IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2.5. Analisa Ukuran Butir dan Granulometri Sedimen Dasar
Hasil dari perhitungan ukuran butir sedimen menunjukkan bahwa karakteristik sedimen yang terdapat di perairan Pulau Kemujan Karimunjawa di dominasi oleh pasir kasar sampai pasir halus yang memiliki kisaran ukuran butir 0,5-0,125 mm. Memiliki rata-rata kandungan bahan organik sebesar 25,6%. Ukuran sedimen yang bervariasi menunjukkan adanya transport sedimen di sepanjang pantai karena pengaruh arus. Menurut Nybakken (1992) dalam Purnawan, et al. (2012), jenis sedimen dan ukurannya merupakan salah satu faktor ekologi dan mempengaruhi kandungan bahan organik dimana semakin halus tekstur substrat semakin besar kemampuannya untuk menjebak bahan organik. Selanjutnya menurut Giofandi, et al. (2019), padang lamun juga mampu mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang, sehingga keberadaannya memiliki berbagai manfaat bagi biota maupun lingkungan sekitarnya.
Perbedaan ukuran butir sedimen berhubungan dengan asal sumber sedimen. Semakin kearah teluk, ukuran butiran sedimen semakin halus, sedangkan ukuran butir yang berhadapan dengan laut lepas cenderung lebih kasar. Ekosistem lamun yang terdapat pada setiap stasiun penelitian merupakan lokasi yang langsung berhadapan dengan laut lepas sehingga ukuran butir yang dijumpai
berupa kerikil hingga pasir kasar, tidak berupa lumpur. Menurut Abdulkarim (2011), komposisi sedimen dipengaruhi oleh aksi gelombang/pasang surut, arus litoral dan komposisi petrografi dari pantai, sehingga distribusi ukuran butir pantai adalah fungsi dari kondisi hidrodinamik tersebut. Distribusi sedimen di sepanjang pantai adalah hasil dari interaksi kompleks antara sumber sedimen, tingkat energi gelombang dan tingkat kemiringan di lepas pantai. Selanjutnya menurut Nugroho dan Basit (2014), beberapa sedimen yang berasal dari dekat pantai ditemukan endapan terigenik berupa batuan berukuran halus dan mineral-mineral lempung serta sisa-sisa tumbuhan, hal ini mencirikan adanya pengaruh dari daratan dan aktifitas vulkanik.
Distribusi ukuran partikel secara umum diuraikan oleh empat parameter distribusi, yaitu rata-rata (mean) yang disifatkan oleh bagian tengah dari distribusi, sorting (standar deviasi) atau lebar dari distribusi yang merupakan rentang ukuran partikel, skewness merupakan ukuran penyimpangan dari kesimetrisan distribusi, dan kurtosis merupakan kedataran atau puncak distribusi. Menurut Korwa et al., 2013), analisis perubahan spasial dalam parameter ukuran butir (rata-rata, sortasi, skewness dan kurtosis) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk identifikasi jalur transportasi sedimen dengan menggunakan metode analisis granulometri. Nilai-nilai tersebut digunakan untuk menafsirkan sebaran, mekanisme pengangkutan dan pengendapan sedimen di suatu kawasan.
Hasil dari analisis granulometri sedimen menunjukan hasil sorting adalah very well sorted yang artinya semua butiran sedimen melalui proses pemilahan dengan baik. Hasil dari perhitungan skewness (kemencengan) cenderung tergolong very fine skewned dan angka kemencengannya bernilai positif, hal ini
menunjukan bahwa distribusi butirannya berlebihan ke ukuran halus. Menurut Junaidi dan Wigati (2011), diantara beberapa sifat butiran sedimen, ukuran sedimen merupakan salah satu sifat yang penting. Ukuran butiran sangat mempengaruhi mudah tidaknya serta banyak sedikitnya sedimen yang ditranspor. Bentuk butiran sedimen penyusun material juga tidak teratur, dari yang berbentuk mendekati bulat sampai dengan bentuk yang sangat pipih, sehingga tidak mudah untuk mendefinisikan ukuran dari butiran yang memiliki bentuk tidak beraturan. 4.2.6. Hubungan Kerapatan Lamun, Kelimpahan Larva Ikan, Bahan
Organik Sedimen, Suhu dan Arus
Hubungan kerapatan lamun dengan beberapa variabel independen dalam penelitian ini di uji dengan menggunakan analisis komponen utama (PCA) dan Multi linier regresi (MLR). Hasil analisis tersebut menunjukan bahwa kerapatan lamun berkorelasi dengan kelimpahan larva ikan, bahan organik sedimen, suhu dan juga arus. Begitu besar peranan padang lamun dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut menjadikan padang lamun harus dijaga kelestariannya. Menurut Riniatnih (2016), banyak organisme laut yang memanfaatkan padang lamun sebagai habitat hidup. Salah satu fungsi fisik padang lamun adalah sebagai pendaur ulang zat hara di perairan. Aktivitas mikroorganisme pengurai mengembalikan bahan anorganik ke perairan melalui proses dekomposisi dari bahan organik atau jaringan hidup yang berupa detritus serasah lamun. Keberadaan bahan anorganik sebagai nutrient atau zat hara ini sangat dibutuhkan oleh lamun untuk proses produksi selanjutnya.
Dalam uji regresi linier berganda menunjukkan hasil bahwa secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan larva ikan. Ekosistem padang lamun merupakan salah satu daerah yang cocok untuk
dijadikan sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah pengasuhan (nursery ground) dan daerah ketersediaan makanan (feeding ground) bagi larva ikan. Namun, pada beberapa ekosistem lamun memiliki karakteristik vegetasi yang berbeda sehingga kelimpahan larva ikan tidak selalu ditemui pada kerapatan lamun yang tinggi. Menurut Ara et al. (2011), faktor-faktor lain yang dapat berkontribusi dalam kelimpahan larva ikan di ekosistem padang lamun adalah ketersediaan makanan dan tempat tinggal. Produktivitas primer yang tinggi dari padang lamun dapat menjamin adanya ketersediaan bahan organik yang melimpah untuk organisme. Selain itu, struktur vegetasi lamun juga memberikan kualitas fisik dan kimia ke lingkungan sehingga menjadikan daerah tersebut cocok untuk dijadikan sebagai daerah rekrutmen untuk ikan.
Kandungan bahan organik sedimen pada lokasi penelitian sebesar 25,6% dari hasil rata-rata yang diperoleh. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kerapatan lamun. Bahan organik pada sedimen berasal dari hasil dekomposisi tumbuhan. Kerapatan lamun juga dipengaruhi oleh fraksi substrat serta kandungan nutrient atau zat hara substrat dasar tempat lamun tumbuh. Fraksi substrat pasir berlumpur lebih banyak mengandung bahan organik yang tinggi daripada substrat berpasir. Menurut Larkum et al. (1988) dalam Riniatsih (2016), kandungan bahan organik yang tinggi pada sedimen banyak menyumbang nutrient atau zat hara di sedimen. Kandungan nutrient yang berupa nitrat dan phospat di dalam sedimen dapat diserap oleh lamun melalui sistem perakarannya, sehingga dapat membantu proses pertumbuhan lamun.
Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam pertumbuhan lamun. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan suhu air pada ekosistem lamun
berkisar antara 27,9-33,7°C. Dari nilai tersebut terlihat bahwa suhu di perairan Pulau Kemujan masih termasuk optimal untuk pertumbuhan dan fotosintesis lamun. Menurut Kordi (2011), suhu optimum pertumbuhan lamun yaitu 28-30°C sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25-35°C. Selanjutnya menurut Rawung et al. (2018), suhu air memiliki pengaruh yang sangat besar untuk proses fotosintesis serta populasi hewan yang terkait pada padang lamun.
Kecepatan arus pada perairan Pulau Kemujan yang menjadi lokasi penelitian berkisar antara 0,04-0,25 m/s. Dari hasil tersebut terlihat bahwa kecepatan arus sangat bervariasi dari kategori arus sangat lemah hingga arus yang kuat, hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi pada masing-masing stasiun penelitian. Menurut Rahman (2016), pada daerah yang arusnya cepat, sedimen pada padang lamun terdiri dari lumpur halus. Hal ini menunjukkan kemampuan lamun sebagai penghalang dalam mengurangi pengaruh arus, sehingga mengurangi terjadinya transport sedimen.
4.2.7. Hubungan Pasang Surut dengan Kerapatan Lamun, Kelimpahan