3 METODOLOGI
3.4 Analisa Data
Data yang telah terkumpul kemudian dianalisa berdasarkan jenisnya. Adapun analisa tersebut dijelaskan sebagai berikut :
3.4.1 Penutupan Karang
Untuk menghitung besar persentase tutupan karang mati, karang hidup, alga, dan jenis lifeform lainnya dihitung dengan rumus English et al. (1997):
Data kondisi penutupan karang yang diperoleh kemudian dikategorikan berdasarkan Gomez dan Yap (1984) :
a. Baik sekali : 75 – 100% b. Baik : 50 – 74,9%
c. Baik : 50 – 74,9% d. Buruk : 0 – 24,9%
Percent Cover (%) =
Total length of category
X 100%
27
3.4.2 Ikan Karang
Analisis data ikan karang dilakukan secara deskriptif berdasarkan hasil sensus yang dilakukan pada transek seluas 250 m2
3.4.3 Analisis Kesesuaian Wisata Bahari
.
Menurut Yulianda (2007) kesesuaian wisata bahari untuk kategori wisata selam mempertimbangkan enam parameter dengan empat klasifikasi penilaian. Parameter kesesuaian wisata selam antara lain kecerahan perairan, tutupan komunitas karang, jenis lifefrom, jenis ikan karang, kecepatan arus, dan kedalaman terumbu karang (Tabel 5).
Tabel 5 Matriks kesesuaian wisata bahari kategori wisata selam
No Parameter Bobot Standar
Parameter Skor N (Bobot x skor) 1 Kecerahan Perairan (%) 5 > 80 3 > 50 - 80 2 20 - 50 1 < 20 0
2 Tutupan Komunitas Karang (%) 5 > 75 3 > 50 - 75 2 25 - 50 1 < 25 0 3 Jenis lifeform 3 > 12 3 > 7 - 12 2 4 - 7 1 < 4 0
4 Jenis Ikan Karang 3 > 50 3
> 30 - 50 2
10 - 30 1
> 10 0
5 Kecepatan Arus (cm/det) 1 0 - 15 3
> 15 - 30 2 > 30 - 50 1 > 50 0 6 Kedalaman Terumbu Karang (m) 1 6 - 15 3 > 15 - 20 2 > 20 - 30 1 >30 0 SN = S Nmax = 54 IKW = Sumber : Yulianda (2007)
Keterangan :
IKW = indeks kesesuaian wisata
S Ni = nilai parameter ke-i (bobot x skor)
S Nmaks = nilai maksimum dari suatu kategori wisata Ketentuan kelas kesesuaian untuk kegiatan wisata selam adalah :
S1 = sangat sesuai, dengan IKW 83 – 100 % S2 = sesuai, dengan IKW 50 - < 83 %
N = tidak sesuai, dengan IKW < 50%
Kesesuaian wisata bahari kategori wisata snorkeling mempertimbangkan tujuh parameter dengan empat klasifikasi (Yulianda, 2007). Adapun matriks kesesuaian wisata snorkeling dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Matriks kesesuaian wisata bahari kategori wisata snorkeling
No Parameter Bobot Standar
Parameter Skor N (Bobot x skor) 1 Kecerahan Perairan (%) 5 100 3 80 < 100 2 20 – 50 1 < 20 0 2 Tutupan Komunitas Karang (%) 5 > 75 3 > 50 – 75 2 25 – 50 1 < 25 0 3 Jenis lifeform 3 > 12 3 > 7 – 12 2 4 – 7 1 < 4 0
4 Jenis Ikan Karang 3 > 50 3
> 30 – 50 2 10 – 30 1 > 10 0 5 Kecepatan Arus (cm/det) 1 0 – 15 3 > 15 – 30 2 > 30 – 50 1 > 50 0 6 Kedalaman Terumbu Karang (m) 1 > 3 – 6 3 1 – 3 2 > 6 – 10 1 > 10 - < 15 0 7 Lebar Hamparan Datar Karang 1 > 500 3 > 100 – 500 2 20 – 100 1 < 20 0 SN = S Nmax = 57 IKW = Sumber : Yulianda (2007)
29
Keterangan :
IKW = indeks kesesuaian wisata
S Ni = nilai parameter ke-i (bobot x skor)
S Nmaks = nilai maksimum dari suatu kategori wisata
Ketentuan kelas kesesuaian untuk kegiatan wisata snorkeling adalah: S1 = sangat sesuai, dengan IKW 83 – 100 %
S2 = sesuai, dengan IKW 50 - < 83 % N = tidak sesuai, dengan IKW < 50%
Untuk menilai kesesuaian lokasi wisata, maka disusun kategori yang dapat menjelaskan kondisi sumberdaya seperti :
Kategori S1 : Sangat sesuai (highly suitable). Kawasan ekosistem terumbu karang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari (diving dan snorkelling) secara lestari, atau hanya mempunyai faktor pembatas yang kurang berarti dan tidak terpengaruh secara nyata terhadap kondisi kawasan tersebut, serta tidak menambah masukan (input) untuk dikembangkan sebagai objek wisata bahari.
Kategori S2 : Sesuai (Suitable). Kawasan ekosistem terumbu karang yang mempunyai pembatas agak berat untuk pemanfaatan sebagai kawasan wisata bahari secara lestari. Faktor pembatas akan mengurangi pemanfaatan kawasan, sehingga diperlukan upaya tertentu dalam membatasi pemanfaatan dan mengupayakan konservasi dan rehabilitasi.
Kategori N : Tidak Sesuai (Not Suitable) Kawasan ekosistem terumbu karang yang mengalami tingkat kerusakan yang tinggi, sehingga tidak memungkinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari. Untuk itu sangat disarankan untuk dilakukan perbaikan dengan teknologi tinggi dengan tambahan biaya dan perlu waktu yang lama untuk memulihkannya melalui konservasi dan rehabilitasi kawasan tersebut.
3.4.4 Indeks Kesesuaian Wisata
Analisa indeks kesesuaian wisata (IKW) merupakan lanjutan dari matriks kesesuaian wisata bahari kategori wisata senorkeling dan wisata selam. Rumus yang digunakan untuk indeks kesesuaian wisata (Yulianda, 2007) adalah :
Keterangan :
IKW = Indeks kesesuaian wisata Ni = Nilai parameter ke-i
Nmaks = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata
3.4.5 Analisis Deskriptif Persepsi Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata Bahari
Analisis data strategi pengembangan ekowisata ini bertujuan untuk menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Data kualitatif yang diperoleh dari hasil interview dan observasi mengenai persepsi masyarakat tentang pengembangan ekowisata bahari di kawasan konservasi laut daerah. Data kualitatif yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif yang tersajikan dalam bentuk tabel, gambar atau grafik.
3.4.6 Dukungan Sosial
Tekhnik yang digunakan untuk menentukan tingkat dukungan sosial adalah dengan menggunakan metode analisis multiatribut. Atribut sosial dalam penelitian ini adalah tingkat keamanan, penerimaan masyarakat lokal, dukungan pemerintah, sarana transportasi laut, peruntukan kawasan, ketersediaan peralatan wisata, akomodasi dan ketersediaan air tawar.
Setiap atribut yang ditetapkan, memiliki bobot dan skor sesuai dengan kepentingan suatu parameter dalam pengembangan wisata bahari. Bobot yang diberikan adalah 1, 3 dan 5, dan skor berkisar antara 0 – 2. Penentuan skor berdasarkan urgensi atribut tersebut yang berpedoman pada indikator skor masing-masing atribut penilaian yang dapat dilihat pada Lampiran 3. Matriks analisis tingkat dukungan sosial dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Matriks analisis tingkat dukungan sosial kegiatan wisata bahari
No Parameter/Atribut Bobot Skor Nilai Max Keterangan
1 Tingkat Keamanan 5 0 - 2 10 Sangat Penting
2 Penerimaan masyarakat Lokal 5 0 - 2 10 Sangat Penting
3 Dukungan Pemerintah 3 0 - 2 6 Penting
4 Dukungan swasta 3 0 - 2 6 Penting
5 Aksesibilitas 3 0 - 2 6 Penting
6 Peruntukan kawasan 1 0 - 2 2 Cukup Penting
7 Kelembagaan Masyarakat 1 0 - 2 2 Cukup Penting
8 Kearifan lokal 1 0 - 2 2 Cukup Penting
Nilai Maksimum 44
31
Keterangan : Skor 30 – 44 = Sangat mendukung Skor 15 – 29 = Cukup mendukung Skor 0 – 14 = Tidak mendukung
Bobot 5 pada parameter tingkat keamanan dan penerimaan masyarakat lokal merupakan faktor utama dalam penilaian sosial, dimana jika salah satu dari dua faktor tersebut memiliki nilai 0, maka secara otomatis dinyatakan bahwa tidak terdapat dukungan sosial untuk pengembangan wisata pada daerah tersebut. Bobot 3 terdiri atas parameter atau atribut yang penting, dimana keberadaannya sangat membantu dalam perencanaan, pengembangan dan pengelolaan kawasan wisata. Bobot 1 merupakan atribut cukup penting yang merupakan faktor pendukung dalam menilai kesiapan sosial dari masyarakat.
Pemberian skor pada setiap parameter berdasarkan penilaian secara langsung di lapangan dan pengkajian dokumen perencanaan yang ada. Setelah menentukan bobot dan skor, maka tingkat dukungan sosial dihitung berdasarkan total perkalian bobot dan skor semua parameter.
3.4.7 Daya Dukung Kawasan
Konsep daya dukung ekowisata mempertimbangkan dua hal yaitu kemampuan alam untuk mentolerir gangguan atau tekanan dari manusia dan standar keaslian sumberdaya alam.
Daya dukung kawasan adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang telah disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Yulianda (2007) menjelaskan bahwa :
DDK = K x Lp/Lt x Wt/Wp
Keterangan :
DDK = Daya dukung kawasan
K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan Lt = Unit area untuk kategori tertentu
Wt = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari
Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan
Potensi ekologis pengunjung ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan (Tabel 8). Luas suatu area yang dapat digunakan oleh pengunjung mempertimbangkan kemampuan alam mentolerir pengunjung sehingga keaslian tetap terjaga. Setiap melakukan kegiatan ekowisata, pengunjung akan memerlukan ruang gerak yang cukup luas untuk melakukan aktifitas seperti diving (menyelam) dan snorkeling untuk menikmati keindahan pesona alam bawah laut, sehingga perlu adanya prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata (Tabel 9).
Tabel 8 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt)
Jenis kegiatan Σ Pengunjung
(orang) Unit area (Lt) Keterangan
Snorkeling 1 500 m² Setiap 1 orang dalam 100 m x 5 m
Selam 2 2000 m² Setiap 2 orang dalam 200 m x 10 m
Sumber : Yulianda (2007)
Tabel 9 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata
Jenis kegiatan Waktu yang dibutuhkan
Wp - (jam)
Total waktu 1 hari Wt - (jam)
Selam 2 8
Snorkeling 3 6
Sumber : Yulianda (2007) 3.4.8 Analisis Spasial
Pembuatan peta tematik menggunakan peta dasar, peta data citra dan data hasil survei. Peta dasar yang digunakan adalah format data vektor diperoleh dari BAKOSURTANAL edisi 1993, data citra Landsat-7 ETM+ akuisisi tahun 2002 dan data hasil survey adalah fenomena yang diobservasi secara langsung di lapangan. Proses pengolahan citra adalah import data, crop (pemotongan area kajian), koreksi radiometrik, koreksi geometrik, komposit RGB, interpretasi objek dan digitasi. Data jenis ini selanjutnya ditransformasi menjadi data vektor baik melalui digitasi langsung maupun dengan cara mengubah format *.dbf (format
data base) menjadi data spasial kemudian dilakukan revisi data dengan tujuan untuk mendapatkan data terkini (up to date). Peta tematik yang dihasilkan dari kompilasi peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), peta data citra dan survey lapangan adalah peta tematik potensi sumber daya, kesesuaian kawasan wisata bahari dan zonasi kawasan wisata bahari di pulau Pasi.
33
3.4.9 Analisis SWOT
Penentuan strategi prioritas dalam pengembangan ekowisata bahari di Pulau Pasi menggunakan pendekatan SWOT (strength, weakness, opportunity
dan threat) berdasarkan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategis suatu pengelolaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (stenght) dan peluang (opportunity) namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman
(threat) (Rangkuti, 1997)
Sebelum dibuat matriks SWOT, Rangkuti (1997) menjelaskan bahwa terlebih dahulu ditentukan faktor strategi eksternal (EFE) dan faktor stategi internal (IFE) dengan langkah sebagai berikut :
1. Menyusun kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman pada kolom 1
2. Masing-masing faktor dalam kolom 2 diberi bobot mulai 1,00 (sangat penting) sampai 0,00 (tidak penting) berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap pengembangan ekowisata bahari di Pulau Pasi
3. Menghitung rating dalam kolom 3 untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (sangat baik) sampai 1 (buruk) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap pengembangan ekowisata di P. Pasi. 4. Mengalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom untuk
memperoleh faktor pembobotan pada kolom 4. Hasil perkalian pada masing-masing faktor akan menjelaskan kualitasnya dengan nilai 4,00 (sangat baik) hingga 1,00 (buruk).
5. Menjumlahkan skor pembobotan pada kolom 4 sehingga diperoleh total skor pembobotan. yang menunjukkan bagaimana unit analisis bereaksi terhadap faktor-faktor strategis baik eksternal maupun internalnya.
Matriks SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Penyusunan strategi berdasarkan faktor-faktor strategi eksternal dan internal yang ada. Dari analisis SWOT diperoleh empat strategi yaitu SO, ST, WO dan WT (Tabel 10).
Setelah memperoleh empat strategi, kemudian menentukan prioritas strategi mana yang lebih diutamakan dengan cara menjumlahkan nilai kode pembobotan dari tiap strategi yang telah ditemtukan dalam matriks SWOT. Total
skor yang terbesar menjadi prioritas strategi yang paling utama dan urutan strategi selanjutnya berdasarkan urutan total skor.
Tabel 10 Matriks hasil analis SWOT Faktor Internal
(IFE) KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W)
Menentukan faktor - faktor kekuatan internal
Menentukan faktor - faktor kekuatan internal Faktor
Eksternal (EFE)
PELUANG (O) STRATEGI (S - O) STRATEGI (W - O)
Menentukan faktor – faktor kekuatan eksternal
Menghasilkan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Menghasilkan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang
ANCAMAN (T) STRATEGI (S - T) STRATEGI (W - T)
Menentukan faktor – faktor kekuatan eksternal
Menghasilkan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
Menghasilkan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk menghindari ancaman Sumber : Rangkuti (1997)
35