BAB IV PANDANGAN PENGADILAN TERHADAP PUTUSAN
A. Analisa Putusan Pengadilan Agama surabaya No.
adalah sebagai penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan warisan sendiri sudah merupakan kesepakatan sebagian ulama yang menyatakan bahwa ada 3 (tiga) hal yang dapat menghalangi untuk mewarisi, yaitu perbudakan, pembunuhan, dan perbedaan agama. Ketentuan ini dikuatkan melalui salah satu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, dari Usamah bin Zaid yang artinya adalah, “Tidak mewarisi seorang muslim terhadap non-muslim, demikian juga tidak mewarisi seorang non-muslim terhadap orang muslim” dari ketentuan tersebut, maka faktor agama merupakan salah satu penghalang bagi seorang ahli waris untuk mendapatkan bagian warisan.
Penerapan faktor penghalang bagi ahli waris khusus mengenai perbedaan agama diimplementasikan berbeda dalam praktek pengadilan. Dalam salah satu putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap158, Pengadilan Agama Surabaya memutuskan ahli waris yang tidak beragama Islam (dalam kapasitasnya sebagai ahli waris pengganti) berhak mendapatkan harta warisan pewaris berdasarkan Wasiat Wajibah yang kadar bagiannya sama dengan bagian ahli waris lain yang
158Putusan Pengadilan Agama Surabaya Nomor 0140/Pdt.P/2012/PA. Sby tanggal 07 Februari
beragama Islam. Dari putusan ini, terlihat bahwa faktor perbedaan agama yang menjadi penghalang untuk mendapatkan bagian waris diabaikan melalui penetapan Wasiat Wajibah.
Pengadilan Agama Surabaya yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam tingkat pertama telah memberikan penetapan dalam perkara permohonan Penetapan Ahli Waris yang diajukan menyatakan bahwa para Pemohon dengan surat permohonannya yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Agama Surabaya pada tanggal 24 Januari 2012 Nomor : 140/Pd t.P/2012/PA.Sby., yang pada pokoknya Para Pemohon telah mengemukakan hal-hal sebagai berikut :
a. Seorang laki-laki yang telah meninggal dunia karena sakit ;
b. Bahwa kedua orang tua almarhum telah meninggal dunia terlebih dahulu; c. Bahwa semasa hidupnya almarhum, telah menikah dengan PEMOHON
(Pemohon I), sebagaimana Duplikat Kutipan Akta Nikah Nomor : XXXX, Akta Nikah Nomor : XXXX tanggal 15 Mei 1963 dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Kedungkandang, Malang ;
d. Bahwa selama menikah antara almarhum XXXX dengan PEMOHON, telah dikaruniai 5 (lima ) orang anak yang masing – masing bernama :
XXXX;(Pemhon I ); XXXX (Pemohon I I ) ; XXXX(Pemohon I I I ) ; XXXX(Pemohon IV) ; XXXX (Pemohon V) ;
e. Bahwa selama hidupnya almarhum XXXX hanya menikah satu kali yakni denganPEMOHON(Pemohon I ) ;
f. Bahwa selama hidupnya Almarhum tidak pernah mengangkat anak dan juga tidak pernah meninggalkan wasiat yang belum dilaksanakan serta tidak pernah meninggalkan hutang yang belum dibayar;
g. Bahwa selama hidupnya,XXXX, tetap memeluk agama Islam;
h. Bahwa anak kandung yang bernama XXXX, saat ini telah berpindah agama yakni agama Kristen (murtad), sehingga tidak dapat mewarisi harta orang Islam, sebagaimana hadits Rasululah SAW sebagai berikut :
Artinya : “Orang Islam tidak dapat mewarisi harta orang kafir dan orang kafir pun tidak dapat mewarisi harta orang Islam”
Walaupun demikian, ia (ahli waris non Muslim) berhak memperoleh harta warisan dari pewaris yang beragama Islam berdasarkan wasiatwajibah, bukan dalam kapasitas sebagai ahli waris tetapi dalam kapasitas sebagai penerima wasiat secara serta merta walau tidak diwasiatkan, sesuai dengan Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung RI. Nomor : 368 K/AG/1995 tanggal 16 Juli 1998 dan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI. Nomor : 51 K/AG/1999 tanggal 29 September 1999 yang antara lain dalam salah satu pertimbangannya dinyatakan bahwa anak kandung Non Muslim bukan ahli waris, namun berhak mendapatkan bagian dari harta warisan berdasarkan wasiat wajibah.
Para Pemohon meminta bantuan Pengadilan Agama Surabaya untuk menetapkan ahli waris dari almarhum XXXX untuk mengurus harta peninggalan
Almarhum. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Para Pemohon mohon ke hadapan Majelis Hakim Pemeriksa Permohonan berkenan untuk menetapkan permohonan dengam amar Penetapan sebagai berikut :
1. Mengabulkan permohonan Para Pemohon;
2. Menetapkan ahli waris almarhum XXXX adalah isteri almarhum, dua orang anak kandung almarhum yang beragam Islam dan 1 orang anak kandung yang berbeda agama (murtad).
3. Membebankan biaya perkara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
PARA Pemohon dengan surat permohonannya yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Agama Surabaya pada tanggal 24 Januari 2012 Nomor : 140/Pdt.P/2012/PA.Sby., yang pada pokoknya Para Pemohon telah mengemukakan hal- hal sebagai berikut :
1. Para Pemohon menerangkan bahwa seorang laki-laki bernama XXXX telah meninggal dunia pada tanggal 7 Januari 1999 di Desa Kamal, Kecamatan Kauai, Kabupaten Bangkalan, Madura, karena sakit ;
2. Kedua orang tua almarhum XXXX, telah meninggal dunia terlebih dahulu ; 3. Semasa hidupnya almarhum. XXXK telah menikah dengan PEMOHON
(Pemohon I);
4. Selama menikah antara almarhum XXXX dengan PEMOHON, telah dikaruniai 5 (lima) orang anak;
5. Bahwa selama hidupnya almarhum XXXX hanya menikah satu kali yakni dengan PEMOHON (Pemohon I);
6. Pengadilan Agama Surabaya yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam tingkat pertama telah memberikan penetapan dalam perkara permohonan Penetapan Ahli Waris yang diajukan oleh PEMOHON, umur 71 tahun, Agama Islam, pekerjaan lbu rumah tangga, bertempat tinggal di XXXX Kabupaten Bangkalan, sebagai Pemohon 1;
Menetapkan ahli waris almarhum XXXX adalah : 1. PEMOHON, sebagai isteri Almarhum;
2. XXXX bin XXXX sebagai anak kandung Almarhum; 3. XXXX binti XXXX sebagai anak kandung Almarhum; 4. PEMOHON, sebagai anak kandung Almarhum;
5. XXXX bin XXXX sebagai anak kandung Almarhum;
Pada hari dan tanggal sidang yang telah ditentukan Para Pemohon datang menghadap dipersidangan, kemudian Ketua Majelis berusaha menasehati Para Pemohon dan ternyata Para Pemohon tetap pada permohonannya, kemudian Ketua Majelis mernbacakan permohonan Para Pemohon yang isi permohonannya tetap dipertahankan oleh Para Pemohon. Para Pemohon untuk menguatkan dalil-dalilnya telah mengajukan bukti surat- surat di depan sidang. Para Pemohon didepan sidang menyatakan telah cukup keterangannya dan tidak ada lagi keterangan atau bukti- bukti yang hendak diajukan didepan sidang dan mohon kepada Majelis Hakim untuk segera membacakan penetapannya. Sidang telah dicatat dalam berita acara sidang dan harus dinyatakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Penetapan ini
Adapun maksud dan tujuan permohonan Para Pemohon adalah seperti tersebut di atas adalah:
1. Hakim telah menasehati Para Pemohon, akan tetapi Para Pemohon tetap pada pendiriannya ;
2. Perkara yang diajukan oleh Para Pemohon adalah berbentuk permohonan (Voluntair), dimana sebelum Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 direvisi jenis perkara Voluntair dalam perkara waris adalah dilarang untuk diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Agama, dengan kata lain Pengadilan Agama tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadilinya karena bertentangan dengan asas “Geer belang geen actie” atau “Poin d'interet point d'action”. Namur setelah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tersebut diubah oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, maka hal tersebut dibolehkan untuk diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Agama dengan kata lain menjadi wewenang Pengadilan Agama. Hal ini didasarkan pada ketentuan di dalam penjelasan Pasal 49 huruf (b) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang- Undang Nomor 50 Tahun 2009, yang berbunyi yang dimaksud “waris adalah penentuan siapa- siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahali waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta Penetapan Pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing- masing ahli waris”.
3. Dalil-dalil yang dikemukakan oleh Para Pemohon dalam surat permohonannya pada intinya bahwa seorang laki-laki bernama XXXX beragama Islam telah meninggal dunia pada tahun 1999, semasa masih hidupnya almarhum XXXX pernah menikah dengan seorang perempuan yang bernama PEMOHON. Bahwa dari perkawinan antara almarhum XXXX dan PEAMEM tersebut telah dikaruniai anak 5 (lima) orang.
4. Bahwa anak kandung pertama almarhum bernama XXXX telah berpindah agama yakni Kristen (Murtad). Bahwa almarhum XXXX hanya menikah satu kali, bahwa setelah almarhum XXXX meninggal dunia PEMOHON tidak pernah menikah lagi, bahwa kedua orang tua almarhum XXXX sudah meninggal dunia lebih dulu, bahwa kemudian XXXX meninggal dunia tahun 1999, dan semasa hidupnya tidak pernah mengangkat seorang anak;
5. Dalil-dalil permohonan Para Pemohon tersebut telah diperkuat dengan bukti tertulis.
6. Bukti foto copysurat- surat telah bermaterai cukup dan cocok, sesuai dengan aslinya, oleh karenanya dapat diterima sebagai alat bukti, mengingat Pasal 165 HIR dan pasal 2 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985;
7. Bukti tertulis yang berupa surat-surat tersebut, Para Pemohon juga mengajukan bukti 2 (dua) orang saksi masing-masing bernama Mawiyah Dawi binti Dawik dan Juwariyah binti Mat Djuri, yang keduanya dengan dibawah sumpahnya telah memberikan keterangan yang pada intinya sebagaimana terurai di atas, keterangan tersebut antara satu dengan lainnya
saling bersesuaian serta dari keterangan para saksi tersebut dapat ditarik kesimpulan :
a. Seorang seorang laki- laki bernama XXXX beragama Islam telah meninggal dunia pada tahun 1999, semasa masih hidupnya almarhum XXXX pernah menikah dengan seorang perempuan yang bernama PEMOHON, bahwa dari perkawinan antara almarhum XXXX dan PEMOHON telah dikaruniai anak 5 (lima) orang masing-masing bernama XXXX (Pemohon II), XXXX (Pemohon III), XXXX (Pemohon IV), dan XXXX (Pemohon V), bahwa anak kandung pertama almarhum bernama XXXX telah berpindah agama yakni Kristen (Murtad), sehingga tidak dapat mewarisi harta almarhum XXXX.
b. Almarhum XXXX hanya menikah satu kali, bahwa setelah almarhum XXXX meninggal dunia PEMOHON tidak pernah menikah lagi, bahwa kedua orang tua almarhum XXXX sudah meninggal dunia lebih dulu, bahwa kemudian XXXX telah meninggal dunia tahun 1999, dan semasa tidak pernah mengangkat seorang anak, semuanya beragama Islam, selanjutnya Para Pemohon minta ditetapkan sebagai ahli waris ;
c. Keterangan para saksi tersebut didasarkan atas penglihatan dan pengetahuannya sendiri, oleh karenanya dapat diterima sebagai bukti, mengingat pasal 170, 171 dan 172 HIR;
d. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, maka Majelis Hakim dalam permusyawaratannya berkesimpulan bahwa dalil-dalil yang dikemukakan
oleh Para Pemohon dalam Surat permohonannya tersebut telah terbukti menurut Hukum, oleh karenanya patut untuk dikabulkan;
e. Perkara ini adalah termasuk perkara voluntair, oleh karenanya semua biaya yang timbul dalam perkara ini harus dibebankan kepada Para Pemohon;
f. Semua pasal Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan Hukum Islam yang berkaitan dengan perkara ini;
Pengadilan mengabulkan permohonan Para Pemohon dengan menetapkan bahwa ahli waris dari almarhum XXXX adalah PEMOHON, sebagai isteri Almarhum, XXXX bin XXXX sebagai anak kandung Almarhum; XXXX binti XXXX sebagai anak kandung Almarhum, XXXX sebagai anak kandung Almarhum, XXXX bin XXXX sebagai anak kandung Almarhum. Pengadilan juga membebankan kepada Para Pemohon untuk membayar semua biaya dalam perkara ini.
Hakim sebagai penegak hukum mempunyai posisi sentral dalam penerapan hukum. Hakim tidak hanya dituntut agar dapat berlaku adil tetapi ia juga harus mampu menafsirkan undang-undang secara aktual sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat pencari keadilan dengan tetap mempertimbangkan aspek keadilan, kepastian hukum dan nilai kemanfaatannya. Melalui keputusan-keputusannya seorang hakim tidak hanya menerapkan hukum yang ada dalam teks undang-undang (hakim sebagai corong undang-undang) tetapi sesungguhnya ia juga melakukan pembaharuan-pembaharuan hukum ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang diajukan kepadanya dan belum
diatur dalam undang-undang ataupun telah ada aturan tetapi dipandang tidak relevan dengan keadaan dan kondisi yang ada (hakim menciptakan hukum baru/jadge made law).159
Hakim di lingkungan peradilan agama di Indonesia sebagai salah satu penegak hukum Islam ternyata juga telah melaksanakan fungsi menetapkan putusan terhadap perkara-perkara yang diajukan kepadanya dengan terlebih dahulu mengemukakan pertimbangan-pertimbangan hukum pada putusannya tersebut. Dan melalui putusan tersebut tidak dapat disangkal bahwa ia telah turut berperan dalam pemikiran hukum Islam terlebih lagi ketika putusannya tersebut mengandung pembaharuan terhadap pemikiran hukum Islam.160
Dari hasil penelitian, ditemukan beberapa alasan hakim dalam menetapkan Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang terhalang untuk menerima warisan akibat perbedaan agama tersebut. Alasan-alasan tersebut dijabarkan sebagai berikut:
a) Faktor historis adanya larangan memberikan warisan pada ahli waris yang tidak beragama Islam.
Ketentuan yang menghalangi pembagian warisan bagi ahli waris non-muslim secara historis ditetapkan pada masa peperangan antara kaum muslimin dengan orang kafir di masa lalu. Untuk menjaga aqidah dan harta yang dimiliki orang seorang muslim dari penguasaan ahli waris yang kafir yang berpotensi untuk
159
Bagir Manan, Hakim sebagai Pembaharu Hukum”, Dalam Peradilan Majalah Hukum tahun ke XXII No. 254 Januari 2007, Jakarta : Ikatan Hakim Indonesia, 2007, hal. 9-13
160Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia Tinjauan dari Aspek Metodologis,
digunakan sebagai alat untuk memerangi umat Islam sendiri, maka larangan tersebut diberlakukan. Melihat kondisi saat ini di mana tidak ada lagi peperangan antara orang muslim dan non-muslim, maka ketentuan penghalang tersebut dianggap tidak perlu lagi untuk diberlakukan.
Dalam sejarah perkembangan hukum Islam, praktek pemberian warisan pada orang yang tidak beragama Islam pernah dilakukan pada masa sahabat. Seorang sahabat bernama Muadz bin Jabal pernah memutuskan suatu sengketa waris antara seorang muslim dengan orang Yang beragama Yahudi. Sengketa ini terjadi ketika seorang muslim mendatangi beliau setelah orang tuanya yang ber- agama Yahudi meninggal dunia dan meninggalkan sejumlah harta bagi anak- anaknya. Terhadap kasus ini, Muadz bin Jabal kemudian membolehkan anak tersebut untuk menerima warisan dari orang tuanya. Praktek Muadz bin Jabal ini kemudian diikuti oleh hakim dalam kasus sebaliknya di mana seorang anak yang tidak beragama Islam diberikan bagian warisan melalui Wasiat Wajibah atas harta peninggalan orang tuanya yang beragama Islam.
Alasan historis ini juga dikuatkan dengan pendapat para ulama dari kalangan Syafi'iyah, Hanafiyah, dan Hanabilah yang membolehkan berwasiat untuk mereka yang tidak beragama Islam dengan syarat bahwa yang diberikan wasiat tidak memerangi umat Islam. Bila ternyata yang bersangkutan melakukan perlawanan melalui perang, maka wasiatnya menjadi batal.” Secara historis, perbedaan agama sebagai halangan mendapatkan waris dianggap hanya merupakan masalah politik, dan dapat ditinggalkan bila kemudian kondisi telah
berubah sebagaimana yang terjadi pada masa, ini. Berdasarkan faktor historis ter- sebut di atas, maka para hakim berpendapat bahwa larangan untuk memberikan bagian waris bagi ahli waris yang terhalang akibat perbedaan agama pada saat ini dapat disimpangi.
b) Penggunaan metode interpretasi sosiologis dalam melakukan penemuan hukum Alasan kedua terkait dengan kewajiban hakim untuk menemukan hukum atas setiap perkara yang diperiksanya. Kewajiban ini bersumber dari salah satu asas dalam hukum acara bahwa hakim dilarang menolak perkara dengan alasan tidak ada hukumnya (ius curia novit) karena hakim memiliki kewenangan untuk melakukan penemuan hukum atau yang juga dikenal dengan istilah rechtsvinding. Penetapan Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang terhalang untuk menerima warisan karena tidak beragama Islam merupakan hasil dari rechtsvinding yang dilakukan hakim dengan menggunakan metode interpretasi sosiologis.
Interpretasi sosiologis diawali dengan pemahaman bahwa ketentuan mengenai hukum kewarisan Islam merupakan lex specialis dari hukum Islam dan hukum Islam adalah lex generates. Berdasarkan hal tersebut, ketika kemudian hakim tidak menemukan ketentuan mengenai Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang terhalang karena tidak beragama, Islam dalam hukum kewarisan Islam sebagai lex specialis, maka hakim melakukan penemuan hukum dengan mengembalikan persoalan padalex generalisyaitu ketentuan hukum Islam secara umum.
penerapan lex generalis, yaitu asas keadilan berimbang, asas kepastian, asas individual, dan asas bilateral. Asas-asas ini merupakan tujuan objektif bagi penerapan hukum Islam secara keseluruhan. Hakim menggunakan asas-asas tersebut untuk menetapkan pemberian Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang terhalang akibat perbedaan agama. Dengan demikian, metode penemuan hukumnya adalah menggunakan asas lex generalis yaitu asas umum hukum Islam, yang mengesampingkan asas lex specialis yaitu ayat-ayat waris yang bersifat tafsir. Untuk mewujudkan asas-asas tersebut, terutama asas keadilan yang berimbang, maka halangan menerima waris bagi ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris dihapus melalui penetapan Wasiat Wajibah oleh putusan pengadilan.
c) Penggunaan metode argumentum peranalogium dalam melakukan penemuan hukum.
Sama seperti pada alasan sebelumnya, penggunaan metode argumentum per analogium dalam menetapkan WasiatWajibah dilakukan sebagai penerapan asas ius curia novit oleh hakim di lingkungan peradilan agama. Dalam melakukan penemuan hukum atas pemberian WasiatWajibah terhadap ahli waris yang tidak beragama Islam, hakim menggunakan metode argumentum per analogium dengan cara menemukan ketentuan hukum lain yang sejenis, memiliki kemiripan, serta adanya tuntutan dalam masyarakat untuk mendapatkan penilaian yang sama. Ketentuan yang sejenis untuk mengatasi kekosongan dalam hal ini adalah menggunakan ketentuan Wasiat Wajibah yang ada di dalam KHI khusus untuk
anak angkat dan atau orang tua angkat.
Terhadap kedua peristiwa tersebut, ditemukan kesamaannya, yaitu keduanya terjadi pada orang-orang yang secara yuridis formal tidak mendapatkan bagian harta waris padahal mereka memiliki ikatan kekeluargaan dengan pewaris baik sebagai anak kandung maupun anak angkat. Dengan adanya kesamaan tersebut, maka aturan yang berlaku pada satu peristiwa diberlakukan pula pada peristiwa lain, sehingga ketentuan Wasiat Wajibah bagi anak angkat diberlakukan pula pada anak yang tidak beragama Islam. Inilah yang kemudian merupakan penemuan hukum yang dilakukan oleh hakim dengan menggunakan metode argumentum per analogium.
d) Eksistensi hukum kewarisan Islam di antara sistem hukum kewarisan lainnya. Alasan ketiga yang digunakan hakim dalam menetapkan pemberian Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang terhalang karena adanya perbedaan agama dengan pewaris adalah eksistensi hukum waris Islam dalam sistem hukum nasional. Secara faktual, hukum waris Islam di Indonesia hidup, berkembang, dan berdampingan dengan sistem hukum waris lain yaitu hukum waris adat dan hukum waris BW. Ketiganya digunakan sebagai pilihan hukum bagi rakyat Indonesia. Penemuan hukum yang memberikan Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang terhalang akibat perbedaan agama merupakan upaya mengakhalisasikan hukum Islam di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang pluralistik baik di bidang sosial, budaya, hukum, maupun agama. Upaya ini sekaligus juga untuk memelihara jati diri hukum Islam sebagairahmalan fil 'alamin. Mempertahankan
keotentikan hukum Islam (fiqh) tanpa memperhatikan dinamika masyarakat yang banyak dipengaruhi oleh ruang dan norma hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia akan menjadikan hukum Islam kehilangan daya tariknya karena tidak memenuhi kebutuhan masyarakat yang melingkupinya. Selain itu, dengan diberikannya Wasiat Wajibah kepada ahli waris yang terhalang akibat perbedaan agama sebagai alternatif agar memperoleh haknya, sesungguhnya telah memberikan gambaran positif bahwa hukum Islam tidaklah eksklusif dan diskriminatif yang seolah-olah telah menempatkan warga non- Muslim sebagai kelas dua di depan hukum. Apabila ahli waris yang terhalang akibat perbedaan agama tetap dipertahankan sebagai orang yang tidak dapat mewarisi dengan jalan apapun, sebagaimana hukum asalnya, maka hukum Islam akan dipandang sebagai suatu ancaman yang menghilangkan hak Waris.
Selanjutnya, bila diberikannya dengan sistem hukum waris lainnya, keadaan ini akan sangat tidak menguntungkan bagi hukum Islam karena akan dikalahkan oleh sistem hukum waris lain yang tidak mempersoalkan agama sebagai peng- halang seseorang dalam menerima bagian warisnya.
Alasan ini juga dipertegas dengan tujuan hukum Islam yaitu untuk sedikit akibatnya bagi masyarakat secara umum. Pemberian Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang terhalang akibat perbedaan agama dipandang memberikan kemudharatan yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan terus mempertahankan perbedaan agama sebagai penghalang untuk menerima waris. Bila alasan tersebut tetap diterapkan secara kaku, maka akan menimbulkan
permusuhan di dalam masyarakat, khususnya di dalam keluarga para ahli waris yang berbeda agama karena tidak mendapatkan hak yang sama padahal mereka juga merupakan anak kandung dari pewaris, misalnya. Selain itu, karena melihat pada ketentuan formal Wasiat Wajibah yang memberikan hak pada anak angkat yang sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan pewaris, maka dipandang tidak adil bila justru anak kandung yang berbeda agama tidak diberikan bagian atas harta warisan orang tuanya. Pertimbangan untuk mencegah kemudharatan yang lebih besar ini kemudian menjadi salah satu pertimbangan hakim dalam memutuskan untuk memberikan Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang sebenarnya terhalang akibat perbedaan agama.
e) Pilihan agama sebagai bagian dari hak asasi manusia
Alasan kelima mengenai pemberian Wasiat Wajibah bagi mereka yang terhalang menjadi ahli waris akibat perbedaan agama adalah kondisi nyata kehidupan masyarakat Indonesia sendiri. Indonesia merupakan negara yang penduduknya terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Keberadaan agama yang berbeda-beda sudah ada sejak dahulu dan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Indonesia untuk hidup berdampingan. Adanya perbedaan agama, bahkan di dalam lingkup keluarga bukan merupakan hal yang asing di Indonesia. Masyarakat Indonesia dikatakan telah mengadakan suatu kesepakatan sosial untuk hidup rukun, damai, saling menghormati, dan tidak saling merendahkan