IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2.4. Kelimpahan dan Struktur Komunitas Larva Ikan
Jumlah larva ikan yang tertangkap selama penelitian secara keseluruhan berjumlah 571 individu. Larva ikan yang berhasil teridentifikasi terdapat 11 famili yakni Monachanthidae, Nemipteridae, Hemiramphidae, Mugilidae, Belonidae, Blennidae, Apogonidae, Atherinidae, Oryziatidae, Labridae dan Gobiidae. Jumlah larva ikan yang diperoleh selama pengambilan sampel disetiap titik selalu berfluktuasi. Kelimpahan larva ikan tertinggi ditemukan pada titik III yaitu sebesar 335 ind/1000m3. Sedangkan kelimpahan larva ikan terendah ditemukan pada titik XIII yaitu sebesar 90 ind/1000m3. Titik III merupakan lokasi pengambilan sampel yang letaknya di daerah pantai berpasir dan memiliki ekosistem padang lamun serta berdekatan dengan adanya pelabuhan. Secara biologis, fase larva akan banyak dijumpai di daerah pesisir karena wilayah
tersebut merupakan daerah yang potensial bagi larva ikan untuk meneruskan pertumbuhannya. Menurut Amarullah (2008) dalam Simanullang et al., (2016), perairan pantai yang terdiri dari daerah pasang surut, estuari, mangrove, padang lamun, terumbu karang, maupun pantai berpasir merupakan nursery ground bagi berbagai jenis ikan. Adanya mekanisme hidro-biologi larva ikan yang dilahirkan di daerah lepas pantai akan menuju daerah habitat nursery yang kemudian keberhasilan hidupnya akan berpengaruh terhadap rekrutmen.
Penyebaran larva dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada ekosistem lamun yang ada di perairan pulau Kemujan. Kondisi lingkungan tersebut salah satunya dapat ditinjau dari ketersediaan makanan bagi larva ikan. Berdasarkan cara hidupnya, larva digolongkan sebagai hewan planktonik dan hidup secara pasif mengikuti kondisi perairan. Menurut Dewiyanti (2004) dalam Wowor et al., (2016), pola penyebaran biota dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: 1) substrat yang merupakan habitat suatu spesies, 2) ketersediaan makanan dalam bentuk detritus dan partikel tersuspensi, 3) pengaruh faktor ekologis seperti faktor fisik dan kimia lingkungan, 4) strategi adaptasi dan interaksi biologis antar populasi yang terdapat dalam komunitas tersebut.
Kelimpahan larva ikan di lokasi penelitian berkisar antara 90-335 ind/1000m3 pada setiap titik pengamatan. Didominasi oleh larva dari famili Gobiidae sebanyak 580 ind/1000m3, ditemukan pada titik I, II, III, IV, VI, VIII, IX, X dan XIII. Sedangkan kelimpahan larva ikan terendah adalah larva dari famili Labridae sebanyak 55 ind/1000m3, ditemukan hanya pada titik V. Jenis ikan dari famili Gobiidae mempunyai tubuh yang ramping, memanjang dengan punggung yang sedikit melengkung, memiliki dua sirip dorsal. Salah satu contoh
dari family Gobiidae adalah ikan Goby yang habitatnya menyebar di dekat pantai-laut, air payau dan air tawar. Sedangkan larva dari famili Labridae memiliki tubuh berwarna bening sehingga guratan pada sisi tubuhnya terlihat, bentuk ekornya berpinggiran tegak (Truncate). Ikan dari famili Labridae diantaranya adalah Ikan Napoleon, ikan Kakatua dan Loli-loli (Kaeli et al., 2016). Menurut Adhitya et al. (2013), pada umumnya larva dari jenis Labridae menjadikan padang lamun sebagai lokasi memijah, dan ketika dewasa akan beralih ke ekosistem mangrove atau terumbu karang bahkan laut lepas.
Famili Monachantidae ditemukan pada titik I, V, IX dan X, salah satu jenis ikan dari famili Monachantidae yang tertangkap di lokasi penelitian adalah sejenis ikan karang. Begitu juga salah satu ikan yang tergolong dalam jenis ikan karang adalah famili Nemipteridae. Famili Nemipteridae ditemukan pada titik I, III, VI, dan VIII. Menurut FAO (1998), habitat famili Monachantidae berada di daerah karang yang dangkal dan berbatu. Memiliki kebiasaan makan dengan cara memakan polip karang, epifit yang menempel di lamun atau memakan biota lain yang berukuran lebih kecil. Selanjutnya menurut Paulangan et al., (2019), ikan famili Monachantidae melimpah pada ekosistem terumbu karang bentuk reef slope dan reef flat. Sedangkan ikan famili Nemipteridae melimpah pada bentuk terumbu reef slope dan reef crest.
Jenis ikan dari famili Hemiramphidae yang tertangkap di lokasi penelitian adalah ikan Julung-julung. Larva ikan dari famili Hemiramphidae ditemukan pada titik III, IV, V, VI, VIII dan X. Ikan ini memiliki morfologi bentuk tubuh fusiform dengan warna tubuh putih keabu-abuan, tipe mulut berbentuk paruh (beak), rahang bawah berukuran lebih panjang dari rahang atas. Menurut Fitria (2015)
dalam Supiana (2018), keberadaan organisme ikan famili Hemiramphidae berkaitan erat dengan peranan ekologi di dalam perairan. Ikan Julung-julung memiliki potensi dalam pengurangan penyebaran populasi larva nyamuk dan diduga dapat dijadikan bioindikator kualitas perairan.
Famili Mugilidae ditemukan pada titik I, III, VII, XI, XII, dan XIII. Famili Mugilidae merupakan larva ikan yang paling sering dijumpai dan berhasil tertangkap oleh jaring larva, di duga karakteristik pergerakan ikan Mugilidae berada di permukaan sampai ke kolom air. Salah satu contoh ikan dari family Mugilidae adalah Ikan Belanak. Sedangkan family Belonidae ditemukan pada titik V, VII, dan XII. Menurut Redjeki (2013), famili Mugilidae termasuk dalam kelompok ikan yang mempunyai kemampuan adaptasi cukup baik sehingga larva ikan ini dapat ditemukan hampir di semua perairan. Sedangkan ikan famili Belonidae hidup pada pantai dangkal, utamanya pemakan ikan kecil lainnya, crustacea dan cumi-cumi kecil.
Famili Apogonidae ditemukan pada titik II, VI, VII, VIII, X, XI, dan XIII. Famili Apogonidae juga dikenal dengan nama ikan Seriding. Sedangkan famili Atherinidae ditemukan pada titik I, II, IV, VII, XI, dan XII. Menurut Wizurai et al., (2012), famili Apogonidae memiliki pola sebaran yang mengelompok dan merupakan hewan yang tidak menetap di ekosistem padang lamun. Ikan famili Apogonidae tinggal di padang lamun pada masa juvenile dan setelah dewasa dapat berpindah ke tempat lain. Berlainan dengan ikan family Atherinidae dianggap sebagai kelompok yang menetap pada ekosistem padang lamun.
Indeks keanekaragaman (H’) larva ikan yang diperoleh berdasarkan perhitungan pada setiap titik menunjukkan nilai yang cukup beragam. Kisaran
nilai keanekaragaman (H’) pada lokasi penelitian berkisar antara 1,079-1,7272 yang menunjukkan tingkat keanekaragaman larva ikan bersifat sedang. Sesuai dengan teori Manson (1981) dalam Hasanah et al., (2014), bahwa nilai indeks keanekaragaman pada kisaran 1 > H’ < 3 menunjukkan keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap jenis sedang, dan kestabilan komunitas sedang, artinya tidak ada spesies yang mendominasi maupun spesies minoritas yang ditemukan pada pengamatan.
Indeks keseragaman (E) digunakan untuk mengetahui berapa besar kesamaan penyebaran jumlah individu setiap genus pada tingkat komunitas di setiap lokasi pengamatan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai indeks keseragaman larva ikan di perairan Pulau Kemujan berkisar antara 0,7521-0,9846 yang termasuk dalam kriteria nilai mendekati 1, artinya tingkat keseragaman antar titik pengamatan tinggi atau relatif hampir sama dan tidak berbeda jauh. Menurut Pirzan et al. (2008), semakin besar nilai keseragaman dapat dikatakan merata atau jumlah individu dalam spesies relatif sama, sedangkan jika keseragaman bernilai kecil maka tingkat keseragaman antar spesies di dalam komunitas rendah, yang berarti kekayaan individu yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh berbeda.
Indeks dominasi (D) digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya spesies tertentu yang mendominasi suatu ekosistem. Nilai indeks dominasi larva ikan yang ada di kawasan perairan Pulau Kemujan berkisar antara 0,1878-0,3881 yang termasuk dalam kriteria nilai mendekati 0, artinya tingkat dominasi larva ikan antar titik pengamatan bersifat rendah atau hampir tidak ditemukannya spesies yang mendominasi. Menurut Dhahiyat et al. (2009), apabila dalam suatu
struktur komunitas biota yang diamati terdapat spesies yang mendominasi, maka hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas berada dalam keadaan labil atau sedang terjadi tekanan ekologis. Sedangkan yang terjadi di kawasan perairan Pulau Kemujan ini adalah sebaliknya, tidak ada spesies yang mendominasi.