimbangkan untuk meminimalkan masuknya sinar matahari sehingga mengurangi penggunaan beban Air Conditioner (AC), pada atap gedung bisa dipasang panel surya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam gedung. Beberapa sudut pandang dapat dipertimbangkan dalam perencanaan tersebut diantaranya adalah aspek Passive Design, Active Design,

Kondisi Udara Ruangan, Management, serta Service & Maintenance.

Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), Teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.

Gambar 5.2 Salah satu bangunan yang merupakan Top Ten Green Architecture Projects Of 2008

Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Arsitektur berkelanjutan, adalah sebuah topik yang menarik. Akhir-akhir ini semakin banyak diberitakan dan dipromosikan dalam kalangan arsitek, karena arsitek memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam dalam desain-desain bangunannya. Apresiasi yang besar bagi mereka yang turut mempromosikan arsitektur berkelanjutan agar kita lebih bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam yang makin menipis.

Sustainable architecture atau dalam bahasa Indonesianya adalah arsitektur berkelanjutan, adalah sebuah konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya alam telah mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga lambat tetapi pasti, bumi akan semakin kehilangan potensinya untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari berbagai macam eksploitasi sumber daya alam tersebut.

5.2 Konsep Pengembangan Kampus

Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, dihasilkan konsep pengembangan bangunan kampus sebagai berikut :

a. Menjadikan Kampus Pelita Bangsa Sebagai Kampus dengan bangunan berkonsep Arsitektur Green Modern

b. Menjadikan Kampus Pelita Bangsa menjadi bangunan yang mendukung penyerapan polusi disekitar tapak

c. Menjadikan Kampus Pelita Bangsa sebagai pelopor bangunan yang mendekati konsep zero energy

d. Menjadikan Kampus Pelita bangsa sebagai paru-paru Cikarang dengan konsep hijau atau Green Arsitrektur nya

5.2.1 Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan bangunan gedung baru pelita bangsa dirancang untuk menjadikan lahan kampus menjadi hijau atau tidak gersang dengan perpaduan konsep bangunan modern.

Pengunaan Lahan Persentase Luas

Bangunan 30 % 4.110 m2

Parkir dan Fasilitas 30 % 4.110 m2

Ruang Terbuka Hijau 40 % 5.480 m2

Luas Perancangan 100 % 13.700 m2

Tabel 5.1 Penggunaan lahan

5.2.2 Pemanfaatan Lahan

Pemanfaatan Lahan berdasarkan Peraturan daerah Kabupaten Bekasi adalah sebagai berikut :

GSB = 4 m KDB = 60%

KLB = 0.6

Luas Lahan = 1,37 Ha Topografi = Datar Perhitungan.

Total Luas Bangunan = 13.700 m2

Luas Dasar Bangunan (LDB) = 60% x Luas Lahan = 60% x 13.700 m2 = 8220 m2 Luas Lantai Bangunan (LLB) = 1.5 x Luas Lahan = 1.5 x 13.700 m2 = 20.550 m2

Gambar 5.3 GSB Kabupaten Bekasi Sumber : RTRW Kab.Bekasi

5.3 Konsep Perancangan Tapak

Perancangan tapak dilakukan menyesuaikan dan memperhatikan kondisi pada tapak dan potensi – potensi yang dimiliki oleh tapak. Sehingga berdasarkan analisis yang telah disesuaikan dari bentuk dan kondisi tapak. Oleh karena peruntukannya untuk ruang belajar, maka konsep perancangannya mengutamakan kenyamanan pengguna agar betah beraktifitas pada ruang-ruang yang telah dirancang. Dasar konsep tapak perancangan adalah sebagai berikut :

5.3.1 Berdasarkan Konsep

Kotak dengan material concrete dengan pintu dan jendela kaca, dengan salah satu bangunan dilengkapi teknologi solar panel sebagai pemanfaatan energi matahari. Penggunaan solar panel membuat pemanfaataan energi sekitar menjadi lebih efektif. Penggunaan material concrete dengan alasan agar menyatu dengan konsep green arsitektur tapi tetap memberikan kesan modern dan solid pada bangunan. Penggunaan kusen aluminium dan jendela kaca memberi kesan luas dan modern pada bangunan.

Gambar 5.4 Tapak Bangunan Sumber : Analisa 2019

5.3.2 Berdasarkan Topologi Kawasan Tapak

No. Topografi Data

1 Ketinggian Lokasi 0 – 115 meter

2 Kemiringan Lokasi 0 – 250 meter

3 Ketinggia di atas Permukaan Laut 0 – 25 meter

4 Wilayah Pengembangan 16.682 Ha

5 Klasifikasi Wilayah Layak 3.745,04 Ha

6 Area Kurang Layak 104, 71 Ha

7 Wilayah bertekstur tanah halus 15.555,04 Ha 8 Wilayah berkontur sedang 4.755,21 Ha

9 Wilayah bertekstur kasar 221,75 Ha

10 Lahan Stabil 17.220,19 Ha

11 Lahan Kondisi Peka 3.127,02 ha

12 Lahan Kondisi Sangat Peka 184, 79 Ha

Tabel 5.2 Topografi Kabupaten Bekasi Sumber : RTRW Kab.Bekasi

5.3.3 Sirkulasi

Sirkulasi adalah prasarana penghubung vital yang menghubungkan berbagai kegiatan dan penggunaan dalam sebuah tapak. Sirkulasi dapat juga digambarkan sebagai satu-satunya cara seseorang untuk bisa mengalami sepenuhnya tapak dalam tiga dimensi. Pengalaman berbeda-beda saat menelusuri sebuah tapak, dapat diciptakan melalui perubahan-perubahan dalam sistem sirkulasinya. Sistem sirkulasi menggambarkan seluruh pola-pola pergerakan kendaraan, barang, dan pejalan kaki di dalam dan keluar-masuk tapak. Selain itu, sistem sirkulasi dalam tapak juga menghubungkan tapak tersebut dengan jaringan sistem sirkulasi di luar tapak.

Gambar 5.5 Sirkulasi Bangunan Sumber : Analisa 2019

5.4 Konsep Perancangan Bangunan 5.4.1 Bentuk Bangunan

Bentuk bangunan diadaptasi dari bentuk bangunan pada kampus National University Singapore, karena sesuai dengan tapak dan konsep Green Modern.

Material finishing bangunan didominasi material concrete dengan konsep langit – langit yang tinggi agar ruangan dalam tidak panas disebabkan kondisi tapak yang panasnya diatas rata-rata wilayah lainnya.

Keluar / Masuk

Gambar 5.6 Bentuk Bangunan Sumber : Analisa 2019

5.4.2 Massa Bangunan

Massa bangunan memiliki bentuk dasar kotak seperti bangunan pada umumnya, karena konsep utamanya terletak pada sistem bangunan, fasad, dan perancangan lingkungan bangunannya. Masa bangunan bebentuk kotak agar pembagian ruang didalam Gedung lebih efektif.

.

Gambar 5.7 Massa Bangunan Sumber : Analisa 2019

Berdasarkan bentuk masa bangunan tersebut, maka dibagi tingkat daya tampung kelas tiap masa bangunan adalah :

a. Gedung A

Memiliki luas 1550 m2, dan memiliki 4 lantai. Jika total luas dibagi oleh jumlah kelas (berdasarkan Analisa) maka :

1150 ÷ 80 = 19 kelas

19 kelas dikali 4 lantai = 76 kelas

Jadi, Gedung A, dapat memberikan fasilitas 76 kelas.

b. Gedung B (eksisting)

Fasilitas ruang meeting, aula, administrasi, dan kantin dialokasikan pada masa bangunan Gedung B, yang memiliki 6 lantai.

c. Gedung C

Memiliki luas 253 m2. Dan memiliki 2 lantai efektif, Gedung ini difungsikan sebagai ruang studio dan laboratorium praktek.

253 ÷ 80 = 3 ruang studio/lab

3 ruang studio/lab dikali 2 lantai = 6 kelas d. Gedung D

Memiliki luas 272 m2. Dan memiliki 3 lantai. Gedung ini difungsikan sebagai ruang studio, laboratorium, dan perpustakaan

5.4.3 Utilitas Bangunan

a. Sistem Utilitas Supply Air Bersih

Seperti bangunan pada umumnya, bangunan gedung bertingkat yang bersifat vertikal secara struktur maupun jenis bangunan bentang lebar tentunya memerlukan sistem transportasi berupa supplai air bersih yang direncanakan dengan baik sejak awal sehingga dapat mencukupi kebutuhan air di setiap lantainya, sistem supply air pada bangunan tinggi dimulai dari pengambilan air dari sumur maupun dari PDAM/meteran dan dilanjutkan dengan pembuatan penampung air atau biasa disebut dengan Ground Water Tank (GWT) jika diletakkan pada dasar bangunan (Underground) atau tangki yang diletakkan di atas bangunan yaitu berupa penampungan yang berupa bak besar dengan ukuran volume yang disesuaikan dengan kebutuhan air pada

gedung. Kemudian dilanjutkan dengan sistem pemompaan dengan mesin yang memiliki besar daya yang bervariasi sesuai kebutuhan debit pompa yang terdistibusikan melalui sistem perpipaan ke setiap lantai sesuai dengan desain pada titik-titik pengambilan air yang telah direncanakan dalam denah baik untuk keperluan WC misalnya shower, kran wastafel, jacuzzi, kolam renang, kran air bersih, hydran, sprinkler, dsb. Untuk bangunan dengan interval ketinggian yang cukup tinggi biasanya dibuat sistem distribusi air dengan pola pemompaan dua sampai tiga kali sesuai kemampuan daya pompa yang direncanakan yang biasanya dilengkapi dengan sistem penampungan transisi pada daerah dilatasi tersebut, hal ini dikarenakan karena keterbatasan kemampuan pompa untuk menyupplai air pada elevasi gedung yang cukup tinggi sehingga membutuhkan daerah dilatasi/transisi untuk melakukan penampungan ke tingkat berikutnya.

Gambar 5.8 Sistem Utilitas Supply Air Bersih Sumber : Analisa 2019

b. Sistem Utlitas Pembuangan dan Pengelolahan Limbah Cair dan Limbah Padat

Dalam sistem pengelolahan sisa buangan limbah pada bangunan gedung bertingkat tentunya dibutuhkan perencanaan yang baik agar dalam proses distribusi pembuangan saat masa operasionalnya tidak menimbulkan masalah yang serius misalnya masalah klasik yaitu penyumbatan atau kebocoran pada pipa buangan maupun pencemaran terhadap lingkungan disekitarnya. Perencanaan sistem pembuangan limbah pada bangunan gedung bertingkat dimulai dengan pembuatan sistem pengelolahan sisa limbah yang umumnya berasal dari pembuangan dari WC (Floor drain), wastafel cuci tangan atau limbah dapur dan buangan dari kotoran closed toilet yaitu dengan membuat sistem Sewage Treatment Plant (STP) berupa septick tank yang merupakan jenis utilitas modern yang berfungsi tidak hanya dalam menampung melainkan dapat mengelolah sisah limbah agar sisa buangan tersebut aman bagi lingkungan dan dapat pula digunakan kembali/recycle untuk keperluan air untuk operasional penyiraman tanaman. Umumnya konstruksi STP dapat terbuat dari konstruksi beton konvensional maupun yang telah terfabrikasi berupa fiber tank dengan volume dan teknologi pengelolahan limbah yang disesuaikan dengan perencanaan. Untuk bangunan gedung bertingkat seperti apartemen maupun hotel sering juga dilengkapi dengan pembuatan utilitas berupa Waste Shaft - Trash Chute yaitu instalasi berupa pembuangan sampah dengan sistem cerobong/pipa vertikal yang dibuang secara gravitasi di setiap lantai bangunan bertingkat berupa

sampah yang tidak mudah terurai seperti sampah konsumsi sehari-hari berupa plastik, sisah makanan, kertas dsb dan ditampung di lantai dasar bangunan berupa bak penampungan dan kemudian didistribusikan ke truk-truk pembuangan sampah.

Gambar 5.9 Sistem Utlitas Pembuangan dan Pengelolahan Limbah Cair dan Limbah Padat Sumber : Analisa 2019

c. Sistem Utilitas Pencahayaan, Elektrikal dan Mekanikal

Bangunan gedung bertingkat maupun jenis bangunan lainnya sistem pencahayaan merupakan hal yang perlu direncanakan sesuai dengan

peletakan titik-titik pencahayaan yang hendak ditentukan, begitupun dengan sistem elektrikal dan mekanikal suatu bangunan merupakan hal yang perlu direncanakan dengan baik sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas yang diinginkan. Dalam hal ini pencahayaan dapat berupa instalasi pembuatan titik lampu interior maupun exterior dimana seorang srsitek harus pandai dalam penentuan letak titik lampu agar efek pencayahaan yang dihasilkan dapat meyebar secara efektif di setiap ruangan. Sistem pencahayaan juga tidak hanya bergantung pada perangkat lampu saja melainkan dapat berupa pengaturan bukaan pencahayaan alami dari sinar matahari khususnya pada bangunan bertingkat yang membutuhkan banyak lampu tentunya dengan perekayasaan pengaturan cahaya alami di siang hari berupa bukaan setidaknya dapat mereduksi biaya operasional listrik. Disamping itu sistem elektrikal selain pencahayan yaitu berupa instalasi pemasangan stop kontak, saklar lampu, sekring listrik, ground penangkal petir, water heater instalasi, sliding automatic door dsb dimana inputnya berasal dari PLN dan instalasi pemasangan Solar Panel sebagai pendukung sumber listrik pada suatu bangunan gedung bertingkat jika terjadi pemadaman listrik. Pemilihan generator harus sesuai dengan daya yang diinginkan berdasarkan besar energi listrik yang dibutuhkan dalam suatu bangunan.

Gambar 5.11 Sistem Utilitas Pencahayaan, Elektrikal dan Mekanikal Sumber : Analisa 2019

d. Sistem Utilitas Telekomunikasi Gedung

Sistem ini merupakan suatu perangkat instalasi yang berfungsi dalam memberikan kemudahan dalam mengakses informasi baik yang bersifat internal maupun global bagi para penggunanya dalam sistem gedung bertingkat, misalnya instalasi PABX telepon, jaringan WIFI internet, TV Cable, instalasi Fax, sound system/loud speaker dsb

e. Sistem Kemananan gedung

Sistem ini merupakan instalasi yang dibuat pada suatu gedung bertingkat guna memberikan rasa aman bagi pengguna gedung tersebut dari hal-hal yang

tidak diinginkan seperti mengurangi ancaman kriminalitas dan pencegahan terhadap bencana seperti kebakaran dll. Sistem ini dapat berupa instalasi pemasangan CCTV, hydrant, tabung pemadam, Smoke detektor, Exthinguiser, Cencor detector gate, door emergency dsb.

Gambar 5.12 Sistem Kemananan gedung Sumber : Analisa 2019

f. Solar Panel

Total ada 500 unit solar panel yang masing-masing unit berukuran 2 x 1 meter. Tiap unit solar panel dapat mengakomodasi 3 kwh/8 jam. Maka estimasi energi seluruh solar panel dapat menghasilkan listrik kurang lebih

1.500 kWH/8 jam. Dalam Sebulan dapat menghasilkan energi listrik sebesar 135.000 kwh.

Gambar 5.13 Solar Panel

Hasil Desain (Terlampir)

manajemenpendidikantinggi.net/mmpt/index.php/opini/21-opini/175-sejarah-pendidikan-tinggi-di-indonesia

KBBI, 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online] Available at:

http://kbbi.web.id/pusat.

Yulianto Sumalyono, 1991, Arsitektur Modern, penerbit Citra Buana, Surabaya Francis D.K. Ching dan Cassandra Adams, Ilustrasi Konstruksi Bangunan.

Erlangga, Jakarta

D.K. Ching, Francis, 1996, ARCHITECTURE: FORM, SPACE, AND ORDER, New York: John Wiley and Sons, Inc.

D.K.Ching, Francis. 1999. Arsitektur: Bentuk, Ruang dan Susunannya. Cetakan ke-7. Jakarta: Erlangga.

Anonim, 2007, The Architect’s Handbook, Singapore.

Brunner T. Dkk, 2013, Kajian Penerapan Arsitektur Modern pada bangunan Roger‟s Salon, Clinic, Spa and Wellness Center Bandung, Reka Raksa, Vol : 1, No : 2

Brenda & Robert Vale. 1991. Green Architecture Design for Sustainable Future.Thames & Hudson. London.

Perda Kabupaten Bekasi, 2011, RTRW Kabupaten Bekasi

Indonesia. Tersedia:

xa.yimg.com/kq/groups/20983279/1925612647/name/GREENSHIP (diakses pada tanggal 15 Agustus 2019)

ArchDaily, 2019, NUS School of Design & Environment, Tersedia : https://www.archdaily.com/912021/nus-school-of-design-and-environment-serie-architects-plus-multiply-architects-plus-surbana-jurong (diakses pada tanggal 20 Agustus 2019)

Neufert, Ernst, 1994, Data A rsitekjilid 1, Jakarta, Erlangga.

Neufert, Ernst, 1999, Data A rsitekjilid 2, Jakarta, Erlangga.

Neufert, Ernst, 1999, Data A rsitekjilid 3, Jakarta, Erlangga.

NIM : 32121013 PELITA BANGSA

JURUSAN ARSITEKTUR

NIM : 32121013 PELITA BANGSA

JURUSAN ARSITEKTUR

NIM : 32121013 PELITA BANGSA

JURUSAN ARSITEKTUR

NIM : 32121013 PELITA BANGSA

JURUSAN ARSITEKTUR

NIM : 32121013 PELITA BANGSA

JURUSAN ARSITEKTUR

NIM : 32121013 PELITA BANGSA

JURUSAN ARSITEKTUR

NIM : 32121013 PELITA BANGSA

JURUSAN ARSITEKTUR

Dokumen terkait