• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3 Teknologi Sambung Pucuk

2.4.4 Analisa Vitamin C

Penentuan kadar vitamin C dapat ditentukan dengan titrasi Iodium. Pada saat reaksi oksidasi, Iodium akan direduksi menjadi Iodida. Iodium akan mengoksidasi senyawa-senyawa yang mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil dibanding Iodium. Vitamin C mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil dari pada Iodium sehingga dapat dilakukan titrasi langsung dengan Iodium. (A. Rohman, 2007)

Hal ini berdasarkan sifat bahwa vitamin C dapat bereaksi dengan Iodium. Indikator yang digunakan adalah amilum. Akhir titrasi ditandai dengan terjadinya warna biru dari Iod-amilum. Vitamin C dengan iod akan membentuk ikatan dengan atom C no.2 dan 3 sehingga ikatan rangkap hilang.

O = C O = C ─ OH │ │ HO ─ C HO ─ C ─ I || O │ HO ─ C HO ─ C ─ I │ │ H ─ C + I2 H ─ C ─ OH│ HO ─ C ─ H HO ─ C ─ H │ │ CH2OH CH2OH

Gambar 2.5 Reaksi antara Vitamin C dan Iodium (S. Sudarmadji, 1992) Cara lain dalam penentuan vitamin C adalah oleh 2,6 D (2,6 Na-dikhlorofenol indofenol). Asam askorbat dapat direduksi 2,6 D sehingga terjadi perubahan warna. Larutan 2,6 D dalam suasana netral atau basa akan berwarna biru sedang dalam suasana asam akan berwarna merah muda. Apabila 2,6 D direduksi oleh asam askorbat maka akan menjadi larutan tidak berwarna, dan bila semua asam askorbat sudah mereduksi 2,6 D maka kelebihan larutan 2,6 D sedikit saja sudah akan terlihat dengan terjadinya pewarnaan. Untuk perhitungan maka perlu dilakukan standarisasi larutan 2,6 D dengan vitamin C standar. Reaksi yang terjadi selama titrasi adalah sebagai berikut:

HO Cl Cl NH O C C C C C CH2OH O O H HO H O O + Cl OH Cl NH OH Vit C. Teroksidasi 2,6 D.tereduksi C C C C C CH2OH O OH OH H OH H O

+

Vit. C

Gambar 2.6 Reaksi antara Vitamin C dan 2,6 D (S. Sudarmadji, 1992)

2.5 β-Karoten

β- karoten adalah salah satu zat antioksidan yang terdapat pada buah-buahan, antara lain terdapat pada wortel, kentang dan buah peach yang lezat. Zat antioksidan sangat berguna untuk melawan zat radikal bebas yang berasal dari zat-zat beracun. Radikal bebas adalah awal dari penyakit, termasuk disini adalah penyakit jantung yang sangat ditakuti. Dengan adanya zat antioksidan yang antara lain adalah β-karoten yang terdapat pada kentang, wortel, peach dan lain-lain, diketahui telah dapat mengurangi sebanyak kurang lebih 40% dengan hanya mengkonsumsi 50 mg β-karoten setiap hari dalam menu makanannya. Tentu saja dengan cara hidup yang sehat. (L. Lidya, 2010)

Istilah karotena digunakan untuk menunjuk ke beberapa senyawa yang berhubungan yang memiliki formula C40H56.

Karotena adalah pigmen fotosintesis berwarna jingga yang penting dalam fotosintesis. Zat ini membentuk warna jingga dalam wortel dan banyak buah dan sayur lainnya. β-karoten berperan dalam fotosintesis dengan menyalurkan energi cahaya yang diserap ke klorofil. Secara biokimia, karotena termasuk ke dalam golongan terpena, yang disintesis secara biokimia dari delapan satuan isoprena. β– karoten dikenal dalam dua bentuk utama yang diberi karakter Yunani: alfa-karotena (α-karotena) dan beta-karotena (β-karotena). Gamma-, delta-, dan epsilon- (γ, δ, ε -karotena) juga dikenal dalam jumlah yang sedikit. β-karoten terdiri dari dua grup retinil, dan dipecah dalam mukosa dalam usus kecil oleh β-karoten dioksigenase menjadi retinol, sebuah bentuk dari vitamin A. Karotena dapat disimpan dalam hati dan diubah menjadi vitamin A sesuai kebutuhan, sehingga ia dapat dianggap sebagai provitamin A. (T. Salamah, 2005)

β-karoten diperkirakan memiliki banyak fungsi yang tidak dimiliki oleh senyawa lain. Jumlah yang diperlukan oleh tubuh memang hanya ukuran milligram perhari. Tetapi jika tidak terpenuhi dapat menimbulkan gangguan fungsi. Zat yang merupakan provitamin A ini terdapat dalam sejumlah sayuran dan buah-buahan. β -karoten merupakan unsur yang sangat potensial dan penting bagi vitamin A, unsur ini merupakan persenyawaan kimiawi yang hampir terlibat dalam berbagai reaksi kimiawi-fisiologik dalam rangkaian metabolisme. Biasanya, sayur-sayuran yang berwarna terang seperti wortel, banyak mengandung β-karoten.

Akibat kekurangan β-karoten tidak segera dapat dirasakan, sehingga kebutuhan unsur ini jarang menjadi perhatian. Para peneliti dari institut kanker merekomendasikan, kebutuhan tubuh akan β-karoten setiap hari hanya 5-6 mg. Sebagaimana vitamin, meskipun jumlahnya hanya sedikit, tetapi sangat diperlukan sehingga kalau tidak terpenuhi kebutuhannya dapat menimbulkan gangguan fungsi.

Menurut hasil penelitian, β-karoten bermanfaat menghambat kanker. Terutama kanker pada saluran pernafasan dan saluran pencernaan dan sebagian jenis kanker serviks. Disamping itu, β-karoten juga dapat berfungsi sebagai penangkal radikal bebas karena peran antioksidannya. Radikal bebas merupakan senyawa yang dapat merusak sel, bahkan dapat memacu timbulnya kelainan minimal pada tingkat sel yang

selanjutnya berubah menjadi pre-kanker. β–karoten memberikan perlindungan pada tingkat seluler dimana DNA yang merupakan suatu inti genetik pembawa sifat keturunan diproteksi terhadap berbagai gangguan sehingga terlindung dari senyawa lain yang mengacaukan kode genetiknya. (H. Winarsi, 2007)

2.5.1 Manfaat β-karoten

Tidak hanya ampuh melawan radikal bebas serta menjauhkan tubuh dari sel kanker. Beta karoten ternyata memiliki manfaat lain yang tidak kalah hebatnya. Seperti: 1. Menjaga kesehatan jantung. Sebuah penelitian berhasil mengungkapkan bahwa

orang yang darahnya mengandung beta karoten relatif tinggi, memiliki risiko rendah terhadap serangan penyakit jantung.

2. Melidungi tubuh dari efek buruk rokok dan polusi udara. 3. Melindungi seseorang dari ancaman alergi cahaya hingga 80%.

4. Membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Itu sebabnya suplemen β-karoten masuk dalam daftar pengobatan yang diberikan kepada pasien penderita AIDS.

Sumber lain juga menyebutkan beberapa manfaat dari β-karoten antara lain mengurangi resiko kanker payudara pada wanita. β-karoten tampaknya sangat efektif untuk wanita yang beresiko tinggi terkena kanker payudara, termasuk mereka yang memiliki riwayat keluarga dan mereka yang menggunakan alkohol secara berlebihan. β-karoten tampaknya juga dapat mencegah kanker rahim, kanker serviks, kanker tiroid, kanker kandung kemih, kanker kulit (melanoma, karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa), kanker otak dan kanker darah (leukemia).

Namun, beberapa penelitian menunjukkan kombinasi beta-karoten dengan vitamin C, vitamin E, selenium, dan seng dapat menurunkan tingkat kanker pada pria, tapi tidak perempuan. Para peneliti berspekulasi bahwa pria memiliki asupan rendah antioksidan makanan. Mengurangi risiko kanker ovarium pada wanita setelah menopause. Serta mencegah serangan asma dibantu dengan olahraga.

Dokumen terkait