• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian

4.1.3. Analisi Bivariat

4.1.3.1. Hubungan Status IMT terhadap kadar MDA plasma

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian obesitas dengan kadar MDA plasma. Dalam hal ini menggunakan korelasi dan perbedaan status IMT, sehingga menggunakan dua variabel, yaitu obesitas dan IMT normal. Oleh karena itu dalam penelitian ini digunakan uji Mann-Whitney karena terdapat data dua variabel tidak berpasangan dan distribusi data tidak normal.

Pada penelitian ini diperolah subyek berdasarkan status IMT yang terdiri dari normal dan obesitas menurut kriteria Asia Pasifik.13 Masing-masing berjumlah 14 (36,80%) dan 24 (63,20%).

Pada uji Mann-Whitney diperoleh nilai p= 0,000 (<0,01) menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kadar MDA plasma.

Tabel 4.4 Hubungan Status IMT terhadap Kadar MDA Plasma

Variabel Status IMT P Value Normal Obesitas MDA plasma 1,03.10-6 ± 0,43.10-6 1,97.10-6 ± 1,20.10-6 0,000** **: Signifikan(p<0,01)

Studi sebelumnya menjelaskan kadar MDA menurun pada penderita obesitas yang mendapatkan terapi penurunan berat badan dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkan terapi. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan pada penanda peroksida lipid (MDA) berhubungan dengan penurunan berat badan.

Diagram 4.5 Hubungan Masing-masing Status IMT dengan MDA plasma

Diagram 4.5 di atas menunjukkan bahwa dari tiga kelompok status IMT terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dan normal dengan nilai p= 0,000 (p<0,05). Pada penelitian ini pengelompokan status IMT obesitas dan IMT normal berdasarkan kriteria Asia Pasifik.

4.2. Pembahasan

Obesitas dan Peroksida Lipid

Obesitas meningkatkan mekanisme dan proses metabolik, sehingga meningkatkan pemakaian oksigen miokardium. Peningkatan konsumsi oksigen dapat meproduksi ROS, seperti superoksida, radikal hidroksil dan hidrogen peroksidase akibat dari peningkatan respirasi mitokondria.29 Keluarnya elektron dapat menstimulasi reduksi satu elektron molekul oksigen pada pembentukan radikal superoksida. 30

Kejadian peroksida lipid sebagai akibat stress oksidatif dapat dinilai dengan adanya marker stress oksidatif. Pada beberapa literatur

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Normal Obesitas K ad ar M D A (x10 -6) Status IMT **: p<0,01 **

memaparkan obesitas memiliki kadar MDA lebih tinggi dibandingkan yang non obesitas.

Penetapan kadar MDA dengan metode uji asam tiobarbiturat (TBA) dapat diukur secara spektrofotometrik berdasarkan prinsip bahwa asam lemak tidak jenuh jamak (PUFA) dapat mengalami proses peroksidasi menjadi peroksida lipid yang kemudian mengalami dekomposisi menjadi malondialdehid (MDA). MDA bila direaksikan dengan asam tiobarbituburat (thiobarbiriuric acid atau TBA), akan membentuk senyawa berwarna merah muda yang menyerap cahaya pada panjang gelombang 532 nm. Jumlah MDA yang terbentuk dapat menggambarkan proses peroksidasi lipid.22

Lipid peroksidase adalah suatu proses yang menghasilkan radikal bebas yang berlangsung di setiap struktur membran sel. Pada sebuah studi menunjukkan bahwa obesitas berhubungan dengan lipid peroksidase. Mekanisme selanjutnya obesitas dapat bebas meningkatkan peroksidase lipid secara progresif dan akumulasi sel-sel mati yang disebabkan oleh tekanan massa tubuh yang besar. Kematian sel tersebut disebabkan oleh pelepasan sitokin, seperti TNF-α yang dapat menghasilkan ROS dari jaringan saat terjadi peroksidase lipid.30,22

Perubahan MDA sebagai penanda peroksidase lipid, dapat dilihat pada overweight dan obesitas. Mungkin dianggap sebagai potensi faktor resiko komplikasi kardiovaskular .31

Studi sebelumnya menjelaskan bahawa kadar MDA pada seseorang obesitas lebih tinggi dibandingkan dengan non obesitas yang kesehatannya terkontrol. 5Penelitian sebelumnya oleh Fershad tahun 2007, memaparkan terjadi perbedaan yang signifikan, dimana di teliti antara perempuan obesitas dan non-obes dengan p=0,0001.22

Pada penelitian ini, kadar MDA pada kelompok obesitas lebih tinggi daripada non obesitas. Hal ini kemungkinan ditandai oleh beberapa hal seperti peningkatan oksi-disability lipoprotein, atau penurunan

antioksidan. Hal ini juga menjelaskan hubungan konsentrasi TNF-α yang juga meningkat pada obesitas dan menstimulasi ROS yang dihasilkan oleh leukosit.28,3

Obesitas juga berhubungan dengan peningkatan endogen lipid peroksidase dan oksidase LDL.30LDL oksidasi berhubungan dengan aterogenesis. 18 Kolesterol LDL dirusak oleh ROS dengan monosit atau makrofag di endotelium.11 Sehingga ROS mempercepat terjadinya peroksidase lipid, yang menyebabkan penyakit kardiovaskular yang distimulus oleh ROS. Peningkatan ROS pada perempuan yang mengalami obesitas mungkin dapat dihasilkan pada kerusakan oksidatif pada sel lipid dan protein.9,10

Penelitian sebelumnya oleh Fatehmanrazzi et al. menunjukkan bahwa obesitas pada perempuan yang diberikan terapi berupa restriksi diet energi selama 12 minggu, menunjukkan perubahan yang signifikan. Terdapat hubungan bermakna dengan nilai p=0,001.

Pada sebuah studi, penurunan berat badan dapat spesifik berperan dalam menurunkan kadar MDA sebagai indikator perubahan stres oksidatif dan profil lipid.42 Konsentrasi MDA secara signifikan dapat diturunkan ketika mereduksi berat badan. MDA sebagai indikator lipid peroksidase karena molekul ini merupakan produk utama pada stres oksidatif. 19.

Malondialdehid (MDA) plasma adalah satu dari beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui terjadinya peroksidase lipid. Studi sebelumnya menjelaskan rerata kadar MDA pada kelompok obesitas lebih tinggi dibandingkan non obesitas. 31 Obesitas dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan kesehatan, terutama penyakit jantung koroner, diabetes, hipertensi, batu empedu, dan berbagai jenis kanker. 4

Jumlah MDA dapat digunakan sebagai indikator adanya kerusakan yang terjadi akibat aktivitas radikal bebas.Radikal bebas dapat mengakibatkan kerusakan oksidatif terhadap protein, DNA, lemak dan

komponen dari sel yang lain. Stres oksidatif terjadi ketika keadaan dimana

Reactive Oxygen Species (ROS) dari radikal bebas yang di hasilkan lebih besar di bandingkan dengan enzim dan antioksidan yang tersedia sebagai mekanisme proteksi dari dalam sel. Selain itu, radikal bebas juga dapat merusak struktur jaringan beserta fungsinya, dengan demikian turut memberikan kontribusi dalam proses inflamasi, proses penuaan dan pembentukan aterosklerosis sebagai pencetus timbulnya penyakit kardiovaskular dan juga penyakit lainya.1,2

Reaksi auto-oksidasi pada radikal bebas di sebabkan oleh ROS yang berperan dalam proses pembentukan peroksida lipid. Peroksidasi di mulai dengan ekstraksi atom hidrogen yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi di dalam asam lemak. Asam lemak utama yang mengalami peroksidasi lipid di membran sel terutama adalah asam lemak

polyunsaturated yang menyebabkan degradasi lemak sehingga membentuk produk akhir seperti malondialdehid (MDA). Jumlah MDA tersebut dapat digunakan sebagai indikator adanya kerusakan yang terjadi akibat aktivitas radikal bebas.1,2

Konsentrasi MDA secara signifikan dapat diturunkan ketika mereduksi berat badan. MDA sebagai indikator lipid peroksidase karena molekul ini merupakan utama pada stres oksidatif. 19

BOSS (Biomarker oxidative Stress study) tahun 2002, merupakan penelitian terakhir yang secara lengkap dilakukan, yang disponsori dan diorganisir oleh National Institute of Environmental Health Sciences

(NIEHS) di Amerika Serikat, yang merupakan penelitian komprehensif pertama untuk menilai beberapa marker stres oksidatif dengan model yang sama untuk menentukan petanda biologis yang tidak invasif, mempunyai spesifisitas, sensitifitas dan selektifitas terbaik.19

53

Dokumen terkait