Pasal 6: Rasa tenteram yang palsu (ay. 1-14)
3.4. Konsep Keadilan Sosial dalam Amos 6:1-7
3.4.3. Analisa Teks Amos 6:1-7
1"Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!
2 Menyeberanglah ke Kalne, dan lihat-lihatlah; berjalanlah dari sana ke Hamat yang besar itu, dan pergilah ke Gat orang Filistin! Adakah mereka lebih baik dari kerajaan-kerajaan ini, atau lebih besarkah daerah mereka dari daerahmu?
3 Hai kamu, yang menganggap jauh hari malapetaka, tetapi mendekatkan pemerintahan kekerasan;
4 yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun;
5 yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya;
6 yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf!
7 Sebab itu sekarang, mereka akan pergi sebagai orang buangan di kepala barisan, dan berlalulah keriuhan pesta orang-orang yang duduk berjuntai itu."
Untuk melihat keadilan sosial dalam Amos 6:1-7, yang termasuk dalam bagian yang menggambarkan kalangan Israel yang makmur yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) perikop ini diberi judul “Rasa Tenteram Yang Palsu”. Ayat-ayat tersebut menggambarkan bagaimana kenteteraman yang dialami di Samaria adalah tidak sejati tetapi hanya penuh dengan kepalsuan. Perikop ini terdiri dari tiga bagian, pertama-tama berfokus pada kepercayaan diri yang congkak dari kalangan pemerintah (ay.1-3) yang hidup dalam kemewahan (ay.4-6a). Kemudian disusul dengan suatu seruan kemarahan atas ketidakpedulian yang begitu besar terhadap kehancuran bangsanya (ay.6b). Dari sini dilanjutkan dengan berita penghukuman yang akan menimpa Israel (7).
Amos membuka pemberitaannya dengan seruan yang menyerang rasa tenteram yang palsu. Ayat 1 ini dibuka dengan seruan “celakalah” (Ibr: hoy), yang merupakan penegasan karena menyangkut sesuatu yang penting, harus didengarkan dan diperhatikan dengan seksama. Kata “celakalah” di sini berhubungan dengan suatu kondisi di mana orang-orang tidak lagi
100
mendengarkan suara kenabian, dan hidup dalam ketidakadilan (Yer.33:13), serta yang merencanakan kejahatan dan penindasan dalam lapisan sosial (Mi.2:1), yang pada akhirnya
berkonsekuensi pada pembuangan dan kematian.62
Nabi Amos menyerukan “hoy:celakalah”, sebagai bentuk ancaman terhadap para penguasa Israel yang hidup dalam ketenteraman dan kemewahan namun dipenuhi dengan
ketidakadilan.63 Dalam ayat 1, seruan “celakalah” juga berhubungan dengan terjadinya
penyimpangan secara material dan membanggakan diri (Ibr: hoy hasya’ānānim besiyon)64 Amos
menyebutkan suatu gambaran hidup dari kaum atas yang merasa aman (Ibr:Sha’anan), yang terlihat hidup dalam damai dan mewah.
Rasa aman juga memiliki pengertian yang sama dengan rasa bangga, juga dapat berarti keangkuhan. Jika dilihat dari keadaan umat Israel pada zaman Yerobeam II yang berada pada suatu masa yang makmur dan tenteram, misalnya ada orang-orang yang mendirikan rumah-rumah yang indah dan menghiasinya dengan barang-barang kesenian dari luar negeri yang
mewah dan mahal.65 Tetapi sayangnya kekayaan dan kemakmuran itu hanya dinikmati oleh
golongan elit sedangkan, rakyat biasa hidup dengan penuh penderitaan bukan karena bencana alam atau karena serangan musuh melainkan karena diperas dan dianiaya oleh sesamanya sendiri, hal ini disebabkan oleh karena adanya kerja sama antar pihak pemilik modal dan para pemuka-pemuka. Dengan demikian nabi menyampaikan bahwa kemapanan dan kebanggaan diri umat Israel akan direndahkan. Mereka akan segera mendapatkan penghukuman karena mereka telah terbenam dalam kemewahan, kebanggaan, pesta pora, dan penyimpangan secara moral.
62Willyam B.Eerdmanss, “Hoy”, Theology Dictionary Old Testament Vol. III, G.J.Botterweck, dkk., (Michigan:Grand Rapids, 1983), 359-364.
63
Shalom M. Paul, Amos: A Commentary On The Book Of Amos (Minneapolis, USA: Fortress Press, 1991), 199.
64 Ray Beeley,Amos, Introduction and Commentary (London: Chitern Street 1970), 80.
101
Berkenaan dengan kata Sion66, mau diingatkan kembali tentang kata-kata Amos yang
mula-mula ditujukan kepada “Betel”. Di kerajaan Selatan, Sion merupakan pusat kegiatan religius dan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan dan politik sedangkan di kerajaan Utara sendiri, Betel merupakan kota religius dan Samaria sebagai pusat pemeritahan dan politik. Oleh
karena itu Yerusalem akan lebih sejajar dengan Samaria, juga Betel sejajar dengan Sion.67 Umat
yang berdiam di kota-kota utama ini ditegur oleh Tuhan melalui nabiNya karena kehidupan umat sudah tidak sesuai dengan hukum-hukum Tuhan, dan bukan hanya pada umat Israel Utara tapi juga pada umat di Sion yang selalu rajin untuk beribadah kepada Tuhan namun dalam kehidupannya dengan penuh kemunafikan. Sion merupakan pusat peribadatan di Israel Selatan.
Sedangkan di Israel Utara, pusat penyembahan kepada Yahweh berpusat di Silo dan Betel.68 Di
tempat inilah, para imam yang melakukan ritus penyembahan di Sion tidak lain adalah mereka yang dikatakan oleh Amos sebagai orang-orang terkemuka.
Menurut Shaloom Paul, Amos tidak begitu memperhatikan perbedaan antara Israel dan Yehuda, tetapi masih memandang keduanya sebenarnya sebagai satu umat. Tetapi banyak penafsir menduga bahwa Amos telah memakai kata lain ganti kata “Sion”, yakni misalnya “di kota itu”. Ketika nubuat Amos dijadikan kitab, barangkali kata itu diganti dengan kata “di Sion”,
karena tentulah pemberitaan itu berlaku juga untuk penduduk Yerusalem (bnd.Yes.32:9-11).69
Sebagai umat Tuhan, penduduk Sion dan Betel, serta Samaria akan mengalami penghukuman
yang sama jikalau kehidupan mereka tidak sejalan dengan hukum Allah (keadilan). Inilah yang
66Sion pada mulanya merupakan benteng pertahanan dari orang Yebus, Yang dikalahkan oleh raja Daud dan selanjutnya dijadikan tempat tinggalnya (2 Sam 5:6-10). Jadi Sion adalah suatu bagian dari kota yang dikemudian hari bernama Yerusalem, khusunya bagian di mana berdiri rumah Allah, bait suci (Mzm 2:6). Nama Sion juga berarti kota Yerusalem (Yes 10:24) dengan segala penghuninya (Mzm 97:8).
67
Harry Mowvley, Epworth Commentaries The Books Of Amos and Hosea (London: Epworth Press, 1991), 67.
68R. Soedarmo, Kamus Istilah Teologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 86.
102
menjadi alasan datangnya peringatan oleh nabi Amos bahwa penghukuman juga disampaikan
untuk Sion. (Yes.32:9).70
Di Israel Utara terdapat dua kota yang penting, yakni Betel sebagai pusat keagamaan negara dan Samaria sebagai pusat politik dan ekonomi di mana orang-orang berkuasa dan para
pemuka hidup dalam kemewahan.71 Pada bagian ini Amos menghadapkan pemberitaannya
teristimewa kepada “orang-orang terkemuka” (Ibr.nāqav), yaitu pemimpin-pemimpin rakyat, orang-orang yang memerintah dan orang-orang yang berkuasa, termasuk tuan-tuan tanah yang permukimannya di kota Samaria, yang didirikan di atas sebuah gunung (I.Raj. 16:24). Ungkapan “di gunung Samaria”, membuat orang desa dengan segera teringat kepada golongan orang-orang kaya, yang mempunyai villa-villa besar, yakni tempat peristirahatan di gunung. Orang-orang kaya inilah yang disebut Amos “Celakalah atas Orang-orang-Orang-orang yang merasa tenteram” Sebab mereka mau menikmati hidup tanpa kuatir, dengan memakai kekayaan dan kekuasaan untuk mereka sendiri dengan tidak menghiraukan teman-teman sebangsanya yang miskin dan
lemah, dan teristimewa tidak memikirkan hukuman yang akan datang.72 Seruan celaka ditujukan
kepada “Atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, para tuan-tuan tanah yang biasa
orang Israel datang!” (Ibr: neqēbey re’syit). Bangsa yang utama adalah sebuah ungkapan yang
luar biasa karena digunakan hanya untuk Israel, dan Amos memakai kalimat tersebut sebagai
suatu sindiran.73
Amos menyebutkan mereka, ”Orang-orang yang kepadanya kaum Israel biasa datang untuk meminta keadilan dan bantuan-bantuan”. Mereka adalah para pejabat yang dipercayakan untuk membantu dan membela kaum kecil, ironisnya orang-orang kecil yang memerlukan
70
Ibid., 201.
71B.J. Boland. Tafsiran Kitab Amos., 71.
72 Ibid., 72.
103
keadilan tidak didengarkan dan diabaikan oleh golongan atas yang ada di Samaria. Jelaslah kepada kita bahwa para pemuka (pembesar, pejabat, perwira para hakim atau imam) yang kepada mereka ada kedamaian, justru merekalah yang melakukan penyelewengan. Berbagai tindakan ketidakadilan terus diperlihatkan tanpa ada rasa malu maupun menyesal, bahkan para pemuka sampai melupakan sesama hanya demi memenuhi kepentingan dirinya. Kritik sosial yang dilontarkan Amos sesungguhnya ditujukan kepada para penguasa kaum terkemuka yang bertindak tidak adil terhadap rakyat, dan paling kejam adalah mereka merampas tanah dan hak hidup mereka yang miskin dan lemah.
Jika membaca pada ayat berikut, kalimat yang dipakai di sini adalah sebuah kalimat
perintah kepada bangsa Israel yakni “menyeberanglah” (Ibr: ibe
ru). Dari sini bangsa Israel
diperintahkan untuk melihat pada ketiga kerajaan di sekitar mereka yang telah hancur terlebih dahulu misalnya dari Kalne, kemudian Hamat, dan Gat orang Filistin. “Berjalanlah dari sana ke Hamat”. Hamath adalah satu benteng pemerintahan (Amos 6:14), suatu tempat di lembah Libanon. Lembah ini adalah jalur lalu lintas utama komunikasi antara Mesir, Palestina, dan Syria di bagian selatan, dan Assyria dan Babelonia di bagian Utara dan Timur. Wilayah ini kemudian ditaklukkan oleh Yerobeam II. Setelah itu ditaklukkan oleh Asyur. Hamat juga merupakan kota penting orang Suriah yang berbatasan dengan bagian Utara Arpad dan Pattin Selatan Damaskus.
Sehingga yang menjadi peringatan pada ayat ini adalah: Apakah kamu lebih kuat atau lebih aman dibandingkan mereka? Kalimat ini ditujukan kepada bangsa Israel, bahwa sesungguhnya kekuatan dan kebanggaan sebagai bangsa yang makmur, mereka tidak lebih kuat
dari tempat-tempat yang telah hancur lebur ditaklukan oleh gigitan Asyur.74 Kalimat yang sama
juga adalah “Pergilah ke Gat orang Filistin” Gat adalah Ibu kota dari kota Filistin yang
104
ditaklukkan oleh raja Uziah (2 Taw. 26.6), yang sebelumnya direbut oleh Hazael, raja Aram (2
raja 12:17).75 Catatan di sini untuk menyebutkan kejatuhan Gat oleh serangan bangsa Aram yang
dipimpin oleh Hazael (2 Raj. 12: l8) atau penawanannya oleh Uziah raja dari Yehuda yang meruntuhkan dinding-dinding kota Gat (2 Taw. 26:6 ). Ini menjadi peringatan bagi Israel bahwa mereka tidak lebih kuat dari ketiga kerajaan yang disebutkan oleh Amos, Israel diperingatkan
bahwa nasib yang sama akan menimpa mereka.76 Itu biasa menjadi suatu undangan untuk
melihat bahwa mementingkan kesenangan diri sendiri di Israel adalah sungguh-sungguh sebuah refleksi bahwa Samaria tidak lebih baik dari kota-kota di negara-negara lain. Apakah kamu lebih baik dari kerajaan-kerajaan itu? Atau apakah wilayahmu lebih besar dari wilayah mereka?
Selanjutnya, Amos menyadarkan Israel tentang pemahaman “hari Tuhan”. Bagi bangsa Israel “hari Tuhan” yang merupakan bagian dari optimisme agamawi yang berlaku; keyakinan akan kehadiran Allah bersama-sama dengan mereka (ay.14) dan akan kasih karunia-Nya
terhadap mereka (ay.15) dan sebab itu dengan pengharapan dan kerinduan yang pasti (ay.18).77
Bangsa Israel sendiri beranggapan bahwa “hari Tuhan” merupakan hari di mana Allah akan menghukum musuh-musuh Israel dan akan menjadi hari perayaan, hari kebahagiaan dan hari kemenangan mereka namun Amos mempunyai pandangan yang sedikit berbeda mengenai “hari Tuhan” itu yakni pada hari itu Allah akan menghukum musuh-musuh Israel namun, hukuman itu bukanlah dikarenakan mereka adalah musuh bangsa Israel tetapi lebih kepada perbuatan jahat
yang mereka lakukan.78
Hari malapetaka (yom ra’) diartikan sebagai hari kesengsaraan derita, dan hari yang jahat. Masyarakat kelas elit yang menyombongkan diri dengan kekayaan, jabatan dan bersikaptidak
75
Ray Beeley, Amos, Introduction and Commentary., 81.
76 B.J. Boland, Tafsiran Kitab Amos., 73.
77 Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Tafsiran Masa Kini jilid II (Jakarta: Inter- Farsity Press, 2009), 633.
105
adil terhadap orang-orang golongan bawah, mereka sama sekali tidak percaya ketika nabi menyampaikan nubuat mengenai hukuman yang akan mereka alami (Am.2: 6-16), menolak dan menganggap jauh "hari malapetaka" seperti yang disebutkan Amos sebagai "Hari Tuhan" ( 5:18, 20) dan "satu hari yang pahit" (8:10). Mereka justru melarang para nabi supaya jangan bernubuat mengenai kehancuran bangsa (6:12). Mereka merasa aman dan bersukacitayang ada pada gaya hidup mereka dari kesenangan dan kemewahan tetapi mereka sama sekali tidak berharap menghadapi kenyataan hukuman itu. Bagaimanapun, mereka mencoba untuk menghindari bencana nasional, namun mereka secara bertentangan "membawa dekat" pemerintahan kekerasan. Sehingga hari Tuhan yang mereka harapkan mendatangkan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik, justru sebaliknya menjadi hari yang gelap dan sebagai hari
penghukuman.79
Pada ayat 4, Amos melihat bahwa rasa aman dan tenteram di Samaria digambarkan dengan tidur di tempat yang mewah yakni dari gading, duduk berjuntai di atas ranjang. Orang dapat merasa aman berbaring di tempat tidur dari gading yang dihiasi dengan berbagai ukiran-ukiran mewah dari gading. Ini merupakan simbol kemewahan hidup yang benar-benar mewah.
Kaum elit berbaring dalam kemalasan sedang kaum yang lemah dijadikan budak mereka.80
Mereka menikmati kemewahan dari kerja keras masyarakat kelas bawah, dalam hal ini golongan petani. Apapun arti yang paling baik dari ekspresi ini, niat dari nabi menjadi jelas: Para pemimpin dari Utara secara langsung telah mempercepat kemalangan yang dianggap tidak akan menimpa mereka. Amos jelas memberitahukan bahwa malapetaka itu “Oleh pedang akan membunuh semua orang berdosa di antara umatKu yang mengatakan: malapetaka itu tidak akan menyusul dan tidak akan mencapai kami” (Am.9:10).Yang mereka lakukan ialah, hanya
79 H. Rothlisberger, FirmanKu Seperti Api Para Nabi Israel (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 32.
106
memikirkan kesenangan mereka, dengan memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun.
Para penguasa dan kaum terkemuka memilih yang termuda dari kambing domba dari kumpulan yang paling baik sebagai kelezatan istimewa bagi kepuasan mereka sendiri, tanpa memperhatikan masyarakat umum yang hidup dalam kemelaratan, orang kaya mencari kesenangan dengan berfoya-foya yang tidak mungkin dialami oleh sesama mereka yang tergolong rakyat kecil. Di sini, kita diajak melihat pada pesta-pesta makan-minum yang berlebih-lebihan. yang terjadi pada orang-orang terkemuka di Samaria, setiap hari mereka mengadakan perjamuan pesta seperti itu. Pada kesempatan itu mereka bukan makan daging biasa dari binatang-binatang yang dewasa, tetapi mereka mau makan daging dari binatang yang terbaik. Daging yang sangat empuk dari “anak-anak domba” dan “anak-anak lembu”.
Menurut Eka Darmaputera, kehidupan yang ditujukan oleh para pemimpin Israel pada waktu itu, merupakan gambaran kehidupan pemimpin yang memakan dan menghisap darah rakyatnya, dikarenakan mereka hanya duduk bersantai dan memakan makanan yang enak-enak tanpa ada beban apapun, sedangkan para petani yang harus berjuang dan bekerja keras untuk
memenuhi kebutuhan dari para penguasa tersebut.81
Dari pola kehidupan seperti inilah, yang membuat Allah sangat marah, karena tidak ada lagi penghargaan akan sesama mereka sebagai bagian dari bangsa Israel, tetapi mereka hanyalah dilihat sebagai budak-budak. Sebenarnya jika kita melihat konteks hidup masyarakat feodal, bahwa raja dan kaum bangsawan tetap kaya, dan mereka yang miskin tetap menjadi miskin dan menjadi budakpun tidak dipersoalkan. Tetapi yang dilakukan oleh para penguasa sudah melebihi
81 Eka Darmaputera, Mencari Allah: Pemahaman Kitab Amos tentang Mencintai Keadilan dan Kebenaran (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 83.
107
apa yang seharusnya, mereka melakukan segalah kecurangan untuk menguasai hidup mereka yang lemah, mulai dari perampasan hak tanah, merampas hak hidup mereka, hanya bergantung selamanya petani kepada mereka, sehingga dikecam oleh Amos bahwa dalam konteks hidup mereka bersama tersebut tidak ada lagi solidaritas diantara mereka yang kaya dengan sesama.
Selanjtunya, pada ayat 5, para pemuka-pemuka kemudian bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; Seperti pada pesta-pesta keagamaan diperdengarkan musik dan nyanyian, begitulah dilakukan orang-orang Samaria apabila mereka berfoya-foya di villa-villa mereka, mereka ”bernyanyi-nyanyi mendengar musik
dari gambus”, bukanlah berarti mereka menyanyikan suatu nyanyian secara teratur, seperti yang
Daud lakukan dalam memuji Tuhan, mereka menyanyi dan berpesta bukan memuji Allah
melainkan karena kelimpahan yang semarak di tengah-tengah ketidak-adilan sosial.82 “Seperti
Daud”, sebenarnya mau menunjukkan bagaimana mereka memuji Tuhan, sementara orang kecil menangis di tanah yang mereka tinggal akibat ketidakadilan pemimpin mereka. Mereka beranggapan, bahwa kejayaan zaman Daud dahulu sedang terjadi dalam tenteramnya hidup yang
sedang mereka alami. Justru inilah yang sebenarnya oleh Amos disebut “ketenteraman yang
palsu”
Pada Ayat 6a ini terdapat kata-kata yang langsung ada sangkut-pautnya dengan ibadah, sehingga jelaslah bahwa “orang-orang terkemuka” itu menajiskan segala apa yang termasuk
dalam agama dan mencemoohnya. Sebab mereka “minum anggur dari bokor”83
dan sebagai
ganti parfum mereka berurap dengan “minyak yang paling baik”84
atau minyak yang pertama.
82
B.J. Boland, Tafsiran Kitab Amos., 74.
83 Bokor dalam kehidupan Israel adalah seperti perkakas besar yang dipakai dalam ibadah (Kel.7:3; 38:8).
84Minyak yang menurut ulangan 18:4 diperuntukkan bagi Allah dan dipakai untuk mengurapi manusia dan benda-benda yang dikuduskan (Kel.20:25-30).
108
“Minum angggur di bokor” dan “berurap dengan minyak yang paling baik” juga menunjukkan bukan merupakan kebiasaan rakyat biasa dan orang miskin, melainkan hanya bisa dinikmati oleh golongan atas seperti orang-orang kaya, kaum pedagang, juga orang-orang yang duduk di tempat terhormat (pemuka agama dan masyarakat). Kebiasaan ini sangatlah menguras kekayaan, yang tidak mungkin dibuang-buang oleh orang miskin. Dalam kesusahan rakyat, para penguasa menikmati yang terbaik yang dipersembahkan rakyat dari hasil tanah mereka lewat pajak, sekaligus persepuluhan atau persembahan yang dikhususkan bagi TUHAN.
Bagi Amos, dosa para pemuka di Israel adalah dosa yang melanggar kekudusan hidup sebagai umat Allah. Keangkuhan, tidak memperhatikan sesama yang miskin dan lemah, telah merasuk sampai pada lingkup keagamaan. Awalnya di Betel, Amos tampil untuk memberitakan bahwa Allah membenci dan menolak ibadah mereka yang jahat, dan sekarang di Samaria, Amos juga tampil menentang “orang-orang terkemuka” yang hidup befoya-foya sampai menggunakan apa yang dikhususkan untuk Tuhan. Seharusnya sebagai pemimpin, mereka harusnya memperhatikan dan peduli terhadap sesama, bahkan harus rela berkorban demi mereka yang
dipimpinnya,85 tidak hanya peduli dan memperhatikan diri sendiri, atau hanya mencari kepuasan
individu.
Deskripsi dari pesta yang mewah diikuti pada ayat 4-6 mengungkapkan kehidupan mewah mereka yang didukung oleh ibadah kepada Tuhan. Domba dari kumpulan kambing domba mungkin menggambarkan kualitas yang terbaik (1 Sam.15:9) dan digunakan untuk pengurbanan (Yes.39:18). Selanjutnya seperti Daud. Jika semula menyatakan pandangan bahwa diri mereka sebagai musisi. Di tengah-tengah dari semua ini, kehancuran kerajaan yang akan datang tidak membuat mereka berdukacita (grief) kata ini memiliki arti yang sesungguhnya
109
“menjadi sakit atau buruk” dan mungkin digunakan dengan bebas dengan kesan bahwa walau pun mereka menjadi sakit karena semua pesta mereka yang mewah itu, nasib dari keturunan Yusuf (kerajaan Utara), mereka tidak terpengaruh karena mereka tidak pernah berpikir tentang hal itu.
Dalam ayat 6b, sebuah peringatan untuk menyadarkan umat di Samaria yang tidak merasa tidak terluka atas kehancuran keturunan Yusuf. Bagian ini memiliki hubungan dengan peristiwa terdahulu dan akan berlaku kembali bagi mereka. Nabi secara jelas menyalahkan bangsa bangsa Israel, karena gaya hidup mereka yang meminum anggur di mangkuk, karena mereka mengurapi diri mereka sendiri dengan minyak yang paling mahal, karena mereka berbaring pada ranjang gading, karena mereka duduk dengan santai pada bangku mereka, karena mereka makan daging terbaik, tetapi semua kemewahan itu berasal dari tanah rakyat kecil yang diraup mereka yang memiliki kuasa.
Situasi ini menggambarkan bagaimana para penguasa bersukaria dalam pesta pora, sedangkan rakyat kecil yang adalah sesama manusia semakin menderita di tanahnya sendiri. Di sini, memiliki kaitan dengan seruan nabi, bahwa mereka “menganggap jauh hari malapetaka, tetapi mendekatkan pemerintahan kekerasan”. Inilah yang disebut oleh nabi ketenteraman yang celaka, keturunan Yusuf sementara dihancurkan karena sikap ketidakadilan pemimpin Israel. Dengan demikian, berita penghukuman sebagai jawaban karena Tuhan tidak tahan lagi melihat sikap acuh dan sejahtera yang omong kosong Ini. Nabi memperingatkan dengan keras bahwa kejatuhan mereka tetap dekat, tetapi mereka tidak peduli dengan apa pun, justru mereka masih
mementingkan kesenangan sendiri.86
86J. Calvin, Commentaries On The Twelve Minor Prophets Vol.II Joel, Amos, Obadiah (Michigan: Baker Book House Company, 1984), 311-312.
110
Amos mengungkapkan tentang Allah yang akan bertindak untuk menghukum (Am. 3:15), Allah akan membuang mereka (Am 5:27,5:17). Allah akan meruntuhkan bukit pengorbanan dan tempat kudus, Allah akan melawan keluarga Yerobeam dengan pedang (Am 7:9) Allah akan memunahkan kerajaan-kerajan yang berdosa itu (Am 9:8) akan tetapi Amospun menubuatkan tentang pemulihan apabila bangsa Israel berbalik pada Allah (Am 5:5). Allah tidak ingin menunda-nunda waktu untuk mengampuni umatnya, akan tetapi umat Israel tidak segera berbalik kepada Allah, melainkan mereka mengabaikan apa yang disampaikan oleh nabi dan masih