• Tidak ada hasil yang ditemukan

αβ ij : pengaruh interaksi lama penyimpanan pada taraf ke-i dan cara

D. ANALISIS AFLATOKSIN

Selama proses produksi tongkol jagung menjadi xilitol, ada beberapa proses yang dilakukan, yaitu ekstraksi xilan, hidrolisis, hidrogenasi, penyaringan dan dekolorisasi, penguapan dan kristalisasi, serta separasi dan pemurnian. Diagram alir proses produksi xilitol dari tongkol jagung disajikan pada Gambar 12.

38 Gambar 12. Diagram Alir Proses Produksi Xilitol (Richana dan Suarni, 2007)

Ekstraksi xilan dilakukan dengan merendam tongkol jagung dalam NaOCl 1% selama 5 jam kemudian dicuci dan dikeringkan dan selanjutnya direndam menggunakan NaOH 15% selama 24 jam, kemudian difiltrasi dan dilakukan pengasaman menggunakan HCl atau H2SO4 (Widyani, 2002). Bahan kimia yang digunakan pada proses ekstraksi xilan, baik asam maupun basa, belum terbukti mampu mengurangi kadar aflatoksin, karena tidak semua jenis asam dan basa dapat digunakan untuk mengurangi kadar aflatoksin. Jenis asam dan basa yang telah dibuktikan mampu mengurangi kadar aflatoksin yaitu asam salisilat, sulfamat dan sulfosalisilat dengan konsentrasi 3N, kalsium hidroksida dan NaOH dengan pemanasan pada 100oC selama 4 menit (Abbas, 2005).

Xilan yang telah terekstrak kemudian dihidrolisis untuk mendapatkan xilosa. Proses hidrolisis dilakukan di dalam otoklaf dengan menggunakan asam baik HCl maupun H2SO4 dengan konsentrasi tidak lebih dari 1% kemudian dinetralkan menggunakan Na2CO3 dan ditambah arang aktif

Tongkol jagung

Ekstraksi xilan

Gula xilitol xilosa

Hidrogenasi

Penyaringan dan dekolorisasi

Separasi dan pemurnian Penguapan dan kristalisasi

39 kemudian dipanaskan pada suhu 85-90oC dan disaring (Arifin, 1990). Pada tahap ini, pemanasan menggunakan otoklaf sebenarnya mampu untuk mengurangi kadar aflatoksin. Hanya saja harus dilakukan dengan menambahkan NaOH 3% (Abbas, 2005), sedangkan umumnya pada proses ini yang digunakan adalah asam, sehingga kadar aflatoksin cenderung tidak mengalami penurunan. Pengurangan kadar aflatoksin pada suatu bahan tidak bisa dilakukan hanya dengan satu perlakuan, tetapi harus dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa faktor, seperti suhu pemanasan, bahan kimia yang digunakan, waktu dan kelembaban.

Tahap berikutnya adalah hidrogenasi xilosa menjadi xilitol. Pada tahap ini dilakukan penyaringan dan dekolorisasi, penguapan dan kristalisasi serta separasi dan pemurnian. Penyaringan dan dekolorisasi umumnya dilakukan dengan menggunakan saringan dan karbon aktif. Kristalisasi umumnya dilakukan dengan memanaskan bahan sampai titik jenuh kemudian dilakukan pendinginan cepat agar terbentuk kristal, sedangkan separasi biasanya dilakukan dengan cara mengeringkan bahan kemudian dipisahkan menurut ukuran yang dikehendaki. Pada proses ini juga tidak dimungkinkan adanya pengurangan kadar aflatoksin pada bahan, karena bahan yang digunakan dan proses yang dilakukan pada tahap tersebut belum terbukti mampu mengurangi kadar aflatoksin. Beberapa proses yang dilakukan untuk memproduksi xilitol, menunjukkan bahwa kadar aflatoksin pada bahan relatif tidak akan berkurang, sehingga proses pencegahan yang diawali dari penanganan bahan baku perlu dilakukan untuk menghambat pertumbuhan kapang terutama A. flavus dan produksi aflatoksin.

Analisis aflatoksin dilakukan untuk mengetahui besarnya kandungan aflatoksin pada tongkol jagung. Aflatoksin yang paling sering dijumpai dan paling besar efek toksinnya adalah dari jenis B1. Selain memproduksi aflatoksin B1, A. flavus juga mampu menghasilkan aflatoksin B2 dan asam siklopiazonat (Pitt dan Hocking, 1997). Pada penelitian ini, metode yang digunakan untuk menganalisis kandungan aflatoksin pada tongkol jagung adalah dengan menggunakan metode ELISA (Enzym Linked Immunosorbent

40

Assays). Peta plat mikro yang digunakan untuk menghitung konsentrasi aflatoksin menggunakan metode ELISA disajikan pada Lampiran 12.

Ada beberapa faktor yang mendorong A. flavus untuk menghasilkan aflatoksin yaitu potensi genetik kapang dan persyaratan lingkungan (substrat, kelembaban, suhu dan pH) serta lamanya kontak antara kapang dengan substrat. Secara umum, kondisi di lingkungan penyimpanan, yaitu meliputi suhu antara 25-27oC, RH 92% dan komposisi gas di atmosfer yang diasumsikan sama dengan komposisi gas di ruang penyimpanan, yaitu kadar O2 0-7%, CO2 0.01-0.1% dan nitrogen 78% serta komposisi substrat (kandungan karbohidrat dan protein) cukup potensial untuk pembentukan aflatoksin oleh A. flavus, meskipun tidak berada pada kondisi yang optimal. Kondisi optimal untuk pembentukan aflatoksin adalah pada kadar O2 1% dan N2 99% juga pada kadar O2 1%, N2 79 % dan CO2 20% (Paster dan Bullerman, 1988).

Berdasarkan hasil analisis aflatoksin yang disajikan pada Lampiran 13, tidak terdeteksi adanya aflatoksin pada tongkol jagung pada berbagai tingkat kadar air (11%, 15% dan 19%) dan cara penyimpanan (dihamparkan dan dikemas menggunakan karung goni), meskipun ditemukan adanya populasi A. flavus. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab. Pertama, A. flavus yang terdeteksi pada analisis jumlah populasi A. flavus pada tongkol jagung adalah dari galur yang tidak berpotensi untuk menghasilkan toksin. Tidak semua galur dari A. flavus dapat menghasilkan aflatoksin. Banyak dari galur A. flavus yang tidak menghasilkan aflatoksin (non-aflatoksigenik) (Diener dan Davis, 1969). Aflatoksin hanya dihasilkan oleh galur tertentu dari

A. flavus Link ax Fries (Heathcote, 1984).

Kedua, A. flavus menghasilkan aflatoksin tetapi bukan dari jenis aflatoksin B1. Metode ELISA hanya bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan aflatoksin B1, sehingga dengan menggunakan metode ini, keberadaan aflatoksin dari jenis selain B1 tidak terdeteksi. Jenis aflatoksin selain B1 yaitu aflatoksin B2, G1, G2, M1 dan M2 (Siregar, 1986).

Ketiga, aflatoksin yang dihasilkan pada awalnya adalah dari jenis B1 namun jenis aflatoksin ini dapat dikonversi menjadi aflatoksin B2. Menurut

41 Heathcote dan Hibbert (1969), aflatoksin B2 merupakan dihidroderivatif dari aflatoksin B1 melalui hidrogenasi katalitik. Konfigurasi absolut aflatoksin B2 mengikuti fakta bahwa aflatoksin B2 diperoleh dari reduksi aflatoksin B1.

Keempat, dari hasil pengamatan terhadap kapang yang tumbuh, dapat dilihat bahwa selain terdapat koloni A. flavus, terdapat juga koloni lain yang berwarna hitam dan diidentifikasi sebagai A. niger (Putra, 2007). Adanya A. niger juga menyebabkan aflatoksin tidak diproduksi oleh A. flavus. Hal ini seperti yang diterangkan oleh Wicklow et al. (1983), yaitu jika A. flavus

tumbuh bersama-sama A. niger atau Trichoderma viride Pers., A. flavus tidak akan memproduksi aflatoksin. Hal ini dikarenakan keberadaan A. niger akan menyebabkan terjadinya proses fermentasi yang menyebabkan pH substrat turun menjadi 2,6-3,0 (Wicklow, 1983). Sementara persyaratan pH untuk pertumbuhan A. flavus dan produksi aflatoksin adalah antara 4,5-6,5 (Miller dan Trenholm, 1994)

Kelima, A. flavus yang dianalisis menghasilkan aflatoksin B1, tetapi karena konsentrasinya kurang dari 0.1 ppb, sehingga nilai tersebut tidak bisa dibaca dengan menggunakan metode ELISA. Batas minimal kadar aflatoksin yang bisa dibaca dengan menggunakan metode ELISA adalah 0.1 ppb. Batas minimal skala pembacaan nilai aflatoksin menggunakan metode ELISA ini masih bisa diterima karena batas minimal 0.1 ppb masih berada dalam skala normal aflatoksin yang diperbolehkan ada pada bahan yang akan diolah menjadi produk lebih lanjut. Menurut FDA (Food And Drug Administration), batas maksimal kadar aflatoksin yang diperbolehkan ada pada suatu bahan yang akan diolah lebih lanjut, maksimal sebesar 20 ppb (Steve dan Michael, 2003).

Berdasarkan beberapa sebab tidak terdeteksinya aflatoksin menggunakan metode ELISA sebagaimana yang telah disebutkan diatas, terdapat dua faktor utama yang paling berpengaruh terhadap ketidakberadaan aflatoksin pada tongkol jagung yaitu karena A. flavus yang tumbuh pada tongkol jagung adalah dari galur yang tidak berpotensi menghasilkan aflatoksin atau konsentrasi aflatoksin yang dihasilkan kurang dari 0.1 ppb, sehingga tidak terdeteksi saat diuji menggunakan metode ELISA.

42 V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari hasil analisis proksimat, dapat diketahui bahwa tongkol jagung cukup berpotensi sebagai substrat pertumbuhan A. flavus karena tongkol jagung mengandung beberapa nutrisi seperti protein sebagai sumber nitrogen, karbohidrat dan lemak sebagai sumber karbon dan beberapa nutrisi lain seperti serat, dan mineral.

Selama penyimpanan dalam jangka waktu 30 hari, tongkol jagung cenderung mengalami penurunan kadar air. Penyimpanan tongkol jagung dengan cara dihamparkan mengalami penurunan kadar air yang lebih besar dibandingkan penyimpanan dengan cara dikemas menggunakan karung goni. Sementara pada masing-masing tingkat kadar air, tongkol jagung yang disimpan pada kadar air awal 11% mengalami penurunan yang lebih kecil dibanding penyimpanan tongkol jagung pada kadar air awal 15% dan 19%. Penurunan kadar air terkecil terjadi pada penyimpanan menggunakan karung goni pada kadar air 11%.

Perlakuan terbaik yang memberikan pertumbuhan A. flavus paling rendah adalah tongkol jagung berkadar air 11% yang disimpan dengan cara dikemas menggunakan karung goni selama 15 hari. Secara umum, semakin tinggi kadar air maka semakin tinggi populasi A. flavus yang tumbuh.

Hasil analisis aflatoksin menunjukkan bahwa kandungan aflatoksin B1 pada tongkol jagung tidak terdeteksi. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa hal antara lain A. flavus yang tumbuh bukan merupakan galur yang menghasilkan toksin, aflatoksin yang dihasilkan bukan jenis B1, aflatoksin yang dihasilkan pada awalnya adalah jenis B1, tetapi kemudian mengalami proses dehidroderivatif menjadi aflatoksin B2, konsentrasi aflatoksin yang dihasilkan kurang dari 0.1 ppb, atau bisa juga karena terdapat pertumbuhan A. niger bersama-sama dengan A. flavus, sehingga menyebabkan A. flavus tidak menghasilkan aflatoksin.

43 B. SARAN

Untuk menghindari atau minimal menjaga agar populasi Aspergillus flavus yang mencemari jagung saat masih dalam masa tanam tidak meningkat, maka sebaiknya tongkol jagung yang akan diproses segera dilakukan pengeringan untuk menurunkan kadar air sampai berada pada kisaran 9-11%. Selama penyimpanan, tongkol jagung sebaiknya dikemas menggunakan bahan yang mampu menghindari cemaran dari luar dan mengurangi kontak langsung dengan lingkungan, tetapi tidak menghambat proses sirkulasi udara dari luar ke dalam bahan kemasan. Selain itu juga perlu diukur dan dilakukan pengaturan terhadap kadar oksigen, nitrogen dan karbondioksida di tempat penyimpanan tongkol jagung untuk menciptakan kondisi atmosfer yang benar-benar efektif dalam rangka mengurangi pertumbuhan A. flavus dan produksi aflatoksin.

Berdasarkan hasil analisis A. flavus dan aflatoksin yang diperoleh, sebaiknya dilakukan analisis lebih lanjut tentang galur A. flavus yang tumbuh pada tongkol jagung. Apakah merupakan galur yang berpotensi menghasilkan toksin atau tidak, agar diketahui penyebab tidak terdeteksinya aflatoksin menggunakan metode ELISA. Sebaiknya juga dilakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan metode yang lain tentang ada atau tidaknya jenis aflatoksin yang lain seperti B2, G1, G2 M1 dan M2 mengingat aflatoksin dari jenis yang lain juga memiliki daya toksin yang cukup tinggi.

44 DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius, Yogyakarta.

Abbas, H. K. 2005. Aflatoxin and Food Savety. Taylor & Francis Group. LLC., London.

Anonim. 2000. Tinggi, Aflatoksin pada Jagung. http://kompas.com/kompas- cetak/0011/28/iptek/ting10.htm. [29 Januari 2008].

Anonim. 2002. Aflatoksin Contamination. United State Department of Agricultura-Agriculturai Research Service. USA. http://www.nal.usda. gov [26 Januari 2008].

Anonim. 2005. Jagung (Zea mays L). http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung. [30 Agustus 2008].

Anonim. 2007. Foodborne Pathogenic Microorganisms and Natural Toxins Handbook. http://www.cfsan.fda.gov/~mow/aflatoxin.html. [26 Januari 2008].

Anonim. 2008. Manfaaat Serat Makanan Untuk Kesehatan Kita. http://nusaindah. tripot.com. [27 Desember 2008].

AOAC. 1971. Official Method of Analysis of Assosiation Official Agriculture Chemist, Washington DC.

AOAC. 1995. Official Method of Analysis of Association of Official Analytical Chemistry, Washington DC.

Arifin, H. M. 1990. Hidrolisis Jerami Padi Menggunakan Asam dan Enzim dengan Perlakuan Awal Asam Sulfat sebagai Pelarut. [Skripsi[. Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.

Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). 2008. Teknologi Produksi Jagung Melalui Pendekatan Pengelolaan Sumber Daya Dan Tanaman Terpadu (PTT). http://www.puslittan.bogor.net. [30 Agustus 2008].

Badan Pusat Statistik (BPS). 2008. Produksi Jagung. (http://www.bps.go.id). [12 November 2008].

Bachri, S. 2001. Mewaspadai Cemaran Mikotoksin pada Bahan Pangan, Pakan, dan Produk Ternak di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 20(2) : 55-64.

Baht, R. V. dan J. D. Miller. 1991. Mycotoxins and Food Supply. Food Nutrition and Agriculture 1 : 27-31.

45 Barry, D. 1986. Insect of Maize and Their Association with Aflatoksin Contamination. Page 201-211. Di dalam M. S. Zuber, E. B. Lillehoj dan B. L Renfro (eds). Aflatoxin in Maize. A Proceedings of the workshop. CIMMYT, El Batan.

Betina, V. 1989. Mycotoxins, Chemical, Biological, and Environmental Aspects. Elsevier, Amsterdam.

Bhatnagar D., T. E. Cleveland, dan G. A. Payne. 2000. Aspergillus flavus. Di dalam : Robinson KK, Batt CA, Patel PA, editor. Encyclopedia of Food Microbiology vol. 3. Academic Press, New York.

Blaney, B. J., C. J. Moore, dan A. L. Tyler. 1984. Mycotoxin and Fungal Damage in Maize Harcested During 1982. J. Agric. 15 : 463-471,Queensland.

Christensen, C. M. dan H. H. Kaufmann. 1974 Microflora di dalam Christensen, C. M. Storage of Cereal Grain and Their Products. AACP Monograph Series Volume 5 : 158-183. St. Paul, Minnesota.

Cuero, R., J. F. Smith dan J. Lacey. 1988. Mycotoxin formation by Aspergillus flavus and Fusarium graminearum in Irradiated. Maize Grains in the Presence of Other Fungi. J. Food Prot. 51 : 452-456.

Darmasih, 1997. Penetapan Kadar Lemak Kasar dalam Makanan Ternak NonRuminansia dengan Metode Kering. http://peternakan.litbang.deptan. go.id/user/ptek97-24.pdf. [29 Desember 2008].

Dharmaputra, O. S. 2003. Antagonistic Effect of Three Fungal Isolates to Aflatoxin-Producing Aspergillus flavus. Biotropia No. 21. Hlm 19-26.

Diener. U. L. dan M. D. Davist. 1969. Aflatoxin Formation by Aspergillus flavus. Academic Press, New York.

Dollear, K. G. 1969. Detoxification of Aflatoksin in Foods and Feeds. Di dalam L. A. Goldblat (ed.). Aflatoxin Scientific Background, Control and Implication. Academic Press, New York.

Dunkel, F. V. 1988.The Relationship of Insects to The Deterioration of Stored Grain by Fungi. Int. J. Food. Microbiol. 7 : 227-244.

Edi. 1988. Perubahan Kandungan Aflatoksin Selama Tahap-Tahap Fermentasi Oncom [Skripsi]. Fakultas Pertanian IPB, Bogor.

Effendi, S. dan Sulistiati. 1991. Bercocok Tanam Jagung. CV. Yasaguna, Jakarta.

Faraj, K., J. E. Smith dan G. Harran. 1993. Aflatoxin Biodegradation : Effect of Temperature and Microbes. Mycol. Res 98 : 1388=1392.

46 Fengel, D. dan Wegener, 1995. Wood : Chemistry, Ultrastructure, Reaction.

Terjemahan S. Hardjono. UGM Press, Yogyakarta.

Frazier, W. C. dan D. C. Westhoff. 1978. Food Mycrobiology. McGrow-Hill Book Co., New York.

Goldblatt, L. A. 1969. Aflatoxin Scientific Background, Control and Implication. Academic Press, New York.

Heathcote, J. G. dan J. R. Hibbert. 1969. Aflatoxin : Chemical and Biological Aspect. Elsevier Sci. Publ., Amsterdam.

Heathcote, J. G. 1984. Aflatoxins and Related Toxins. Elsevier, Amsterdam.

Hesseltine, C. W. 1976. Condition Leading to Mycotoxin Contamination of Foods and Feeds. American Chemical Society’s Press, Washington.

Koswara, J. 1991. Budidaya Jagung. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Lacey, J., N. Ramakrishna, dan J. Smith. 1992. Interaction between Water Activity, Temperature and Different Species on Colonization of Grain and Mycotoxin Formation. University of Manitoba, Canada.

Landers, E. E., N. D. Davis, dan U. L. Diener. 1967. Influence of Atmospheric Gases on Aflatoxin Production by Aspergillus flavus in peanuts. Phytopathology 57 : 1086-1090.

Lillehoj, E.B. dan F. Elling, 1983. Environmental Conditions that Facilitate Ochratoxin Contamination of Agricultural Commodities. Acta Agric. Scand 32 : 113-128.

Madhyastha, S. M., R. R. Marquardi, A. A. Problich, G. Platford, dan D. Abramson 1990. Effects of Different Cereal and Oilseed on the growth and Production of Toxins by Aspergillus glutaceus and Penicillium verrucosum. J. Agric. Food Chem 38:1505-1510.

Maryam, R. 2006. Pengendalian Terpadu Konlaminasi Mikotoksin. http:// peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/wartazoa/wazo161-3.pdf.[27 Desember 2008].

Mateles, R. I. dan J. C. Adye. 1965. Production of Aflatoxin in Submerged Culture. Appl. Microbial, 13 : 208-221.

Maynard, L. A. dan J. K. Loosli, 1993. Animal Nutrition. Seventh Edition. Hill Publishing Company Limited, New Delhi.

47 Miller, O. C. 1959. Use of The Dinitrosalicylic Acid Reagent for The

Determination of Reducing Sugar. Analitycal Chemists 31: 189-198.

Miller, J. D. dan H. L. Trenholm. 1994. Mycotoxin in Grain, Compound Other Than Aflatoxin. Eagan Press. St. Paul, Minnesota.

Mislivec, P. B., M. W. Trucksess, dan L. Stoloff. 1988. Effects of Other Toxigenic Mold Species on Aflatoxin Production by Apergillus flavus in Sterile Broth Shake Culture. J. Food Prot. 51:440-451.

Onions, A. H. S. 1981. Mycotoxigenic Fungi. Di dalam J. B. L. Corry, D. Roberts dan F. A. Skinner (eds.). Isolation and Identification Methods for Food Poisoning Organism. Academic Press, New York.

Parajo, J. C., G. Garotte, J. M. Cruz dan H. Dominguez. 2003. Production of Xyloligosaccharides by Autohydrolysis of Lignocellulosic Materials.

Trends in Food Science and Technology Vol. 15 : 115-120.

Paster, N. dan L. B. Bullerman. 1988. Mold Spoilage and Mycotoxin formation in grains as Controlled By Physical Means. Int. J. Food Microbiol. 7:257- 265.

Pitt, J. I. dan A. D. Hocking. 1997. Fungi and Food Spoilage. Academic Press, Sydney.

Prabowo, A. Y. 2007. Budidaya Jagung. http://teknis-budidaya.blogspot.com/ 2007/10/budidaya-jagung.html. [22 Oktober 2008].

Putra, S. H. 2007. Analisis Aspergillus flavus pada Berbagai Tingkat Distribusi Jagung sebagai Bahan Baku Pangan Studi Kasus Bogor dan Boyolali. [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB, Bogor.

Richana, N. dan Suarni. 2007. Teknologi Pengolahan Jagung http://www.google. co.id/proses+produksi+xilitol+dari+tongkol+jagung&btnG. [18 Desember 2008].

Richard, D., H. Bizot, dan J. L. Multon. 1982. Activita de I’eau. Facteur Essentiel of de I’evolution Microbioloque de Aliments, Volume 2 : 3-17.

Robertson, G. L. 1993. Food Packaging : Principles and Practice. Marcel Dekker Inc., New York.

Robertson, A. 2005. Risk of Aflatoxin Contamination Increases With Hot and Dry Growing Conditions. http://www.ipm.iastate.edu/ipm/icm/2005/9- 19/aflatoxin.html. [28 Januari 2008].

48 Robi’in. 2007. Perbedaan Bahan Kemasan Dan Periode Simpan Dan Pengaruhnya Terhadap Kadar Air Jagung Dalam Ruang Simpan Terbuka. Buletin Teknik Pertanian Vol. 12 No.1.

Santoso, B. B. dan S. P. Bambang. 1995. Fisiologi dan Teknologi Pasca Panen Hortikultura. Aus. AID.

Sapoetra, K. 1994. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Rineka Cipta, Jakarta.

Sauer, D. B. 1986. Condition that Affect Growth of Aspergilllus flavus and Production of Aflatoxin in Stored Maize. Page 41-50. in proceedings of the workshop. El Batan.

Schutless, F., K. F. Cardwell, dan S. Gounou. 2002. The effect of endhophytic Fusarium verticilliodes on investasion of two maize variety by lepidoptera stemborer and coleoptera grain feeders. The American Phytophatologycal Society.

Sinha, R. N., H. A. H. Wallace, dan F. S. Chebib. 1989. Principal Component Analysis of Interrelations among Fungi, mites, ang Insects in Grain bulk Ecosystem. Ecology 50:536-547.

Siregar, H. B. 1986. Detoksifikasi Aflatoksin dalam Pakan Ternak dengan Menambahkan Zat Pengikat Polivinylpyrrolidone. Akademi Kimia Analisis, Bogor.

Smith, J. E. dan J. A. Pateman. 1977. Genetics and Physiology of Aspergillus. Academia Press, New York.

Somantri, A. S. 2005. System Analysis of Postharvest Handling and Shelflife Prediction of Maize. http://www:pascapanen.litbang.deptan.go.id/kondisi penyimpanan jagung untuk menghambat aflatoksin. [29 Januari 2008].

Steve, M. dan P. C. Michael. 2003, Sampling and Analyzing Feed for Fungal (Mold) Toxins (Mycotoxins). University of Nebraska, Nebraska.

Steyn, P. S. 1991. The Biosynthesis of Mycotoxins. A study Secondary Metabolism. Academic Press, New York.

Sudjana. 1991. Desain dan Analisis Eksperimen. Edisi ketiga. Tarsito, Bandung.

Sumner, P. E. 2003. Reducing Aflatoxin in Corn During Harvest and Storage. University of Georgia College of Agricultural and Environmental Sciences, New York.

. 2003. Reducing Aflatoxin in Corn During Harvest and Storage. http://pubs.caes.uga.edu/caespubs/pubs/PDF/B1231.pdf. [26 Januari 2008].

49 Suprapto, 1998. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suriawiria, U. 2004. Mikotoksin Pada Makanan Penyebab Kanker Paling Ganas.http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0104/15/cakrawala/pelangi.ht m. [26 Januari 2008].

Warisno. 1998. Budidaya Jagung Hibrida. Gramedia, Jakarta.

Watson, S. A. dan E. Ramstad, 1994. Corn : Chemistry and Technology. American Association of Cereal Chemistry Inc. St. Paul, Minnesota.

White, P. J. dan L. A. Johnson 2003. Corn : Chemistry and Technology. 2th edition. American Association of Cereal Chemistry, New York.

Wicklow, D. T., C. W. Hesseltine, O. L. Shotwell, dan G. L. Adams. 1980.

Interference Competition And Aflatoxin Levels in Corn. Phytopathology

78:68-74.

Wicklow, D. T. dan B. W. Horn. 1983. Factors influencing the inhibition of aflatoxin production in corn by Aspergillus niger. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6418365. [12 November 2008].

Widyani, I. G. A. 2002. Ekstraksi Xilan dari Tongkol Jagung dan Kulit Ari Kedelai. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB, Bogor.

51 Lampiran 1. Metode Analisis Proksimat

1. Kadar Air (AOAC, 1971)

Cawan aluminium yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya diisi sebanyak 2 g sampel lalu ditimbang (W1) kemudian dimasukkan ke dalam oven suhu 105 oC selama 1-2 jam. Cawan aluminium dan sampel yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam desikator kemudian ditimbang. Ulangi pemanasan sampel sampai dicapai bobot konstan (W2). Sisa contoh dihitung sebagai total padatan dan air yang menghilang sebagai kadar air.

Kadar Air (%) = (W1 – W2) x 100% W1

2. Kadar Abu (AOAC, 1971)

Sebanyak 2 g contoh ditimbang dalam cawan porselin yang telah diketahui bobotnya (A), kemudian diarangkan dengan menggunakan pemanas sampai tidak mengeluarkan asap lagi. Cawan porselin berisi contoh (B) yang sudah diarangkan kemudian dimasukkan ke dalam tanur bersuhu 600 oC selama 2 jam untuk mengubah arang menjadi abu (C). Cawan porselin berisi abu didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga bobot tetap.

Kadar Abu (%) = (C –A) x 100 %

B

3. Kadar Serat Kasar (AOAC, 1971)

Sebanyak 2 g contoh dimasukkan ke dalam erlenmeyer 500 ml dan ditambahkan 100 ml H2SO4 0.325 N. Kemudian dihidrolisis dalam otoklaf selama 15 menit pada suhu 105 oC dan didinginkan serta ditambahkan NaOH 1.25 N sebanyak 50 ml. Kemudian dihidrolisis kembali dalam otoklaf selama 15 menit. Contoh disaring dengan kertas saring yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya. Kertas saring kemudian dicuci berturut-turut dengan air panas, 25 ml H2SO4 0.325 N, air panas kemudian aceton atau alkohol 25 ml. Kertas saring tersebut dikeringkan dalam oven bersuhu 105 oC selama 1 jam dan dilanjutkan sampai bobotnya tetap.

Kadar serat (%) = a – b x 100 % c

52 Keterangan : a = bobot residu serat dalam kertas saring (g)

b = bobot kertas saring kering (g) c = bobot bahan awal (g)

4. Kadar Protein (AOAC, 1971)

Sebanyak 0.1 gram contoh ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl lalu ditambahkan 2.5 ml H2SO4 pekat, i gram katalis (CuSO4 dan Na2SO4) dan beberapa butir batu didih. Larutan didestruksi sampai menghasilkan warna hijau jernih kemudian didinginkan. Larutan hasil destruksi dipindahkan ke alat destilasi dan ditambahkan 15 ml NaOH 50%. Labu erlenmeyer yang berisi 25 ml HCl 0.02 N dan 2-4 tetes indikator mengsel (campuran metil merah 0.02 % dalam alkohol (2:1)) diletakkan di bawah kondensor. Ujung tabung kondensor harus terendam dalam HCl. Destilasi dilakukan sampai volume larutan di dalam erlenmeyer mencapai 2 kali volume awal. Ujung kondensor dibilas dengan akuades dan hasil bilasannya ditampung dalam erlenmeyer. Larutan hasil bilasan yang terdapat dalam erlenmeyer dititrasi menggunakan NaOH 0.02 N sampai diperoleh perubahan warna dari hijau menjadi ungu. Setelah itu dilakukan juga penetapan blangko.

Kadar protein kasar = (a - b) x N x 14.007 x 6.25 x 100 % W

Keterangan : A = ml NaOH untuk titrasi blangko B = ml NaOH untuk titrasi contoh N = normalitas NaOH

W = bobot contoh (gram)

5. Kadar Lemak (AOAC, 1971)

Sebanyak 2 gram contoh bebas air dibungkus dengan kertas saring dan diekstraksi dengan pelarut heksan dalam soxlet selama 6 jam. Labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dan pelarut diuapkan dengan cara diangin- anginkan dan dikeringkan dalam oven bersuhu 105 oC. Contoh kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang sampai diperoleh bobot yang konstan.

Kadar lemak = bobot lemak x 100 % bobot contoh

53 Lampiran 2. Dokumentasi Cara Penyimpanan Tongkol Jagung

Penyimpanan Tongkol Jagung dengan Cara Dihamparkan

Penyimpanan Tongkol Jagung dengan Cara Dikemas menggunakan Karung Goni BISMA

11%

BISMA

15% BISMA

54 Lampiran 3. Metode Analisis Hasil Penelitian

1. Kadar Air (AOAC, 1971)

Cawan alumunium yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya

Dokumen terkait