Pasal 6: Rasa tenteram yang palsu (ay. 1-14)
3.4. Konsep Keadilan Sosial dalam Amos 6:1-7
3.4.2. Mengapa Amos dari Yehuda bernubuat di Israel?
Sebelum masuk dalam analisa teks, ada suatu hal menarik bahkan suatu pertanyaan besar yang patut untuk dikaji yakni alasan mengapa Amos yang berasal dari Selatan harus bernubuat sampai di Utara, apa hanya sebatas karena ia dipanggil dan diutus oleh Allah, bagi saya jika dilihat dari kacamata post kolonial, pasti ada kepentingan di dalamnya. Di luar dari kritikan yang begitu keras terhadap para penguasa dan kaum elit di Israel yang berlaku tidak adil terhadap masyarakat kecil yang lemah dan miskin.
Bertolak dari sejarah politik Israel yang mulai mengalami perubahan setelah selama empat puluh tahun lamanya Salomo memerintah di kerajaan Israel Raya yang dianggap sebagai “abad keemasan Israel” (971-931). Namun setelah Salomo wafat, dimulai dengan perpecahan di mana suku-suku Israel Utara memisahkan diri dari suku-suku Israel Selatan sehingga muncul dua kerajaan bersaudara. Bangsa Yehuda mengakui hak untuk memerintah berdasarkan asas pewarisan takhta secara keturunan. Setiap raja di Israel Selatan berasal dari suku Yehuda. Tetapi
57 B.J. Boland, Tafsiran Kitab Amos., 67.
95
di Israel Utara, seorang raja dipilih oleh Allah melalui para nabi (1 Raj 12:21-24). Oleh karena itu, saat dinasti Daud memerintah, pusat kekuasaan dan peribadahan difokuskan di Selatan, yakni di Yerusalem, kediaman suku Yehuda. Setiap orang yang ingin memperoleh keadilan dan ingin beribadah harus datang ke Yerusalem. Yerusalem menjadi sentral kehidupan Israel. Namun setelah perpecahan, suku-suku Israel Utara pun membangun tempat pemerintahan dan tempat
ibadahnya sendiri seperti di Yehuda, yakni Samaria dan Betel.59
Dan firman yang dipakai untuk membenarkan kepentingan sentralisasi tersebut adalah Amos 4:4-5; 5:5-6.
“Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal, dan perhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi dan persembahkanlah persepuluhanmu pada hari yang ketiga, Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi, Dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! sebab bukankah yang demikian yang kamu sukai, hai Israel?” Demikianlah firman Tuhan Allah (4:4-5)
Carilah Aku, maka kamu akan hidup, Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap carilah Tuhan, maka kamu akan hidup, supaya jangan ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel (5:5-6)
Di mana Yahwe sehingga harus dicari, jika bukan pada Betel bagi orang Israel? Tentu ini menjadi sesuatu yang mengejutkan bahkan sebuah pertanyaan besar bagi bangsa Israel, mereka harus mencari tempat peribadahan yang baru, di daerah yang berbeda. Karena bagi Amos tempat Yahweh adalah di Sion, disitulah Yerusalem yang menjadi kota sentral bagi orang Yahudi. Oleh karena itu dalam nubuatannya Amos memberitakan untuk tidak pergi ke Betel, karena di Betel hanyalah penuh dengan kejahatan, dan mereka akan lenyap dari hadapan Tuhan. Oleh karena itu jika mereka yang dari Israel Utara ingin hidup dan selamat, maka mereka dipanggil memandang kembali TUHAN yang disembah oleh Daud di Yerusalem.
96
Jadi seolah-olah Allah telah menentukan bahwa Yerusalem dan Sion merupakan tempat yang layak, tempat yang kudus dan suci bagi seluruh rakyat Israel, tempat “Allah berdiam”. Ada beberapa pokok penting yang perlu diketahui disini adalah pertama, Amos adalah orang Yehuda, namun ia diutus untuk bernubuat di Israel. Di balik nubuat Amos ini, ada suatu kepentingan politik di dalamnya bahkan lebih kasarnya adalah adanya unsur kecemburuan sosial terhadap Israel yang lebih makmur dan tenteram dibandingkan dengan Yehuda, yang dipimpin dan dikendalikan oleh penguasa dari dinasti Daud, yakni menginginkan penyatuan kembali kerajaan Israel Raya seperti sebelumnya yakni dipimpin oleh dinasti Daud. Kedua, setelah Israel Utara menjadi sebuah kerajaan, mereka menjadi kerajaan yang maju dan makmur, oleh karena itu kritikan Amos pada bidang ekonomi tujuan utamanya adalah agar bangsa Israel berbalik dan tidak menjadi ancaman bagi Yehuda. Kemakmuran di Israel menunjukkan bahwa mereka pun bisa membangun kembali masa kejayaan Salomo, tanpa campurtangan penguasa-penguasa dari dinasti Daud.
Ketika melihat Amos 5:5, “Janganlah kamu mencari Betel, maupun pergi ke Gilgal,“ ini serupa dengan bahasa Ulangan 12:5, “Tempat itulah yang harus kamu cari dan ke sanalah kamu harus pergi”. Jika dipahami secara mendalam artinya “mencari” obyek atau tempat yang selain kedua tempat di atas, dapat juga dikaitkan di dalam 2 Tawarikh 1:5, “Kemudian demikian juga mengenai kuil yang dibangun oleh Salomo”. Setelah melihat perbandingan yang ada maka dapat disimpulkan bahwa di dalam pandangan Amos adalah pemujaan Tuhan di Yerusalem dan hal ini serupa dengan pandangan Deuteronomis bahwa pemujaan Tuhan diharapkan hanya di Yerusalem saja, dan bahwa itu tidak datang secara langsung dari nabi Amos, tetapi karena ada campur-tangan kepentingan politik dibelakang peran Amos. Dengan demikian, Israel bukanlah disebut kerajaan yang makmur dan sejahtera tanpa Yerusalem.
97
Masa jaya kehidupan Israel pada masa pemerintahan raja Yerobeam II, ingin menunjukkan kepada Yehuda bahwa suku-suku Israel pun dapat menjadi masyarakat yang maju, sejahtera, tidak hanya kesejahteraan itu milik suku Yehuda, baik dalam pemerintahan maupun ritus keagamaan yang mana ia juga menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan ke delapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu, begitulah dibuatnya di Betel, yakni ia mempersembahkan korban kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengorbanan yang telah di
angkatnya.60
Setelah menjadi raja atas Israel, sekitar tahun 1000 SZB sampai sekitar tahun 250 SZB, Daud melakukan pemusatan pemerintahan dan ibadah suku-suku bangsa Israel di Yerusalem. Hal ini dilakukan Daud karena sebelumnya suku-suku tersebut memiliki tempat ibadah masing-masing, seperti Sikhem, Silo, Bethel, Gilgal, Gibeon dan sebagainya. Daud juga memulai suatu kultus baru yang terpusat yang disebut kultus raja dan berpusat pada raja sebagai wakil Allah di dunia. Oleh sebab itu, untuk berhubungan dengan Allah, orang harus melakukannya lewat sang raja, karena dia sajalah yang dapat berhubungan dengan Allah dan semakin terpusat ketika Bait Allah dibangun oleh Salomo di Yerusalem, kultus ini semakin mendapat tempat yang penting
dalam kehidupan bangsa Israel khususnya di Yehuda.61
Dengan demikian, Yehuda menjadi pusat pemerintahan sekaligus peribadahan bagi seluruh Israel. Namun pada akhirnya setelah kematian Salomo, Israel Utara memberontak dan memisahkan diri dari kerajaan Israel Raya dan membentuk kerajaan sendiri, dipimpin oleh Raja Yerobeam. Dan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan raja Yerobeam bin Yoas (Yerobeam II), yang berhasil memperluas wilayah kerajaannya dan memulihkan batas-batas
60 Robert B. Coote, Demi Membela Revolusi., 95.
98
lama (II Raj. 14:25). Banyak kota-kota dibangun di Israel, baik kerohanian maupun struktur kebangsaannya mengalami pemulihan kembali. Sentralisasi oleh Dinasti Daud di Yehuda baik itu pemerintahan dan peribadahan di Yerusalem dan Sion, tidak diterima oleh Kerajaan Israel Utara. Oleh karena itu, suku-suku Utara juga membuat suatu sistem yang sama seperti di Yehuda yakni membangun pusat pemerintahan dan pusat peribadahan di Samaria dan Betel. Pembentukan pusat pemerintahan dan menghidupkan kembali kultus peribadahan oleh raja Israel, Yerobeam II bertujuan supaya bangsa Israel tidak perlu lagi beribadah di Yerusalem. Inilah yang dikecam oleh Amos dalam nubuatannya bahwa semua tindakan yang dibuat oleh Raja Yerobeam adalah tindakan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan penuh dengan ketidakadilan sehingga peribadahan mereka tidak layak dan mereka akan dilenyapkan dari hadapan Tuhan. Oleh sebab itu jika bangsa Israel ingin hidup maka harus mencari Tuhan serta takut kepada Tuhan seperti raja dari Yehuda, yakni Daud.
Nubuat Amos pada akhirnya tidak didengarkan oleh para pemimpin-pemimpin di Israel namun justru ia diusir oleh Imam Amazia untuk kembali ke dan bernubuat di Yehuda (Am. 7:12). Pengusiran Amos oleh para Pemimpin Israel sebenarnya mengindikasikan bahwa Kerajaan Israel ingin melakukan suatu pengejekan atau olokan (mockery) bagi nabi Amos yang menjadi alat atau kaki tangan dari kekuasaan Dinasti Daud. Penguasa dari keturunan Daud diklaim sebagai penguasa yang sepihak, mereka hanya memperhatikan wilayah dan saudara sesuku mereka, tanpa memperhatikan bahwa Israel Raya tidaklah hanya suku Yehuda, tidak hanya di wilayah Selatan saja, namun Israel Raya juga terdiri dari suku-suku di wilayah Utara Israel. Israel tidak disebut raya jika pembangunan besar-besaran dipusatkan di Selatan, sementara di Utara terabaikan. Oleh karena itu bagi saya, ketidakadilan dari sentralisasi di Yerusalem, menjadi masalah penting yang menghancurkan kerajaan Israel Raya.
99