• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil Pengukuran Resistivitas

IV.2.1. Analisis Anomali Resistivitas 1. Lintasan 1

Hasil perhitungan resistivitas semu lintasan 1 diinversi dengan program Res2DInv. Keluaran program tersebut berupa penampang resistivitas 2 dimensi, yang dapat dilihat pada gambar IV.1.

Gambar IV.1. Penampang resistivitas pada lintasan 1

Gambar IV. 1 di atas memperlihatkan variasi nilai resistivitas dan kedalaman datum setiap level (n) yang berbeda. Nilai resistivitas pada lintasan ini bervariasi dari 2,12 Ωm hingga 207 Ωm dengan kedalaman penetrasi sekitar 2,69 m.

Penampang 2D tersebut memperlihatkan kontras resistivitas yang tidak merata.

Hal ini menunjukkan bahwa di bawah permukaan tidak homogen, pada posisi patok/ atau elektroda 6,00 sampai 8.5 meter dari patok/atau elektroda awal (pertama) di kedalaman 1 meter dari permukaan tanah terdapat nilai resistivitas yang rendah dibandingkan sekitarnya. Daerah tersebut merupakan anomali yang diduga sebagai air permukaan.

31 IV.2.1.2. Lintasan 2

Hasil perhitungan resistivitas semu lintasan 1 diinversi dengan program Res2DInv. Keluaran program tersebut berupa penampang resistivitas 2 dimensi, yang dapat dilihat pada gambar IV.2.

Gambar IV.2. Penampang resistivitas pada lintasan 2

Gambar IV. 2 di atas memperlihatkan variasi nilai resistivitas dan kedalaman datum setiap level (n) yang berbeda. Nilai resistivitas pada lintasan ini bervariasi dari 2,12 Ωm hingga 207 Ωm dengan kedalaman penetrasi sekitar 2,69 m.

Penampang 2D tersebut memperlihatkan kontras resistivitas tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa di bawah permukaan tidak homogen. Berdasarkan peta geologi lembar Ujungpandang dan tabel nilai resistivitas batuan pada penampang 2D lintasan 2 diduga merupakan batuan Clay, Sand, dan Limestone yang saling berasosiasi. Untuk lintasan 2 di atas diduga tidak terdapat anomali benda arkeologi.

IV.2.1.3. Lintasan 3

Hasil perhitungan resistivitas semu lintasan 1 diinversi dengan program Res2DInv. Keluaran program tersebut berupa penampang resistivitas 2 dimensi, yang dapat dilihat pada gambar IV.3.

Clay, sand, limestone Clay & sand

32

Gambar IV.3. Penampang resistivitas pada lintasan 3

Gambar IV. 3 di atas memperlihatkan variasi nilai resistivitas dan kedalaman datum setiap level (n) yang berbeda. Nilai resistivitas pada lintasan ini bervariasi dari 2,12 Ωm hingga 207 Ωm dengan kedalaman penetrasi sekitar 2,69 m.

Penampang 2D tersebut memperlihatkan kontras resistivitas tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa di bawah permukaan tidak homogen. Berdasarkan peta geologi lembar Ujungpandang dan tabel nilai resistivitas batuan pada penampang 2D lintasan 2 diduga merupakan batuan Clay, Sand, Limestone yang saling berasosiasi. Pada posisi patok/ atau elektroda 5 hingga 6 dengan penetrasi sekitar 2 m diduga terdapat anomali resistivitas benda arkeologi.

IV.2.1.4. Lintasan 4

Hasil perhitungan resistivitas semu lintasan 1 diinversi dengan program Res2DInv. Keluaran program tersebut berupa penampang resistivitas 2 dimensi, yang dapat dilihat pada gambar IV.4.

Gambar IV.4. Penampang resistivitas pada lintasan 4

Clay, Sand, limestone Clay, Sand, limestone

Clay & Sand

33

Gambar IV. 4 di atas memperlihatkan variasi nilai resistivitas dan kedalaman datum setiap level (n) yang berbeda. Nilai resistivitas pada lintasan ini bervariasi dari 2,12 Ωm hingga 207 Ωm dengan kedalaman penetrasi sekitar 2,69 m.

Penampang 2D tersebut memperlihatkan kontras resistivitas tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa di bawah permukaan tidak homogen. Berdasarkan peta geologi lembar Ujungpandang dan tabel nilai resistivitas batuan pada penampang 2D lintasan 2 diduga merupakan batuan batuan Clay, Sand, Limestone yang saling berasosiasi. Pada posisi patok/ atau elektroda 3 hingga 4 dengan penetrasi 1,3 m dan patok / atau elektroda 6 hingga 7 dengan penetrasi 2 m hingga 2,5 m terdapat nilai resistivitas rendah dari sekitarnya diduga anomali air permukaan. Pada patok/

atau elektroda 8 hingga 9 dengan penetrasi 1,3 m dan patok / atau elektroda 10 hingga 11 dengan penetrasi 1,3 m terdapat nilai resistivitas tinggi dari sekitarnya diduga anomali benda arkeologi.

IV.2.1.5. Lintasan 5

Hasil perhitungan resistivitas semu lintasan 1 diinversi dengan program Res2DInv. Keluaran program tersebut berupa penampang resistivitas 2 dimensi, yang dapat dilihat pada gambar IV.5.

Gambar IV.5. Penampang resistivitas pada lintasan 5

34

Gambar IV. 5 di atas memperlihatkan variasi nilai resistivitas dan kedalaman datum setiap level (n) yang berbeda. Nilai resistivitas pada lintasan ini bervariasi dari 2,12 Ωm hingga 207 Ωm dengan kedalaman penetrasi sekitar 2,69 m.

Penampang 2D tersebut memperlihatkan kontras resistivitas tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa di bawah permukaan tidak homogen. Berdasarkan peta geologi lembar Ujungpandang dan tabel nilai resistivitas batuan pada penampang 2D lintasan 2 diduga merupakan batuan Clay, Sand, Limestone yang saling berasosiasi. Pada posisi patok/ atau elektroda 5 hingga 6 dan patok 10 hingga 11 dengan masing – masing penetrasi 1,5 m terdapat anomali resistivitas besar dari sekitarnya diduga benda arkeologi.

IV.2.1.6. Lintasan 6

Hasil perhitungan resistivitas semu lintasan 1 diinversi dengan program Res2DInv. Keluaran program tersebut berupa penampang resistivitas 2 dimensi, yang dapat dilihat pada gambar IV.6.

Gambar IV.6. Penampang resistivitas pada lintasan 6

Gambar IV. 6 di atas memperlihatkan variasi nilai resistivitas dan kedalaman datum setiap level (n) yang berbeda. Nilai resistivitas pada lintasan ini bervariasi dari 2,12 Ωm hingga 207 Ωm dengan kedalaman penetrasi sekitar 2,69 m.

35

Penampang 2D tersebut memperlihatkan kontras resistivitas tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa di bawah permukaan tidak homogen. Berdasarkan peta geologi lembar Ujungpandang dan tabel nilai resistivitas batuan pada penampang 2D lintasan 2 diduga merupakan batuan Clay, Sand, Limestone yang saling berasosiasi. Pada posisi patok/ atau elektroda 5 hingga 7 dan patok 10 hingga 11 terdapat anomali resistivitas besar diduga anomali benda arkeologi. Pada patok/

atau elektroda 8 hingga 9 terdapat pula anomali resistivitas rendah diduga air permukaan.

36 IV.2.2. Estimasi Posisi Target

Profil ini dibuat untuk memudahkan interpretasi dari pseudosection lintasan 1- 6, dengan menyamakan skala resistivitas pada setiap lintasan, sehingga didapatkan pseudosection nilai true resistivity yang sama.

Gambar IV.7. Profil lintasan berpotongan

Kemudian dari hasil Gambar IV.7 di interpretasikan menggunakan isosurface untuk mengfokuskan jenis anomali resistivitas benda arkeologi yang terdapat pada arah lintasan yang sejajar/atau sama dengan menggabungkan dari empat (4) lintasan sehingga dapat diestimasikan posisi target benda Arkeologi. Dapat dilihat pada gambar VI.8.

37

Gambar IV.8. Penampang resistivitas 2 dimensi Res2DInv & 3 dimensi RockWorks 14 (a) Penampang 3D pada resistivitas rendah

(b). Penampang 2D lintasan 3

(c). Penampang 2D lintasan 6

(d). Penampang 3D resistivitas tinggi

38

Berdasarkan gambar VI.8 penampang resistivitas 2D Res2DInv pada lintasan 3 dan 6 menggambarkan adanya anomali- anomali resistivitas diduga benda arkeologi yang terdapat pada lokasi penyelidikan, pada gambar penampang resistivitas 2 dimensi lintasan 3 dan lintasan 6 terdapat anomali pada posisi kiri dan kanan. Jika berdasarkan gambar VI.8 penampang resistivitas 3 dimensi RockWorks 14 dengan menggabungkan dari lintasan 3, 4, 5, dan 6 untuk mengidentifikasi yang memiliki dimensi dan nilai anomali- anomali resistivitas yang sangat besar hanya terdapat pada posisi kiri. Nilai resistivitas pada anomali tersebut lebih besar dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Dimensi kontras dari anomali tersebut lebih besar dan nilai resistivitas yang besar sekitar 32.19- 52.19 Ωm diduga benda arkeologi berupa keramik/ guci.

39 BAB V

Dokumen terkait