• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Pertimbangan Putusan Mahkamah Agung No. 1607

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KREDITUR

B. Analisa Pertimbangan Putusan Mahkamah Agung No. 1607

Terdakwa Malinda Dee

Upaya hukum yang diajukan oleh ASF kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas tindakan penyitaan yang dilakukan atas permohonan penyidik dengan mengajukan permohonan pinjam pakai atas barang sitaan yang juga merupakan objek jaminan fidusia berupa 1 (satu) unit mobil Ferrari Scuderia Tipe F430 sampai dengan adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di tolak dengan pertimbangan bahwa mobil tersebut terkait dengan tindak pidana pencucian uang. Alasannya adalah karena mobil tersebut diduga menjadi salah satu bukti kejahatan maka hakim wajib melindungi bukti tersebut.

Permohonan pinjam pakai yang diajukan ASF ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan alasannya karena bahwa barang bukti tersebut bisa kurang aman atau dapat menimbulkan kejahatan lain. Penetapan sita yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap barang bukti berupa 1 (satu) unit mobil Ferrari Scuderia Tipe F430 didasarkan kepada pertimbangan karena uang yang digunakan sebagai DP dan pembayaran angsuran mobil tersebut patut diduga dari hasil kejahatan dan permintaan sita tersebut dimohon diajukan oleh penyidik. Hakim hanya menetapkan saja.79

Penolakan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas permohonan pinjam pakai yang diajukan oleh ASF terhadap mobil Ferrari Scuderia Tipe F430 tersebut pada prinsipnya telah melanggar ketentuan yang terdapat di dalam

79 Wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Ahmad Yunus pada hari Selasa 4 November 2014, pukul 11.00 WIB di ruang kerjanya

Pasal 20 UUJF yang menyebutkan bahwa, “Jaminan fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi obyek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada, kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi obyek jaminan fidusia”.

Bahwa sejak dilakukannya pengikatan jaminan fidusia dan telah didaftarkannya jaminan fidusia tersebut ke kantor pendaftaran fidusia terhadap objek jaminan fidusia yaitu 1 (satu) unit Mobil Ferrari Scuderia Tipe F430 tersebut, maka sejak saat itu telah lahir hak-hak istimewa kreditur yang disebut dengan kreditur preferens.

Berdasarkan asas droit de suite hak suatu kebendaan mengikuti kemanapun benda itu berada atau ditangan siapapun benda tersebut berada. Oleh karena itu dengan terbitnya sertipikat jaminan fidusia yang telah dipegang oleh kreditur maka hak istimewa kreditur pemegang sertipikat jaminan fidusia tersebut telah dilindungi oleh hukum sebagai pihak yang paling berhak dalam melakukan tindakan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia tersebut. Sertipikat jaminan fidusia telah memuat irah-irah DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA yang memiliki makna bahwa sertipikat jaminan fidusia tersebut memiliki kekuatan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memiliki hukum tetap. Oleh karena itu terhadap objek jaminan fidusia yang telah memiliki kekuatan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap tidak dapat dilakukan penyitaan oleh pengadilan, meskipun objek jaminan fidusia tersebut terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh pemberi fidusia.

Memperhatikan penjelasan di atas, dapat dikemukakan patokan penerapan prinsip sita penyesuaian dihubungkan dengan permintaan sita jaminan atau penyitaan

pada umumnya terhadap barang jaminan kredit;

a. Pengadilan atau hakim dilarang mengabulkan dan meletakkan sita jaminan terhadap barang yang diagunkan dan dijaminkan pada waktu yang bersamaan, b. Permohonan sita terhadap barang yang sedang diagunkan harus ditolak, demi

melindungi kepentingan pihak pemegang agunan, yang dapat diberikan pengadilan atas permintaan sita tersebut, hanya sebatas sita penyesuaian (vergelijkende beslag).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa suatu benda yang telah diikat dengan jaminan fidusia sebagai jaminan pelunasan hutang debitur kepada kreditur tidak boleh dilakukan penyitaan baik secara perdata maupun pidana, meskipun ternyata dikemudian hari objek jaminan fidusia tersebut terkait dengan kasus tindak pidana dalam hal ini adalah tindak pidana pencucian uang. Pengikatan jaminan fidusia antara debitur dan kreditur harus dipandang sebagai suatu itikad baik dari kreditur yang tidak mengetahui bahwa objek jaminan fidusia tersebut diperoleh debitur dari perbuatan melawan hukum dengan melakukan tindak pidana pencucian uang. Oleh karena itu kreditur pemegang jaminan fidusia yang beritikad baik wajib dilindungi oleh hukum yang berlaku. Namun demikian bila tindakan debitur dalam melakukan pengikatan jaminan fidusia terhadap kreditur terindikasi merupakan suatu itikad tidak baik untuk menyelamatkan harta bendanya yang diperoleh dari hasil kejahatan, khususnya tindak pidana pencucian uang dari penyitaan yang dilakukan pengadilan, maka benda yang telah diikat dengan jaminan fidusia tersebut dapat saja disita oleh penyidik atas penetapan pengadilan karena merupakan suatu barang bukti

hasil kejahatan yang wajib diamankan oleh pihakyang berwajib.80

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan maupun putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam hal objek jaminan fidusia berupa 1 (satu) unit Mobil Ferrari Scuderia F.430 yang dikembalikan kepada Citibank NA Cabang Landmark dengan ketentuan Citibank NA Cabang Landmark menyelesaikan kewajiban-kewajiban atas barang bukti yang dimaksud pada ASF Cabang Bintaro didasarkan kepada pertimbangan bahwa uang yang digunakan oleh terdakwa Malinda Dee dalam membeli mobil Ferrari tersebut adalah uang nasabah Citigold Citibank NA Cabang Landmark. Oleh karena itu menurut pertimbangan hakim bahwa Mobil Ferrari Scuderia tersebut dikembalikan kepada Citibank NA Cabang Landmark dengan ketentuan Citibank Cabang Landmark wajib menyelesaikan kewajiban-kewajiban atas barang bukti dimaksud kepada PT Astra Sedaya Finance (ASF) Cabang Bintaro selaku kreditur preferens yang telah melakukan pengikatan jaminan fidusia terhadap mobil tersebut.

Putusan tersebut oleh para pihak baik Citibank maupun ASF cukup memenuhi rasa keadilan karena kedua perusahaan tersebut memperoleh kembali hak-haknya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mahkamah Agung dalam putusannya terhadap barang bukti Mobil Ferrari Scuderia F430 sebagai objek jaminan fidusia juga memiliki pertimbangan hukum yang sama dengan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Mobil Ferrari

80 Irsan Nawawi, Penyitaan Dalam Hukum Perdata Dan Hukum Pidana, Pustaka Ilmu, Jakarta, 2007, hal.46.

Scuderia F430 yang masih terikat jaminan fidusia kepada kreditur ASF diperoleh oleh terdakwa Malinda Dee dengan menggunakan uang nasabah Citigold Citibank NA Cabang Landmark dengan cara melawan hukum yang bertentangan dengan Undang-Undang Perbankan No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 dan juga bertentangan dengan Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang serta Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Oleh karena itu maka Mahkamah Agung memandang dalam pertimbangan hukumnya ada 2 (dua) pihak yang dirugikan atas tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh terdakwa Malinda Dee tersebut.

Pihak Pertama adalah Citibank NA Cabang Landmark dimana terdakwa Malinda Dee telah melakukan perbuatan tindak pidana perbankan dan pencucian uang milik nasabah Citigold Citibank dengan melawan hukum dan tanpa hak serta membelanjakan uang tersebut untuk membeli secara kredit 1 (satu) unit mobil Ferrari Scuderia Tipe F430 dari kreditur ASF. Oleh karena itu Mahkamah Agung dalam pertimbangan hukumnya bahwa selain Citibank NA Cabang Landmark yang dirugikan maka pihak kedua yang dirugikan adalah ASF selaku kreditur preferens atas objek jaminan fidusia berupa mobil Ferrari Scuderia tersebut. Oleh karena itu Mahkamah Agung dalam putusannya menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) unit mobil merek Ferrari Tipe F430 Scuderia dikembalikan kepada Citibank NA Cabang Landmark, dengan ketentuan Citibank NA Cabang Landmarka menyelesaikan

kewajiban-kewajiban atas barang bukti dimaksud kepada PT Astra Sedaya Finance Cabang Bintaro.

Penyitaan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas barang bukti mobil Ferrari Tipe F430 Scuderia yang juga merupakan objek jaminan fidusia tersebut dilakukan atas permohonan penyidik pada saat debitur wajib melakukan pembayaran angsurannya pada angsuran kelima dengan jumlah angsuran sebesar Rp 206.896.000 (dua ratus enam juga delapan ratus sembilan puluh enam ribu rupiah). Dengan demikian kewajiban yang dimaksud oleh putusan Mahkamah Agung tersebut adalah kewajiban Citibank dalam melunasi sisa pembayaran angsuran yang seharusnya dibayar oleh debitur kepada kreditur preferens dalam hal ini adalah PT Astra Sedaya Finance (ASF).

Kewajiban pelunasan angsuran mobil Ferrari Tipe F430 Scuderia yang harus diselesaikan oleh Citibank NA Cabang Landmark adalah mulai dari angsuran ke-5 sampai dengan angsuran ke-12 sesuai dengan tenor angsuran yang telah disepakati oleh debitur dan kreditur dalam perjanjian kredit tersebut. Sisa angsuran yang harus dilakukan oleh Citibank kepada ASF adalah Rp 206.896.000 (dua ratus enam juga delapan ratus sembilan puluh enam ribu rupiah) dikali 8 (delapan) bulan sama dengan Rp 1.655.168.000 (satu miliar enam ratus lima puluh lima juta rupiah seratus enam puluh delapan ribu rupiah), dan konsekuensinya adalah apabila Citibank telah melunasi hutang debitur maka mobil Ferrari Tipe F430 Scuderia seri F430 beralih kepemilikan dari kreditur (ASF) kepada Citibank ditandai dengan diberikannya kwitansi tanda bukti pelunasan berikut dokumen yang berkaitan dengan mobil

tersebut oleh ASF kepada Citibank.

Pada prinsipnya bila mengacu pada UUJF No. 42 Tahun 1999, maka putusan pengadilan, baik ditingkat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta maupun Mahkamah Agung, mobil Ferrari Tipe F430 Scuderia yang telah menjadi objek jaminan fidusia antara kreditur (penerima fidusia) dan debitur (terdakwa Malinda Dee) selaku pemberi fidusia maka objek jaminan fidusia tersebut seharusnya dikembalikan kepada ASF selaku kreditu preferens yang memegang hak atas eksekusi objek jaminan fidusia. Namun kenyataanya putusan pengadilan pada semua tingkatan tersebut di atas memutuskan untuk mengembalikan barang bukti berupa 1 (satu) mobil Ferrari Tipe F430 tersebut kepada Citybank Cabang Landmark sebagai pihak yang telah dirugikan oleh terdakwa Malinda Dee karena, pembelian secara angsuran mobil tersebut menggunakan uang nasabah Citigold Citibank NA Cabang Landmark dengan melawan hukum. Penggunaan dana nasabah Citigold Citibank NA Cabang Landmark tersebut mengakibatkan terjadinya kerugian pada Citibank sebagai lembaga keuangan. Oleh karena itu majelis hakim pada semua tingkatan pengadilan dalam pertimbangan hukumnya memandang bahwa mobil Ferrari Tipe F430 Scuderia tersebut dibeli dari uang nasabah Citigold Citibank yang juga merupakan aset dari Citibank, dikembalikan kepada pihak Citibank.

Namun dalam pertimbangan hukumnya Mahkamah Agung juga mempertimbangkan bahwa barang bukti berupa mobil Ferrari Tipe F430 Scuderia tersebut telah diikat dengan jaminan fidusia oleh terdawa Malinda Dee dengan pihak ASF selaku kreditur pemegang sertipikat jaminan fidusia. Oleh karena itu Mahkamah

Agung menghormati perjanjian pengikatan jaminan fidusia tersebut karena kreditur preferens dalam hal ini yaitu ASF dilindungi hak-haknya oleh UUJF No. 42 Tahun 1999. Oleh karena itu Mahkamah Agung memutuskan bahwa hak-hak kreditur preferens yaitu ASF patut dilidungi oleh hukum dan mewajibkan Citibank untuk menyelesaikan kewajiban-kewajibannya kepada ASF dalam hal pelunasan sisa hutang dari terdakwa Malinda Dee kepada ASF.

Selama berlangsungnya proses hukum litigasi di pengadilan baik Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung maka barang bukti berupa mobil Ferrari Tipe F430 Scuderia tetap berada dalam sitaan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas permohonan penyitaan yang diajukan oleh penyidik dan dikabulkan oleh Hakim. Pada prinsipnya setiap benda bergerak maupun tidak bergerak yang telah dijadikan objek jaminan baik fidusia maupun hak tanggungan seharusnya tidak dapat dikenakan penyitaan, karena objek yang telah diikat dengan jaminan fidusia maupun hak tanggungan tersebut telah memiliki kekuatan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Hal ini dibuktikan dengan adanya irah-irah DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Dengan demikian dapat dikatakan sertipikat jaminan fidusia yang telah dipegang oleh kreditur preferens ASF merupakan hak mutlak bagi kreditur tersebut untuk melaksanakan tindakan hukum eksekusi apabila debitur wanprestasi dalam melunasi hutangnya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kriteria penilaian yang dilakukan oleh kreditur terhadap debitur yang dinilai layak dalam suatu perjanjian kredit mobil yang diikat dengan jaminan fidusia pada PT Astra Sedaya Finance adalah apabila debitur tersebut telah dinyatakan lolos dalam hal kelengkapan persyaratan administrasi sebagaimana ditetapkan oleh PT ASF. Di samping itu debitur juga harus lulus pensurveian lapangan yang dilakukan oleh petugas survei dari ASF dengan menggunakan metode 4P dan 5C, dimana hal-hal yang menyangkut kepribadian, karakter, prospek usaha/pekerjaan kemampuan membayar, kondisi rumah/tempat usaha dan itikad baik debitur dalam melaksanakan kewajiban pembayaran hutangnya apabila pelaksanaan perjanjian pembiayaan konsumen telah berlangsung.

2. Status hukum objek jaminan fidusia berupa mobil Ferari Scuderia type F430 yang dibeli secara kredit oleh debitur / pemberi fidusia / terdakwa / Inong Malinda Dee dari PT ASF beralih sementara penguasaannya kepada negara sebagai barang bukti tindak pidana pencucian uang. Objek jaminan fidusia tersebut pada akhirnya dikembalikan kepada Citibank sebagai pihak yang dirugikan atas tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh Malinda Dee melalui suatu putusan pengadilan (Mahkamah Agung) yang telah berkekuatan hukum tetap yakni putusan Mahkamah Agung No. 1607/K/PID.SUS/2012. Pihak

Citibank yang telah menerima objek jaminan fidusia tersebut wajib melunasi semua hutang yang tersisa dari pemberi fidusia / terdakwa Malinda Dee kepada PT ASF sebagai kreditur preferen pemegang sertifikat jaminan fidusia.

3. Kreditur penerima jaminan fidusia sebagai kreditur preferen memiliki hak untuk mempertahankan objek jaminan fidusia berupa mobil Ferari Scuderia type F430 yang telah disita oleh pengadilan sebagai barang bukti berdasarkan asas droit de suite dan droit de preference yang dianut oleh Undang-Undang Jaminan Fidusia, dan juga berhak mengajukan verzet (perlawanan) ke pengadilan berkaitan dengan penyitaan objek jaminan fidusia yang dilakukan melalui putusan pengadilan tersebut, karena objek jaminan fidusia tersebut telah menjadi kewenangan penuh dari kreditur pemegang jaminan fidusia apabila debitur pemberi fidusia telah dinyatakan wanprestasi (ingkar janji) dalam melaksanakan pemenuhan kewajiban pembayaran hutangnya.

B. Saran

1. Hendaknya ASF dalam pelaksanaan pensurveian terhadap calon debitur yang akan melakukan pembelian secara angsuran terhadap mobil lebih bersikap selektif dalam melakukan pensurveian khususnya terhadap sumber dana dari debitur yang dinilai tidak wajar jumlah penghasilannya dilihat dari pekerjaannya, khususnya untuk pembelian kredit mobil-mobil mewah dengan harga yang cukup mahal dan juga wajib melaporkan ke PPATK apabila terjadi transaksi dengan nilai sebesar Rp 500.000.000 ke atas sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh

undang-undang. Hal ini dimaksudkan agar ASF terhindar dari peristiwa hukum yang dapat merugikan perusahaan tersebut.

2. Hendaknya pengadilan dalam melakukan penyitaan terhadap objek jaminan fidusia yang debiturnya terkait dengan tindak pidana pencucian uang tidak mengabaikan dan merugikan hak-hak kreditur sebagai pemegang sertipikat jaminan fidusia dan sebagai kreditur yang memiliki hak didahulukan (kreditur preferen). Pengadilan selayaknya memberikan perlindungan hukum kepada kreditur pemegang sertipikat jaminan fidusia yang melakukan pengikatan jaminan fidusia dengan itikad baik.

3. Institusi pengadilan yang menangani perkara pidana yang menyangkut benda yang telah dijadikan objek jaminan hutang khususnya jaminan fidusia hendaknya tetap konsisten dalam memberikan perlindungan hukum kepada kreditur pemegang sertipikat jaminan fidusia yang merupakan kreditur preferen karena objek jaminan fidusia tersebut merupakan jaminan yang diberikan oleh debitur pemberi fidusia kepada kreditur penerima jaminan fidusia apabila debitur tidak mampu atau wanprestasi (ingkar janji) dalam melaksanakan kewajibannya dalam hal pelunasan pembayaran hutangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Ali, Achmad, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofi dan Sosiologi), Citra Aditya Bakti, Bandung. 1996

Ali, Zainudin, Metode Penelitian Induktif dan Deduktif dalam Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2010

Anwar, Riswanto, Asas Keseimbangan dalam Suatu Perjanjian Timbal Balik, Citra Ilmu, Jakarta, 2012

Ashshofa, Burhan, Metode Penelitian Hukum, Rienika Cipta, Jakarta, 2008

Asyhadie, Zaeni, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005

Badrulzaman, Mariam Darus, Bab Tentang Kredit Verband, Gadai & Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991

__________________________, KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan dan Penjelasannya, Bandung, Alumni, 1993

__________________________, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001

Darwanto, Faisal, Sekilas Tentang Perjanjian Sewa Beli Sebagai Perjanjian Tak HBernama, Rajawali Press, Jakarta, 2006

Djasman, Muktar, Perusahaan Pembiayaan dan Perjanjian Sewa Beli, Mitra Ilmu, Surabaya, 2009

Erawaty, AF. Elly dan Badudu, J.S., Kamus Hukum Ekonomi Komponen Pengembangan Hukum Ekonomi, Proyek ELIPS, Jakarta, 1996

Fuady, Munir, Hukum Kontrak, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999 ____________,Jaminan Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000 Hadi, Sutrisno, Metodologi Riset, ANDI, Yogyakarta, 2000

Harahap, M. Yahya, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni Bandung, 1996

Hermanto, Bambang, Akta Pembebanan Jaminan Fidusia Sebagai Akta Autentik Notaril, Bina Ilmu, Surabaya, 2011

Hoey, Tiong Oey, Fudusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2006

HS, Salim, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2005

___________, Perkembangan Hukum Kontrak Diluar KUH Perdata, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006

__________, Hukum Perjanjian Nominaat dan In Nominaat, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2008

__________, Perkembangan Hukum Kontrak Diluar KUP Perdata, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008

Hutagalung, Arie S, Analisis Yuridis Mengenai Pemperian Dan Pendaftaran Jaminan Fidusia, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003

Ibrahim, Johannes, Mengupas Tuntas Kredit Komersial dan Konsumtif Dalam Perjanjian Kredit Bank (Perspektif Hukum dan Ekonomi), Mandar Maju, Bandung, 2004

Imaniyati, Neni Sri, Hukum Bisnis Telaah Tentang Pelaku dan Kegiatan Ekonomi, Grafika Ilmu, Yogyakarta, 2009

Jenie, Siti Ismijati, Beberapa Perjanjian Yang Berkenaan Dengan Kegiatan Pembiayaan, Bahan Penataran Dosen Hukum Perdata, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1996

Kansil, CST., Pokok-pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia, Aksara Baru, Jakarta, 1999

Kamello, Tan, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan yang Didambakan, Alumni, Bandung, 2007

Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, PT. Raja Grafinso Persada, Jakarta, 2001

Khoidin, M., Problematika Eksekusi Sertifikat Hak Tanggungan, Laksbang Pressindo, Yogyakarta, 2005

Marpaung, Charles D., Pemahaman Mendasar Usaha Leasing, Interpres, Jakarta, 2004

Margono, Budiman, Hak-hak Istimewa Kreditur Preferen Dalam UUHT Nomor 4 Tahun 1996, Eressco, Bandung, 2009

Marzuki, Rachmad, Tata Cara Pemberian Hak Tanggungan Dalam Teori dan Praktek, Bumi Aksara, Bandung, 2002

Molloeng, Lexy, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1993

Muhammad, Abdul Kadir, Hukum Perjanjian, Alumni Bandung, 1994

Muhammad, Abdul Kadir dan Murniati, Rilda, Segi Hukum Lembaga Keuangan dan Pembiayaan,Citra Aditya Bakti Bandung, 2000

_____________, Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004

Muljadi, Kartono, Perbuatan Melawan Hukum Dalam KUHPerdata, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2007

Mulyadi, Kartini dan Widjaja, Gunawan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Grafindo Persada, Jakarta, 2003

Musnawar, Ramlan, Eksekusi Objek Hak Tanggungan Pelaksanaan dan Hambatannya dalam Praktek, Mandar Maju, Bandung, 2006

Nasution, Bahder Johan, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2011

Patrik, Purwahid dan Kashadi, Hukum Jaminan Edisi Refisi dengan UUHT, Fakultas Hukum UNDIP, Semarang, 2001

Pramana, Adtya, Perlindungan Hukum Terhadap Kreditur Pemegang Hak Tanggungan, Mitra Ilmu, Surabaya, 2006

Prodjodikoro, Wirjono, Hukum Perdata Mengenai Persetujuan Tertentu, Sumur Bandung, 1981.

Rajagukguk, Erman, Beberapa Pemikiran Bagi Penyusunan Aturan Hukum Modal Ventura, Makalah disampaikan dalam Seminar Aspek-aspek Hukum Modal Ventura di Indonesia, Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 30 Nopember – 2 Desember 1992, 1992

Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir dari Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995

________ Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002

Sembiring, Sentosa, Hukum Dagang, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001

Setyowati, Anna Maria Wahyu, Tinjauan Yuridis Peranan Lembaga Modal Ventura Bagi Pengusaha Kecil Menengah, Projustitia Tahun XVI No. 2 April 1998 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, PT, Grasindo, Jakarta, 2000 Sibarani, Bachtiar, Pertanggungjawaban Perdata Dalam Perbuatan Melawan

Hukum, Rajawali, Jakarta, 2006

Sinamo, Nomensen, Metode Penelitian Hukum dalam Teori dan Praktek, Bumi Intitama Sejahtera, 2010

Situmorang, Victor M. dan Sitanggang, Cormentyna, Grose Akta dalam pembuktian dan Eksekusi, Rineka Cipta, Jakarta, 1993

Sjahdeini, Sutan Reny, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit di Indonesia, Institut Bankir Indonesiai¸Jakarta, 1993

Slamat, Dahlan, Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Kedua, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2001

Soeroso, R., Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta. 2008

Sofyan, Sri Soedewi Masjoen, Hukum dan Jaminan Perorangan, Liberty, Yogyakarta, 1995

Sulistiyono, Adi dan Rustamaji, Muhammad, Hukum Ekonomi Sebagai Panglima, Mas Media Buana Pustaka, Sidoarjo, 2009

Supomo, R., Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita, Jakarta, 2005

Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Alfabeta, Bandung, 2004 Sunaryo, Hukum Lembaga Pembiayaan, Sinar Grafika, Jakarta, 2008

Suryatin, Hukum Dagang I dan II, Pradnya Paramita, Jakarta, 2002 Suryodiningrat, RM., Asas-asas Hukum Perikatan, Bandung, 1985

Tiong, Oey Hoey, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-unsur Periakatan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984

Widjaja, Gunawan & Yani, Ahmad, Jaminan Fidusia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000

_______________________, Jaminan Fidusia, Raja Grafindo Persada, Bandung, 2009

Undang-Undang

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Korupsi

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata KUH Perdata)

Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 Tentang Lembaga Pembiayaan

Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 34/KP/II/80 Tentang Perijinan Sewa Beli

Internet