• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori dan Teoritis

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori dan Teoritis

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat teori, thesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi dasar perbandingan, pegangan teoritis.10 Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan pedoman/ petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.11

Suatu undang-undang harus memberikan keadaan yang sama kepada semua pihak dan juga memberikan perlindungan hukum yang seimbang, walaupun terdapat

10M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994. hal. 80

11 Lexy Molloeng, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1993.

hal. 35

perbedaan-perbedaan diantara pribadi-pribadi tersebut. Semua orang bersamaan kedudukannya dan harus diperlakukan sama di depan undang-undang, apabila terjadi perbedaan perlakuan hukum diantara orang-orang maka tujuan undang-undang untuk memberikan keadilan, perlindungan hukum bagi semua orang. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori kepemilikan barang/benda. Menurut teori hak kepemilikan terhadap suatu benda hak milik atas suatu benda mengikuti kemanapun atau ditangan siapapun benda itu berada. Teori kepemilikan benda/barang ini dikenal dengan istilah droit de suit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hak kepemilikan dari suatu benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tetap melekat berada di tangan pemiliknya (pemberi fidusia) sebagai kreditur sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, meskipun benda tersebut tidak berada di tangan pemiliknya bahkan sekalipun benda/barang tersebut berada ditangan orang lain. Oleh karena itu pemilik barang/benda yang sah tersebut perlu memperoleh perlindungan hukum agar hak-haknya tidak dirugikan karena perlakuan yang tidak adil dari pihak yang menguasai barang atau benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tersebut.

Hadjon perlindungan hukum meliputi 2 (dua) jenis bagi masyarakat yaitu :12

1. Perlindungan preventif dimana para pihak diberikan kesempatan mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum akta perikatan ditandatangani dihadapan notaris. Hal ini dimaksudkan untuk membuat akta perikatan tersebut benar-benar mencerminkan suatu keadaan yang seimbang dan proporsional serta

12R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta. 2008. hal.57

memberikan perlindungan hukum kepada para pihak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya setelah akta perikatan jual beli tersebut ditandatangani.

2. Perlindungan hukum represif dimana perlindungan hukum tersebut ditujukan untuk melakukan penyelesaian terhadap sengketa yang terjadi diantara para pihak dalam pelaksanaan perjanjian perikatan jual beli tersebut.

Prinsip penyelesaian sengketa diutamakan dengan jalan musyawarah mufakat sedangkan jalur litigasi merupakan suatu sarana terakhir (ultimum remedium).

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini menyangkut perlindungan hukum terhadap kreditur pemegang hak fidusia terhadap objek jaminan yang menjadi sitaan pengadilan karena kasus tindak pidana pencucian uang.13

Dalam perjanjian kredit konsumen untuk produk mobil dengan sistem perjanjian sewa beli, mobil sebagai objek jaminan fidusia masih merupakan milik dari perusahaan pemberi kredit (kreditur) sampai debitur (konsumen penerima kredit) melunasi seluruh angsuran yang telah diperjanjikan dalam perjanjian sewa beli mobil tersebut. Setelah harga keseluruhan dari mobil tersebut dibayar lunas debitur (penerima kredit) maka terjadilah momentum peralihan hak kepemilikan dari kreditur (pemberi kredit) kepada debitur (penerima kredit) dengan ditandai pemberian kwitansi tanda pelunasan, dokumen-dokumen yang terkait dengan mobil tersebut dari kreditur kepada debitur.

13Riswanto Anwar, Asas Keseimbangan dalam Suatu Perjanjian Timbal Balik, Citra Ilmu, Jakarta, 2012, hal.7

Dalam penelitian ini pembahasan difokuskan pada perjanjian kredit barang berupa mobil antara perusahaan pembiayaan sebagai kreditur dan konsumen sebagai debitur. Perjanjian kredit terhadap perusahaan pembiayaan lazim disebut dengan perjanjian jual beli secara angsuran (perjanjian sewa beli) terhadap suatu barang atau produk yang dibutuhkan oleh konsumen tersebut. Proses pemberian kredit antara perusahaan pembiayaan sebagai kreditur dan konsumen sebagai debitur dilakukan dengan cara perusahaan pembiayaan mengambil barang ke toko / dealer yang menyediakan barang tersebut dan membayar lunas kepada toko / dealer tersebut harga barang yang dibutuhkan oleh konsumen tersebut. Selanjutnya perusahaan pembiayaan menyerahkan secara kepercayaan (fidusia) kepada konsumen yang membutuhkan barang tersebut dengan suatu perjanjian tertulis yang disebut dengan perjanjian sewa beli secara angsuran.

Perjanjian sewa beli secara angsuran adalah suatu perjanjian yang mengandung makna bahwa barang telah diserahkan kepada konsumen meskipun harga barang tersebut belum dibayar lunas oleh konsumen tersebut. Namun hak kepemilikan atas barang yang telah diserahkan oleh perusahaan pembiayaan selaku kreditur kepada konsumen selaku debitur masih tetap berada ditangan kreditur hingga harga barang tersebut dibayar lunas secara keseluruhan oleh konsumen. Momentum peralihan hak kepemilikan atas barang dari kreditur kepada debitur dalam suatu perjanjian sewa beli secara angsuran adalah dengan diberikannya kuitansi pelunasan harga barang secara keseluruhan oleh perusahaan pembiayaan selaku kreditur kepada konsumen selaku debitur.

Perusahaan pembiayaan diatur di dalam Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 61 Tahun 1988 tentang lembaga pembiayaan, yang menyatakan bahwa “salah satu bentuk bidang usaha lembaga pembiayaan adalah pembiayaan konsumen (consumer finance)”. Adapun yang dimaksud dengan pembiayaan konsumen menurut Pasal 1 ayat (6) Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 juncto pasal 1 huruf (P) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 125.1/KMK/013/1988 adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk dana untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran/cicilan atau pembayaran berkala oleh konsumen.

Unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian pembiayaan konsumen adalah sebagai berikut14

1. Subjek adalah pihak-pihak yang terkait dalam hubungan hukum pembiayaan konsumen, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen (kreditur), konsumen (debitur) dan penyedia barang (pemasok, supplier).

2. Objek adalah barang bergerak keperluan konsumen yang akan dipakai untuk keperluan hidup atau keperluan rumah tangga, misalnya televisi, kulkas, mesin cuci, alat-alat dapur, perabot rumah tangga, kendaraan bermotor (mobil) dan lain-lain.

14 Abdul Kadir Muhammad dan Rilda Murniati. Segi Hukum Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, Citra Aditya Bakti Bandung, 2000, hal.35.

3. Perjanjian yaitu perbuatan persetujuan pembiayaan yang diadakan antara perusahaan pembiayaan konsumen, serta jual beli antara supplier dan perusahaan pembiayaan. Perjanjian ini didukung oleh dokumen-dokumen.

4. Hubungan hak dan kewajiban, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen wajib membiayai harga pembelian barang yang diperlukan konsumen dan membayarnya secara tunai kepada supplier. Konsumen wajib membayar secara angsuran/cicilan kepada perusahaan pembayaran konsumen, dan supplier wajib menyerahkan barang kepada konsumen.

5. Jaminan yaitu terdiri atas jaminan utama, jaminan pokok dan jaminan tambahan.

Jaminan utama berupa kepercayaan terhadap konsumen (debitur) bahwa konsumen dapat dipercaya untuk membayar angsuran sampai selesai (lunas).

Jaminan pokok secara Fidusia berupa barang yang dibiayai oleh perusahaan pembiayaan konsumen dimana semua dokumen kepemilikan barang dikuasai oleh perusahaan pembiayaan konsumen (Fiduciary Transfer of Ownership) sampai angsuran terakhir dilunasi. Adapun jaminan tambahan berupa pengakuan utang (Promissary notes) dari konsumen.

Dasar hukum perjanjian sewa beli adalah Pasal 1 huruf a Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 34/KP/II/80 tentang Perizinan sewa beli (hire purchase), jual beli dengan angsuran, dan sewa (renting) disebutkan bahwa sewa beli adalah :

“Jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan atas harga yang telah disepakati bersama dan diikat dalam

suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli setelah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual”.

Unsur atau elemen perjanjian sewa beli menurut Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 34/KP/II/80 tentang perizinan sewa beli tersebut adalah :

1. Adanya jual beli barang,

2. Penjualan dengan memperhitungkan setiap pembayaran, 3. Objek sewa beli diserahkan kepada pembeli,

4. Momentum peralihan hak milik setelah pelunasan angsuran/cicilan terakhir.15 Di dalam perjanjian sewa beli maka penerima sewa beli yang merupakan debitur melakukan pembayaran angsuran terhadap benda yang disewa belinya. Dalam hal ini selama masa angsuran berjalan dan pembayaran angsuran belum lunas, kedudukan penerima sewa beli adalah sebagai penyewa. Hak kepemilikan dari benda sewa beli tersebut masih berada di tangan pemberi sewa beli (kreditur). Penerima sewa beli dianggap sebagai penyewa dari barang yang disewa belinya sampai pembayaran angsuran dibayar lunas oleh penerima sewa beli. Peralihan hak kepemilikan dari pemberi sewa beli kepada penerima sewa beli terjadi saat pembayaran angsuran terakhir dibayar oleh penerima sewa beli dan pemberi sewa beli memberikan kuitansi tanda lunas terhadap barang yang disewa beli tersebut, maka sejak saat itu status kepemilikan barang sewa beli telah beralih kepada penerima sewa beli yang juga disebut dengan pembeli sedangkan pemberi sewa beli

15Salim HS, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hal 29.

pada saat angsuran barang sewa beli tersebut telah lunas maka kedudukannya berubah menjadi penjual.

Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa sewa beli adalah “Pokoknya persetujuan dinamakan sewa menyewa barang, dengan akibat bahwa si penerima tidak menjadi pemilik, melainkan pemakai belaka. Baru setelah uang sewa dibayar lunas sesuai harga pembeli, yang ditandai dengan berakhirnya kepemilikan atas barang tersebut menjadi pemiliknya.16Definisi Wirjono Prodjodikoro tersebut di atas mengonstruksikan sewa beli sama dengan perjanjian sewa-menyewa barang. Artinya bahwa si pembeli hanya sebagai pemakai belaka, tetapi apabila pembayaran telah dilakukan lunas sebesar harga pembelian barang tersebut, maka sipenyewa berakhir menjadi pembeli.

R. Soebekti berpendapat bahwa sewa beli lebih mendekati jual beli daripada sewa menyewa. Hal ini disebabkan karena sejak terjadinya kesepakatan barang tersebut belum dibayar seluruhnya oleh pembeli.17 Dalam perjanjian sewa beli, barang yang menjadi objek sewa beli tidak dapat dipindahtangankan atau dialihkan kepemilikannya oleh pembeli sewa kepada pihak lain sampai dilakukannya pelunasan harga barang tersebut oleh pembeli sewa secara keseluruhan. Apabila barang yang menjadi objek sewa beli itu dialihkan atau dipindah tangankan hak kepemilikannya oleh pembeli sewa kepada pihak lain meskipun harga barang tersebut belum dibayar

16Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata Mengenai Persetujuan Tertentu, Sumur Bandung, 1981, hal 65.

17R. Soebekti, Aneka Perjanjian, Alumni Bandung, 1985, hal 26.

lunas oleh pembeli sewa, maka perbuatan pembeli sewa tersebut dapat digolongkan pada perbuatan penggelapan barang.18

Pasal 1 butir 2 UUJF No. 42 Tahun 1999 menyebutkan bahwa “hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditur lainnya.”

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka unsur-unsur fidusia dalam upaya pemberian hak jaminan kepada kreditur bertujuan :

1. Sebagai agunan

2. Untuk kepentingan pelunasan tertentu

3. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lain dari pelunasan atau kewajiban debitur (pemberi Jaminan Fidusia).

Menurut ketentuan yang terdapat dalam Pasal 24 UUJF No. 42 Tahun 1999 menyebutkan bahwa, “Penerima fidusia tidak menanggung kewajiban atas akibat tindakan atau kelalaian pemberi fidusia baik yang timbul dari hubungan kontraktual atau yang timbul dari perbuatan melanggar hukum sehubungan dengan penggunaan dan pengalihan benda yang menjadi objek jaminan fidusia”. Dari ketentuan Pasal 24 UUJF No. 42 Tahun 1999 tersebut di atas dapat dikatakan bahwa penerima fidusia

18M. Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni Bandung, 1986, hal 16.

tidak menanggung akibat atas perbuatan melanggar hukum dari pemberi fidusia terhadap objek jaminan fidusia tersebut. Apabila ternyata dikemudian hari objek jaminan fidusia yang diberikan oleh pemberi fidusia diperoleh dengan melanggar ketentuan hukum pidana maka penerima fidusia tidak ikut menanggung akibat apabila objek jaminan fidusia tersebut dirampas / disita oleh negara.

Permasalahan yang timbul adalah bagaimana kedudukan hukum objek jaminan fidusia yang telah disita tersebut dan bagaimana pula perlindungan hukum terhadap perusahaan pembiayaan selaku kreditur dimana objek jaminan fidusia yang telah dirampas / disita oleh negara melalui putusan pengadilan tersebut yang masih merupakan milik kreditur. Perampasan/penyitaan mobil yang merupakan objek jaminan fidusia sekaligus juga merupakan objek perjanjian sewa beli yang belum lunas pembayarannya oleh konsumen tersebut sangat merugikan pihak perusahaan pembiayaan selaku kreditur karena objek jaminan fidusia yang disita oleh negara melalui putusan pengadilan tersebut bukan merupakan milik konsumen selaku pelaku tindak pidana pencucian uang.

2. Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut dengan operational defenition.19 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran

19Sutan Reny Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit di Indonesia, Institut Bankir Indonesiai¸Jakarta, 1993, hal. 10

mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan beberapa konsep dasar, agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu :

1. Perlindungan hukum kreditur adalah segala upaya yang ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada kreditur pemegang jaminan fidusia atas objek jaminan fidusia yang disita oleh negara (pengadilan) karena terkait kasus tindak pidana pencucian uang.

2. Pemberi fidusia adalah perseorangan selaku debitur yang membeli secara angsuran berupa mobil yang telah diikat dengan jaminan fidusia oleh kreditur.

3. Pemegang hak fidusia adalah kreditur perusahaan berbadan hukum yang memiliki tagihan piutang kepada debitur dalam suatu perjanjian kredit mobil dengan sistem sewa beli.

4. Objek jaminan fidusia adalah benda bergerak berupa mobil yang telah diikat dengan jaminan fidusia melalui suatu akta otentik notariil dan telah didaftarkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Perjanjian pengikatan jaminan fidusia adalah suatu perjanjian pengikatan barang bergerak berupa mobil sebagai objek jaminan fidusia yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan dengan menggunakan akta notaris dimana pemberi fidusia adalah konsumen selaku debitur dan penerima fidusia adalah perusahaan pembiayaan selaku kreditur dengan tujuan sebagai jaminan hutang

dan jaminan pelunasan hutang debitur apabila debitur tak mampu membayar hutangnya.

6. Akta Jaminan Fidusia adalah akta Notaris yang berisikan pemberian Jaminan Fidusia kepada kreditur tertentu sebagai jaminan untuk pelunasan piutangnya.

7. Penyitaan adalah suatu penyitaan objek jaminan fidusia oleh negara melalui suatu putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena terkait dengan kasus tindak pidana pencucian uang.

8. Jaminan yang menjadi sitaan adalah objek jaminan fidusia berupa 1 (satu) unit mobil jenis Ferrari Scuderia yang disita oleh negara melalui putusan pengadilan karena dana pembeliannya terkait dengan kasus tindak pidana pencucian uang.