• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Potensi Konflik dan Pembangunan Perdamaian

Dalam dokumen Pemetaan Konflik Sosial di Aceh Tengah (Halaman 33-39)

PEM ETAAN DAERAH RAWAN KON FLIK SOSIAL

5.3. Analisa Potensi Konflik dan Pembangunan Perdamaian

Salah satu potensi konflik yang tetap muncul d i kabupaten Aceh Tengah yaitu potensi konflik yang terkait dengan politik; baik dalam konteks pemilu maupun dalam konteks politik hukum dan pembangunan. Potensi konflik dalam konteks pemilu karena pendidikan politik warga masih rendah, patron- klien terhadap tokoh masih kuat serta isu SARA yang dijadikan sebagai modal untuk mobilisasi massa juga masih “seksi” untuk digunakan oleh p ara politisi.

Isu SARA ini khususnya terkait d eng an isu etnis, adat dan ras. Dimana suku, etnis dan ras Gayo akan mud ah dijadikan seb agai “alat”

untuk membangkitkan rasa “nasionalisasi” kesukuan terhadap kebijakan-kebijakan po litik pemerintahan Aceh yang diang gap mendiskreditkan dan memarg inalkan kesukuan gayo . Sehingga isu SARA ini dapat menjadi senjata untuk melahirkan kembali konflik politik, khususnya untuk terus memperjuangkan berdirinya p rovinsi ALA (Aceh Leuser Antara).

Disisi lain, kelompok-kelompok PETA yang umumnya berasal dari entis Jawa juga menjadi bag ian dari potensi konflik dimasa yang akan datang. Hal ini tidak terlepas dari aksi- aksi PETA yang selama ini masih mengalami post- trautic syndro me, yaitu kondisi yang menganggap bahwa Aceh masih seperti ko nflik dulu. Kond isi ini tercermin dari masih terpeliharanya sikap- sikap eksklusifisme, premanisme serta sikap- sikap nasio nalisme sempit yang diperlihatkan o leh b eberapa to koh dari PETA. Disamp ing itu juga sikap resistensi kelompo k ini terhadap isu- isu bendera Aceh dan Wali Nanggroe yang merupakan bag ian dari ko nsesi perdamaian Aceh.

Kasus Atu Lintang pada tahun 2008 silam juga menunjukkan bahwa kelompok ini masih memiliki sejumlah senjata api, yang pad a masa konflik memang dipersenjatai oleh TNI/ Po lri sebagai bag ian dari upaya melawan kelompok pemberontak GAM . M ereka p ada saat konflik sering disebut sebagai kelompo k milisi atau pam swakarsa, d imana beberapa elit warga direkrut untuk membantu operasi- operasi anti- saparatisme GAM . Kelompok ini p asca M o U Helsinki tetap mempunyai hubungan dekat dengan TNI/ Polri, dan saat ini terdaftar sebagai organisasi masyarakat di kesb angpol dan Linmas kabupaten Aceh Tengah.

M erujuk pada kond isi demikian, d imana potensi konflik “laten” tetap akan terjad i di kabupaten Aceh Tengah, maka diperlukan upaya pembangunan yang b erkelanjutan. Upaya pembangunan ini tidak saja menjadi tugas pemerintah daerah kabupaten Aceh Tengah, melainkan juga pemerintah pro vinsi dan pusat serta seluruh stakeholders termasuk instansi TNI/ Po lri, dan lainnya.

Salah satu upaya pembangunan perdamaian yang dilakukan selama ini di kabupaten Aceh Teng ah menunjukkan b ahwa peran semua stakeholders telah berjalan dengan baik. Dalam beberap kasus misalnya, seperti kasus tawuran antara kelompok PETA dengan kelompok massa PA, pemerintah daerah bersama dengan TNI/ Po lri serta tokoh masyarakat mengajak semua pihak dan elit yang terlibat dalam kasus tawuran politik tersebut untuk d uduk bermusyawarah, berd amai sesuai dengan kebijaksanaan lo kal. Pola ini kemudian mewujudkan perdamaian dan semua p ihak dapat menahan diri serta tid ak melakukan berbagai kerusuhan lagi. Akan tetapi, pihak kepolisian sebagai penegak hukum tetap memp roses pelaku d ikemudian hari yang terlib at d ari aksi

pengrusakan dan pembakaran fasilitas baik fasilitas milik PA maupun fasilitas koperasi milik Ir. Tagore Abu Bakar.

Pun begitu dalam ko nteks konflik agama khususnya terkait dengan intimidasi dan pelemparan b atu oleh warga di kecamatan Lut Tawar terhadap sekolompok orang yang melakukan ajaran tariqat Nahsyabandiah d iselesaikan melalui musyawarah dan mufakat. Semua pihak menyadari bahwa ada kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan oleh masing- masing dan saling meminta maaf.

Sementara dalam kasus konflik lahan terutama terkait dengan pembangunan PLTA di kecamatan Silih Nara, juga diselesaikan melalui non- judicial yaitu melalui musyawarah. Pihak PLTA berjanji akan membayar ganti rugi terhadap kerugian yang dialami oleh warga karena dampak dari pembangunan PLTA, namun proses pembayaran ganti rugi dilakukan dengan kegiatan CSR, tidak dilakukan langsung per- individu. Hal ini diseb abkan bahwa kerugian yang dialami o leh warga juga tidak lang sung, karena faktor lainnya seperti genangan air yang menyebab kan warga tidak dap at berco co k tanam.

Sedangkan dalam kasus pembunuhan di Atu Lintang yang terjadi pad a tahun 2008, para pelaku d iproses sesuai dengan hukum yang berlaku, yaitu sesuai dengan KUHP. M ereka ditangkap dan diputuskan bersalah oleh pengadilan, karena meng hilangkan nyawa orang lain.

Grafik 4: Kasus/ peristiwa yang terjadi berdasarkan informasi media

Sumber: www.lintasgayo.co m

Berdasarkan informasi yang bersumber d ari media online www.lintasgayo.com menunjukkan bahwa beberapa kasus tersebar di beberap a kecamatan dalam wilayah kebupaten Aceh Tengah. Dari kategori beberap a kasus/ konflik; baik terkait isu politik, so sial, sumber ekonomi,

aparatur pemerintah, dan juga criminal menunjukkan b ahwa yang paling variatif terjadi/ berpusat diko ta takengon. Artinya meskipun beberapa kasus terjadi di kecamatan lain namun proses tindak- lanjutnya d i kota Takengon, baik terkait criminal, konflik kep entingan politik, tawuran, perebutan sumber ekonomi maupun perselisihan antara aparatur pemerintahan. Sedangkan dari sejumlah kecamatan, hanya kecamatan Kute Panang yang relative tidak ada pemberitaan dalam media d imana ada kasus- kasus yang menjadi perhatian public.

Gambar 2: Pola Penyelesaian Kasus/ Peristiwa

Data ini menunjukkan bahwa beberapa pola penyelesaian kasus/ p eristiwa yang terdap at di kabup aten Aceh Umum mayoritas diselesaikan melalui mekanisme hukum (pidana), khususnya yang terkait dengan kriminal yaitu mencapai 41%. Hal menarik, juga terd apat 41% lainnya tidak ada penyelesaian, khususnya dalam berbagai peristiwa so sial (kebakaran), atau kegiatan demontrasi. Hanya 5% yang d iselesaikan melalui mekanisme musyawarah, dan 13% lainnya terkait dengan persolan administrasi, seperti dalam kasus PAW dewan dan juga dalam beberapa kasus pelaporan kecurangan pilkada/ pileg.

Terakhir, kabupaten Aceh Tengah tetap menjad i kabupaten yang mempunyai kebijaksanaan lokal, adat- istiadat yang selalu menjadi kohesi dan harmoni warga dan alam sekitar. Kepentingan politik yang kemud ian menyebabkan kab upaten dingin ini tetap hangat, dan bahkan cenderung panas, khususnya d itahun- tahun politik dan pesta demokrasi. Semoga saja, Aceh Teng ah tetap dalam dinamikanya, dan keanekaragaman etnis diharapkan akan menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur sosial, budaya, dan masyarakat d isana.

BAB VI PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal penting terkait dengan review ko nflik, intensitas, dampak dan pembangunan perdamaian di Aceh Tengah, antara lain:

1. Secara umum, kabupaten Aceh Tengah merupakan kabupaten yang mempunyai etnisitas yang beragam, dimana mayoritas beretnis Gayo (60%), namun jug a tidak sed ikit beretnis Jawa (30%) dan Aceh(5%). Disana juga terdapat etnis minoritas (5%) seperti etnis cina, batak, padang , alas, mandailing, toba, dll. 2. M asyarakat di Aceh Tengah pada umumnya adalah petani kopi,

yaitu mencapai lebih 70%. Sisanya Pegawai Negeri/ Swasta, serta pengusaha/ pedagang. Pedagang disana umumnya berasal dari etnis Aceh dan Padang, serta Cina.

3. Pasca konflik Aceh dan setelah ditanda-tangani perdamaian antara GAM dan pemerintah RI di Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu, kondisi Aceh Tengah menjadi leb ih kondusif. M eskip un demikian, beberapa kasus yang terjadi pasca M o U tetap menjad ikan kabupaten d idataran tinggi Aceh ing in hang at. Beberapa kasus terakhir seperti konflik antara kelompok Peta dengan kelompok PA. kasus ini diawali dengan kampanye PA yang dinggap menghina tokoh- tokoh ALA yang diantaranya merup akan ketua PETA, Ir. Tag ore Abu Bakar. Sehingga kelo mpo k PETA merusak dan memb akar fasilitas PA di kota Takeng on. Sebaliknya, kelompo k PA merusak d an membakar fasilitas milik Ir.Tago re d i kabupaten Bener M eriah (tetangga Aceh Tengah). Kasus ini diselesaikan dengan musyawarah dan mencap ai mufakat.

4. Konflik lahan tidak terlalu dominan terjadi di kabupaten ini, hanya beberapa kasus terakhir yaitu tuntutan warga di kecamatan Silih Nara agar perusahaan PLTA membayar ganti rug i yang mereka alami akibat pemb ang unan proyek yang menyeb abkan banjir, sehingg a banyak ternak mereka mati, dan lahan tidak dapat d igunakan untuk cocok tanam.

5. Konflik sumber ekonomi juga menjadi fenomena di kabupaten ini, khususnya perebutan penguasaan terminal antara kelompok PETA dengan kelo mpok KPA (o rganisasi eks- GAM ). Kasus ini

berakhir dengan penyerangan kantor KPA di Atu Lintang dan menyeb abkan 6 o rang meninggal, serta kanto r dib akar oleh massa PETA. Konflik sumber ekonomi paling temporer terjadi terkait dengan pemb ang unan rumah ko rban gempa, d imana masyarakat ko rban melakukan demonstrasi ke DPRK yang menuntut agar pemerintah segera mencairkan dana pembangunan. M ekanisme pembangunan paska gempa dengan pendekatan partisip atif (melalui kelompok), juga melahirkan konflik sesama warga, khususnya warga dengan kepala desa. Karena penanggung jawab terbesar dalam proses pembangunan tersebut adalah kepala desa, dan kepala desa yang menyetujui alokasi dana untuk pembangunan rumah korban.

6. Terkait dengan konflik etnis, tidak muncul konflik etnis di kabupaten ini, meskipun etnis jawa merupakan etnis kedua terbesar setelah etnis Gayo, sementara etnis Aceh sebagai etnis pendatang (umumnya mereka pedagang).

7. Konflik aparatur pemerintahan tidak terlalu dominan, karena konflik jenis ini sangat minor. Umumnya hanya karena usulan pro gram dicoret pada pembahasan anggaran di dewan. Jadi konflik antar aparatur pemerintahan lebih cenderung terkait dengan konflik kepentingan usulan anggaran pembangunan. Namun hal tersebut sangat wajar, karena proses rasionalisasi dan sinkronisasi anggaran tidak jarang harus menghapus satu atau lebih usulan dari instansi tertentu. Sebaliknya relasi muspida dengan instasi vertical seperti TNI/ Polri berjalan dengan b aik.

6.2. Rekomendasi

Adapun reko mendasi dari hasil penelitian ini antara lain:

1. Pemerintah pusat perlu membangun satu mekanisme re-integrasi secara politik, ekonomi dan sosial terhadap kelompok-kelo mpo k yang pernah bertikai pada saat konflik dulu, agar tid ak menimbulkan rasa saling curiga satu sama lain dimasa yang akan d atang, khususnya jika terkait d engan politik kepentingan.

2. Pemerintah daerah perlu membangun komunikasi dialog seluruh stakeholders, tidak hanya muspid a- plus, atau perang kat pemerintahan saja, melainkan juga harus melibatkan semua elemen masyarakat, seperti tokoh agama, adat, LSM , jurnalis, dll secara regular untuk merespon berbagai p ersoalan di Aceh

Teng ah, serta mereduksi berbagai perbedaan yang dapat menyeb abkan disentigrasi secara politik, sosial dan budaya. 3. Pemerintah harus merancang pembangunan secara socio

-cultural masyarakat di Aceh Tengah yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras dan agama. Sehingga p rogram inter-socio cultural akan mewujudkan rasa keberagaman satu-sama lain, meskipun mereka mempunyai perbedaan secara bud aya d an kenyakinan namun dapat disatukan o leh kehidupan sosial unity

in diversity.

4. Perlu peningkatan pendidikan keberagama politik bagi kelo mpo k- kelompok yang berbeda agar lahir toleransi dan interaksi b ersama untuk kepentingan bang sa yang leb ih besar

Dalam dokumen Pemetaan Konflik Sosial di Aceh Tengah (Halaman 33-39)

Dokumen terkait